Arsip untuk Februari, 2011

Dua Perempuan Cantik Dan “Boss” Saya

19 Februari 2011

(1)

Dua pemuda tanggung bertatto nyaris memplekotho (memperdaya) toko Bintaran Mart. Kebetulan “boss” saya sedang jaga di toko sendirian dan spontan beliau langsung beraksi menunjukkan “jati dirinya”.

Dua pemuda itu diancamnya: “Kalau kamu tidak keluar sekarang dan berani kembali lagi, tak hajar kamu…!”. Lalu dua pemuda itu pun munduk-munduk seperti Tom dipenthelengi (dipelototi) Jerry, lalu kabur dengan sepeda motornya…

(2)

Dua pemuda itu ternyata perempuan cantik…haha…. Yang satu tampil manis berkerudung, yang satu tampil seksi ada tatto di pahanya.

Kubilang kepada “boss” saya: “Kok enggak manggil aku?”.
“Memang kenapa?”, tanya balik “boss” saya.
Dan jawabku: “Aku cuma pingin lihat tattonya gambar apa…”.

Yogyakarta, 11 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Ngurus Warung Seperti Ngurus Negara

19 Februari 2011

Lebih lima tahun yll, ketika saya sedang mempersiapkan membuka usaha toko “Madurejo Swalayan” di Prambanan, Sleman, DIY, seorang teman berkomentar guyon: “Ngurus warung kecil di desa saja kok seperti memikir negara”.

Jawabku: “Lebih baik ngurus warung seperti ngurus negara daripada ngurus negara seperti ngurus warung…”.

Note:
Lihat tulisan: Ketika Seorang Geolog Menemukan Lokasi Singkapan

Yogyakarta, 11 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Ketika Tuhan “Memaksa”

10 Februari 2011

Kesialan, ketidak-beruntungan, keburukan dan bencana, hampir setiap saat kita jumpai. Tapi tidak setiap saat kita dapat melihat kebaikan yang ada di baliknya.

Berikut ini kumpulan cersta (cerita status) saya di Facebook, sekedar ingin berbagi…

(1)

Akhirnya benar-benar terjadi. Mobilku tidak bisa keluar karena terhalang bangunan di pojok jalan kampung. Orang lain yang bersengketa, mobilku yang jadi korban (kalau pemiliknya baik-baik saja). Yo wiss, bensinnya utuh…

Sudah 3 hari saya pergi ke toko Bintaran naik sepeda (uuuh.., sudah lama tidak bersepeda). Siang kemarin ke toko Madurejo menempuh jarak lebih 30 km pp. bersepeda motor boncengan dengan “boss” (hmmm.., untuk pertama kali kami lakukan ini sejak toko itu berdiri lebih lima tahun yll).

(Repotnya kalau membangun rumah di tengah persawahan ketika belum tahu kawasan itu kelak akan menjadi seperti apa. Tapi karena niat awal membangunnya adalah untuk tujuan ibadah, ya biar saja Tuhan yang mengurus jalan keluarnya…, maksudnya benar-benar jalan agar mobilku bisa keluar…)

(2)

Tertutupnya akses jalan mobil di rumah adalah satu hal. Bersepeda ke toko adalah hal lain. Tapi berboncengan sepeda motor jarak jauh adalah cara Tuhan “memaksa” saya untuk lebih kompak bekerja berdua “boss”.

Hmmm… Sebab filosofinya adalah, tidak ada hal yang kebetulan melainkan ada dalam perencanaan-Nya. Maka bersepeda motor ke Madurejo untuk yang pertama kali itu pun sesuai rencana-Nya.

(3)

Berboncengan sepeda motor, dengan kecepatan 30-40 km/jam, membelah persawahan di wilayah kecamatan Berbah yang padinya mulai menguning dan sebagian mulai panen… Uuugh, serasa seperti sedang yang-yangan (pacaran).

Dengan “menutup” akses mobil di kampung, Tuhan sedang “memaksa” memberi kesempatan kami untuk melakukan “revitalisasi”. Kami pun bisa bersepeda motor ke Madurejo dengan santai sambil cengengesan… Untung tidak kehujanan…

(Seorang teman “cemburu”… Saya katakan, bayangkan seperti melihat adegan kemesraan dalam film-film jadul, bukan dalam film-film jaman sekarang…)

(4)

Pulang dari Madurejo saat sore. Mampir ke warung sate kambing “Pak Tarno”, di Jl. Piyungan-Prambanan km 4,5. Seporsi sate yang terdiri dari enam tusuk dengan potongan kecil-kecil, empuk sekali dagingnya… Seporsi gule melengkapinya.

Jam terbang Pak Tarno yang lebih 22 tahun menekuni dunia persatean di Jogja, tidak diragukan lagi kompetensinya untuk menyajikan seporsi sate kambing…, hmmm..! Terbukti dua ekor kambing ludes dimakan pelanggannya tiap hari.

(Memang tidak ada hubungannya antara kemesraan dengan sate kambing. Sate kambing itu sepenuhnya hak prerogatif lidah hingga perut untuk mak nyus atau tidak , sedang kemesraan itu seperti angin segar yang berhembus di persawahan karena selalu diharapkan agar jangan cepat berlalu…)

Yogyakarta, 9 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

NB:
Catatan ini kupersembahkan kepada sahabat-sahabat saya yang kini usianya telah berada di ambang atau sekitar periode “over-sek” (lebih seket, lebih lima puluh tahun). Teriring salam hormat semoga selalu berbahagia bersama keluarga.

Upah Dari “Boss”

10 Februari 2011

Sedang enak-enak ML (Melamun dan Leyehan) di rumah, Senin pagi, tiba-tiba ditilpun kalau komputer toko trouble. Segera berangkat menjalankan “tugas Negara”, naik sepeda ke toko Bintaran Mart. Kutak-katik-kutak…, sejam kemudian mission accomplished. Upah dari “boss” ditunaikan sebelum keringatku kering. Nyottooo…, panas dan pedas… Uuuhhhmmm….

Yogyakarta, 7 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Tsunami Harga Naik

1 Februari 2011

Ketika air laut tiba-tiba surut tak terkira, bersiaplah akan datangnya gelombang laut yang tiba-tiba naik dan bisa jadi itu petaka tsunami… Ketika stok barang para supplier tiba-tiba pada habis, bersiaplah akan datangnya harga baru yang tiba-tiba naik dan bisa jadi itu prahara daya beli…

Hari-hari ini beberapa jenis barang di tokoku menghilang dari peredaran karena tidak ada pasokan. Maka bersiaplah jika kemudian harga-harga bakal naik (mulai bulan Pebruari).

Yogyakarta, 30 Januari 2011
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.