Maskapai ”Pokoke Mabur”, Oedan Tenan…

By madurejo

Pada mulanya saya membaca olokan maskapai “Pokoke Mabur” (yang penting terbang) saya tafsirkan hanyalah sekedar gaya bahasa sebagai ekspresi ketidakpuasan dan keprihatinan terhadap perilaku maskapai Adam Air dalam menjalankan bisnisnya. Saya setuju dengan olokan itu karena kedengaran enak di telinga.

Ee… lha kok kenyataan yang sebenarnya malah jauh lebih parah dari sekedar julukan itu. Coba bayangkan, naik pesawat terbang tinggi lebih 9 km di atas permukaan bumi, dengan kondisi pesawat yang asal terbang. Kata Departemen Perhubungan, ada baut-baut dan paku pesawat yang tidak lengkap. “Ini, kan berbahaya sekali”, kata Budhi Mulyawan Suyitno, Dirjen Perhubungan Udara (Eee…alah, Pak De… Pak De…., kok baru sekarang Sampeyan ngasih tahu saya, telanjur 3 tahun ini saya midar-mider dengan pesawat “Pokoke Mabur”, jangan-jangan pesawat yang menghunjam di laut dekat Sulawesi karena ada bagian yang coplok di udara….).

Bukan itu saja, menurut koran “Kontan” hari ini, Adam Air ternyata tidak mengoperasikan pesawatnya sesuai aturan. Proficiency check alias kecakapan pilotnya tidak dilakukan oleh instruktur yang sudah ditunjuk, pelatihan sumber daya manusia tidak sesuai program (sesuatu yang tidak ikut aturan, oleh orang Jawa disebut sak geleme dhewe…). Malah koran “Kompas” hari ini juga menyebut bahwa perawatan pesawat udara tidak sesuai company maintenance manual, dan ketidakmampuan teknis memperbaiki kerusakan (jadi kalau ada kerusakan pesawat jangan-jangan malah menjadi semakin rusak, lha wong ora biso ndandani… tidak bisa memperbaiki…).

Maka mulai hari ini ijin terbang (operational specification) maskapai “Pokoke Mabur” milik PT. Adam Air Sky Connection itu pun dicabut.

***

Terlepas dari konflik internal dari para pemegang sahamnya, entah itu karena perkara mismanagement atau ketidakpuasan pribadi, yang jelas konsumen pengguna jasa angkutan udara telah menjadi taruhannya selama ini.

Entah itu kebodohan, kekonyolan atau kekejaman, setiap kali pesawat Adam Air mengudara, maka para penumpang dan awaknya ibarat sedang bermain trapeze, sirkus bergelantungan di udara tanpa jaring pengaman. Tinggal tunggu waktu siapa dari pemain sirkus udara itu yang kebagian sial gagal melakukan akrobatiknya dengan mulus dan selamat, meloncat dari satu gantungan ke gantungan lainnya sambil bermanuver di udara. Benar-benar “pokoke mabur”, oedan tenan……

Mengingat kembali bagaimana awak kabinnya terlihat asal-asalan memperagakan prosedur dan tatacara dalam keadaan darurat dan juga bagaimana sopir-sopirnya mendaratkan pesawat hingga sering mak jegluk…., bisa jadi semua itu adalah ekspresi di luar kesadarannya dari sikap ora urus, tidak perduli dan …., ya “pokoke mabur” itu tadi.

Huh…! Miris rasanya kalau ingat bahwa yang disampaikan oleh Dirjen Perhubungan Udara itu benar adanya. Dan, mestinya ya benar. Masak sih, ngarang-ngarang…..

Kini pemerintah masih memberi kesempatan Adam Air untuk memperbaiki kinerja buruknya dalam waktu tiga bulan. Maka pertanyaannya adalah, apakah pihak manajemen Adam Air mampu “menyulap” semua kegagalan dan ketidakmampuan itu menjadi lebih baik dan sesuai prosedur keselamatan yang benar dalam waktu tiga bulan ke depan? Menurut kalendar di rumah saya, tiga bulan ke depan jatuh pada tanggal 18 Juni 2008 (dengan empat tanggal merah di dalamnya), pas peak season musim liburan sekolah.

Have a safe and nice flight…..!

Yogyakarta, 19 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan