Ada seorang teman yang sempat berkunjung ke jobsite “Madurejo Swalayan” di Jl. Prambanan – Piyungan, Yogyakarta, bertanya kepada saya : “Kenapa memlih membuka usaha mini-market? Kok bukan toko yang lain?”. Ini pertanyaan yang gampang-gampang susah untuk dijawab. Gampang, karena tinggal mengatakan : “Karena ini memang keinginan kami”. Susah, karena jawaban itu pasti tidak akan memuaskan si penanya. Maka, perkenankan saya menuturkan kilas balik latar belakangnya, sampai akhirnya kami memutuskan untuk membuka usaha mini-market atau toko ritel swalayan yang kemudian bernama “Madurejo Swalayan” ini dan bukan toko yang lain
Cerita ini terkait dengan kebingungan seorang mantan pejuang kumpeni (company) yang 16 tahun menjadi orang gajian, lalu banting setir menjadi penganggur terselubung, mondar-mandir beberapa bulan di Yogya dan “diteror” anak-anaknya dengan sindiran-sindiran katanya enggak kerja malah nganggur aja. Terus mau ngapain? Nantinya terbukti bahwa keterpojokan seperti ini bisa membangkitkan energi bawah sadar seperti sedang dikejar kirik edan.
Harap menjadikan maklum adanya, buka usaha toko di desa Madurejo ini memang ide pertamanya datang dari istri tercinta (maka wajar saja kalau sebagai penghormatan jasa beliau lalu kemudian diangkat menjadi Chief Financial Officer alias ibu bendahara “Madurejo Swalayan”). Sejak awal, tepatnya sejak saya berhasil menjadi penganggur terselubung di akhir tahun 2004 (saya anggap ini sebuah keberhasilan), angan-angan istri saya ini memang hanya : pokoknya buka usaha toko. Titik! Alasannya sederhana tapi masuk akal dan sangat mulia : Eeee, mbok menawanya sang suami telanjur malas untuk kembali jadi orang gajian lagi di kumpeni mana-mana, maka sudah ada cantholan untuk menghidupi keluarga dan anak-anak, bapaknya biar embuh ben sak karepe ……terserah apa maunya.
***
Tiga bulan pertama sejak jadi penganggur terselubung, saya masih ketawa-ketiwi saja, tanpa beban melakoni hidup sehari-hari. Meskipun anak-anak mulai menyindir-nyindir, bapaknya ini ngapain sudah enak-enak kerja terima gaji besar setiap bulan kok pakai keluar segala, malah sekarang nganggur. “Jadi enggak bisa minta apa-apa lagi seperti dulu, ya mbak…. .”, kata sang adik kepada kakak perempuannya. Apa enggak nelangsa hati ini mendengarnya.
Memasuki bulan keempat mulailah muncul kegelisahan. Gelisah untuk memutuskan antara kembali menjadi orang gajian di kumpeni lain atau terjun secara total ke dunia persilatan wirausaha. Hasil konsultasi ke kiri dan ke kanan belum ada yang memberikan jawaban yang memuaskan. Jangan heran, teman-teman yang tahu saya keluar dari pekerjaan sebagai orang gajian, kebanyakan memuji keberanian saya dan mendukung untuk memasuki dunia wirausaha. Dalam hati saya tersenyum kecut : “Berani bagaimana? Lha wong saya ini terpaksa je…….”.
Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, khawatir kalau saya jadi terjebak untuk menyalahkan pihak lain yang telah mem-fait accompli saya. Apapun alasannya, kalau pun ada kesalahan maka itu pasti kesalahan saya, bukan kesalahan siapapun. (Lha iya to, apa kalau saya menyalahkan orang lain, njuk orang lain itu mau membantu saya memberikan jalan keluar?. Toh akhirnya saya juga yang harus berusaha mencari jalan keluarnya sendiri).
