Masih di malam pertama hari pertama pasca gempa, Sabtu malam Minggu menjelang tengah malam. Istri dan anak-anak sudah pada terlelap di teras rumah dan anak-anak kost pun sudah mulai ada yang mendengkur di garasi. Di luar masih gerimis rintik-rintik. Udara memang cukup dingin dari sebelumnya, angin pun semribit. Mata mulai riyip-riyip menahan kantuk, tapi tidur sambil duduk tidak bisa lepas dan leluasa. Ya gara-gara isu gempa dahsyat yang katanya mau nyambangi lagi.
Gempa susulan berintensitas kecil sesekali menggangu kenyamanan tidur semua orang. Setiap kali ada gemuruh lembut dan bumi bergoyang kecil, seperti dikomando semua orang njenggirat bangkit dari tidurnya. Siap-siap kabur kalau-kalau intensitasnya meningkat besar. Saya pikir hanya kami yang bertingkah seperti itu. Esoknya semua orang saling bertukar cerita dan rupanya semua orang pula berperilaku yang sama pada malam itu.
Efek traumatis gempa Sabtu pagi memang luar biasa. Sampai-sampai sedemikian sensitifnya panca indra setiap orang hingga setiap kali ada suara sedikit gemuruh atau entah bunyi apa yang mengagetkan, spontan gerak refleks bereaksi untuk siap-siap lari. Tidak sedikit pula yang lari sungguhan karena khawatir bunyi itu adalah gempa yang datang kembali. Dan ini nyata terjadi serta dialami oleh hampir setiap orang. Situasi seperti itu berlangsung sampai berhari-hari pasca gempa. Ada yang bisa cepat pulih dari tekanan rasa panik, ada yang sampai berhari-hari sulit untuk me-recovery ketenangan psikologisnya. Anak-anak adalah mereka yang paling berat beban trauma psikologisnya.
Anak seorang teman hingga seminggu pasca gempa masih takut masuk rumah. Ada lagi yang selalu menghindar dari berita gempa di televisi. Ada lain lagi yang tidak suka mendengar orang membicarakan soal gempa. Bisa dibayangkan bagaimana dengan anak-anak yang benar-benar menjadi korban gempa. Maka tidak berlebihan kalau para pakar seringkali mengatakan agar jangan menyepelekan trauma psikologis yang dialami oleh anak-anak korban gempa. Semua itu memang nyata adanya.
***
Sekira menjelang tengah malam hari pertama, agaknya jalur komunikasi telepon seluler mulai lebih normal. Justru pada saat mata hendak dipejamkan, SMS mulai pathing pecotot berhamburan di HP. Menilik jam pengirimannya, SMS-SMS itu dikirim pada siang hari dan baru bisa diterima malam hari. Belakangan hari teman-teman mengeluh katanya handphone-nya susah sekali dihubungi. Begitulah adanya.
Belum selesai membalas satu SMS, sekian SMS lagi menyusul masuk. Begitu seterusnya. Akhirnya saya pikir-pikir, bisa-bisa saya tidak tidur semalaman kalau mesti menjawab SMS satu per satu. Padahal malam itu ada puluhan SMS yang berduyun-duyun ngebaki (memenuhi) HP. Akhirnya saya buat format balasan standar. Toh nada pertanyaannya hampir sama, yaitu menanyakan bagaimana kabar keluarga akibat gempa.
Kemudian saya tulislah bunyi balasan standar, saya simpan sebagai template. Maka untuk membalas SMS, saya tinggal buka template, lalu : “Kirim”. Hanya untuk jenis pertanyaan dan pengirim tertentu yang perlu dikecualikan untuk dijawab tidak menggunakan template. Wajar saja, dimana-mana ya selalu ada pengecualian. Selama tidak dengan maksud diskriminatif, melainkan kepatutan etika saja.
Jadi ya mohon hal yang seperti ini dimaklumi oleh para pengirim SMS. Tanpa mengurangi rasa apresiasi dan terima kasih kepada rekan dan saudara yang telah berkirim SMS. Namun setidak-tidaknya SMS balasan itu tetap keluar dari nomor HP saya dan hasil pencetan jempol saya (terkadang sambil ngantuk). Bukan mesin penjawab otomatis atau SMS server seperti pada program berhadiah di televisi, kuis tapi judi atau judi berwajah kuis, yang untuk megirimnya terkena bayaran premium. Menang syukur, tidak menang ya paling pulsa berkurang “enggak seberapa”. Lain kali dicoba “berjudi” lagi…, di televisi, diselenggarakan oleh lembaga yang diakui pemerintah. Tapi, kapakno-kapak (diapa-apakan) ya tetap saja judi… Begitulah yang saya lakukan. Bukan berjudinya, tapi cara menjawab SMS yang tumpuk-undung di Inbox HP.
Masalah membalas puluhan SMS teratasi? Belum! Pasalnya, cilakak dua belas….., pulsa mulai menipis. Terpaksa harus ada yang disisakan sedikit untuk antisipasi kalau-kalau ada hal mendesak yang membutuhkan komunikasi keluar. Itu karena di rumah saya belum terpasang tilpun telkom rumahan (PSTN). Solusinya, saya coba membalas SMS dengan meminjam menggunakan HP istri, lalu nempil (pinjam) pulsa HP kepunyaan anak saya. Lama-lama, semua pulsa menipis. Kesal juga. Tapi mau kesal sama siapa?. SMS banyak masuk tapi hanya bisa membacanya tanpa bisa membalasnya. Si pengirim SMS pasti menunggu kepingin tahu kabar kami. Ya sudah, SMS-SMS itu dipenthelengi (ditatap) saja. Maunya nggrundel, kenapa pulsa-pulsa tinggal sedikit, bukannya dari kemarin dijog (diisi ulang). Jawabannya valid : “Habis tidak tahu kalau mau ada gempa…..”.
Lewat tengah malam nada khusus HP saya masih saja memancarkan bunyi morse : “tit-tit-tit … tiiiiit-tiiiiit … tit-tit-tit”. Terjemahannya : “Pak, pak, ada essemmess pak…”. Ah, saya tinggal tidur saja…, sambil duduk di atas kursi bambu yang saya beli di Jombor setahun yang lalu. Sambil menanti Ontorejo yang sedang amblas bumi menggeliat kembali pada jam dua atau tiga dini hari. Siwalan itu isu…..!
Umbulharjo, Yogyakarta – 7 Juni 2006
Yusuf Iskandar
Tag: anak-anak, gempa, HP, isu, judi, Ontorejo, pulsa, SMS, susulan, template, trauma