Pak Rohani tidak dapat menyembunyikan butir air matanya ketika ia bercerita bagaimana ia dan istrinya lolos dari maut saat terjadi gempa dahsyat 27 Mei yang lalu. Pak Rohani dan istrinya saling berpelukan merunduk di belakang pintu rumahnya yang keburu roboh dan menimbun tubuh keduanya, ketika mereka berdua sedang berjuang lari keluar dari rumah pada detik-detik mematikan ketika bumi bergoncang hebat.
Itulah detik-detik dimana Pak Rohani dan istrinya berpacu dalam “injury time” (istilah ini saya gunakan kebetulan ada pesta Piala Dunia di Jerman). Saya hanya ingin sedikit mengulang cerita saya sebelumnya, bahwa kalau memang rumah yang kita tempati itu “layak” roboh akibat gempa, maka tidak ada satu hal pun yang dapat menundanya. Tidak juga Pak Rohani yang menyeret istrinya untuk segera keluar dari rumahnya.
Detik-detik “injury time” berlangsung dengan sangat cepat, dan kecepatan lari Pak Rohani dan istrinya ternyata tidak mampu mendahuluinya. Maka tertimbunlah mereka. Puji Syukur, mereka selamat dan akhirnya dapat keluar dari sela-sela reruntuhan rumahnya ketika gempa mereda. Tidak lama kemudian Pak Rohani tahu bahwa beberapa orang tetangganya bernasib sama, yaitu kerobohan rumahnya saat gempa terjadi. Namun nasib setelahnya tidak sama, beberapa orang tetangganya telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Kata-kata apa lagi yang dapat diucapkan oleh Pak Rohani dan istrinya, demi mengingat peristwa itu?
Pak Rohani adalah kepala dusun Kenaran, desa Sumberharjo, kecamatan Prambanan, kabupaten Sleman. Delapan orang warganya meninggal dan 115 rumah warganya roboh akibat gempa. Kini pak Kadus (kepala dusun) yang kebetulan juga seorang aktifis NU ini ditunjuk menjadi koordinator posko pengelola bantuan gempa di kampungnya. Semua warganya, kalau malam tiba kini masih tidur di tenda panjang yang dibangun di tengah jalan kampungnya.
Kalau kita sering mendengar atau membaca berita tentang para korban gempa yang masih tinggal di tenda-tenda darurat, jangan dibayangkan itu adalah tenda seperti tenda pramuka, pecinta alam, atau tenda tentara. Sebagian kecil di antaranya yang kebetulan sudah memperoleh bantuan tenda “beneran”, memang benar demikian. Namun lebih banyak lainnya adalah “tenda-tendaan” yang berupa bedeng-bedeng atau sekedar atap penutup yang terbuat dari plastik atau terpal dengan dinding seng bekas, tripleks atau penghalang apa saja yang dapat digunakan.
Hari-hari malam seperti sekarang ini, malam-malam purnama, udara cukup dingin. Jadi jangan tanyakan bagaimana mereka tidur mlungker bin ngeringkel berdesak-desakan. Bagaimana anak-anak dan bayi-bayi mereka tidur. Bagaimana mereka mengatasi hembusan angin dingin. Tapi juga jangan heran, kalau di bawah “tenda-tendaan” itu mereka yang pecandu bola masih bisa berjama’ah begadang menyaksikan siaran Piala Dunia, jam 20:00, jam 23:00 lalu jam 01:00 dini hari. Setidaknya mereka jadi tidak tidur kedinginan, melainkan kedinginn saja karena tidak tidur.
Dusun Kenaran, Sumberharjo, lokasinya sebenarnya tidak terlalu jauh dari jalan raya Prambanan – Piyungan, kira-kira masuk sejauh 4 km ke arah timur. Namun tidak terlihat dari jalan raya karena untuk mencapainya harus melalui jalan aspal kecil yang membelah kawasan persawahan. Dusun itulah yang menjadi tujuan pertama saya pada hari Sabtu siang kemarin untuk membagikan bantuan bahan makanan titipan dari seorang teman yang telah mentransfer uangnya kepada saya. Kebetulan saya menuju lokasi itu bersamaan dengan tim dari radio Gema Panca Marga Pacitan yang membagi-bagikan pakaian kaos ratusan lembar jumlahnya.
Dari desa Sumberharjo, saya yang disertai oleh anggota tim yang terdiri dari istri, anak pertama saya yang sedang menunggu hasil ujian nasional SMP-nya dan keponakan kecil yang masih berusia 2,5 tahun, berpindah menuju ke arah yang lebih selatan. Masih bersama tim dari Pacitan, kami menuju dusun Wanujoyo Lor dan Wanujoyo Kidul, desa Srimartani, kecamatan Piyungan, kabupaten Bantul. Lokasinya sekitar 2 km ke arah timur dari jalan raya Piyungan – Prambanan melalui jalan yang membelah kawasan persawahan. Bantuan ke dusun ini saya salurkan melalui posko yang ada di depan jalan masuk dan ada juga yang saya sampaikan langsung melalui seorang sesepuh kampung sambil saya berkendaraan mengelilingi dusun.
