Archive for the ‘MADUREJO SWALAYAN & KOMUNITAS TDA’ Category

Pesta Wirausaha Dan Milad 4 TDA

11 April 2010

Maksud hati, rencana semula hari ini ingin hadir ke Pesta Wirausaha & Milad ke-4 TDA (komunitas Tangan Di Atas), 10-11 April 2010, di Balai Kartini, Jakarta. Apa daya, agendanya konflik dengan beberapa komitmen lain.

“Selamat berpesta untuk rekan-rekan pengusaha yang bisa hadir & Selamat ber-Milad untuk komunitas TDA beserta tim manajemen yang telah membuktikan dedikasinya yang luar biasa”.

Yogyakarta, 10 April 2010
Yusuf Iskandar

Milad 2 TDA Joglo — 14 Juni 2009

2 Juni 2009

“Facebookpreneur, peluang di tengah krisis global”

Milad2_TDA JogloMilad 2 komunitas TDA Joglo akan diselenggarakan pada :

Hari, tanggal : Minggu, 14 Juni 2009
Jam : 08:00 s/d 17:00 WIB
Tempat : Taman Balekambang, Jl. Jendral Ahmad Yani, Surakarta (Solo).

Acara ini terbuka untuk umum.
Info lebih lengkap hubungi : tda_joglo-owner@yahoogroups.com

Berikut ini informasi dari Panitia :

Rekan-rekan TDA Joglo yang mulia..,

Rangkaian Acara Milad 2 TDA Joglo akan diadakan pada hari Minggu, tanggal 14 Juni 2009, bertempat di Taman Balekambang Kota Solo. Acara akan dimulai jam 08.00 sampai dengan 17.00 dan seperti biasa… dapat berlanjut dengan acara networking sampai waktu tak terbatas.

Pada hari itu Taman Balekambang Kota Solo akan dipadati oleh lebih kurang 5000 ( lima ribu ) orang yang terdiri dari lintas komunitas entrepreneur, komunitas online / facebook, komunitas seniman dan budayawan, undangan dan masyarakat umum yang hadir untuk mengikuti rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Komunitas TDA Joglo, antara lain Pameran Produk, Talkshow dengan pebisnis sukses, Seminar Entrepreneur, Hiburan Kesenian Tradisional, dan tentu saja Networking sepanjang hari. Dengan mengambil tema “Facebookpreneur, peluang ditengah krisis global”, diharapkan dapat memancing minat para pengguna facebook yang sedang booming belakangan ini untuk menghadiri acara tersebut.

Facebookpreneur, adalah perpaduan antara “Facebook” dengan “Entrepreneur”. Dengan tema ini dapat diartikan Komunitas TDA Joglo ingin mengajak pengguna facebook untuk memanfaatkan penggunaan facebook kearah positif yang dapat menghasilkan keuntungan finansial untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat umum. Untuk itu kita akan mengerahkan segala upaya dan menampilkan contoh-contoh terbaik untuk membuat masyarakat umum percaya kepada kita Komunitas TDA Joglo.

Di akhir rangkaian acara, akan diadakan Puncak Acara Milad 2 TDA Joglo, dimana segala hal yang berkaitan dengan TDA Joglo selama 2 tahun ini akan dievaluasi untuk mencari bentuk terbaik TDA Joglo. Di puncak acara ini pula kesempatan kita bersama untuk memberi masukan berupa kritik dan saran secara terbuka untuk perkembangan TDA Joglo kedepannya. Dan tentu saja dalam puncak acara ini kita akan memberi penghargaan dan pengakuan kepada anggota2 kita yang sepanjang tahun kedua ini telah berprestasi dan memberi pengaruh positif untuk TDA Joglo. Jangan sampai ketinggalan untuk mengetahui perkembangan terakhir Komunitas TDA Joglo.

Bagi Komunitas TDA Joglo, acara ini adalah salah satu upaya menciptakan peluang dan kesempatan untuk menyebarkan virus entrepreneurship dan mengedukasi masyarakat memanfaatkan perkembangan teknologi informasi sebagai media pengembangan bisnis. Trend facebook adalah suatu celah yang terbuka lebar, menjadi pintu masuk untuk membaur ditengah-tengah masyarakat.

Dari sudut pandang yang lain, 5000 orang yang berkumpul dalam sebuah acara gathering adalah sebuah peluang dan kesempatan bagi para entrepreneur. Memperbanyak teman, memperluas jaringan, mengembangkan bisnis, sampai meningkatkan omset penjualan…, semua terbuka lebar dalam satu hari.

