Kapucino Dan Ayam Goreng

By madurejo

Tiba di bandara Cengkareng masih terlalu pagi. Mau langsung nyingklak taksi ke Kuningan, jangan-jangan perkantoran di sana belum mulai buka dasar. Mendingan menikmati secangkir kopi dulu.

Tempat paling dekat dan mudah dicapai adalah warung KFC Jagonya Ayam. Tapi apapun ayamnya, minumnya tetap kopi. Memang ngopi tujuannya. Ketika sudah berdiri di depan counter, entah kenapa yang saya pesan bukan kopi seperti biasanya, melainkan kapucino, saudaranya kopi. Sekali waktu kepingin juga mencoba menu yang berbeda, begitu yang ada dalam pikiran saya.

Pelayan KFC dengan sigap segera meracik kapucino dan lalu menyodorkan secangkir styrofoam putih ukuran kecil, seharga total Rp 7.400,- termasuk Pajak Pembangunan 10%. Saya taksir isi cairan kapucinonya tidak lebih dari 100 ml.

Sruputan pertama begitu menggoda, selebihnya terserah peminumnya. Namun saya rada kecewa, sruputan pertama ternyata tidak meninggalkan taste yang pas. Agak semu-semu pahit, mungkin coklatnya kebanyakan. Pokoknya, saya kurang puas dengan rasa kapucino yang saya harapkan. Bisa jadi, selera perkapucinoan saya yang beda. Tapi yang jelas rasanya tidak seperti biasanya kapucino yang saya minum.

Sambil menikmati kapucino yang tidak nikmat, sambil menghisap Marlboro, sambil menulis SMS, saya lalu merenung-renung. Apa iya saya pantas kecewa gara-gara kapucino yang kurang pas rasanya?

Akhirnya saya hanya bisa tersenyum sendiri (di dalam hati tentunya, wong kedai KFC sudah mulai ramai). Mestinya saya yang salah. Sudah jelas-jelas ini warung jualan ayam goreng kok berharap mendapat kapucino enak. Kalau mau kapucino atau kopi yang enak, ya mestinya ke Starbucks, bukannya KFC. Jadi kalaupun disediakan minuman kopi atau kapucino, maka itu hanyalah pelengkap penderita (bagi pembeli yang kecewa seperti saya, maksudnya).

Tiba saatnya saya menuju ke pangkalan taksi. Sambil dalam hati saya membuat kesimpulan : Kalau mau minum kopi enak, ya jangan mencari warung ayam goreng. Kalau mau makan ayam goreng yang enak, ya jangan mencari warung kopi. Mudah saja.

Namun kalau kemudian ketemu kedua-duanya enak, maka itulah diferensiasi bagi warung itu. Pembeda yang menjadi nilai tambah bagi warung itu dalam merebut pasar. Dan seringkali faktor pembeda ini menjadi awal dari kemenangan persaingan usaha.

Ngopi dulu, ah……

Jakarta, 4 April 2008
Yusuf Iskandar

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan