Arsip untuk Mei, 2011

Calon Pengusaha Yang Peminta-minta

18 Mei 2011

Mbah Daliyem, 62, asal Imogiri, sedang merintis usaha lempeng (kerupuk berbahan ketela). Gigi ompong, fisik lincah, bicara cergas (cerdas dan tegas) disisipi bahasa Indonesia dengan runtut. Bangga bercerita pernah masuk TV dan sekarang sedang membina satu anaknya untuk juga berusaha kerupuk lempeng.

Namun, saban hari berkeliling meminta-minta. “Lho? Kenapa masih minta-minta?”. “Taksih kirang…(masih kurang)”, jawab calon pengusaha itu. Waaa, ya no comment-lah..

Yogyakarta, 14 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Mengabaikan Hal-hal Yang Lepas

18 Mei 2011

Menjadi sales (supplier) bagi toko-toko kecil identik dengan pekerjaan dengan hasil pas-pasan, apalagi sales lepasan (free lance). Tiap hari mereka blusukan sampai ke desa-desa, naik motor atau mobil milik perusahaannya.

Tapi ada salah seorang sales lepasan yang sering kulihat datang ke tokoku naik taksi, dan mbayar. Pasti ada sesuatu yang lepas dari tangkapan pikiranku. Ya, seringkali kita mengabaikan hal-hal yang lepas seperti itu. Jangan-jangan di sanalah “ilmunya”…

Yogyakarta, 12 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Gereja Tua Bintaran

18 Mei 2011

Gereja St. Yusup Bintaran. Salah satu gereja tua di Jogja yang arsitektur atapnya berbentuk setengah silinder. Sempat mengalami retak-retak ketika terjadi gempa Jogja tahun 2006. Jemaat gereja ini suka mampir ke tokoku “Bintaran Mart” di seberang agak ke belakang.

Yogyakarta, 9 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Mie Ayam Mendongkrak Omset

14 Mei 2011

Mie ayam Rp 5.000,-/mangkuk (tidak termasuk mangkuknya, tentu saja). Komposisinya: mie, ayam berbumbu dan sawi hijau. Bagaimana mendongkrak omset? Tawarkan: Extra mie atau sawi + Rp 1.000,- dan extra ayam + Rp 2.000,-

Selain rasanya memang hoenak, banyak juga pembeli yang mengambil tawaran extra itu, daripada pesan semangkuk lagi yang malah jadi kekenyangan. Mirip-mirip strategi mem-banded (membundel) produk menjadi “2 or 3-in-1″ dengan sedikit memberi diskon.

(Note: Mie Ayam “Virgo” Wonocatur Jogja)

Yogyakarta, 7 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Berdiri Di Atas Seutas Tali

5 Mei 2011

Seorang mantan karyawan ingin kerja lagi. Menilik kondisi kehidupannya yang sekarang, sungguh tidak tega untuk menolaknya. Tapi menilik kondisi perilakunya yang sekarang, juga sungguh tidak tega untuk menerimanya kembali. Bisa jadi virus yang mudah menular seperti sakit pilek.

“Piye yo (gimana ya)?”, tanya “boss” kepada sopirnya.
“Lha, piye…?”, jawab sopirnya.

Professionalisme.., terkadang memaksa kita harus berdiri di seutas tali, batas antara rasa dan logika.

Yogyakarta, 3 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Pelajaran Tentang Nasi Goreng

5 Mei 2011

(1)

Minggu pagi ibunya anak-anak masak nasi goreng bumbu standar. Tapi sepertinya kurang laku. Daripada dibuang sayang… Kubuka kulkas, kuambil wortel, buncis, cabe merah, cabe rawit, daun bawang, seledri, bawang merah, chicken nugget dihancurkan. Ditumis setengah masak, dicampur nasgor bumbu standar. Disajikan dengan kol, tomat, mentimun. Dimakan dengan kerupuk kampung… Lha kok nasgornya jadi woenaaak tenan…!

