Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, bagaimana kalau harus meninggalkan pekerjaan tetap sebagai orang gajian yang kemudian banting setir menjadi pekerja serabutan dengan penghasilan yang juga tidak tentu. Keputusan sudah telanjur dibuat. Kemapanan ditinggalkan, tidak ada lagi gaji tetap. Tidak ada rencana kapan mau travelling karena tidak ada lagi berapa sisa gaji yang dapat dihitung di depan. Status sosial dikesampingkan dulu. Pendeknya, menurut bahasa pemerintah disebut penganggur terselubung.
Panca indra kudu jeli dan waspada. Proaktif mencari dan mencipta peluang, untuk ditangkap, di-assess, dievaluasi, dihitung-hitung, didiskusikan, apakah feasible untuk ditindaklanjuti sebagai usaha yang prospektif dan profitable (meskipun nganggur, toh boleh saja menggunakan istilah yang keminggris).
(Itu teorinya, Bung!. Prakteknya, ngudubilah……..!!! Bangun pagi bermalas-malasan, ternyata kok ya enak, pada mulanya. Lalu baca koran, minum kopi, ngudut, bersih-bersih halaman, sarapan gudeg atau gudangan, lalu mandi……).
Secara moril dan materiil, rasanya saya sudah sangat siap. Tanpa sedikitpun keraguan untuk banting setir dari tukang insinyur. Termasuk kalau harus kerja keras berwirausaha atau berwiraswasta dari nol-puthul. Mengharapkan penghasilan yang bisa buuuanyak, bisa sedikiiiit. Inilah “the real world”. Dunia baru bagi saya. Dunia tanpa batas, tanpa SOP, tanpa dimensi kayak lelembut, yang ada hanya berjuang untuk survive. Etika dan nurani yang menjadi kendali. Mau apa saja ada dan bisa, kalau mau. Banyak atau sedikit, baik atau buruk, gampang atau sulit, enak atau enggak enak, tinggal ngelakoni.
Namun ada satu hal yang rupanya luput dari pencermatan saya sebelum memutuskan untuk banting setir. Ternyata anak-anak saya belum siap mengimbangi manuver banting setir sang “driver”. Mungkin akan berbeda halnya seandainya ayah mereka sudah bekerja sebagai wirausahawan sejak mereka belum lahir. Tapi masalahnya sejak mereka lahir jebrol sudah melihat bahwa ayahnya bekerja sebagai orang gajian. Di perusahaan pertambangan asing, lagi….
***
Belum lama meninggalkan tempat kerja dan kembali ke Yogyakarta, anak saya yang sulung sudah grundelan, bilang sama ibunya : “Bu, bapak ini ngapain sih….., sudah enak-enak kerja di Freeport kok keluar segala……”.
Ketika beberapa bulan bapaknya masih saja lao-lao (bahasa Papua yang maksudnya malas-malasan) di rumah, bilang lagi sama ibunya : “Bu, bapak itu mbok disuruh kerja lagi, biar dapat gaji…….”.
Di mata anak-anak saya, yang namanya bekerja adalah menerima gaji tetap setiap bulan. Kalaupun bapaknya dapat uang dari sana-sini (jelas bukan hasil korupsi, wong tidak punya jabatan…), maka itu bukan hasil bekerja. Pemahaman sudah telanjur tertanam, bahwa bekerja adalah menjadi orang gajian….!
Masih tentang anak perempuan sulung saya yang sekolahnya sudah pindah dari SMP di Tembagapura ke SMP swasta di Yogya. Kali lain dia ngomong lagi sama ibunya : “Bu, bapak itu mbok disuruh kerja….”. Ibunya balik tanya : “Lha, memangnya kenapa?”. Jawab anak saya : “Saya bingung kalau teman-teman atau guru saya tanya, pekerjaan bapaknya apa?”.
Bingung…? Ya, itulah faktanya, anak saya kebingungan untuk menjawab pertanyaan mudah. Harap maklum, karena sejak lahir hingga kini ABG tahunya sang bapak kerja di lingkungan perusahaan tambang. Saya baru mulai benar-benar ngeh, rupanya memang sedemikian kuatnya pemahaman bahwa bekerja adalah menjadi orang gajian, di kantor atau perusahaan. Bahkan untuk menjawab bahwa pekerjaan bapaknya swasta atau wiraswasta atau bakulan atau jualan di toko pun tidak terlintas di pikiran anak saya.
Padahal ketika itu saya sudah mulai sibuk mempersiapkan untuk membuka usaha toko. Saking sibuknya, seringkali saya mesti berangkat pagi pulang malam mempersiapkan toko yang lokasinya agak jauh dari rumah yang kami tinggali. Kesibukan sehari-hari yang nyaris sama seperti ketika saya masih bekerja di Freeport. Bedanya kalau dulu sebagai tukang insinyur ngitung-itung komoditas sebangsa tembaga, emas dan perak milik orang lain, dengan uang jut-jutan di tangan setiap bulan. Kini, sebagai tukang bakulan ngangkutin sendiri gula, sirup, susu, minyak, rokok, mie instan, sampai ke urusan pembalut perempuan yang muacam-muacam model dan variannya, tapi milik sendiri, dan kudu telaten ngopeni uang cepek-nopek setiap harinya. Maklum, di tahap-tahap awal ini belum bisa sepenuhnya mengandalkan kunjungan pemasok, seringkali masih harus kulakan sendiri mencari harga beli terbaik.
***
Kini toko swalayan kami sudah mulai buka, sejak menjelang bulan Ramadhan yang lalu. Perlu kerja keras sejak beberapa bulan sebelumnya agar bisa memanfaatkan timing bulan puasa dan lebaran untuk mengejar omset lebih, yang berarti meraup untung lebih. Kalau hanya sekedar buka toko tradisional saja barangkali tidak terlalu repot. Namun karena toko ini dirancang sebagai toko modern di pinggiran kota, maka persiapan teknis dan non-teknis termasuk membuat database untuk sekian ribu item barang ternyata sangat menyita waktu dan melelahkan.
Hal lainnya yang menambah pekerjaan adalah karena kami ingin memulai dan mengelola sendiri toko ini. Akan berbeda ceritanya kalau misalnya bergabung dengan perusahaan pewaralaba yang sudah ada. Namun kami memang sudah bertekad tidak waralaba-waralabaan, dan belum tentu pihak pewaralaba mau digabungi wong lokasinya masih ndeso di pinggir kota.
Akhirnya, ya dibangun sendiri, dirancang sendiri, dipersiapkan sendiri, dikelola sendiri, syukur-syukur kalau dapat menangguk untung banyak ya dinikmati sendiri. Konsekuensinya, bekerja mengelola toko seperti seolah-olah bekerja di perusahaan toko itu. Berangkat pagi, pulang malam, karena toko buka jam 7 pagi dan tutup jam 9 malam. Sambil perlahan-lahan sebagian tanggungjawab pekerjaan akan saya limpahkan kepada orang lain yang kini sedang saya latih sebagai kandidat manajer, hingga Insya Allah, pada saatnya nanti toko itu menjadi sumber passive income bagi keluarga.
Lokasi tokonya ada di Jalan Prambanan – Piyungan Km. 5, arah timur kota Yogyakarta, nama desanya Madurejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Makanya biar gampang toko itu saya juduli “Madurejo Swalayan”. Di balik nama itu ada terselip obsesi untuk menjadi ikon bagi desa Madurejo yang sebagian masyarakatnya (calon pelanggan saya) masih ndeso dan asing dengan model toko swalayan modern. Sejenis mini-market, gitu loh…. Jauhnya sekitar 16 km dari rumah di Yogya, yang kalau lalulintas lagi lancar perlu waktu sekitar setengah jam perjalanan santai dari rumah menuju toko.
Namun cilakanya……, di mata anak-anak saya kesibukan seperti itu ternyata masih belum bisa diterima sebagai kesibukan bekerja. Sesekali anak kedua saya masih suka nggrundel : “Bapak ini kok enggak kerja-kerja sih….. Cuma sibuk ngurusin toko…..”.
Lhadhalah……! Ngurusin toko ternyata bukan pekerjaan. Di mata anak-anak saya, saya masih dianggap sebagai “pengangguran”. Meskipun di bagian belakang toko saya buat ruang kantor lengkap dengan meja kerja, filing cabinet dan komputer, agar nampak image bahwa kalau saya bekerja di ruangan itu berarti saya bekerja di kantor, ternyata itu saja belum cukup. Padahal di toko itu jabatan saya luar biasa, sering-sering jadi Manager, tapi terkadang merangkap sebagai CEO, sekaligus terkadang jadi pelayan toko merangkap janitor.
Masih tidak mudah untuk menjelaskan bahwa meskipun jadi “pengangguran” dan hanya ngurusi toko, tapi toh bisa membuka lapangan kerja. Setidaknya ada seorang sarjana dan enam orang lulusan SMA dan STM warga sekitar yang kini bekerja di “Madurejo Swalayan”. Sepenggal kecil kebanggaan yang bagi orang lain barangkali biasa-biasa saja, tapi tidak bagi saya yang lebih 16 tahun menjadi orang gajian lengkap dengan berbagai privilege-nya.
Sekali waktu karena ada urusan lain, saya tidak ke toko seharian. Siangnya saya sempatkan untuk tidur siang sejenak di rumah. Ndilalah anak laki-laki saya yang kelas 6 SD pulang dari sekolah. Demi melihat mobil kijang hitam ada di rumah, serta-merta dia tanya ibunya : “Bapak mana, Bu?”. Ibunya menjawab : “Lha itu, tidur”. Mendengar jawaban ibunya dia lalu melongok ke kamar, sambil ngeloyor pergi, sambil cengengesan, lalu ngrasani bapaknya : “Bapak ini enggak kerja malah tidur terus……”.
Weee…, tobat tenan. Kalau sudah begini, saya tidak bisa lagi ngguyoni anak saya dengan bilang so what gitu loh….. Ini sudah urusan serius. Nampaknya bukan sekedar sukses berwirausaha yang harus saya perjuangkan, melainkan juga perlu mencari cara meyakinkan anak-anak saya yang sudah telanjur fanatik dengan paham orang-gajianisme. Bahwa bekerja adalah menjadi orang gajian. Bekerja adalah menerima gaji tetap dari kantor atau perusahaan.
Atau……., jangan-jangan memang sebaiknya saya kembali terjun ke dunia persilatan tambang?
Madurejo, Sleman – 19 Nopember 2005.
Yusuf Iskandar
Tag: banting setir, bekerja, madurejo, orang gajian, prambanan, sleman, swalayan, tambang, the real world, toko
17 Desember 2008 pukul 5:32:11 |
sebuah artikel yang bagus, lucu, menggeliti, dan so real…. Saya pun merasakannya pak, so real….Seolah bercermin, hanya saja kali ini cerminnya adalah profil orang yang lebih sukses dan berpengalaman.
Terimakasih untuk sharingnya…..
21 Desember 2008 pukul 10:14:25 |
Mas Ali, terima kasih komentarnya. Semoga ada manfaat bisa dipetik bagi teman lain. Salam.
30 Desember 2008 pukul 9:53:02 |
Ass.wr.wb.
Lik Yusuf, kok ndilalah kersaning Allah swt., pas 1 Muharram 1430 H, lha kok aku dapat ‘pen di’ , jadi ‘realisasi’ mimpi untuk tidak menjadi ‘wong gajian’ menjadi kenyataan dan untuk hal ini alhamdullilah anak anak ku ternyata lebih ’siap’ daripada simbok nya,mereka malah yang punya ide ide ‘briliant’ utk jualan mie belitung dllnya sampai design warung dan kelengkapanya, malah bersedia mengantar pesananan ha ha ha…
Tetapi ada sedikit yg menggoda (walaupun plan A /jual mie tetap jalan), lha kok ada tawaran di 3 bidang pekerjaan (komunikasi,konstruksi & tambang) lha piye iki…….kayane perlu shalat istikharah…. pls advice.
Wass.
30 Desember 2008 pukul 18:00:19 |
Sampeyan sudah “on the right track”, Cak. Anak-anak memang seringkali tak terduga. Maju terus. Tentang peluang-peluang baru, memang terkadang ujuk-ujuk bermunculan dan bertubi-tubi datangnya sehingga membuat kita goyah, ragu dan was-was. Istikharah, tentu saja. Tapi peluang-peluang itu jangan dibunuh. Suatu saat nanti akan ada prospeknya. Lebih lengkap dongengan tentang hal ini saya sampakan via email. Salam sukses untuk sampeyan.
21 Juli 2009 pukul 17:22:51 |
Amazing Artikel Om !!!
Salut DUA JEMPOL untuk anda !!….Andai Saja 50% Pekerja sukses seperti bapak yg ada dinegeri ini berfikir plus bertindak yg sama dengan bapak, InsyaAllah Indonesia tdk akan meng ekspor TKI lg keluar negeri, tp justru sebaliknya, akan mengimpor TKA dari negeri tetangga….Bravo Wirausaha !!!! Jangan Mau jadi Orang gajian seumur Hidup !! sejujurnya bulu kuduk saya merinding membaca artikel bapak, mohon jangan berhenti menulis inspirasi sejenis ini pak, Sungguh sangat berguna bagi orang2 seperti Saya yg ingin bergegas resign dari dunia orang gajian & ingin berwirausaha. Thanks untuk Inspirasinya. Sukses untuk Madurejo Swalayannya ya pak. Wasslm
aliviaku.wordpress.com
25 Juli 2009 pukul 20:41:38 |
Terima kasih banyak dukungannya. Turut bersyukur kalau dari ‘dongengan’ saya ada yang dapat dipetik. Salam sukses untuk Anda juga… Salam.
2 November 2009 pukul 10:25:05 |
Inspiratif sekali pak, kapan bisa ketemuan yah ?
Saya senang punya kenalan pejuang wiraswasta seperti Bapak …
Salam kenal,
Phillip dari Semarang
2 November 2009 pukul 10:43:14 |
Mas Philip,
Kapan saja kalau pas Anda ke Jogja bisa kontak saya dulu (08122787618). Maklum, saya mulai ada kegiatan lain. Biasa….. hobi kluyuran kemana-mana…. Banyak matur nuwun & salam kenal kembali.