Untungnya, saya sangat percaya bahwa konsultan terbaik itu bukan menoleh ke kiri atau ke kanan, melainkan ndangak ke atas. Maka kepada satu-satunya “Atasan” saya itulah saya minta petunjuk yang akhirnya sedikit demi sedikit menemukan titik terang. Setidak-tidaknya agak meredam kegelisahan di bulan keempat setelah jadi penganggur terselubung.
Petunjuk itu datang melalui ibunya anak-anak. Katanya : “Mbok tanah yang di Jalan Prambanan – Piyungan itu dibangun untuk toko saja” (kebetulan tanah yang dimaksud itu belum lama lunas cicilannya). “Nanti bisa digunakan untuk mbukak usaha, embuh kapan yang penting punya tempatnya dulu”, lanjutnya kemudian. Ya!. Pemikiran ibunya anak-anak ini sebenarnya mletik (ide cemerlang) juga.
Namun hati kecil saya yang belum bisa langsung menerima. Uedan!, pikir saya. Bertahun-tahun jadi tukang insinyur dengan gaji jut-jutan, sekolahnya luuuama lagi, kok ujug-ujug dodol mracangan ning ndeso sing bathine sak uprit……!. (tiba-tiba buka warung di desa yang keuntungannya cuma sedikit). Jujur saja, kesombongan semacam ini tentu tidak mudah untuk ditutup-tutupi begitu saja, setelah belasan tahun malang-melintang di dunia industri pertambangan modern, lengkap dengan privilege dan kartu nama prestise.
Lama-lama (tentu atas petunjuk “Atasan” juga), saya mulai mencoba untuk realistis. Sepertinya kok tidak ada salahnya juga untuk memenuhi usulan ibunya anak-anak ini. Sebanyak apapun uang saku yang saya gembol dari Papua, kalau tidak segera dicantholke (dibelanjakan untuk memiliki aset), pasti tahu-tahu buablasss sak angin-angine……
Akhirnya kami mulai membangun toko, setelah sepakat menggunakan uang saku dari kumpeni terakhir yang telah berbaik hati membekali saya menjadi penganggur terselubung di Jogja. Pokoknya harus jadi bangunan toko, embuh jadi toko apa atau mau jualan apa. Gagasannya, kalau pun akhirnya kefefet tidak ada mata pencaharian pengganti, maka bisa langsung kulakan dan jualan. Itu saja.
Memasuki bulan kelima, keenam dan ketujuh, eee…. lha kok saya malah jadi lupa dengan kegelisahan sebelumnya antara mau kerja lagi atau wirausaha. Hari-hari berlalu dengan makin asyik aja……, berkonsentrasi pada pekerjaan pembangunan toko yang belum jelas ini. Kepalang basah, kalau memang mau buka usaha toko ya mesti direncana sebaik-baiknya, jangan asal pokoknya punya toko, lalu pokoknya jualan, pokoknya tidak rugi, pokoknya ada usaha, pokoknya ketimbang nganggur….. Lama-lama bisa jadi pokoknya tidak kembali (tidak kembali pokok alias tidak breakeven).
Mulailah kami melakukan survei kecil-kecilan. Midar-mider (kesana-kemari) menyusuri jalan raya Prambanan – Piyungan untuk mencari ilham kira-kira usaha apa yang cocok dikerjakan. Mulai rajin jalan-jalan (tapi pakai mobil) di sana. Mengamati kesibukan masyarakat, perkampungan dan perumahan ditolah-toleh, toko-toko yang ada diintip-intip, teman-teman dan saudara dimintai pertimbangan. Masih juga belum ketemu titik terangnya. (Lha ya maklum, setelah 16 tahun bekerja mendesain-merencana-mengawasi-mengevaluasi proyek penambangan, lha kok tiba-tiba njuk nyurvei warung .……).
Beberapa alternatif dikumpulkan, hingga akhirnya menemukan beberapa pilihan peluang bisnis atau usaha yang kiranya punya potensi bagus untuk dikembangkan. Antara lain, toko material dan bangunan, toko obat atau apotek, toko spare-part dan bengkel, toko elektronik, dan tentunya toko ritel atau kelontong. Tidak perlu dilakukan analisa bisnis yang rumit-rumit untuk memilihnya. Pasti akan merepotkan, disamping hasilnya juga semuanya akan punya prospek bagus. Dilakukanlah evaluasi secara umum saja, ditimbang-timbang plus-minusnya, tingkat kesulitannya, potensi pasarnya, dan hal-hal lain yang lebih ke soal-soal praktisnya saja.
Entah istri saya dapat wangsit dari mana, hingga akhirnya dia memantapkan hati untuk buka toko ritel dengan prioritas pada kebutuhan sehari-hari. Pertimbangannya sederhana sekali, malah tidak pernah terpikir oleh saya sebelumnya. Katanya, kalau toko bangunan, apotek, elektronik, apalagi bengkel, dia merasa sebagai seorang wanita akan sangat bergantung dengan keberadaan saya atau setidak-tidaknya orang lain. Sedangkan kalau toko ritel, istri saya merasa mampu untuk menanganinya sendiri kalau pun misalnya tiba-tiba saya tinggal pergi karena saya berubah pikiran ingin kembali jadi orang gajian, entah di hutan atau gunung mana lagi. Saya hargai ini sebagai kebulatan tekad seorang istri dengan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa. Hingga akhirnya saya mengangguk mengamini.
Tidak takut?. Bukankah toko ritel sudah bertebaran di mana-mana? Apakah kira-kira akan bisa jalan? Saya ingat ketika seorang teman pernah membisiki saya. Begini kira-kira katanya : “Di pasar itu bakul brambang (bawang merah) jentrek-jentrek, bakul sayur berderet-deret, bakul ikan dempet-dempetan, tapi semua laku. Tidak pernah ada ceritanya bakul brambang, bakul sayur dan bakul ikan yang bangkrut. Kalaupun tidak jualan, itu karena orangnya capek atau sibuk usaha lain, tapi bukan karena bangkrut”. Inilah rahasia “Ilmu Gaib” lainnya, bahwa setiap orang memang sudah memiliki takaran rejekinya masing-masing. Ingat lho, takaran bukan bantuan langsung tunai (kok nyimut…..?). Jadi, siapa cepat (mengusahakannya) dia dapat, yang ogah-ogahan ya enggak dapat-dapat.
Lalu difokuskanlah semua langkah untuk menggarap peluang bisnis toko ritel. Lha, tapi pembangunan toko sudah telanjur dimulai, tidak dirancang untuk toko ritel. Maka jalan keluarnya gampang saja.….., ya sudah, yang sudah telanjur biarkan saja, nanti bisa dipikir sambil tidur. Selebihnya yang belum telanjur, mulai saat itu semuanya diarahkan untuk menuju ke usaha toko ritel, prioritasnya kebutuhan sehari-hari, sistem jualannya swalayan, konsepnya sistem bisnis modern, visinya jauh ke sepuluh-lima belas tahun ke depan, dengan memanfaatkan semua peluang yang ada dan yang harus dicari untuk diadakan.
Pertengahan bulan ketujuh sejak menjadi penganggur terselubung, adalah titik awal semua rencana usaha mengarah ke bentuk usaha toko ritel yang kemudian bernama “Madurejo Swalayan” ini. “Just Plan It” dimulai, business plan disusun, visi-misi dicanangkan, mental dan fisik dipersiapkan, dsb. dsb. dsb…… Sedangkan, hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan (dan tanggung jawab operasional toko nantinya) dan lain lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Niat kebulatan tekad kami hanya satu : Menjadikan usaha ini sebagai bagian dari ibadah. Dengan demikian pembagian tugasnya jelas. Sebagai bawahan kami berkewajiban bekerja keras mengubah setiap tetes keringat menjadi tetes-tetes kesuksesan, selebihnya biar “Atasan” yang ngurus……. Mudah saja, tidak perlu job profile atau job description yang neko-neko. Kami percaya, “Atasan” Yang (Maha) Satu ini tidak akan pernah mem-fait accompli bawahannya (inilah bedanya dengan atasan yang telah berbaik hati nyangoni saya untuk kembali ke Yogyakarta).
