Archive for the ‘MADUREJO SWALAYAN — KISAH BERDIRINYA (2005-2006)’ Category

(48) “Good Luck!”

13 Desember 2007

Akhirnya……., setelah mendongeng gedebas-gedebus ngalor-ngidul tentang dunia persilatan bisnis ritel “Madurejo Swalayan” sebagai lajur jalan baru yang ditempuh setelah sang sopir banting setir, kini tibalah pada bagian akhir kumpulan “Catatan dari Madurejo”. (Huh! Capek juga …..)

 

Saya tidak mempunyai tujuan lain dari semua catatan-catatan saya selama ini, apalagi untuk menggurui, selain hanya ingin berbagi cerita tentang apa yang saya alami, saya lakukan dan saya pikirkan untuk sebaiknya saya lakukan. Oleh karena itu perlu dipahami bahwa semua yang telah saya dongengkan ini hanyalah sebuah pilihan. Dan itulah pilihannya “Madurejo Swalayan”. Sama sekali tidak ada hubungan sangkutnya dan pautnya dengan urusan benar atau salah, baik atau buruk, seharusnya atau tidak seharusnya. The rest is yours……  

Siapa tahu (dan mudah-mudahan) dapat menjadi sumber inspirasi dan provokasi bagi siapa saja, baik yang sedang bingung mencari-cari peluang bisnis, yang sedang mikir-mikir untuk memperoleh penghasilan sampingan, yang sedang ancang-ancang untuk banting setir, atau yang tetap menikmati pilihan hidupnya sebagai orang gajian. Kalau pun tidak semuanya, Anda merasa terhibur pun sudah merupakan bisnis yang menguntungkan bagi saya. It doesnt matter at all. Anggaplah semacam infomezzo, informasi intermezzo di tengah hari-hari suntuk Anda.

Jika merujuk ke rumusannya Pak Robert Kiyosaki tentang Cashflow Quadrant, siapa tahu kumpulan catatan ini dapat mengilhami Anda yang sedang berputar-putar di kuadran E (Employee) dan S (Self-employed, Small Business Owner atau Specialist) untuk menuju atau tidak menuju ke kuadran B (Business Owner) dan I (Investor).

Benar bahwa pengelola “Madurejo Swalayan” saat ini sedang berkutat di kuadran S, belum lama meninggalkan kuadran E. Meskipun di hati kecilnya masih ada keinginan untuk merangkap jabatan menjadi S dan E sekaligus (Habis E itu enak, sih…..! Salah satu yang membedakan antara E dan S adalah : Kalau menjadi E, seperti apapun performance kerja saya hari ini, enggak ngaruh, besok saya akan tetap terima gaji. Sedangkan menjadi S, kalau kerja saya hari ini asal-asalan, begita-begitu saja, besok juga akan menuai hasil seadanya…….). Berikutnya hendak melangkah perlahan-lahan menuju ke kuadran B, sembari belajar dan ancang-ancang untuk menuju kuadran I.

Mangsud hati ingin meninggalkan E menuju S. Apa daya sampai sekarangpun anak kedua saya masih suka mendorong-dorong agar bapaknya kembali menjadi E alias orang gajian. Bahkan sesekali dorongan pun ternyata datang juga dari ibunya. Semuanya harus dapat dipahami dan dimaklumi….. Malah anak kedua saya dengan lugunya mengusulkan agar bapaknya bekerja di perusahaan minyak saja. Bukan karena tahu harga komoditas itu sedang melejit, tapi karena beberapa orang tua teman sekolahnya bekerja di perusahaan minyak (atau jangan-jangan ada yang membisiki anak saya kalau teman email-emailan bapaknya banyak yang bekerja di dunia perminyakan?).

Hal yang kemudian paling membuat sesak napas mendadak (bukan karena kebanyakan udut) adalah ketika kemudian terucap dari mulut anak saya : “Agar kita bisa kemana-mana dan beli apa-apa lagi seperti dulu…..” (ini kata lain untuk : sekarang tidak bisa kemana-mana dan tidak bisa beli apa-apa.…..!). Meskipun tidak bosan-bosannya saya meyakinkan anak saya dengan komentar normatif tapi penuh percaya diri, bahwa Insya Allah akan tiba saatnya kita akan kemana-mana dan beli apa-apa lagi, lebih dari yang dulu pernah kita lakukan. Biasanya lalu dibalas dengan cibiran…. : “Wheeeekkkk…!”. Tapi inilah satu bukti lagi kegagalan saya melakukan lobi intensif terhadap penumpang kecil saya, sebelum melakukan banting setir satu setengah tahun yang lalu.  

Saya sangat berharap kalau ada rekan lain yang sudah lebih dahulu menekuni bisnis toko ritel atau apa saja, kiranya tidak keberatan untuk berbagi pengalaman. Pengalaman baik atau pengalaman kurang baik, tidak menjadi soal. Saya tunggu cerita sukses atau kurang sukses Anda, agar kita bisa saling berbagi pengalaman.      

Eee….., jangan-jangan pengelola “Madurejo Swalayan” yang masih ijo royo-royo ini kelewat pede. Jangan-jangan obsesi pengelola “Madurejo Swalayan” dengan bisnis membangun visi melalui toko ritel ini ngoyoworo. Jangan-jangan malah dongengan ini menyurutkan niat orang lain untuk memulai bisnis ritel. Ijinkan saya menyarankan, selalu melakukan cross-check dengan sumber referensi lain atau belajar dari pengalaman orang lain kiranya akan sangat membantu.  

*** 

Jadi, bagaimana? Anda siap buka toko ritel? Atau ada peluang lain yang sedang Anda incar? Atau lebih dahsyat lagi (menurut istilah populer sekarang) mulai melangkah menuju kebebasan finansial?  Jika demikian, “Good Luck!”. Selamat bekerja, dan semoga “Atasan” Anda masing-masing senantiasa menyertai setiap rencana bisnis yang sedang Anda persiapkan. Teriring doa semoga Anda sukses, lebih dari yang Anda mau…..

Sementara saya mau pamit dulu, mau konsentrasi untuk menggarap peluang lain……. Sekedar melakukan langkah kecil (sebagai bagian dari langkah besar) untuk menuju kuadran B. 

Ooops, tunggu dulu……! Jangan lupa berdoa sebelum tidur, siapa tahu saat Anda bangun esok pagi ternyata toko Anda sudah berdiri!    

Nuwun dan salam.    

Madurejo, Sleman – 1 Maret 2006 (Mari kita lakukan Serangan Oemoem untuk menangkap dan menggarap peluang demi peluang) 
Yusuf Iskandar

(47) Swalayan Cap Madurejo

13 Desember 2007

Setiap kali saya melakukan inspeksi barang dagangan di toko, biasanya saya menemukan barang-barang yang pengaturannya kurang benar, yang penempatan label harganya tidak sesuai, yang terlewat dibersihkan, saya juga mengamati barang-barang yang cepat laku dan juga yang lakunya sangat lambat. Sekali waktu pandangan saya tertuju pada produk bermerek Astor, sejenis wafer stick. Ini produk kok masih terlihat banyak saja sejak saya kulakan beberapa bulan yang lalu. Produk sejenis merek lainnya relatif cepat laku, tapi Astor ini kok nggaaaaaak laku-laku……., luuuambat sekali. Ada apa gerangan, padahal dulu-dulunya banyak yang menanyakan produk ini.   

Lalu saya ingat apa yang terjadi ketika minggu-minggu awal beroperasinya “Madurejo Swalayan”. Masih di seputar bulan puasa. Waktu itu banyak pengunjung toko yang tanya, apakah ada Astor?. Terpaksa saya jawab bahwa produknya belum masuk, yang sebenarnya ini kata lain dari “tidak ada” atau “belum tersedia”. Agar pembeli tidak kecele, lalu saya tunjukkan produk wafer stick alternatif merek lain. Kelihatannya oke saja. Sampai beberapa waktu kemudian rupanya banyak yang menanyakan produk Astor, kembali saya tunjukkan produk alternatifnya, juga oka-oke saja. Sampai akhirnya saya pun mencari produk Astor ini ke toko grosir lain, berhubung belum ada sales yang datang menawarkannya. Tidak tanggung-tanggung, sekalian perginya, sekalian bayar parkirnya, sekalian kulakannya, maka sekalian saya mengulak produk Astor dalam jumlah agak banyak saja untuk menyongsong lebaran tiba. Lega sudah……  

Sebulan berjalan dan lebaran pun tiba, dua bulan, tiga bulan pun berlalu. Lhah, kok produk Astor masih tetap banyak, padahal banyak pula yang menanyakannya. Sementara produk wafer stick merek-merek yang lain lakunya ruarrr biasa sampai kewalahan memenuhi permintaan, terlebih saat menjelang lebaran.    

Usut punya usut, eee….. lha kok kayak orang bodoh benar saya ini. Rupanya bagi masyarakat Madurejo dan sekitarnya, astor adalah “kependekan” dari wafer stick. Apapun merek wafer stick-nya, mereka akan menyebutnya astor. Tobat  tenan aku….., lha wis kadung dikulak banyak-banyak je……. Enggak tahunya bukan wafer stick merek Astor yang dicari, melainkan astor merek yang lainnya. Dan saya juga tidak tahu kenapa yang dipilih justru bukan astor cap Astor, melainkan astor cap yang lain. Padahal harga jual per bungkusnya relatif sama. Kelezatan dan rasanya juga begitu-begitu juga.    

***   

Akhir-akhir ini saya sering menerima undangan dari kampung Madurejo. Ada undangan pernikahan, rapat kampung, rapat panitia kurban, penyambutan haji, dsb. Ini tentu hal yang baik, berarti keberadaan saya sebagai warga desa Madurejo diakui dan bisa diterima. Meski terkadang agak repot mengatur waktu saya untuk kesana-kemari mengingat saya masih tinggal di Yogya. Tapi okelah, faktor kerepotan ini saya abaikan dulu. Jauh lebih penting memantapkan posisi sebagai warga baru Madurejo yang sekaligus sebagai pemilik dan pengelola “Madurejo Swalayan”.    Ada hal remeh-temeh yang bagi saya menarik. Pada setiap undangan yang dikirimkan kepada saya, selalu dituliskan alamat saya di swalayan (saja), tidak pernah disebut Madurejo-nya. Demikian halnya setiap saya diperkenalkan kepada warga lain, selalu dengan embel-embel swalayan (saja). Dan, biasanya mereka langsung paham bahwa yang dimaksud dengan swalayan adalah “Madurejo Swalayan”.   

Kelihatannya di kalangan masyarakat desa Madurejo sudah sama-sama dimaklumi bahwa “Madurejo Swalayan” adalah satu-satunya toko swalayan modern yang ada di sana. Maka kalau mereka menyebut kata “swalayan”, pasti yang dimaksudkan adalah “Madurejo Swalayan”. Diam-diam saya menyimpan kebanggaan. Sudah ada terbentuk opini tentang brand image. Tinggal bagaimana menjaga agar image yang terbentuk dan berkembang adalah image yang baik dan benar, bagi masyarakat maupun bagi “Madurejo Swalayan” sendiri. Image yang mencerminkan simbiose mutualisme, image yang mewakili rasa paseduluran dan image yang makin asyik aja…..  

Ikon harus mulai dibentuk. Perlahan-lahan, sebutan swalayan adalah representasi dari “Madurejo Swalayan” dan “Madurejo Swalayan” adalah obyek yang dimaksud oleh sebutan swalayan. Perjalanan masih sangat panjang dan banyak liak-liuk-nya. Hingga bolehlah kalau kami berharap, jika kelak akan berdiri toko swalayan-swalayan baru di desa Madurejo, maka sebutan swalayan tetap akan melekat dan merujuk pada “Madurejo Swalayan” dan menjadi tujuan belanja bagi masyarakat desa Madurejo dan sekitarnya. Istilah keminggris-nya, menjadi “top of the mind” (yang pertama muncul di pikiran) setiap kali menyebut kata swalayan. Begicu, karep-nya (maunya) ………  

Namun diam-diam juga terbersit kekhawatiran (Ya….., wong namanya orang hidup kesana-kemari ya selalu diganduli rasa khawatir, yang sesungguhnya kalau pandai me-manage-nya akan bisa menjadi katup pengaman atau peredam, agar tidak grusa-grusu, tidak kebablasan).  

Harapannya tentu moga-moga “Madurejo Swalayan” punya nasib tidak sesial Astor, yang menjadi ikon bagi produk wafer stick di desa Madurejo dan sekitarnya, tapi kurang menjadi pilihan pembeli. Padahal harga dan rasa bersaing, kemasan juga tidak kalah. Barangkali karena akhir-akhir ini iklan Astor di televisi kurang gencar. Berbeda dengan produk wafer stick merek lainnya yang coklatnya bikin mesra, atau yang coklatnya sampai dleweran….., menetes kemana-mana.  

Namun di balik semua itu, pasti ada sesuatu yang dapat dipelajari dari fenomena ini. Pasti ada kemungkinan, ada celah dan ada cara untuk tidak perlu khawatir akan “bernasib” tidak beruntung. Inilah salah satu dari sekian banyak PR yang perlu dikerjakan. 

Buktinya toh ada, akua cap Aqua juga menjadi ikon dari produk air mineral, tapi tetap jadi pilihan konsumen di antara produk-produk air putih kemasan lainnya. Demikian halnya teh botol cap Teh Botol Sosro, tetap dipilih pembeli di antara minuman teh lainnnya yang juga dibotolin. Maka, swalayan cap Madurejo, kenapa tidak…..?    

Madurejo, Sleman – 20 Pebruari 2006
Yusuf Iskandar

(46) Jangan Menambah Jumlah Orang Bingung

13 Desember 2007

Pernah menjadi orang bingung di dalam toko? Malah terkadang jadi ling-lung tolah-toleh kesana kemari tapi tak juga kunjung ketemu jalan keluar? Tidak bakal ada yang mau mengaku kalau ditanya seperti ini. Tapi percayalah, setiap orang pernah (bahkan sering) mengalaminya. Entah itu ketika sedang milih-milih barang yang mau dibeli, milih merek, milih warna, bahkan memilih aroma, rasa, ukuran pun seringkali membuat bingung. Minta pertimbangan istri, suami, anak-anak, penjualnya, sampai ke pembeli lain di sampingnya pun masih bingung juga. Kecian deh, konsumen…..! Sudah siap membelanjakan uangnya, jadi korban konsumerisme, korban impulse buying, mau membelanjakannya pun masih dapat bonus bingung…… 

Bagaimana tidak? Niat ingsun dari rumah beli parfum dengan merek tertentu, ukuran botol tertentu, aroma tertentu. Begitu masuk toko lalu milih-milih barang yang hendak dibeli, ternyata bingung juga memutuskannya. Sudah diciumi satu-satu, sudah di test disemprotkan ke semua penjuru badan, dibaca labelnya dengan teliti. Akhirnya tanya kepada sang penjual, bagus yang mana ya? Sang penjual pun menjawab : “Wah, saya kurang tahu, Pak. Biasanya pria punya selera……”.  

Ada lagi, dari rumah sudah pasang niat mau beli pelembab kulit merek tertentu, ukuran tertentu, jenis tertentu. Begitu berdiri di depan rak toko, ternyata susah juga mau milih yang mana. Diperiksanya dengan cermat masing-masing produk, tolah-toleh barangkali ada yang bisa ditanya. Sampai akhirnya tanya kepada penjualnya, mana yang bagus ya? Lalu jawab sang penjual : “Wah, semua bagus Bu. Biasanya cocok-cocokan dengan jenis kulitnya”.   

Kebingungan semacam ini memang nampaknya sudah menjadi peristiwa yang biasa terjadi di dalam toko. Hanya karena banyak temannya sesama pembeli bingung, jadi nampak bukan lagi hal yang aneh. Bagi sang penjual pun maklum, asal sabar saja menunggui pembeli bingung. Toh akhirnya akan beli juga, tidak perduli merek apa atau jenis yang mana. Terkadang muncul inisiatif standar dari salah seorang pelayan toko : “Ada yang bisa kami bantu?”. Begitu jenis bantuan yang diminta adalah memilihkan jenis produk yang cocok, akhirnya sang pelayan pun menambah jumlah orang bingung di dalam toko.  

*** 

Pada suatu siang yang rada mendung, datang seorang ibu muda besepeda motor masuk toko (maksudnya, sepeda motornya parkir di luar dan orangnya yang masuk toko, bukan lagi shooting “Busyeeet”). Kebetulan saya sedang berada di counter bagian perlengkapan kecantikan, sambil mengamati pelayan toko sedang menyusun barang-barang yang baru masuk. Si ibu hendak membeli pupur (bedak) warna kuning merek tertentu. Lalu saya ambilkan barang yang dimaksud dari lemari etalase. Si ibu mau membeli lipstick juga, tapi cari yang bisa terlihat kelip-kelip. Karena saya khawatir nanti si ibu kurang merasa leluasa untuk tanya-tanya dan milih-milih, kemudian saya panggilkan salah seorang pelayan perempuan untuk melayani si ibu. Saya akhirnya hanya berdiri agak menyingkir.   Saya perhatikan sambil lalu saja, si ibu agak lama menimang-nimang beberapa produk. Agaknya ibu itu sedang bingung. Niat semula mencari bedak warna kuning, begitu yang dijumpai ternyata ada jenis kuning langsat, kuning pengantin dan kuning mutiara (kuning golkar tidak ada), nampak si ibu ragu untuk memutuskan hendak memilih bedak warna kuning yang mana. Padahal contoh warnanya sudah tertempel jelas di kemasan luarnya, tapi ternyata toh tidak mudah bagi si ibu itu untuk memilih satu di antara tiga macam warna kuning.      

Nampak si ibu berpikir keras, segenap energi dikerahkan untuk memilih satu di antara tiga. Sesekali tolah-toleh, memandang jauh, memperhatikan produk lainnya. Pasti dengan tujuan untuk membersihkan pikiran dan mengulur waktu agar sempat berpikir agak panjang. Tapi toh tidak juga ketemu jawabannya.  

Akhirnya si ibu tanya kepada pelayan : “Mana yang bagus untuk jenis kulit putih ya, mbak? Yang kuning langsat atau kuning pengantin?”. Lalu jawab sang pelayan dengan logat Jogja : “Itu cocok-cocokan eee …., terserah kesenengan setiap orang…..”. Lha, rak tenan (betul, kan?), saya sudah menduga pasti kira-kira seperti itu jawabannya. Si ibu pun bertambah bingung. Sampai akhirnya berkata : “Kalau gitu, saya ambil yang ini satu, yang ini satu…….”. Sebuah keputusan yang kedengarannya “fair” pada saat itu, tapi pertanyaan yang sesungguhnya masih terbawa pulang. 

Sekira satu jam kemudian, ketika saya lihat para pelayan “Madurejo Swalayan” sedang ngariung karena toko rada sepi, saya dekati mereka. Lalu saya katakan kepada mereka : “Kelihatannya kita perlu belajar menjadi penasehat yang baik….…….”. Tentu saja mereka tidak paham arah pembicaraan saya. “Maksudnya apa, pak?”, tanya salah seorang. Barulah saya melakukana reka-ulang peristiwa seorang ibu muda bersepeda motor masuk toko tadi. 

Kesimpulannya : kita harus bisa menjadi penasehat yang baik dan bijak. Dalam kasus memilih bedak warna kuning tadi, semestinya sang pelayan bertindak bijak. Berlaku sedikit sok tahu tapi bukan berbohong apalagi merugikan orang lain, adalah termasuk tindakan bijak. Seharusnya sang pelayan dapat membantu menentukan pilihan bagi pembeli yang kebingungan memilih. Gunakan pengalaman kalau kebetulan punya, namun jika tidak, maka gunakanlah feeling.  

