(4) Kenapa Memilih Mini-market?

Ada seorang teman yang sempat berkunjung ke jobsite “Madurejo Swalayan” di Jl. Prambanan – Piyungan, Yogyakarta, bertanya kepada saya : “Kenapa memlih membuka usaha mini-market? Kok bukan toko yang lain?”. Ini pertanyaan yang gampang-gampang susah untuk dijawab. Gampang, karena tinggal mengatakan : “Karena ini memang keinginan kami”. Susah, karena jawaban itu pasti tidak akan memuaskan si penanya. Maka, perkenankan saya menuturkan kilas balik latar belakangnya, sampai akhirnya kami memutuskan untuk membuka usaha mini-market atau toko ritel swalayan yang kemudian bernama “Madurejo Swalayan” ini dan bukan toko yang lain

Cerita ini terkait dengan kebingungan seorang mantan pejuang kumpeni (company) yang 16 tahun menjadi orang gajian, lalu banting setir menjadi penganggur terselubung, mondar-mandir beberapa bulan di Yogya dan “diteror” anak-anaknya dengan sindiran-sindiran katanya enggak kerja malah nganggur aja. Terus mau ngapain? Nantinya terbukti bahwa keterpojokan seperti ini bisa membangkitkan energi bawah sadar seperti sedang dikejar kirik edan.

Harap menjadikan maklum adanya, buka usaha toko di desa Madurejo ini memang ide pertamanya datang dari istri tercinta (maka wajar saja kalau sebagai penghormatan jasa beliau lalu kemudian diangkat menjadi Chief Financial Officer alias ibu bendahara “Madurejo Swalayan”). Sejak awal, tepatnya sejak saya berhasil menjadi penganggur terselubung di akhir tahun 2004 (saya anggap ini sebuah keberhasilan), angan-angan istri saya ini memang hanya : pokoknya buka usaha toko. Titik! Alasannya sederhana tapi masuk akal dan sangat mulia : Eeee, mbok menawanya sang suami telanjur malas untuk kembali jadi orang gajian lagi di kumpeni mana-mana, maka sudah ada cantholan untuk menghidupi keluarga dan anak-anak, bapaknya biar embuh ben sak karepe ……terserah apa maunya.

***

Tiga bulan pertama sejak jadi penganggur terselubung, saya masih ketawa-ketiwi saja, tanpa beban melakoni hidup sehari-hari. Meskipun anak-anak mulai menyindir-nyindir, bapaknya ini ngapain sudah enak-enak kerja terima gaji besar setiap bulan kok pakai keluar segala, malah sekarang nganggur. “Jadi enggak bisa minta apa-apa lagi seperti dulu, ya mbak…. .”, kata sang adik kepada kakak perempuannya. Apa enggak nelangsa hati ini mendengarnya.

Memasuki bulan keempat mulailah muncul kegelisahan. Gelisah untuk memutuskan antara kembali menjadi orang gajian di kumpeni lain atau terjun secara total ke dunia persilatan wirausaha. Hasil konsultasi ke kiri dan ke kanan belum ada yang memberikan jawaban yang memuaskan. Jangan heran, teman-teman yang tahu saya keluar dari pekerjaan sebagai orang gajian, kebanyakan memuji keberanian saya dan mendukung untuk memasuki dunia wirausaha. Dalam hati saya tersenyum kecut : “Berani bagaimana? Lha wong saya ini terpaksa je…….”.

Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, khawatir kalau saya jadi terjebak untuk menyalahkan pihak lain yang telah mem-fait accompli saya. Apapun alasannya, kalau pun ada kesalahan maka itu pasti kesalahan saya, bukan kesalahan siapapun. (Lha iya to, apa kalau saya menyalahkan orang lain, njuk orang lain itu mau membantu saya memberikan jalan keluar?. Toh akhirnya saya juga yang harus berusaha mencari jalan keluarnya sendiri).

Untungnya, saya sangat percaya bahwa konsultan terbaik itu bukan menoleh ke kiri atau ke kanan, melainkan ndangak ke atas. Maka kepada satu-satunya “Atasan” saya itulah saya minta petunjuk yang akhirnya sedikit demi sedikit menemukan titik terang. Setidak-tidaknya agak meredam kegelisahan di bulan keempat setelah jadi penganggur terselubung.

Petunjuk itu datang melalui ibunya anak-anak. Katanya : “Mbok tanah yang di Jalan Prambanan – Piyungan itu dibangun untuk toko saja” (kebetulan tanah yang dimaksud itu belum lama lunas cicilannya). “Nanti bisa digunakan untuk mbukak usaha, embuh kapan yang penting punya tempatnya dulu”, lanjutnya kemudian. Ya!. Pemikiran ibunya anak-anak ini sebenarnya mletik (ide cemerlang) juga.

Namun hati kecil saya yang belum bisa langsung menerima. Uedan!, pikir saya. Bertahun-tahun jadi tukang insinyur dengan gaji jut-jutan, sekolahnya luuuama lagi, kok ujug-ujug dodol mracangan ning ndeso sing bathine sak uprit……!. (tiba-tiba buka warung di desa yang keuntungannya cuma sedikit). Jujur saja, kesombongan semacam ini tentu tidak mudah untuk ditutup-tutupi begitu saja, setelah belasan tahun malang-melintang di dunia industri pertambangan modern, lengkap dengan privilege dan kartu nama prestise.

Lama-lama (tentu atas petunjuk “Atasan” juga), saya mulai mencoba untuk realistis. Sepertinya kok tidak ada salahnya juga untuk memenuhi usulan ibunya anak-anak ini. Sebanyak apapun uang saku yang saya gembol dari Papua, kalau tidak segera dicantholke (dibelanjakan untuk memiliki aset), pasti tahu-tahu buablasss sak angin-angine……

Akhirnya kami mulai membangun toko, setelah sepakat menggunakan uang saku dari kumpeni terakhir yang telah berbaik hati membekali saya menjadi penganggur terselubung di Jogja. Pokoknya harus jadi bangunan toko, embuh jadi toko apa atau mau jualan apa. Gagasannya, kalau pun akhirnya kefefet tidak ada mata pencaharian pengganti, maka bisa langsung kulakan dan jualan. Itu saja.

Memasuki bulan kelima, keenam dan ketujuh, eee…. lha kok saya malah jadi lupa dengan kegelisahan sebelumnya antara mau kerja lagi atau wirausaha. Hari-hari berlalu dengan makin asyik aja……, berkonsentrasi pada pekerjaan pembangunan toko yang belum jelas ini. Kepalang basah, kalau memang mau buka usaha toko ya mesti direncana sebaik-baiknya, jangan asal pokoknya punya toko, lalu pokoknya jualan, pokoknya tidak rugi, pokoknya ada usaha, pokoknya ketimbang nganggur….. Lama-lama bisa jadi pokoknya tidak kembali (tidak kembali pokok alias tidak breakeven).

Mulailah kami melakukan survei kecil-kecilan. Midar-mider (kesana-kemari) menyusuri jalan raya Prambanan – Piyungan untuk mencari ilham kira-kira usaha apa yang cocok dikerjakan. Mulai rajin jalan-jalan (tapi pakai mobil) di sana. Mengamati kesibukan masyarakat, perkampungan dan perumahan ditolah-toleh, toko-toko yang ada diintip-intip, teman-teman dan saudara dimintai pertimbangan. Masih juga belum ketemu titik terangnya. (Lha ya maklum, setelah 16 tahun bekerja mendesain-merencana-mengawasi-mengevaluasi proyek penambangan, lha kok tiba-tiba njuk nyurvei warung .……).

Beberapa alternatif dikumpulkan, hingga akhirnya menemukan beberapa pilihan peluang bisnis atau usaha yang kiranya punya potensi bagus untuk dikembangkan. Antara lain, toko material dan bangunan, toko obat atau apotek, toko spare-part dan bengkel, toko elektronik, dan tentunya toko ritel atau kelontong. Tidak perlu dilakukan analisa bisnis yang rumit-rumit untuk memilihnya. Pasti akan merepotkan, disamping hasilnya juga semuanya akan punya prospek bagus. Dilakukanlah evaluasi secara umum saja, ditimbang-timbang plus-minusnya, tingkat kesulitannya, potensi pasarnya, dan hal-hal lain yang lebih ke soal-soal praktisnya saja.

Entah istri saya dapat wangsit dari mana, hingga akhirnya dia memantapkan hati untuk buka toko ritel dengan prioritas pada kebutuhan sehari-hari. Pertimbangannya sederhana sekali, malah tidak pernah terpikir oleh saya sebelumnya. Katanya, kalau toko bangunan, apotek, elektronik, apalagi bengkel, dia merasa sebagai seorang wanita akan sangat bergantung dengan keberadaan saya atau setidak-tidaknya orang lain. Sedangkan kalau toko ritel, istri saya merasa mampu untuk menanganinya sendiri kalau pun misalnya tiba-tiba saya tinggal pergi karena saya berubah pikiran ingin kembali jadi orang gajian, entah di hutan atau gunung mana lagi. Saya hargai ini sebagai kebulatan tekad seorang istri dengan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa. Hingga akhirnya saya mengangguk mengamini.

Tidak takut?. Bukankah toko ritel sudah bertebaran di mana-mana? Apakah kira-kira akan bisa jalan? Saya ingat ketika seorang teman pernah membisiki saya. Begini kira-kira katanya : “Di pasar itu bakul brambang (bawang merah) jentrek-jentrek, bakul sayur berderet-deret, bakul ikan dempet-dempetan, tapi semua laku. Tidak pernah ada ceritanya bakul brambang, bakul sayur dan bakul ikan yang bangkrut. Kalaupun tidak jualan, itu karena orangnya capek atau sibuk usaha lain, tapi bukan karena bangkrut”. Inilah rahasia “Ilmu Gaib” lainnya, bahwa setiap orang memang sudah memiliki takaran rejekinya masing-masing. Ingat lho, takaran bukan bantuan langsung tunai (kok nyimut…..?). Jadi, siapa cepat (mengusahakannya) dia dapat, yang ogah-ogahan ya enggak dapat-dapat.

Lalu difokuskanlah semua langkah untuk menggarap peluang bisnis toko ritel. Lha, tapi pembangunan toko sudah telanjur dimulai, tidak dirancang untuk toko ritel. Maka jalan keluarnya gampang saja.….., ya sudah, yang sudah telanjur biarkan saja, nanti bisa dipikir sambil tidur. Selebihnya yang belum telanjur, mulai saat itu semuanya diarahkan untuk menuju ke usaha toko ritel, prioritasnya kebutuhan sehari-hari, sistem jualannya swalayan, konsepnya sistem bisnis modern, visinya jauh ke sepuluh-lima belas tahun ke depan, dengan memanfaatkan semua peluang yang ada dan yang harus dicari untuk diadakan.

Pertengahan bulan ketujuh sejak menjadi penganggur terselubung, adalah titik awal semua rencana usaha mengarah ke bentuk usaha toko ritel yang kemudian bernama “Madurejo Swalayan” ini. “Just Plan It” dimulai, business plan disusun, visi-misi dicanangkan, mental dan fisik dipersiapkan, dsb. dsb. dsb…… Sedangkan, hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan (dan tanggung jawab operasional toko nantinya) dan lain lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Niat kebulatan tekad kami hanya satu : Menjadikan usaha ini sebagai bagian dari ibadah. Dengan demikian pembagian tugasnya jelas. Sebagai bawahan kami berkewajiban bekerja keras mengubah setiap tetes keringat menjadi tetes-tetes kesuksesan, selebihnya biar “Atasan” yang ngurus……. Mudah saja, tidak perlu job profile atau job description yang neko-neko. Kami percaya, “Atasan” Yang (Maha) Satu ini tidak akan pernah mem-fait accompli bawahannya (inilah bedanya dengan atasan yang telah berbaik hati nyangoni saya untuk kembali ke Yogyakarta).

Kalaupun ada masalah, dijanjikan ada jalan keluarnya dan itu pasti yang terbaik. Sungguh luar biasa “Atasan” saya Yang (Maha) Satu ini. Bahkan tidak hanya kepada kami, melainkan juga kepada siapa saja, yang meminta maupun yang tidak meminta. (Dalam buku tebal bertulisan Arab yang sering terpajang di ruang tamu, selalu tampak rapi, bersih dan telihat baru, karena jarang disentuh apalagi dibuka, saya temukan penggalan kalimat begini  : “Opo sampeyan ora dong?……., Tidakkah kalian mengerti?”. Tulisan Arabnya berbunyi : Afalaa ta’qiluun …….).

***

Kini, kalau ada yang tanya kepada saya : “Kenapa memilih membuka usaha mini-market? Kok bukan toko yang lain?”. Kalau menginginkan jawaban lengkap, ya seperti dongeng di atas itulah jawabannya. Kalau cukup jawaban singkat : Itulah pilihan terbaik menurut petunjuk dari “Atasan” kami…..

Madurejo, Sleman – 21 Pebruari 2006
Yusuf Iskandar

Tag: , , , , , , , , , , ,

178 Tanggapan to “(4) Kenapa Memilih Mini-market?”

  1. purna Says:

    maap bos,
    mau tanya klo tidak keberatan.
    Saya sangat tertarik bisnis retail spt yg nt jalanin. Kira2 brp modal minimal yg harus tersedia utk bisa berbisnis retail berbasis swalayan?
    Maksudnya yang benar2 dr nol, soalnya saya gak punya tanah, yg punya ortu doang :mrgreen: trus ga punya modal sampe ratusan juta juga.

  2. madurejo Says:

    Mas Purna,
    Untuk menjawab berapanya, memang agak sulit. Tempat & lokasi harganya sangat bervariasi. Semakin strategis, tentu semakin mahal. Sedangkan isinya, menyesuaikan segmen pasar yang dituju (di Madurejo, tentu beda dengan di Kuta). Apalagi kalau konsepnya swalayan modern, sistem IT-nya juga mesti ada biaya ekstra sendiri. Meski begitu, bisa mulai dengan ukuran kecil dulu, katakanlah sebuah kios. Lalu isinya selektif berdasar target pasar. Lalu dikotak-katik perkiraan biayanya. Saya pikir, bisa dimulai dengan modal 25 jutaan. Terima kasih & salam.

  3. ndon Says:

    Mas, tulisan panjenengan cukup menarik & membuat saya terisnpirasi, jujur saat ini kakak saya baru saja keluar dr kumpeni di Jakarta dan skrg sdg mencoba membuka usaha mini market di tempat asal Wonogiri. Ya memang sih mas ada pendapat & opini dari berbagai pihak, ada yg pro dan kontra…yg pro seperti apa tidak bikin iri tetangga sekitar terutama yg punya warung2 kecil sbg informasi lokasi yg dipilih kebetulan di dalam perkampungan..dan jarak warung satu dengan yang lain sekitar 800mtr.

    Menurut mas Yusuf bagaimana menghadapi sikap iri & negatif tetangga2 tsb ya mas…maturnuwun

  4. madurejo Says:

    Seringkali hal semacam ini tak terhindarkan, apalagi di dalam perkampungan. Tapi saya pikir jarak 800 m masih tergolong “aman” (tidak terlalu dekat). Barangkali untuk tahap awal bisa dengan saling menjaga harga jual (jangan banting harga), shg konsumen membeli di sana atau di sini haganya sama. Kita bermain di pelayanan saja dulu. Kemudian, pilih beberapa produk yang jangan dulu digarap (contoh : Madurejo Swalayan tidak menyediakan beras dalam pak kecil dan minyak goreng murah atau curah, biarkan itu menjadi porsinya warung-2 kecil). Jadi ada item-2 barang tertentu yang kita biarkan menjadi porsi warung-2 kecil. Berjalannya waktu dan perkembangan wilayah, bisa dipertimbangkan lagi kelak. Bisa juga cari cara lain agar bisa bersinergi. Selamat memulai usaha. Slm.

  5. ndon Says:

    maturnuwun advisenya mas, klo boleh ngerepotin lagi…untuk perlengkapan mini market tersebut, kira2 panjenengan punya info yang menjual rak barang, cash drawer dll mas? maturnuwun…Wassalam wr.wb.

  6. madurejo Says:

    Untuk di wilayah Jogja, ada beberapa tempat yang saya ketahui, 2 di antaranya adalah MKT di Jl Kaliurang (sedia baru dan seken) dan Matahari Jl Katamso (hanya sedia baru). Toko saya membeli perlengkapan di dua tempat itu. Untuk yang lainnya, coba nanti saya infokan via email. Terima kasih.

  7. ndon Says:

    Maturnuwun sanget mas…..saya tunggu info alamatnya via email saya di ndon_nunuk@yahoo.com ….semoga segala urusan Mas sekeluarga selalu dimudahkan dariNya…dan semakin tambah maju usahanya….Wassalamualaikum wr.wb.

  8. andi Says:

    ass wr wb maaf pak saya minat untuk membuka minimarket,yang saya mau tanyakan dimana untuk belanja barang2 dagangan (kulakan) dan setting tempatnya, terimakasih sebelum nya walaikum salam wr wb

  9. madurejo Says:

    Mas Andi,

    Untuk kulakan, awalnya kita memang perlu cari-2 barang sendiri. Sambil jalan, mencari info alamat distributor/sales, lalu hubungi mereka untuk memberikan penawaran jenis barang, harga, sistem pembayaran, diskon, dsb. Jika kita punya papan nama, biasanya sales (yang resmi maupun free-lance) begitu melihat ada toko baru, biasanya mereka akan mampir dan memberi penawaran.

    Ada baiknya kita mempunyai pedoman tentang jenis item barang yang hendak kita jual, sebagai pegangan awal. Sebab nanti dari penawaran sales, jenis item barangnya sangat buanyak dan bisa membuat kita bingung memutuskan.

    Untuk penataan memang gampang-gampang susah dan banyak “seni”-nya. Intinya bagaimana agar memudahkan konsumen untuk melihat dan memilih barang yang kita jual, tapi juga memudahkan pengawasan.

  10. tri Says:

    Dengan hormat,
    Apabila semua lancar,2-3th saya akan pensiun di Jogja (pinggiran),bagaimana kirannya pendapat bapak untuk membuka retail seperti bapak ttp mungkin lebih kecil.sedang dana yg saya alokasikan Rp150jt,belum termasuk tanah/toko.menurut bapak cukup?
    wasalam

  11. tri Says:

    mohon maaf diralat,Rp 150 jt itu termasuk modal barang +tanah ,ttp tanah belum saya beli.
    terima-kasih

  12. madurejo Says:

    Mas Tri,
    Sungguh ide bagus, dan peluang masih terbuka, tinggal pandai-pandai kita menangkapnya. Mempersiapkan diri dengan belajar dan menghayati seluk-beluk bisnis ini adalah juga modal penting, terutama agar “mind-set” kita lebih terkelola. Mulai berhitung dan mereka-reka kira-kira berapa biaya untuk beli/sewa lokasi, membangun tokonya, dan akhirnya berapa yang tersisa untuk perlengkapan dan isi tokonya. Di situlah letaknya nilai relatif dari modal Rp 150 juta, tergantung bagaimana dan seperti apa kita mau “ngecakke” atau mengalokasikannya.

    Karena itu, menurut saya pertanyaannya BUKAN “apa cukup”, MELAINKAN “bagaimana agar cukup”. Semoga sukses.

  13. Julie Says:

    maaf pak, kl kita tinggal d jakarta, apa ada kemungkinan yah buka mini market? masalah nya hampir setiap perumahan pasti ada Alfa atau Indomaret, mini market lain nya…rencana nya mmg sy juga tertarik sm bisnis ini, tp kl beli franchise mahal dan modal nggak cukup…ada masukan lain nggak pak? krn jadi orang gajian cape juga, blm lagi anak di rumah di asuh pembantu…wah…berat hidup sekarang yach…

  14. madurejo Says:

    Mbak Julie,
    Menurut saya, kemungkinan membuka minimarket masih terbuka. Memang perlu kerja lebih keras, karena tantangan/ancaman (threat) sudah menghadang di depan mata. Bukankah di balik setiap tantangan selalu ada peluang (opportunity)? Coba digali dan digali lagi, temukan celah dan pembeda, setelah itu garap dengan serius agar konsumen atau calon pelanggan melihat toko Anda “beda” dengan toko yang sudah ada. Lebih lengkap tentang pandangan saya via japri, ya. Salam sukses buat Anda.

    • ahmad edo Says:

      mz widodo berkata :
      4 juli 2013 pada 14.00

      saya dr dlu ingn skli buka/punya usaha mni market,sy mnt saran dr bpk,sy pnya uang 12jt dn sy sudh punya tanah gk bgtu besar apakh itu cukup utk usaha awalan

  15. Pangeran Dori Says:

    Alhamdulillah saya dapat inspirasi yang bagus banget.
    Mungkin ada kesamaan dalam hal keinginan antara Mas Yusuf Iskandar dengan saya, bedanya Mas Yusuf telah jauh melangkah sementara saya masih dalam tahap wacana. Saya seorang Manajer di satu BUMN, dengan gaji sekarang saya rasa sudah mencukupi untuk menopang hidup, hanya setelah 18 tahun bekerja ada rasa kejenuhan dan sudah ada pemikiran untuk melangkah seperti yang Mas Yusuf lakukan. Saya tertarik untuk membuat Minimarket, kemungkinan di Cirebon, tempat tinggal saya (sekarang saya dinas di Yogya). Kalau boleh mas, kapan2 saya pengin ketemu Mas Yusuf untuk menimba ilmu, siapa tahu gelora untuk berwirausaha akan semakin membara. Terimakasih sebelumnya. Wass.

  16. madurejo Says:

    Mangga, Kang Dori…
    Senang sekali memperoleh tambahan silaturrahim. Kita bisa saling “sharing” dan menimba ilmu bersama-sama. Baru sebuah wacana pun perlu dipupuk agar tidak memudar dan tetap semangat membara. Sukses juga untuk Anda. Terima kasih & salam.

  17. Mukti Aji Says:

    Assalaamualaikum
    Mas, ternyata Allah mempertemukan kita untuk bersilaturahmi lewat dunia maya ini.
    Saya sekarang kerja gajian di sebuah penerbitan buku di Klaten. Deket, khan? Sudah 19 tahun jadi orang gajian, alhamdulillah. Dalam hati, pingin sekali Allah memberiku kegiatan dodolan. Kami sudah ancang-ancang ke sana. Dengan baca perjalanan mas Yusuf, bukan main. Trim’s.
    Mukti Aji- Adiknya mbak Noor Ika – Kendal
    Salam dari mas Indra HP.

  18. madurejo Says:

    Mas Mukti,
    Bersyukur, alam maya telah mempermudah silaturrahim. Jam terbang 19 tahun tentu menjadi bekal yang berharga. Bukan sekedar uang, melainkan jauh lebih penting adalah ilmu, relasi, network, spirit dan mind-set. Jaga baik-baik “aura” kewirausahaan yang ada. Nuwun & Salam sukses.

  19. Gito Says:

    Mas, ceritaNya siiip bgt yo…bikin orang yg baca seperti dapat pencerahan.
    saya juga ada rencana mau muka minimarket, minta supportNya ya mas. Thnx

  20. madurejo Says:

    @Mas Gito,
    Saya turut bersyukur kalau dongengan ini ada manfaatnya. Insya Allah kalau memang ada yang bisa saya bantu, dengan senang hati men-support rencana Anda. Salam sukses.

  21. Farri Says:

    Mas, benar2 mantep ya kalo kita bisa punya usaha sendiri, walaupun usaha ritel sudah sangat ketat. Tapi tentu ada peluang yang bagus kalo kita jeli.
    Saya juga ada info gratis nih …. bisa dapat Rp270jtaan dengan tanpa modal aliass GRATIS. Sedang BOOMING saat ini.
    Kunjungi :
    http://www.komisigratis.com/?id=bersih

  22. ineu Says:

    mas saya sudah buka toko kelontong kecil terusan dari ortu yg sudah tua,hanya saja persaingan memang ketat,disebelah toko saya pun ada toko lagi cuma yg jadi masalah ,sekarang dia banting harga alias jual dengan harga dibawah pasaran dengan keuntungan sekecil mungkin,kalo saya ikutin atau samakan sama saja jualan tidak mendapat keuntungan..bagaimna mengahadapi pesaing yg seperti ini?pelanggan saya jadi lari ke tempat dia.
    tolong beri solusi ke alamat email ineuviki@yahoo.com

    terimakasih atas jawabannya

  23. madurejo Says:

    Bu Ineu,
    Secara umum saya menyarankan lebih baik konsentrasi untuk meningkatkan habis-habisan di sisi pelayanan (langsung maupun tidak langsung). Sebab kalau kita mau masuk dalam persaingan harga (yang sepertinya semakin tidak logis) tentu akan sangat menguras energi dan nambah stress. Sementara kita ada di kelas “teri” dan sumber dana terbatas. Lebih detil saya email langsung ke ibu. Terima kasih & salam.

  24. Rizal Says:

    Ass.Wr.Wb
    Thanks berat mas Yusuf sudah memberikan dorongan yang kuat terhadap keinginan saya untuk membuka usaha. Saya seorang mahasiswa di Jogja, asal dari Riau, dan sebentar kagi menyelesaikan kul. Begini mas, saya punya niat untuk buka usaha ritel di sebuah kabupaten, di Jambi. Jarak dari ibukota provinsi perjalanan darat 9 jam, sedangkan ibukota tentang (Sum-Bar) hanya berjarak 6 jam, so lebih banyak orang bepergian ke Sumbar. Sebelumnya di kota Kabupaten sudah berdiri beberapa minimarket. Saya melihat sedikit ada ceruk untuk mewujudkan niat saya membuka usaha, apalagi saya sedikit banyak belajar manajemen. Hal itulah yang akan saya sajikan di ruang usaha saya sebagai pembeda dengan yang lainnya. Menurut mas Yusuf, untuk mengisi barang dagangan awal apakah saya mengandalkan sales yang mondar-mandir, atau saya langsung kontak beberapa distributor produk consumer goods yang berada di Ibukota Provinsi..? matur nuwun sangat atas infonya mas…

    • madurejo Says:

      Keduanya bisa dilakukan, tapi utamakan dulu yang langsung distributor, baru yang lainnya bisa ke sales kelilingan. Distributor biasanya harga lebih murah, tapi mesti dalam jumlah banyak total pembeliannya.

      Untuk rak bekas, coba bisa dicek dulu ke MKT, di Jl. Kaliurang Km 10,5. Tlp. 888540, atau kontak pak Joko 08122961277.

  25. Rizal Says:

    Yth ms Yusuf,

    Melanjutkan pertanyaan sebelumnya, saya mohon info alamat dan nomor telepon untuk pengadaan rak minimarket bekas, karena untuk awal modal saya sangat terbatas sekali. Ini menjadi acuan saya untuk kemudian kelak. Saya tunggu infonya di email saya : rizal_grenk@yahoo.co.id

    Terima kasih banyak atas infonya mas…BRAVO…!!!

  26. sahono Says:

    yth Mas yusuf,
    ass.Wr.Wb ngenalkan saya Sahono senang sekali rasanya berkenalan dengan Mas Yusuf, Mas saya beberapa tahun lagi juga mau pensiun , saat ini saya sudah punya ruko ukuran 7,5 x 24 , masih kosong di Jl Imogiri Barat , sangat berat rasanya untuk memolai usaha, biasa orang gajian. Hati kecil saya sudah sejak bujangan dulu ingin punya usaha minimarket, mohon bantuan Mas Yusuf , untuk memolai ini dimana alamat dan no telp distributor barang barang kelontong untuk kulakan. Tks wassalam.

    • madurejo Says:

      Wa-alaikum salam wr.wb.-
      Mas Sahono, wah sayang sekali sebenarnya, sdh ada ruko kok ditelantarkan kosong. Pertama, pasang papan nama dan siapkan kartu nama utk dibagikan ke sales yg mobilnya berkeliaran kemana-mana…. Mereka dg senang hati akan datang. Kedua, hubungi sales/pemasok utk datang memberi penawaran. Jika blm ada relasi yang dpt ditanya, silakan di toko sy ada data alamatnya….Ayo mas, peluang sdh di depan mata…. Pasti, perlu kerja keras utk set-up awalnya. Salam kenal kembali..

  27. Hendrik Irawan Says:

    Asslkm.

