Di bawah cuaca hujan kecil-kecil, akhirnya burung besi itu terbang juga meninggalkan Yogyakarta menuju Balikpapan. Pesawat baru Airbus 319 milik maskapai Mandala Air yang saya tumpangi sore itu memang tampak sekali masih terasa kinyis-kinyis dan bau toko.
Jog tempat duduknya masih terlihat bersih, warna dinding-dindingnya masih cerah dan belum berubah kusam, lumen lampu penerangnya masih terang, interior dalamnya juga terkesan mewah, sistem halo-halonya juga kedengaran empuk dan pas. Juga piranti peraga penyelamatan masih terlihat gres. Raungan deru mesin pesawatnya pun kedengaran halus (tapi ya tetap saja menderu, wong namanya juga pesawat). Singkat kata, nyaman sekali rasanya duduk di dalam pesawat baru itu dan siap terbang bersama Mandala.
Perasaan kurang nyaman yang biasanya selalu menyertai bila terbang dengan pesawat non-Garuda seolah-olah termanipulasi (meskipun naik Garuda juga tidak selalu nyaman). Rasanya Mandala Air pantas berbangga dengan pesawat barunya yang masih seumur jagung (dalam arti yang sebenarnya, yaitu 3,5 bulan). Seiring dengan perubahan di bawah manajemen barunya, dan juga logo barunya yang berbentuk segi delapan (lebih menyerupai delapan kubah masjid) berwarna keemasan di bagian luarnya dan biru di dalamnya, lalu di tengahnya adalah lima bunga berwarna biru muda (bangunan simetri yang dipaksakan sebenarnya, wong luarnya segi delapan kok dalamnya lima…..). Ya sudah, pokoknya logo baru, karena logo itu perlu.
Tentu hal yang menggembirakan kalau ternyata maskapai lain juga mulai menyadari bahwa memiliki pesawat baru itu sudah sepantasnya menyertai strategi bisnis jasa angkutan udara yang semakin kompetitif dan dibutuhkan, tapi sering diolok-olok tidak semakin aman.
Tiba di bandara Sepinggan, Balikpapan, hari sudah gelap. Saat landing biasanya menjadi detik-detik mendebarkan, karena yang sudah-sudah tidak banyak sopir-sopir pesawat yang piawai mendaratkan pesawatnya dengan halus mulus. Tapi dengan menaiki pesawat baru, perasaan itu seolah terlupakan. Mestinya ya akan mendarat dengan mulus pula.
Ee…, tapi rupanya prasangka baik saya salah. Tahu-tahu mak jedug….., burung besi itu menghentak bumi, ndlosor menginjakkan kakinya di landasan Sepinggan. Kalau ini jelas faktor keahlian sopirnya. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan baru atau tidaknya pesawat. Meski hari sudah malam, tapi cuaca di Balikpapan sedang cerah-benderah.
Meskipun demikian, keseluruhan kesan yang saya rasakan terbang dengan pesawat baru memang cukup membawa kenyamanan dan ketenangan. Lebih-lebih pada saat sebelum terbang, sang pilot yang kalau menilik namanya pasti berasal dari Sumatera Utara, mengajak para penumpang untuk berdoa menurut iman dan kepercayaan masng-masing, layaknya Pak RT yang akan memimpin rapat kampung. Ajakan yang Indonesia bangeth…! (pakai ‘h’ di belakangnya), tapi sungguh ajakan yang simpatik.
Seandainya penumpang pesawat dapat memilih sebelum menaiki pesawat seperti halnya memilih bis atau taksi yang bagus atau baru, tentu semua penumpang akan berebut pesawat yang baru. Hanya memilih yang tidak mak jedug saja, yang hanya Tuhan dan sopirnya (sopir pesawat maksudnya) yang tahu…..
Balikpapan, 7 Januari 2008
Yusuf Iskandar
Tag: airbus 319, mandala, maskapai, pesawat baru, pilot, sepinggan, yogyakarta