(32) Menggarap “Opportunity”

By madurejo

Jaman kini, analisis SWOT (Strengths – Weaknesses – Opportunities – Threats) seperti sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perencanaan strategis perusahaan-perusahaan besar oleh para praktisi bisnis professional. Konsep dasar analisis SWOT, menurut buku yang pernah saya baca, merujuk pada pemikiran seorang ahli strategi perang bernama Sun Tzu. Salah satu inti pemikirannya kira-kira berbunyi demikian : Apabila kita dapat mengenal kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan, maka berarti kita sudah memenangkan pertempuran.

Pendekatan SWOT layaknya membuat perencanaan strategi di medan pertempuran itulah yang kini banyak digunakan sebagai pendekatan dalam membuat perencanaan bisnis, termasuk bisnis ritel, termasuk toko swalayan, termasuk “Madurejo Swalayan” di desa Madurejo. 

Cukuplah kalau bisa melakukan analisis SWOT sederhana saja, di antara sekian banyak model kuantitatif perumusan strategi bisnis yang sebenarnya dapat dipilih. Memilih model analisis SWOT sederhana, sekedar untuk menyadari dan memahami kelemahannya (weaknesses) lalu menggali dan mendayagunakan peluang yang dapat dibangun (opportunities); meminimalkan ancaman yang mungkin menghambat perkembangan usaha (threats) untuk kemudian memaksimalkan kekuatan yang dimilikinya (strengths).  

***

Dalam jangka pendek, hal yang dianggap paling perlu dipikirkan dari pendekatan SWOT “Madurejo Swalayan” adalah kelemahannya dalam hal pemilihan lokasi (sebenarnya ini bukan pilihan, wong pada waktu membeli lahan ya hanya tanah itu yang dijual dengan harga terjangkau). Saya sebut dalam jangka pendek, karena dalam jangka panjang unsur kelemahan ini berpotensi untuk berubah menjadi unsur kekuatan.

Seperti saya singgung sebelumnya, lokasi “Madurejo Swalayan” masih dikelilingi areal persawahan, berjarak agak jauh dari kawasan perkampungan, tidak persis berada di jalur berangkat dan pulang kerja para komuter masyarakat desa Madurejo dan sekitarnya. Opportunities dan Strengths seperti apakah yang digarap oleh “Madurejo Swalayan” pada tahap awal ini, dalam upayanya untuk menggali peluang-peluang (opportunities) dan mendayagunakan kekuatan-kekuatan (strengths) yang dimiliki yang sekiranya akan dapat menutupi kelemahannya?.                                                                         

Pertama : Menggarap tampilan dan prasarana toko dan menjadikannya sebagai sebuah “singkapan”. Awalnya ini adalah peluang, tapi kini sudah menjadi sebuah kekuatan. Berbekal semangat berani tampil beda, maka desain arsitektur luar dibuat agak tidak umum untuk ukuran desa Madurejo, dengan memberi sentuhan desain minimalis dengan warna yang khas, tanpa kesan nge-jreng.

Tampilan depan sengaja dirancang untuk memberi kesan tinggi dan gagah, dibandingkan umumnya toko di sepanjang Jalan Prambanan – Piyungan. Halaman depan toko disisakan agak luas sehingga memberi areal parkir yang lebih leluasa bagi pengunjung toko, termasuk menyediakan ruang bagi kendaraan lewat yang numpang atret atau berputar haluan (asal bukan untuk garasi gratis saja…).

Penerangan dan tata lampu toko dirancang agar effektif untuk penerangan dalam toko tapi juga tampak moncer kalau malam hari. Laron dan serangga sawah saja senang berkunjung ke toko, apalagi pejalan malam yang kehausan, kehabisan rokok atau kepalanya nyut-nyutan sebelum pergi tidur…. 

Konsep tata ruangnya bukan mengikuti konsep toko tertutup. Bukan karena mau menghemat agar tidak perlu memasang AC, melainkan menghindari kesan eksklusif yang bisa membuat masyarakat desa sekitarnya malah takut mau masuk toko. Dengan konsep terbuka, memberi kesan lebih bersahabat, seolah-olah berkata : “Monggo mampir…….”. 

Kedua : Memberi porsi lebih pada pelayanan yang efektif. Setelah orang lewat tertarik dengan kenampakan “singkapan” sehingga mau mampir masuk toko, maka segera dipasang perangkap yang bernama : Pelayanan, Pelayanan dan Pelayanan. Peluang ini harus ditangkap dan dikelola lebih efektif. Sasaran untuk membuat pengunjung yang sudah kadung terperangkap masuk toko menjadi merasa senang, dihargai dan nyaman, merupakan opportunity yang akan terus dikembangkan dan diinovasi. Bangunan keramahtamahan dan jurus komunikasi yang mempribadi mulai dikerahkan, sifatnya kondisional dan selektif menghindari kesan berlebihan dan mengada-ada. Para pelayan toko di “Madurejo Swalayan” semakin hari semakin belajar memainkan peran ini. 