Sama sekali bukan hal yang salah, seandainya sang pelayan mengambil inisiatif lalu mengatakan : “Menurut saya, warna kuning pengantin lebih cocok”. Apakah pelayan sedang berbohong? Sama sekali tidak. Kuncinya ada pada kata “menurut saya”. Perkara setiba di rumah kok sang pembeli merasa “menurutnya” seharusnya warna kuning langsat yang lebih cocok, itu urusan perasaannya.   

Yang dimaksudkan dengan tindakan bijak adalah membantu agar pembeli keluar dari kebingungannya. Caranya dengan memberi dukungan atas satu pilihan, meskipun terkadang pelayan harus rada-rada ngawur dalam memberi advis. Tapi tetap saja itu adalah pilihan terbaik menurut pelayan toko pada situasi dan kondisi saat itu. Toh, pada dasarnya sang pembeli itu akan tetap membeli, akan tetap melakukan transaksi. Hanya saja, dia perlu dukungan, perlu pengakuan orang lain, bahwa satu pilihan itu memang baik atau cocok buat dirinya.  

Dalam pergaulan politik masa kini (kayaknya jaman dulu enggak ada, deh…..), sang pembeli sebenarnya hanya melempar wacana tentang pilihan warna kuning. Yang sebenarnya di dalam hatinya dia sudah punya pilihan. Eh, syukur-syukur pilihannya sama dengan advis pelayannya. Seandainya tidak sama pun, so what gitu loh? Tidak menanggung resiko apapun bagi pembeli maupun pelayan. Toh, transaksi 99% pasti akan terjadi. Hanya soal basa-basi politik dalam toko saja.   

Oleh karena itu, adalah tindakan bijaksana bagi setiap pelayan untuk membantu menciptakan rasa plong bagi pelanggannya, membantu pelanggan keluar dari kebingungannya dan membantu memberi dukungan bahwa pilihannya adalah yang terbaik. Apa nilai tambahnya? Pelanggan akan merasa puas, pelanggan merasa bangga telah sukses membuat pilihan terbaik, pelanggan merasa bahwa pelayan “Madurejo Swalayan” sangat membantu, dan akhirnya…….., pelanggan merasa bahwa berbisnis dengan (pelayan) “Madurejo Swalayan” adalah hal yang menyenangkan. Apalagi kalau sempat melakukan sekedar percakapan ringan tentang hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan pupur kuning, menciptakan suasana yang mempribadi. 

Bukan sebaliknya, jangan malah menambah jumlah orang-orang yang sudah bingung di dalam toko. Agar tidak menambah jumlah orang bingung yang sudah cukup banyak di luar sana…..  

Madurejo, Sleman – 18 Pebruari 2006.

Yusuf Iskandar

(45) Tuyul dan Mbak Pelayan

13 Desember 2007

Pada suatu ketika kasir dan pengawas “Madurejo Swalayan” terheran-heran, beberapa malam setiap laporan akhir setelah toko tutup diketahui uang di laci kasir yang disetorkan ternyata jumlahnya kurang dibanding dengan catatan yang ada di print-print-an kasir. Adakalanya jumlah tekornya sampai dua puluh ribuan, lain waktu empat puluh ribuan. Akhirnya management sistem pelaporannya dibenahi agar memudahkan untuk kontrol. Terlanjur ada pelayan yang jadi takut untuk disuruh belajar jadi kasir. Ada juga kasir yang pasrah ikhlas kalau misalnya upah bulanannya dipotong untuk mengganti. Tentu bukan itu solusinya. 

Pada ketika yang lain saya membantu ibu CFO mempersiapkan uang untuk upah bulanan pegawai. Sejumlah uang sudah disiapkan dan dihitung ulang sebelum dimasukkan ke dalam amplop tertutup. Sejam kemudian amplop pun dibagikan masing-masing. Salah seorang diantaranya tidak langsung membuka amplopnya, melainkan langsung dikantongi. Sorenya dia pergi ke toko lain untuk membeli sesuatu. Ketika hendak membayar, amplop pun langsung dibuka di depan penjualnya. Begitu dihitung ……., lho  kok jumlahnya kurang seratus ribu rupiah? 

Sekitar seminggu menjelang lebaran haji yang lalu, masih di rumah saya meminta uang kepada ibu bendahara untuk membayar hewan korban. Rupanya ibu bendahara sudah menyiapkannya malam sebelumnya. Setelah saya terima dan saya hitung, kok jumlahnya kurang seratus ribu? Ibu bendahara pun heran, katanya semalam sudah benar menghitungnya. Ya sudah, digenapi saja lagi. Uangpun saya lipat lalu saya masukkan ke saku kiri depan celana blue jeans biru mangkrak Levis 501. Haqqun-yakil saku celana yang saya pakai tidak bolong sehingga uang di saku pasti aman tidak akan mbrojol 

Setiba di depan bapak panitia korban, uang pun langsung saya tarik dari saku dan saya serahkan begitu saja tanpa saya hitung lagi sebab saya ingat bahwa saku celana kiri depan tidak saya uthik-uthik sejak dari rumah. Eh, lha kok si bapak panitia korban nyeletuk : “Nyuwun sewu nggih pak, meniko artanipun kirang setunggal atus….” (maaf ya pak, ini uangnya kurang seratus). Sial tenan aku. Terpaksa merogoh dompet untuk menutupi kekurangannya. Jadi, sehari ini saja sudah terjadi pengeluaran tak terduga sejumlah dua ratus ribu rupiah. 

Apa yang sebenarnya terjadi sih? Kok punya uang sedikit saja salah-salah terus hitungannya. Menurut teori, semakin sedikit kuantitasnya seharusnya lebih mudah ngurusnya. Lain halnya kalau uangnya banyak, wajar kalau menghitungnya jadi susah enggak selesai-selesai. Ah, barangkali kasir, pengawas, pelayan, ibu bendahara dan saya sendiri kurang teliti sehingga melakukan salah hitung. Atau, barangkali ini teguran dari “Atasan” saya bahwa pemberian yang kami keluarkan selama ini terlalu sedikit. Ya sudah. Kisah uang hilang pun segera menghilang. 

Kali lain, ada rumor dari kasir dan pelayan. Katanya, ada orang yang menurut kabar angin memiliki tuyul terkadang belanja di “Madurejo Swalayan”. Dalam hati saya berkata “alhamdulillah”, berarti ada peluang untuk duplikasi pelanggan baru, bukan hanya pemilik tuyulnya tapi juga tuyulnya sekalian. Rupanya bukan itu yang jadi pokok soal kasir dan pelayan. Melainkan setiap kali orang yang ditengarai memelihara tuyul berbelanja, maka biasanya uang pembayarannya dipisahkan. Lho? 

Menurut shohibul-hikayat, kata kasir, kalau uang itu disimpan bersama uang yang lain bisa memancing sang tuyul untuk ngutil uang yang dikumpulinya itu. Wah, kalau cerita yang beginian saya baru tahu. Itulah sebabnya maka kasir pun mengambil inisiatif untuk memisahkan uang pembayaran dari orang yang digosipkan memiliki tuyul. Uang itu nantinya akan digunakan untuk pembayaran keluar, keperluan yang lain. Terserah sajalah, yang penting tidak dengan niat : biar uang orang lain saja yang uangnya dicuri tuyul…… 

Saya sendiri herman bin hueran, bagaimana kasir dan pelayan bisa tahu bahwa orang itu memiliki tuyul atau tidak. Rupanya, ada orang-orang tertentu yang sudah dikenali oleh masyarakat sekitar, memiliki peliharaan mahluk kecil gundul tidak kelihatan dan suka mencuri uang. Itulah bayangan saya tentang mahluk yang satu ini seperti visualisasi yang saya lihat di serial acara “bodoh” di televisi (ngerti ngono yo ditonton……., tahu begitu ya dilihat juga…..).     

***   

Apakah beberapa peristiwa kehilangan uang itu ada hubungannya dengan keberadaan mahluk yang disebut tuyul ini? Saya tidak tahu, dan saya juga tidak perlu menghubung-hubungkannya. Nanti ndak jadi vietnam….. Bukankah vietnam itu lebih kejam dari pembunuhan? Fitnah seperti ini memang paling enak untuk dijadikan bahan infotainment lokalan. 

Cilakanya, saya sendiri juga mendengar cerita yang kurang lebih sama dari warga Madurejo lainnya, termasuk dari sesepuh-sesepuhnya. Jadi, percaya-enggak-percaya, cerita seperti itu sudah menyebar di masyarakat rupanya. Sudah banyak juga toko dan warung yang ada di Madurejo dan seputarannya mengeluh telah mengalami peristiwa misteri kehilangan uang yang terjadinya seperti tidak masuk akal. Kebetulan ini ada toko baru, pasti pengelolanya belum berpengalaman ihwal yul-tuyyul, begitu barangkali strategi bisnis si empunya tuyul dan tuyulnya.  

Pendeknya, cerita tentang tuyul sering mewarnai romantika usaha mencari rejeki. Apalagi di tempat-tempat tertentu yang memang masih sangat kuat budaya dan tradisi gaibnya. Boleh juga kalau mau dianggap sebagai threats (ancaman). Cuma ya jangan dimasukkan dalam anggaran belanja bulanan toko, nanti ndak malah dimasukkan dalam business plan-nya tuyul.…… Terkadang cerita tentang tuyul mereda, terkadang muncul lagi. Begitu siklusnya. Mungkin saja sang tuyul juga punya zona-zona operasi tersendiri pada waktu-waktu tertentu. Ah, embuh-lah…….! 

Jadi? Wong namanya juga saya masih manusia biasa (bukan tuyul), kalau sudah ngomong-ngomong soal mahluk culas yang tidak kelihatan itu, saya sendiri terkadang suka gregetan bin mangkel dalam hati. Sampai suatu ketika saya nggrundel sendiri di kantor : “Kalau bisa saya tangkap itu tuyul, arep tak obong (maaf) silite (saya bakar duburnya) sekalian punya pemiliknya kalau perlu……”. Grundelan ini saya ucapkan dengan penjiwaan penuh seolah-olah menyugesti diri sendiri sedang berbicara di depan forum para tuyul itu. Mudah-mudahan kalau memang mahluk tuyul itu ada, mereka mendengar grundelan saya lalu lapor sama juragannya, lalu mereka berdua lari terbirit-birit. Itu, khayalan saya….. 

Yang jelas, sejak itu hingga saat ini saya tidak lagi mengalami atau mendengar cerita-cerita misteri tentang uang hilang. Barangkali administrasi kami memang sudah lebih baik dan kami pun sudah semakin cermat dalam menghitung uang, sehingga tidak lagi perlu terjadi kehilangan-kehilangan yang tidak perlu.     

Atau, kalau mahluk tuyul itu memang ada dan suka main-main ke “Madurejo Swalayan”, kini sudah sohiban sama mbak-mbak pelayan toko…….., malah bisa disuruh menjaga toko sekalian. Daripada tak obong tenan………!.

  

Madurejo, Sleman – 16 Pebruari 2006

Yusuf Iskandar

(44) “Jahe Telur”

13 Desember 2007

Pada suatu hari, siang menjelang sore, sekitar seminggu sebelum hari Lebaran yang lalu, datang seorang muda berpenampilan rapi masuk toko. Sekilas nampaknya sedang mencari-cari produk tertentu, lalu akhirnya bertanya tentang produk bubuk minuman “Jahe Telur” bungkus sachet. Dari penampilannya mengesankan sebagai seorang yang ramah, sopan, grapyak, suka guyon dan bersahabat. Seorang temannya yang tampak lebih pendiam datang menyusul di belakangnya.  

Orang yang kemudian memperkenalkan diri bernama Imam ini baru datang dari Merauke, Papua. Mengaku berasal dari desa tetangga tidak jauh dari Madurejo tapi sudah beberapa tahun merantau ke Papua buka usaha warung, berjualan minuman bubuk kesehatan. Ya  “Jahe Telur” itu. Dia pulang kampung untuk kulakan “Jahe Telur”, tapi belum menemukan barangnya. Karena melihat ada toko baru di dekat kampungnya, maka dia minta tolong untuk dicarikan produk itu. Rencananya dalam dua-tiga hari sebelum Lebaran akan kembali ke Merauke. Sampai disini, bagian pendahuluan kisah perantauannya sangat meyakinkan, sampai kemudian tiba di bagian isi kisahnya. Maka terjadilah dialog, tanya-jawab dari seorang pengelola toko yang terkagum-kagum dengan seorang perantau yang sukses di rantau.  

Saya tanya Merauke-nya di sebelah mana, diapun menjawab dengan mantap. Saya katakan saya punya saudara seorang Kyai di sana, diapun dengan kalemnya mengatakan sering juga main-main ke pesantrennya. Saya tanya mengapa Lebaran bukannya berada di kampung tapi malah mau balik ke Merauke, diapun menjawab mau mremo, di saat orang-orang muslim pada pulang kampung, orang-orang asing justru banyak mengunjungi warungnya. Saya tanya siapa konsumen utama minuman “Jahe Telur”, diapun menjawab dengan meyakinkan bahwa banyak orang-orang bule menyukai produk itu. 

Saya semakin menyukai cara menjawabnya yang sangat pede. Lalu saya tanya apakah memang di sana banyak bule, diapun menjawab dengan berapi-api bahwa di sana banyak sekali bule-bule yang bekerja di perusahaan minyak, kebanyakan bule-bulenya dari Australia yang bekerja di perusahaan Prifot (yang dimaksud pasti Freeport). Weee……, lhadalah…….! Ini inlander belum tahu kalau sedang bicara dengan seorang pangsiunan pajuang kumpeni (company) yang disebut itu…….. 

Mencermati jawaban-jawabannya, akhirnya kesimpulan saya hanya satu, yaitu bahwa orang ini sedang beraksi hendak berniat tidak baik. Tapi apa? Saya sengaja tidak meng-counter ceritanya, kecuali hanya manggut-manggut serius. Sebab kalau itu saya lakukan, maka kisah ini akan berhenti. Sedangkan saya ingin tahu kelanjutannya, karena bagi saya ini bahan cerita yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Oleh karena itu harus saya biarkan dulu cerita mengalir sampai ke bagian ending-nya. 

Sampai akhirnya dia minta tolong sungguh-sungguh agar dicarikan produk “Jahe Telur” yang katanya buatan Kediri, agar dia tidak perlu mencari jauh-jauh sebab dia akan melanjutkan perjalanan kulakan lainnya ke Solo. Lain waktu kalau memerlukannya lagi dia akan langsung menghubungi saya. Tidak lupa saya ditinggali contoh bungkus sachet-nya. Dia minta diusahakan “Jahe Telur” sebanyak 30 pak. Harga satu paknya Rp 105.000,- isi 30 sachet. Bahkan dia mengatakan, apa perlu titip uangnya dulu?. Saya jawab tidak perlu, daripada nanti benar-benar dititipi malah nambah urusan di belakang. Kemudian dua orang muda inipun pergi sambil meninggalkan nomor HP dan pesan agar dihubungi kalau barangnya sudah ada. Luar biasa skenarionya.   

Segera setelah itu, saya ceritakan peristiwa ini ke beberapa pegawai “Madurejo Swalayan” dengan pesan agar berhati-hati. Saya beritahukan kepada mereka bahwa kelanjutan skenario kisah di atas kemungkinan akan begini : Entah hari ini, entah besok, akan datang seorang yang mengaku sales dari produk “Jahe Telur” dan menawarkan produk dagangannya. Jika skenario saya benar, maka jelas ini upaya penipuan.    

Eee…. kok ya ndilalah……. Tidak sampai satu jam, datang mobil Panther warna biru tua berplat nomor  Jakarta. Seseorang memperkenalkan diri sebagai sales lepas, menawarkan produk minuman bubuk. Katanya dia membawa segala macam produk minuman kesehatan. Jawaban saya singkat saja sambil acuh tak acuh, bahwa saya belum berniat jualan produk minuman bubuk kesehatan. Dia pun menjadi semakin spesifik, katanya ada produk minuman bubuk kopi-kopian, jahe-jahean, telur-teluran, dst. dalam bentuk sachet-an. Saya tetap menunjukkan sikap tidak tertarik. Sampai akhirnya dia mengatakan bahwa dia juga membawa produk “Jahe Telur” buatan Kediri.    

“Jreeeeeeng………!!!” (begitulah bunyi musik pengiringnya). Dia pun langsung menawarkan apakah saya akan melihat dulu bentuknya. Karena tujuan saya sudah tercapai, maka saya jawab tidak perlu. Rupanya dia penasaran. Lalu bertanya : “Apakah belum ada orang yang menanyakan produk itu?”. Saya jawab : “Belum ada yang tanya, tuh”. Akhirnya sales itupun berpamitan. Dengan senyum kemenangan saya temani sales itu sampai ke depan toko, sambil saya ingat-ingat plat nomor mobilnya yang rupanya sengaja diparkir agak jauh dari halaman toko. (Dalam hati saya berkata : “Berantem sudah, kalian!”). 

Beberapa belas menit kemudian, rupanya Mas Imam, sang “perantau sukses“ tadi tilpun saya. Katanya dia lupa, apakah tadi contoh bungkus “Jahe Telur” sudah ditinggalkan ke saya atau belum. Saya jawab : “Sudah mas, Insya Allah besok akan saya coba carikan produk itu di Pasar Sentul, Yogya” (disertai doa pendek semoga berbohong pada saat sedang dikibulin bukanlah perbuatan dosa….). Dia berkata bahwa dia sedang belanja di pasar di Solo. He..he..he.. , cepat amat naik sepeda motornya mas, kok sudah blusukan di Solo…….. 

Apa yang akan terjadi jika sekiranya saya larut dalam permainan sandiwara mereka? Lalu mereka berhasil memperdaya pengelola “Madurejo Swalayan”? Kira-kira akan begini : Kami akan kulakan produk “Jahe Telur” sebanyak minimal 30 pak, senilai Rp 3,15 juta, malah mungkin lebih. Setelah itu kami akan menghubungi nomor HP Mas Imam dan ternyata nada sibuk, diulang lagi tidak ada yang ngangkat, dicoba lagi masih tidak nyambung, dan terus tidak nyambung. Mas Imam pun ditunggu dua hari, dua minggu sampai dua tahun tidak akan pernah kembali lagi. Kecian deh gue…..!

Barangkali produk “Jahe Telur” itu bukan palsu. Memerlukan kerja serius untuk mempersiapkan dan mendesain kemasan sachet. Tapi pasti produk itu dibuat asal-asalan. Kalau saya perhatikan lebih jeli contoh bungkus sachet “Jahe Telur” yang ditingkalkan, di bagian pinggir bawah bungkus warna kuning itu ada lipatan kecil (nampaknya sengaja dilipat agar tidak terlihat tulisannya). Ketika saya baca ternyata di balik lipatan itu ada tulisan kecil : Dep. Ker. No. sekian-sekian. Lho…?, kalau Dep. Kes. saya tahu. Lha, kalau Dep. Ker., apa barangkali Departemen Kerehatan (departemen yang ngurusi orang-orang yang banyak rehatnya…)?.  Itulah sepenggal kisah sukses saya menghalau petualang bisnis. Seperti pernah saya singgung sebelumnya : Dimana ada toko baru buka, di situ ada petualang bisnis. Tinggal bagaimana pengelola toko mengasah dan mempertajam gerak refleknya untuk mengantisipasi gerak tipu yang dimainkan oleh para petualang semacam ini. Jangan mudah tergiur, kalau tidak ada hujan tidak ada angin, kok ujug-ujug ada orang berbaik hati memberi order jutaan rupiah.  

***  Sebaliknya, ada juga kisah tidak sukses. Beberapa ulah oknum sales-sales nakal yang hanya ingin barang dagangannya dikulak banyak-banyak. Sebenarnya tidak juga kalau dibilang penipuan. Wong terjadi proses jual beli, artinya ada penyerahan barang dan ada pembayaran. Hanya saja sang oknum sales ini mau untung sendiri. Tidak perduli barangnya tidak laku, harganya kemahalan, alih-alih membina kerjasama saling menguntungkan. Yang penting barangnya banyak terbeli saat itu, setelah itu pergi dan tidak pernah kembali lagi menampakkan batang hidungnya. Produk yang dibeli memang ada, tapi nggaaaaak …..laku-laku. Lha wong memang jenis produk yang tidak laku di pasaran. 

Kalau sudah curiga dan tidak yakin produknya tidak bakal laku kenapa dikulak juga? Itulah masalahnya. Sedemikian dahsyatnya rayuan dan bujukan sang sales dalam menawarkan barang dagangannya, bagai terkena gendam dan lalu produk itu pun dibeli dalam jumlah cukup banyak. Entah jenis phobia apa namanya, sebagai toko yang baru buka sepertinya ada ketakutan jangan-jangan calon pelanggan akan kecewa kalau mereka mencari produk itu dan ternyata tidak lengkap tersedia. Toh kalau tidak laku bisa ditukar nantinya, begitu jalan pikiran praktisnya saat itu.   

Sebagai toko yang baru buka dan yang sedang berjuang mengumpulkan keuntungan cepek-nopek setiap harinya, memang rentan terhadap tipuan menggairahkan semacam ini. Produk yang ditawarkannya bisa bermacam-macam. Modus operandi dan alur cerita sandiwaranya juga bisa beraneka-versi. Namun ending yang diharapkan oleh sang petualang bisnis itu tetap sama……. meraup untung setinggi-tingginya dengan menjual barang yang sebenarnya berharga murah sebanyak-banyaknya, tidak perduli itu jenis produk yang akan laku dijual lagi di pasaran atau tidak. Puji Tuhan, saya masih bisa turut menghidupi para petualang bisnis .….! (meskipun kesal juga sebenarnya).

Madurejo, Sleman – 24 Januari 2006.
Yusuf Iskandar

(43) “Believe It or Not”

13 Desember 2007

Suatu hari saya kedatangan tiga orang tamu dari Muntilan, kota kecamatan di pertengahan antara Yogya – Magelang. Dua orang di antaranya sedang melakukan studi banding sehubungan dengan rencananya untuk membuka toko swalayan di daerahnya. Saya percaya ini studi banding beneran. Kalau cuma studi banding-studi bandingan, ngapain mesti ke Madurejo. 

Bersama kedua orang itu ada seorang lagi yang menemani. Rupanya beliau adalah seseorang yang sudah berpengalaman dalam mengelola toko swalayan. Memiliki jam terbang jauh lebih banyak dalam dunia perswalayanan dibanding pengelola “Madurejo Swalayan”. Mendengar saya mengeluh bahwa seringkali mengulang-ulang “pekerjaan bodoh” memindah dan menggeser barang dagangan, beliau tenang-tenang saja, tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan. Katanya, itu sih biasa. Malah terkadang perlu sengaja dilakukan saat toko sedang sepi dan penjaganya banyak nganggur. Lho, kok….?  

Lalu beliau memberi ilustrasi. Kalau kita memelihara binatang, perkembangannya akan berbeda antara binatang yang tekun kita urus, kita rawat, kita sayang, dengan binatang yang diumbar begitu saja. Demikian pula kalau kita menanam tanaman, pertumbuhannya juga akan berbeda antara tumbuhan yang rajin kita urus, kita siangi, kita sirami, kita pupuk, dengan yang dibiarkan asal tumbuh.   

Saya mengangguk-angguk, dalam hati saya sepakat. Tapi itu kan mahluk hidup, bagaimana dengan benda mati?  Sesama mahluk hidup tentu lebih mudah untuk terbentuknya ikatan “emosional”. Bagaimana dengan ikatan “emosional” antara mahluk hidup dengan benda mati?.  

Ambil contoh misalnya kita punya sesuatu benda, katakanlah sepeda motor atau rumah. Kalau malas-malasan merawat sepeda motor, jarang-jarang memandikannya, tahunya tinggal start dan jalan, kalau rusak tinggal blusukkan ke bengkel. Biasanya penampilan sepeda motor kita jadi berantakan dan tidak menarik, mati segan hidup tak mau, mocat-macet. Sepeda motor seperti kehilangan “roh”-nya, yang ogah mengakui bahwa kita adalah pemiliknya.  

Sewaktu saya masih jadi orang gajian di Papua, punya rumah kecil di Yogya. Paling-paling ditempati enam bulan sekali setiap cuti tengah tahunan. Selebihnya ditinggal kosong tidak ada yang ngurus, kalaupun ada paling-paling disapu dan dinyalakan atau dimatikan lampunya. Begitu tiba waktunya cuti ke Yogya, bawaannya ingin nesu aja…(marah terus) untuk sebab yang tidak seharusnya bisa bikin nesu…..   

Macam-macam sebabnya. Yang atapnya bocor, dindingnya retak-retak, lantainya sompel, halamannya jadi hutan, lampunya putus, pompa airnya mocat-macet, pojokan langit-langitnya dirubung sawang (sarang laba-laba), pintunya ngak-ngik…. dan, macam-macam gangguan kecil terjadi setiap enam bulan sekali. Selalu ada pengeluaran tak terduga untuk mengatasi thethek-bengek semacam itu. Akhirnya jadi enggak betah di rumah, malah lebih sering di luar rumah. Uang habis enggak apa-apa, toh bulan depan akan gajian lagi…… Tampak luar masih tetap sebuah rumah, tapi rumah menjadi seperti tidak bersahabat. Seperti kehilangan “roh”-nya. Seandainya rumah bisa ngomong, dia tidak merasa perlu menganggap bahwa kita adalah tuannya. 

Hal yang sama, barangkali (saya katakan barangkali, karena saya baru menjalaninya dua setengah bulan) akan terjadi dengan aset barang dagangan di “Madurejo Swalayan”. Kalau saya menganggapnya semata-mata sebagai benda mati (meskipun substansinya ya memang begitu….), pokoknya dipajang saja dan asal laku dijual, maka aset itupun akan menganggap dirinya sebagai obyek penderita dan sebagai “penganggur”. Padahal yang sesungguhnya diharapkan oleh pemiliknya adalah agar aset-asetnya dapat menjadi obyek pelaku dan “mau bekerja” untuk pemiliknya. Maka aset-aset itu mestinya perlu diberi perhatian lebih, disayang-sayang, dielus-elus, layaknya binatang kesayangan, tanaman kesukaan atau rumahku sorgaku.    

Memindah-mindah, menggeser-geser, membersihkannya, menyusunnya biar tampil rapi dan menarik, hanyalah sebuah ekspresi bagaimana saya perduli dan menyayangi barang-barang dagangan di toko. Maka kalau para pegawai toko sesekali perlu mengubah tata letak barang-barang di atas rak, salah satu alasannya adalah agar peletakan barang-barang tersebut tampil lebih cantik supaya menggoda pengunjung toko untuk melakukan “impuls buying”.  

*** 

Inilah hal-hal gaib yang perlu kita tengok keberadaannya. Kisah dunia lain, dunianya benda mati yang didambakan  “mau bekerja” untuk kita. Dipandang dari sudut ilmu manapun susah dideskripsikan, namun auranya ada, semangatnya ada, ikatan “emosional”-nya ada (meskipun mungkin sepihak…). Saya merasa tidak malu untuk menjadi seperti orang gila untuk hal ini…….      

Sulit dipercaya! Sulit dinalar! Berbau tahayul……, tapi tahayul tanpa menyan, tanpa jopa-japu, tanpa topo kungkum, tanpa bunga setaman, tanpa terkait dengan agama dan kepercayaan apapun, dan yang lebih penting ora mbayar…… Yang saya lakukan hanya sekedar ingin berbuat amal saleh terhadap “pekerja” saya. Hukum alam mengatakan (dalam agama saya disebut sunatullah) : jangan pernah berharap orang lain akan berbuat baik kepada kita kalau kita tidak pernah mau berbuat baik kepada orang lain. Dan, “orang lain” itu adalah semua properti “Madurejo Swalayan” dan seisinya itu tadi.  

Will it work? Yo, embuh……..! Ini hanya soal “Believe it or not”. Tapi saya “believe”, tuh……

 

Madurejo, Sleman – 22 Desember 2005.

Yusuf Iskandar

(42) “Pekerjaan Bodoh” Tiada Akhir

13 Desember 2007

Di hari-hari awal beroperasinya toko, urusan penyusunan barang di rak memang tidak sekali jadi. Acara geser-menggeser dan pindah-memindah barang dagangan terjadi berkali-kali. Sebabnya antara lain, sebagai toko baru tentu jenis barang dagangan tidak langsung komplit. Setiap hari ada saja jenis komoditas baru yang ditambahkan, semakin lama semakin banyak jenisnya sehingga susunan barang di rak juga perlu disesuaikan menurut kelompoknya. Jika tidak demikian, maka akan merepotkan dan membingungkan pembeli.  

Kalau hanya repot dan bingung saja, barangkali pembeli masih mau tanya kepada penjaga toko, dimana letaknya barang yang dicari. Tapi kalau sampai hal itu membuat pembeli jengkel, bisa-bisa malah membatalkan untuk membeli barang yang sebelumnya sudah direncanakan, dan malas untuk kembali lagi.  Sebelum “Madurejo Swalayan” mulai beroperasi, ada yang menyarankan agar saya mengamati toko-toko swalayan lain dan lalu membuat rancangan penyusunan atau penempatan barang-barang yang disesuaikan dengan layout rak-rak yang ada. Karena saya pikir ini hal yang baik, maka saya lakukan juga. Minimal saya akan punya pedoman awal dari mana harus memulai.    

Ketika tiba waktunya mengatur dan menyusun barang dagangan, mula-mula mudah dan enak saja. Ya, karena jumlah item barangnya belum banyak. Saya tinggal memberi instruksi kepada pegawai toko, barang ini ditaruh disitu, barang itu diletakkan disini dan disana. Beres….!      Ketika semakin hari jumlah item barang semakin banyak, sedangkan rak-rak yang tersedia jumlahnya terbatas, maka saya mulai kebingungan. Jangan sampai terjadi di deretan mi instant tahu-tahu ada pembalut wanita atau pembasmi serangga. Atau, karena rak minuman kaleng atau susu sudah penuh, selebihnya lalu dijejerkan dengan sampo anti ketombe.   Mulailah berpikir keras, bagaimana menempatkan sekelompok barang dalam satu lokasi agar tidak campur dengan kelompok lain yang berbeda jenisnya, di atas rak-rak yang jumlahnya terbatas. Saya sendiri heran, ini pekerjaan mudah, tapi kenapa sepertinya jadi rumit sekali. Karena setiap kali memindah sekelompok barang, artinya juga harus memindah atau menggeser barang lainnya yang jumlahnya bisa puluhan bahkan ratusan buah. Dan semua pekerjaan geser-menggeser barang ini sangat menyita waktu.  

Idealnya pekerjaan ini dilakukan di luar jam operasi toko agar tidak mengganggu kenyamanan pengunjung toko. Tapi “Madurejo Swalayan” adalah toko kecil (maksudnya, belum besar), sehingga belum mampu menggaji orang khusus untuk pekerjaan di luar jam reguler. Sementara frekuensi pekerjaan ini cukup sering dilakukan. 

Kalau sudah mulai memindah dan menggeser letak barang, maka segala macam rancangan susunan barang yang sebelumnya sudah dibuat dengan sangat rapi dan teliti, menjadi tidak berarti. Tidak ada lagi rancangan layout penempatan barang, yang ada adalah kreatifitas seni menyusun barang. Dan sialnya, kreatifitas seni seperti ini tidak ada bukunya dan tidak bisa dipelajari, melainkan “lakukan saja”. Lagian, ngapain repot-repot mempelajari cara menyusun barang….. . Inilah acara spontanitas yang tidak akan pernah berlaku sama di setiap toko. Dibutuhkan “sense of art”, sentuhan seni, feeling, kreatifitas dan segala macam hal-hal gaib sejenis itu.

Maap, bukannya mau menyalahkan pembuatan layout penempatan barang. Dan maap, bukannya layout semacam itu tidak ada gunanya. Namun percayalah……, layout seperti itu hanya bermanfaat pada saat awal mulai menyusun barang ketika jumlah item barang belum banyak, dan hanya untuk toko yang mempunyai ketersediaan raknya cukup banyak, sehingga mempunyai ruang bermain yang cukup leluasa. 

Maka ketika jumlah barang semakin banyak dan rak-raknya semakin penuh, lupakanlah layout yang pernah dibuat. Kalaupun layout penempatan barang itu masih dibutuhkan, maka paling-paling hanya untuk menunjukkan pemisahan kelompok besarnya saja, seperti misalnya antara kategori food dan non-food, atau antara barang kebutuhan sehari-hari dengan barang kebutuhan insidentil. Selebihnya, mulailah berimprovisasi dengan kreatifitas Anda. 

*** 

Selesai…..? Wow….. belum!. Acara geser-menggeser barang ini tidak akan selesai dalam hitungan jari tangan, masih ditambah jari kaki, bahkan jari kaki orang lain juga.…. Kecuali jika Anda menganggap bahwa pengaturan barang-barang ini tidak terlalu penting, maka berhentilah. Namun percayalah (yang kedua)….. , bahwa migrasi barang dagangan, dari satu rak ke rak yang lain dan dari satu posisi ke posisi yang berbeda, ini sangat penting dan kritikal yang perlu memperoleh perhatian sungguh-sungguh. Setidak-tidaknya begitulah penilaian saya. Bisa jadi penilaian ini salah, karena saya menyadari bahwa jam terbang dan pengalaman saya di dunia perswalayanan ini memang masih sak uprit…., sangat sedikit!. Tapi ya luweh (biarin)….., meskipun sak uprit toh pengalaman juga namanya. 

Kini “Madurejo Swalayan” sudah berjalan memasuki bulan ketiga. Tapi acara ser-gesser barang masih berlangsung terus, pindah sini-pindah sana, geser sana-geser sini. Pertama, karena masih terus ada penambahan item barang (seiring dengan perkembangan toko). Kedua, karena ada pergantian jenis barang (substitusi atas barang yang habis dari sono-nya). Ketiga, karena terus dan terus berimprovisasi menuju tampilan display yang lebih menarik dan tidak membosankan. Prinsipnya hanya satu, seperti apapun modifikasi penyusunan barang dilakukan, harus tetap demi memberi kemudahan bagi pelanggan. Dan jangan lupa,………. merangsang  “impuls buying”……… 

Padahal acara ser-gesser ini sangat-sangat menyita waktu, melelahkan lahir maupun batin dan membosankan bagi yang melakukannya. Yen tak pikir-pikir….., ya inilah “pekerjaan bodoh” yang tiada akhir. Hanya akan selesai ketika usaha toko bubar jalan………    

Madurejo, Sleman – 20 Desember 2005.
Yusuf Iskandar

(41) Perang Melawan Pengutil

13 Desember 2007

Berbisnis dengan orang desa yang lugu memang sering tak terduga. Jika mereka menjumpai harga jual di toko “Madurejo Swalayan” yang menurutnya lebih mahal dari tempat lain, spontan mereka ngomong : “Di sini kok harganya lebih mahal dari toko sana……”. Ada yang akhirnya tetap beli, ada juga yang tidak jadi beli. Keluhan polos seperti ini justru yang kami harapkan, karena kami jadi tahu bahwa harga jual toko kami kemahalan.  Repotnya saat-saat awal membuka toko adalah menentukan harga jual yang kompetitif. Karena tidak semua item barang yang jumlahnya ribuan sempat untuk di-survey, dicek-ricek dan dibandingkan dengan toko lain. Nah, complaint seperti itu akan sangat membantu.  

Terkadang kami sendiri yang mesti men-survey-nya, antara lain dengan suruhan orang untuk membeli barang-barang tertentu ke toko di kawasan sekitar. Toh, barang yang dibeli akan digunakan juga untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Jadi, tidak ada ruginya. Selain itu, salesman atau supplier adalah informan yang paling baik. Biasanya mereka akan dengan senang hati memberitahukan harga jual kami sudah pas, terlalu tinggi atau terlalu rendah dibandingkan toko lain di sekitar kawasan kami. Lain orang desa, lain lagi kalau yang datang adalah calon pembeli yang sudah biasa keluar-masuk toko swalayan di kota. Mereka masuk toko, lalu keliling menyusuri rak-rak toko, tahu-tahu keluar lagi tanpa beli apa-apa. Akibatnya kita tidak tahu, apakah mereka tidak menemukan barang yang dibutuhkan, atau harganya kemahalan, atau sekedar mau jalan-jalan dan melihat-lihat, atau memang sedang observasi mencari peluang untuk ngutil  Hal yang terakhir ini sungguh sudah terjadi. Seminggu pertama sejak toko buka, tanpa disadari (lebih tepatnya, terlambat ketahuan) kami sudah kehilangan beberapa barang dagangan yang kalau dihitung-hitung nilainya lebih satu juta rupiah. Jumlah kerugian yang sungguh besar, dibandingkan dengan margin keuntungan yang bisa diraih perharinya. Itulah pelajaran berharga, kesalahan dalam menata barang dagangan dan kesalahan dalam men-display produk-produk mahal, biasanya jenis-jenis susu balita yang kemasannya kecil tapi harganya mahal. Juga kesalahan dalam sistem pengawasan, sehingga mudah dimanfaatkan oleh orang-orang yang memang profesinya ngutil di toko swalayan. Dan orang-orang seperti ini memang selalu hadir.    

Begitulah, selalu ada saat-saat pertama dimana terjadi banyak hambatan dan masalah. Ibaratnya, saat pertama belajar naik sepeda, ya lumrah kalau jatuh. Saat pertama belajar setir mobil, nyengenges saja kalau terpaksa nyerempet pagar tetangga. Saat pertama kerja, ya terima saja kalau berbuat salah lalu diomelin atasan. Intinya, kalau takut menghadapi masalah, ya jangan berbuat sesuatu. Kalau takut rugi, ya jangan berbisnis, demikian petuah para guru wirausaha. Tinggal bagaimana menyiasati agar kerugian, kesulitan atau masalah yang timbul dapat diredam atau ditekan seminimal mungkin.  

Di tahap itulah memang kami perlu mikir agak banyak (untuk sekedar membuktikan bahwa kami masih hidup…..). Selebihnya enggak usah dipikir banyak-banyak, bisa dipikir sambil tidur (hal yang tidak pernah saya kerjakan selama 16 tahun jadi orang gajian…. Mikir pekerjaan sambil tidur…..). Selebihnya semua akan mengalir begitu saja, tinggal kami mengikuti kemana air mengalir sampai jauh……. Ya, sesekali melawan arus untuk berinovasi, sah-sah saja. Dan adakalanya memang diperlukan. 

*** 

Kemungkinan timbulnya masalah dan hambatan seharusnya memang sudah dipahami sedari mula. Bagaimanapun juga, semua orang yang terlibat dalam usaha toko “Madurejo Swalayan” ini adalah orang-orang dengan nol-puthul pengalaman di bidang bisnis ritel. Termasuk pemiliknya, pengelolanya, pelayannya, semua baru belajar bersama-sama. Satu-satunya pengalaman adalah pengalaman orang lain yang dipelajari lewat buku atau cerita-cerita. Pengalaman orang lain kan namanya pengalaman juga toh?  

Idealnya memang meng-hire seseorang yang sudah pengalaman untuk dilibatkan dari awal. Tetapi terkadang idealisme ini kalah oleh egoisme : Apa sih susahnya berjualan, tinggal beli barang lalu ditambah sedikit keuntungan dan dijual lagi. Ee…, ternyata masih ada hal lain yang tidak sesederhana itu, terutama untuk konsep toko swalayan-modern. Yo wis….., ora perlu digelani….. Lebih bagus lagi kalau pengelola toko sempat mengikuti semacam pelatihan tentang management ritel. Memang ada yang menyarankan demikian, minimal untuk menambah wawasan tentang sistem bisnisnya. Apa bedanya belajar melalui pelatihan dan melalui pengalaman orang lain? Bedanya hanya satu, yaitu kalau melalui pelatihan dapat sertipikat (pakai “p”). Selebihnya…. , terserah (bagaimana) Anda…..    

*** 

Ngomong-ngomong soal pengutil. Mahluk yang satu ini memang susah diidentifikasi. Bisa berjenis laki-laki, bisa perempuan. Bisa berpenampilan lusuh seadanya, bisa tampil rapi dan sopan berjilbab. Bisa sendirian, bisa berjamaah. Mereka juga berbelanja di toko. Kalau terlalu ketat mengawas-awasi setiap pengunjung, akan membuat pengunjung toko merasa tidak nyaman. Kalau dibuat rada longgar, kuwatir ada mahluk pengutil yang memanfaatkannya. Yang pasti, dimana ada toko baru buka, terlebih model swalayan, mahluk ini pasti muncul. 

Padahal sudah disediakan tempat penitipan tas dan jaket. Hal yang sudah sangat umum di perkotaan. Tapi untuk diterapkan secara ketat dan kaku di kawasan pinggiran, masih ada rasa ragu. Pasalnya, jangan-jangan masyarakat pedesaan malah takut masuk toko, merasa seperti tidak dipercaya. Jadi serba salah.   

Jalan tengahnya, barang-barang yang harganya relatif mahal kemudian dipindahkan ke dalam lemari etalase tersendiri dan harus dilayani untuk membelinya. Tidak diswalayankan. Dengan kata lain, kalaupun toh ada pengutil yang berhasil memperdaya penjaga toko, maka biarlah sekedar ngutil barang-barang yang harganya relatif tidak mahal. Tidak berarti lalu pengawasan diperlonggar. Para penjaga toko tetap diinstruksikan untuk selalu waspada dan melakukan pengawasan secara sopan dan manis, atau cukup dimanis-maniskan.  

Beberapa toko swalayan sejenis mengatasinya dengan memasang kaca cermin besar di bagian atas dinding belakang yang berfungsi seperti kaca spion. Ide yang bagus sebenarnya, namun kami di “Madurejo Swalayan” masih mempertimbangkannya, antara memasang spion besar dulu, atau dananya digunakan untuk menambah modal kerja dulu. Dadi bakulan ki suwe-suwe kok yo dadi rodo pelit” .….., itung-itungane kudu  njlimet……. 

*** 

Kini para penjaga toko juga sudah mulai bisa membaca gerak-gerik mencurigakan para pengunjung toko. Juga mengidentifikasi orang-orang tertentu yang sering datang dan pergi keluar-masuk toko, dan melakukan transaksi untuk jenis-jenis barang  yang sepertinya tidak logis dibandingkan dengan frekuensi kunjungannya.    

Alhamdulillah, sejak kebobolan di minggu-minggu pertama dan perubahan cara men-display barang dagangan yang mahal-mahal, tampaknya sejauh ini cukup berhasil mempersempit ruang gerak para pengutil. Namun tetap perlu diwaspadai, bahwa aktifitas til-nguttil pasti belum berakhir. Akan datang saatnya dimana pihak toko terlena dan pihak tukang ngutil mulai beraksi kembali.  

“The show must go on”. Berdampingan antara “show”-nya toko dan “show”-nya pengutil.. Antara yang berniat mencari rejeki dengan cara halal dan yang mencari rejeki melalui jalan pintas yang dholim. Hasilnya sama-sama untuk menafkahi keluarganya (Lho, tujuannya sama-sama baik sebenarnya..…).  

Pokoknya……., perang melawan pengutil forever…ver…ver…ver…  

Madurejo, Sleman – 29 Nopember 2005.
Yusuf Iskandar

(40) Masuk Toko Sandal Dilepas

13 Desember 2007

Buka usaha mini-market swalayan di kota, tentu sudah biasa. Tapi, buka toko swalayan-modern di pinggir kota, baru belum biasa. Di balik yang belum biasa inilah tersedia tantangan dan peluang (plus sedikit nekat….).  Sebenarnya lokasi toko “Madurejo Swalayan” tidak ndeso-ndeso amat, wong lokasinya ada di pinggir jalan, kira-kira pertengahan jalan Prambanan – Piyungan yang cukup ramai. Ya, jalannya yang ramai, karena merupakan jalan sudetan ke Wonosari dari arah Solo. Hanya saja sebagian masyarakat di sekitar desa Madurejo memang belum terbiasa dengan model belanja melayani sendiri. Sebagian masyarakatnya kebanyakan hidup dari pertanian dan pedagang kecil. Entah buruh tani, entah pemilik lahan. Maka selama ini kebutuhan sehari-harinya masih cukup dilayani oleh warung, toko atau pasar tradisional.  

Oleh karena itu sangat disadari bahwa pangsa pasar toko “Madurejo Swalayan” memang bukan mereka itu, melainkan sebagian lainnya yang selama ini sudah berinteraksi dengan masyarakat kota. Entah sebagai pekerja lepas harian, pegawai kantoran, pengusaha, pelajar atau mahasiswa, dan kalangan menengah ke atas lainnya. Selama ini mereka suka belanja ke Yogya, atau paling tidak ke Prambanan atau Piyungan, kota kecamatan terdekat. Mereka itulah sebagian masyarakat yang menjadi target pasar “Madurejo Swalayan”. Bahasa kampungnya, toko ini akan nyegati mereka agar tidak perlu belanja jauh-jauh ke Yogya.  

Lebih-lebih dengan naiknya harga BBM, praktis ongkos transport ke kota juga ikut membengkak. Alhamdulillah, toko ini buka pada saat harga BBM naik (Alhamdulillah untuk tokonya, bukan untuk naiknya harga BBM). Maka secara teoritis, warung, toko atau pasar tradisional tidak akan tersaingi oleh toko ini. Sudah punya segmen pasar sendiri-sendiri. Istilahnya Aa Gym, Tuhan pasti tidak akan salah mendistribusikan bagian rejeki bagi setiap orang. Tuhan Yang Maha Distributor – Maha Pemurah – Maha Adil.  Tapi ya setiap perubahan selalu ada dampaknya. Meskipun sudah diproyeksikan untuk menjaring konsumen kalangan menengah ke atas, tentu tidak mungkin untuk dipasang tulisan “Orang ndeso dilarang belanja”. Akhirnya hukum pasar berlaku, dimana ada barang lebih murah, kesana pula pembeli akan menuju. Maka tidak heran, kalau selisih harga Rp 50,- pun akan dikejar pembeli. Namun itu sisi belakang mata uang. Sedang sisi depannya adalah, orang desa pun tentu ingin tahu toko swalayan-modern itu seperti apa, barang apa saja yang dijual, harganya berapa, dsb.  Lha wong namanya toko swalayan-modern, kelebihan pertama tentu tampilan toko akan berbeda dengan toko tradisional, sebagai salah satu bentuk layanan dan untuk menarik perhatian calon pembeli. Singkat kata, konsumen atau pengunjung toko, entah beli entah tidak, harus dilayani sebaik-baiknya dan dimanjakan. Tampilan mesti keren, kerapian perlu dijaga, kebersihan apa lagi, pelayanan harus diutamakan. Semua itu menjadi sangat penting agar konsumen senang masuk toko, yang akhirnya kembali lagi esoknya dan belanja lagi lain waktu.   ***   

Suatu ketika datang ibu-ibu tua hendak membeli sesuatu. Begitu masuk toko tampak rada canggung, tolah-toleh kok enggak ada pelayan yang nyamperin. Di toko yang biasanya ibu itu berbelanja, selalu ada penjaga yang tanya mau beli apa lalu mengambilkan barangnya dan dibayar, sesekali terjadi tawar-menawar harga. Tapi di sini kok dibiarkan saja, hingga agak lama ibu itu berdiri saja menunggu dilayani. Penjaga toko swalayan memang perlu jeli mengambil inisiatif untuk meng-guide jika menemui pengunjung yang seperti ini. 

Kali lain ada bapak-bapak yang masuk berbelanja. Nampaknya beliau sudah tahu kalau mesti melayani sendiri. Tanpa canggung mencari barang yang hendak dibeli dan akhirnya ketemu. Giliran mau membayar, dikeluarkannya uang dari sakunya, lalu mencari penjaga toko dan menyerahkan uangnya. Ooo.., rupanya bapak itu belum tahu kalau semua transaksi pembayaran dilayani oleh kasir.  

Ada lagi yang masuk toko terus mengambil keranjang belanja warna biru muda, lalu dipilang-piling. Namanya toko baru, ya keranjang belanjanya masih baru. Enggak lama keranjang dibawa ke kasir. Kok keranjang kosong dibawa ke kasir? Rupanya keranjang itu yang mau dibayar, dikiranya termasuk barang yang dijual, padahal sudah dipasang tulisan petunjuk bahwa itu adalah keranjang belanja. 

Suatu hari datang seorang ibu dengan anak perempuannya. Melihat lantai toko yang putih bersih, rupanya mereka tidak tega untuk mengotori lantai dengan sandalnya. Maka, ibu dan anaknya pun kompak melepas sandal di luar teras, seperti mau melewati batas suci atau batas sandal/sepatu di masjid, lalu nyeker masuk toko……  

Biasanya pelayan toko akan  segera menyusuli dan meminta agar sandalnya dipakai saja. Namun sungguh mulia niat baik ibu ini, benar-benar tidak mau memakai sandalnya. Sayang kalau lantai toko yang putih bersih nanti jadi kotor, katanya. Bukan sekali-dua peristiwa seperti ini terjadi. Terkadang pelayan toko yang ngalahi mengambilkan sandalnya dan memberikan kepada sang empunya kaki agar sandalnya dipakai saja.  

Hikmah yang bisa dipetik : Pertama, perlu telaten dan sabar memasyarakatkan konsep toko swalayan di kawasan pinggir kota. Kedua, kebelumtahuan masyarakat akan konsep swalayan modern adalah “aset” potensial, kalau bisa mengelolanya.   

Madurejo, Sleman – 23 Nopember 2005.

Yusuf Iskandar

(39) “Ilmu Gaib”

13 Desember 2007

Memberi sumbangan, donasi, pensponsoran, bantuan, dsb. adalah bagian dari aktifitas bisnis, tak terkecuali bisnis ritel toko swalayan. Di perusahaan-perusahaan besar, aktifitas “memberi” ini dikemas dengan label Community Development atau Pengembangan Masyarakat. Apapun labelnya, aktifitas ini tentu tidak dalam rangka hal-hal yang terkait dengan KKN, pungli atau tindakan-tindakan tidak terpuji lain sejenisnya. Sedangkan di perusahaan-perusahaan kecil atau usaha kelas bulu seperti halnya “Madurejo Swalayan”, aktifitas “memberi” ini dikemas dengan judul sumbangan sosial, bantuan atau kegiatan lain yang langsung bersentuhan dengan peran sosial pemiliknya dan juga usahanya.

Karena pentingnya aktifitas bisnis ini, maka perlu disiapkan pos anggaran tersendiri. Seperti pernah saya singgung sebelumnya, aktifitas sumbangan sosial ini tidak salah kalau mau dikaitkan dengan aktifitas pensponsoran (promosi). Aktifitas yang berbau sosial adalah aktifitas yang berbentuk “memberi” kepada masyarakat.

“Memberi”  tidak selalu berhubungan dengan uang, melainkan bisa juga berupa barang atau jasa atau sesuatu yang berbeda. Tergantung situasi dan kondisi yang sedang membutuhkan Terkadang uang lebih diperlukan, di saat yang lain barang atau jasa barangkali lebih mengena. Dan, selebaran infomezzo TIPS milik “Madurejo Swalayan” adalah juga “pemberian” kepada masyarakat yang membutuhkan.        

Hal yang paling penting dari penyebaran selebaran berisi tips-tips singkat itu adalah kita telah berbagi informasi yang sekiranya akan bermanfaat bagi pembacanya. Berarti kita telah “memberi” sesuatu yang bermanfaat kepada paling tidak satu rim pembaca selebaran atau berapapun jumlah kopiannya. Belum lagi kalau selebaran itu turut dibaca juga oleh anggota keluarga, tetangga atau teman, maka betapa banyaknya masyarakat yang turut memperoleh manfaat dari tips-tips yang kita berikan.  

Juga termasuk “pemberian” adalah mempersilakan orang lewat yang kehujanan untuk berhenti nunut ngeyup (numpang berteduh). Tentu saja ini bukan satu-satunya cara. Ada banyak ide dan gagasan. Setiap orang punya cara dan bentuk “pemberian”-nya masing-masing. Banyak atau sedikit, bukan intinya.  

***  

Kata orang-orang bijak, kalau ingin banyak menerima maka harus banyak memberi. Atau, dengan banyak memberi maka bolehlah berharap untuk banyak menerima. Agama yang saya peluk, memerintahkan yang kira-kira intinya adalah agar berbanyak-banyak beramal, maka Tuhan akan memberikan balasan yang jauh lebih banyak dari sumber-sumber yang tak terduga. Dalam agama apapun saya yakin ada pandangan keyakinan yang kurang lebihnya punya esensi yang sama. 

Untuk memahami hal gaib ini ijinkan saya memandangnya dari perspektif Islam, agama yang saya yakini, karena untuk meyakini hal yang satu ini tidak bisa didekati dengan ngelmu dunia.  Dalam terminologi Islam ada paket zakat, infak dan sedekah. Pemberian informasi (ilmu dan pengetahuan) yang bermanfaat adalah termasuk amal sedekah jariyah, yaitu amal sedekah yang akan terus tumbuh dan berkembang nilai kebaikannya bahkan ketika ditinggal mati oleh pelakunya. 

Bahkan Pak Robert Kiyosaki pun sangat meyakini bahwa banyak memberi adalah bagian dari sukses bisnis seseorang. Bahasan panjang pun dikupas abis oleh Pak Robert dalam salah satu serial sekian-logi bukunya, khusus tentang pentingnya berbuat amal dan berkontribusi sosial. Tak terkecuali Pak George Soros yang pernah dicaci-maki abis ketika Indonesia dilanda krisis tahun 1997-an, juga sangat menganggap penting untuk mengkontribusikan sebagian dari kekayaan usahanya.  

Singkatnya, “memberi” itu wajib hukumnya bagi pelaku usaha manapun dan apapun. Jangan dibantah. Tidak pernah ada sejarahnya orang yang keleleran tidak bahagia hidupnya karena banyak memberi. Tapi kalau kemrungsung hidupnya karena pelit bin medhit, banyak sekali……. (Kalimat puitis-dramatis semacam ini memang perlu dipahami dengan perenungan, tidak dengan terjemahan kamus seperti ketika sekolah dulu).  

Celoteh di atas itu mirip-mirip cerita gaib dari “dunia lain”. Omongan yang sulit untuk dibuktikan secara ilmiah, apalagi dengan persamaan matematika-ekonomi. Ketemu pirang perkoro (ketemu berapa perkara – ungkapan bahasa Jawa), wong banyak yang dikeluarkan kok pemasukannya malah tambah. Diminus-minus tapi hasilnya banyak plus. Awalnya hanya perlu diyakini kebenarannya, berikutnya akan semakin diyakini setelah mengalaminya sendiri atau melihat bukti empirisnya. Selebihnya, percaya syukur, enggak ya sebodo teuing…….  

Pak Isaac Newton pernah berkata bahwa setiap aksi akan menghasilkan reaksi dengan arah berlawanan. Barangkali hukum ini agak pas untuk menjelaskan. Aksi menabur pemberian keluar, menghasilkan reaksi menuai penerimaan ke dalam. Hanya ada sedikit penyimpangan, aksi pemberiannya kecil tapi kok reaksi penerimaannya bisa besar tak terhingga. Itulah “ilmu gaib”.  

Meski demikian, runtutan logis yang ada di pikiran saya kira-kira begini : Kalau usaha toko kita berjalan baik dan berhasil menghimpun keuntungan lebih, yang pastinya berasal dari pembelian pelanggan kita, rasanya wajar kalau kemudian kita pun membagikan sebagian keuntungan itu untuk kebaikan pelanggan kita juga. Bentuk dan jumlah “pemberian”-nya dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi yang pas.   

Tanpa perlu formulasi yang rumit-rumit, bangunan kerjasama antara pengelola toko dan masyarakat sekitarnya adalah bangunan kerjasama saling menguntungkan (simbiose mutualisme). Toko butuh pembeli, pembeli butuh toko. Toko mengambil keuntungan wajar, pembeli ikhlas membayarnya. Toko kebanyakan bathi (untung), pembeli menerima “kembalian” bentuk lain yang bermanfaat. Kok ya manis sekali teamwork-nya. Transaksi pun berlangsung penuh senyum dan ukhuwah (paseduluran), setiap hari, setiap waktu. 

Itu teorinya, Bung! Lha, prakteknya? Prakteknya ya seperti itu!. Cuma, ada yang bisa dan ada yang tidak. Lebih konkritnya, ada yang ikhlas dan ada yang tidak ikhlas. Tinggal pilih saja kok repot…….    

Memang benar, logis bagi saya belum tentu logis bagi orang lain. Tapi pasti benang merah kebenarannya sama. Kalau ternyata kisah tentang “ilmu gaib” ini kedengarannya seperti mengada-ada, lha ya monggo-monggo saja untuk mempercayainya atau tidak. Ora patheken……., enggak bakal kudisan….. (embuh apa istilah bahasa Indonesianya yang pas……).    

Madurejo, Sleman –15 Pebruari 2006 (Ultah Ibu CFO, ada bancakan nasi kuning, tanpa sayur asem)
Yusuf Iskandar

(38) Hujan Pun Membawa Berkah

13 Desember 2007

Di seputaran pergantian tahun Masehi dan tahun Imlek, musim durian dan rambutan, biasa ditandai dengan musim hujan berkepanjangan plus bonus banjir di mana-mana. Para pemilik warung, toko, resto, pada mengeluh : “Kalau hujan terus-terusan begini alamat rejeki berkurang…….”. Keluhan semacam ini sudah jadi bagian basa-basi percakapan keseharian para bakul dan pengusaha warung, toko atau resto. Maka ungkapan seperti : “Toko saya sepi akibat hujan terus-menerus” akan sering terdengar di saat-saat seperti ini.

Kalau bisa dituliskan dengan persamaan matematika, maka rumusnya para bakul itu seakan-akan menjadi JP = 1/H, dimana : JP = jumlah pembeli dan H = hujan. Banyaknya pembeli akan berbanding terbalik dengan banyaknya hujan. Semakin sering hujan turun ke bumi maka pengunjung toko semakin sedikit, yang berarti potensi keuntungan yang dapat diraih juga semakin sedikit. Gampangnya, semakin sering hujan, rejeki semakin seret.

Padahal dari sono-nya, Sang Maha Pembuat Hujan tidak pernah sekalipun merencanakan untuk mengurangi rejeki para pengusaha kecil, para bakul atau siapapun dengan cara menghujaninya, melainkan hanya mengaturnya dengan skenario berbeda. Kata Sang Maha Pembuat Hujan : “Lho, hujan itu juga rejeki bagi kalian semua baik yang bakul, pengusaha atau pengangguran sekalipun…..”. Tapi apa lacur, hujan sudah kadung identik menjadi tanda bagi berkurangnya pembeli yang belanja di warung, toko atau resto. Kalau demikian, pasti telah terjadi mis-understanding, salah paham antara maksud Sang Maha Pengusaha Pabrik Hujan dan para pengusaha yang kehujanan.  

***  

 

Kata para pelayan “Madurejo Swalayan”, kalau pas hujan deras mengguyur memang banyak juga orang-orang lewat yang kehujanan kemudian numpang berteduh. Saya jadi ingat saat-saat awal beroperasinya “Madurejo Swalayan”, ada seorang pengunjung yang mengeluh tempat parkirnya panas. Keluhan itu saya terjemahkan sebagai usulan agar dipasang atap peneduh. Usul itupun kemudian saya penuhi. Dan sekarang ternyata ada manfaatnya, ya itu tadi, membantu menyediakan tempat berteduh kepada orang lewat yang kehujanan. 

Kehujanan lalu berteduh, adalah aktifitas yang tidak ada orang pernah merencanakannya. Oleh karena itu orang-orang seperti ini pada dasarnya cenderung sedang “kebingungan”. Tiba-tiba saja harus menghabiskan waktu dengan aktifitas yang membosankan, menunggu hujan reda. Ada ide? Sodorkan selebaran infomezzo TIPS, biar dibaca-baca sambil menunggu hujan berlalu. Kebanyakan orang yang sedang “kebingungan” seperti ini tidak akan merasa cukup untuk membaca hanya sekali, barangkali sampai diulang-ulang membacanya karena hujan tak berhenti juga. Apalagi kalau orang itu sendirian.    

Maka dua kebaikan sudah dilakukan dengan tanpa direncana sebelumnya, memberi peneduh dan memberi bacaan bermanfaat . Sederhana sekali. Tapi saya melihat kejadian ini dari bingkai yang berbeda. Ini adalah potret dengan bingkai yang bernama “opportunity”. Moga-moga saja kebaikan semacam ini juga termasuk kontribusi sosial yang bukan berupa uang, yang menurut “ngelmu gaib” bisa menjadi tabungan yang punya nilai berkah tak terduga. 

Suatu sore saya lihat ada dua orang berboncengan naik sepeda motor kehujanan. Lalu berbelok masuk ke halaman “Madurejo Swalayan” numpang ngeyup (berteduh). Hujan turun cukup deras dan agak lama, lalu tidak lama kemudian salah seorang masuk toko dan membeli rokok. Entah karena kedinginan, entah karena bengong kelamaan menunggu hujan tak kunjung reda, entah memang persediaan rokoknya habis, entah karena kehabisan bahan obrolan, atau barangkali buat pantes-pantes merasa tidak enak sudah nunut ngeyup. Apapun alasannya, saya senang kalau ternyata halaman toko saya bisa membantu orang lain berlindung dari terpaan hujan. Kalau akhirnya ada yang masuk toko dan belanja atau terserang virus impulse buying, sungguh itu di luar tanggung jawab saya.   

Suatu kali ada seorang sales sepedamotoran yang berkunjung ke “Madurejo Swalayan” dalam rangka  mencatat order mingguan. Biasanya sales ini akan buru-buru langsung pergi melanjutkan perjalanannya seusai mencatat pesanan barang. Tapi berhubung hujan turun cukup lebat, terpaksa dia menunggu dulu. Ini tentu menjadi aktifitas yang tidak pernah direncanakannya. Dengan kata lain dia pun sebenarnya sedang “kebingungan”. Membaca selebaran TIPS bisa jadi penghibur dan pengisi waktu. Kalau kemudian sales itu pun membeli rokok dan permen atau snack, sekali lagi itu benar-benar di luar tanggung jawab saya.   

Apa yang dapat saya petik dari kejadian ini? Memang benar apa kata Sang Maha Pengusaha Pabrik Hujan, bahwa peristiwa hujan itu tidak ada sangkutnya dan pautnya dengan banyak atau sedikitnya rejeki seseorang. Mestinya tidak perlu ada salah paham. Bukan maksud Sang Pembuat Hujan untuk membatasi rejeki seseorang dengan menghujaninya, karena hujan itu sendiri adalah rejeki.    

Saya seperti diingatkan, bahwa di balik setiap threats (ancaman) pasti ada opportunities (peluang). Kalau hujan itu dianggap sebagai ancaman atau penghalang, maka hendaknya jangan hujannya yang digrundeli (dikeluhkan) atau dipisuh-pisuhi (dimaki-maki), melainkan peluangnya yang mesti dicari dan didayagunakan. Dan, pemilik “Madurejo Swalayan” ini termasuk orang yang percaya bahwa peluang itu tidak akan pernah habis dicari dan tidak akan pernah selesai digarap.   

Bagaimana menyulap agar turunnya hujan dapat menjadi berkah bagi siapa saja, termasuk “Madurejo Swalayan”. Dalam bahasa vulgarnya, bagaimana mempengaruhi agar dalam hujan pun orang tetap mau berbelanja dan bagaimana agar orang-orang yang kehujanan itu mau masuk toko dan membeli sesuatu. Maka, (seharusnya) hujan pun membawa berkah…….    

Madurejo, Sleman –14 Pebruari 2006  (Hari Valentine, dimana coklat laku keras).
Yusuf Iskandar

(37) From Rumah Makan Padang With Tips

13 Desember 2007

Pada hari-hari awal beroperasinya “Madurejo Swalayan”, datanglah pemilik perusahaan tempat saya membeli perlengkapan toko dan perangkat sistem komputernya, menyambangi sambil melihat barangkali saya ada kesulitan yang perlu dibantu. Dia berceritera banyak tentang bisnis ritel karena memang di bidang itulah perusahaannya banyak terlibat. Salah satu yang disampaikannya adalah tentang inspirasi yang diperoleh dari rumah makan Padang. Katanya ada salah satu toko swalayan yang memasang tulisan di dalam tokonya yang bunyinya seperti yang banyak dijumpai di rumah makan-rumah makan Padang. Anda pasti hafal bagaimana bunyinya. Intinya kira-kira begini : “Kalau Anda puas, beritahukan kepada teman Anda. Tapi kalau Anda kurang puas, sampaikan kepada kami”. 

Seorang teman di Jakarta yang kebetulan berdarah Padang dan sempat berkunjung ke jobsite “Madurejo Swalayan” menulis email kepada saya. Katanya, “Madurejo Swalayan” kelihatannya concern sekali dengan masalah pelayanan, lalu dia pun mengusulkan tidak ada salahnya meniru semboyan tentang pelayanan yang biasa ditulis di rumah makan-rumah makan Padang. Ya, semboyan atau pesan seperti yang saya sebutkan di atas itu.     

Saya sepenuhnya setuju dengan inti pesan yang disampaikan oleh kebanyakan pemilik rumah makan Padang itu. Saya kira itu memang ide kreatif yang sudah mentradisi. Hanya saya berpikir, bagaimana saya bisa meniru ide itu tapi dengan cara penyampaian yang berbeda. Kalau saya meniru begitu saja lalu memasang pesan itu di dalam toko, maka mudah ditebak oleh setiap pengunjung : “Kok seperti rumah makan Padang…….?”. Ya enggak apa-apa juga seh…. Cuma, kok gimana gitu loh……. 

Salah satu ide promosi yang sudah saya pikirkan sejak awal adalah membuat selebaran. Selebaran yang berisi informasi yang sekiranya akan berguna bagi orang lain. Tentang apa saja. Semacam terbitan berkala. Kemudian saya mulai berhitung berapa biaya yang harus dikeluarkan. Tetapi saya masih gojag-gajeg (ragu-ragu) untuk segera merealisasikannya. Apakah memang hal itu perlu. Apakah tidak akan muspro (terbuang percuma). Apakah akan ada manfaatnya bagi masyarakat tetangga saya yang adalah juga pelanggan saya.   Hingga memasuki bulan keempat beroperasinya “Madurejo Swalayan”, akhirnya saya berkeputusan bahwa ide itu perlu dicobakan. Kalaupun akhirnya nanti ditimbang-timbang kok tidak banyak manfaatnya, ya hentikan saja. Sebaliknya, kalau ternyata disukai pengunjung dan pelanggan, maka perlu ditingkatkan kualitasnya karena akan menjadi media promosi yang ampuh. Tinggal menyiasati format tampilannya supaya menarik dan pilihan informasinya agar bermanfaat. Kalau pembaca kemudian menyukainya, mereka pasti akan mencari lagi informasi yang lainnya. Untuk mencarinya, ya tentu tidak ada tempat lain selain di “Madurejo Swalayan”. Artinya, kalaupun si pembaca datang ke toko hanya untuk mengambil selebaran itu dan bukan untuk membeli apapun, maka itu sudah menjadi ukuran keberhasilan.  Nah, di dalam selebaran itulah akhirnya saya terinspirasi untuk menyelipkan pesan-pesan sponsor yang sekiranya ingin disampaikan oleh manajemen “Madurejo Swalayan”. Salah satunya, ya pesan sponsor tentang pelayanan seperti yang diterapkan oleh rumah makan-rumah makan Padang itu. Seperti tumbu ketemu tutup. Meniru tapi dengan cara penampilan berbeda. 

***   

Edisi perdana disiapkan agar bisa terbit pertama kali tanggal 31 Januari 2006 bertepatan dengan Tahun Baru 1427 Hijriyah atau tanggal 1 bulan Suro menurut penanggalan Jawa. Ini hari spesial yang nuansa sakralnya masih sangat kental terutama di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya. Sayangnya pada hari libur itu cuaca agak muram dan hujan sehingga saya malas berkeliling mencari kios fotokopi yang rada murah (masih juga cari yang murah, padahal biaya fotokopi ya segitu-segitu juga). Terpaksa edisi perdana ditunda dua hari.  

Selebaran itu (sementara ini) saya namakan TIPS, dan saya format hanya satu halaman pada selembar kertas. Sesuai namanya dan sesuai formatnya, maka saya berniat untuk menyampaikan berbagai macam tips-tips singkat yang sekiranya mudah dipahami dan bermanfaat bagi keseharian masyarakat desa Madurejo dan sekitarnya. Untuk tahap uji coba ini saya ambil cara mudah-murah-meriah, yaitu dengan memfotokopi hitam-putih sebanyak 500 lembar di atas kertas buram.   

Apa topik pertamanya? Topiknya harus yang umum tapi spesifik. Jangan dipikir lama-lama tentang kriteria ini, memang kedengarannya nggrambyang (tidak jelas), tapi maksudnya adalah masalah yang umum dihadapi tetapi caranya menghadapinya spesifik. Ketemulah tips kesehatan tentang terapi air. Untuk mencari tips-tips lainnya pun tidak terlalu susah, tinggal klik ke mesin pencari di internet, tips apa saja bisa ditemukan. 

Topik tentang terapi air ini pernah mewabah di internet dan permilisan beberapa tahun yang lalu. Makanya bagi mereka yang sudah biasa nginternet dan ngemail, tentu tidak asing lagi. Tapi tidak, bagi kebanyakan masyarakat desa Madurejo dan sekitarnya. Boro-boro nginternet dan ngemail, baca koran saja tidak setiap orang melakukannya setiap hari. (Tapi jangan heran, kalau mereka fasih bercerita tentang Roy Marten nyabu, Inul memelas, atau bintang infotainment baru Jackson Parangin-angin…….).  

Maka bolehlah kalau pengelola “Madurejo Swalayan” berharap semoga media selebaran yang di bagian sudut kiri atasnya bertuliskan “Untuk Kalangan Sendiri” ini menjadi media komunikasi infomezzo (bentukan latah untuk informasi intermezzo) dan sekaligus sarana komunikasi dan sarana silaturahmi alternatif, serta sarana berbagi pengetahuan kepada masyarakat sekitar. Dari rumah makan Padang membawa ide yang lalu menjelma menjadi tips-tips yang bermanfaat bagi pelanggan atau masyarakat pada umumnya. Istilah keminggris-nya : From rumah makan Padang with tips.  

***   

Tidak terlalu banyak biaya yang dikeluarkan. Untuk fotokopi satu rim kertas buram diperlukan biaya sekitar Rp 30.000,- di Yogya (itupun sudah nawar Rp 5,- per lembarnya. Dasar bakul.…..!). Dengan uang itu, saya pikir saya bisa menyapa 500 orang pembeli, pelanggan atau pengunjung toko. Bukan hanya menyapa para pembacanya, tapi juga ngiras-ngirus (sekaligus sambil) berpromosi kepada para pembaca selebaran. Di musim hujan ini, info dalam selebaran bisa menjadi bacaan pengisi waktu bagi orang lewat atau sales sepedamotoran yang numpang berteduh karena hujan. 

Ini bagian dari upaya menggarap “opportunity”. Ibarat pepatah mengatakan : sekali mengayun gayung, dua tiga tanaman tersirami. Sekali menyebar selebaran TIPS, masyarakat menerima manfaat dari isi informasi tips-tips-nya, masyarakat mengetahui kalau ada “Madurejo Swalayan” yang siap melayani kebutuhan mereka, dan masyarakat menerima sapaan mesra perihal pelayanan, silaturahmi dan paseduluran.   

Apakah selebaran itu akan terbit seminggu sekali, dua minggu sekali atau sebulan sekali, lets see……., biarlah masyarakat yang memutuskan. Investasi Rp 30.000,- per edisi kiranya akan cucuk (sepadan) dengan hasil yang diharapkan pada tahap uji coba ini. Kalau masyarakat (baca : pembeli, pelanggan dan pengunjung) puas, pasti mereka akan dengan suka rela gethok tular menyampaikan kepuasannya kepada orang lain. Dan kalau mereka ada ganjalan, mereka pun feel free untuk menyampaikannya. “Lho, kok seperti rumah makan Padang…….?”. Iya juga sih. Tapi kan olahannya lebih unusual, gitu loh…….. Ada tips bermanfaat yang bisa dibaca di rumah, tidak sekedar menghafal teks pesan sponsor. Inspirasi boleh dari mana saja termasuk rumah makan Padang, tapi olahan tampilannya bisa berbeda. 

Dan yang lebih penting, tips-nya TIPS ini hanya sebuah awal. Masih terbuka ladang garapan bernama “opportunity” yang lebih luas yang dapat dikembangkan dari sebuah awal yang sederhana ini. Bentuk garapannya masih off the record (nanti ndak diduluin orang….., yang inspirasinya saya peroleh ketika blusukan di pedesaan Amerika dan Australia). Berangan-angan toh boleh saja…….

 

Madurejo, Sleman – 13 Pebruari 2006.

Yusuf Iskandar

(36) Kisah Tentang Sayur Asem

13 Desember 2007

Sekali waktu saya mengadakan briefing khusus bagi Pengawas dan CFO “Madurejo Swalayan”. Setelah usaha ritel ini berjalan beberapa bulan, saya menangkap sinyal agaknya kedua staf saya ini agak keteteran mengikuti irama kerja CEO-nya. Sehingga terkadang menjadi kurang fokus pada hal-hal yang semestinya diutamakan.

Saya tidak maido (menyalahkan). Barangkali langkah saya terlalu cepat atau terlalu jauh ke depan, sehingga kedua staf saya tertinggal, masih tertambat pada visi toko tradisional. Atau, jangan-jangan memang saya yang terlalu reseh dengan gagasan-gagasan “aneh” yang nampaknya seperti “kok repot amat, sih…….”. 

Bagaimana sinyalnya? Tampak dalam cara kerja penganut aliran “Just Do It” (pokoknya lakukan saja dulu), kurang mengandalkan pola kerja yang analitis-strategis, terlalu terfokus pada hal-hal yang tampak di depan layar saja. Bisnis itu ya cari untung, maka yang penting dagangan laku dan meraih keuntungan, demikian kira-kira prinsipnya. Dalam jangka pendek, tidak ada yang salah dengan hal ini. Tapi dalam jangka panjang, jika gagal melihat visi jauh ke depan, maka bisa keteteran ketika muncul pesaing yang lebih canggih dalam hal prasarana dan SDM-nya. 

Kalau hanya sekedar jualan saja, siapapun bisa melakukannya kalau mau. Apa sih susahnya kulakan, lalu ditambah sedikit keuntungan, lalu dijual kembali. Kalau tujuannya adalah asal meraih keuntungan cukup, maka asal sabar, telaten dan ulet, pasti keuntungan akan dapat diraih. Lain ceritanya kalau targetnya adalah meraih keuntungan banyak, cepat dan berkelanjutan terus meningkat, maka harus jangan pernah berhenti berpikir, harus tahan banting dan mampu survive di segala macam cuaca. 

*** 

Paling enak jadi orang Sunda, kasih sambal lalu lepas di kebun, sudah hidup dia. Itulah lelucon yang sempat ngetop bersama ngetopnya kelompok Warkop di penghujung tahun 70-an. Sampai sekarang pun guyonan itu masih suka kita dengar.  Yang disebut hidup dalam guyonan itu tentunya hidup seadanya, tanpa memperdulikan yang dimakan pakai sambal itu enak apa enggak, banyak atau sedikit, setelah dimakan pun tubuhnya jadi sehat ataukah sakit-sakitan. Berbeda halnya kalau yang dikatakan hidup itu adalah hidup harus dengan makan enak dan banyak, bergizi tinggi dan tubuh pun jadi sehat dan kuat, maka tentu tidak bisa untuk dilepas di sembarang kebun begitu saja. Harus ada kondisi tertentu yang dipenuhi. Bisa jadi kebunnya harus diurus yang benar dulu agar hasilnya layak untuk dimakan pakai sambal agar selalu sehat dan lezat.     Saya gunakan cerita di atas untuk memberi ilustrasi tentang angan-angan saya bagaimana seharusnya mengelola mracangan “Madurejo Swalayan” ini. Kalau hanya membeli barang kemudian ditambah sedikit keuntungan lalu barang dilepas di pasar, apa susahnya? Terserah pasar mau membelinya atau tidak, kalau membeli sedikit ya alhamdulillah, kalau membeli banyak ya puji Tuhan-walhamdulillah.  Biarkan pasar berperilaku sebagaimana adanya. Lalu bisnis pun berjalan mengikuti irama pasar, terkadang klasik, sekali waktu cadas, tiba-tiba ndang ndut, kali lain klenengan. Kalau ternyata pasar kurang berminat dengan jenis barang itu, ya lain kali jangan dikulak melainkan diganti dengan barang jenis lain. Kalau ternyata kurang laku atau pasar sedang lesu, ya sedikit bersabarlah asal tidak patah semangat. Kalau ternyata stok barang di toko habis dan persediaan stok di pasar menghilang, ya sudah, tunggu saja sampai ada pengiriman lagi. Pokoknya lakukan saja dengan sabar dan telaten seperti biasanya. Sungguh, tidak ada yang salah dengan semua ini.       

Persoalan mulai timbul, ketika CEO “Madurejo Swalayan” ini kelewat reseh. Jangan biarkan pasar mempengaruhi apalagi mengatur bisnis kita. Pasarlah yang seharusnya mengikuti irama bisnis kita. Kalau ternyata pasar kurang berminat dengan jenis barang yang kita jual, cari penyebabnya dan jalan keluarnya. Kalau ternyata barang dagangan kurang laku, cari terobosan apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan penjualan. Kalau ternyata pasar sedang lesu, cari peluang bagaimana agar bergairah kembali.  

Intinya, pasti ada sesuatu yang dapat dilakukan. Tidak selalu berarti melawan arus pasar atau menentang hukum pasar. Melainkan giringlah pasar agar mengikuti irama bisnis yang kita inginkan. Toh ini bukan bisnis komoditas vital atau strategis seperti minyak atau emas. Ini hanya bisnis komoditas urusan keseharian tentang sarapan pagi, minum teh di sore hari, mencuci piring dan pakaian, mandi dan gosok gigi, menyusui bayi atau balita, ngemil di malam hari, mengobati kepala nyut-nyutan atau menghibur anak-anak agar tidak nongas-nangis. Tidak terpengaruh oleh situasi politik internasional, ekonomi global, atau urusan lintas benua yang serba sulit dipahami. Sedang yang terakhir itupun masih ada pihak yang bisa mengobok-obok. Artinya, dalam bisnis ritel ini perilaku pasar bukanlah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar. 

Kalau hanya sekedar bisa hidup, ya kasih barang dagangan lalu lepas di pasar, maka hiduplah bisnis kita. Tapi kalau ingin keuntungan lebih banyak, lebih cepat dan meningkat terus, ya pasarnya diurus dulu dengan baik. Agar pasar tidak mengatur keuntungan kita, tapi kitalah yang mengatur pasar agar memberi keuntungan yang kita maui.  

***   

Di rumah (ini sebenarnya rahasia keluarga, tapi biarlah saya bocorkan sedikit), saya pernah pethenthengan dengan istri. Gara-garanya sepele, hanya soal bikin sayur asem kegemaran saya. Istri saya ini (belakangan saya KKN dengan mengangkatnya menjadi Chief Financial Officer “Madurejo Swalayan”) selalu bertahan dengan visi tradisionalnya soal masak-memasak, kalau yang namanya sayur asem itu harus selalu ada godong so (daun melinjo), kacang tanah, kacang panjang, jipang (labu siam), asam dan bumbu-bumbu standar lainnya. Jadi kalau kemudian tidak punya daun melinjo, kacang panjang atau labu siam, ya tidak jadi bikin sayur asem. Rak yo asem tenan to kuwi……(sial benar jadinya). 

Saya sarankan agar diganti saja campurannya dengan cabe besar hijau, gori (nangka muda), jantung (bunga pisang), kluwih plus beton bijihnya, atau rebung (pucuk bambu), tetap saja ogah-ogahan. Sekali waktu saya minta dicoba memodifikasi bumbunya, cabe dan bawangnya dibanyakin misalnya. Ya, tetap saja keukeuh malas melakukannya. Saya yakinkan bahwa mencoba yang seperti itu sama sekali tidak mengandung resiko yang fatal. Resiko paling jelek yang harus ditanggung adalah rasanya jadi tidak enak dan diprotes anak-anak lalu tidak ada yang mau makan. Kalau pun itu yang terjadi, ya cukup sekali itu saja dan lain kali tidak usah diulangi. Mudah saja. Ini kan uji coba yang resikonya sangat minimal tapi potensi keberhasilannya maksimal.  

Tapi begitulah. Tidak pernah terpikir untuk mencoba yang berbeda, takut mengambil resiko. Semua sudah terprogram secara tradisi dalam kemasan kotak yang run-temurrun. Akibatnya jadi tidak pernah tahu bahwa di luar kotak masih ada menu yang jauh lebih huuuenak dan luuuezat. 

Moral kisahnya adalah : Jangan biarkan diri kita terkungkung dalam kotak, dalam stereotip perilaku business as usual. Masih banyak ruang gerak untuk jungkir-balik atau pecicilan di luar kotak. Cari dan temukan terobosan yang resikonya minimal tapi potensi hasilnya maksimal.  

Terus terang saja, saya sendiri belum tahu apakah saya bisa melakukannya. Saya juga tidak tahu apakah kami akan berhasil dengan hal-hal “aneh” semacam ini. Saya lebih tidak tahu lagi apakah ke-reseh-an saya kepada anggota tim di “Madurejo Swalayan” ini akan efektif dan efisien. Tapi saya tahu persis, bahwa hanya ada satu cara untuk menyongsong era penuh kompetisi ini dan bahwa perlu punya visi yang meloncat jauh ke depan, yaitu : “Go…! Go…! Out of the box……. !”. Ayo, kita keluar dari kotak!  

 

Madurejo, Sleman – 11 Pebruari 2006.

Yusuf Iskandar

(35) Untung Atau Buntung?

13 Desember 2007

Seperti biasanya, setiap kali tiba waktu gajian bagi pegawai “Madurejo Swalayan”, saya berusaha untuk menyempatkan memberikan presentasi tentang kinerja toko kepada segenap pegawai, disamping memberi refreshing tentang manajemen pelayanan. Saya menganggap mereka perlu tahu seperti apa hasil yang dicapai oleh kerja mereka setiap harinya. Tidak harus sampai membicarakan detil angka-angka nominalnya, tapi paling tidak mereka memperoleh gambaran umum pencapaian dan perkembangan usaha toko selama ini.

Barangkali kebiasaan saya ini tergolong tidak lazim. Mana ada pelayan toko kok diberitahu rahasia dapur juragannya. Dimana-mana juga umumnya hanya mereka yang berada di “level atas” saja yang tahu tentang hal-hal semacam ini. Tapi ya…., begitulah. Bagaimanapun juga, secara manajerial mereka adalah juga pemilik bisnis. Saya kesampingkan hubungan pelayan-juragan dalam konsep visi manajemen tradisional. Saya bawa mereka, yang adalah juga stakeholders, ke dalam konsep visi manajemen modern.   

(Yen tak pikir-pikir……, jangan-jangan bisnis utama “Madurejo Swalayan” ini sebenarnya bukan bisnis ritel melainkan bisnis membangun visi. And if by chance ……,  yen ndilalah, praktek bisnis visi ini ternyata menyublim menjadi bisnis ritel berjudul “Madurejo Swalayan”, maka manage-lah bersama-sama agar tujuan bisnis utamanya tercapai. Selama masih bernama bisnis, tentunya tetap saja profit-oriented).   

***   

Ketika saya baru menyelesaikan draft material presentasi untuk para pelayan toko atau pramuniaga, lalu dipamerkan kepada CFO saya, bahwa puji Tuhan kinerja toko di bulan keempat ini cukup bagus. Mendadak-sontak, CFO saya mbengok (teriak atau bicara dengan volume tinggi) : “Apanya yang bagus! Wong, uangnya habis untuk mbayar tagihan dan kulakan, malah hampir tidak cukup untuk mbayari pegawai!”. (Inilah untungnya kalau CFO-nya bekas pacar. Dibengoki yo nyengenges saja, tetap kedengaran mesra di telinga).  

Rupanya memang masih ada “internal constraint” yang perlu dibenahi. Bahasa ilmu management-nya, komunikasi bisnis antara sesama tim manajemen toko ternyata belum sama dan sebangun. Sejauh apapun visi ke depan dilemparkan oleh CEO-nya, tapi rupanya sang CFO masih nggondheli (menahan di belakang) dengan visi tradisionalnya. Tidak perlu pethenthengan atau beradu tarik urat leher. Bagaimanapun juga harus disadari bahwa satu-satunya pengalaman kerja sang CFO ini adalah bertahun-tahun “kerja bakti” menjadi CFO rumah tangga dengan spesialisasi bidang ngecakke duwit blonjo (mengelola uang belanja).  

Sebagai CFO rumah tangga, target kerjanya pun tidak baen-baen (sembarangan). Berapapun uang belanjanya (raw material), harus bisa mencapai target mencukupi dan memenuhi kebutuhan segenap keluarga (end product), sampai ke hal-hal yang kelihatannya tidak mungkin pun tetap harus cukup… kup…kup… kup…dan dicukup-cukupkan. Sungguh expertise yang luar biasa. Belum lagi selama bertahun-tahun jam kerjanya tak terbatas. Tugas dinas “overtime at anytime and anywhere” pun tidak pernah complaint. Padahal tidak pernah ikut pelatihan, tidak pernah ada yang memberi piagam penghargaan, tidak ada yang membuatkan surat referensi “to whom it may concerned” (dan jangan sampai terjadi, biso ciloko tenan aku…….), apalagi bintang maha-ibu kesetiaan.

Maka, untuk kesekian kalinya kudu telaten membeberkan dan menjelaskan sudut pandang evaluasi bisnis terhadap lembar business plan, laporan laba-rugi dan laporan produksi actual vs budget/target. (Wisss….., pokoknya sambil bernostalgia ingat sewaktu masih petentang-petenteng jadi orang gajian. Bedanya, kalau dulu pakai bahasa Inggris njawani, sekarang pakai bahasa Jawa keminggris). Dan, merubah sudut pandang bisnis seperti ini sungguh tidak mudah. Pokoknya kudu nrimo di-eyel terus…….., harus menerima kalau dibantah terus. 

Di mata CFO saya itu, simpel saja, wong cetho welo-welo (jelas-jelas) uangnya habis kok dibilang bagus. Beliaunya lupa, bahwa uang habis tapi stok barang bertambah yang berarti modal kerja telah ditambahkan dan terus diputar. Tindakan ini sebenarnya kalau dilaporkan ke KPK bisa berarti tindak pidana korupsi karena telah menggunakan dana perusahaan secara menyalahi prosedur. Lha iya to, wong hasil keuntungan yang seharusnya dikumpulkan agar setelah tiga setengah tahun bisa digunakan untuk ekspansi. Ee…, malah diputar tidak sesuai rencana usaha alias mendahului melakukan ekspansi usaha.   

Tapi ya itulah seninya bakulan ritel. Kasus ekspansi usaha secara otomatis seperti ini akan terus terjadi dan anehnya memang sebaiknya terjadi. Maka nominal hasil keuntungan yang seharusnya dikumpulkan di bawah bantal bulan demi bulan, dapat secepatnya terus diputar, pada setiap kesempatan. Tanpa disadari dan dikomando, sesungguhnya inilah salah satu terobosan cemerlang menggarap peluang melakukan skenario “sangat optimistik”. Karena perputaran bisnis dilakukan lebih awal dan lebih cepat (tidak perlu menunggu selama tiga setengah tahun), sehingga berpeluang memberikan Net Present Value lebih tinggi.    

Semakin besar nilai uang yang dihabiskan pada akhir bulan dan semakin habis uang cash yang dikantongi, dapat berarti gerak perputaran modalnya sudah pakai gigi 4. Berarti semakin besar pula laba yang muncul dalam income statement dan akan berarti pula positive cashflow lebih cepat dari yang diproyeksikan. Hanya saja, seperti apapun menggebu-gebunya semangat memutar uang dalam bisnis ritel ini, tetap perlu kendali agar selalu terukur perubahan dan pergerakannya (hal yang mustahil dilakukan dalam sistem bisnis tradisional).     

***   

Jadi, mbengok-nya sang CFO ini sebenarnya bukan salah, melainkan mbok ya sebaiknya jangan terlalu keras, karena ada penjelasannya. Bahwa uang cash di dompetnya memang habis, tapi usahanya berstatus sedang untung, bukan sedang merugi. Yang harus diwaspadai adalah kalau uang tunai habis untuk kulakan, tapi stok barang di toko seperti tidak bertambah, pergerakannya lambat, pengeluaran membengkak, tingkat penjualannya membentuk garis datar-datar saja dan aura tokonya kurang menggairahkan….. Maka lampu kuning harus dinyalakan kedap-kedip alias segera digelar sidang kabinet paripurna. Usaha ini sedang bergerak menuju untung atau rugi? “Whats wrong?”. Masing-masing pasti ada penjelasannya.  

Kalau seandainya “Madurejo Swalayan” ini tidak punya lembar business plan dan data-data untuk analisa ekonomi lainnya, ya setiap bulan cuma bengok-bengokan saja…… Sebab jadi sulit untuk memvisualisasikan kinerjanya, sedang untung atau buntung?. Kecuali cuma mbengok kalau uangnya habis dan kalau dompetnya penuh dieeeeeemmm aja……  

Madurejo, Sleman – 9 Pebruari 2006.

Yusuf Iskandar

(34) Merencana Tata Ruang, “Gimana, Gitu Loh…….”

13 Desember 2007

Membuat rencana tata ruang toko adalah pekerjaan gampang-gampang susah. Gampang karena tinggal mengikuti selera hati dimana rak-rak atau grondola, lemari etalase, meja kasir dan kawan-kawannya akan diletakkan. Menjadi susah jika peletakan itu kudu tampak rapi dan menarik, tapi mangkus (effisien) dari segi biaya yang mesti dikeluarkan untuk membelinya. Maka pekerjaan perencanaan tata letak (layout) segala macam perlengkapan yang ada dalam toko adalah pekerjaan yang memerlukan imajinasi sekaligus keseriusan jika tujuannya adalah untuk mencari berapa biaya minimal yang diperlukan agar diperoleh hasil yang maksimal. 

Huh…! Susah amat sih?….. Ya, karena “Madurejo Swalayan” memiliki luas toko yang terbatas, biaya modal awal yang terbatas, tapi ingin menyediakan tempat memajang barang dagangan sebuanyak-buanyaknya, seluas-luasnya dan seatraktif mungkin. Saya pernah membaca di sebuah buku, katanya ada pepatah di dunia peritelan mengatakan bahwa the real battle is in store (pertarungan yang sesungguhnya ada di dalam toko). Maka kalau saya ingin memenangkan pertarungan ini, saya tidak boleh menganggap remeh soal perencanaan tata ruang di dalam toko.

Perencanaan tata ruang toko harus sudah ada sebelum pembangunan toko rampung dan toko siap digunakan. Karena layout perlengkapan toko akan berpengaruh terhadap layout tata lampunya, kipas anginnya, pemasangan kabel untuk sistem komputernya, dsb. Pemilik “Madurejo Swalayan” memilih untuk mengerjakannya sendiri pekerjaan perencanaan ini. Hanya soal kepuasan batin, mengingat dari awal memang diniati untuk ditangani dan di-manage sendiri, walaupun usul, saran, masukan, dsb. bisa datang dari siapa saja.

Pengaturan tata ruang toko adalah hal remeh-temeh yang tidak perlu dipusingkan sebenarnya, kalau itu menyangkut rencana pembukaan toko tradisional. Pokoknya asal ada toko, ada lemari etalase dan rak-raknya, lalu tinggal atur-atur sesukanya. Akan tetapi kalau hal itu menyangkut rencana pembukaan toko berkonsep modern, maka saya merasa perlu meluangkan waktu khusus untuk merencanakannya.

***

Ukuran luas toko “Madurejo Swalayan” sekitar 90 m2, dengan lebar depan 7,5 m dan panjang ke belakang 12 m. Dengan ukuran itu, maka cukup untuk dipasang rak setinggi 2,1 m di kedua dinding memanjangnya dan tiga set rak setinggi 1,5 m di bagian tengahnya. Di sela-sela rak masih tersisa lorong-lorong selebar sekitar 85 cm, masih cukup enak bagi pembeli untuk memilih-milih barang dan berjalan bersimpangan. Jarak antar rak (lebar lorong) idealnya antara 80 – 100 cm. Jika suangat terpaksa, lebar 70 cm masih okelah, tapi kalau kurang dari itu akan menyiksa pembeli, terkadang sambil misuh-misuh……. (ngedumel jelek).

Letak rak-raknya dijejer memanjang ke belakang atau sejajar sisi memanjang toko. Kelebihan posisi seperti ini antara lain bisa memanipulasi pandangan orang karena akan memberi kesan luas dan panjang. Selain itu, lebih enak dipandang dari arah depan, lebih memudahkan dalam hal pengawasan dan pelayanan dan dari posisi kasir yang biasanya berada di ujung depan akan terlihat pandangan lepas ke arah belakang atau ke arah ujung memanjangnya. Barulah ruangan sisanya diisi dengan lemari etalase. Tapi bisa juga sebaliknya, tentukan dulu dimana akan diletakkan lemari etalase, setelah itu baru dirancang layout rak-rakannya. 

Setelah yakin dengan posisi rak-raknya, barulah ditentukan letak lampu-lampunya. Lampu penerangan dipasang tepat di atas setiap lorong antar rak. Lampu yang dipilih jenis lampu neon panjang karena cahayanya lebih berpendar terang. Posisi neon searah dengan posisi rak. Karena di “Madurejo Swalayan” ada empat lorong antar rak, maka ya dipasang empat baris lampu neon. Total jendral untuk toko seluas 90 m2 dipasang 16 lampu neon yang tiap-tiap lampunya berukuran panjang 1,25 m dan berkekuatan 40 watt.  

Terang amat? Ya…, namanya toko modern di pinggiran kota dan inginnya tampil beda. Meskipun demikian, kalau rak-rak sudah terisi penuh dengan barang dagangan, maka sebenarnya penerangan seperti itu menjadi tidak berlebihan. Jangan biarkan pembeli thunak-thunuk melototin produk yang dipajang gara-gara penerangannya minim. Peletakan lampu yang tepat di atas lorong akan membuat pembeli nyaman karena cahaya lampu akan mengarah bebas ke kedua sisi rak di sepanjang lorong. Jika lampu tidak tepat di tengah lorong, maka ada kemungkinan pandangan pembeli akan terganggu karena muncul bayangan kepala pembeli (badannya tidak ikut) di salah satu sisi raknya. Ya enggak apa-apa sih…., wong cuma bayangan saja. Tapi, kesannya kok seperti kurang “professional”, gitu loh…….. 

Dan (ini yang paling penting), kalau malam tampak terang-benderang, lebih moncer (kalau bisa menjadi yang paling terang) dibanding kawasan di sekitarnya. Apa untungnya? Kalau ada orang bingung di malam hari, pasti akan menuju ke tempat yang paling terang untuk menjernihkan pikirannya (kecuali kalau bingung karena kebelet pipis di bawah pohon…..). Eee… siapa tahu buat pantes-pantes, orang bingung itu lalu membeli es krim atau permen karet. Kalau ada orang mulutnya kecut di malam hari karena kehabisan rokok atau dikerubutin nyamuk karena persediaan obat nyamuknya habis atau kepalanya mau pecah tidak bisa tidur, sedang di sekitar itu ada sepuluh toko yang persis sama, maka pasti orang itu akan menuju ke toko yang paling terang. 

Karena itu, jangan terlalu pelit untuk berinvestasi dalam lampu dan tenaga listrik. Di sana ada potensi keuntungan yang intangible (tidak kasat mata, juga tidak dapat diukur), melainkan saya percaya adanya. Satu-satunya cara untuk membuktikannya adalah…… nongkrong di depan toko sampai toko tutup di malam hari!   

*** 

Setelah selesai dengan perencanaan tata lampu, kemudian pemasangan kipas anginnya. Ini karena konsep tokonya adalah toko terbuka sehingga tidak memerlukan pemasangan AC. Di “Madurejo Swalayan” ada tiga buah kipas angin berukuran agak besar yang dipasang tepat di garis tengah toko, letaknya juga berbaris ke belakang sejajar lampu-lampunya. Lalu, empat buah lampu darurat (emergency lamp) di pasang di kedua dinding memanjangnya. Penempatan ini tentu terkait dengan dimana harus dipasang colokan listrik (stop contact).   

Meja kasir juga perlu sejak awal direncanakan penempatannya, jika tidak nanti kabel-kabel listrik dan jaringan komputer akan pating tlalang (lintang-pukang) menjadi tidak enak dilihat. Sekali lagi, ya enggak apa-apa sih…., wong cuma kabel saja. Tapi, kesannya kok seperti kurang “professional”, gitu loh…….. 

Belum lagi masih harus mempersiapkan dimana genset sebagai sumber tenaga listrik cadangan mesti disimpan dan diatur perkabelannya. Keberadaan genset menjadi kritikal karena kalau sudah berurusan dengan sistem komputer, maka pasokan tenaga listrik sama sekali tidak boleh terganggu. Daripada mesti memasang tulisan : “Maaf, kami tidak berjualan karena listrik PLN lagi ngaco….”. Meskipun bisa juga ditempuh cara darurat, yaitu melayani pembeli secara manual tradisional. Tapi, kesannya kok seperti kurang “professional”, gitu loh…….. 

Pendek cerita, kalau semua urusan tata ruang, tata lampu, perkabelan dan sebagainya itu tidak dipersiapkan sejak bangunan toko masih dalam tahap penyelesaian, melainkan ketika toko sudah telanjur jadi, maka berani taruhan, kenampakan toko akan tambal-sulam enggak karu-karuan. Kalau tidak, maka akan boros energi, waktu dan biaya karena mesti dua kali kerja bongkar pasang ini dan itu untuk merapikannya. 

Lagi-lagi, ini bukan soal benar atau salah, bukan soal sebaiknya atau tidak sebaiknya, melainkan hanya soal selera, kepuasan dan …… visi. Kalaupun tidak ingin rapi-rapi amat, atau sempurna-sempurna amat, ya enggak apa-apa. Hanya sialnya, pemilik “Madurejo Swalayan” ini merasa……. kok sepertinya gimana, gitu loh…….   

Madurejo, Sleman – 26 Januari 2006.

Yusuf Iskandar

(33) Hanya Soal Visi

13 Desember 2007

“Kok repot amat, sih…….?”. Barangkali itulah pertanyaan menggelitik yang mungkin muncul dalam hati, melihat saya mengelola “Madurejo Swalayan”. Bukankah tinggal mbangun toko, setelah itu kulakan lalu dijual, dan begitu seterusnya?. Kenapa mesti repot-repot memikirkan tentang impuls buying, one stop shopping, gethok tular, ikut kegiatan kampung, mengelus-elus barang dagangan, memikirkan pelayanan, membuat logo, bahkan sampai ke rumusan Pareto dan analisis SWOT segala, masih ditambah lagi wawasan lain lagi tentang binatang Six Sigma?  

Jangankan Anda yang hanya membaca dongeng dari Madurejo, pegawai-pegawai saya saja memandang aneh (meskipun tidak berani mengatakannya) terhadap cara saya mengelola “Madurejo Swalayan”. Saya memperlakukan pegawai saya sebagai aset. Bukan sebagai likuiditas, yang cuma perlu berangkat pagi atau pulang malam, dan setiap bulan terima gaji. Melainkan mereka saya sertakan dalam rembugan-rembugan (diskusi) tentang bagaimana seharusnya toko dikelola, tentang rencana-rencana ke depan. Mereka juga selalu saya update tentang seperti apa pencapaian dan kinerja toko setiap bulannya. Saya yakinkan bahwa mereka sesungguhnya juga “pemilik” toko dalam pengertian manajerial. Tidak perduli mereka pelayan, kasir, pengawas atau manager. 

Di penggal separuh jalan dari Prambanan menuju Piyungan, Yogayakarta, sepanjang kurang lebih delapan kilometer, “Madurejo Swalayan” adalah satu-satunya toko swalayan berkonsep modern yang saat ini berdiri di tengah-tengahnya. Dari sisi persaingan bisnis untuk saat ini relatif belum ada ancaman yang nyata. Jalur jalan di sisi timur Yogya itu memang relatif cukup padat di siang hari karena menjadi jalan tembus dari arah Solo menuju kota Wonosari. Akan tetapi tingkat kepadatan penduduknya masih rendah, belum sepadat belahan Yogya utara, barat atau selatan. Belum menjadi pilihan kawasan pemukiman. Keberadaan kompleks perumahan masih bisa dihitung dengan jari. Oleh karena itu target pasar untuk toko swalayan modern saat ini masih terbatas. Kalau memang demikian, kenapa mesti repot-repot membangun toko swalayan berkonsep modern?   

Inilah jawabannya : Sejak saya merencanakan “Madurejo Swalayan” akan buka pertama kali sebelum bulan puasa tiba (akhirnya baru benar-benar terlaksana tanggal 2 Oktober 2005), saya berhitung bahwa tahun 2006 akan datang tidak lama lagi. Lalu saya membayangkan, bagaimana seandainya tiba-tiba saya bangun tidur dan ternyata hari itu bukan tahun 2006, melainkan saya sudah berada di tahun 2011 atau 2016? Ya, lima atau sepuluh tahun lagi…..!   

Apa yang akan terjadi lima atau sepuluh tahun ke depan? Saya tidak tahu. Tapi barangkali saya harus memperkenalkan bahwa di sebelah kiri saya “Makromini Cash & Carry”, di sebelah kanan saya “Indoapril” dan di depan saya “Betamart”. Kalau toko-toko swalayan modern baru yang saya sebut itu dimiliki oleh investor sekelas atau di bawah kelas “Madurejo Swalayan”, barangkali saya tidak perlu merasa khawatir. Tapi bagaimana jika ternyata mereka adalah pemodal kuat?   

Bagi investor bermodal kuat, tentu tidak sulit untuk melengkapi tokonya dengan prasarana yang lebih modern dan sophisticated, dan menggaji professional bisnis yang jauh lebih pakar di bidang marketing dan management ritel. Kalau situasi itu terjadi lima atau sepuluh tahun lagi, dan “Madurejo Swalayan” hanyalah toko swalayan yang biasa-biasa saja, maka “Madurejo Swalayan” akan megap-megap seperti mau tenggelam. Semakin ngos-ngosan sejak membuka toko di pagi hari hingga menutup toko di malam hari.

Mengejar ketertinggalan dengan merenovasi dan mengubah tokonya menjadi toko modern? Wow……, terlambat sudah….! Waktu yang dibutuhkan untuk mengkonversi konsep toko, untuk masa transisi, untuk merubah mental pegawainya, akan terbuang percuma dibandingkan jika dipergunakan untuk membuka toko baru di lokasi lain. Belum lagi toko-toko baru milik pemodal kuat itu sudah semakin memantapkan “bargaining position”-nya di depan masyarakat desa Madurejo yang sudah semakin maju.   

Ilustrasi itu kedengarannya seperti kelewat berlebihan. Bisa jadi demikian. Namun saya melihat fakta berbeda : Kawasan pinggiran Yogya yang beberapa tahun yang lalu masih sepi dan jauh dari hiruk-pikik bisnis, ternyata sekarang sudah semakin padat. Coba lihat kawasan Yogya utara yang dulunya gung liwang-liwung tempat jin buang anak, sekarang sudah gegap gempita dengan aktifitas bisnis yang tak pernah terbayangkan sebelumnya (mungkin malah anak-anak jin yang dibuang dulu juga ikut-ikutan berbisnis…). Maka bukan hil yang mustahal, akan tiba saatnya desa Madurejo dan sekitarannya menjadi kawasan padat berikutnya yang barangkali juga menjadi incaran para investor kuat. 

*** 

Lima tahun kedepan, bahkan sepuluh tahun ke depan, harusnya sudah dikelola sejak dari sekarang. Itu bukan waktu yang panjang. Jangan-jangan nanti kita terkejut tahu-tahu bangun tidur sudah tanggal 1 Januari 2011 atau malah 2016.  

Itulah latar belakangnya, kenapa mesti repot-repot melakukan komputerisasi sistem bisnis, thethek-bengek peritelan, rumusan Pareto, analisis SWOT, dan masih banyak hal-hal lain yang dimata pegawai “Madurejo Swalayan” saat ini dipandang aneh. “Small business as unusual…..”. Sedangkan semua kerepotan itu juga belum tentu berhasil seperti yang diimpikan. Namun aksi usaha harus tetap dilakukan semaksimal mungkin agar reaksi hasilnya juga maksimal. Namanya juga usaha…..     

Apabila semua usaha itu berjalan lancar, lalu ilustrasi saya di atas benar-benar terjadi, maka “Madurejo Swalayan” sudah siap bertempur di kancah persaingan bisnis ritel. Setidak-tidaknya sudah siap menerima ancaman (threats) untuk menggenjot kekuatan (strengths). Modal pertahanan sudah punya, yaitu umur jelas lebih tua, pengalaman lebih banyak, orientasi medan lebih baik, sistem manajemen lebih siap meskipun skalanya berbeda, sudah menang selangkah jika harus melakukan adaptasi terhadap tuntutan modernitas, dan yang paling penting menjadi “top of the mind” (yang pertama ada di pikiran) bagi masyarakat sekitar ketika hendak berbelanja. 

Barangkali akan berbeda ceritanya kalau “Madurejo Swalayan” dibangun sebagai kegiatan pengisi waktu, daripada nganggur di rumah, asal ada usaha kecil-kecilan……. Akan tetapi, karena niat ingsun pemilik dan pengelolanya sedari mula memang ingin menjadikan “Madurejo Swalayan” sebagai sebuah korporasi yang syukur-syukur bisa menjadi sumber penghasilan pasif bagi pemiliknya, maka segala kemungkinan bahkan yang terburuk harus diantisipasi. 

Jika kemudian ada yang berkata : “Mau buka toko saja, kok repot amat, sih…….?”. Itu karena memang pemiliknya termasuk penganut pepatah : Berangkot-angkot ke hulu berbecak-becak ke tepian, berepot-repot dahulu berenak-enak kemudian. Tinggal bagaimana menggenjot angkot dan becaknya agar setoran lancar……. Istilah gaulnya, ini memang hanya soal visi ke depan…… 

Madurejo, Sleman – 15 Januari 2006.
Yusuf Iskandar

(32) Menggarap “Opportunity”

13 Desember 2007

Jaman kini, analisis SWOT (Strengths – Weaknesses – Opportunities – Threats) seperti sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perencanaan strategis perusahaan-perusahaan besar oleh para praktisi bisnis professional. Konsep dasar analisis SWOT, menurut buku yang pernah saya baca, merujuk pada pemikiran seorang ahli strategi perang bernama Sun Tzu. Salah satu inti pemikirannya kira-kira berbunyi demikian : Apabila kita dapat mengenal kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan, maka berarti kita sudah memenangkan pertempuran.

Pendekatan SWOT layaknya membuat perencanaan strategi di medan pertempuran itulah yang kini banyak digunakan sebagai pendekatan dalam membuat perencanaan bisnis, termasuk bisnis ritel, termasuk toko swalayan, termasuk “Madurejo Swalayan” di desa Madurejo. 

Cukuplah kalau bisa melakukan analisis SWOT sederhana saja, di antara sekian banyak model kuantitatif perumusan strategi bisnis yang sebenarnya dapat dipilih. Memilih model analisis SWOT sederhana, sekedar untuk menyadari dan memahami kelemahannya (weaknesses) lalu menggali dan mendayagunakan peluang yang dapat dibangun (opportunities); meminimalkan ancaman yang mungkin menghambat perkembangan usaha (threats) untuk kemudian memaksimalkan kekuatan yang dimilikinya (strengths).  

***

Dalam jangka pendek, hal yang dianggap paling perlu dipikirkan dari pendekatan SWOT “Madurejo Swalayan” adalah kelemahannya dalam hal pemilihan lokasi (sebenarnya ini bukan pilihan, wong pada waktu membeli lahan ya hanya tanah itu yang dijual dengan harga terjangkau). Saya sebut dalam jangka pendek, karena dalam jangka panjang unsur kelemahan ini berpotensi untuk berubah menjadi unsur kekuatan.

Seperti saya singgung sebelumnya, lokasi “Madurejo Swalayan” masih dikelilingi areal persawahan, berjarak agak jauh dari kawasan perkampungan, tidak persis berada di jalur berangkat dan pulang kerja para komuter masyarakat desa Madurejo dan sekitarnya. Opportunities dan Strengths seperti apakah yang digarap oleh “Madurejo Swalayan” pada tahap awal ini, dalam upayanya untuk menggali peluang-peluang (opportunities) dan mendayagunakan kekuatan-kekuatan (strengths) yang dimiliki yang sekiranya akan dapat menutupi kelemahannya?.                                                                         

Pertama : Menggarap tampilan dan prasarana toko dan menjadikannya sebagai sebuah “singkapan”. Awalnya ini adalah peluang, tapi kini sudah menjadi sebuah kekuatan. Berbekal semangat berani tampil beda, maka desain arsitektur luar dibuat agak tidak umum untuk ukuran desa Madurejo, dengan memberi sentuhan desain minimalis dengan warna yang khas, tanpa kesan nge-jreng.

Tampilan depan sengaja dirancang untuk memberi kesan tinggi dan gagah, dibandingkan umumnya toko di sepanjang Jalan Prambanan – Piyungan. Halaman depan toko disisakan agak luas sehingga memberi areal parkir yang lebih leluasa bagi pengunjung toko, termasuk menyediakan ruang bagi kendaraan lewat yang numpang atret atau berputar haluan (asal bukan untuk garasi gratis saja…).

Penerangan dan tata lampu toko dirancang agar effektif untuk penerangan dalam toko tapi juga tampak moncer kalau malam hari. Laron dan serangga sawah saja senang berkunjung ke toko, apalagi pejalan malam yang kehausan, kehabisan rokok atau kepalanya nyut-nyutan sebelum pergi tidur…. 

Konsep tata ruangnya bukan mengikuti konsep toko tertutup. Bukan karena mau menghemat agar tidak perlu memasang AC, melainkan menghindari kesan eksklusif yang bisa membuat masyarakat desa sekitarnya malah takut mau masuk toko. Dengan konsep terbuka, memberi kesan lebih bersahabat, seolah-olah berkata : “Monggo mampir…….”. 

Kedua : Memberi porsi lebih pada pelayanan yang efektif. Setelah orang lewat tertarik dengan kenampakan “singkapan” sehingga mau mampir masuk toko, maka segera dipasang perangkap yang bernama : Pelayanan, Pelayanan dan Pelayanan. Peluang ini harus ditangkap dan dikelola lebih efektif. Sasaran untuk membuat pengunjung yang sudah kadung terperangkap masuk toko menjadi merasa senang, dihargai dan nyaman, merupakan opportunity yang akan terus dikembangkan dan diinovasi. Bangunan keramahtamahan dan jurus komunikasi yang mempribadi mulai dikerahkan, sifatnya kondisional dan selektif menghindari kesan berlebihan dan mengada-ada. Para pelayan toko di “Madurejo Swalayan” semakin hari semakin belajar memainkan peran ini. 

Mempertimbangkan luasan toko yang terbatas, maka diterapkan strategi “one stop shopping“ secara selektif untuk jenis-jenis barang kebutuhan hajat hidup tertentu saja, setidaknya memberi pilihan kepada pengunjung. Manajemen toko agak luwes dalam menerapkan “return policy“ secara terbatas, dalam pengertian barang yang di-return memang belum digunakan atau tidak rusak oleh kesalahan pembeli. Setidak-tidaknya, manajemen “Madurejo Swalayan” tidak menulis besar-besar : “Maaf, barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar/dikembalikan“.  

Ketiga : Memanfaatkan kultur guyub-rukun dan paseduluran ala kampung. Iklan di koran, radio, apalagi TV, nampak terlalu luas cakupannya dan tidak efektif dari segi biaya. Spanduk dan selebaran, bisa jadi lebih cocok. Namun pengelola “Madurejo Swalayan” menempuh cara yang lebih tradisional, karena di sana ada peluang sekaligus kekuatan. Peluang yang tidak akan hilang bersamaan dengan dibuangnya selebaran untuk bungkus blanggreng (ketela goreng) atau digunakannya bekas spanduk untuk penambal dinding jumbleng (sumur atau peturasan di luar rumah) atau warung tenda.  

Forum seperti selamatan, rapat kampung, kegiatan masjid, silaturrahmi, adalah interaksi sosial yang membuka peluang untuk publisitas murah tapi mengena. Pendekatan kekeluargaan atau paseduluran adalah peluang yang memang sudah ada dalam kultur masyarakat di pedesaan. Peluang ini sangat mungkin untuk digarap menjadi kekuatan. Kesempatan untuk memperkenalkan diri selalu terbuka di setiap kesempatan berinteraksi dengan masyarakat tanpa memberi kesan sedang berpromosi.  

Membangun rantai gethok tular (word of mouth), cerita dari mulut ke mulut, benar-benar menjadi senjata utama. Jika sistem ini bisa diupayakan berjalan, maka peluang-peluang yang telah digarap itu akan berubah menjadi kekuatan yang luar biasa.  

*** 

Kelemahan (weakness) memang terkadang susah dieliminasi, tapi pasti bisa dimanipulasi. Dan masih banyak peluang (opportunity) lain yang dapat digali untuk memanipulasi kelemahan yang ada, juga untuk menciptakan kekuatan (strength) baru. Atau, menurut istilah Matriks SWOT, pasti ada Strategi WO (Weaknesses – Opportunities) ataupun SO (Strengths – Opportunities) yang dapat disiasati. 

Untuk kesekian kalinya, kalau saya ditanya apakah akan berhasil? Saya belum tahu, masih terlalu singkat waktunya untuk melakukan evaluasi. Hanya karena saya berprinsip bahwa sesuatu harus dilakukan, maka saya lakukan saja, karena dasar pemikirannya masuk akal.

Sejujurnya kukatakan…… Saya terkadang tertawa sendiri, membayangkan saya sedang ditertawakan orang .….., ngurus warung kecil di desa saja kok neko-neko…….. Tapi seperti pernah saya katakan sebelumnya bahwa saya lebih suka berdiri di emperan toko, tolah-toleh kesana-kemari, lalu mengeker (meneropong) jauh General Electric, Motorola, Kodak, Sony dan kawan-kawannya yang sukses menerapkan cara “Six Sigma”, lebih dari sekedar menggarap “opportunity”. Organisasi (toko) akan memperoleh hasil jauh lebih cepat jika bersedia mengakui kelemahan-kelemahannya, belajar dari kelemahan tersebut, dan mulai menentukan prioritas untuk mengkoreksinya. Jujurlah dengan kekuatan dan kelemahan bisnis kita. Itulah landasan melangkah menuju “the Six Sigma Way”.

Binatang macam apalagi ini…….? Biarlah saya khayalkan dulu jenis binatang itu sambil tidur, sambil bermimpi…., yang penting sekarang saya tahu dulu bahwa binatang itu ada.

Madurejo, Sleman – 12 Januari 2006.
Yusuf Iskandar

(31) Ketika Seorang Geolog Menemukan Lokasi Singkapan

13 Desember 2007

Tahun 1936, seorang geolog Belanda bernama Jean-Jacques Dozy melakukan piknik petualangan ke tanah Papua bersama teman-temannya. Sampailah Dozy dan teman-temannya di suatu tempat yang sangat tinggi, terjal dan dingin, dimana dijumpai adanya singkapan batuan yang ditengarai mengandung mineral berharga. Dari penemuan lokasi singkapan itu kemudian mengantarkannya pada ditemukannya “Ertsberg” atau Gunung Bijih, sebuah cadangan mineral yang terletak di kaki pegunungan bersalju. Laporan Dozy ini dimuat dalam majalah geologi di Leiden, Belanda pada tahun 1939.

Laporan itu mengilhami seorang manajer eksplorasi Freeport Minerals Company, Forbes Wilson, bersama Del Flint pada tahun 1960 melakukan ekspedisi ke Papua untuk mempelajari lebih jauh tentang hasil temuan Dozy. Forbes pun terpesona dan meyakini bahwa cadangan mineral Ertsberg akan menjadi cadangan tembaga terbesar yang pernah ditemukan pada saat itu.

Singkat cerita, Freeport Minerals Company yang kini bernama PT Freeport Indonesia, pada bulan April 1967 menerima Kontrak Karya pertama yang ditandatangani oleh Pemerintah Indonesia. Maka pada bulan Desember 1967, Freeport memulai kegiatan eksplorasi untuk mendefinisikan lebih detil tentang potensi yang dikandung di balik singkapan yang telah diketemukan di Ertsberg. Konstruksi besar-besaran segera dimulai pada tahun 1970, dan ekspor produksi perdana konsentrat tembaga dilakukan pada akhir 1972. Tidak berhenti di situ, singkapan-singkapan baru pun diketemukan oleh para geolog di kompleks sekitar Ertsberg, termasuk hingga diketemukannya cadangan kelas dunia Grasberg pada tahun 1988. Maka kini PT Freeport Indonesia mengoperasikan salah satu proyek tambang tembaga dan emas terbesar di dunia.

Kisah di atas hanyalah sekedar ilustrasi, ketika seorang geolog bekerja mencari singkapan batuan yang kemudian menjadi awal bagi aktiftas industri yang bernilai jutaan dollar. Jangankan cuma tempatnya yang sulit, kalau perlu sampai ke atap duniapun mereka lincah mencari dan menemukan lokasi singkapan batuan (outcrops) yang mengandung mineral berharga, lalu diuthek-uthek (diselidiki lebih mendalam) untuk memastikan adanya potensi cadangan yang ekonomis untuk ditambang.

***

Beberapa waktu yang lalu saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman di sela jeda acara seminar. (Meski sudah repot ngurusi warung, tapi masih sempat hadir di acara seminar pertambangan, mbayar lagi….. Sekilas tidak ada hubungannya. Saya akan ditertawakan orang kalau saya katakan bahwa saya sedang menggali opportunity. Kepada seorang dosen Tambang saya katakan, sesial-sialnya, “Madurejo Swalayan” masih bisa berbisnis tambang plastik atau rafia…..). Seorang teman berkata kepada saya, katanya dia punya sebidang tanah di tepi jalan dan kepingin memanfaatkannya untuk usaha toko. Tapi menurutnya lokasinya kurang strategis untuk membuka usaha toko swalayan. “Enaknya gimana, ya…?”, katanya.

Sebelum saya sempat berkomentar, teman saya ini malah sudah lebih dahulu mengemukakan pendapatnya, bahwa katanya dalam dunia bisnis ritel itu dikenal ada ungkapan mengatakan : “Yang penting dalam bisnis ritel adalah pertama, lokasi; kedua, lokasi; ketiga, lokasi”. Oleh karena itu dia agak gusar, punya lokasi untuk toko kok ya kurang strategis.

Sebagai “anak bawang” yang masih hijau dalam dunia persilatan bisnis ritel, saya kok kurang sreg dengan pendapat tentang “lokasi pangkat tiga” itu. Diarani keminter, yo ben…….. (dibilang sok tahu, ya biarin…..). Rasa-rasanya ungkapan itu bisa menyesatkan kalau ditelan begitu saja tanpa ada penjelasannya. Ungkapan itu hanya cocok bagi : Pertama, kondisi yang sangat ideal; Kedua, masih dalam tahapan niat membuka toko ritel; Ketiga, punya modal lebih. Artinya, kalau Anda bercita-cita membuka toko swalayan, Anda belum memiliki lokasi, dan Anda punya cukup uang untuk membeli lokasi, maka ikutilah paham “lokasi pangkat tiga” itu.

Lha, tapi kalau Anda sudah memiliki sebidang tanah meski lokasinya kurang strategis, lalu punya niat menggebu-gebu membuka toko swalayan, sedangkan modal yang tersedia pas-pasan; apa iya harus mencari pinjaman ke Koperasi untuk membeli tanah di lokasi baru? Atau, tanahnya dijual dulu baru kemudian membeli lokasi lain yang lebih strategis, yang pasti akan lebih mahal dari harga jual tanahnya? Atau, tidak jadi buka toko saja daripada nanti tidak laku? Sebaiknya bersabar dulu…… ., jangan sampai fanatisme terhadap paham “lokasi pangkat tiga” menghalangi niat untuk membuka usaha toko ritel.

Maka sebaiknya teman saya itu tidak bertanya kepada pakar manajemen ritel. Tapi bertanyalah kepada seorang geolog, atau setidak-tidaknya bertanya kepada seseorang yang pernah ikut kuliah Geologi Dasar, dan lulus. Maka jawabnya……, segera bangun dan bukalah toko swalayan di sana dan perlakukan toko itu layaknya sebuah lokasi dimana ditemukan singkapan geologi (outcrops).

Lokasi memang sangat penting. Tapi kalau demi lokasi yang ideal, lalu teman saya yang sudah punya sebidang tanah itu mesti beli tanah lagi di lokasi lain sementara modal yang dimilikinya pas-pasan, atau malahan batal buka toko, rasanya menjadi tidak masuk akal. Prinsip yang kemudian harus dijadikan pegangan adalah, kalau tidak mampu memperoleh kondisi ideal 100%, ambillah yang kurang ideal itu. Kemudian tangani kekurangannya. Enteng sekali kedengarannya….

Dari sudut pandang lokasi, “Madurejo Swalayan” sebenarnya kurang strategis. Wong letaknya dikelilingi areal persawahan meskipun di pinggir jalan raya, agak jauh dari kawasan perkampungan. Lha, tapi memang punya tanahnya di situ……. Jadi ya resikonya mesti kerja lebih keras, bagaimana menambal kekurangidealan lokasi dan menutupnya dengan opportunity atau peluang lain.

Secara “geologis”, bagaimana memperlakukan “Madurejo Swalayan” sebagai sebuah singkapan batuan (outcrops) yang mengandung mineral berharga, sehingga membangkitkan rasa penasaran para “geolog” untuk menggali lebih dalam untuk mengetahui potensi yang sebenarnya. Menurut bahasa kesusastraan, bagaimana menanam bunga nan cantik nan menawan agar kumbang berdatangan untuk menghisap madunya. Secara ilmu manajemen, melakukan analisis SWOT (Strengths – Weaknesses – Opportunities – Threats), untuk memahami kelemahannya (weaknesses), lalu menggali dan mendayagunakan peluang yang dimilikinya (opportunities).

Tapi ya nyuwun sewu….., mungkin ada yang akan berpikir sama seperti teman saya yang lain : “Ngurusi warung cilik ning ndeso wae kok koyo mikir negoro…….” (Mengurus warung kecil di desa saja kok seperti memikir negara). Teman saya itu tentu sedang guyon, dan barangkali guyonannya benar. Tapi yen tak pikir-pikir….., itu jauh lebih baik daripada ngurus negara seperti ngurus warung.

Di balik guyonan itu, gagasan yang tumbuh di pikiran saya sebenarnya konservatif saja : Kalau warung itu saya perlakukan sebagai sebuah warung kecil, maka dikapakno-kapak (biar diapa-apakan juga) ya benar-benar akan tetap menjadi sebuah warung kecil. Tapi kalau warung itu saya perlakukan sebagai sebuah korporasi besar, maka Insya Allah …. Gusti Kang Murbaing Dumadi bakal ngijabahi (Tuhan Yang Maha Kuasa akan merestuinya).

Untuk hal yang terakhir itu rasanya lebih masuk akal, dari sudut pandang sains juga. Kalau ada aksi usaha, pasti akan muncul reaksi hasil. Kalau usahanya positif, maka hasilnya juga positif, kecuali ada “intervensi” aksi negatif yang lebih besar. Perencanaan strategis melalui pendekatan SWOT sederhana, akan sangat membantu guna memprediksi dan melakukan langkah antisipatif jika hal yang terakhir itu terjadi.

Madurejo, Sleman – 6 Januari 2006
Yusuf Iskandar

(30) Pareto

13 Desember 2007

Bagi sebagian orang, kata “Pareto” mungkin bukan kata yang asing di telinga. Tapi bagi sebagian orang awam lainnya, saya ingin meyakinkan bahwa “Pareto” itu bukan nama burung, bukan nama sejenis gethuk dari Italia, bukan pula nama alat musik dari Spanyol, tapi pasti ini nama orang.

Kata Pareto berasal dari nama seorang ahli ekonomi berkebangsaan Italia, Vilfredo Pareto lengkapnya, lahir di Paris tahun 1848. Di usia senjanya, Pak Pareto gusar melihat kepincangan penyebaran tingkat kekayaan masyarakat di negerinya. Maka pada tahun 1906, diciptakanlah sebuah formula matematis untuk menggambarkan penyebaran kekayaan di negerinya yang tidak merata. Dikemukakan bahwa ternyata 20% orang Italia telah menguasai 80% kekayaan di negerinya.

Dalam perkembangannya, rumusan Pak Pareto ini ternyata diamini oleh beberapa ahli lainnya, sehingga kini rumusan itu dikenal dengan sebutan prinsip Pareto atau aturan 80/20. Aturan ini ternyata cocok untuk diterapkan hampir di setiap bidang kegiatan manusia. Secara mudahnya dapat dirumuskan bahwa 20% sesuatu akan berakibat dalam 80% sesuatu lainnya.

Contoh di bidang lain mengindikasikan bahwa 20% kesalahan atau penyimpangan akan menyebabkan 80% problem yang timbul. Para manajer proyek akan mengatakan bahwa 20% pekerjaan akan menyita 80% waktu dan sumber daya. Para pengusaha akan mengatakan bahwa 20% stok barang akan memakan 80% tempat penyimpanan, atau 80% stok barang berasal dari 20% pemasok. Para peritel mengatakan bahwa 20% pelanggan akan menghasilkan 80% penjualan.

Singkat cerita, CEO “Madurejo Swalayan” berasumsi bahwa 20% pelanggannya yang sekarang akan berkontribusi terhadap 80% omset toko, atau 20% calon pelanggan yang dapat diidentifikasi pada saat ini akan berpotensi menjadi pelanggan setia yang memberikan 80% keuntungan toko. Oleh karena itu, konsentrasi perhatian dan energi diberikan untuk menangani secara khusus pada porsi yang 20% itu (meskipun demikian, jangan lalu diterjemahkan : yang 80% lainnya dibiarin aja……).

Jika kita berhasil me-manage porsi yang 20% dengan baik, maka setidak-tidaknya sudah diperoleh hasil 80% dari sasaran yang diharapkan. Memang perlu disadari sepenuhnya bahwa kejadiannya tentu tidak akan persis seperti itu. Namun aturan 80/20 atau prinsip Pareto ini kiranya akan banyak membantu dalam mempersiapkan strategi pengembangan usaha. Usaha apa saja, tidak hanya dalam urusan bisnis retail. Paling tidak kita sudah melangkah dari “hard work” ke “smart work”. Meskipun kata John Reh, itu saja belum cukup, prinsip Pareto akan membawa kita ke “smart work on the right things”. Ya, memfokuskan 80% waktu dan tenaga pada 20% pekerjaan yang benar-benar penting dan strategis

***

Berangkat dari pemikiran itu, maka pengelola “Madurejo Swalayan” selalu mewanti-wanti kepada segenap pegawai agar mengamat-amati siapa-siapa saja pelanggan setia atau calon pelanggan setia yang harus diberikan perhatian khusus. Seperti saya ceritakan sebelumnya, karena kami menempuh cara tradisional “amati dan ingat”, maka ini memang bukan pekerjaan mudah, melainkan dipermudah, dengan pertimbangan salah-salah sedikit tidak apa-apa.

Targetnya adalah kalau bisa memegang ekornya para pelanggan setia itu dan berusaha merengkuh sebanyak 20% dari jumlah pelanggan yang sering berbelanja. Jumlah yang 20% ini harus benar-benar bisa di-manage dengan baik, di-eman (disayang-sayang), dan dipertahankan kesetiaannya.

Semua cerita di atas adalah teori yang memang sudah diyakini banyak kalangan. Bagaimana penerapannya? Lha, di sinilah susahnya……

Pertama, mengidentifikasi pelanggan atau calon pelanggan setia dengan cara “amati dan ingat” adalah pekerjaan yang tidak mudah. Tapi ya harus tetap dilakukan, wong itu satu-satunya cara yang paling praktis dan murah. Penerapan Kartu Anggota untuk saat ini masih dipandang belum pas bagi kultur masyarakat desa Madurejo dan sekitarnya. Seorang rekan menyarankan untuk mengambil foto pelanggan pada saat mereka berbelanja. Ini juga masih dianggap kurang pas (bisa-bisa para pelanggan malah tidak mau kembali berbelanja karena takut gambarnya masuk koran…..).

Kedua, kalau sudah berhasil melakukan identifikasi, lalu mau diapakan mereka? Yang bisa dilakukan sekarang ini adalah memberikan mereka keramahtamahan yang agak khusus tapi tidak mencolok (ini juga hal gaib yang susah didefinisikan). Ya, pokoknya begitulah, memberikan mereka suasana mempribadi. Membangun komunikasi yang nyemanak (berlaku layaknya seperti saudara). Memberitahu mereka tentang keunggulan produk-produk tertentu. Memberitahu mereka kalau misalnya mulai minggu depan harga akan naik. Bagi pekerja pelayan toko pemula yang belum berpengalaman melakukan interaksi pelayan-pembeli, ini jelas suatu pekerjaan yang rada membingungkan mereka. Tapi tidak jadi soal, kata pepatah : Bingung pangkal pandai……. (Kalau tidak kebablasan…!).   

Ketiga, ketika kemudian mereka lama tidak muncul berbelanja, apa yang bisa dilakukan? Ya, tidak ada, selain menunggu dengan sabar sampai mereka muncul kembali. Mau ditilpun, kemana? Mau disurati, nanti malah dikira undangan selametan…… Pendeknya, memang kudu sabar dan telaten me-manage pelanggan dan calon pelanggan di kampung Madurejo ini.

Ketika akhirnya semua kendala itu bisa dilalui dengan baik, belum tentu juga akan berhasil. Belum lagi kalau porsinya harus mencapai 20% dari total pelanggan. Tapi toh, upaya semacam itu tetap harus dilakukan. Paling tidak untuk menunjukkan bahwa sesuatu sudah dilakukan dengan langkah yang benar. Kalau kita sudah “do something” maka kita pun pantas untuk optimis dan berharap hasilnya, daripada “do nothing” babar blasss….   

***  

Sebagaian orang mengatakan bahwa prinsip Pareto atau aturan 80/20 ini bukan sekedar formula matematis. Melainkan sebuah seni, sebuah kreatifitas. Seni untuk mengkutak-katik porsi yang 20% sebab, dan mengkutak-katik porsi yang 80% hasil. Seni untuk mereka-reka kira-kira yang mana sih calon pelanggan setia dan kenapa demikian. Seni untuk mengakali hal-hal semacam apa sih yang sekiranya bisa menggenapkan jumlah pelanggan hingga 20%. Seni untuk menganalisis bagaimana mencapai hasil yang 80% bahkan lebih.

  

Oleh karena itu, jangan meremehkan profesi seorang peritel atau pekerja bakulan yang professional, karena sesungguhnya mereka itu juga seorang seniman……. 

Madurejo, Sleman – 3 Januari 2006.
Yusuf Iskandar

(29) Rayuan Pulau Kelapa

13 Desember 2007

Suatu sore istri saya ditelpon oleh seseorang yang memperkenalkan dirinya dari Makro Cash & Carry yang belum setahun ini buka dasar di Yogya. Seseorang di seberang sana memberitahukan bahwa di Makro sedang ada program promosi untuk beberapa produk, lalu disebutlah beberapa merek dan jenis produk yang sedang dipromosikan dijual dengan harga termurah. Ujung-ujungnya : “Kapan ibu mau belanja?”.

Sungguh baik hati benar Makro ini, mau memberitahu kalau sedang ada harga promosi. Bagi penilpun di seberang sana, itu adalah pemberitahuan tentang kesempatan kulakan murah yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Tapi bagi saya, kedengarannya seperti sebuah nyanyian rayuan pulau kelapa : “Ayo dong, belanjakan lagi uang Sampeyan di Makro…..”. 

Sejak menjadi member pelanggan Makro, istri saya (terkadang sebagai CFO, terkadang sebagai janitor di “Madurejo Swalayan”) memang jadi agak sering mampir ke sana. Awalnya memang hanya mampir, akhirnya ya belanja juga kalau ketemu komoditas yang harga belinya cocok. Tapi sejak kunjungan terakhirnya dua setengah minggu sebelumnya, istri saya belum lagi kesana, hingga saat ditilpun dan dinyanyikan lagu rayuan pulau kelapa sore itu.

Yang sebenarnya sedang terjadi adalah Makro sedang melakukan salah satu kiat bagaimana me-manage pelanggannya. Dan, hal itu memang sangat penting bagi sebuah usaha ritel. Ya, pelanggan adalah salah satu aset penting, maka pelanggan harus di-manage sedemikian rupa sehingga tetap menjadi sumber pemasukan toko.

Sebagai sebuah raksasa ritel, maka Makro memiliki sistem yang canggih untuk mengelola pelanggannya. Adanya Kartu Anggota atau Kartu Belanja tentu sangat memudahkan untuk mendata dan memantau aktifitas dan perilaku pelanggannya. Bagaimana frekuensi belanjanya, berapa nilai rupiahnya setiap kali belanja, berapa kuantitas dari setiap item yang dibelinya, barang jenis apa saja yang biasanya dibeli dalam jumlah banyak, kapan biasanya belanja dalam jumlah besar terjadi.

Maka kalau kemudian sampai lebih dua minggu kok tidak ada kabarnya (maksudnya, tidak belanja-belanja lagi), maka lalu muncul pertanyaan : Sedang sakitkah, atau sedang tertimpa musibah? Wow….., bukan! Bukan itu pertanyaannya! Melainkan : Jangan-jangan sekarang beralih belanja di tempat lain? Apakah ada tempat lain yang lebih miring harganya? Apakah belum tahu kalau sedang ada harga promosi di Makro? 

Itulah salah satu cara untuk me-manage pelanggan. Dan kiat semodel itu perlu untuk ditiru setidak-tidaknya menjadi inspirasi oleh “Madurejo Swalayan” atau toko mana saja kalau memang perduli dengan prinsip pelanggan adalah aset. Tinggal bagaimana caranya, agar sebuah toko kecil dan ndeso juga bisa melakukan upaya pengelolaan pelanggannya secara lebih sederhana dan murah tapi sasaran tercapai.

Penggunaan Kartu Anggota atau Kartu Belanja sebagaimana diterapkan oleh toko-toko ritel besar nampaknya belum bisa menjadi pilihan bagi “Madurejo Swalayan”. Bagi sebagian masyarakat desa, penggunaan Kartu Anggota barangkali hanya akan menambah kerepotan saja. Maka perlu dicarikan cara yang lebih praktis, dan mungkin malah cara tradisional saja. Karakter masyarakat pedesaan yang lebih bernuansa guyub-rukun dan paseduluran adalah salah satu pendekatan yang dapat dilakukan.

***

Sekarang ini yang penting toko tetap beroperasi dan berusaha meningkatkan pencapaian omset hari demi hari. Sambil jalan, saya senantiasa berpesan kepada segenap pegawai agar mulai mengamati siapa-siapa pelanggan setia “Madurejo Swalayan”. Kategori pelanggan setia adalah mereka yang sering berbelanja kebutuhan sehari-hari di “Madurejo Swalayan”. Pelayan toko sebagai ujung tombak bisnis toko swalayan tentunya sudah mulai bisa mengidentifikasi para pelanggan setia itu. Toh jumlah mereka tidak banyak.

Tidak ada pedoman khusus, misalnya yang disebut sering itu seperti apa? Berapa kali berbelanja dalam seminggu atau berapa banyak nilai belanjanya. Memang tidak gampang mengidentifikasi mereka. Pokoknya “amati dan ingat” sajalah, biar mudah. Salah-salah sedikit, atau bahkan kalau salahnya banyak, kiranya tidak akan signifikan impaknya.

Nah, kepada para pelanggan setia itu perlu diberikan perlakuan agak khusus setiap kali mereka berbelanja. Cukup kalau para pelayan toko dapat menciptakan suasana paseduluran (persaudaraan) terhadap mereka melalui media pelayanan dan komunikasi yang menyenangkan. Suatu saat nanti apresiasi yang diberikan mestinya bisa lebih kongkrit dalam bentuk fisik seperti voucher atau gift apalah, gitu…..

Memang jadi tidak bisa lebih proaktif kalau misalnya ada pelanggan yang lama tidak kelihatan datang berbelanja. Tidak bisa dikirimi surat atau ditilpun. Melainkan 100% mengandalkan pada effektifnya komunikasi paseduluran yang dibangun sedikit demi sedikit melalui seringnya berinteraksi di toko pada saat mereka berbelanja. Pada saatnya nanti, pendekatan melalui komunikasi yang mempribadi ini akan membuka jalan untuk pengelolaan yang lebih proaktif, tanpa menggunakan Kartu Anggota.

Seperti pernah saya singgung sebelumnya, suatu saat nanti pelanggan akan datang ke toko bukan karena harganya, kualitasnya, kelengkapannya, tokonya, pelayannya atau kedekatan jaraknya, melainkan karena mereka butuh membina tali silaturahmi. Bahkan seandainya mereka datang tidak untuk berbelanja, melainkan hanya untuk sekedar jalan-jalan, mampir untuk say hello, atau membeli sesuatu yang tidak direncanakan. (Mungkin suatu ketika kita pernah mengalami ingin jalan-jalan ke suatu toko, tetapi keputusan untuk membeli sesuatu atau tidak justru sengaja dilakukan pada saat sudah berada di toko itu. Aneh tapi nyata…!)

Begitulah….. Nyanyian rayuan pulau kelapa akan bersenandung setiap hari, setiap saat, semakin merdu didengar para pelanggan, seirama dengan berjalannya interaksi pembeli-pelayan di dalam toko. Tapi, sumprit…., ini tidak mudah!. Dan, “Madurejo Swalayan” sedang berusaha melakukan yang tidak mudah itu.

Madurejo, Sleman – Tahun Baru 1 Januari 2006

Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.