Arsip untuk Januari, 2009

Bisnis Anti Bangkrut

28 Januari 2009
Haji Alay

Haji Alay

Banyak orang ingin berbisnis. Banyak orang berniat terjun ke dunia bisnis. Lebih banyak lagi yang sedang belajar bisnis. Ketika tiba gilirannya benar-benar harus memulai bisnis, hati menjadi gamang, bimbang dan ragu, tidak yakin, kurang pede, awang-awangen, nglangut…. lalu akhirnya, tidak mulai-mulai juga.

Apa pasal? “Bagaimana kalau nanti tidak laku, gagal, rugi, lalu bangkrut?”. Begitu, atau kata-kata yang sejenis itu yang biasanya menjadi momok dalam diri sendiri sehingga urung memulai bisnis.

Lha kok, tiba-tiba ada orang yang dengan pede sekali bertanya : “Mau nggak, saya beritahu bisnis yang dijamin tidak akan rugi atau bangkrut?”.

Semua orang yang mendengar pertanyaan itu mak plenggong….., setengah melongo (karena hanya setengah, maka mimik buruknya jadi tidak terlalu kelihatan…..). Lalu lubang telinga pun serta-merta di-jembreng lebar-lebar. Penasaran kepingin tahu kelanjutannya. “Wah, penting ini”, kata hatinya sambil pura-pura seolah tidak penting.

Orang itu lalu berkata : “Bisnis yang dijamin tidak akan rugi dan tidak akan menyebabkan bangkrut adalah memuliakan anak yatim, memberi makan orang miskin, tidak berlaku tamak alias kewajiban zakat dan sedekahnya dipenuhi, dan jangan berlebihan mencintai dunia“.

Nafas pun kemudian dilepas lega. Kalau itu dari dulu juga sudah tahu, kata hati orang-orang yang mendengarkan. Tiwas methentheng…, telanjur konsentrasi, mendengarkan breaking news tentang trik berbisnis anti bangkrut, rupanya cuma itu….. Ya, singkatnya adalah bisnis memberi. Jadi nama bisnisnya adalah “memberi”. Bukan bisnis jual pulsa, bisnis ritel, bisnis garmen, bisnis IT, bisnis mobil, tapi bisnis “memberi”.

Dari jaman batu pun memang begitu….. Tapi ya bagaimana mau membiayai anak yatim atau orang miskin atau membayar zakat, lha wong cari penghasilan yang pas-pasan saja tidak pernah pas.

Itulah masalahnya, atau lebih tepat, tantangannya. Kebanyakan orang-orang ini terjebak dalam tempurung tengkurap, bahwa yang namanya memberi adalah mengeluarkan uang atau materi. Padahal yang dimaksud oleh si pembicara tadi bahwa memberi itu bisa juga berupa ilmu, pengalaman, tenaga, pikiran, senyum, waktu dan tempat (seperti sering diberikan oleh MC), serta banyak hal-hal lain yang tidak berarti mengeluarkan uang. Yaaa…, paling-paling sekali waktu njajakke…., mentraktir…..

Dengan kata lain, terjemahan dari pesan si pembicara tadi adalah, kalau belum punya penghasilan ya memberilah dengan tanpa mengeluarkan uang. Kalau penghasilannya masih sedikit, ya memberilah sedikit dari yang sedikit itu. Kalau penghasilannya sudah banyak, ya memberilah lebih banyak dibanding yang sedikit tadi. Kalau habis? Isi ulang…. Mudah, kan?

Maka, kata si pembicara : “Kalau bisa dan yang terpenting ikhlas melakukan itu, maka Insya Allah digaransi tidak akan merugi dan tidak bakal bangkrut”. Sebab yang mengeluarkan kartu garansi adalah Tuhan yang tidak pernah pu-tippu (malah sering menjadi korban penipuan, itupun tidak pernah jera membagi rejeki-Nya meski bolak-balik ditipu…..).

Kalau sebenarnya memulai bisnis yang dijamin pasti untung itu begitu mudahnya, kenapa tidak juga mulai dari sekarang? Mulailah dengan bisnis “memberi”. Setelah itu, setelah materi berhasil dikumpulkan sedikit demi sedikit, lalu kembangkan dan majukan bisnis “memberi” itu dengan bisnis-bisnis turunannya. Seperti misalnya jual baju (baru maupun bekas), jual ayam (hidup atau mati), jual komputer (baru atau rekondisi), jual makanan (mentah atau matang), dan banyak jual-jual lainnya yang (sekali lagi) jangan lupa untuk terus menjaga bobot kualitas banyak “memberi”.

