Menyelesaikan Lintasan Terberat
Meninggalkan Pos 2 menuju Pos 3, perjalanan pendakian mulai terasa lebih ngos-ngosan. Rute pendakian boleh dibilang mulai merambah lereng bebatuan, tapi belum ekstrim. Mulai banyak kelokan. Di banyak tempat dibuat undak-undakan (menyerupai tangga tapi tidak terlalu rapat), guna mengatasi kondisi permukaan jalan yang kemiringannya mulai meninggi.
Di penggal rute dari Pos 2 ke Pos 3 ini meski tanjakan mulai terjal, biasanya pendaki masih mampu berjalan dengan menjaga ritme langkah yang teratur dan kontinyu. Tetapi perlu kehati-hatian, sebab pada saat hujan kondisi jalan bebatuan ini menjadi agak licin. Pada rute ini terkadang hamparan kabut mulai menghalang. Pemandangan di sisi kanan yang umumnya dinding bebatuan akan terlihat indah di saat cuaca cerah seperti yang kami nikmati siang itu (memang ya diperlukan sense tersendiri untuk bisa mengatakan hal ini, wong dinding batuan kok dibilang indah…..). Sedangkan pemandangan di sisi kiri adalah hamparan jurang yang membentang jauh ke lembah.
Akhirnya sampai juga kami ke Pos 3 (Watu Gede). Langsung saja duduk ndeprok….., menyelonjorkan kaki, melepas gendongan perbekalan, ngeluk boyok (menggeliat), menghela nafas panjang, menikmati hawa dingin pegunungan. Tapi kami mulai was-was, sebab cuaca berubah cepat menjadi muram, mendung, berkabut dan kepyuran gerimis sudah terasa.
Di Pos 3 terdapat bangunan pondok yang terlihat mulai agak rusak. Tapi masih layak untuk dijadikan tempat berlindung di kala hujan dan angin dingin menyerang. Hanya saja kondisi bagian dalamnya tampak kotor, sehingga kami hanya beristirahat di depannya saja. Kawasan di seputar Pos 3 ini cukup longgar dan leluasa untuk beristirahat.
Mendongakkan kepala ke arah atas melihat jalur pendakian selanjutnya, terlihat lereng pegunungan yang jelas sekali akan semakin terjal. Mental dan fisik harus mulai disiapkan menjelang penggal lntasan pendakian setelah Pos 3 ini. Kami juga sudah membawa bekal air minum yang cukup. Menurut informasi, di seputar area Pos 3 ada sumber air yang disebut Sendang Panguripan. Ini juga salah satu tempat yang dikeramatkan orang dan karena itu sering menjadi tujuan para peziarah. Entah siapa yang diziarahi, wong tidak ada kuburannya siapa-siapa.
***
Tidak terlalu lama kami berhenti di Pos 3. Secukupnya saja untuk mengembalikan irama nafas dan denyut nadi. Bau belerang sesekali tercium tajam dari tempat ini. Selain itu, berubah muramnya cuaca sempat membuat khawatir. Jangan-jangan alam akan segera berubah tidak bersahabat dengan hujan deras dan angin kencang seperti kemarin sore hingga malam. Padahal untuk mencapai Hargo Dalem sebagai tujuan akhir sore itu masih lumayan jauh dan tinggi. Kalau situasi itu sampai terjadi, bisa merepotkan karena setelah Pos 3 ini tidak ada bangunan yang bisa dijadikan tempat berlindung hingga tiba di Sendang Drajat, selewat Pos 5.
Segera kami menempuh jalan yang semakin ndedel.…. (naik terjal) dan berkelok-kelok. Banyaknya kelokan ini dimaksudkan untuk mengurangi kemiringan jalan dibanding kalau mesti lurus mendaki. Jalan bebatuan pun semakin menyerupai deretan anak tangga yang membentang zig-zag dan sangat tinggi entah menuju kemana. Di beberapa penggal jalan terlihat bekas jalan pintas bagi mereka yang tidak sabar berjalan zig-zag. Tentu ini sangat berbahaya ketika kondisinya basah dan licin.
Di sebagian besar lintasa zig-zag dan terjal mendaki ini sejak beberapa tahun terakhir sudah dipasangi dengan tiang dan besi pegangan. Tujuannya tentu sebagai pagar pengaman. Sebab rute jalan batu ini benar-benar menyusuri lereng gunung yang sangat curam kemiringannya. Tinggi undak-undakan-nya terkadang tidak proporsional, kelewat tinggi. Di beberapa lokasi kondisi susunan batunya juga lepas-lepas dan licin. Menjadi sangat berbahaya bila kondisi sedang hujan.
Terbayang seperti apa situasinya ketika tiba “musim pendakian”, antara lain ketika bulan Suro (Tahun Baru Hijriyah) tiba. Tentu sangat padat, berdesak-desakan dan membahayakan jika tidak hati-hati. Belum lagi banyak kaum sepuh yang turut ambil bagian sebagai peziarah-pendaki atau pendaki-peziarah.
Ketika cuaca sedang cerah sebenarnya pemandangannya cukup menawan, gunung batu di satu sisi dan jurang di sisi lainnya. Seperti yang kami lihat siang itu, ketika sesekali cuaca cerah menyeruak silih berganti dengan cuaca mendung dan berkabut.
Inilah penggal jalan pendakian yang paling melelahkan dan banyak menguras tenaga. Padahal jarak antara Pos 3 ke Pos 4 ini hanya sekitar dua atau tiga ratusan meter saja. Tapi sepertinya nggaaaak… sampai-sampai…….
Nampaknya usia memang sudah tidak bisa dibohongi, setiap beberapa belas atau terkadang puluh meter mendaki undak-undakan batu, harus berhenti dulu mengatur irama nafas dan membasahi tenggorokan dengan air minum. Membawa sekedar permen juga cukup membantu mengatasi keringnya tenggorokan. Meskipun bolehlah sedikit sombang kalau saya masih bisa mengimbangi ritme kecepatan pendaki-pendaki muda. Setidak-tidaknya memberi semangat kepada anak saya, Noval, yang mulai tertatih-tatih menjalani lintasan terberat.
Beberapa kali saya harus mengingatkan Noval agar jangan memaksakan diri. Berhentilah ketika merasa capek dan lelah, meski untuk itu harus melangkah sepuluh meter demi sepuluh meter, begitu yang saya katakan kepada Noval. Demi melihat wajahnya yang masih sumringah dan tidak pucat, saya menangkap sinyal bahwa semangatnya masih membara. Saya pun masih yakin Noval mampu melakukannya.
Nafas semakin tersengal-sengal tapi masih undercontrol. Setiap kali memandang ke arah atas, sepertinya sudah dekat mau sampai. Tapi begitu dijalani beberapa belas meter, ya begitu lagi kelihatannya….., sepertinya sudah mau sampai. Begitu terus kenampakannya berulang dan tidak sampai-sampai. Belasan kali Noval bertanya : “Masih jauh, pak?”, “Berapa meter lagi ya pak”, “Sudah hampir sampai ya?”, “Kok enggak sampai-sampai ya pak?”.
Saya pun terkadang harus sedikit berbohong untuk memberi dorongan moril dengan menjawab menggunakan kata-kata yang memompa semangatnya, dengan terus mendampingi langkah-langkah kecilnya.
Beberapa kali kami berpapasan dengan rombongan pendaki lain yang sudah turun dari puncak. Mereka pun biasanya akan “dengan senang hati” memberikan dorongan semangat kepada para pendaki yang sedang ngos-ngosan mendaki jalur terberat ini. Kata-kata positif yang sering saya dengar adalah seperti : “Sebentar lagi sampai…”, “Beberapa tanjakan lagi jalan mendatar”, “Sudah dekat kok”, dsb. Meskipun nyatanya setelah dijalani, ya tetap saja, enggaaaak…. sampai-sampai…..
Beberapa kali Noval berhenti lalu terkapar merebahkan badannya, lalu berjalan lagi, berhenti lagi, begitu berulang-ulang. Namun kami masih bisa ketawa-ketiwi. Sesekali saya sisipkan gurauan kepada Noval : “Ternyata mendaki gunung itu enggak enak ya…..”. Noval pun dengan nafas terengah-engah membalas : “Iya, tapi saya suka…”. Ini dia.! Dalam hati saya berkata, inilah tanda-tanda awal kecanduan mendaki gunung.
Tapi justru itulah yang membuat saya yakin, yang membangkitkan semangat tidak mudah menyerah. Terus dan terus mendaki, selangkah demi selangkah menyusuri jalan undak-undakan batu sambil bepegangan pagar besi yang sepertinya tak berujung, yang kalau memandang ke atas seolah-olah sedang menuju ke tempat yang jauuuh…. ke atas langit tingkat tujuh, atau delapan, atau sembilan……
Sesekali Noval bilang : “Bapak duluan saja, nanti saya nyusul……”. Tentu saja “perintahnya” tidak saya penuhi. Lha wong tujuan saya ikut mendaki adalah untuk mendampingi dia, kok malah disuruh jalan duluan…..
Akhirnya sampailah kami di sebuah dataran yang disebut Pos 4, disertai cuaca mendung, berkabut, berangin cukup kuat, dingin dan mulai gerimis. Tepat di lereng tenggara gunung Lawu. Dan, lintasan terberat pun telah berhasil kami selesaikan.
Yusuf Iskandar
Tag: hago dalem, lawu, mendaki, sendang panguripan, suro, terberat, terjal, watu gede, zig-zag