(2)

Yang namanya nasi goreng itu sejak jaman belum ada penggorengan sampai tadi pagi, ya seperti itu bentuk dan rasanya. Tapii soal citarasa dan ke-enak-an hasilnya, tergantung pada cara mengolahnya. Maka kalau ada warung nasgor, yang satu sepi pembeli dan yang lain pembelinya ngantri, pasti karena cara penanganannya beda (selain faktor dukun…, yang ini abaikan deh!).

So? Biarkan semuanya biasa-biasa saja, tapi bedakan cara penanganannya (bahasa gaulnya: management).

Yogyakarta, 1 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Dialog Dengan Seorang Ibu Yang Sedang Risau

4 Mei 2011

Pengantar:

Seorang ibu yang merangkap sebagai tulang punggung keluarganya ingin “hijrah” dari hal yang diyakininya salah menuju ke cara yang benar. Tapi hatinya risau, bingung bagaimana harus memulainya. Dialog melalui SMS yang saya lakukan dengan si ibu itu saya tuliskan dalam cerita status (cersta) yang saya posting di Facebook. Seperti biasa, saya menuliskannya dengan gaya yang tidak biasa. Berikut ini rangkumannya. Semoga ada pelajaran yang dapat dipetik.

——–

(1)

Seorang ibu nun jauh di ujung seberang pulau tiba-tiba mengirim SMS. Dia menemukan blog saya di internet, lalu minta saran… (haha, kembali jadi tukang kompor nih). Katanya dia sedang menjalankan usaha rentenir (di pelosok Jawa disebut “bank thithil”…) dari seorang pemilik modal.

“Saya risau pak, saya ingin berhenti, tolong bagaimana caranya”, begitu singkatnya. Hmm… saya perlu waktu untuk menjawabnya, mungkin mau saya pikir sambil tidur saja dulu…

(2)

Dalam hati ingin berkata: “Ya berhenti saja!”, sebab satu-satunya cara untuk berhenti adalah tidak melanjutkan berjalan. Tapi jika berhenti adalah semudah itu, pasti si ibu itu tidak perlu risau bagaimana caranya. Berarti ada faktor lain yang tidak saya ketahui.

Maka saya coba meyakinkan untuk menghentikan usaha “bank thithil” (rentenir) dengan menggunakan kata-kata seperti keberkahan, kemudahan atau kesuksesan, ketimbang kata-kata “menakutkan” seperti riba, dosa atau neraka…

(3)

Saya pesankan kepada si ibu itu: “Cari alasan yang masuk akal kepada si pemilik modal untuk ibu berhenti dari usaha rentenir”. Tidak apa-apa proses itu berjalan perlahan.

Bagaimana pun juga si ibu masih terikat “amanah” untuk mengembalikan uang milik pemodal yang sedang berputar. Pada saat yang sama barengi dengan mengikrarkan niat untuk meninggalkan dunia persilatan “bank thithil”… Mudah-mudahan proses berhentinya menjadi mudah atau dimudahkan…

(4)

Lho dimana tidak mudahnya? Si ibu telanjur terjebak dalam bisnis setan yang melingkar (inner cycle). Ketika tiba waktunya dia harus setor kepada pemodal sementara tagihan tidak bisa masuk, terpaksa dia harus menutupnya dulu dari kantong pribadi.

Si ibu tidak memiliki kemampuan menjadi debt collector, sebab setiap kali menagih dan si penghutang kesusahan bahkan mengada-adakan untuk bisa membayar, hatinya tidak tega…

(5)

Saya perlu mengapresiasi si ibu dan saya katakan: “Itu langkah awal yang (insya Allah) akan mengantarkan ibu kepada kemudahan usaha lainnya, termasuk kios sembako (si ibu sedang merintis kios sembako). Mungkin yang ibu hasilkan dari rentenir cukup besar, tapi saya ragu kalau ibu dan keluarga dapat menikmati keberkahannya. Selain, usaha itu jelas illegal“.