Si pembicara lalu menambahkan pesannya : “Kemudian berbisnislah dengan mengikuti sifat-sifat nabi Muhammad saw., yaitu sidik (berkata benar), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan yang sebenarnya) dan fathonah (cerdas)”. Ini adalah empat sifat wajib Rosulullah yang wajib pula diteladani oleh umatnya.

Kedengarannya seperti pelajaran agama Islam. Padahal substansinya tidak semata-mata belajar ilmu tauhid. Karena si pembicara adalah seorang yang beragama Islam, maka pedoman yang disampaikan pun meneladani nabinya umat Islam. Namun sebenarnya apa yang disampaikan oleh si pembicara itu adalah sifat-sifat atau perilaku manusia yang sangat universal. Agama atau keyakinan apapun di muka bumi (termasuk aliran sesat), kurang-lebihnya juga menyandarkan perilaku normatif yang hampir sama secara substansi karakteristiknya. Dengan demikian, anjuran si pembicara itu sebenarnya berlaku umum bagi siapa saja.

Jika demikian mudahnya, mari kita memulai bisnis lalu kita ikuti anjuran si pembicaa tadi dan kita buktikan bahwa kita tidak akan bangkrut. Namun barangkali perlu disadari, kalau sudah niat ingsun mau action, ya action-lah sampai tuntas. Terkapar terengah-engah di tengah jalan adalah bagian dari proses pembelajaran sebelum dada menyentuh garis finish. Begitu kira-kira yang telah disampaikan oleh si pembicara dengan penuh keyakinan untuk meyakinkan.

***

Si pembicara yang sangat pede dengan jurus-jurus bisnisnya itu pada kartu namanya tertulis  Haji Nuzli Arismal atau lebih dikenal dengan Haji Alay, yang juga adalah salah seorang sesepuh komunitas “entrepreneur” TDA (Tangan Di Atas). Beliau adalah seorang pebisnis yang sudah komplit makan asam, garam, gula dan jamu. Jatuh-bangun, malang-melintang, susah-gembira, adalah bagian dari perjalanan bisnisnya. Pasar Tanah Abang adalah “kampung halamannya”, dan sekarang beliau menjabat Ketua Umum Syarikat Masyarakat Industri & Pasar Indonesia (SMI&PI). Di usia senjanya, beliau tetap bersemangat empat-lima untuk mengompori dan menginspirasi para pebisnis muda.

Hari Minggu, 18 Januari 2009 yll, Haji Alay hadir di desa Manggung, kecamatan Ngemplak, kabupaten Boyolali, berada di tengah-tengah warga komunitas TDA Joglo, dalam rangka menunaikan bisnis “memberi”-nya. Haji Alay berkenan berbagi kepada siapa saja yang membutuhkan tanpa sedikitpun mengharapkan imbalan. Kualitas bisnis “memberi”-nya sudah pada level post-advance. Para entrepreneur muda yang haus akan pencerahan pun berdatangan dari beberapa wilayah di Jawa Tengah, guna ngangsu kaweruh (berguru) kepada sang guru.

Semoga ilmu yang diturunkan dapat diwarisi dan diamalkan. Diwarisinya sih gampang, wong dari jaman baheula ilmu itu ya memang begitu, tapi mengamalkannya itu……

Madurejo – Sleman, 28 Januari 2009
Yusuf Iskandar

img_0990_manggung

Berbagi Dan Memberi (Ngumpul Bareng TDA Joglo)

27 Januari 2009

Untuk kesekian kalinya, komunitas “entrepreneur” TDA Joglo (Tangan Di Atas wilayah Jogja, Solo dan seputarannya) mengadakan forum kumpul-kumpul di rumah salah seorang sesepuhnya, Pak Bams (Bambang Triwoko) di Pringwulung, Jogja.