Kalaupun ada masalah, dijanjikan ada jalan keluarnya dan itu pasti yang terbaik. Sungguh luar biasa “Atasan” saya Yang (Maha) Satu ini. Bahkan tidak hanya kepada kami, melainkan juga kepada siapa saja, yang meminta maupun yang tidak meminta. (Dalam buku tebal bertulisan Arab yang sering terpajang di ruang tamu, selalu tampak rapi, bersih dan telihat baru, karena jarang disentuh apalagi dibuka, saya temukan penggalan kalimat begini : “Opo sampeyan ora dong?……., Tidakkah kalian mengerti?”. Tulisan Arabnya berbunyi : Afalaa ta’qiluun …….).
***
Kini, kalau ada yang tanya kepada saya : “Kenapa memilih membuka usaha mini-market? Kok bukan toko yang lain?”. Kalau menginginkan jawaban lengkap, ya seperti dongeng di atas itulah jawabannya. Kalau cukup jawaban singkat : Itulah pilihan terbaik menurut petunjuk dari “Atasan” kami…..
Madurejo, Sleman – 21 Pebruari 2006
Yusuf Iskandar
Tag: aset, atasan, banting setir, fait accompli, ilmu gaib, jobsite, madurejo, mini market, orang gajian, ritel, swalayan, wirausaha
27 Januari 2008 pukul 11:01:24 |
maap bos,
trus ga punya modal sampe ratusan juta juga.
mau tanya klo tidak keberatan.
Saya sangat tertarik bisnis retail spt yg nt jalanin. Kira2 brp modal minimal yg harus tersedia utk bisa berbisnis retail berbasis swalayan?
Maksudnya yang benar2 dr nol, soalnya saya gak punya tanah, yg punya ortu doang
27 Januari 2008 pukul 12:01:03 |
Mas Purna,
Untuk menjawab berapanya, memang agak sulit. Tempat & lokasi harganya sangat bervariasi. Semakin strategis, tentu semakin mahal. Sedangkan isinya, menyesuaikan segmen pasar yang dituju (di Madurejo, tentu beda dengan di Kuta). Apalagi kalau konsepnya swalayan modern, sistem IT-nya juga mesti ada biaya ekstra sendiri. Meski begitu, bisa mulai dengan ukuran kecil dulu, katakanlah sebuah kios. Lalu isinya selektif berdasar target pasar. Lalu dikotak-katik perkiraan biayanya. Saya pikir, bisa dimulai dengan modal 25 jutaan. Terima kasih & salam.
17 April 2008 pukul 7:55:12 |
Mas, tulisan panjenengan cukup menarik & membuat saya terisnpirasi, jujur saat ini kakak saya baru saja keluar dr kumpeni di Jakarta dan skrg sdg mencoba membuka usaha mini market di tempat asal Wonogiri. Ya memang sih mas ada pendapat & opini dari berbagai pihak, ada yg pro dan kontra…yg pro seperti apa tidak bikin iri tetangga sekitar terutama yg punya warung2 kecil sbg informasi lokasi yg dipilih kebetulan di dalam perkampungan..dan jarak warung satu dengan yang lain sekitar 800mtr.