Dari jalan raya, desa ini tampak baik-baik saja. Namun kita baru tahu apa yang terjadi setelah benar-benar memasuki wilayah pedukuhannya. Sungguh membuat kita menahan nafas. Bisa dikatakan hampir semua rumah yang ada telah roboh, rusak berat dan tidak layak huni. Sebagian besar di antaranya benar-benar rata dengan tanah. Dari lebih 1400 jiwa penduduknya, sebanyak 37 orang meninggal dunia dan ratusan orang cedera yang sebagiannya kini masih dirawat di rumah sakit. Namun ada juga bayi-bayi yang lahir beberapa hari setelah gempa.
***
Perjalanan pendistribusian bantuan bahan makanan Sabtu sore kemarin kami lanjutkan ke arah lebih ke selatan lagi. Tepatnya ke jalan yang menuju kota Wonosari. Setelah melewati jalan berkelok-kelok menaiki bukit, kira-kira di Km 19, di kecamatan Patuk, saya berbelok ke arah barat daya memasuki jalan kecil yang menuju kecamatan Dlingo. Setelah menempuh jarak sekitar 6,5 km menyusuri pinggiran bukit Patuk, lalu masuk ke kiri melalui jalan kecil pas selebar kendaraan kira-kira sejauh 2 km. Dua pedukuhan yang lokasinya bersebelahan menjadi tujuan kami, yaitu Pencitrejo dan Ngenep, di kecamatan Terong.
Meskipun secara administratif kedua dusun ini termasuk wilayah kabupaten Bantul, tapi lokasinya cukup jauh dari kota Bantul yang gambar dan fotonya sering muncul di televisi atau di koran, karena lokasi kedua pedukuhan ini berbatasan dengan kabupaten Gunung Kidul. Saya yakin orang tidak akan tahu kalau di lokasi terpencil di balik perbukitan ini kondisinya juga sangat parah, kalau tidak mengunjunginya sendiri. Namanya juga di desa dan di perbukitan, rumah-rumah penduduknya tentu tidak berjejer-jejer seperti di kota, melainkan menyebar di mana-mana di balik-balik semak pepohonan.
Tampak di pinggiran jalan kampung adalah beberapa tenda yang didirikan di sela reruntuhan rumah. Di situlah kini mereka tinggal. Menurut Pak Mujimin, kepala dusun Ngenep, seluruh rumah warganya roboh, 40 rumah di antaranya ambruk-bruk seketika saat gempa terjadi. Beruntung hanya seorang yang meninggal, meski banyak yang cedera. Menyaksikan apa yang terjadi, terlalu sulit rasanya menerka-nerka perasaan seperti apa yang sedang dirasakan oleh mereka yang menjadi korban gempa. Kami yang menyaksikan seperti terlarut dalam kesedihan yang mereka sedang rasakan. Terlebih kaum ibu, hanya bisa istighfar (memohon ampun kepada Allah). Ya, kalau bukan karena ampunan-Nya, rasa kasih dan sayang dari siapa lagi yang bisa diharapkan…..
Pak Mujimin kini merasa masygul menatap rumahnya yang hampir rampung dibangun dengan susah payah itu ikut tumbang juga. Pasalnya, hari Jum’at sore sebelum gempa terjadi, ia baru menyelesaikan bagian terakhir teras rumahnya. Besoknya adalah hari pertama rumah barunya jadi, tentu saja rumah baru menurut ukuran kampungnya. Namun sayang, Yang Maha Kuasa kelihatannya tidak mengijinkan Pak Mujimin menyaksikan rumah barunya, begitu Pak Mujimin membahasakan pengalaman pedihnya. Belum tinggi matahari terbit, matanya masih dikucek-kucek, belum sempat kedua matanya menyaksikan dengan jelas rumahnya yang baru rampung dibangun, keburu ada gempa merobohkannya.
Sabtu sore kemarin itu sebenarnya saya juga ada rencana untuk mendistribusikan bantuan ke lembah yang lebih terpencil lagi, masih di desa Terong. Rencananya bahan makanan akan dilangsir dengan sepeda motor karena tidak ada jalan yang dapat dilalui mobil. Selama ini memang sudah ada bantuan yang diterjunkan dari helikopter, tapi tentu belum mencukupi. Namun mengingat hari sudah menjelang gelap, akhirnya saya batalkan rencana untuk langsung menuju lokasi.
Pendistribusian bantuan bahan makanan sore kemarin terpaksa saya cukupkan dulu, untuk dilanjutkan hari berikutnya. Tidak ada kata terlambat. Tidak akan pernah ada istilah terlambat untuk membantu mereka yang membutuhkan, lebih-lebih mereka yang tinggal di lokasi-lokasi yang sedikit dicapai orang.
***
Sampai di rumah saya baru ingat, hari Minggu ini ada acara kerja bakti di lingkungan tempat tinggal saya untuk membersihkan sisa-sisa reruntuhan yang masih teronggok di ujung jalan. Kampung juga perlu dibersihkan. Ya sudah, bersih-bersih kampung dulu. Insya Allah hari Senin pendistribusian bantuan akan dilanjutkan.
Umbulharjo,Yogyakarta – 11 Juni 2006
Yusuf Iskandar
Tag: bantul, Dlingo, Kenaran, Ngenep, Patuk, Pencitrejo, Piyungan, prambanan, sleman, Srimarani, Sumberharjo, Terong, Wanujoyo