Kali ini tema yang dibicarakan agak serius (meski tetap dalam suasana guyon-guyub-gayeng), yaitu tentang upaya dan program-program jangka pendek yang dapat dilakukan untuk pengembangan ke depan dari komunitas ini. Walau tidak semua warganya hadir, karena memang tidak direncanakan sebagai pertemuan besar, melainkan sekedar ajang ngumpul bareng informal, ngiras-ngirus selagi ada kunjungan muhibah dari teman-teman yang juga warga TDA Joglo yang tinggal di luar kota. Acara yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 24 Januari 2009, mulai jam 15.00 hingga selesai jam 20.00 ini pun dihadiri oleh lebih dari 20 orang, diselingi ngemil, makan dan break untuk sholat (bagi yang sholat, tentu saja…)

Acara dipimpin oleh pak presiden TDA Joglo, mas Budi Prajitno yang tinggal di Solo, didampingi oleh sesepuh merangkap tuan rumah, pak Bambang Triwoko (pemilik Betiga, distributor produk Danone wilayah Klaten).

Untuk menyebut sebagian tetamu yang datang dari jauh, antara lain : pak Harmanto Haroen bakul jamu dari Jakarta (pemilik PT Mahkota Dewa Indonesia), mas Eddy Aji Poerwanto pedagang pulsa dari Cimahi (pemilik Warung Barokah), pak Hadi Kuntoro si raja selimut dari Jakarta (pedagang selimut Jepang Hasuko), mas Yoyox Sancoyo pedagang busana muslim dari Wonosobo (distributor produk Rabbani wilayah Jateng-DIY), beserta teman-teman muda lainnya.

Berbagi dan Memberi…..  Itulah sebenarnya agenda yang paling ditunggu-tunggu setelah usai berbincang-bincang agak serius. Ya, para entrepreneur yang sudah melangkah sukses sebagai pengusaha itu berbagi dan memberikan ilmu dan pengalamannya kepada teman-teman yang masih TDB (Tangan Di Bawah alias masih bekerja sebagai orang gajian), atau yang sedang memulai dan merintis usahanya, termasuk yang sedang berjuang memajukan dan mengembangkan bisnisnya.

Filosofinya sederhana : Hanya dengan memberi maka kita pantas untuk menerima.

Agenda seperti ini memang perlu, agar wawasan kita tidak cupet, agar pikiran kita lebih out of the box, agar tidak merasa sendirian ketika dihadang kesulitan dan agar bisa bersinergi untuk meraih sukses rame-rame seperti potong padi di sawah.

Dan, pemilik Madurejo Swalayan hanyalah bagian kecil dari komunitas ini, tapi sedang mengejar bagian besar dari sukses yang jumlahnya tak terhingga itu….

Hadi Kuntoro, Yoyox Sancoyo, Awan dan Evie.

Keterangan Foto (dari kiri ke kanan) - Duduk : M. Fadli, Eddy Aji Poerwanto, Yusuf Iskandar, Babang Triwoko dan Harmanto Haroen. Berdiri : Hadi Kuntoro, Yoyox Sancoyo, Awan dan Evie.

Makan malam di Banyu Mili Resto

Sekedar selingan di antara hari-hari padat acara di Yogyakarta, saya dan teman-teman serta para tetamu jauh itu pada hari Jum’at, 23 Januari 2009 sempat mampir bersantap malam di resto Banyu Mili, di kompleks perumahan Griya Mahkota, Jl. Godean, Yogyakarta.

Catatan tentang perjalanan kuliner ini dapat dibaca di sini.

Bambang Triwoko, Evie, Harmanto dan Eddy Poerwanto

Keterangan Foto (dari kiri ke kanan) : Bambang Triwoko, Evie, Harmanto dan Eddy Poerwanto

Yogyakarta, 27 Januari 2009
Yusuf Iskandar

Davos, Permen Jadul Yang Tetap Gaul

26 Januari 2009

img_0146_davos1Belum lagi gerhana matahari cincin berlalu, anak-anak dan istri di depan televisi bersorak dan tertawa cekikikan. Ada apakah gerangan? Rupanya baru saja disiarkan berita tentang fatwa MUI bahwa rokok haram.

Kata anak laki-laki saya sambil cengengesan : “Ha..ha..ha.., uang saku saya bakal nambah Rp 10.000,- per hari…..”.

Celetukan ibunya lain lagi, kedengaran lebih bijaksana : “Yo wis, ganti ngemut permen Davos saja, semriwing……”.

Ya…ya…. Bukan soal rokoknya atau haramnya yang mengusik pikiran saya. Biarlah MUI berfatwa, perokok terus berlalu (tidak jadi mampir kios rokok, maksudnya). Melainkan sebutan permen Davos ibunya anak-anak tadi mengingatkan saya pada jenis permen jadul berbungkus warna biru tua yang rasa pedas semriwing-nya jadi ngangenin. Sensasi pedas mint-nya sangat khas dan tak tertandingi bahkan oleh aneka jenis perment rasa mint jaman sekarang.

Beberapa waktu yang lalu saya diherankan oleh sajian permen Davos di toko saya. Sempat saya pilang-piling (cermati) apakah memang benar ini permen yang sangat populer pada jaman saya kecil sekian puluh tahun yang lalu. Dan ternyata memang benar, bahwa itu adalah Davos permen jadul alias jaman dulu. Sepertinya sudah lama sekali saya tidak menjumpai permen ini.

Bungkusnya yang berwarna biru tua dengan tulisan warna putih terlihat begitu klasik. Sejak jaman dulu hingga sekarang tak juga berubah sedikitpun, baik warna, ukuran, desain bahkan rasanya. Kini permen produksi PT Slamet Langgeng, Purbalingga, Jateng, itu benar-benar langgeng memasuki usianya yang lebih 77 tahun.

Setiap bungkus permen Davos seberat 25 gram berisi susunan 10 buah permen warna putih berukuran diameter 22 mm dan tebal 5 mm (sengaja saya ukur dengan penggaris agar lebih jelas deskripsinya), dengan tulisan Davos melintang di tengahnya. Bentuk dari setiap biji permennya sangat presisi dan terlihat rapi. Komposisinya tertulis : gula, stearic acid, dextrin, gelatin, menthol dan pepermint oil. Di bungkus luarnya tertulis : Extra Strong Permen. Karena itu saya ingat waktu kecil dulu kalau mengulum permen Davos cukup separoh saja, sebiji dibagi dua. Selain karena pedasnya juga karena ukurannya yang terlalu besar. Tapi semriwing enak…

Meski dalam perjalanannya PT Slamet Langgeng pernah mencoba memproduksi berbagai varian dari permen ini, namun tetap saja jenis Davos yang berbungkus biru ini yang paling banyak digemari. Pak Budi Handojo Hardi selaku pimpinan perusahaan heran, produknya laris manis saat musim panen tiba, terutama untuk wilayah kotanya. Lihat saja ketika musim panen tiba, para buruh tani di Purbalingga sambil memanen padi sambil ngemut permen Davos. Juga halnya ketika musim haji tiba, permintaan permen Davosnya meningkat. Barangkali untuk bekal mut-mutan di pesawat. Tapi permintaan pasar turun saat musim buah dan musim penghujan tiba. Begitulah, musim-musim yang telah ditandai oleh Pak Budi.

Budi Handojo Hardi adalah generasi ketiga dari perusahaan produsen permen Davos. Perusahaan keluarga itu berdiri pertama kali pada tanggal 28 Desember 1931 oleh kakek Budi Handojo, yaitu Siem Kie Djian. Begitu seterusnya perusahaan ini turun-temurun berganti-ganti pimpinan dari keluarga kakek Siem. Juga mengalami pasang surut sejak jaman Belanda, Jepang hingga pasca kemerdekaan, dan akhirnya sejak tahun 1985 dipegang oleh Budi Handojo.

Pemilihan nama PT Slamet Langgeng pun dilandasi oleh filosofi dan cita-cita yang sangat sederhana. Kata “Slamet” dipilih karena perusahaan itu berada di kota Purbalingga yang terletak di kaki Gunung Slamet. Kata “Langgeng” adalah harapan agar perusahaan ini tetap abadi. Sedangkan nama “Davos” diambil dari nama sebuah kota kecil di Swiss yang berhawa sejuk, maka jadilah Davos dipilih sebagai merek permen rasa mentol yang pedas-pedas semriwing.

Meski peredaran produk permen Davos ini hanya di seputaran pedesaan Jateng, DIY dan sebagian Jabar, tetapi faktanya hingga kini produk permen Davos tetap eksis dan langgeng tak tertelan jaman. Padahal produk ini sejak dulu kala tidak pernah memasang iklan di media manapun. Hanya mengandalkan kekuatan promosi gethok tular (word of mouth) dan kepercayaan antar produsen, penjual dan konsumen.

Harganya relatif murah. Sebungkus permen Davos berisi sepuluh biji di toko saya (Madurejo Swalayan, kecamatan Prambanan, Sleman) dijual seharga Rp 900,- (sembilan ratus rupiah). Dijamin murah plus rada megap-megap kepedasan tapi semriwing enak dan tidak kering di tenggorokan.

Sejak saya jumpai permen Davos di toko saya, permen jadul ini sering nyisip di dalam ransel yang saya bawa kemana-mana. Minimal bisa untuk obat ngantuk seperti dulu pernah saya berikan kepada sopir taksi di Jakarta yang mengemudi sambil ngantuk, atau kalau kebetulan ikut pertemuan lalu terkantuk liyer-liyer. Meski ini permen jadul, tapi masih layak gaul terutama bagi generasi yang pernah mengalami kejayaan permen pedas ini sekian puluh tahun yang lalu dan bagi para buruh tani di pedesaan Jateng selatan.

Yogyakarta, 26 Januari 2009 (Tahun Baru Imlek 2560)
Yusuf Iskandar

Ada Rampok Di Tokoku

6 Januari 2009

img_0939_r21Saat sedang tegang-tegangnya nonton film “The Day After Tomorrow” (kecuali setiap kali muncul iklan saya tinggal pergi) di Global TV tadi malam, sekitar jam 20:45 WIB ponsel istri saya berdering. Rupanya itu tilpun dari toko kami, “Madurejo Swalayan”. Tumben, malam-malam ada tilpun dari toko. Lalu terdengar suara istri saya meninggi dengan nada terkejut.

Piye, mbak….? Ono opo mbak….? Ora jelas suaramu……?” (Bagaimana, ada apa, suaranya tidak jelas….). Hanya terdengar suara tangisan seorang pegawai toko kami di seberang sana, di desa Madurejo yang berjarak sekitar 15 km dari rumah.

Kemudian seorang laki-laki mengambil alih gagang tilpun, lalu katanya : “Ibu segera ke toko, ada perampokan….”. Dan, sambungan tilpun pun lalu terputus. Begitu, laporan istri saya tergopoh-gopoh sambil masih mengacung-acungkan ponselnya, segera setelah menerima tilpun.

Mendengar ekspresi nada suara istri saat pertama kali menerima tilpun, saya sudah menduga bahwa sesuatu sedang terjadi di toko saya. Herannya, saya kok ya tetap asyik saja nonton TV sama anak laki-laki saya, sambil menunggu laporan istri itu. Sepertinya tayangan film TV malah lebih menegangkan.

Kata istri saya dengan nada suara tegang : “Mas, segera ke toko sekarang, ada rampok”.

Saya pun menjawab santai : “Ya, suruh nunggu…..” (maksudnya pegawai toko yang saya suruh menunggu saya datang, bukan perampoknya….).

Saya mulai beraksi (menggantikan aksi film TV yang saya tinggal). Pengawas dan pegawai toko tidak berhasil saya hubungi ke HP-nya. Lalu buru-buru saya coba menghubungi tetangga toko saya, dengan maksud untuk minta tolong menengok apa yang terjadi di sana sementara saya dalam perjalanan 30 menit dari rumah menuju toko.

(Ya.., ya.., tetangga adalah mahluk yang sering kita kesampingkan pada saat dunia sedang aman dan damai, tapi tiba-tiba menjadi sangat penting peranannya ketika terjadi keadaan darurat. Kalau kemudian dunia kembali aman dan damai, ya lupa lagi sama tetangga. Ugh…! Kasihan deh, jadi tetangga. Untungnya, saya tidak tergolong sebagai mahluk yang abai terhadap tetangga).