Mempertimbangkan luasan toko yang terbatas, maka diterapkan strategi “one stop shopping“ secara selektif untuk jenis-jenis barang kebutuhan hajat hidup tertentu saja, setidaknya memberi pilihan kepada pengunjung. Manajemen toko agak luwes dalam menerapkan “return policy“ secara terbatas, dalam pengertian barang yang di-return memang belum digunakan atau tidak rusak oleh kesalahan pembeli. Setidak-tidaknya, manajemen “Madurejo Swalayan” tidak menulis besar-besar : “Maaf, barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar/dikembalikan“.  

Ketiga : Memanfaatkan kultur guyub-rukun dan paseduluran ala kampung. Iklan di koran, radio, apalagi TV, nampak terlalu luas cakupannya dan tidak efektif dari segi biaya. Spanduk dan selebaran, bisa jadi lebih cocok. Namun pengelola “Madurejo Swalayan” menempuh cara yang lebih tradisional, karena di sana ada peluang sekaligus kekuatan. Peluang yang tidak akan hilang bersamaan dengan dibuangnya selebaran untuk bungkus blanggreng (ketela goreng) atau digunakannya bekas spanduk untuk penambal dinding jumbleng (sumur atau peturasan di luar rumah) atau warung tenda.  

Forum seperti selamatan, rapat kampung, kegiatan masjid, silaturrahmi, adalah interaksi sosial yang membuka peluang untuk publisitas murah tapi mengena. Pendekatan kekeluargaan atau paseduluran adalah peluang yang memang sudah ada dalam kultur masyarakat di pedesaan. Peluang ini sangat mungkin untuk digarap menjadi kekuatan. Kesempatan untuk memperkenalkan diri selalu terbuka di setiap kesempatan berinteraksi dengan masyarakat tanpa memberi kesan sedang berpromosi.  

Membangun rantai gethok tular (word of mouth), cerita dari mulut ke mulut, benar-benar menjadi senjata utama. Jika sistem ini bisa diupayakan berjalan, maka peluang-peluang yang telah digarap itu akan berubah menjadi kekuatan yang luar biasa.  

*** 

Kelemahan (weakness) memang terkadang susah dieliminasi, tapi pasti bisa dimanipulasi. Dan masih banyak peluang (opportunity) lain yang dapat digali untuk memanipulasi kelemahan yang ada, juga untuk menciptakan kekuatan (strength) baru. Atau, menurut istilah Matriks SWOT, pasti ada Strategi WO (Weaknesses – Opportunities) ataupun SO (Strengths – Opportunities) yang dapat disiasati. 

Untuk kesekian kalinya, kalau saya ditanya apakah akan berhasil? Saya belum tahu, masih terlalu singkat waktunya untuk melakukan evaluasi. Hanya karena saya berprinsip bahwa sesuatu harus dilakukan, maka saya lakukan saja, karena dasar pemikirannya masuk akal.

Sejujurnya kukatakan…… Saya terkadang tertawa sendiri, membayangkan saya sedang ditertawakan orang .….., ngurus warung kecil di desa saja kok neko-neko…….. Tapi seperti pernah saya katakan sebelumnya bahwa saya lebih suka berdiri di emperan toko, tolah-toleh kesana-kemari, lalu mengeker (meneropong) jauh General Electric, Motorola, Kodak, Sony dan kawan-kawannya yang sukses menerapkan cara “Six Sigma”, lebih dari sekedar menggarap “opportunity”. Organisasi (toko) akan memperoleh hasil jauh lebih cepat jika bersedia mengakui kelemahan-kelemahannya, belajar dari kelemahan tersebut, dan mulai menentukan prioritas untuk mengkoreksinya. Jujurlah dengan kekuatan dan kelemahan bisnis kita. Itulah landasan melangkah menuju “the Six Sigma Way”.

Binatang macam apalagi ini…….? Biarlah saya khayalkan dulu jenis binatang itu sambil tidur, sambil bermimpi…., yang penting sekarang saya tahu dulu bahwa binatang itu ada.

Madurejo, Sleman – 12 Januari 2006.
Yusuf Iskandar

Tag: , , , , , , , , ,

Satu Tanggapan ke “(32) Menggarap “Opportunity””

  1. Djuwandi Hantarbumi Berkata:

    Yahh, saya cuma mau urun rembug. Biar Lokasi di desa tapi anda kan sudah Analisa STP-nya. SEGMEN – TARGET – POSITIONING kalau memang usah nyekrup tak risaulah. Segmen pedesaan jelas jangan mengharap omzet langsung milyaran, dsb. Tapi goodlah anda sudah memulai memanag diri sendiri dan saya salut. Kapan kapan saya bisa ketemu langsung didarat. By.

    Djuwandi Hantarbumi.
    Kragilan, Senden, Ngawen, Klaten.
    Saya tahu anda dari Keponakan saya : Eko Djatmiko Utomo.

Tinggalkan Balasan