Arsip untuk Juli, 2010

Dan Di Antara Tanda-tanda (Kebesaran)-Nya

28 Juli 2010

Seperti pagi hari-hari Minggu sebelumnya, hari Minggu ini pun mestinya saya segera pergi mengaji ke pondok pesantren di sebelah rumah saya. Entah kenapa hari ini saya merasa agak malas berangkat. Menghatamkan geliat-geliat pagi di atas peraduan usai waktu Subuh rasanya enak sekali. Saya pikir Minggu pagi ini libur (pikiran yang sama dirasakan ketika seorang pelajar berharap gurunya absen). Sampai kemudian seorang teman mengaji mengirim pesan pendek singkat (SMS singkat, maksudnya) : “Monggo ngaos, pak… (mari mengaji, pak)”.

Sambil malas-malasan saya bangkit dari tempat tidur dan mengambil air wudhu. Kemudian mengenakan sarung, baju koko, kupluk (peci) hitam, mengambil buku Al-Qur’an dan siap berangkat. Mendadak perut berasa mulas. Tak tertahankan ingin kembali ke jumbleng (peturasan). Secepat kilat sarung, baju, peci, saya lepas dan lempar begitu saja. Bergegas ke kamar mandi. Leganya…! Lalu berwudhu lagi dan kembali siap mengenakan kostum mengaji. Tiba-tiba saya merasa status wudhu saya batal (enggak usah tanya kenapa..?). Akhirnya balik lagi masuk kamar mandi mengulang mengambil air wudhu. Agak kesal sebenarnya, mesti bolak-balik ke kamar mandi hanya untuk mengulang mengambil air wudhu. Setidak-tidaknya sudah tiga kali pengulangan. Sampai akhirnya saya benar-benar berangkat mengaji.

***

Tentu saja saya datang terlambat. Teman-teman mengaji yang hanya beberapa orang itu sudah mulai dengan tadarus membaca Al-Qur’an. Saya masih ingat kalau Minggu pagi ini sampai pada surat Ar-Rum. Saya langsung bergabung, membuka Qur’an dan bermaksud menyambung membacanya.

Teman di sebelahku dengan cepat membisiki : “Sekarang ayat 20, pak”. Maka saya pun langsung bergabung membaca surat Ar-Rum. Awal ayat 20 itu berbunyi : “Wa-min aayaatihii…”, hingga akhir ayat. Menginjak ayat 21, juga berawal dengan bacaan yang sama. Menyambung ayat 22 dan seterusnya hingga ayat 25, ternyata berawal dengan lafal yang sama. Sempat terpikir sebenarnya, dan dalam hati saya bertanya : “Apa sih maksudnya ayat-ayat ini kok semua diawali dengan lafal yang sama….”. Dan kenapa saya baru bergabung membacanya mulai dari ayat-ayat yang bacaan awalnya sama?

Sebuah kebetulan? Mungkin iya. Selesai membaca surat Ar-Rum, baru kemudian saya sempatkan membaca terjemahannya. Dan, terjemahan penggal kalimat yang sama itu adalah : “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya…..”. Diam-diam saya tiba-tiba merasa agak merinding.

Sekilas saya mencoba mengingat beberapa kejadian sejak sebelum berangkat mengaji. Sudah berwudhu, lalu sakit perut, lalu batal wudhu, hingga keberangkatan mengajiku tertunda sampai setelah tiga kali berwudhu. Kemudian ketika bergabung mengaji ternyata saya memulainya dengan ayat yang bacaan awalnya sama dari ayat 20 sampai 25.

“Ah, hanya kebetulan belaka”, pikirku. Tapi berhubung saya ini penganut paham bahwa di dunia ini tidak ada hal yang kebetulan, maka perasaan merinding dan takut dalam diri sendiri itulah yang kemudian saya rasakan.

Saya kemudian berprasangka (sepertinya oplosan antara prasangka buruk dan baik sekaligus) kepada Allah. Jangan-jangan saya sedang diingatkan oleh Tuhan. Jangan-jangan selama ini saya kurang memperhatikan tanda-tanda (kebesaran)-Nya dengan hati dan pikiran dalam porsi yang semestinya…

Ketika kemudian seorang teman mengaji bertanya : “Sudah ada persiapan memasuki Ramadhan, pak?”. Saya terhenyak. Perasaanku menjadi gelisah. Saya tidak siap, atau lebih tepat kurang pede, untuk menjawabnya. Sebab saya merasa ada yang salah, atau setidak-tidaknya ada yang kurang, dalam memberi “apresiasi” sebagaimana seharusnya, bahkan untuk sekedar “wajar tanpa syarat”, terhadap tanda-tanda (kebesaran)-Nya. Terlebih menyongsong tibanya bulan suci Ramadhan yang tingal sepenggalah jaraknya lagi. Itu pun masih berstatus “Insya Allah”…

(Diam-diam saya berdoa dengan sepenuh penghambaan : “Ya Allah, beri aku kesempatan, tolong pertemukan kembali aku dengan Ramadhan”).

Yogyakarta, 25 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Bisnis Yang Pasti Menguntungkan

28 Juli 2010

Teman mengajiku tadi pagi tiba-tiba bertanya: “Sudah ada persiapan memasuki Ramadhan?”. Aku terhenyak sesaat, kebingungan menjawab. Pertanyaannya tidak salah, cuma jawabannya yang belum siap….

Sedangkan ketika memulai bisnis yang belum karuan untungnya saja bisa begitu rincinya kusiapkan. Lha ini ada bisnis yang sudah digaransi pasti menguntungkan kok malah seperti jaka sembung makan peteuy, ada yang belum “nyambung” euy…

Yogyakarta, 25 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Dasar ABG…!

28 Juli 2010

Dasar ABG…! Naik motor pakai gaya-gaya wal-ugal-ugalan di tikungan. Tahu-tahu…, ngueeeng…gubrax! Nyelonong masuk halaman toko, tapi bablas ke sebelahnya nyeruduk rumah mertua. Rumah pun cedera ringan, luka-luka dindingnya (untung bukan dinding kaca tokoku). Sepeda motornya cedera berat. Pengendaranya diangkut ke Rumah Sakit, daripada gegoleran di emperan kepanasan kasihan jadi tontonan, malah dikerubutan semut…

Yogyakarta, 24 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Adzan Berirama Tembang Jawa

28 Juli 2010

Tiba waktu sholat dhuhur di Madurejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Sayup-sayup terdengar kumandang adzan dari sebuah masjid di seberang hamparan luas persawahan di kaki perbukitan timur. Alunan iramanya bukan “lagu Arab” seperti pada umumnya, melainkan alunan adzan dengan irama tembang Jawa (yang ketika Subuh malah jadi nglaras dan membuat lebih “bersemangat” melanjutkan mimpi bagi orang-orang yang berselimut). Ah, khas sekali. Hanya ada di Jogja…

Yogyakarta, 22 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Tepung Sagu Hun Kwe

28 Juli 2010

Hun kwe..! Lidah kecilku dulu menyebutnya hongkowe. Cukup surprise saya menjumpai bungkusan tepung hun kwe cap “Jeruk Manis” di tokoku. Ini jenis penganan mewah di jaman susah, pada masa kecil dulu. Sejak dulu bungkusnya ya tetap seperti itu, dengan kertas putih bertulisan warna merah, hijau atau hitam muda. Harga tepung sagu buatan Solo ini Rp 2.000,-/100 gr. Terus bertahan tanpa promosi di tengah aneka macam penganan “aneh-aneh” masa kini.

Yogyakarta, 20 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Kabel Jaringan Digerogoti Tikus

28 Juli 2010

Komputer kasir mendadak ngaco, data tidak ter-update. Wah, bisa runyam ini. Lacak-dilacak hingga ke wuwungan (ruang bawah atap), ternyata ada kabel yang digerogoti tikus. Terpaksa narik-narik kabel jaringan yang cukup panjang dan diganti baru. Perlu pengaman ekstra agar tidak lagi mudah di-plekotho (diperdaya) tikus. Lebih baik rada repot sekarang daripada nanti pas ramai-ramainya menjelang lebaran ada trouble transaksi tiba-tiba… Bisa mati berdiri…!

Madurejo – Sleman, 17 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Sate Ayam Cak Rosid

28 Juli 2010

Ada warung sate ayam baru di dekat tokoku di Bintaran, Jogja. Tenda, gerobak, pembakar, meja kursi, semua masih tampak anyar gresss… Rupanya ini hari pertama buka dan saya adalah pembeli pertamanya.

Cak Rosid, sebelumnya tukang becak dan parkir. Jelas ini upayanya untuk mengubah nasib. Saya mengapresiasi keberaniannya, sebab betapa banyak orang ingin mengubah nasib tapi tidak memiliki keberanian untuk memulai…

Yogyakarta, 13 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Rejeki Itu Seperti Tendangan Pisang

14 Juli 2010

Eforia sebulan penuh, Piala Dunia 2010 sudah usai. Tapi sayang, momen yang saya tunggu-tunggu tak kunjung terjadi, yaitu tendangan pisang. Seperti pernah diperagakan oleh Michael Platini (Perancis) atau Roberto Carlos (Brazil). Inilah tendangan jarak jauh ke arah gawang dimana bola melintas melengkung ke samping sepertinya akan menjauh tapi ternyata arahnya kembali masuk ke gawang. Begitulah biasanya gerak lintasan rejeki yang datang kepada kita.., mampir-mampir dulu…

Yogyakarta, 12 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Menghikmahi Final Piala Dunia

14 Juli 2010

Sebagai penggembira WC-2010, sungguh telah kunikmati penampilan londo Belanda saat mengalahkan londo Uruguay. Permainan londo Spanyol pun begitu mempesonaku saat membuat londo Jerman tak berkutik. Berharap semoga ada suguhan indah di Final malam ini. Tidak ada yang kujagokan, karena siapapun yang menang toh tidak akan mempengaruhi omset tokoku. Tapi pasti, strategi dan perjuangan sang juara dapat dihikmahi untuk memajukan bisnis toko…

(WC : World Cup)

Yogyakarta, 11 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Terlambat Buka Toko

14 Juli 2010

Minggu pagi ini saya rada sensi dilapori tokonya terlambat buka. Mbak-mbak pegawai yang mestinya buka pagi terlambat datang karena nginap di rumah familinya.

Sambil celathu (heran + rada geram), saya berkata agak keras (tapi tidak marah) kepada ‘boss’ saya (padahal baru saja bercanda mesra): “Kita tidak perduli mereka mau nginap di pasar atau nonton bola di alun-alun, tapi jadwal buka yang sudah disetujui tetap harus dipenuhi…” (Selalu saja ada celah dalam me-manage SDM).

Yogyakarta, 11 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Jangan Hindari Kemelut

14 Juli 2010

Gol kemenangan Jerman atas Uruguay dihasilkan melalui sebuah kemelut kecil di depan gawang. Dan, Sami Khedira berhasil membukukan kemenangan 3-2 dengan sundulan kepala yang “kelihatannya” begitu sederhana.

Pencapaian sebuah bisnis juga seringkali dihasilkan setelah melalui perjuangan dalam sebuah kemelut (seringkli lebih besar) di depan gawang. So? Ciptakan kemelut, atau setidaknya jangan hindari kemelut, lalu berusaha memenangkannya…

Yogyakarta, 11 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Kiat Sukses

10 Juli 2010

Saat “ngobrol-ngobrol”, seorang pegawaiku tanya: “Apa kiat untuk sukses?”. Kuberi jawaban normatif: “Bersungguh-sungguh”, lalu kucari penjelasan pembenarannya.

Bersungguh-sungguhlah dalam setiap tahap menggapai sukses sejak dari mimpi hingga kelak menikmati hasilnya. Karena Tuhan dan jagat seisinya ini berpihak kepada orang yang bersungguh-sungguh (di bidang apapun) yang di sana ada konsekuensi. Celakanya, dunia ini banyak diisi orang yang tidak bersungguh-sungguh (bahkan untuk mimpi), tapi ingin sukses!

Madurejo – Sleman, 9 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Forum Ngobrol-ngobrol

10 Juli 2010

Di forum “ngobrol-ngobrol” dengan para pegawai toko, siang 3 hari yll, dua topik saya sampaikan: Pertama, me-refresh pekerjaan rutin dan masalahnya; Kedua, “komporisasi” (ini bukan mengkonversi gas kembali ke minyak tanah), tapi membangkitkan motivasi bekerja (tujuan, visi dan  misi). Dua reaksi saya peroleh: Pertama, antusias; Kedua, ngantuk. Dan yang paling sulit dilakukan oleh “tukang kompor” (apapun merek kompornya) adalah: memberi contoh!

Madurejo – Sleman, 9 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Saat Doa Diijabah

10 Juli 2010

Siang di Madurejo, Sleman, Jogja… Sambil ML di belakang toko (melamun & leyeh-leyeh), memandang hamparan padi yang menguning, berlatar perbukitan di kejauhan. Tapi siang ini langit gelap, mendung menghampar rata di angkasa, hujan turun deras sekali, angin berhembus kencang menderu, geluduk sayup-sayup bersahutan, padi yang siap panen pun tak mampu menahan tegak batangnya. Kata temanku, itulah orkestra alam yang menyertai saat diijabahnya doa….

Madurejo – Sleman, 8 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Lagi-lagi Soal SDM

10 Juli 2010

Tentang human error dalam penanganan angka (di laporan toko). Setelah ketemu sumber kesalahannya, sebenarnya mudah diselesaikan, cukup berbekal “pipo londo” alias ping-poro-lan-sudo (tulis: x / : / + / -). Tapi rupanya saya salah menggeneralisir, bahwa tidak setiap orang memiliki “sense of logic” yang sama dan sesuai dengan kebutuhan dari setiap jenis aktifitas.

Lagi-lagi soal SDM…, SDM lagee, lagee… (dan saya tidak khawatir, karena ini skill yang dapat dilatih).

(SDM : Sumber Daya Manusia)

Yogyakarta, 6 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Human Error

8 Juli 2010

Tadi siang ‘boss’ saya mengadu, katanya angka margin yang kemarin kok kecil sekali, pasti ada yang salah. Sebagai sopir yang baik hati dan tidak sombong, segera in-action. Lacak punya lacak berujung ditemukannya kesalahan pada harga pokok. Bukan komputernya, bukan programnya, bukan kasirnya, tapi salah input data.

Human error dalam penanganan angka (ini bukan yang pertama, walau orangnya beda), selalu menjadi penyebab pecah ndase… (pecah kepala)

Yogyakarta, 3 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Ancang-ancang Lebaran

8 Juli 2010

“Lebaran sebentar lagi”, begitu kata pebisnis ritel mracangan. Tiba waktunya untuk menyetok komoditas unggulan kala Lebaran, seperti sirup, roti kaleng, susu kaleng, dll. Hitung-hitungan cermat dilakukan. Berapa banyak masing-masing item harus disetok agar tidak meleset jauh dari kebutuhan. Begitu pun ‘boss’ saya mulai ancang-ancang…

Ancang-ancangnya sih gampang, tapi yang untuk mengancang itu yang bikin ‘gerah’, membayangkan besarnya modal ekstra yang nanti akan parkir beberapa waktu.

Yogyakarta, 1 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Davos, Permen Kenangan

2 Juli 2010

img_0146_davos1Lama menghilang dari tokoku, kini muncul lagi, permen DAVOS… Aha! Ini permen nostalgia, jadul, pedas, ndeso, murah, yang sejak jaman kumpeni sampai sekarang bentuk, ukuran, warna dan rasanya, tetap saja begitu. Termasuk teknik promosinya, yaitu tidak pernah dipromosikan (bukankah “tidak pernah” itu juga sebuah teknik?). Harga Rp 900,- isi 10 biji, dijamin megap-megap kepedasan, bebas ngantuk, pengganti rokok (bagi yang memang tidak merokok tentu saja…)

Yogyakarta, 25 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Note -  Silakan lihat file lama di :

Davos, Permen Jadul Yang Tetap Gaul
Penggalan Kenangan Tentang Permen Davos
Harganya Masih Murah Plus Bisa Kepedasan

Menu “Baru” Soto-Bakso

2 Juli 2010

Warung tetanggaku di Madurejo menawarkan menu ‘soto-bakso’. Bakso saya tahu, soto apalagi… Lha ini ada menu “baru”. Ee, rupanya soto biasa dicemplungin glundungan bakso. Tiwas kusangka ada inovasi racikan. Inilah rupanya inovasi marketing cara ndeso. Kecil harapan ada seorang pembeli pesan dua mangkuk, soto dan bakso. Tapi semangkok ‘soto-bakso’ dengan harga lebih mahal, kenapa tidak? Istilah retailnya: baksonya di-banded ke soto.

Yogyakarta, 22 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Musim Kawin

2 Juli 2010

Musim kawin telah tiba. Seperti kebiasaan umumnya masyarakat Jawa memilih bulan Rajab sebagai waktu yang dipandang “pas” untuk hajatan… Minggu siang ini, menghadiri pesta pernikahan seorang pegawai (di sebuah desa di Berbah, Sleman, Jogja). Betapa bertolak-belakangnya dengan pesta pernikahan yang kuhadiri beberapa hari yll. di gedung megah.

Pelajarannya: Bagaimana menikmati sepiring nasi menu ndeso bukan sebagai asesori pesta, melainkan bagian dari ritual kesyukuran…

Yogyakarta, 21 Juni 2010
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.