    Mas Yusuf,
    Say mohon di kirimkan cara manajemen minimarket. Seperti :manajemen kas keluar masuk, pelayanan, persentase pengambilan untung dr harga distributor, dll
    Tolong informasinya juga terkait distributor & sales barang.

    Salam,

    Hendrik Irawan

    Magetan, Jawa Timur

    • madurejo Says:

      Mas Hendrik,
      Kalau tulisan tentang pelajaran2 spt yg Anda maksud, saya tidak memiliki khusus. Pedoman saya ya buku2 atau tulisan2 yg pernah saya baca maupun artikel2 di internet (mana2 yg sesuai dan dpt saya lakukan, ya saya ambil…). Selebihnya saya jalani saja dan saya pelajari sambil bertindak, kadang salah, kadang meleset, kadang diapusi, tapi itulah pembelajaran yg mahal, yg kemudian saya jadikan bahan untuk berdiskusi dg tim saya.
      Klo distributor/sales, mereka biasanya akan datang sendiri. Awalnya dulu saya tanya2 no tlp lalu saya hubungi agar membuat penawaran ke toko saya. Siapkan kartu nama, terkadang sambil jalan2 kalau saya lihat ada mobil sales, saya hampiri lalu saya sodorkan kartu nama. Mereka biasanya akan datang ke toko kita. Tinggal nanti kita bicarakan lebih detil tentang jenis baran, harga, sistem pembayaran, diskon, dll.
      Semoga cukup membantu. Sy bisa dihubungi di 08122787618. Salam.

  28. sahono Says:

    Yth. Mas Yusuf, terima kasih atas sarannya semoga mas Yusuf sukses selalu Tuhan maha tahu atas segalanya. saya suatu saat akan kunjung ke tempat mas Yusuf namun saat ini belum bisa karena saya masih tugas di luar kota di Dumai. tks mas salam untuk keluarga.

  29. Kaelani Says:

    Ass pak yusuf, salam kenal dari saya.., menarik sekali ide2 yg di lontarkan pak yusuf…, saya jadi tertarik utk mendirikan usaha klontong kecil2 an, untuk kesibukan istri saya di rumah dan membantu penghasilan keluarga. Maklum skr saya jdi org gajian yg terpisah dg keluarga saya. Harapan saya kedepanya bisa berkumpul sama keluarga. Tolong dong pak email aku literatur, artikel2 atau apa aja ke ttg cara memulai nya. Trim’s sebelumya. Sukses buat pak yusuf. Email: kaelani76@yahoo.com

    • madurejo Says:

      Salam kenal kembali, pak Kaelani. Bagus sekali kalau dpt mulai melibatkan istri ke dunia kewirausahaan, sekalian sbg pembelajaran bagi segenap anggota keluarga kita. Sejujurnya saya tdk memiliki secara khusus literatur atau artikel ttg memulai usaha. Hal yg saya lakukan ketika saya membutuhkan informasi adalah “search” dan belajar langsung di internet, sesekali saya ke toko buku utk nambah wawasan dan terutama diskusi & tanya2 kpd teman yg sdh lebih tahu atau pengalaman. Selebihnya sy pikirkan dan praktekkan sendiri, belajar sambil jalan. Itulah yg kemudian saya ceritakan melalui blog ini (yg baik maupun yg buruk). Banyak terima kasih & salam sukses juga buat Anda.

  30. ernawati ratna dewi Says:

    Ass. salam kenal pak,
    saya ada tanah dipinggir jalan, tak begitu luas, dr dulu kepikiran ntuk bikin minimarket. dan menangkap peluang didaerah situ blm ada mini marekt. tp lokasi itu agak jauh (800-an m) dr tempat keramaian (ada pasar, perkantoran, sekolah, rs). berani gak ya pak, ntuk mendirikan minimarket dilokasi itu? dgn luas 6x14m apa cukup ntuk bangunan minimarket? kalo boleh saya ingin nimba ilmu dr bapak, matur nuwun paK

    • madurejo Says:

      Berani, mbak Dewi…
      Saya membayangkan lokasi Anda cukup bagus. Luas toko juga ideal (+/- 84 m2). Tentu perlu selektif memilih jenis (item) barang dagangannya. Lokasi dimana? Monggo mbak….

  31. slametsugiharto Says:

    Pak Yusuf saya tertarik sekali dengan paparan usaha bapak yg bapak jalankan sekarang,lebih banyak waktu di rumah,sambil tetap perpenghasilan,Insya Alloh nanti kl saya main ke jogya mau mampir & menimba ilmu dr bapak boleh dong pak,untuk itu mohon dgn sangat kiranya bapak bisa memberikan alamat atau no.telp yg bisa saya hubungi..terima kasih atas kesedian bapak berbagi pengalaman

    Slamet Sugiharto

  32. Arneti Says:

    saya juga sudah mulai usaha minimarket pak yang saya mau tanyakan kalau kita pemula ini berapa persen ya keuntungan dari barang dagangan kita supaya bisa bersaing dengan minimarket yang sudah ada terima kasih atas sarannya

    • madurejo Says:

      Utk minimarket, umumnya margin keuntungan rata-rata pada tingkat 9-10% (bervariasi, produk2 tertentu ada yg hanya berkisar 3-5%, tp ada juga yg bisa 20-25% biasanya yg bukan fast moving). Sekali waktu utk tujuan promosi bisa saja rata-ratanya diturunkan sesuai dg tingkat keuntungan yg dianggap wajar dan msh “aman” bagi cashflow toko.

  33. hastoro Says:

    assalamu’alaikum pak yusuf,salam kenal.saya sangat berapresiasi dengan keuletan bapak.begini pak,saya masih anak kemarin sore yang bergelut di bisnis retail.sekarang ini saya pny warung kecil2an yang saya kelola dgan istri,utk beralih ke bisnis retail besar spt minimarket apa saja yang harus saya siapkan?terutama program kasir,rak2 display,dll bs saya dpt dimn?kendala lain:ada beberapa item produk yg distributornya tdk mengujungi t4 saya atau ketika ganti sales mereka lama tdk berkunjung,nah bagaimana mensiasati agar pasokan item tsbt tetap bs saya dapatkan?bagaimana menjaga kepercayaan konsumen?dan apabila Alloh mengijinkan,bolehkah saya berkunjung ke t4 bapak utk belajar lbh bnyk lg ttg bisnis retail terutama minimarket?terima kasih atas penjelasannya

    • madurejo Says:

      Mas Hastoro,
      Alaikum salam wr wb.- Senang menerima pesan Anda. Lokasi warung/toko Anda di mana? Dengan senang hati kalau Anda mau berkunjung. Tolong kasih kabar dulu, soalnya saya tidak setiap hari ada di toko (HP. 08122787618). Kita bisa belajar sama-2 mas. Jangan lupa, waktu saya memulai usaha ini saya juga anak kemarin sore…. Selalu ada saat2 pertama, dan biasanya memang tidak mudah. Pertanyaan2 Anda yg banyak itu spt-nya terlalu panjang kalau sy jawab disini. Barangkali lewat email sj ya…. Terima kasih & salam kenal kembali.-

  34. hastoro Says:

    terimakasih banyak pak,insyaAlloh saya akan konfirm apabila akan ke t4 bapak suatu saat nanti.domisili saya di wonogiri.saya tunggu e-mail bapak……

  35. Imron Taufik Hidayat Says:

    Assalamualaikum. wr,wb.

    Senang sekali membaca tulisan anda. Begitu menginspirasi dan membuat siapapun yang membaca pasti ingin mengikuti jejak langkah Anda (@ yang sudah kena virus wirausaha, dan yang mau pindah kuadran dari orang gajian menjadi self employee atau investor). Sungguh Dahsyat dan Menggugah!!.

    Perkenalkan, saya Imron Taufik Hidayat, dari Pekalongan. Alhamdulillah saya sdh punya 2 Minimarket, yang satu baru buka 4 bulan YL. Untuk menambah wawasan ttg operasional toko, silahkan baca dan miliki buku ritel series ” how to operate your store effective yet efficiently”, dari Christian F Guswaii. Terimakasih.

  36. dandot al komsu Says:

    Ass wr wb. Senang sekali saya membaca tulisan bpk. Saya dari nganjuk mohon petunjuk dari bapak. Saya punya bangunan yang saat ini untuk usaha warnet, conter hp dan loket pembayaran listrik online. luasnya 50 m2, bisa dikembangkan sampai 90 m2. Saya ingin ruang tersebut untuk mini market dengan tetap mempertahankan warnet dengan 7 komputer. Menurut bpk lebih bagus mana antara waralaba dengan yang mandiri? mengingat modal saya di bawah 100 jt. Jika waralaba apa ada yg nilai investasinya maksimal 100 jt?

    • madurejo Says:

      Setahu saya untuk waralaba ritel minimarket nilai investasinya lebih 100 jt (bisa jadi saya salah, coba saja dilacak lagi di Google). Jika Anda mampu dan ada kesempatan untuk mengelolanya sendiri, saya cenderung untuk dikelola sendiri. Tentu saja keputusan ini ada konsekuensinya, yaitu benar2 menuntut bekerja keras di awal2nya. Pertimbangan utama saya adalah, kalau ikut waralaba maka porsi keuntungan akan lebih banyak “lari” ke pemilik waralaba. Selain itu, saya akan kehilangan kesempatan untuk “menikmati” (suka/duka) usaha saya. Waralaba hanya cocok bagi mereka yang punya modal tapi tidak sempat atau tidak mau repot mengurus bisnisnya alias duduk manis saja. Semoga sukses. Anda sudah membuktikan berhasil mengelola usaha yg sedang berjalan sekarang. Jadi, tingkatkan, kembangkan dan sukseskan…. Slm

  37. sherlly Says:

    permisi pak,saya sherlly, orangtua punya toko kelontong, padahal ruko kami ukurannya luas, dan punya sendiri. bagaimana sikap saya sebagai anak. apakah saya harus mengembangkan usaha ini lebih luas dengan mengembangkannya menjadi minimarket, tapi saya belum memiliki penghasilan karena belum bekerja setelah lulus sarjana oktober 2009 kemarin. bagaimana saya mengembangkan usaha ini? bagaimana cara mengedrop barang, dibayar dibelakang? tapi saya takut resiko jika menerima barang dulu, lalu bayarnya dibelakang, karena takut uangnya kepake buat nombok pengeluaran yang lain??????? aduh………..saya selalu takut, takut dan takut jika ingin membuka usaha, contohnya saja bimbingan belajar, saya padahal sudah jadi sarjana pendidikan, tapi blum berani dan takut terus bawaannya mengembangkan usaha bimbingan belajar saya, malah sekarang berhenti begitu aja ditengah jalan, dan sekarang hanya jagain toko kelontong nya orang tua, bagaimana ya pak, solusi tepat bagi seorang seorang fresh graduate sarjana pendidikan yang lagi menunggu panggilan kerja, untuk memberanikan diri membuka usaha baru dan mengembangkan toko kelontong (makanan, minuman, dan alat listrik) menjadi usaha yang maju, maju, dan maju setiap harinya, terutama saya sebagai anak pertama yang kelak menjadi tauladan keluarga dan adik-adik saya, gimana ya pak? (sherlly di jakarta). beri tanggapan dan solusinya ikhasnya ke email saya ya pak. makasih banyak.

    • madurejo Says:

      Sherly,
      Terima kasih sharing-nya. Sesuai permintaan Anda, maka jawaban selengkap akan saya emailkan. Namun intinya, Anda hanya butuh keberanian dan kemantapan hati. Bahwa semua ada resikonya, namun resiko itu harus terukur dan manageable. Slm

  38. AGUNG Says:

    bos mau berguru nh,sy mau buka minimarket brand sendiri yang mau sy tanyakan :
    1.dengan luasan 80m2 berapa budget minimal yg harus disiapkan?untuk kulakan barang…loaksi sudah siap pakek
    2.mesin kasir yg cocok untuk skla tsb
    3.bagaimana tingkat resiko dengan modal pinjaman bank?berap % maks pinjaman dari modal sendiri?
    4.sebagai gbran jumlh kendaraan yg lewat harian rata2x 4000kndaran ,,,berap rasio tingkat pembelian dr jmlh tsb??
    5.berapa persen (% ) margin yg kita pakaiuntuk awal pembukaaan toko
    6.MOHON PETUJUKNYA BOSSS

    MATURNUWUN

    • madurejo Says:

      Mas Agung,
      Saya mendukung niat Anda untuk buka minimarket dg brand sendiri. Selamat, dan maju terus…!

      1). Utk kulakan barang dagangan, saya berpedoman pada angka (dari pengalaman toko saya): Rp 1,2 juta,-/m2 luas toko. Jd kalau luas toko 80m2, maka modal utk kulakan barang dagangan berkisar Rp 100 juta. Sebaiknya modal itu tdk langsung dihabiskan di awal, melainkan belanjakan 80-90%-nya dulu, sisanya dicadangkan sbg tambahan modal ketika toko mulai berjalan.
      2). Mesin kasir banyak pilihan, yg penting dpt mendukung sistem komputerisasi dari software (POS) yg digunakan.
      3). Memang bagus kalau sempat melakukan “risk analysis”, tapi itu nanti akan merepotkan Anda. Menurut saya disederhanakan saja, sesuaikan dengan kemampuan Anda untuk menyediakan modal sendiri.
      4). Ttg hal ini saya tidak tahu jawabannya (perlu “belajar” dari pewaralaba yg sudah ada, nih…). Kalau kebetulan di seputaran situ sudah ada Indomaret atau Alfamart, maka itu tanda bahwa kawasan itu prospektif.
      5). Rata-rata minimarket seperti ini margin keuntungannya 10%. Utk jenis barang tertentu, perlu dilakukan survey kecil2an sbg pembanding dg toko lain, atau tanya supplier (biasanya mereka punya saran ttg harga jual), tapi secara total rata-rata berkisar 9-11%.

      Sementara demikian jawaban saya berdasarkan pengalaman yg saya miliki. Lebih mendalam lagi, tentu dengan senang hati bisa kita diskusikan, sekalian saya juga sambil menambah wawasan.

      Terima kasih & salam sukses.

  39. AGUNG Says:

    TRIMS BOS PENCERAHANNYA …
    1).UNTUK LOKASI DEKAT SY DAH ADA INDOMART JARAK 1KM AND SWALAYAN LOKAL 1KM KEBETULAN LOKASI SAYA JALAN NYA MENJADI JALAN PENGHUBUNG …JL WONOSARI KE JL SOLO ..MUNGKIN BOS DAH PERNAH LEWAT JLAN TSBT… JL RUMAH MAKAN MATARAM INDAH BOS…( LOKASI DEKAT SMA )
    2).BOS UTK BARANG MOVING FAST MARGIN BRP%,AND KOSMETIK %

    MATUR NUWUN

    AGUNG S

    • madurejo Says:

      Ya, saya termasuk sering melewati jalan yg Anda maksud, mudah2an suatu saat akan lebih sy perhatikan.

      Soal % margin sebenarnya tidak ada pedoman baku. Sangat variatif, sebab seringkali kita berpedoman pada harga pasar alias tetangga2 kita. Tapi utk yg fast moving umumnya dibawah 5%, terkadang ada yg di bawah 3 %, tp ada jga yg hingga lebih 7%. Kita memang harus jeli melihat kecenderungan pasar atau tetangga2 kita (para sales/supplier biasanya dapat membantu memberi info ini). Utk kosmetik memang relatif lebih tinggi, bisa 7-15%. Sekali lagi, kalau lkasi kita berdekatan dg toko lain, maka harga2 yg berlaku di toko lain seringkali menjadi pembanding harga kita…

      Semoga membantu. Salam sukses.

  40. RIZKI ALLIVIA Says:

    menarik sekali cerita bisnis bapak, sudah diversifikasi pak ? Saya punya usaha kelontong di imogiri barat tapi keliatannya pendapatan beda dgn dulu ketika saya jadi single fighter , du toko swalayan berdiri sekitar 300 meter daroi lokasi saya. So saya lakukan manuver untuk buka warung makan , alhamdulilah meski gak banyak yg beli sembakonya bisa masuk warung makan, lambat laun usaha saya bisa berdampingan karena ternyata ibu-ibu yang belanja lauk mampir juga ke warung kelontong saya karena anaknya rewel minta jajan, wah kayaknya harus ada perubahan di warung kelontong nih, soalnya pembelinya udah terjaring kem,bali, dan usaha rumah makannya bisa jalan. Saya minta saran untuk pengembangna modal usaha selain berhutang. Alhamdulilah.

    • madurejo Says:

      Nampaknya strategi Anda cukup jitu. Syukurlah, saya pikir itu bagus. Tentang modal usaha, kalau tidak modal sendiri tentu saja berhutang. Tapi ya harus berhati-hati, maksudnya harus benar-benar hutang yang terencana dan terukur sehingga tidak malah nantinya menyulitkan. Sedangkan alternatif kerjasama, ini gampang-gampang susah. Sejak awal harus terdefinisikan dengan jelas segala sesuatunya, dan tertuang dalam dokumen kerjasama itu, meskipun dengan teman karib atau saudara sendiri. Kapan-kapan boleh saya mampir ke tokonya?

  41. Arfi Says:

    Salam kenal. Dengan rendah hati ingin sharing dengan bapak-bapak semua. Strategi Dasar Ritel ada 4 :
    1. The Lowest : strategi harga rendah, artinya harga barang kita adalah yang paling kompetitif dibandingkan semua pesaing.
    2. The Hottest : strategi di mana kualitas barang kita adalah yang terbaik, paling segar, atau paling mengikuti mode.
    3. The Biggest : strategi ini mendasarkan diri pada kelengkapan barang yang kita jual sehingga pelanggan yang datang tidak kita kecewakan karena tidak menjumpai barang yang dicarinya.
    4. The Warmest : mendasarkan diri kepada kedekatan pribadi dan service kepada pelanggan serta pengetahuan yang mendalam mengenai produk yg dijual sehingga dpt memberikan nilai tambah sebelum dan sesudah terjadinya penjualan.
    Strategi mana yang dipilih, harus disesuaikan dengan lingkungan/ lokasi kompetisi yang kita hadapi. Mengkombinasikan dua strategi dari keempat strategi yang ada akan memakan banyak energi/ sumberdaya kita. Kombinasi lebih dari dua strategi adalah usaha bunuh diri. Tanpa strategi adalah usaha tanpa arah. Selamat dan sukses untuk semua.
    Salam hangat,
    Arfi
    arfi.saldian@yahoo.com

  42. yanti Says:

    slm kenal. mau tanya2 blh khan, n tlg dijawab ya…. sy n suami sdh pny usaha kecil2an, tp krn alasan ttt ingin berganti, membuat minimarket. Apa peluang untuk saat ini msh bgs ya…. mengingat bnyk sekali ritel bermunculan. kebetulan tmpt usaha km dkt pasar tp tdk dipinggir jln utama, krn psr terletak disblh utara rel krt smtr jln bsr di sltn. apakah lbh baik lgsg dibkn modern, dgn kaca2 n ac? tp apa wong2 pd gelem mlebu ya…. n modalnya tipis jg. tp mgkn sih orang lbh tertarik yg modern krn alfa di sn laris.

    • madurejo Says:

      Mbak Yanti,
      Tentang peluang saya yakin masih terbuka lebar, seiring tingkat pertambahan penduduk dan kebutuhan yang harus dipenuhi, ceruk pasar masih memungkinkan. Modern atau tidak, tergantung situasi masyarakatnya. Mungkin setengah modern, bisa ditempuh. Seperto toko saya adalah setengah modern, yaitu sistemnya sudah komputerisasi tapi fasilitasnya belum pakai AC (selain biayanya juga tinggi). Awalnya dulu orang2 kampung di seputaran toko saya juga “segan” mau masuk, tapi lama2 jadi biasa… Tentang modal? Ya memang itu masalahnya…hehe. Tapi jangan menyerah, pasti ada cara untuk menyiasatinya. Karena kunci sebenanya ada pada pelayanan (service) bagaimana kita “ngemong” atau membuat pembeli nyaman dab suka berkunjung ke toko kita. Dan itu tidak selalu identik dengan ada-tidaknya AC. Salam kenal kembali & semoga sukses.

  43. yanti Says:

    tx ya atas jawabannya. mdh2an mimpi kami cpt terealisasi. kapan2 nanya2 lg ya….

  44. fay Says:

    Salam kenal, saya dapat email anda dari blog minimarket55.
    Nama saya Fatriya, domisili di Jakarta.

    Terimakasih, karenam dari membaca baca blog anda saya mendapat informasi yg sama sekali awam sebelumnya.
    Pak, saya dan suami ada rencana untuk mendirikan mini market di Rumah Sakit baru di lingkungan tempat tinggal kami. Di rumah sakit itu belum ada mini market karena memang relative masih baru.
    Berdasarkan observasi, kami punya keyakinan bahwa usaha di lokasi2 seperti Rumah Sakit cukup menarik & akan menguntungkan, karena target marketnya yg sudah pasti.
    Bagaimana pendapat bapak?

    Dan berapa kira2 minimal luas mini market yg berlokasi di dalam sebuah rumah sakit?

    Terimakasih sebelumnya.

    • madurejo Says:

      Ibu Fatriya, terima kasih komen-nya, dan maaf saya terlambat membalas.
      Saya setuju dengan Anda, RS adalah kawasan potensial untuk usaha mini-market. Jika digarap dengan cermat, akan sangat menjanjikan. Target market jelas, seperti yang Anda katakan. Sebenarnya tidak ada batasan minimal luas, karena tergantung banyaknya item jenis barang yang akan menjadi prioritas untuk dijual. Yang lebih penting (menurut saya) justru tata ruang yang tepa dan baik agar dapat membuat pembeli (konsumen) merasa nyaman belanja di situ. Setelah itu baru kelengkapan barang dagangan, dimana setiap kawasan tentu berbeda. Jika tidak terlalu luas, maka perlu lebih selektif memilih/menentukan, jenis apa saja yang cocok dijual di situ. Demikian, semoga cukup membantu. Terima kasih & semoga sukses (saya ingin mendengar perkembangannya).

  45. Lia Says:

    sy terkesan dgn sikap terbuka dan ramah jenengan.sy org gajian yg ingin nambah penghasilan.cita2 sy dr dulu buka minimarket.tp modal sy minim sekali,bahkan mungkin bs dibilang modal nekat.sy sdg mempersiapkan ruang (tdx kamar sy) 4x4m dg pintu kaca+AC.lokasi rumah sy diperkampungan sktr 50 m dr jalan besar yg tdk terlalu ramai.apakah mnrt bpk dg kondisi seperti ini terlalu beresiko bg sy utk buka minimarket?
    jika ada waktu sy ingin sekali berkunjung ke tempat bapak.mudah2an bs menambah wawasan sy.

    • madurejo Says:

      Mbak/Bu Lia, matur nuwun. Klo boleh saran: pertahankan cita2 itu klo mmg benar2 sdh diniati. Nekat adalah juga “modal”. Banyak hal bisa dilakukan di ruang 4mx4m, apalagi sudah berkaca dan ber-AC. Resiko selalu ada dan tdk bisa dihilangkan, tapi jangan lupa bahwa potensi berkembang juga ada. Karena itu, tekan resikonya dan perbesar peluang/potensinya. Silakan klo sempat mampir ke toko saya. Tapi sy sendiri skrg jarang ke toko, istri saya lebih sering. Ada baiknya kontak sy dulu, agar bisa diatur utk ketemuan (HP. 08122787618). Monggo… Nuwun & slm.

  46. software toko Says:

    info yg bagus, perlu disosialisasikan lebih luas utk membuka peluang usaha. trm ksh

  47. abi Says:

    terima kasih atas semua infonya

  48. dita Says:

    Salam kenal pak,saat sy baca cerita bapak, sy lsg terinspirasi utk lsg merealisasikannya. Puji Tuhan dan skrg sdh berjalan 2 tahun yg lokasinya tepat di depan rmh sakit dgn status toko msh kontrakan. Skrg sy sdh punya toko sendiri dan berencana utk buka usaha sejenis. Boleh ga sy kontak lsg dgn bapak atau lewat email saja karena byk sekali yg ingin sy tanya kan ke bapak terkait rencana tersebut, trima kasih.

    • madurejo Says:

      Mbak/bu Dita,
      Saya turut senang mendengar sharing-nya. Semoga usahanya semakin maju dan dapat menginspirasi bagi teman-teman yang lain. Silakan kalau mau kontak saya, boleh via email atau telpun. Terima kasih – Slm

  49. teguh Says:

    trmkash pak tulisan bpk sangat membantu saya dlm rencana mendirikan minimarket , mau tanya bgmn strategi kita menghadapi pesaing spt alfamart atau indomaret atau waralaba kelas nasional lainya . Saya punya analisa (SWOT ) sendiri thd bisnis mrk dan bagaimana memenangkanya tetapi sy mohon pencerahan dari bpk sebagai perbandingan, untuk diketahui bahwa sy mewarisi toko grosiran dr orang tua dan berencana mau mengubah ke minimarket, perubahan tesebut dikarenakan sy msh punya kesibukan lain sbg Karyawan di BUMN . Trmksh – sebelumnya

  50. teguh Says:

    sbg tambahan analisa sy thd waralaba alfamart atau indomaret adalah mereka mempunyai celah spt :
    – produk yg dipasarkan standard (tdk menyesuaikan selera setempat )
    – produk sama tdk ada beda antara kota dan desa
    – terkesan exclusive shg blm cocok untuk penduduk ditingkat ibukota kecamatan
    – Biaya operasinalnya tinggi

    kesaktianya:
    – distribusi barang
    – SDM & IT Mumpuni
    – Brand yang kuat dukungan promo

    • madurejo Says:

      Pak Teguh,
      Maaf balasan saya terlambat. Bagus sekali kalau Anda sudah sampai pada analisa SWOT. Silakan dilanjutkan pendalamannya. Menyadari bahwa dalam banyak hal minimarket milik kedua pewaralawa itu pastinya lebih unggul, maka secara singkat menurut saya kuncinya ada pada “pelayanan” (langsung maupun tidak langsung). Saya tidak terlalu khawatir dengan keberadaan meeka, seanjang saya mampu menangani “pelayanan” secara optimal. Awalnya konsumen akan tertarik oleh harga, brand, dsb. Tapi akhirnya konsumen akan membandingkan bagaimana pelayanannya (termasuk di dalamnya : keramahan, kenyamanan, dsb.). Sisi itulah yang masih bisa kita garap lebih maksimal. Banyak terima kasih sharing-nya & Salam.

  51. ahdanza Says:

    mas yusuf, ane punya kios 6×12 m2. ingin segera ane bikin minimarket. cuma kendala di modal dan dari mana memulai. saat ini ane cuma ada dana cash 10 jt. dan kios cuma kios kosong (belum ada sarpras untuk sebuah minimarket spt rak dsb). sebenarnya ane ingin sebelum puasa ini bisa buka, atau minimal sebelum lebaran. gmn mas solusinya?

    • madurejo Says:

      “Timing” yg tepat klo bisa buka seputar bulan puasa – sebelum lebaran. Fokuskan pada kebutuhan pokok yg paling banyak dibutuhkan di waktu2 itu, di seputar daerah Anda. Tidak harus seluas toko digunakan, pakai seperlunya dulu. Sehingga modal “cash” yg ada dpt dioptimumkan. Memang Anda hrs kerja ekstra keras krn blm punya jaringan supplier. Tp dg sangat-sangat selektif memilih jenis barang dagangan (yg paling banyak diperlukan masy pada seputaran lebaran), mungkin akan sangat membantu. Tidak usah dulu berpikir ttg minimarket yg lengkap, melainkan fokus utk meraih “peluang” menyongsong lebaran.

  52. INDRIASARI Says:

    Sore pa

    saya selalu mengikuti perkembangan atau tulisan tulisan yg bapak muat, dan saya ingin menanyakan bagaimana cara menata brg2 penjualan saya yang banyak mcmnya sedangkan ukuran toko hanya 4×4 meter, saya ingin menjadi toko serba ada apabila pembeli menanyakan sesuatu pasti ada ditoko saya, jadi saya bingung penataanya, obt2n atau pun yg lainnya kalo ada contoh gambar atau masukan yg lain.
    Terimakasih bantuannya.

