Suatu hari saya kedatangan tiga orang tamu dari Muntilan, kota kecamatan di pertengahan antara Yogya – Magelang. Dua orang di antaranya sedang melakukan studi banding sehubungan dengan rencananya untuk membuka toko swalayan di daerahnya. Saya percaya ini studi banding beneran. Kalau cuma studi banding-studi bandingan, ngapain mesti ke Madurejo.
Bersama kedua orang itu ada seorang lagi yang menemani. Rupanya beliau adalah seseorang yang sudah berpengalaman dalam mengelola toko swalayan. Memiliki jam terbang jauh lebih banyak dalam dunia perswalayanan dibanding pengelola “Madurejo Swalayan”. Mendengar saya mengeluh bahwa seringkali mengulang-ulang “pekerjaan bodoh” memindah dan menggeser barang dagangan, beliau tenang-tenang saja, tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan. Katanya, itu sih biasa. Malah terkadang perlu sengaja dilakukan saat toko sedang sepi dan penjaganya banyak nganggur. Lho, kok….?
Lalu beliau memberi ilustrasi. Kalau kita memelihara binatang, perkembangannya akan berbeda antara binatang yang tekun kita urus, kita rawat, kita sayang, dengan binatang yang diumbar begitu saja. Demikian pula kalau kita menanam tanaman, pertumbuhannya juga akan berbeda antara tumbuhan yang rajin kita urus, kita siangi, kita sirami, kita pupuk, dengan yang dibiarkan asal tumbuh.
Saya mengangguk-angguk, dalam hati saya sepakat. Tapi itu kan mahluk hidup, bagaimana dengan benda mati? Sesama mahluk hidup tentu lebih mudah untuk terbentuknya ikatan “emosional”. Bagaimana dengan ikatan “emosional” antara mahluk hidup dengan benda mati?.
Ambil contoh misalnya kita punya sesuatu benda, katakanlah sepeda motor atau rumah. Kalau malas-malasan merawat sepeda motor, jarang-jarang memandikannya, tahunya tinggal start dan jalan, kalau rusak tinggal blusukkan ke bengkel. Biasanya penampilan sepeda motor kita jadi berantakan dan tidak menarik, mati segan hidup tak mau, mocat-macet. Sepeda motor seperti kehilangan “roh”-nya, yang ogah mengakui bahwa kita adalah pemiliknya.
Sewaktu saya masih jadi orang gajian di Papua, punya rumah kecil di Yogya. Paling-paling ditempati enam bulan sekali setiap cuti tengah tahunan. Selebihnya ditinggal kosong tidak ada yang ngurus, kalaupun ada paling-paling disapu dan dinyalakan atau dimatikan lampunya. Begitu tiba waktunya cuti ke Yogya, bawaannya ingin nesu aja…(marah terus) untuk sebab yang tidak seharusnya bisa bikin nesu…..
Macam-macam sebabnya. Yang atapnya bocor, dindingnya retak-retak, lantainya sompel, halamannya jadi hutan, lampunya putus, pompa airnya mocat-macet, pojokan langit-langitnya dirubung sawang (sarang laba-laba), pintunya ngak-ngik…. dan, macam-macam gangguan kecil terjadi setiap enam bulan sekali. Selalu ada pengeluaran tak terduga untuk mengatasi thethek-bengek semacam itu. Akhirnya jadi enggak betah di rumah, malah lebih sering di luar rumah. Uang habis enggak apa-apa, toh bulan depan akan gajian lagi…… Tampak luar masih tetap sebuah rumah, tapi rumah menjadi seperti tidak bersahabat. Seperti kehilangan “roh”-nya. Seandainya rumah bisa ngomong, dia tidak merasa perlu menganggap bahwa kita adalah tuannya.
Hal yang sama, barangkali (saya katakan barangkali, karena saya baru menjalaninya dua setengah bulan) akan terjadi dengan aset barang dagangan di “Madurejo Swalayan”. Kalau saya menganggapnya semata-mata sebagai benda mati (meskipun substansinya ya memang begitu….), pokoknya dipajang saja dan asal laku dijual, maka aset itupun akan menganggap dirinya sebagai obyek penderita dan sebagai “penganggur”. Padahal yang sesungguhnya diharapkan oleh pemiliknya adalah agar aset-asetnya dapat menjadi obyek pelaku dan “mau bekerja” untuk pemiliknya. Maka aset-aset itu mestinya perlu diberi perhatian lebih, disayang-sayang, dielus-elus, layaknya binatang kesayangan, tanaman kesukaan atau rumahku sorgaku.
Memindah-mindah, menggeser-geser, membersihkannya, menyusunnya biar tampil rapi dan menarik, hanyalah sebuah ekspresi bagaimana saya perduli dan menyayangi barang-barang dagangan di toko. Maka kalau para pegawai toko sesekali perlu mengubah tata letak barang-barang di atas rak, salah satu alasannya adalah agar peletakan barang-barang tersebut tampil lebih cantik supaya menggoda pengunjung toko untuk melakukan “impuls buying”.
***
Inilah hal-hal gaib yang perlu kita tengok keberadaannya. Kisah dunia lain, dunianya benda mati yang didambakan “mau bekerja” untuk kita. Dipandang dari sudut ilmu manapun susah dideskripsikan, namun auranya ada, semangatnya ada, ikatan “emosional”-nya ada (meskipun mungkin sepihak…). Saya merasa tidak malu untuk menjadi seperti orang gila untuk hal ini…….
Sulit dipercaya! Sulit dinalar! Berbau tahayul……, tapi tahayul tanpa menyan, tanpa jopa-japu, tanpa topo kungkum, tanpa bunga setaman, tanpa terkait dengan agama dan kepercayaan apapun, dan yang lebih penting ora mbayar…… Yang saya lakukan hanya sekedar ingin berbuat amal saleh terhadap “pekerja” saya. Hukum alam mengatakan (dalam agama saya disebut sunatullah) : jangan pernah berharap orang lain akan berbuat baik kepada kita kalau kita tidak pernah mau berbuat baik kepada orang lain. Dan, “orang lain” itu adalah semua properti “Madurejo Swalayan” dan seisinya itu tadi.
Will it work? Yo, embuh……..! Ini hanya soal “Believe it or not”. Tapi saya “believe”, tuh……
Madurejo, Sleman – 22 Desember 2005.
Yusuf Iskandar
Tag: believe it or not, emosional, gaib, ilustrasi, muntilan, sepeda motor, studi banding, swalayan