Menggapai Fajar Baru Di Puncak Lawu (9)

By madurejo

Noval_Di_Puncak_Lawu

Summit Attack Di Pagi Hari

Hari baru tahun 2008. Cuaca pagi sangat muram. Dingin, berkabut, gerimis, angin semribit dan tidak menampakkan tanda-tanda bakal segera cerah. Rencana semula hendak menyaksikan fajar baru menyingsing di puncak gunung Lawu jelas tidak bakal terpenuhi. Boro-boro menyingsingkan fajar baru, menyingsingkan lengan baju sendiri saja tidak berani.

Dalam suasana seperti itu yang paling enak ya menjerang air, menyiapkan sarapan pagi, dan ngopi dulu ahhh…… Setelah itu baru memaksakan semangat untuk mulai bergerak menuju puncak yang kira-kira masih 95 meter lagi tingginya dari Hargo Dalem. Kami membawa perbekalan seperlunya saja agar tidak memberati perjalanan tahap akhir menuju puncak. Perbekalan dan perlengkapan lainnya ditinggal dulu dan disimpan di dalam bedeng untuk nanti dikemas dan digendong lagi sebelum turun gunung.

Sekitar jam 6 pagi lebih sedikit, kami tinggalkan bedeng untuk mulai menyusuri jalan setapak menuju puncak. Kini, tidak ada lagi jalan berbatu. Kondisi jalan tanah juga agak licin, di sela-sela vegetasi jenis rerumputan, ilalang dan tidak banyak semak-belukar. Kemiringan lerengnya lumayan agak terjal tapi tidak seterjal kemarin, sehingga memungkinkan bagi kami berjalan agak cepat pagi itu. Juga entah kenapa, seperti ada dorongan kuat untuk melangkah lebih cepat.

Menjelang tiba di puncak, tiba-tiba hujan turun. Sebenarnya ya bukan tiba-tiba, wong sudah dapat diperkirakan sebelumnya. Kami semakin bergegas agar segera tiba di puncak. Sambil tetap ngos-ngosan karena semakin tipisnya kadar oksigen di ketinggian, sambil sesekali berhenti sebentar untuk menata nafas, sampai juga akhirnya ke sebuah tempat agak datar di atas gunung.

Sekitar 20 meter sebelum puncak, hujan dan angin benar-benar tidak bisa berkompromi lagi. Untungnya, di atas sana ada bedeng kecil yang letaknya agak tersembunyi di balik dinding batu. Entah siapa yang punya ide membangun bedengan di atas sana. Yang jelas, tempat itu sangat membantu menjadi tempat berlindung sementara. Kami pun berteduh di seputar bagian luar bedeng kecil itu, karena rupanya di dalamnya sudah ada orang. Selain kami berempat, masih ada pendaki lain yang juga berteduh di sekitar luar bedeng.

Kuatnya tiupan angin yang tak juga kunjung reda membuat air hujan tetap tampias membasahi badan. Tentu saja kami tidak bisa berlama-lama di tempat itu sementara tubuh tetap terkena kepyuran air hujan. Maka kami putuskan untuk segera saja melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Summit attack atau pendakian mencapai puncak segera kami lanjutkan di bawah siraman hujan dan terpaan angin dingin yang berhembus semakin kuat. Ternyata puncak gunung Lawu hanya berjarak beberapa belas langkah saja dari bedeng.

Alhamdulillah….., puji Tuhan……, akhirnya puncak gunung Lawu berhasil juga kami capai pada pagi hari itu, pada ketinggian 3625 meter dpl (di atas permukaan laut). Meski tidak berhasil menjadi saksi atas terbitnya fajar baru, tapi kami berhasil mengawali hari baru 2008 di puncak Lawu.

Ada terpancar rona kepuasan dan kebanggaan di wajah-wajah kami. Lebih-lebih bagi Noval. Perjuangannya untuk mendaki tertatih-tatih dan tergelepar-gelepar kemarin tidaklah sia-sia. Noval berhasil mewujudkan tekad dan impiannya untuk mencapai puncak Lawu.

***

Puncak tertinggi gunung Lawu yang disebut dengan Hargo Dumilah ini ditandai dengan adanya sebuah bangunan tugu kira-kira setinggi dua meteran, berdiri di atas lantai dengan lima undak-undakan. Di ujung tugu sudah terpasang bendera Sang Merah Putih, entah siapa yang memasangnya. Agaknya tugu ini adalah bangunan baru, karena katanya tugu yang lama hancur dan roboh digoyang gempa Yogya, 27 Mei 2006 (rupanya sang gempa pun turut naik ke puncak Lawu…..).

Bangunan tugu puncak Lawu yang baru itu, meski sudah aman dari gempa tapi rupanya tidak aman dari tangan jahil aktifitas vandalisme. Aneka ria coretan tangan iseng tapi pasti sudah direncanakan, mewarnai bangunan tugu (para pemilik tangan itu pasti sengaja membawa cat sejak sebelum mendaki). Anehnya lagi, di bagian atas tugu terpampang papan reklame dari “topnya buku tulis”. Saya tidak tahu apakah tugu itu dibangun dengan dana sponsor atau sponsor yang numpang ngetop di puncak Lawu.

Sayang sekali cuaca pagi itu sungguh tidak menguntungkan. Kami hanya bisa memandang sekeliling kawasan puncak dengan jarak pandang sangat terbatas karena tertutup kabut tebal dan merata di semua penjuru arah mata angin. Pesona indah laut selatan yang seharusnya tampak dari puncak Lawu tidak terlihat sama sekali. Demikian pula kota-kota dan kawasan dataran rendah yang ada di seputaran gunung Lawu juga tidak dapat dinikmati pemandangannya. Bentang alam danau Kuning yang sebenarnya berada tidak jauh di selatan puncak Lawu juga hilang dari pandangan.

Gerimis masih menyertai kami di puncak. Juga angin kencang dan udara yang sangat dingin tidak juga surut menyelimuti. Dan karena saking dinginnya itu kami pun merasa tidak mampu bertahan lama berada di puncak. Setelah mengabadikan momen historis selagi berada di puncak Lawu, kami lalu memutuskan untuk segera saja turun dan kembali ke Hargo Dalem, tempat dimana barang bawaan kami tinggalkan selama melakukan pendakian menuju puncak.

Yusuf Iskandar

Tag: , , , , , ,

13 Tanggapan ke “Menggapai Fajar Baru Di Puncak Lawu (9)”

  1. aryo Berkata:

    salut atas catpernya pak…jadi kangen sama lawu…

  2. antonagustono Berkata:

    gununglawu yg kusayang….
    entah berapakali sy nyampe puncaknya…
    yg jelas setelah saya dan istri saya kesana kami bertekad akan memberi nama anak kami kelak dengan sebutan HARGO
    nama anak kami RANUHARGO
    mantab pak ceritanya, thanks sharingnya

  3. madurejo Berkata:

    Asyik juga kalau sempat mendaki bersama istri. Jangan-jangan nanti Ranuhargo juga mengikuti jejak ortunya….. Salam

  4. diyah Berkata:

    i love lawu

  5. ritapunto Berkata:

    asyik ke lawu, antara sensasi naik gunung dan mistik campur aduk..terakhir sy naik tahun 2004…dan nongkrongin cemoro kandang sama keluarga tahun 2008 ini…cuma mandangin aja hargo Dumilah sambil nyemil fresh strawberry yang dipetik di depan masjid..

    btw, pak yusuf ke lawu gak ngalap berkah utk madurejo – nya kan? hehehe …

  6. madurejo Berkata:

    @ Mbak Rita :
    Tadinya ya mau ngalap berkah….. Tapi setelah berkahnya di-ngalap kemana-mana tidak ketemu juga, sampai di balik-balik batu, sela-sela rerumputan, lereng dan tebing, enggak juga ketemu…. Yo wis, balik maning ke Jogja. Bikin berkah sendiri saja lalu biarkan di-ngalap sama pegawai-pegawai Madurejo…. Terima kasih & Salam.

  7. pat Berkata:

    Pengen k kawahnya… tapi kawahny gag bisa didekati coz dlm jurang…

  8. Bimo Berkata:

    Jadi pingin naik nih.., sblumnya hny naik bromo, padahal aku orang ngawi ,tapi naik gunung bromo.

  9. Bimo Berkata:

    Jadi pingin naik nih.., sblumnya hny naik bromo, padahal aku orang ngawi ,tapi naik gunung bromo. He2..3x

  10. madurejo Berkata:

    Mendaki gunung selalu menjadi aktivitas yang menarik sekaligus menantang. Di sana ada pelajaran tentang manajemen yang sangat bagus. Selamat mendaki…

  11. kriswan Berkata:

    hebat juga dengan bapak, bisa sampai ke puncak,selamat ya. saya dan teman2 hanya sampai pos 4, tapi bersukur bisa liat matahari terbit, karena semalaman kehujanan, membuat kondisi fisik yg loyo akhirnya kita turun, karena TUJUAN NAIK GUNUNG ADALAH TURUN GUNUNG…. kan gitu pak..

  12. hermawan Berkata:

    lawu yg slalu ku rindu,ktika itu demi setapak aku lalui pndakianku brsama anak2 masjid,prjalanan yg mengasikkn trkdang ksedihan juga menimpa ktika harus brjumpa dgn pmbukaan lahan tuk ditanami sayuran pdhal kwasan hutan yg shrusnya dilindungi tkutnya jdi brakibat bncana.Stop tuk penggundulan hutan…
    lawu yg ku rindu,masihkah sprti yg dulu,sun rise yg sngt indah,anugrah terindah yg tlah diberikan oleh tuhan…

Tinggalkan Balasan