  53. ibu widhi Says:

    ass…
    infonya…sangat memberikan semangat bagi saya utk memulai bisnis ini, saya punya tempat diarea perumahan daerah klaten mohon dukungan rencana buka sblm lebaran tolong info ttg sofware minimarket yg bisa saya hubungi, matur nuwun

    • madurejo Says:

      Senang sekali mendengar ibu memulai bisnis ini. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar agar bisa operasi sebelum Lebaran, “timing” yg tepat utk memulai usaha ini. Insya Allah, kalau ada yg dapat saya bantu, dengan senang hati akan saya bantu sebisanya. Ttg software, harganya sangat bervariasi dan banyak yang menyediakan. Sebaiknya cari info sebanyak2nya dulu agar ada pembanding. Utk Jogja bisa hubungi : Media Sejahtera (0274-6822257), MKT (0274-888540), msh banyak yg lainnya juga. Monggo & Semoga sukses…

  54. Maya Says:

    Salam kenal Mas, saya PNS, tapi saya pingin buka Minimarket, makanya saya lagi banyak belajar nich, yang jadi kendala saya masih berkarir tapi ingin bisa mengawasi perkembangan usaha saya, kira2 teknik yang efektifnya gimana ya, biar usaha jalan terus tapi pekerjaan saya juga tidak terbengkalai. apa perlu saudara kita yang bantu mengawasinya?Trimakasih sebelumnya.

    • madurejo Says:

      Salam kenal kembali. Memang, pengawasan adalah salah satu kendala yg tdk mudah ketika kita mau buka usaha baru sementara masih bertahan pada karir yg sdg dijalani. Mengawasi tidak selalu hrs 24 jam non-stop. Kalau sistem dan tata cara sudah dibentuk, pengawasan dpt dilakukan dr jarak jauh (via telp. misalnya) dan nanti saat pulang kerja baru terlibat langsung. Pada tahap2 awal jelas ini akan sangat menyita waktu dan tenaga. Memang harus ada orang kepercayaan (tdk sll hrs saudara kita, malah seringkali justru saudara sendiri ini suka membuat “repot”). Tapi percayalah, pasti ada cara yg dpt dilakukan. Kalau boleh saya menyarankan: Maju terus dengan semangat untuk membuka usaha sampingan, termasuk minimarket. Jika ada kesempatan, saya ingin mendengar kabarnya ketika Anda sudah memulainya. Salam sukses.

  55. ineu Says:

    Ass Pa
    saya berniat untuk mengembangkan usaha saya,karena lokasi tempat usaha saya kecil (Kontrak),sehingga barang2 sulit untuk ditampung. Saya berniat untuk melakukan diversifikasi usaha kelontong saya, dengan cara door to door ke setiap rumah(lingkungan saya perumahan).
    Yang ingin saya tanyakan bagaimana untuk memulainya. kemudian harga yang ditawarkan? cash on delivery.
    Terimakasih atas jwabannya.

    • madurejo Says:

      Tentunya yang pertama mesti disapkan daftar harga yang setiap saat diperbaharui sesuai perkembangan. Utamakan daftar untuk komoditas yang sekiranya paling banyak dibutuhkan konsumen, sebab kalau harus menyiapkan daftar semua item mungkin akan merepotkan. Gunakan saja harga pasar pada umumnya, syukur2 bisa diupayakan sedikit lbh rendah. Jika tidak, gunakan saja harga standar di pasar saya kira masih OK megingat Anda akan memberi nilai tambah berupa pengantaran. Yang kedua, promosi untuk mengenalkan sistem pengantaran yang Anda tawarkan. Yang ketiga, Anda harus punya orang yang siap mengantar. Pengenaan biaya pengantaran tergantung “kebijaksanaan” Anda yang didasarkan atas hitung-hitungan ekonominya.Meskipun akan dikenakan biaya engantaran dlm jumlah yg wajar, saya pikir masih kompetitif mengingat mereka tidak perlu pergi ke toko, melainkan bisa pesan melalui tilpun (ada org yang siap menjelaskan tentang harga dan sistemnya, jika ada yang tanya via tilpun). Intinya: Itu adalah terobosan. Sistemnya bisa diperbaiki sambil jalan, sepanjang jangan sampai kmerugikan konsumen. Semoa sukses. Jika berkenan saya ingin mendengar perkembangannya, jika nanti jadi Anda terapkan agar dapat di-share ke teman lain. Slm

  56. suyadi Says:

    mas , saya seorang pekerja di kalimantan , saat ini lagi cuti di mbantul, pingin tahu cara set up awal sebuah minimarket.
    Dari setaun yang lalu saya sudah pingin membuka usaha minimarket dan saat ini sudah membangun bangunannya di sebuah komplek perumahan.
    Mohon informasinya masalah suplier, ware house & strategi pemasaran.

    nuwun mas

    • madurejo Says:

      Mas Suyadi,
      Anda sudah memulainya, maka segera saja ditindak-lanjuti sesuai dengan kemampuan. Tidak sesulit yang dibayangkan, hanya memang perlu kerja keras di awalnya. Pada umumnya supplier akan datang sendiri. Tetapi pada tahap awal kita perlu kulakan sendiri, mencari barang sendiri, mengangkut sendiri, sambil kita memperkenalkan usaha kita. Selanjutnya nanti mereka yang akan mengunjungi kita. Warehouse, disesuaikan dengan ukuran toko kita, yang penting ada tempat yg mudah untuk menyimpan dengan aman. Semakin banyak jenis barang dagangan tentunya akan semakin perlu tempat penyimpanan lebih besar. Strategi pemasaran paling awal dan efektif adalah memperkenalkan dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat lingkungan kita tnggal, karena mereka adalah calon pelanggan utama kita. Jika calon pelanggan utama ini bisa kita “bina”, mudah2an selanjutnya pemasaran menjadi lebih mudah… Semoga sukses & salam (NB: Jika berkenan saya ingin mendengar ceritanya setelah jalan nanti, agar ada yang bisa di-share kepada teman2 yang lain).

  57. suyadi Says:

    tambahan alamat e mail ( backu

  58. suyadi Says:

    P Yusuf

    Terimakasih atas waktunya pak, saran dari bapak meneguhkan hati saya untuk terus maju.
    Insyaallah saya akan share cerita kalau minimarket saya sudah running.

    Matur Nuwun

  59. Fariani - Padang Says:

    Salam, Pak Yusuf

    Terima kasih atas info yg bapak berikan. Ibu saya mempunyai warung di area pedesaan yg menjual berbagai kebutuhan harian dan juga kebutuhan laiinny spt semen, pupuk dan motor sparepart (dalam skala kecil). Akan tetapi belakangan ini, banyak warung2 kecil lain d bangun d sekitar warung kami dgn jarak sekitar 30-50 meter. Kondisi ini menyebabkan warung kami agak sepi pelanggan. Dari analisis saya, keadaan ini di sebabkan krn warung kami tidak menjual sayur2an segar spt hal ny warung2 lainny yg slalu menyediakan sayuran segar setiap harinya. Untuk informasi tambahn, warung kami ini hanya d kendalikan oleh ibu saya dan satu org pekerja. dan kondisi ibu saya tidak memungkinkan beliau untuk membeli sayuran setiap hari ke pasar spt yg d lakukan warung lainny. Kondisi saya yg kuliah d luar kota juga tidak memungkinkan untuk membantu ibu saya. Saat ini saya berencana untuk membeli kulkas sayuran dan juga merenovasi warung kami dengan mengganti rak market . Saran dari bapak sangat saya harapkan. Terima kasih.

    • madurejo Says:

      Mbak/ibu Fariani,
      Kalau Anda mau mengubah tampilan warung/toko menjadi lebih modern dengan rak-rak yang bagus, tentu hal itu menjadi nilai tambah sendiri. Dan hal itu perlu diimbangi dengan penataan barang-barang dan tata ruang yang lebih menarik agar tidak terkesan kumuh. Penataan dengan pengelompokan menjadi sagat penting, mengingat warung/toko Anda menjual aneka macam barang yg sebenarnya tidak sejenis, spt. makanan/minuman, kebutuhan sehari-hari, materal bangunan, perlengkapan motor, dsb. Hal ini sangat berpengaruh thd kenyamanan pembeli dai masing-2 pelanggan. Jangan lupa diperhatikan juga tentang penerangan. Usahakan lebih terang dari toko2 di sekitarnya. Penerangan, penampilan, penataan, kebersihan, adalah nilai tambah yg dampaknya sangat signifikan bagi kenyamanan pelanggan.
      Kalau mau dilengkapi dengan kulkas sayur, perlu dijaga kontinyuitas penggantian barangnya (sayurnya) agar selalu diperhatikan kesegarannya. Lebih dari semua itu, Anda harus punya seorang “Manager” atau orang kepercayaan yang mengawasi dan mengelola warung/toko Anda. Ibu Anda (dalam bayangan saya mungkin secara fisik kemampuannya terbaas) mungkin akan “kewalahan” mengelolanya ketika Anda akan merenovasi warung/toko menjadi lebih modern. Hal ini perlu dipikirkan. Demikian, semoga sedikit dapat memberi pandangan berbeda. Semoga sukses. Slm.

  60. Pramuditya Says:

    Salam hangat pak..
    saya bekerja di kumpeni ..saya mempunyai tekad kuat untuk mendirikan usaha,setelah saya memetakan beberapa peluang usaha yang bisa digarap dikampung jombang akhrnya saya putuskan akan membangun minimarket.sekarang ini saya masih belajar kemana mana baik dari buku,artikel,pengusaha dll…yang saya tanyakan bagaimana manajemen minimart itu pak?misal untuk kas keluar dan masuk,gaji dll.mohon info lengkapnya dari bpk dan bisa di send ke email mo.zico@yahoo.co.id
    untuk minimart punya bpk saya doakan sukses selalu
    maturnuwun pak.

    • madurejo Says:

      Pak Pramuditya,
      Jangan terpengauh dengan bayangan sulit tentang minimarket. Saya sendiri tidak punya formula khusus, selain sebagaimana umumnya dilakkan orang. Yang Anda lakukan sudah benar, mencari info dan referensi sebanyak2nya dari berbagai sumber. Seperti itulah awalnya saya juga belajar, terutama kepada mereka yg sudah lebih dahulu menekuni bidang itu.
      Tentang kas keluar/masuk jangan dibuat rumit. Persis sama seperti pembukuan biasa. Yang penting teliti, akurat dan benar secara akuntansi. Jika punya cukup dana, bisa membeli software khusus. Jika tidak, lakukan saja dulu secara manual seperti pembukuan “coro kampung”. Nanti sambil jalan Anda akan menemukan cara-cara yg paling tepat sesuai situasi dan kondisi di lingkungan Anda. Setiap daerah bisa beda. Yang penting SETIAP pengeluaran (belanja/kulakan, gaji, bensin, makan/minum, listrik, tilpun, sumbangan, dsb.) dan pemasukan (hasil penjualan, uang sewa, tambahan/suntikan modal, dsb.) BETAPAPUN KECILNYA harus tercatat secara akurat dan jangan pernah menunda untuk mencatatnya. Di akhir bulan tinggal dibuat pembukuan tutup buku spt umumnya. Terima kasih doanya. Semoga kesuksesan juga menyertai usaha Bapak. Salam.

  61. Sutarmin Says:

    Alhamdulillah akhirnya menemukan inspirasi juga..
    Gini Pak.. Saya perantauan dari Solo sekarang menetap di Langsa.. sama koyo bapak saya sekarang masih bekerja dengan kumpeni dengan gaji kecil malahan.. maklum koyo buruh harian lepas. Bulan Desember Kontrak Habis.. Nah rencanane karo bojoku pengin buka minimarket ato toko kelontong. Tempat baru saja saya sewa sebuah ruko ukuran 4 x 12 meter. yang mau tak tanyakan adalah.. untuk mengisi barang ruko seluas itu kira-kira butuh modal berapa pak.. ? untuk ruangan ruko akan digunakan kurang lebih hanya 4 x 8 Meter saja. trus berapa kebutuhan untuk pengadaan Rak, steling dan lain-lain
    Matur nuwun pak.

    • madurejo Says:

      Pak Sutarmin,
      Mohon maaf saya terlambat menjawab pertanyaannya. Dari pengalaman toko saya (Madurejo) lima tahun yll, untuk mengisi barang dagangan, saya mengalokasikan sekitar Rp 1,2 juta/m2 luas toko. Ini pendekatan kasar. Tapi saya pikir alokasi rata2 Rp 1 juta/m2 luas toko cukup masuk akal. Sedangkan untuk perlengkapan (rak, almari, meja kasir, dsb), saya mengalokasikan sekitar Rp 500 ribu/m2 luas toko (untuk rak kondisi seken). Maka untuk luas toko 4m x 8m (sekitar 32m2), saya cukup yakin dengan alokasi anggaran untuk barang dagangan awal dan perlengkapan berkisar : 32 x Rp 1,5 juta = Rp 48 juta. Tentu saja angka ini bukan “harga mati”, melainkan pedoman kasar saja. Untuk detilnya, sebaiknya Anda menghitung kebutuhan riil, terutama utk perlengkapan toko yang disesuaikan dengan tata ruang yg diinginkan. Semoga jawaban ini cukup membantu. Semoga sukses pak. Saya sagat menghargai tekad dan semagat Anda. Jika berkenan, tolong kalau tokonya sudah jalan nanti bisa “sharing” agar dapat menjadi pelajaran bagi teman2 lain. Terima kasih & salam.

  62. Rina Says:

    Salam kenal pak,,

    Saya cewek berusia 23 tahun dari Palembang, setelah lulus kuliah S1 jurusan sistem informasi dg gelar S.Kom. saya sempat bekerja di perusahaan swasta sebagai Staf IT dan di bank bumn sbg Customer service..Namun saya kurang menekuni profesi saya sbg pegawai yg mengikuti perintah atasan dan jam kantor yg membuat saya penat.. Sehingga saya mengundurkan diri, dan sekarang menganggur..Kebetulan ortu saya pny ruko sendiri 4 pintu yg msh kosong. Rencananya saya mw menggunakan 2 pintu dr ruko itu utk buka minimarket. Ruko tersebut berada di dalam lorong. Dan di pinggir jalan depan lorong tersebut sudah ada minimarket yg cukup lengkap dan murah. Disekitar ruko itu jg sudah banyak warung2 kelontong. Tadinya saya sempat agak ciut, takut krn trll byk saingan sehingga jumlah konsumen pun pst sedikit. Ayah saya sempat menyarankan membuka toko bangunan. Tapi disana juga sdh ad 2 toko bangunan yg terletak dipinggir jalan besar dpn lorong. Saya jg kurang tertarik membuka toko bangunan, krn saya kurang mengerti ttg produk2nya..maklum anak cewek..hehe..