Saya tahu kata-kata itu mungkin terdengar tidak merdu di telinga si ibu. Makanya perlu saya susul dengan SMS lanjutan…

(6)

Si ibu ini rupanya baru mulai usaha kios sembako. Pertanyaan kedua dari si ibu: “Kenapa kios saya ini kurang pembelinya, kalah dengan kios tetangga”. Padahal kios milik si ibu lebih komplit.

Tentu banyak sebab, tapi “ngelmu kompor” saya cepat bekerja: “Itu karena ibu telanjur memiliki image negatif sebagai seorang rentenir, sehingga pembeli merasa tidak nyaman berbisnis dengan ibu”.

Gubraks..! Saya bayangkan si ibu dhelek-dhelek…(diam tepekur) membaca SMS saya.

(7)

SMS saya berikutnya: “Saya yakin (insya Allah) setelah ibu berhenti menjadi rentenir, lalu dibarengi dengan upaya taubat kepada Tuhan dan niatkan mau berusaha secara wajar, maka image negatif tadi pelan-pelan akan berubah menjadi positif. Jelas akan perlu waktu. Tapi hasil usaha itu kan bukan soal banyak atau sedikit, melainkan keberkahannya bagi diri ibu sendiri dan keluarga”. Begitu yang saya katakan selanjutnya sebagai upaya menyejukkan perasaan si ibu yang sedang risau…

(8)

Sementara proses berhenti dari usaha rentenir sedang berjalan, si ibu saya sarankan untuk lebih fokus membenahi usaha kios sembakonya. Pada saat yang sama pancangkan niat untuk “banting setir” alias “hijrah” dari mencari rejeki dengan cara yang tidak benar ke cara yang benar.

Apa nilai tambahnya? Tuhan berkepentingan membantu hambanya yang sedang berjuang menuju kebenaran. Jalan ke arah sana akan segera terbuka, termasuk wawasan tentang bisnis yang membawa berkah…

(9)

Jika merasa wawasan itu belum terbuka juga, tidak usah risau… Ubah gaya pelayanan kepada pembeli menjadi lebih ramah, lebih bersahabat, lebih bersuasana nyaman, lebih riang, dsb. Harga wajar, tingkatkan cara pelayanan, sehingga persaingan dengan tetangga pun jadi alami. “Maka kios ibu yang lebih komplit itu pasti akan lebih menarik”, kataku menyemangati.

Nasehat normatif seperti ini sering dilupakan saat suasana hati risau. Maka jangan risau. Perkuat dengan doa…

(10)

Balasan SMS dari si ibu yang sedang risau itu rupanya cukup membesarkan hati. Dia menulis kira-kira begini (dialek Indonesia Tengah yang saya rapikan agar mudah dipahami): “Insya Allah niat saya tercapai. Saya takut dosa pak. Apalagi saat menagih, mereka pada susah. Ketika saya memaksa harus, maka mereka pun berusaha membayar walaupun dengan cara apa saja. Subhanallah”.

Dan, jawabku: “Insya Allah kemudahan akan datang menghampiri ibu”.

Yogyakarta, 29-30 April 2011
Yusuf Iskandar

Berani Ber(wira)usaha

1 Mei 2011

Pengantar:
Tulisan berikut ini adalah kutipan dari cersta (cerita status) saya di Facebook yang penulisannya sudah saya edit kembali agar lebih enak dibaca. Sekedar ingin berbagi…

——-

(1)

Minimarket saya berlokasi tidak jauh dari Superindo di kota Jogja. Celetuk seorang pembeli: “Kok berani sih?”, maksudnya buka pasarmini di dekat pasarsuper.

Jawab “boss” saya lugu: “Rejeki kan sudah ada yang mengatur…”.

