Tetangga toko di Madurejo menanam pohon jati mas di belakang rumahnya. Setiap hari ada saja daun keringnya yang lepas dari dahan lalu terbang melayang dan jatuh di halaman belakang toko saya.
Kini saya punya kesibukan baru mengumpulkan daun jati kering dan membakarnya. Alhamdulillah, kali ini rejekinya berupa daun jati kering, seperti doaku: “Tuhan, jika rejeki itu masih di atas, turunkanlah” (Jangan-jangan doaku yang salah? Harusnya tidak termasuk daun kering).
***
Membakar tumpukan daun jati kering di belakang toko di Madurejo, Prambanan.
Mengumpulkan daun jati kering itu tidak mudah, harus diambili satu-satu, sebab kalau memegangnya terlalu kuat daunnya hancur. Atau mestinya justru lebih mudah ya? Tinggal diremas-remas saja hancur. Lha, tapi jumlahnya bisa lebih 30 helai daun kering…
Yogyakarta, 14 Juni 2011
Yusuf Iskandar
14 Juli 2011 pukul 9:50:08 |
sambil mungut daun sambil sholawat pak..
tiap helai daun satu shalawat..
seperti di cerita…
18 Juli 2011 pukul 12:21:18 |
Itu yang lebih baik. Indah sekali… Slm