Arsip untuk Januari, 2011

Harga-harga Bakal Naik

27 Januari 2011

“Boss” saya memberi bocoran, katanya mulai Pebruari hampir “semua” harga naik serentak, baik food maupun non-food. Info ini valid karena bersumber dari para sales/supplier dalam rangka early warning kepada para pengelola toko yang dapat diterjemahkan sebagai: “Sampeyan siap-siap nambah modal toko” –

Maka bagi yang biasa belanja bulanan dan menimbun stok di rumah, sebaiknya siap-siap sebelum Pebruari… (“Madurejo Swalayan” siap menanti. Hwahaha…)

Yogyakarta, 26 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Bertengkar Dengan Penumpang

26 Januari 2011

Hujan lebat menghajar bumi sepanjang perjalanan siang ini, melalui jalan pedesaan membelah persawahan. Phil Collin berteriak “Mama”, Freddy Mercury mendendang “Bohemian Rhapsody”. Perjalanan Jogja-Madurejo terasa lebih cepat sampai. Padahal jarak dan kecepatan kendaraan sama seperti biasa. Rupanya di dalam mobil sedang ada pertengkaran kecil, antara sopir dan penumpangnya.

Maka, ketika Anda sedang nyopir dan ingin cepat sampai, cobalah bertengkar dengan penumpang…

Yogyakarta, 20 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Menemukan Mind Set Berwiausaha

26 Januari 2011

Lama aku tidak mampir ke tukang gorengan langgananku. Ibu penjual gorengan asal Temanggung itu bakwannya siiip tenan… Kusodori uang lima ribu, lalu ditukar dengan 10 biji bakwan dan tempe goreng. Cabenya? Waaa, hanya empat gelintir… Ugh!

Yang menarik bukan bakwan atau cabenya, tapi suaminya yang sebelumnya kerja buruh ngalor-ngidul sekarang buka usaha gorengan sendiri di tempat lain. Nampaknya kini sudah menemukan mind set-nya berwirausaha.

Yogyakarta, 17 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Bakso Timin Bintaran Jogja

26 Januari 2011

(1)

Bakso Timin… Lebih 25 tahun mendorong gerobak bakso, sejak lulus SMP hingga sekarang. Melanglang buana kawasan Bintaran, Mergangsan, Jogja. Tadi sore order baksoku ditambahi sumsum dan sayuran. Semangkuk baksonya haganya Rp 5.000,- (tidak termsuk mangkuknya…)

(2)

Timin, si tukang bakso dorongan, lagi-lagi usul kepadaku: “Mbok saya dicarikan tempat”, maksudnya minta dibuatkan warung yang menetap (kerjasama bisnis tentu saja). “Dimana?”, tanyaku.
“Pokoknya tidak menghadap ke utara”, jawabnya. Wuah, lha iki..! “Kenapa?”, tanyaku. Katanya hari lahir dan pasarannya tidak cocok.
Lalu kujawab. “Waduh mas, lha kalau hari dan pasaran lahirku, cocoknya justru hadap ke utara”.

Yo wis ora sido (ya sudah nggak jadi aja).

Yogyakarta, 14 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Pentingnya Struk Bukti Transaksi

10 Januari 2011

Ada kebiasaan salah kaprah di toko kecilku “Bintaran Mart”, yaitu kasirnya sering menganggap sepele soal kertas struk bukti transaksi. Dimana struk tidak selalu diberikan kepada pembeli kecuali jika memintanya.

Kebiasaan ini harus diubah. Diminta atau tidak, struk harus diberikan. Selain karena itu hak pmbeli, struk adalah sarana promosi sama seperti menyebar brosur. Ada sebagian yang langsung dibuang, tapi ada sebagian yang dibawa pulang dan entah terbawa kemana lagi…

Yogyakarta, 5 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Gule Kambing Dan Sate Goreng “Marto Gule” Madurejo Sleman

9 Januari 2011

Gule kambing, sederhana tapi agak manis gimana gitu… “Marto Gule”, perempatan pasar Gendeng, Madurejo, Prambanan, Sleman. Menu sederhana (kolesterolnya yang tidak sederhana) tapi bertahan puluhan tahun di tempat yang sama. Sekarang adalah generasi ketiga dari penggiat dan pengusaha pergulean di pinggir timur kota Jogja.

Selain gule, warung “Marto Gule” di Madurejo, Prambanan, ini juga menyediakan menu kambing lainnya, yaitu sate goreng dan tongseng. Sate goreng sebenarnya adalah daging yang dipotong kecil-kecil seperti untuk sate, bumbunya langsung dicampur saat menggoreng. Berbumbu kecap, manis.

Warung ini sekarang dikelola dan dijurumasaki oleh keponakan mbah Marto sejak 1989. Sedang mbah Marto sendiri mewarisi dari ortunya, berarti sudah sejak puluhan tahun sebelumnya.

Yogyakarta, 30 Desember 2010
Yusuf Iskandar

Hidup Tanpa Kartu ATM

9 Januari 2011

Seprana-seprene… (selama ini), “boss” saya itu tidak pernah mau membuat kartu ATM, untuk alasan tidak pernah bisa saya pahami. Pokoknya nggak perlu, kalau perlu uang ya bawa dari rumah. Begitu jalan pikirannya. Tapi faktanya, uangnya jauh lebih awet ketimbang uangku….

Aha! Tidak perlu ditarik kesimpulan. It just a case, but a lesson must be there… Dan hikmah pembelajaran itu tidak akan pernah sama bagi setiap orang dan setiap kasus…

Yogyakarta, 29 December 2010
Yusuf Iskandar

Bukan Meminjami Tapi Pinjamlah

9 Januari 2011

Menemani “boss” saya ke bank. Melihat papan tulisan daftar suku bunga, dia berkomentar: “Bunga deposito jauh lebih tinggi daripada tabungan”.

Jawabku: “Masih lebih tinggi bunga (hasil) toko Madurejo…”. Makanya kalau mau “meminjami” uang ke bank nggak usah banyak-banyak, tapi “pinjamlah” uang bank sebuuuanyak-buuuanyaknya…, lalu “bungakan” di toko (usaha) sendiri. Nanti bank dikasih bagian sedikit saja sudah senang kok…

Yogyakarta, 29 December 2010
Yusuf Iskandar

Apalagi Yang Belum Dipelajari?

9 Januari 2011

“Indonesia Perlu Belajar”, kata Kompas hari ini, reaksi atas kekalahan 0-3 dari Malaysia dalam final piala AFF. Saya merenung. Bukankah Indonesia sudah sering belajar, kebanyakan malah.

Tapi siapa dan perlu belajar apa lagi? Pemain & PSSI itu hanya bagian kecil dari Indonesia. Semua sudah dipelajari. Gempa, tsunami, banjir, longsor, gunung mbledos, lalu matematika, fisika sampai agama, pancasila, korupsi, bahkan klenik pun dipelajari. Jadi apalagi yang belum dipelajari?

Yogyakarta, 27 December 2010
Yusuf Iskandar

Mendadak Suka Bola

9 Januari 2011

Sedih rasanya menyaksikan gol demi gol bersarang di gawang Indonesia malam ini. Lha kok ibunya anak-anak yang bukan pecinta bola, nonton juga tidak pernah, apalagi main, saat Indonesia kebobolan 0-1, dari tokonya kirim SMS: “Piye kuwi (gimana itu) Indonesia kalah”.

Saat 0-2 kirim SMS lagi: “Kuwi gol meneh (tuh gol lagi)”. Saat 0-3 kirim SMS lagi: “Kuwi dibabat meneh (tuh dibabat lagi)”. Saking keselnya kubalas: “Hey, tokonya jangan ditinggal!”.

Yogyakarta, 26 December 2010
Yusuf Iskandar

Banting Setir Menjadi Penjual Es Kelapa Muda

9 Januari 2011

Pengantar:

Catatan di bawah ini adalah kumpulan dari catatan status saya di Facebook.-

——-

(1)

Di seberang jalan depan tokoku “Madurejo Swalayan”, Sleman, Jogja Istimewa, beberapa bulan ini saya lihat ada penjual es kelapa muda. Meja, keranjang dan perlengkapannya nampak masih baru.

Hari ini saya sempatkan datang membeli segelas dan saya minum sambil duduk di pinggir jalan di bawah pohon. Bukan karena saya haus dan ngidam kelapa muda, tapi karena saya ingin ngobrol dan mengenal lebih jauh tetangga baru saya itu…

(2)

Pak Rohmadi dan istrinya bekerja sebagai buruh. Ya buruh bangunan, pabrik, pelayan toko, kuli, dsb. Pendeknya, sejak muda menjadi orang gajian berganti-ganti bidang dengan penghasilan bulanan yang segitu-segitunya.

Beberapa bulan yll mereka membuat keputusan besar dalam hidupnya, mengakhiri “petualangan” sebagai buruh dan banting setir menjadi pengusaha. Usaha pertama yang dilakukannya adalah jualan es kelapa muda di pinggir jalan.

(3)

Keuntungan bersih pak Rohmadi dari hasil jualan es kelamud (kelapa muda) berkisar Rp 40-50 ribu/hari. “Tergantung cuaca”, katanya. Sebenarnya tidak jauh beda dengan pendapatannya ketika menjadi buruh.

Tapi kini pak Rohmadi melihat di depan matanya membentang ribuan peluang yang memungkinkannya untuk melipat-gandakan penghasilannya 10 kali, 100 kali, 1000 kali dari hasilnya yang sekarang. Keyakinan itu perlu, walau belum tahu apa yang dapat dilakukannya saat ini.

(4)

Memang belum setengah tahun pak Rohmadi menekuni bisnis es kelamud. Belum dapat diukur apakah usahanya berkembang atau mengempis. Tapi yang pasti bahwa sejak banting setir menjadi pengusaha, dia sudah berhasil masuk tahap MPP (Menangkap Peluang Pertama).

Perkara nanti akan terus jualan es kelamud atau harus ganti dengan peluang kedua, ketiga, dst., itu soal lain. Sebab banyak orang yang bahkan untuk MPP pun sepertinya harus kungkum (berendam) di sungai tujuh hari tujuh malam..

(5)

Keranjang dipasang di kiri-kanan sepeda motor pak Rohmadi. Setiap pagi suami-istri itu berangkat dari rumah membawa perlengkapan jualannya. Ditatanya di atas meja kayu sederhana di pinggir jalan di bawah pohon, di seberang jalan depan tokoku. Sore biasanya mereka pulang.

Penghasilan mereka memang masih pas-pasan. Tapi kebebasan untuk mengatur irama hidup yang dimilikinya.., itulah nampaknya buah pertama dari keputusannya banting setir.

‎(6)

Bu Rohmadi agak kaget saat tahu saya, pembelinya yang banyak tanya ini, adalah pemilik toko swalayan di depannya. Lalu sampailah pada saat yang kutunggu-tunggu. Bu Rohmadi berkata: “Kenapa tidak jual baju-baju? Banyak yang tanya lho pak…”. Ini adalah informasi yang sangat berharga.

Harus dipahami, tidak mudah berharap masyarakat desa mau tanya hal-hal seperti itu langsung ke toko, melainkan melalui obrolan dengan orang lain. Sementara fashion memang belum menjadi segmen yang saya garap.

Yogyakarta, 25 Desember 2010
Yusuf Iskandar

Keberkahan Di Malam Natal

9 Januari 2011

Keberkahan di malam Natal… Tokoku “Bintaran Mart” berada di dekat gereja St. Yusup Bintaran Jogja. Sejak sore hingga malam ini gereja itu penuh dihadiri jemaat dari mana-mana. Sebelum dan seusai misa kebaktian Natal, para jemaat pada mampir ke toko.

Setahun sekali keberkahan seperti ini seolah tercurah dari langit. Tahun ini, purnama merangkak di langit timur menjadi saksi atas keberkahan yang mengalir ke tokoku di keheningan malam Natal…

Yogyakarta, 24 December 2010
Yusuf Iskandar

Bakso Pak Marlan Bintaran Jogja

9 Januari 2011

Bakso pak Marlan… Tukang bakso dorongan ini sebenarnya sudah sering lewat di depan tokoku “Bintaran Mart” tapi baru sore ini tertarik mencicipinya. Segera kupesan spesial semangkuk bakso tidak pakai tahu dan gorengan, tapi banyak sayurnya. Sayur yang digunakan adalah daun sawi. Taste-nya standar…, standar enak maksudnya.

Yogyakarta, 23 December 2010
Yusuf Iskandar

Produk Baru Mie Instan Rasa Sayuran

9 Januari 2011

Diam-diam, Indo Mie melepas produk baru mie instan ‘Vegan’ dengan rasa sup sayuran dan mie goreng, bungkus hijau. Belum ada iklannya di media. Tokoku baru uji coba menjual hari ini. Malamnya kucoba di rumah, terasa ada taste beda dibanding varian yang sudah ada di pasar.

Maka bisa ditebak, sekarang produsen kompetitor sudah ancang-ancang. Begitu varian rasa sayur ini meledak di pasar, penggembira pun segera turut menyemarakkan euforia “sayuran di perutku”…

Yogyakarta, 23 December 2010
Yusuf Iskandar

Nostalgia Es Murni Tukangan Jogja

9 Januari 2011

Pengantar:

Catatan di bawah ini adalah kumpulan dari catatan status saya di Facebook.-

——-

(1)

Alkisah, lebih 20 tahun yll ibunya anak-anak dan teman-teman gadisnya suka ngiras (ngudap) es teler di warung Es Murni, Jl. Tukangan 45, Jogja. Ke warung itu juga dia suka mentraktir pacarnya.

Jaman itu tidak banyak pilihan tempat jajan di Jogja. Resto, cafe dan sejenisnya baru muncul pada tahun-tahun belakangan. Yang lebih penting, Es Murni tergolong murah-meriah-wuuah rasanya. Kini, warung itu masih ada, warung “Murni 83″ namanya (83 adalah nomor lama warung itu).

(2)

Sore kemarin, ketika pulang dari Madurejo, Sleman, tiba-tiba terlintas ide ingin bernostalgia. Kami lalu singgah ke warung es “Murni 83″. Tampilan warungnya sederhana. Dari jaman dulu ya begitu itu. Dengan becanda kubilang seperti di kandang macan karena dikelilingi pagar besi tinggi.

Menu unggulannya sebenarnya tidak ada yang khas, yaitu es teler, bistik dan bakso. Buka jam 8 pagi sampai jam 5 sore, tapi jangan kecewa kalau kehabisan baksonya.

(3)

Racikan es teler “Murni 83″ sebenarnya biasa saja. Ada alpukat, nangka, kolang-kaling, cincau, tape ketan, roti tawar, kelapa muda, juga durian kalau sedang musimnya. Tapi takarannya begitu pas, hingga rasanya boo..., yang lain makin ketinggalan!

Setelah mangkuk pertama tandas, mangkuk lainnya seolah berkata: Jadikan aku yang kedua… Bakso mie atau kuahnya sering sudah habis sebelum jam tutup warungnya.
(4)

Salah satu menunya yang tak lekang oleh jaman tak lapuk oleh pergantian generasi adalah bistik (bestik). Aslinya sebenarnya beef steak. Tapi orang Jawa jaman kumpeni dulu lidahnya suka terpelintir kalau menyebut kata itu, maka lalu dimudahkan saja.

Daging sapi seperti pada burger dan gorengan wortel, buncis dan kentang, dilengkapi mentimun, tomat, lalu diguyur kuah tomat. Uuufff…, menu londo dengan citarasa tradisional yang berbeda…

(5)

Kalau menu sederhana warung Es Murni mampu bertahan lebih setengah abad dan hingga kini masih dikunjungi pelanggan, itu tentu bukan prestasi sederhana. Sebut saja pak Juwahir Setiabudi sang “founding father” Es Murni yang kini berusia 83 tahun.

Ketika saya ketemu kemarin sore, beliau sedang santai di depan warungnya yang kini dikelola anaknya. Beliau nampak letih, duduk di kursi roda dengan pandangan kosong mata tuanya.

(6)

Maka kalau kemarin sore saya menyengaja berkunjung ke warung Es Murni, bukan semata-mata hendak bernostalgia. Melainkan karena kangen dengan es teler, bakso dan bistik resep turunan dari pak Juwahir yang istrinya baru meninggal sekitar tiga bulan yll. Sekaligus menikmati pencapaian bisnis sederhananya.

Semangkuk bakso kuah dan semangkuk es teler pun tandas masuk tembolok, sedang bistiknya dibungkus untuk dimakan di rumah saja. Perut keburu kemlakaren… (penuh kekenyangan).

(7)

Sesaat di rumah, kunikmati sebungkus bistik warung “Murni 83″. Nyaaammm…pas tenan kuah tomatnya. Pantas  banyak penggemarnya yang suka minta dibungkus dibawa pulang.

Tak kuduga sejam kemudian…, perutku mulas banget. Langsung saja menghambur ke jumbleng. Rupanya perutku kebingungan milah-milah antara es teler, bakso dan bistik saat memprosesnya… Tapi ya kunikmati saja, alhamdulillah…!

Yogyakarta, 22 Desember 2010
Yusuf Iskandar

Buah Favorit

9 Januari 2011

Kedondong cangkok di belakang tokoku di Madurejo, Sleman, mulai berbuah. Kali ini tidak sendiri…, melainkan gerombolan ramai-ramai. Satu-satunya alasan saya menanam kedondong adalah karena ini buah favoritku. Bukan pepaya, mangga, pisang, jambu…, apalagi apel, anggur atau strawberry….tapi kedondong.

Yogyakarta, 22 December 2010
Yusuf Iskandar

Buah Pertama, Sendiri…

9 Januari 2011

Sendiri… Rambutan cangkok di belakang toko di Madurejo, Sleman, sudah mulai berbuah. Buah pertama, tapi sendiliii… (sengaja tidak pakai ‘r’).

Yogyakarta, 21 Desember 2010
Yusuf Iskandar

Mekanisme Tuhan

8 Januari 2011

Waktu hujan sore-sore, kilat sambar pohon kenari.., tiba-tiba HP berdering. “Pak Yusuf?”. Setelah kujawab: “Ya”, lalu suara berat di seberang sana: “Ini raja…”, sungguh mak deg hatiku seperti benar-benar disambar kilat yang tadi. Salah apa aku sampai ditilpun raja.

“Saya raja dari PT XYZ”, lanjutnya. Oo…walah, nggak tahunya orang India yang mau ngasih proyek. Padahal waktu tadi ada petir aku tidak berdoa minta proyek. Mekanisme Tuhan memang tak terduga…

Yogyakarta, 20 December 2010
Yusuf Iskandar

Ke “Own Café” Sagan Jogja

5 Januari 2011

Ada sebuah malam yang harus dilewati saat berpindah dari hari tasu’a (9 Muharram) ke asyura (10 Muharram). Apakah kedua hari itu mau diisi dengan berpuasa atau tidak, itu perkara lain. Tapi kalau malam itu kemudian diisi dengan saling nge-charge visi bisnis, lha itu baru tidak mudharat…

Maka ke “Own Cafe” Sagan Jogja kami menuju… (Trims untuk mas Bams Triwoko atas sharing-nya, termasuk sharing traktiran…)

Yogyakarta, 15 December 2010
Yusuf Iskandar

Jangan Menambah Jumlah Orang Bingung

5 Januari 2011

Kepada pelayan tokoku (Madurejo) kuberitahu bahwa sebenarnya banyak orang belanja masuk toko lalu bingung. Terkadang milih bedak, sampo, odol, luuamanya setengah mati, ditimbang-timbang ini-itu. Terkadang mereka perlu dibantu, hanya untuk memilih mana yang lebih baik.

Kuberitahu pelayan tokoku: “Kuncinya hanya pede menjawab, walau agak-agak ngawur…, tapi jangan tidak menjawab, itu berarti menambah jumlah orang bingung di toko…”.

Yogyakarta, 15 December 2010
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.