Menurut mas Yusuf bagaimana menghadapi sikap iri & negatif tetangga2 tsb ya mas…maturnuwun
18 April 2008 pukul 19:48:55 |
Seringkali hal semacam ini tak terhindarkan, apalagi di dalam perkampungan. Tapi saya pikir jarak 800 m masih tergolong “aman” (tidak terlalu dekat). Barangkali untuk tahap awal bisa dengan saling menjaga harga jual (jangan banting harga), shg konsumen membeli di sana atau di sini haganya sama. Kita bermain di pelayanan saja dulu. Kemudian, pilih beberapa produk yang jangan dulu digarap (contoh : Madurejo Swalayan tidak menyediakan beras dalam pak kecil dan minyak goreng murah atau curah, biarkan itu menjadi porsinya warung-2 kecil). Jadi ada item-2 barang tertentu yang kita biarkan menjadi porsi warung-2 kecil. Berjalannya waktu dan perkembangan wilayah, bisa dipertimbangkan lagi kelak. Bisa juga cari cara lain agar bisa bersinergi. Selamat memulai usaha. Slm.
21 April 2008 pukul 11:38:12 |
maturnuwun advisenya mas, klo boleh ngerepotin lagi…untuk perlengkapan mini market tersebut, kira2 panjenengan punya info yang menjual rak barang, cash drawer dll mas? maturnuwun…Wassalam wr.wb.
21 April 2008 pukul 14:09:57 |
Untuk di wilayah Jogja, ada beberapa tempat yang saya ketahui, 2 di antaranya adalah MKT di Jl Kaliurang (sedia baru dan seken) dan Matahari Jl Katamso (hanya sedia baru). Toko saya membeli perlengkapan di dua tempat itu. Untuk yang lainnya, coba nanti saya infokan via email. Terima kasih.
22 April 2008 pukul 10:26:57 |
Maturnuwun sanget mas…..saya tunggu info alamatnya via email saya di ndon_nunuk@yahoo.com ….semoga segala urusan Mas sekeluarga selalu dimudahkan dariNya…dan semakin tambah maju usahanya….Wassalamualaikum wr.wb.
13 Juni 2008 pukul 0:52:20 |
ass wr wb maaf pak saya minat untuk membuka minimarket,yang saya mau tanyakan dimana untuk belanja barang2 dagangan (kulakan) dan setting tempatnya, terimakasih sebelum nya walaikum salam wr wb
13 Juni 2008 pukul 21:23:50 |
Mas Andi,
Untuk kulakan, awalnya kita memang perlu cari-2 barang sendiri. Sambil jalan, mencari info alamat distributor/sales, lalu hubungi mereka untuk memberikan penawaran jenis barang, harga, sistem pembayaran, diskon, dsb. Jika kita punya papan nama, biasanya sales (yang resmi maupun free-lance) begitu melihat ada toko baru, biasanya mereka akan mampir dan memberi penawaran.
Ada baiknya kita mempunyai pedoman tentang jenis item barang yang hendak kita jual, sebagai pegangan awal. Sebab nanti dari penawaran sales, jenis item barangnya sangat buanyak dan bisa membuat kita bingung memutuskan.
Untuk penataan memang gampang-gampang susah dan banyak “seni”-nya. Intinya bagaimana agar memudahkan konsumen untuk melihat dan memilih barang yang kita jual, tapi juga memudahkan pengawasan.
8 September 2008 pukul 10:26:04 |
Dengan hormat,
Apabila semua lancar,2-3th saya akan pensiun di Jogja (pinggiran),bagaimana kirannya pendapat bapak untuk membuka retail seperti bapak ttp mungkin lebih kecil.sedang dana yg saya alokasikan Rp150jt,belum termasuk tanah/toko.menurut bapak cukup?
wasalam
8 September 2008 pukul 10:32:00 |
mohon maaf diralat,Rp 150 jt itu termasuk modal barang +tanah ,ttp tanah belum saya beli.
terima-kasih
9 September 2008 pukul 11:26:45 |
Mas Tri,
Sungguh ide bagus, dan peluang masih terbuka, tinggal pandai-pandai kita menangkapnya. Mempersiapkan diri dengan belajar dan menghayati seluk-beluk bisnis ini adalah juga modal penting, terutama agar “mind-set” kita lebih terkelola. Mulai berhitung dan mereka-reka kira-kira berapa biaya untuk beli/sewa lokasi, membangun tokonya, dan akhirnya berapa yang tersisa untuk perlengkapan dan isi tokonya. Di situlah letaknya nilai relatif dari modal Rp 150 juta, tergantung bagaimana dan seperti apa kita mau “ngecakke” atau mengalokasikannya.
Karena itu, menurut saya pertanyaannya BUKAN “apa cukup”, MELAINKAN “bagaimana agar cukup”. Semoga sukses.
9 Oktober 2008 pukul 17:32:11 |
maaf pak, kl kita tinggal d jakarta, apa ada kemungkinan yah buka mini market? masalah nya hampir setiap perumahan pasti ada Alfa atau Indomaret, mini market lain nya…rencana nya mmg sy juga tertarik sm bisnis ini, tp kl beli franchise mahal dan modal nggak cukup…ada masukan lain nggak pak? krn jadi orang gajian cape juga, blm lagi anak di rumah di asuh pembantu…wah…berat hidup sekarang yach…
10 Oktober 2008 pukul 14:51:59 |
Mbak Julie,
Menurut saya, kemungkinan membuka minimarket masih terbuka. Memang perlu kerja lebih keras, karena tantangan/ancaman (threat) sudah menghadang di depan mata. Bukankah di balik setiap tantangan selalu ada peluang (opportunity)? Coba digali dan digali lagi, temukan celah dan pembeda, setelah itu garap dengan serius agar konsumen atau calon pelanggan melihat toko Anda “beda” dengan toko yang sudah ada. Lebih lengkap tentang pandangan saya via japri, ya. Salam sukses buat Anda.
15 Oktober 2008 pukul 15:12:33 |
Alhamdulillah saya dapat inspirasi yang bagus banget.
Mungkin ada kesamaan dalam hal keinginan antara Mas Yusuf Iskandar dengan saya, bedanya Mas Yusuf telah jauh melangkah sementara saya masih dalam tahap wacana. Saya seorang Manajer di satu BUMN, dengan gaji sekarang saya rasa sudah mencukupi untuk menopang hidup, hanya setelah 18 tahun bekerja ada rasa kejenuhan dan sudah ada pemikiran untuk melangkah seperti yang Mas Yusuf lakukan. Saya tertarik untuk membuat Minimarket, kemungkinan di Cirebon, tempat tinggal saya (sekarang saya dinas di Yogya). Kalau boleh mas, kapan2 saya pengin ketemu Mas Yusuf untuk menimba ilmu, siapa tahu gelora untuk berwirausaha akan semakin membara. Terimakasih sebelumnya. Wass.
15 Oktober 2008 pukul 22:09:55 |
Mangga, Kang Dori…
Senang sekali memperoleh tambahan silaturrahim. Kita bisa saling “sharing” dan menimba ilmu bersama-sama. Baru sebuah wacana pun perlu dipupuk agar tidak memudar dan tetap semangat membara. Sukses juga untuk Anda. Terima kasih & salam.
30 Oktober 2008 pukul 13:20:16 |
Assalaamualaikum
Mas, ternyata Allah mempertemukan kita untuk bersilaturahmi lewat dunia maya ini.
Saya sekarang kerja gajian di sebuah penerbitan buku di Klaten. Deket, khan? Sudah 19 tahun jadi orang gajian, alhamdulillah. Dalam hati, pingin sekali Allah memberiku kegiatan dodolan. Kami sudah ancang-ancang ke sana. Dengan baca perjalanan mas Yusuf, bukan main. Trim’s.
Mukti Aji- Adiknya mbak Noor Ika – Kendal
Salam dari mas Indra HP.