Ee, lha kok ndilalah….., no HP yang saya hubungi nyasar ke seorang teman lama yang kebetulan namanya sama dengan nama tetangga toko yang mau saya hubungi. Maksud hati mau bicara to the point, apa daya pembicaraan dengan teman lama saya itu malah susah untuk diputus. Bagi teman saya itu : “Kebetulan sudah lama tidak ketemu mas Yusuf…”. Weleh…., malah jadi kangen-kangenan. Lha saya sedang buru-buru dan rada sentress, je…

Setelah pembicaraan kangen-kangenan dengan teman lama berhasil diselesaikan dengan baik, saya lalu berubah pikiran untuk menghubungi petugas keamanan desa Madurejo, yang juga tetangga toko saya. Langsung saja saya minta beliau untuk menuju TKP dan minta tolong melakukan apa-apa yang perlu dilakukan sebelum saya tiba di sana.

***

Sekitar jam 21:30 saya tiba di toko bersama istri dan kedua anak saya yang kepingin tahu apa yang terjadi di toko. Toko sudah ditutup, tapi di depan toko masih ramai orang, di antaranya beberapa petugas polisi dari Polsek Prambanan. Istri saya segera menemui pegawai-pegawai toko yang masih shock, sedangkan saya langsung menuju TKP ditemani oleh petugas kepolisian dan seorang tetangga saya. Kronologi peristiwa perampokan justru saya dengar dari kedua orang yang menemani saya itu, sambil saya menginspeksi situasi meja kasir dimana perampokan terjadi, sambil saya men-jeprat-jepret-kan kamera, sambil saya berdialog. Sementara seorang pegawai kasir dan seorang temannya masih shock belum bisa banyak memberi keterangan.

Menurut cerita sementara : Datanglah dua orang pemuda berboncengan naik sepeda motor, lalu masuk toko dan hendak membeli rokok. Seperti biasa, penjualan rokok dilayani kasir. Ketika sepertinya hendak membayar di kasir, tiba-tiba sepucuk pistol ditodongkan ke kasir sambil menggertak agar uang di laci segera diserahkan. Laci kasir lalu ditarik dan di-oglek-oglek ternyata tidak bisa dibuka (kebetulan sistem komputer belum dalam posisi melakukan transaksi, jadi ya tidak bisa dibuka….. Agak bodoh juga rupanya rampok ini…, agaknya mereka masih perlu sedikit belajar tentang perkasiran…..).

Karena tergesa-gesa sebelum diketahui orang lain, laci di bawah meja kasir dibuka, dan diraihlah sebundel uang cadangan yang ada di sana (tadi malam saya perkirakan jumlahnya sekitar satu koma tiga juta rupiah, tapi setelah tadi pagi dihitung ulang dari data komputer ternyata jumlanya “hanya” tujuh ratus tiga puluhan ribu rupiah). Barangkali merasa bahwa uang jarahannya tidak banyak, sang penyamun itu lalu meminta HP milik mbak kasir. Kemudian secepat kilat mereka kabur nggendring….. berboncengan sepeda motor menuju arah selatan, dan menghilang ditelan malam.

Puji Tuhan walhamdulillah, sang penyamun gagal menggasak hasil penjualan toko saya sehari kemarin (kita sering tidak ngeh, rupanya ada juga kegagalan yang haus di-alhamdulillah-i…). Tapi… siwalan bener, mereka berhasil membuat shock dan menjatuhkan mental pegawai saya.

Secara materi, kerugian yang ditimbulkan oleh aksi perampokan ini relatif tidak seberapa, kerusakan fasilitas toko tidak ada, korban juga tidak jatuh. Akan tetapi kerugian immaterial sungguh tidak kecil. Dua orang pegawai saya hampir pingsan, belum bisa diajak bicara hingga malam, hanya bisa menangis sesenggukan. Sekitar jam 10 malam, kedua pegawai saya itu saya antarkan pulang ke rumahnya di lereng perbukitan sebelah timur Madurejo. Saya serahkan kepada keluarganya yang sudah pada beristirahat malam dan terkejut mendapati anak perempuan mereka pulang dari kerja tidak seperti biasanya. Salah satunya harus berjalan dipapah sambil masih menangis gero-gero (meraung) dan seorang lagi malah harus dibopong (diangkat dengan kedua tangan) dan tidak bisa berucap apa-apa selain sesenggukan. Menjadi kewajiban saya untuk menjelaskan apa yang terjadi, meminta maaf dan berterima kasih kepada keluarganya.