    Ukuran toko trsebt tdk trll besar, hanya 8×6 meter.. Akhirnya saya sempat berpikir utk membuka warnet game online di pintu yg ketiga, sedangkan pintu keempat mw dijadikan gudang, tp ortu saya kurang mendukung..Katanya kalau warnet gt tar habisin duit modal aja, istilah palembangnya anget2 tai ayam..hehe..

    Saya senang ortu saya mw memberikan modal, yg sudah ditangan sekitar 40jt..Tp saya msh blm yakin benar apa saya mampu menjalankan usaha tersebut, dg saingan yg cukup banyak dan pengalaman saya yg minim dlm berwirasawsta..

    Mohon saran dr bapak, sebaiknya toko apa yg sebaiknya saya buka di ruko tersebut, dan bagaimana kiat2 agar minimarket saya dpt bersaing dg minimarket besar yg sdh ada di pinggir jalan besar, serta toko2 kelontong yg berjejer di lorong tersebut..

    Terima kasih banyak..

    • madurejo Says:

      Rina,
      Maaf saya terlambat membalas pesannya, karena banyak ke luar kota. Terima kasih atas pertanyaannya.

      Untuk menjawab pertanyaan “toko apa sebaiknya”, tidak mudah karena tergantung situasi pasar dimana toko Anda berada. Namun secara umum, yg ingin saya sampaikan adalah:

      Pertama: Pertahankan “passion” yang Anda miliki sehingga lebih tertarik ke dunia kewirausahaan. Semua orang bermula dari nol pengalaman. Jadi, jangan khawatir soal itu, sepanjang masih memiliki semangat untuk berhasil melalui belajar (dengan cara apa saja) dan berani berbuat sesuatu dengan segala resikonya (resiko yang terukur dan ter-manage).
      Kedua: Bersyukur kalau ortu mendukung rencana Anda utk berwirausaha. Tinggal mencari titik temu agar semua pihak merasa “nyaman”.
      Ketiga : Utk menentukan toko apa, Anda mungkin perlu melakukan pengamatan di kawasan sekitar calon toko. Apa kira2 yg dibutuhkan orang dan siapa atau seberapa besar pangsa pasar (sasaran calon konsumen). Cobalah jalan2 sambil ngobrol2 dengan orang… Dan satu hal lagi, Anda harus bisa mencintai jenis usaha itu…
      Keempat : Apapun toko Anda (katakanlah minimarket), jangan takut persaingan (mungkin yg Anda maksud adalah Indomaret & Alfamart?). Anda pasti akan bisa menjual dengan harga yg wajar (pada saanya aka ketemu sendiri jalannya). Selebihnya fokus pada pelayanan (langsung maupun tidak langsung). Buat konsumen nyaman berada di toko Anda.
      Kelima : Selamat berwirausaha. Semoga sukses. Syukur2 Anda bersedia “sharing” tentang perjalanan usaha Anda.

  63. miftahul jazim Says:

    ASS.WR.WB
    Alhamdulila pak,setelah saya baca crita bpk saya merasa menemukan jawaban dari anggan-angan dan citi-cita saya! Saya dari masa kuliah sudah suka berwirausaha sendiri,saya udah mempunyai usaha counter hp dan udah jalan. Dan saat ini saya ingin mendirikan minimarket, tetapi masih binggung. Maka saya mohon bantuan bpk smg bisa membantu kesulitan saya. Saya sudah mulai membangun bangunan untuk minimarket seluas 8 X10m,dan pembangunan udah 95% selesai. Sekarang tinggal mengisi perlengkapan(rak,meja kasir dan sistem sofware kasir) dan barang dagangan…Saya minta tolong dimana alamat yang jual rak dan sistem kasir minimarket? Kira2 butuh berapa modal yang dibutuhkan untuk mengisi barang dagangan,.Saat ini saya msh punya dana sekitar 50jtan, kira2 bisa tidak untuk memulai buka usaha(khusus untuk kulaan dagangan aja)..krn kalo bangunan dan peralatan dana udah siap? alamat saya di pripih,kokap kulon progo jogja…
    Trimakasih banyak…WS.WR.WB

    • madurejo Says:

      Pak Jazim,
      Mohon maaf saya terlambat membalas pesannya.

      Senang sekali saya mendengar cerita Anda tentang kesiapan membuka minimarket. Saya ucapkan selamat dan tetap semangat, apapun tantangannya.

      Untuk mengisi barang dagangan (di luar perlengkapan). Dulu saya menggunakan pedoman perkiraan Rp 1 – 1,2 juta/m2 luas toko. Tentu itu bukan patokan baku, itu hanya perkiraan kasar. Beraapun dana Anda, mestinya bisa digunakan utk memulai usaha. Tinggal bagaimana “mengakalinya”. Misalnya, tidak seluas toko digunakan, atau sediakan ruang cukup luas untuk “floor bazaar” (mendisplay barang di lantai, bukan di rak), atau cara lain.

      Untuk sistemkomputer dan rak, coba cari info lebih lengkap ke : MKT, di Jl. Kaliurang Km 10,5. Tlp. 888540, atau kontak pak Joko 08122961277.

      Insya Allah, kalau memang ada yg dpt sy bantu, dengan senang hati akan saya usahakan. Terima kasih & wass.

  64. slamet Says:

    pak Yusuf,

    rencana tahun depan istri saya mau buka minimarket kecil2 an,
    tempat sudah ada –> ruko kecil kecil di perumahan di daerah cikarang bekasi.
    mohon masukan apa saja yang mesthi disiapkan serta tri2 apa yang bisa dilakukan kami bisa bersaing dengan yang lain.
    teriamakasih pak
    tolong dibantu

    slamet-pati

    • madurejo Says:

      Pak Slamet,
      Maaf terlambat membalas pesannya.

      Penataan toko usahakan membuat calon konsumen merasa nyaman dan betah (rapi, bersih, enak dilihat). Mencari informasi (survey kecil2an) tentang barang2 kebutuhan yang banyak dicari calon konsumen (masy sekitar toko Anda), karena Anda tidak mungkin akan menjual semua jenis barang kebutuhan, harus selektif. Berusahalah dapat menjual dengan harga wajar. Selebihnya fokus pada pelayanan (langsung maupun tidak langsung), agar pembeli merasa “diperlakukan” seperti saudara sendiri. Bersaing harga dg toko modern yg lebih besar tentu berat, karena itu saya lebih menganjurkan unuk menggarap potensi2 untuk menjaga pelayanan sebaik2nya kepada konsumen.

      Selamat pak. Semoga semua lancar dan sukses. Salam

  65. miftahul jazim Says:

    Ass.wr.wb…trimakasih pak informasi and dukungannya.!!! Saya telah pesan 35rak dan insaalloh minggu ini smua alat bisa msk toko.Tp msh ad sdiki ganjalan pak,sisa dana sy buat dagangan cm ad 60jtan,bagaimana cara memilih barang dagangan agar dana tsb cukup &tepat dan distributor yang tepat pula(murah) biar harga bisa bersaing. ws.wr.wb

    • Yusuf Iskandar Says:

      Pertama2, saya sungguh mohon maaf terlambat membalas pertanyaannya.

      Semoga semua persiapan buka usahanya lancar dan berkah. Untuk memilih barang dagangan memang tidak mudah. Hal yang saya lakukan pada waktu itu, ya coba2… Dibantu info para sales/supplier yang biasanya mereka lebih tahu. Itu juga bisa salah, sebab sales/supplier juga berkepentingan agar barangnya laku. Tipsnya, hanya barang2 tertentu yag kita yakin dibutuhkan orang yg dikulak lebih banyak. Selebihnya, coba2, wait and see. Jangan habiskan semua modal untuk kulakan, tapi sisakan 5-10% sebagai cadangan. Untuk distributor, paling aman kalau distributor resmi (harganya pasi). Jika deal dengan sales lepasan (freelance), agak hati2 atau jangan berlebihan, kecuali kita sudah kenal betul bagaimana orang itu. Salam sukses.

  66. Yanti Says:

    Pak Yusuf ysh.
    Salam Kenal, nama saya Yanti dari KALTIM, saya mempunya ruko ukuran 10×10 dan nyambung rumah tinggal 10×10 bangunan permanen. Saya ingin memulai buka ruko namun belum juga sampai sekarang yg mau saya tanyakan berapa kira-kira dana yg saya perlukan letak ruko saya dipinggir jalan utama

    • Yusuf Iskandar Says:

      Mbak Yanti,
      Banyak terima kasih pertanyaannya. Sungguh mohon maaf, agar saya tidak berulang2 menjawab pertanyaan yang sama, yang jawabannya bisa panjang. Sudi kiranya Anda membaca beberapa tanya-jawab di atas, yang mungkin dapat menjawab pertanyaan Anda. Walau demikian, jika sekiranya masih ada pertanyaan, silakan dengan senang hati akan saya usahakan untuk menjawab sebisa saya (boleh via blog ini, boleh juga via email). Terima kasih & salam.

  67. drs.h.mustamik,mh Says:

    Pak Yusuf yth

    Sy tertarik dg pengalaman Anda n kepingin mengikuti jejaknya. Sy sgt
    awam dalam bisnis tapi sangat besar keinginan mengisi ms pensiun dg membuka mini market. Kalo sya memulainya dengan menggunakan ja
    sa konsultan, kira-kira biaya konsulnya sampe berapa ya?

    • Yusuf Iskandar Says:

      Pak Mustamik Yth.
      Sungguh saya mohon maaf, tentang biaya konsultan saya belum punya infonya. Saya mengapresiasi semangat Bapak utk memulai bisnis minimarket. Itu juga modal yg sangat penting, selain materi. Insya Allah, saya yakin, semangat itu bisa menjadi pembuka jalan bagi berbagai solusi atas kendala yg akan Bapak hadapi. Kami juga memulainya dari nol pak. Seorang teman di Pati juga memulainya dari nol, sekarang sudah mulai berkembang. Padahal tadinya “buta” sama sekali dan selalu khawatir tidak bisa. Tapi berkat semangat untuk terus berusaha akhirnya ketemu jalannya. Salam sukses pak.

  68. Agung Says:

    Yth Pak Yusuf,

    Yang saya buat terkesan atas tulisan anda adalah keiklasan hati saudara untuk meninggalkan pekerjaan anda (kumpeni istilah anda) mungkin pada saat itu anda di kumpeni sedang dalam posisi terbaik atau menuju posisi tersebut. Ya iri hati bukan cuma ada di usaha minimarket aja tapi dipekerjaan jelas ada juga. Kondisi itu sama seperti yang saat ini saya alami.
    Salut buat Pak Yusuf atas perjuangannya,
    Salut untuk Madurejo Swalayan,
    Salut untuk Ibu Yusuf yang memberikan inspirasi,
    Salut untuk perjuangan dari NOL untuk buka usaha tersebut.
    Saya jadi makin termotivasi untuk memulai sebuah usaha baru di kota tercinta JOGJAKARTA dan mungkin sama (retail) karena basis ilmu saya ya disitu (10th pak di retail dan 10 tahun di koperasi). Mosok yang ilmunya NOL bisa sukses, saya yang punya ilmu tersebut harus bisa termotivasi. Terimakasih pak untuk tulisannya, InsyaAllah Juni 2011 saya pulang ke Jogja. Salam Kenal untuk seluruh keluarga

    • Yusuf Iskandar Says:

      Pak Agung Yth.
      Terima kasih untuk semua apa yg telah Anda sampaikan di atas. Semoga semua itu menjadi pendorong dan penyemangat kami utk terus maju dan berkembang, serta menularkan segenap pengetahuan dan pengalaman yg kami miliki kepada siapa saja yg membutuhkan. Memperhatikan pengalaman dan jam terbang Anda, saya kok yakin sekali Anda pun akan bisa menggapai sukses saat nanti benar2 menekni dan terjun di sana. Tentu, semangat utk berkembang sesuai latar belakang Anda harus tetap dijaga. Sebab seringkali justru semangat itu yg “mengganggu” keberlangsungan usaha… Salam sukses.

  69. bang jon Says:

    alhamdulillah
    ide dan tekad pak yusuf dan istri luar biasa, terbukti banyak tanggapan yang masuk. kami sepakat jangan merasa kecil dan sendirian ketika ada indomart dan alfa mart, miris kalo mo buka kaya gitu apa bisa ? pak Yusuf sudah membuktikan indo dan alfa adalah perintis kita tingga ATM ( amati, tiru, modifikasi) ato persis gak apa2 yang penting kita sudah memulai. terima kasih pak Yusuf memberi inspirasi kami untuk buka swalayan kaya jenengan kami sudah mempersiapkan setahun yang lalu, ada pak Yusuf semakin semangat semoga yang diatas senantiasa melindungi dan memberi enegi tiada henti untuk melaksanakan jihad. manafkahi keluarga dan menyantuni anak yatim fuqoro wal masaakin.

    • Yusuf Iskandar Says:

      Matur nuwun, Bang Jon.
      Dukungan dan doa Anda sangat menyemangati. Kami pun belajar dari nol. Semoga kesuksesan juga menyertai semangat dan upaya Anda juga. Terima kasih sharing-nya. Wass

  70. diyon Says:

    saya mau cari patner buka mini market

  71. erwin Says:

    mas itu kan sudah pengalaman, di dunia usaha mungkin ada yang namanya pesaing dengan membanting harga. nah dengan demikian sikap anda bagaimana…?

    • Yusuf Iskandar Says:

      Kalau saya tdk akan terpengaruh. Saya tetap akan fokus pada pelayanan langsung maupun tdk langsung. Karena usaha ini adalah interaksi penjual-pembeli, maka “silaturrahim” atau hubungan “persaudaraan” itulah yg akan saya jaga. Sekali waktu pembeli akan beralih karena harga, tapi itu tdk akan selamanya, karena pada akhirnya ada kebutuhan hubungan “silaturrahim” atau “persaudaraan” yg juga dicari pembeli. Banting harga tdk akan terjadi sepanjang waktu. Setidak-tidaknya, demikian pandangan saya. Terima kasih

  72. RINA Says:

    terima kasih atas masukannya pak,,kini minimarket saya sdh berjalan kurang lbh 3bln..omset per hari baru mencapai rata-rata 1,5jt..agak sulit utk mematok harga dikawasan toko saya,,karena trll byk toko sejenis yg mampu menawarkan harga yg murah, dan sudah dikenal masyarakat..skr saya ingin mengembangkan toko saya agar omset bs meningkat dan pelanggan semakin banyak..saran bapak,,apakah toko saya yg bernama “JAYAMART”,,tetap berfokus ke minimarket yg menjual barang selengkap mungkin dg harga normal,,atau menjual barang2 lancar saja,dg sistem jual harga kulakan???yg pastinya laba sangat kecil..

    • Yusuf Iskandar Says:

      Selamat, Rina. Senang mendengar “action” Anda. Jalan terus dan berusaha terus. Jangan menyerah.
      Saya cenderung menyarankan untuk tetap fokus ke minimarket seperti yang ada sekarang. Tingkatkan pelayanannya sehingga pelanggan merasa nyaman berbelanja di toko Anda. Bisa saja diterapkan selektif untuk barang dagangan dengan mengurangi barang2 yg tdk lancar (sekedar bertujuan agar sebagian pelanggan tidak kecewa). Tapi barang2 yang tdk lancar ini harus semakin dikurangi, sehingga tdk membebani operasi toko Anda.

  73. verah Says:

    Aslm, mas” dan mba” semua,,,
    saya jadi kepingin punya usaha juga dong…
    tapi untuk kali ini saya belum mempunyai modalnya,,,
    mmm,,, buat mas” dan Mba” yang sudah siap modal dan masih mencari tempat yang cocok,, mungkin saya bisa memberikan referensi di kampung saya,,, saya tinggal di karawang & Cikampek- Jabar…
    disini kawasan padat penduduk, banyak sekali para karyawan jadi jika mas” dan Mba” minat membuka usaha disini insya Alloh akan berkembang… dan siapa tau nanti saya bisa bekerja sama dengan mas” dan mba” semua… terimakasih, wasl
    verah,,,

  74. eko Says:

    Ikt baca aj mbak,mas,wat nambah wawasan…krn,keinginan ada tp modal ga punya…maklum…pengangguran…maw nyari kerja dl trs wat modal buka usaha..hehehe

  75. Sugeng Prambono Says:

    sip,, mas. saat ini saya lgi bekerja di korea, kelak kalo sudah pulang saya berkeinginan membuka minimarket., saya mau tanya untuk pembikinan minimarket ijin or surat2 yang perlu di bikin apa saja soalnya biar ga jagdi masalah sama pemkot/pemerintah kota.. tpi tempat yang sekarang saya punya di desa dan di situ sudah banyak toko kelontong., bagaimana saranya? matur nuwun,. semoga sukses

    • Yusuf Iskandar Says:

      Pak Sugeng, yang terutama tentu Ijin Gangguan (HO). Tapi jika lokasi Anda di desa, menurut saya bisa diurus sambil jalan, sambil tanya-tanya toko sekitar tentang pengurusannya. Salam sukses pak.

  76. Sugeng Prambono Says:

    trimasih pak, ats jwbanya, jjur sja saya awam bnget dengan msalah menegemen bisnis or dagang yang rumit2 kaya minimarket, saya pun sangat berkeinginan membuka usaha nanti setelah pulang ke tanah air, Alhamdllah saya sudah berkeluarga insyaalah bulan rhomadhon ini istri saya melahirkan anak pertama kami, tolong bisa bapak jelaskan segi untungan/laba dan kelebihan minimarket dengan warung sembako/kelontong karna kalo minimarket saya sangat awam sekali dengan pengaturan yang begitu banyaknya barang, apalagi dengan sistem kasir yg pke progam computer jga saya tidak begitu tau,.. terimakasih sebelumnya pak kami ucapkan, semoga bapak sekeluarga selalu di lindungi Allah swt baek di dunia maupun di akherat kelak,.

    • Yusuf Iskandar Says:

      Sama-sama, mas. Semoga kelahiran putra pertama lancar dan sehat. Turut bebahagia dan ucapan selamat untuk itu.
      Saya pun berangkat dari nol pengalaman dan pengetahuan. Jadi, jangan khawatirkan tentang itu sepanjang kita mau belajar dan terus berusaha. Perbedaan utama yg saya lihat sebenarnya hanya pada kemudahan mengontrol keluar masuknya barang (dan tentu saja uang) shg kita dapat mengukur kemajuan/kemunduran usaha. Selebihnya hanya soal teknis yg dpt dipelajari atau mempekerjakan org yang tahu tentang itu.

  77. diana Says:

    Assalamu alaikum,
    Parkenalkan nama saya Diana, berencana membuka mini market dengan luas 7 x 9 m, karena saya orang baru dalam usaha ini, saya mau tanya kira2 cara penempatan barang2 dengan ruang seukuran itu bgemana.

    • Yusuf Iskandar Says:

      Alaikum salam, Diana,
      Ukuran 7 x 9 m2 termasuk cukup luas. Yang saya jadikan pedoman utama adalah jangan mencampur antara kelompok makanan (food) dan selain makanan (non-food). Setelah itu, di dalam masing2 kelompok itu dapat diatur sesuai selera dan pertimbangan kemudahan bagi pembeli untuk memilih barang. Misal untuk food: kelompok minuman atau makanan ringan, dsb, masing2 menjadi satu kelompok. Untuk non-food: kelompok toiletris (perlengkapan mandi) atau produk kecantikan, dsb. masing2 menjadi satu kelompok. Jika terpaksa harus bercampur dalam satu rak, maka usahakan jelas pemisahannya. Sukses selalu.

  78. bahroni Says:

    wapik tenan mas, make me inspire.good

  79. jaya permana Says:

    Ada usulan judul buku bacaan yang bagus tentang minimarket pak?
    Trims.

    Jaya Permana
    Tangerang, Banten

    • Yusuf Iskandar Says:

      Saya tidak punya buku referensi khusus mas. Saya melihat ada cukup banyak buku semacam itu di toko buku. Ambil saja yang isinya paling komplit. Saya justru lebih banyak baca2 di internet, browsing saja, belajar dari pengalaman praktis orang lain lalu diperdalam sendiri.

  80. Erika Says:

    Assalamualiakum pak yusuf,.
    salam kenal.saya sangat berapresiasi dengan keuletan bapak. Senang sekali membaca tulisan bapak,
    Saya dari Pemalang, setelah lulus kuliah S1 jurusan sistem informasi di Semarang dg gelar S.Kom. saya sempat bekerja di perusahaan swasta sebagai Admin.Namun saya kurang menekuni profesi saya sbg pegawai yg mengikuti perintah atasan dan jam kantor yg membuat saya penat.
    Saya Sudah bilang sama Ortu,kalau saya ingin sekali Keluar.tapi di Rumah Punya Kesibukan yaitu membuka MInimarket.
    Kalau Ortu saya mempunyai Bimbel dan Toko spt ATK dan foto copian..
    Untuk Modal Membuka Usaha Minimarket Minimal Berapa Njih pak?

    Dan apabila Alloh mengijinkan,bolehkah saya berkunjung ke t4 bapak utk belajar lbh bnyk lg ttg bisnis retail terutama minimarket?atau kalau Bapak Tidak Keberatan saya bisa menghubungi Bapak..
    Nuwun..

    • Yusuf Iskandar Says:

      Modal membuka usaha minimarket, untuk kebutuhan perlengkapan dan modal dagangan (diluar prasarana tanah dan bangunan), kira2 diperlukan Rp 1,5 s/d 2 juta per m2 luas toko. Itu bukan harga mati, melainkan ancar2 yang saya gunakan. Orang lain barangkali memiliki pedoman angka berbeda. Bagaimana kalau kurang dr itu? Jangan pesimis, tetap bisa dikerjakan dengan menyiasati sesuai ukuran dan tampilan toko, pandai2 kita saja. Sedangkan untuk nilai tanah dan bangunan tentunya tergantung selera ukuran luas dan kualitas bangunannya.

      Silakan saja, dengan senang hati kalau berniat mampir ke toko saya. Silakan juga menghubungi saya via apa saja. Salam sukses untuk Anda.

  81. Zayyan Atha' Firdausy Says:

    ….setelah masuk tahun ke-6,dan lebih tahu permasalahan dan persaingan bisnis ini yang cukup ketat….apakah tulisan diatas masih relevan untuk di garis bawahi…..!

    Tidak banyak mini market lokal yg bisa bertahan cukup lama dengan iklim persaingan yg semakin tidak sehat dengan adanya jaringan mini market skala nasional.

    Salut apabila ternyata Mini market Madurejo bisa bertahan dan tetap eksis….

    Salam…!

    • Yusuf Iskandar Says:

      Maaf saya terlambat membalas komentarnya.
      Dalam keyakinan saya, tulisan di atas akan tetap relevan sampai kapanpun. Pasang-surut selalu ada. Demikian pula kemungkinan kalah-menang. Namun, selalu ada celah untuk kembali pasang setiap kali surut dan kembali menang ketika kalah. Walau tidak mudah, tapi semangat untuk terus belajar dan berusaha kiranya bisa menjadi salah satu bekalnya.
      Alhamdulillah dan terima kasih.
      Salam kembali.

  82. teguh Says:

    mohon untuk sekedar share pengalaman tentang minimarket yang telah saya bangun berkat inspirasi dan motivasi dari pak yusuf setahun yang lalu. kini minimarket saya telah jalan dan bulan november nanti genap setahun. Ibarat pepatah kalau sudah sering main air lama lama akan bs berenang juga. Toko kini sudah beromzet sktr 450 jt perbulan dan merasa ketagihan mau buka cabang lagi nih he he…modal kpr 200 jt ama uang sendiri gocap dah jadi deh buat renovasi sama merchandise sepuluh bulan jalan kini total udah ada 500 jt lbh tapi sama brg konsinyasi lho
    bulan I hasil kotor 5 juta OPS 4.5 JT sisa 500 ribu msh nombok buat byr bank, bulan II 9 jt ops 4,5 jt sisa klop buat byr bank,bulan III naik jd 11 jt dah mulai untung nih….sampai sekarang dah 10 bulan keuntungan dah 25 juta ops sktr 8-9 jt dgn 8 orang pegawai tapi capai juga ngurusnya lho butuh strategi dan management yang baik serta keberanian ( berani capek berani spekulasi dan berani bermimpi ) untuk tips dan triknya untuk mengalahkan pesaing mini market skala nasional email aja morotresno1@gmail.com. semua pasti ada kelemahannya

    • Yusuf Iskandar Says:

      Mas Teguh,
      Sungguh senang sekali saya membaca komen dan sharing-nya. Ucapan selamat dan sukses untuk Anda dan usaha yang mulai dicintai. Semoga terus melangkah ke depan dengan strategi, management serta keberanian, seperti kata Anda.
      Ingin sekali saya mendengar pengalaman lebih lengkap, tips dan trik seperti yang Anda ceritakan di atas, agar dapat kita bagikan kepada teman2 lain yg sedang berjuang membangun bisnis yang sama.
      Nuwun & salam, mas…

  83. reny Says:

    aswrwb.pak,brapa kira2 modal awal untuk buka toko kelontong?

    • Yusuf Iskandar Says:

      Seperti telah banyak didiskusikan dalam komentar2 di atas, modal awal toko kelontong sebenarnya sangat bervariasi, antara lain bergantung pada ukuran luas toko dan sistem yg dipilih (tradisional atau modern). Menurut keyakinan saya, jika Anda sudah punya tempat (bangunan warung/tokonya) maka berapapun modal Anda, mestinya dpt digunakan untuk memulai usaha.

  84. Hamra Says:

    Setelah membaca sharingnya dan pengalaman pembaca saya pengen sekali terjun ke dunia usaha, setelah 10 tahun jadi orang gajian.Mohon pertimbangan Bapak saa ini saya punya cicilan 2 ruko 15jt/ perbulan gimana mensiasatinya jika saya berhenti bekerja dengan buka usaha dan saya masih dpt cicil ruko tersebut.saat ini saya uang cash 150jt.utk modal usaha di ruko tersebut. Terima kasih atas saran bapak..Bapak saat ini saya bener2 jenuh dgn pekerjaan saya.

    • Yusuf Iskandar Says:

      Pak Hamra, sungguh saya mohon maaf tidak dapat menjawab dg rinci pertanyaan Anda, krn saya tidak ahli dlm hal menyiasati masalah hutang. Namun menurut logika saya, tidak mudah untuk “banting setir” dan Anda langsung akan memperoleh pengganti bagi sumber pembayaran cicilan Anda. Mempertimbangkan hal itu, sebaiknya agak bersabar untuk tidak terburu2 berhenti dari pekerjaan yg sekarang, melainkan menyelesaikan masalah cicilan lebih dahulu. Sementara itu Anda dpt mulai merintis usaha. Dg demikian, status cicilan Anda akan “aman”. Tapi pasti Anda harus bekerja ekstra keras, karena harus melakukan dua “profesi” bersamaan.

      Atau, jangan gunakan semua uang cash Anda utk memulai usaha (sktr 70%-nya saja) dan sisanya dicadangkan utk melunasi cicilan. Ini hanya jika cicilan Anda tinggal sedikit, agar status Anda “aman”.

      Saya berharap semoga ada rekan pembaca lain yg lebih ahli di bidang menyiasati pinjaman utk berkenan berbagi pengalaman.

      Pertahankan semangat Anda utk berwirausaha. Semoga sukses. Slm.

  85. Yohan Says:

    Tulisan bapak sangat inspiratif, saya juga berniat ingin membuka minimarket. sama seperti bapak (tapi masih lama hehe2x), saya tidak tahu apa2x karena ini bukan disiplin ilmu saya, pertanyaan saya :
    1). dimana bisa saya mendapatkan daftar item2x barang yg biasa dijual di minimarket…??? Mohon kiranya jika bapak punya di share ke saya.
    2). apakah jumlah item barang sesuai dgn luas toko…??

    Salam Kenal,
    Yohan

    • Yusuf Iskandar Says:

      Terima kasih pak Yohan. Anda tdk perlu berkecil hati. Enam th yll sy jg tdk tahu apa2, sama dg Anda disiplin ilmu sy jauh berbeda dg urusan toko. Hanya semangat dan kemauan keras yg melandasi. Dg demikian sy terpacu utk belajar (dr mana sj & dr siapa sj).

      1). Ttg daftar item, awalnya sy banyak menerima saran/masukan dr para pemasok (sales), selain sy lakukan survey kecil2an sambil jalan2 dan mampir2 toko sekitar. Pemasok/sales pasti lbh tahu barang2 apa sj yg banyak dibutuhkan masy. di suatu wilayah. Salah2 sedikit, masih ok.
      2). Ada benarnya. Jk toko kita kecil, sebaiknya jumlah item barang dibatasi pada barang2 yg paling banyak dibutuhkan org. Awalnya kita bingung, tapi berjalannya waktu biasanya kita semakin paham, apa sj yg tdk perlu dijual dan apa yg perlu diambah.

      Saran saya: Jangan jadikan 2 hal itu sbg penghambat niat kita. Semoga sukses.

  86. suryadi Says:

    Tulisan bapak sangat inspiratif, saya juga berniat ingin membuka minimarket. sama seperti bapak (tapi ruko lagi dibangun), saya tidak tahu apa2x karena ini bukan disiplin ilmu saya, pertanyaan saya :
    1. Ruko saya ukurannya 4,5 x 14m, apakah bisa mencukupi tempat
    2. Minimal modalnya berapa,
    3. izin apa saja yg harus dilengkapi

    Terima kasih atas respon dan saran bapak, sukses selalu. Salam.

    • Yusuf Iskandar Says:

      Pak Suryadi,
      Jangan khawatir ttg disiplin ilmu. Disipln ilmu saya bidang pertambangan dan saya pun mmulainya dari nol tidak tahu apa2.
      1). Luas sekitar 63 m2 cukup, tp tentu saja harus selektif memilih prioritas barang yg mau dijual. Sesuaikan dg perkiraan kebutuhan utama pasar di seputaran Anda.
      2). Pengalaman saya utk keperluan modal perlengkapan (rak, sistem komputer, lemari, lampu, kipas angin, dll) sekitar Rp 300-500 ribu per m2, modal barang dagangan awal sekitar Rp 1-1,5 juta per m2. Setelah toko saya jalan, pengalaman saya mengajarkan bahwa kita jangan terpaku dengan modal yg diperlukan. Berapapun yg kita punya, pandai2 kita mengalokasikannya berdasarkan prioritas sesuai situasi kebutuhan masyarakat calon konsumen kita.
      3). Ijinnya standar saja: Ijin gangguan (HO) dan SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan).

      Terima kasih. Sukses juga untuk Anda. Salam

  87. eko wahyudi Says:

    Tulisan bapak sangat inspiratif, saya juga berniat ingin membuka minimarket. sama seperti bapak , saya tidak tahu apa2x karena ini bukan disiplin ilmu saya, pertanyaan saya :
    1. Apakah pada awal berdirinya kita harus ambil barang
    dangangan langsung ke distributor atau ke grosir saja???
    2. Apakah ada trik khusus dalam display barang dagangan dan
    tampilan toko??
    3. Apakah langsung diperlukan kita menggunakan mesin kasir
    sebagai pembeda dengan toko lainnya (toko lain manual bon)
    4. apakah saya bisa sowan ke bapak untuk bisa sharing dan
    melihat toko bapak secara langsung sebagai bahan referensi
    saya???

    Terima Kasih
    salam Kenal
    eko Wahyudi

    • Yusuf Iskandar Says:

      1). Banyak cara bisa ditempuh. Pada awal berdirinya “Madurejo” dulu, selain mengambil langsung ke distributor, grosiran, juga toko lain yang harganya lebih murah shg memungkinkan saya mengambil margin dengan harga yg masih wajar. Saya juga mengambil dari sales yang menjajakan dagangannya datang ke toko saya.
      2). Secara umum yang saya lakukan adalah dikelompokkan antara yg “food” dan “non-food”, Cara penyajian pengelompokannya ddt disesuaikan dg ketersediaan tempat, tampilan dan kemudahan pelayanannya. Tidak terlalu “kaku” tapi tetap menjaga aspek memudahkan pembeli untuk mencari dan memilih barang. Biasanya pekerjaan ini tidak sekali jadi. Saya bahkan sampai belasan kali mengubah-ubahnya.
      3). Jika tujuannya menjadi toko modern atau semi-modern, sebaiknya langsung menggunakan mesin kasir agar lebih termonitor nilai transaksinya.
      4). Monggo dengan senang hati kita bisa berdiskusi. Asal tidak mendadak karena saya punya aktifitas lain banyak keluar kota. Tapi prinsipnya silakan datang kapan saja, nanti saya bisa minta orang saya untuk menemani kalau kebetulan saya pas tdk di tempat.
      Terima kasih & salam kembali.

  88. yadimbantulsuyadi Says:

    P yusuf

    Setelah tertunda selama satu tahun akhirnya pada tanggal 1 februari 2012 saya jadi menbuka “mini market ” ,
    Alhamdulillah ketakutan yang selama ini menghantui pikiran saya mengenai pembukaan usaha ini pelan-pelan sudah bisa saya atasi seiring dengan pembukaan mini market tersebut ( cara menghadapi ketakutan yang terbaik adalah langsung terjun menghadapi ketakutan tersebut )
    Terimakasih atas tulisan bapak yang menginspirasi.
    salam , maturnuwun

    • Yusuf Iskandar Says:

      Mas Yadi,
      Saya turut senang mendengar langkah awal Anda “berani” membuka toko (usaha). Selamat ya… Saya setuju sekali dengan tekad Anda tentang menghadapi ketakutan (benar mas…hehe). Jika berkenan, suatu saat nanti Anda bisa berbagi pengalaman kepada rekan lain yang mempunyai tekad yang sama tapi belum “sempat” bergerak. Nuwun & salam.

  89. inukerta Says:

    saya masih kocar-kacir mengelola warung nih pak,,modal dari nol, cuma manfaatin ruang dalem rumah yang gak terurus :)
    agak kesulitannya biasanya di waktu ,ada ‘prive’,, :D hehe,, saya masih pake pembukuan manual meskipun sebenrnya tertarik untuk migrasi ke sistem komputerisasi,, trims pak semangatnya

    • Yusuf Iskandar Says:

      Saya bisa memahami kesulitan Anda. Memang tidak mudah, tapi pasti ada jalan keluarnya. Pengalaman demi pengalaman, saya yakin Anda akan menemukan jalan keluarnya. Jika memang masih dg cara pembukuan manual, berusahalah untuk tertib dan disiplin (ini bagian yg paling sulit…hehe) mencatat atau mendokumentasikan setiap pengeluaran dan pemasukan, betapapun kecilnya. Lebih tertib lagi dalam mempergunakan atau memutar uang yang diperoleh dari hasil usaha, terpisah dengan uang pribadi. Terus maju. Salam

  90. efri yuni nuryanto Says:

    Tks atas semua info dari temen2, kebetulan saya baru mengelola sebuah koperasi yg bergerak di waserda, mirip2 indomaret dan alfamart, kita sudah ada 8 toko dan rencananya mau mengajak temen2 sekalian untuk bekerja sama dalam pembukaan toko, kami siap membantu untuk mengisi barang dagangan dengan harga yg kompetitif dan pengelolaan secara profesional bahkan induk koperasi kami siap membantu pendanaan. salam sukses buat semua

  91. Suroso Says:

    Salam kenal, saya Suroso tinggal di Yogya saja, sukses selalu, beberapa saat lagi saya susul,,,,,, jadi pengusaha, dan tidak lagi ikut kumpeni

  92. desy Says:

    pak yusuf, salam knal, saya desi, saya pingin skali buka usaha minimarket, tapi takut n kwatir usahanya ngga jalan, saya mohon petunjuk bagaimana cara awal menjalankan usaha ini, karena saya baru saja bikin tempatnya aja, mohon petunjuknya

    • Yusuf Iskandar Says:

      Sekian lama saya tidak buka blog. Iseng-iseng saya telusuri rupanya ada komen yg belum saya respon. Sungguh saya mohon maaf. Semoga usahanya sudah dimulai dan berjalan lancar. Syukur-syukur sempat berbagi. Slm

  93. agus Says:

    klo boleh, tlg ksh tahu sy alamat ditributor/pemasok barang2 minimarket anda…sy tggu tks!

  94. Santoso Says:

    salam kenal saya baru mulai mau buka toko kecil2an, diman cara mendapatkan rak minimarket disekitar Yogya yang murah, trim,s

    • Yusuf Iskandar Says:

      Dulu saya ke toko “MKT” di Jl. Kaliurang Km.10,5. Untuk lebih hemat bisa cari yang seken. Maaf, saya lama tidak buka blog dan baru ngeh ada komen Anda. Salam — Lihat juga beberapa komen di tulisan ini, di sana ada banyak info no kontak & alamat

  95. rakswalayan Says:

    Jika anda hendak membuka usaha ritel (mini market, swalayan, supermarket), Prima Rakindo, pabrik rak gondola, meja kasir, cash register untuk usaha ritel siap membantu melayani pesanan anda. Informasi lebih lanjut silakan buka website:www.rakswalayan-online.com, email:primarakindo@gmail.com. atau telepon (031) 72582925. 082140044641.

  96. http://google.com Says:

    Thanks for the post for composing “(4) Kenapa
    Memilih Mini-market? Catatan Dari Madurejo”. Imay absolutely be coming back for a great deal more
    reading through and writing comments in the near future.
    Many thanks, Delores

  97. anik Says:

    Tulisan anda sngt menarik.apa adanya,namun brmutu,dn sekaligus culun.aku jd bs ketawa(walopun sndiri).berharim_hari aku galo,pikiran spaneng,gara2 mikir gmn caranya agar aku bisa dpt uang sendiri dr hsil jerih payah sndiri.aku brkeinginan punya toko(model minimarket) dirumahku.tp suami selalu ragu akan kemampuanku,shingga dia tdk prnh meng amini niat baikku itu,apalagi mendukungku dn memfasilitasi..o ya boleh kasih tau,anda awalnya barang dagangan kulakan sndiri apa langsung ada kenalan suplierr?……

    • anik Says:

      Tolong beri saran gmn cara meyakinkan suami ya pak…krn tanpa izin suami rasanya takut nanti kenapa napaato ada apa2.trimakasih pak,sukses selalu

      • Yusuf Iskandar Says:

        Pertama, ceritakan gagasan Anda kepada suami (saat suasana santai tentunya) kenapa ingin berwirausaha.
        Kedua, tunjukkan semangat Anda utk siap belajar dan menghadapi kesulitan (saya pun belajar dari nol).
        Ketiga, berikan gambaran kira-kira berapa modal (biaya awal) yang diperlukan dan berapa kemampuan yang dapat disediakan tanpa harus mengganggu ekonomi keluarga.
        Di atas semua itu, setiap usaha pasti ada resikonya. Tapi yang pasti adalah bahwa sepanjang kita mau belajar dan bekerja keras, semoga selalu ada jalan keluar. Sukses selalu juga…

    • Yusuf Iskandar Says:

      Beberapa cara saya lakukan:
      1) Kulakan sendiri
      2) Menemui supplier (yg sedang berhenti di pinggir jalan atau nitip kartu nama via teman yang punya toko) dan meminta supplier untuk datang menawarkan dagangannya.
      3) Pasang papan nama, nanti banyak supplier “free lance” yang datang sendiri (untuk supplier jenis ini perlu hati-hati dan waspada sebab banyak toko-toko baru yang menjadi obyek aksi nakal mereka).

  98. ahmad edo Says:

    mz widodo berkata :

    saya dr dlu ingn skli buka/punya usaha mni market,sy mnt saran dr bpk,sy pnya uang 12jt dn sy sudh punya tanah gk bgtu besar apakh itu cukup utk usaha permulaan?

    • Yusuf Iskandar Says:

      Tergantung dari skala usahanya. Banyak saya lihat orang2 yang memulai usaha semacam ini dengan mmbuka warung kecil di rumahnya atau membuat gerobak, dengan modal 3-5 juta, mereka berhasil bangkit dan merangkak sedikit demi sedikit. Jadi saya pikir, dengan uang 12 juta, banyak peluang dapat dilakukan. Mulailah dengan cara/bentuk/sarana yang sederhana dulu sesuai dengan modal yang ada. Kuncinya adalah tetap semangat untuk belajar dan bekerja keras apapun situasi yang terjadi. Semoga sukses.

  99. Dessy Ameliasary Says:

    Assalamu’alaikum pak Yusuf,
    Saya menjadi distributor air minum selama 8 bulan, dan sekarang ingin buka toko swalayan seperti pak Yusuf (saya doakan pak Yusuf menjadi lebih besar dari al*** maret ataupun in****maret… he2.. gak ada yang gak mungkin kata orang,,,
    Saya butuh sofware penjualan untuk minimarket ada info pak saran dari pak Yusuf?

    Wa’alaikummussalam,,, salam buat keluarga

    • Yusuf Iskandar Says:

      Alaikumsalam, mbak Dessy.
      Pertama, saya mengaminkan doanya dengan sungguh2. Terima kasih.
      Kedua, Software yg dimaksud disebut dengan POS (Point of Sales). Banyak ditawarkan sebenarnya, dengan harga sangat bervariasi dari yang ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Coba cari di internet untuk tahu yang terdekat dengan lokasi Anda. Ini penting mengingat yang sering jadi kendala adalah: ketika ada ‘trouble’ dengan software, bagaimana agar si penjual bisa membantu service dengan cepat (sementara kita tidak familiar dengan software itu). Hal ini yang sering kami hadapi. Semoga sukses… Salam.

  100. hari utomo Says:

    kami bs membantu share temen 2 untuk membuat mini market dari sofware.pendampingan dan layout toko.silhkn cp 085228827754

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: