Melahap Pecel Mbok Sador Menjelang Tengah Malam

By madurejo

mbok sador_1

Detik-detik kelaparan saat terlambat makan malam sebenarnya sudah hampir lewat, bisa-bisa perut kembali menjadi kenyang dan tidak kepingin makan berat lagi. Ke kawasan Simpang Lima Semarang malam itu akhirnya kami menuju. Sebab di sana banyak pilihan makan. Simpang Lima adalah salah sebuah kawasan bisnis di kota Semarang yang kalau malam di sekelilingnya betebaran warung-warung tenda yang menyediakan aneka pilihan jenis makanan. Apalagi kalau malam Minggu, kawasan ini cukup ramai dan padat.

Berhenti di sisi selatan Simpang Lima, di ujung utara Jalan Pahlawan, tepatnya di seberang barat Ramayana, terdapat sebuah warung tenda yang menyajikan menu utama pecel. Sepintas warung ini biasa-biasa saja. Di tengah kebingungan mau makan apa, lalu seorang teman sambil agak kurang yakin merekomendasi untuk mencoba menu pecel di warung ini. Semangat untuk makan malam pun segera muncul kembali. Masuklah kami ke warung pecel Mbok Sador.

Kalau menilik nama warungnya memang tidak gaul babar blass….. Tapi, jangan tanya perkara rasanya ketika sudah melahap se-pincuk pecelnya mbok Sador. Nyemmm…. (tanya saja tidak boleh…., karena sebaiknya langsung dicoba saja kalau pas ke Semarang).

Namanya juga pecel, jadi tampilannya ya begitu-begitu juga. Tapi campuran sayurannya cukup komplit. Ada daun ubi, daun pepaya, kenikir, bayam, kacang panjang, kol, thokolan (kecambah atau tauge), lalu diguyur dengan sambal kacang hingga sayurannya tertutup merata. Penjualnya akan tanya pakai peyek (rempeyek) kacang atau teri, masih ada tambahan kerupuk gendar. Kalau bingung, tinggal bilang dicampur semuanya saja. Dijamin semuanya kemripik dan enak.

Rugi sekali kalau melahap pecel mbok Sador hanya dengan campuran “standar”. Sebab telah disediakan menu penambah selera menghampar di depan mata. Tinggal bilang mau ditambah apa. Ada tahu atau tempe bacem, sate keong, sate usus, sate telor puyuh, sate gatra (telur ayam yang belum jadi), rempela ayam, potongan daging sapi, iso, babat, paru dan limpa sapi.

Bumbu sambal kacangnya sebenarnya biasa saja. Tumbukan kacang tanah tetapi tidak halus sekali sehingga masih terlihat banyak butir-butir tumbukan kasar bijih kacang tanahnya. Ketika saya tanya apa ada resep khususnya, dijawab oleh mbak penjualnya yang supel dan murah senyum bahwa resepnya biasa saja. Tapi ketika bumbu sambal kacang yang biasa-biasa saja itu disiram merata di atas campuran sayuran yang sudah ditambah dengan pilihan menu penggugah selera……., wuih….. terasa benar sedapnya. Tidak terlalu pedas, tidak terlalu manis, agak gurih dan ….. pokoknya hoenak pol…..

Semua itu disajikan dalam sebuah pincuk yang terbuat dari selembar potongan kertas yang di atasnya di-lambari dengan daun pisang lalu dibentuk menjadi wadah seperti corongan terbuka tapi tidak berlubang bawahnya. Se-pincuk pecel mbok Sador yang barangkali setara dengan sepiring munjung, malam itu pun habis tak bersisa. Kalau menuruti selera, ingin rasanya nambah lagi, tapi kapasitas perut saya rasanya sudah maksimum. Jadi cukuplah satu pincuk saja. Satu pincuk pecel yang nilainya sangat memuaskan.

***

mbok_sador_2

Warung kaki lima pecel mbok Sador ini memang sudah cukup kesohor di Semarang. Setiap hari melayani pelanggannya sejak jam lima sore hingga jam sebelas malam. Habis tidak habis, pokoknya jam sebelas malam (terkadang lebih sedikit) bubar. Kalau sisa ya anggaplah resiko bisnis. Dengan bahasa sederhana, begitulah kira-kira kata mbaknya yang jualan malam itu. Kini, pelanggan pecel mbok Sador akan lebih sering dilayani oleh seorang anak perempuannya dan seorang cucu-keponakannya.

