Berani Dulu, Benar Kemudian (Bag. 2)

By madurejo

Rupanya komunitas citizen journalism Wikimu banyak memberi saya inspirasi, di antaranya ya tentang keberanian untuk menulis. Setelah itu baru kemudian mencari kebenarannya (atau lebih tepat, bagaimana yang benar tentang tulisan saya itu). Salah satu unsur kebenaran yang seringkali menjadi salah kaprah bagi kita dalam membuat sebuah tulisan adalah tata bahasa (tentu saja masih ada unsur kebenaran lainnya).

Saya bukan ahli bahasa, tapi saya ingin berbagi sedikit ingatan saya akan tata bahasa yang dulu pernah saya pelajari di SMP. Siapa tahu bisa menjadi tips praktis.

Berikut ini adalah komentar yang pernah saya tulis di media Wikimu (saya susun ulang agar lebih sistematis).

Tentang kata depan dan awalan di dan ke :

Pertama, di dan ke sebagai kata depan yang penulisannya dipisah dengan kata yang mengikuti. Contoh : di kantor, di depan, ke rumah, ke belakang.
Kedua, di dan ke sebagai awalan yang penulisannya disambung dengan kata yang mengikuti. Contoh : dimakan, dikedepankan, kemudahan, kebumian.

Tentang kata keluar :

Kata keluar, jika sebagai kata kerja (lawan dari masuk), maka suku kata ke dituliskan bersambung dengan kata luar. Contoh : dikeluarkan, keluaran (output), pengeluaran, atau dalam kalimat : dia keluar sebagai pemenang, dia kemudian keluar lagi (setelah gagal masuk).  Aka tetapi, jika ke adalah kata depan, maka penulisannya harus dipisah seperti dalam contoh kalimat ini : bola ditendang ke luar lapangan, dia pergi ke luar negeri.

Tentang akhiran kan pada kata yang berakhir dengan huruf k :

Kita sering terjebak kelewat “pelit” dengan huruk k ketika menggunaan akhiran kan pada kata dasar yang berakhir dengan huruf k. Contoh : menegakkan (kata dasar tegak, maka ditulis dengan huruf k rangkap) dan bukan menegakan (karena berarti kata dasarnya tega, tafsirnya bisa melenceng jauh). Contoh lain : membalikkan vs. membalikan, menyabukkan vs. menyabukan, diperuntukkan vs. diperuntukan (yang terakhir ini kata dasarnya untu, bahasa Jawa artinya gigi…), dsb.

Tentang penggunaan akhiran nya pada kata yang berakhir dengan huruf n :

Coba perhatikan dialog berikut :

Ali : Warung makan itu bukanya jam berapa?
Baba : Biasanya jam 7 sudah buka kok.
Ali : Lho, bukannya jam 8 baru buka?

Bedakan antara kata dasar buka dan bukan dalam kalimat di atas. Juga perhatikan dialog berikut :

Ali : Dia mengundang teman-temannya untuk berdiskusi.
Baba : Apa sudah ditentukan temanya tentang apa?

Bedakan antara kata dasar teman dan tema dalam kalimat di atas.

Contoh lain : turunnya vs turunya (yang terakhir itu kata dasarnya turu, bahasa Jawa artinya tidur……). Asal jangan sampai ketiduran, atau ke tiduran?

Maaf, agak panjang. Tidurnya? Bukan, tapi komentarnya. Ini juga sering membingungkan. Padahal yang dimaksud adalah : Maaf, komentarnya agak panjang. Asyik juga ya… Tidurnya? Bukan, tapi bahasannya. Lagi-lagi, maksudnya adalah : Asyik juga bahasannya (jangan lupa n rangkap, karena bahasannya berbeda dengan bahasanya).-

Masih banyak contoh dan hal lain dimana kita sering salah kaprah. Makanya saya sebut salah kaprah karena menurut kaidah tata bahasa sebenarnya salah, tapi pembaca tetap paham dengan gagasan yang hendak disampaikan penulisnya.

Oleh karena itu, jangan berhenti untuk berani menulis. Semakin sering membuat tulisan, maka semakin banyak kesempatan untuk memperbaikinya (lha kalau tidak pernah membuat tulisan, lalu apanya yang mau diperbaiki?). Sebab salah kaprah itu hanya bisa diperbaiki dengan cara sering mencoba untuk menulis. Pokoknya, menulis saja sudah…..!

Hidup bahasa Indonesia…!

Yusuf Iskandar

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan