Seorang bapak tua agak brewokan sebagian memutih, berkaos kegedean, bercelana lusuh, bersandal jepit, membawa ketipung diikatkan di depan perutnya dengan tali rafia, berdiri di depan tokoku, bernyanyi: “Cinta satu malam, oh indahnya…tek dung, tek dung…”.
Habis satu lagu, seorang sales memberinya uang koin entah berapa, berkata: “Mbok jangan cuma satu malam”.
Sambil senyum dan ngeloyor pergi, si bapak menjawab (dalam bahasa Jawa): “Setahun kelamaan…”.
Yogyakarta, 7 April 2011
Yusuf Iskandar