Mbok Sador sendiri kini memang sudah sepuh dan lebih banyak tinggal di rumahnya di Kampung Gandekan, Semarang. Di kampung Gandekan pula mbok Sador dibantu keluarganya juga masih berjualan pecel. Kalau beliau kangen dengan warung pecelnya yang di Simpang Lima, sesekali beliau berkunjung dan sesekali pula ikut melayani pembeli. Namun biasanya tidak bertahan lama. Maklum sakit rematik yang dideritanya sudah tidak bisa diajak kompromi.

Namun patut dicatat bahwa usaha warung pecelnya yang mulai dibuka sejak kawasan Simpang Lima Semarang masih tertutup untuk pedagang kaki lima di sekitar tahun 1993 itu hingga kini tetap berkibar dan disukai oleh banyak pelanggannya. Manajemen pelayanannya sangat sederhana. Penjual pecel yang bertugas melayani pembeli juga merangkap sebagai pencatat apa yang dimakan oleh pembeli. Bukan pencatat order, karena pembeli langsung menyampaikan orderannya ketika menu disiapkan. Penjual pula yang merangkap sebagai kasir.

Semua pekerjaan itu dilakukan sambil duduk melayani pembeli menghadap sebuah meja setinggi kira-kira 50 cm yang di atasnya terhampar semua bahan ramuan pecel dan asesorinya. Di seputar meja display aneka menu pecel itu terdapat bangku tempat duduk bagi pembeli yang ingin makan sambil duduk menghadap penjualnya. Di belakangnya lagi tersedia banyak kursi plastik dan meja kalau bangku kelas utama yang di depan penuh. Sangat sederhana. Sesederhana suasana warungnya yang santai dan membuat betah.

Agaknya saya dan teman-teman yang saat menjelang tengah malam itu mampir ke warung pecel mbok Sador tidak salah pilih. Harganya wajar (tentu saja semakin banyak asesori ditambahkan, menjadi semakin mahal) dan yang penting rasanya pas dan memuaskan. Kepuasan itu tercermin ketika esok malamnya, juga menjelang tengah malam, saya dan teman-teman sepakat untuk kembali ke warung pecel mbok Sador untuk kedua kalinya. Dan, di kali yang kedua ini lebih siap untuk memilih asesori menu penggugah selera yang mau ditambahkan. Bahkan saking enaknya menikmati peyek kacang dan teri, oleh penjualnya saya dipersilakan untuk nambah dan ngambil sendiri. Weleh….., mbok Sador memang luar biasa, pecelnya maksudnya…..

Yogyakarta, 24 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Tag: , , , , , ,

6 Tanggapan ke “Melahap Pecel Mbok Sador Menjelang Tengah Malam”

  1. izhayusmal Berkata:

    Salam kenal pak yusuf… Saya sdh 5thn di semarang malah belum pernah makan di warung pecel itu…jadi pingin icip2 deh ah… hehe.. Terimakasih ulasannya ya…nanti saya akan mampir dan mencicipi sendiri… Btw, terimakasih sudah datang ke Pestipal Angkringan, salam kompak selalu…

    Izhayusmal.wordpress.com

  2. madurejo Berkata:

    Salam kenal dan salam sukses kembali, mbak Izha.

  3. hamsin Berkata:

    tok…tok…tok….assalamualaikum pak yusuf lama saya gak mampir di blog bapak semoga kabar bapak sehat-sehat z, oh ya pak ngomong-ngomong pecel makanan kesukaan saya pedasnya itu yang bikin saya ketagihan, slam
    http://www.hamsin.wordpress.com

  4. edixp Berkata:

    Pecel membuat semangat lidah kita Untuk Makan terus.
    Gimana ada resep Pecel baru. Mbok enak’e rek mbak e njalok rek

  5. Aa Berkata:

    Pecel emang T O P

    Akhirnya aq jadi buka usaha nasi pecel

    artikel pak yusuf bagus , izin copy paste ya pak yusuf buat promo …

    gud lak buat pak yusuf

    Tx

  6. madurejo Berkata:

    Silakan saja. Terima kasih – salam.

Tinggalkan Balasan