
Summit Attack Di Pagi Hari
Hari baru tahun 2008. Cuaca pagi sangat muram. Dingin, berkabut, gerimis, angin semribit dan tidak menampakkan tanda-tanda bakal segera cerah. Rencana semula hendak menyaksikan fajar baru menyingsing di puncak gunung Lawu jelas tidak bakal terpenuhi. Boro-boro menyingsingkan fajar baru, menyingsingkan lengan baju sendiri saja tidak berani.
Dalam suasana seperti itu yang paling enak ya menjerang air, menyiapkan sarapan pagi, dan ngopi dulu ahhh…… Setelah itu baru memaksakan semangat untuk mulai bergerak menuju puncak yang kira-kira masih 95 meter lagi tingginya dari Hargo Dalem. Kami membawa perbekalan seperlunya saja agar tidak memberati perjalanan tahap akhir menuju puncak. Perbekalan dan perlengkapan lainnya ditinggal dulu dan disimpan di dalam bedeng untuk nanti dikemas dan digendong lagi sebelum turun gunung.
Sekitar jam 6 pagi lebih sedikit, kami tinggalkan bedeng untuk mulai menyusuri jalan setapak menuju puncak. Kini, tidak ada lagi jalan berbatu. Kondisi jalan tanah juga agak licin, di sela-sela vegetasi jenis rerumputan, ilalang dan tidak banyak semak-belukar. Kemiringan lerengnya lumayan agak terjal tapi tidak seterjal kemarin, sehingga memungkinkan bagi kami berjalan agak cepat pagi itu. Juga entah kenapa, seperti ada dorongan kuat untuk melangkah lebih cepat.
Menjelang tiba di puncak, tiba-tiba hujan turun. Sebenarnya ya bukan tiba-tiba, wong sudah dapat diperkirakan sebelumnya. Kami semakin bergegas agar segera tiba di puncak. Sambil tetap ngos-ngosan karena semakin tipisnya kadar oksigen di ketinggian, sambil sesekali berhenti sebentar untuk menata nafas, sampai juga akhirnya ke sebuah tempat agak datar di atas gunung.
Sekitar 20 meter sebelum puncak, hujan dan angin benar-benar tidak bisa berkompromi lagi. Untungnya, di atas sana ada bedeng kecil yang letaknya agak tersembunyi di balik dinding batu. Entah siapa yang punya ide membangun bedengan di atas sana. Yang jelas, tempat itu sangat membantu menjadi tempat berlindung sementara. Kami pun berteduh di seputar bagian luar bedeng kecil itu, karena rupanya di dalamnya sudah ada orang. Selain kami berempat, masih ada pendaki lain yang juga berteduh di sekitar luar bedeng.
Kuatnya tiupan angin yang tak juga kunjung reda membuat air hujan tetap tampias membasahi badan. Tentu saja kami tidak bisa berlama-lama di tempat itu sementara tubuh tetap terkena kepyuran air hujan. Maka kami putuskan untuk segera saja melanjutkan perjalanan menuju puncak.
Summit attack atau pendakian mencapai puncak segera kami lanjutkan di bawah siraman hujan dan terpaan angin dingin yang berhembus semakin kuat. Ternyata puncak gunung Lawu hanya berjarak beberapa belas langkah saja dari bedeng.
Alhamdulillah….., puji Tuhan……, akhirnya puncak gunung Lawu berhasil juga kami capai pada pagi hari itu, pada ketinggian 3625 meter dpl (di atas permukaan laut). Meski tidak berhasil menjadi saksi atas terbitnya fajar baru, tapi kami berhasil mengawali hari baru 2008 di puncak Lawu.
Ada terpancar rona kepuasan dan kebanggaan di wajah-wajah kami. Lebih-lebih bagi Noval. Perjuangannya untuk mendaki tertatih-tatih dan tergelepar-gelepar kemarin tidaklah sia-sia. Noval berhasil mewujudkan tekad dan impiannya untuk mencapai puncak Lawu.
***
Puncak tertinggi gunung Lawu yang disebut dengan Hargo Dumilah ini ditandai dengan adanya sebuah bangunan tugu kira-kira setinggi dua meteran, berdiri di atas lantai dengan lima undak-undakan. Di ujung tugu sudah terpasang bendera Sang Merah Putih, entah siapa yang memasangnya. Agaknya tugu ini adalah bangunan baru, karena katanya tugu yang lama hancur dan roboh digoyang gempa Yogya, 27 Mei 2006 (rupanya sang gempa pun turut naik ke puncak Lawu…..).
Bangunan tugu puncak Lawu yang baru itu, meski sudah aman dari gempa tapi rupanya tidak aman dari tangan jahil aktifitas vandalisme. Aneka ria coretan tangan iseng tapi pasti sudah direncanakan, mewarnai bangunan tugu (para pemilik tangan itu pasti sengaja membawa cat sejak sebelum mendaki). Anehnya lagi, di bagian atas tugu terpampang papan reklame dari “topnya buku tulis”. Saya tidak tahu apakah tugu itu dibangun dengan dana sponsor atau sponsor yang numpang ngetop di puncak Lawu.
Sayang sekali cuaca pagi itu sungguh tidak menguntungkan. Kami hanya bisa memandang sekeliling kawasan puncak dengan jarak pandang sangat terbatas karena tertutup kabut tebal dan merata di semua penjuru arah mata angin. Pesona indah laut selatan yang seharusnya tampak dari puncak Lawu tidak terlihat sama sekali. Demikian pula kota-kota dan kawasan dataran rendah yang ada di seputaran gunung Lawu juga tidak dapat dinikmati pemandangannya. Bentang alam danau Kuning yang sebenarnya berada tidak jauh di selatan puncak Lawu juga hilang dari pandangan.
Gerimis masih menyertai kami di puncak. Juga angin kencang dan udara yang sangat dingin tidak juga surut menyelimuti. Dan karena saking dinginnya itu kami pun merasa tidak mampu bertahan lama berada di puncak. Setelah mengabadikan momen historis selagi berada di puncak Lawu, kami lalu memutuskan untuk segera saja turun dan kembali ke Hargo Dalem, tempat dimana barang bawaan kami tinggalkan selama melakukan pendakian menuju puncak.
Yusuf Iskandar
Tag: bedeng, hargo dalem, hargo dumilah, puncak lawu, summit attack, tahun baru 2008, tugu
15 Mei 2008 pukul 15:52:34 |
salut atas catpernya pak…jadi kangen sama lawu…
29 Juli 2008 pukul 13:06:37 |
gununglawu yg kusayang….
entah berapakali sy nyampe puncaknya…
yg jelas setelah saya dan istri saya kesana kami bertekad akan memberi nama anak kami kelak dengan sebutan HARGO
nama anak kami RANUHARGO
mantab pak ceritanya, thanks sharingnya
29 Juli 2008 pukul 19:21:09 |
Asyik juga kalau sempat mendaki bersama istri. Jangan-jangan nanti Ranuhargo juga mengikuti jejak ortunya….. Salam
15 Oktober 2008 pukul 17:04:30 |
i love lawu
23 Oktober 2008 pukul 19:41:32 |
asyik ke lawu, antara sensasi naik gunung dan mistik campur aduk..terakhir sy naik tahun 2004…dan nongkrongin cemoro kandang sama keluarga tahun 2008 ini…cuma mandangin aja hargo Dumilah sambil nyemil fresh strawberry yang dipetik di depan masjid..
btw, pak yusuf ke lawu gak ngalap berkah utk madurejo – nya kan? hehehe …
25 Oktober 2008 pukul 17:10:48 |
@ Mbak Rita :
Tadinya ya mau ngalap berkah….. Tapi setelah berkahnya di-ngalap kemana-mana tidak ketemu juga, sampai di balik-balik batu, sela-sela rerumputan, lereng dan tebing, enggak juga ketemu…. Yo wis, balik maning ke Jogja. Bikin berkah sendiri saja lalu biarkan di-ngalap sama pegawai-pegawai Madurejo…. Terima kasih & Salam.
17 Desember 2008 pukul 5:42:31 |
Pengen k kawahnya… tapi kawahny gag bisa didekati coz dlm jurang…
29 Maret 2009 pukul 20:23:41 |
Jadi pingin naik nih.., sblumnya hny naik bromo, padahal aku orang ngawi ,tapi naik gunung bromo.
29 Maret 2009 pukul 20:25:43 |
Jadi pingin naik nih.., sblumnya hny naik bromo, padahal aku orang ngawi ,tapi naik gunung bromo. He2..3x
2 April 2009 pukul 8:50:22 |
Mendaki gunung selalu menjadi aktivitas yang menarik sekaligus menantang. Di sana ada pelajaran tentang manajemen yang sangat bagus. Selamat mendaki…
22 Juni 2009 pukul 12:47:12 |
hebat juga dengan bapak, bisa sampai ke puncak,selamat ya. saya dan teman2 hanya sampai pos 4, tapi bersukur bisa liat matahari terbit, karena semalaman kehujanan, membuat kondisi fisik yg loyo akhirnya kita turun, karena TUJUAN NAIK GUNUNG ADALAH TURUN GUNUNG…. kan gitu pak..
22 Juni 2009 pukul 13:35:00 |
He..he.., jangan nyerah mas Kriswan. Lain kesempatan diulang kembali. Asyik dan luar biasa lho…. Slm.
3 Juli 2009 pukul 15:24:44 |
lawu yg slalu ku rindu,ktika itu demi setapak aku lalui pndakianku brsama anak2 masjid,prjalanan yg mengasikkn trkdang ksedihan juga menimpa ktika harus brjumpa dgn pmbukaan lahan tuk ditanami sayuran pdhal kwasan hutan yg shrusnya dilindungi tkutnya jdi brakibat bncana.Stop tuk penggundulan hutan…
lawu yg ku rindu,masihkah sprti yg dulu,sun rise yg sngt indah,anugrah terindah yg tlah diberikan oleh tuhan…
20 Agustus 2009 pukul 17:41:08 |
saya senang banget bisa ke puncak lawu walau pun sehari semalam tak tidur+dingin+capek+laper..bersama temen2 ketika perpisahan sekolah STM MUHAMMADIYAH 4 WONOGIRI..bersama supri.mistink.amat,wahyudi,pak didik,bakori,rahmat dan lain2,,,,walaupun capek,tapi sampe puncat…..indah banget..capekpun hilang,,,HIDUP GUNUNG LAWU KU SAYANG….AKU MERINDUKANMU……..
4 September 2009 pukul 12:45:37 |
wah jadi pingin crying, lama tak ku daki membuat hatiku rindu, lawuku yg telahlama ku tinggal, sobat2 yg hilang tinggal kenangan indah yang kupunya jaya slalu LAWU KU hidup LAWU salam sobat2 alam , salam dariku SABAGIRINAGO always
14 September 2009 pukul 22:47:10 |
Melakukan perjalanan pendakian, meski tidak dg sahabat2 lama, bisa jadi menjadi kenangan indah, sekaligus memperbaharui kembali arti persahabatan… Salam.
6 September 2009 pukul 17:26:51 |
gw pernah th ksana dan alamin hal yg sama, naik 6 kali cuma sampai puncak 1kali, salam buat anak AGL asik asik. .skarang udah 6 thn nga naik .udah merid tungu anak gd dulu
14 September 2009 pukul 22:44:45 |
Siapa tahu nanti ananya jg punya hobi sama. Salam..
15 September 2009 pukul 17:44:59 |
boss boleh minta data tentang lawu…saya Insya Allah liburan lebaran sekarang mau ada pendakian kesana…pliss reply yakkk…watur nuhun bosss…oiya saya asli bandung kl boleh sekalian aja yakk info trasportasi dari bandung ampe kesana…thx
25 September 2009 pukul 19:22:40 |
Mas Ary,
Waduh maaf banget sy telat membalasnya. Pendakian ke Lawu sebenarnya tidak terlalu sulit. Medannya relatif mudah, meski cukup terjal. Asal bisa sampai ke Cemorosewu, maka di sana ada petunjuk yang sangat membantu. Kebetulan anak saya (Noval) hari ini bersama 4 orang teman SMA-nya juga mendaki ke Lawu. Klo dr Bandung naik KA turun stasiun Solo Balapan dan klo naik bis turun terminal Tirtonadi. Lalu disambung naik bis menuju Tawangmangu (7000 rp), ganti angkutan kecil menuju Cemorosewu (5000 rp), langsung ke pos pendakian. Selamat mendaki. Sekali lagi mohon maaf telat membalasnya.
6 November 2009 pukul 15:33:43 |
Saya baru beberapa bulan lalu dari sana berdua sama brother saya….
Dulu pertama kali muncak di sana pas lagi ada upacara adat yang kental dengan aroma mistis dan kejawen…. Dan saya menyaksikan tugu hargodumilah itu dijadikan tempat thawaf orang-orang yang sedang mengadakan prosesi itu.
Selesai mereka thawaf dan pergi akhirnya saya pun bertengger di atas tugu juga he..he
7 November 2009 pukul 18:53:09 |
Lawu memang sarat dg urusan hajat manusia yg berbau-bau mistis. Trims sharing-nya…. Salam.
28 November 2009 pukul 14:31:39 |
salam kenal om,saya terakhir ke lawu kalo tdk salah thn 2007 naik dari kandang turun di sewu,,ngomong2 papan reklame gambar wanita berjilbab di cemoro kandang gambar siapa si om??saya sdh kangen mo hiking lagi tapi apa daya pekerjaan sdh menunggu…!!!Tq om saya dari jakarta……………….HIKING is my favourite.
28 November 2009 pukul 19:35:14 |
Waduh, ttg papan reklame saya tidak tahu…
Selamat mas…., moga2 ada kesempatan berikutnya buat hiking lagi dan lagi…. Tks & Slm.
4 Desember 2009 pukul 22:12:09 |
mendaki gunung lewati lembah,,,,
gunung tempat ku berteduh disaat haus,
10 Desember 2009 pukul 23:37:13 |
Ak jd inget dulu wkt kali ptama nyampe puncak lawu, gila bner2 gila.
Exited bngt!!!
Jadi kngen pngin lagi ksana, tapi kpn ya????
ehmmmmm…
11 Desember 2009 pukul 9:13:19 |
Enjoy, mas Harry….
12 Desember 2009 pukul 4:50:15 |
Lawu memang selalu menjadi kenangan yang indah..terakhir saya naik tahun 2008 pada bulan suro. inginnya tiap tahun.mungkin pada tahun 2009 ini dan pada bulan suro yang jatuh pada tgl.18 des..saya ingin sekali naik lagi mungkin sekalian tahun baruan di puncak..saalam dari kami di jakarta
12 Desember 2009 pukul 7:33:48 |
Selamat, Cak. Akhir tahun ini saya sendiri belum punya agenda yang pasti mau naik kemana, masih rundingan dengan anak saya…. he..he.. Terima kasih & salam….
12 Desember 2009 pukul 20:43:05 |
lawu is the best,,,penuh kenangan di atas puncak lawu
27 Desember 2009 pukul 16:50:14 |
halo abang”smua klo mw mndaki gunung lawu ajak w donk nich alamat e-mail gw….
gw tnggu ya…
(kardusband@ymail.com)