Yang dikatakan “boss” saya benar, tapi tidak menjawab. Bahwa antara pasarsuper dan pasarmini tidak bisa dibandingkan. Pasarsuper menjadi tujuan pembelanja berkantung tebal, sedang pasarmini menjadi tujuan “orang lewat” yang mampir belanja…

(2)

Keluarga yang ingin mencukupi kebutuhan mingguan atau bulanannya umumnya rela jauh-jauh mencari pasarsuper sekalian rekreasi. Tapi orang yang tiba-tiba kepingin udut, atau mau menyuguh tamu gulanya habis, atau mendadak kehausan, pasti lebih suka ke pasarmini yang biasanya tidak ngantri dan tidak mbayar parkir. Juga anak-anak yang hanya punya uang jajan Rp 500,-

Jadi? Ya jualan saja sejual-jualnya… Wong yang membelinya beda…

(3)

Itu kan teorinya, antara pasarmini dan pasarsuper. Lha prakteknya? Ya jualan saja terus. Kalau tidak laku? Pelajari agar laku. Kalau rugi? Upayakan agar tidak rugi. Kalau sepi pembeli? Cari cara agar tidak sepi… Maka nasehat seperti apalagi yang diperlukan?

Haha.., jangan terprovokasi. Jawaban atas: pelajari, upayakan dan cari cara, tentu saja tidak tiba-tiba mecothot (muncul) dari kuburan keramat yang dikembangi. Tapi pasti hasil dari belajar dan kerja keras.

(4)

Kemauan belajar dan kerja keras bukan mudah. Hanya mungkin dilakukan kalau seseorang mencintai apa yang dilakukannya. Ya, keyword-nya adalah cinta. Karena itu ketika memilih apa yang mau diusahakan, gunakan energi positif orang yang sedang jatuh cinta.

Ada apa dengan orang ini? Walau matahari terbit dari utara, walau hujan badai menghalangi, walau kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala, apapun dilakukan demi yang dicintainya. So? Jatuh cintalah sebelum ber(wira)usaha.

(5)

Sedang asyik-asyiknya menggagas tentang ber(wira)usaha dengan energi cinta, lha kok tadi malam acara Bukan Empat Mata menampilkan ndang ndut rock berjudul “Persetan”.

Liriknya:
Cinta membuat susah pikiran
Serta mengurangi nafsu makan
Akhirnya bisa menguruskan badan
Apalagi kalau patah hati
Sedang menyinta ditinggal pergi
Akhirnya bisa mati bunuh diri…

(Kok hafal? Lha yo dicatet no… Perlu keahlian tersendiri untuk bisa menulis cepat. Haha…).

(6)

Wokkelah… Biar tidak ngoyoworo (membuang-buang waktu). Memulai (wira)usaha dengan niat untuk ibadah. That’s it!

Alasan minimal agar kita tidak sendiri, melainkan melibatkan (Yang Maha) Pihak Lain yang kita ibadahi itu. Alasan maksimal, kalau usaha kita ada masalah, maka pasti (ini janji-Nya)…, pasti (Yang Maha) Pihak Lain itu tidak akan membiarkan kita klepek-klepek ndili… Sedang niat-niat lain selain ibadah, jadikan itu sebagai pelengkap penggembira…

(7)

Maka marilah kita tengok kembali tag line dongeng saya ini: BERANI, BELAJAR, KERJA KERAS, CINTA, (WIRA)USAHA, IBADAH…

Lalu apakah kalau sudah memiliki modal dasar pembangunan usaha dari BERANI sampai IBADAH itu njuk… serta-merta sukses akan diraih? Ya, belum tentu…, enak aja! Tapi setidak-tidaknya kita sudah menyiapkan sebuah wadah untuk menampung rejeki yang mberkahi.., seberapapun banyak dan besarnya.

(8)

Banyak atau sedikit, besar atau kecil, rejeki (baca: keuntungan usaha) itu relatif, tergantung persepsi nafsu kita. Maka sebaiknya (ini sebaiknya lho…), mereka yang ber-KTP Islam, perlu melandasi dengan ikhlas untuk selalu bersabar dan sholat (lha ini repotnya, kalau sudah urusan ikhlas, sabar, sholat… Dan saya tidak ngarang-ngarang). Dan mereka yang ber-KTP non Islam, saya percaya pasti juga ada landasan yang kurang-lebih sama…

“Selamat Ber(wira)usaha”.

Yogyakarta, 27 April 2011
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.