Peristiwa perampokan tadi malam itu langsung ditangani oleh pihak kepolisian Sektor Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Meski untuk urusan pelaporan itu, tadi malam saya harus berada di kantor Polsek hingga jam 01:30 dini hari. Menemani pak polisi yang sedang bekerja agar baik jalannya….., mengisi beberapa lembar kertas berjudul Laporan Tuntas dan Laporan Polisi rangkap tiga berkarbon, menggunakan mesin ketik Brother yang sudah karatan dan tanpa kap atasnya. Diiringi bunyi cethak-cethok…pencetan jari tengah tangan kiri dan jari telunjuk tangan kanan, dan memerlukan waktu satu jam untuk menyelesaikannya.

Setelah itu dilanjutkan dengan pembuatan Berita Acara Pemeriksaan dengan menjawab 17 pertanyaan (jadi ingat berita tentang pemeriksaan tersangka korupsi yang oleh koran selalu disebut jumlah pertanyaannya). Hal yang terakhir ini diketik dengan komputer, tapi tetap saja berjalan lambat karena nampaknya pak polisi juga sangat hati-hati dalam menyelesaikannya (maklum, BAP adalah dokumen hukum yang setiap kalimatnya menjadi sangat berarti ketika misalnya kasus itu naik ke proses peradilan). Saya harus memakluminya, meski untuk itu saya, istri dan anak-anak harus pulang sampai rumah jam 02:00 dini hari.

***

Perihal kerugian dari kejadian perampokan ini rasanya langsung bisa saya ikhlaskan. Eee…, barangkali kedua penyamun itu sedang butuh biaya pengobatan keluarganya (meski hati saya berprasangka juga, jangan-jangan malah buat bok-mabbok dan ler-teller….). Kini tinggal tugas saya dan istri untuk memulihkan moral dan semangat kerja pegawai saya yang sempat shock dan jatuh mentalnya akibat mengalami peristiwa perampokan (menurut istilah kepolisian disebut curat alias pencurian dengan pemberatan) yang bagi pegawai saya bisa berakibat sangat traumatis.

Akhirnya, pelajaran yang bisa dipetik adalah bahwa saya harus bisa memetik pelajarannya. Lho? Embuh-lah….. Tapi yang saya yakini pasti adalah bahwa di dunia in tidak ada peristiwa yang kebetulan. Daun jatuh saja diurus dengan sangat cermat oleh Tuhan. Apalagi peristiwa perampokan yang melibatkan banyak pihak, pasti Tuhan punya “naskah” skenario yang sangat tebal. Mudah-mudahan saya mampu membaca dan memahaminya.

Madurejo – Sleman, 6 Januari 2009
Yusuf Iskandar

“M-Swa Adventurer” Di Puncak Merapi

2 Januari 2009
"M-Swa Adventurer" Di Puncak Merapi (2965 mdpl)

"M-Swa Adventurer" Di Puncak Merapi -- 1 Januari 2009

Tim “M-Swa Adventurer” (Noval dan bapaknya, dari warung mracangan “Madurejo Swalayan”) mendaki gunung Merapi (2.965 meter di atas permukaan laut), berdiri di puncak Garuda, menjadi saksi atas datangnya hari baru 1 Januari 2009. Pendakian ini dicapai dari desa Selo, Boyolali, sekitar 60 km arah utara Yogyakarta, pada tanggal 31 Desember 2008 – 1 Januari 2009.

Merapi…..
sumber penghidupan sekaligus sumber bencana

Menggapai puncaknya adalah sebuah perjalanan mencari inspirasi
tentang gairah menemukan pencerahan baru
tentang semangat mengatasi tantangan
tentang kesadaran pengagungan kepada Sang Pencipta.

Namun,
Hari baru hanyalah sebuah keseharian
Menyaksikan sebuah mahakarya adalah kesempatan

Dan bilamana kesempatan itu datang dan kita memilikinya
Subhanallah…..
Maha Suci Allah Sang Pemilik Mahakarya itu
yang telah menciptakannya bersamaan dengan seruan-Nya :
“Hendaklah kalian berfikir…….”

Disertai doa dan harapan, semoga di tahun 2009 ini lebih banyak sukses diraih bersama segenap keluarga dan masyarakat desa Madurejo, Prambanan, Sleman, dengan terus dan tetap konsisten dalam menjalankan kewajiban ibadahnya di bidang masing-masing.

Yogyakarta 2 Januari 2009
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.