Kendatipun sabar menanti itu perlu, saya nrimo dan tidak saya ingkari. Akan tetapi saya berusaha untuk tidak terpaku pada deretan angka-angka yang telah terhimpun dan diolah dalam rencana usaha (business plan) awal. Saya percaya bahwa selalu ada strengths (kekuatan) di balik setiap weaknesses (kelemahan), dan selalu ada opportunities di balik setiap threats (ancaman). Hal-hal gaib itu ada berpasang-pasangan.
Bukankah hidup ini selalu berpasang-pasangan? Berarti pasangan itu pasti ada, tinggal bagaimana menemukannya sebelum kemudian mendayagunakannya. Kelemahan selalu dimiliki, tapi pasti ada sumber kekuatan yang dapat digunakan untuk menutupi kelemahan itu. Ancaman selalu menghadang, tapi pasti ada potensi peluang yang dapat digarap untuk menetralkan ancaman yang datang. Saya mencoba mencermati dan mempelajari lagi apa makna sesungguhnya di balik informasi business plan yang sudah dikutak-katik itu, selain angka-angka. Dari perenungan itulah yang akhirnya memantapkan hati saya bahwa membuka usaha ritel atau mracangan yang kemudian berjudul “Madurejo Swalayan” ini layak untuk dikerjakan.
Pertama, saya temukan bahwa ini adalah “the real business”. Tidak ada the hidden value (nilai yang tersembunyi) di baliknya. Pernyataan ini bolah-boleh saja dibantah, tapi saya mempercayai di sana tidak ada istilah teman tapi mesra, untung tapi rugi. Teman ya teman, mesra ya mesra, kalau untung ya untung, kalau rugi ya rugi.
Kedua, terbuka lebar-lebar peluang (meski sulit, tapi harus terus dicari dan digarap) untuk menggenjot pertumbuhan omset penjualan dengan menambah satu lagi skenario tingkat penjualan, yaitu skenario “sangat optimistik” untuk mempercepat tingkat pengembalian modal. Indra ketujuh saya menangkap gelagat, bahwa naga-naganya ada banyak opportunities yang dapat digarap layaknya “business as unusual”. Buktinya, setiap hari bermunculan toko-toko baru, toko-toko yang lama pun banyak yang sukses dan berkembang. Tidak ada sebab lain yang paling berperan selain karena pertumbuhan omset penjualan yang luar biasa. Tinggal mempelajari bagaimana caranya….. (meskipun ada juga yang gagal ding, yang kalau dilacak katanya karena mis-management).
Ketiga, karena pada tahun keempat modal kerja saya sudah kembali (menurut opsi kedua) maka itu berarti pada tahun itu saya sudah bisa melakukan ekspansi. Entah meningkatkan modal kerja barang, entah memperluas toko yang sudah ada, entah membuka toko baru. Dalam prakteknya, meningkatkan modal kerja barang (isi toko) biasanya terjadi secara otomatis seiring dengan kemajuan toko. Kata mereka yang sudah berpengalaman, rugi sekali kalau sudah terbukti bisa meraih untung di toko kok hanya dipinjamkan ke bank (maksudnya ditabung saja). Lebih baik langsung diinvestasikan kembali, wong sudah jelas akan menghasilkan keuntungan. Bahasa pasarnya, uangnya diputar dan diputar kembali.
Meskipun secara hitung-hitungan, dalam empat tahun belum semua modal awal akan kembali, tapi membuka toko baru dapat dilakukan dengan skala kecil dulu misalnya. Boleh juga pinjam uang (ke bank, koperasi, teman atau saudara) untuk beli lahan baru dan membangun tokonya sekalian. Tidak kalah penting, memanfaatkan lahan tidur atau properti tidak produktif miliknya mertua juga ide yang brillian. Kalau enggak mau capek me-manage toko sendiri, bergabung dengan perusahaan waralaba juga bisa jadi alternatif. Semua pilihan itu sungguh realistis, asal jelas dan dipahami hitung-hitungan ekonomis rencana bisnisnya, termasuk resikonya.
Namun bagi penganut aliran “Just Do It” atau yang masih berkutat dengan visi bisnis tradisional, sebaiknya menghindari bergabung dengan bisnis waralaba. Kecuali jika Anda (atau orang yang Anda percaya) sudah paham betul dengan sistem bisnis atau business plan yang ditawarkan. Semata-mata agar Anda tidak berbunyi-bunyi (grundelan atau memaki-maki) pada diri sendiri di tengah jalan, karena Anda menemukan hal yang tidak Anda ketahui atau pahami sebelumnya.
***
Melewati bulan keempat sejak “Madurejo Swalayan” beroperasi, saya memperoleh fakta baru yang di luar perkiraan semula. Skenario optimistik tingkat penjualan yang saya proyeksikan sebelumnya, berhasil dilampaui. Dalam istilah industri disebut over produksi. Alhamdulillah……., usaha bisnis ritel yang sedang mulai kami tekuni ini memang layak diteruskan dan dikembangkan.
Segera saya melakukan revisi (tepatnya, updated) terhadap business plan berdasarkan data-data aktual yang terkumpul hingga akhir bulan keempat. Revisi dilakukan dengan tetap menggunakan asumsi-asumsi yang sama seperti pada versi aslinya. Hasilnya, menurut Opsi pertama seluruh modal awal saya (aset dan modal kerja) akan kembali dalam waktu 6,7 tahun, dan menurut Opsi kedua (modal awal selain properti) akan kembali dalam 3,4 tahun.
Artinya, dalam tiga setengah tahun, Insya Allah, modal kerja saya akan kembali ditambah saya masih punya aset berupa properti lahan dan bangunan di pinggir jalan yang pasti nilai riilnya sudah meningkat. Kalaupun nantinya kena gusur untuk pelebaran jalan, moga-moga nilai ganti ruginya tinggi. Lumayan…., waktu yang diperlukan untuk pulang pokok agak lebih cepat dibandingkan dengan skenario optimistik awal yang saya perkirakan.
Sementara di luar sana……., saya melihat bergentayangan sejuta kenampakan opportunities dari dunia lain yang dapat digarap lebih intensif lagi, guna mempercepat waktu yang diperlukan untuk mengembalikan seluruh modal saya di “Madurejo Swalayan”. Maka kiranya bukanlah hil yang mustahal untuk mewujudkan skenario tingkat penjualan yang “sangat optimistik”. Siapa tahu rencana ekspansi (kalau ada) dapat dilakukan dengan lebih cepat. God Willing………
Madurejo, Sleman – 7 Pebruari 2006
Yusuf Iskandar
Tag: business plan, modal kerja, omset, opportunities, optimistik, ritel, sabar menanti, the real business, visi, waralaba