31 Oktober 2008 pukul 16:14:28 |
Mas Mukti,
Bersyukur, alam maya telah mempermudah silaturrahim. Jam terbang 19 tahun tentu menjadi bekal yang berharga. Bukan sekedar uang, melainkan jauh lebih penting adalah ilmu, relasi, network, spirit dan mind-set. Jaga baik-baik “aura” kewirausahaan yang ada. Nuwun & Salam sukses.
20 Nopember 2008 pukul 12:35:31 |
Mas, ceritaNya siiip bgt yo…bikin orang yg baca seperti dapat pencerahan.
saya juga ada rencana mau muka minimarket, minta supportNya ya mas. Thnx
21 Nopember 2008 pukul 21:19:45 |
@Mas Gito,
Saya turut bersyukur kalau dongengan ini ada manfaatnya. Insya Allah kalau memang ada yang bisa saya bantu, dengan senang hati men-support rencana Anda. Salam sukses.
4 Desember 2008 pukul 0:30:19 |
Mas, benar2 mantep ya kalo kita bisa punya usaha sendiri, walaupun usaha ritel sudah sangat ketat. Tapi tentu ada peluang yang bagus kalo kita jeli.
Saya juga ada info gratis nih …. bisa dapat Rp270jtaan dengan tanpa modal aliass GRATIS. Sedang BOOMING saat ini.
Kunjungi :
http://www.komisigratis.com/?id=bersih
11 Mei 2009 pukul 15:20:44 |
mas saya sudah buka toko kelontong kecil terusan dari ortu yg sudah tua,hanya saja persaingan memang ketat,disebelah toko saya pun ada toko lagi cuma yg jadi masalah ,sekarang dia banting harga alias jual dengan harga dibawah pasaran dengan keuntungan sekecil mungkin,kalo saya ikutin atau samakan sama saja jualan tidak mendapat keuntungan..bagaimna mengahadapi pesaing yg seperti ini?pelanggan saya jadi lari ke tempat dia.
tolong beri solusi ke alamat email ineuviki@yahoo.com
terimakasih atas jawabannya
14 Mei 2009 pukul 19:58:05 |
Bu Ineu,
Secara umum saya menyarankan lebih baik konsentrasi untuk meningkatkan habis-habisan di sisi pelayanan (langsung maupun tidak langsung). Sebab kalau kita mau masuk dalam persaingan harga (yang sepertinya semakin tidak logis) tentu akan sangat menguras energi dan nambah stress. Sementara kita ada di kelas “teri” dan sumber dana terbatas. Lebih detil saya email langsung ke ibu. Terima kasih & salam.
11 Juli 2009 pukul 12:05:41 |
Ass.Wr.Wb
Thanks berat mas Yusuf sudah memberikan dorongan yang kuat terhadap keinginan saya untuk membuka usaha. Saya seorang mahasiswa di Jogja, asal dari Riau, dan sebentar kagi menyelesaikan kul. Begini mas, saya punya niat untuk buka usaha ritel di sebuah kabupaten, di Jambi. Jarak dari ibukota provinsi perjalanan darat 9 jam, sedangkan ibukota tentang (Sum-Bar) hanya berjarak 6 jam, so lebih banyak orang bepergian ke Sumbar. Sebelumnya di kota Kabupaten sudah berdiri beberapa minimarket. Saya melihat sedikit ada ceruk untuk mewujudkan niat saya membuka usaha, apalagi saya sedikit banyak belajar manajemen. Hal itulah yang akan saya sajikan di ruang usaha saya sebagai pembeda dengan yang lainnya. Menurut mas Yusuf, untuk mengisi barang dagangan awal apakah saya mengandalkan sales yang mondar-mandir, atau saya langsung kontak beberapa distributor produk consumer goods yang berada di Ibukota Provinsi..? matur nuwun sangat atas infonya mas…