Sebagai penanggung jawab Komunitas TDA Joglo, saya mengajak teman2 semua untuk berpartisipasi dan dapat memanfaatkan peluang yang telah diupayakan oleh teman2 kita panitia Milad 2 TDA Joglo dengan semaksimal mungkin. Inilah yang kita tunggu selama ini…, kesempatan untuk berbisnis, berbagi dan berbudaya dengan suasana guyon, guyub dan gayeng dalam acara satu hari penuh. Kesempatan untuk memasyarakatkan komunitas TDA Joglo, dan tentu saja kesempatan untuk memperbaiki diri kita semua menjadi pribadi yang positif.

Sebagai anggota TDA Joglo…, jadilah orang pertama yang mendaftar untuk berpartisipasi dalam mensukseskan acara Milad 2 TDA Joglo, acara untuk kita semua.

Sebagai anggota TDA Joglo…, jadilah tuan rumah yang baik.

Terima kasih atas perhatian teman2 semua… Sampai bertemu hari Minggu 14 Juni 2009 di Taman Balekambang Solo dalam acara Milad 2 TDA Joglo 2009.

Salam TDA Joglo

Budi Prajitno

Peta Lokasi : Klik di sini

Agenda Workshop Entrepreneurship Ditunda

7 Mei 2009

Sepertinya agenda Workshop Entrepreneurship oleh TDA Joglo akan berubah waktu pelaksanaannya. Semula dijadwalkan tanggal 24 Mei 2009 di wartel (warung ritel) “Madurejo Swalayan”, Pambanan, Sleman. Namun belakangan nampaknya ada beberapa kendala yang sedang dihadapi dan perlu dirembug kembali jalan keluarnya.

Di bawah ini saya kutipkan email yang ditulis oleh mas Heksa Agus (salah seorang penggiatnya) dalam milis komunitas TDA Joglo (format tulisan sedikit diedit agar enak dibaca) :

Mohon tanggapan teman-teman semua
Posted by: “Heksa Agus S” hekinmajumapan@yahoo.com
Date: Sun May 3, 2009 10:55 am ((SGT))

Sehubungan dengan belum jelasnya status kepanitiaan Milad TDA Joglo untuk wilayah Yogyakarta, bersama ini saya selaku penanggung jawab masalah kepesertaan dari luar milis dalam acara workshop “yang muda yang berbisnis” mau meminta masukan dari semua anggota milis.

Sebelumnya ada beberapa hal yang perlu kita sama-sama ketahui :

  1. Tentang tempat, mas Yusuf Iskandar, selaku pemilik tempat, mengharapkan agar acara dimajukan tanggal 10 Mei atau diundur setelah 24 Mei, hal ini dikarenakan beliau harus menyelesaikan sebuah pekerjaan yang sangat penting dan harus diprioritaskan.
  2. Tentang trainer, mas Memet, selaku trainer tidak bisa jika acara dimajukan tanggal 10 Mei dikarenakan ada sesuatu hal.

Dari kedua hal tersebut maka bisa disimpulkan bahwa jika acara itu akan dilaksanakan, harus setelah tanggal 24 Mei. Yang ingn saya mintakan masukan dari teman-teman semua adalah:

  1. Apakah acara itu mau diundur atau dibatalkan atau ada alternatif lain.
  2. Apakah kita perlu berkoordinasi lagi untuk membicarakan acara hal itu.

Saya selaku orang yang akan berhubungan dengan pihak luar merasa sangat perlu sekali mendapatkan kepastian akan hal ini.

Terima kasih.

Semoga saja teman-teman TDA Joglo dapat segera berembug tentang waktu, tempat, pengisi acara, dsb. untuk mewujudkan rencana ini mengingat agenda semacam ini tentu sangat bermanfaat bagi siapa saja yang interest dalam dunia kewirausahaan.  Lebih-lebih dalam rangka mangayubagyo keberadaan komunitas TDA Joglo melalui Milad ke-2 yang rencananya akan diselenggarakan di beberapa wilayah seperti Jogja, Solo, Semarang dan sekitarnya.

Salam sukses berwirausaha…!

Silaturrahim TDA Joglo – 13 April 2009

15 April 2009

img_2269_joglo2aAcara silaturrahim copy darat warga TDA Joglo telah diadakan di rumah Pak Bambang Triwoko di kawasan pinggir kali, Pringwulung, pada hari Senin malam, 13 April 2009. Acara informal bin cengengesan yang diselenggarakan tanpa susunan acara ini akhirnya diisi dengan sharing yang sangat bagus oleh Mas Agung SN, pemilik waralaba “Simply Laundry”. Lalu dilanjut dengan membincang gagasan untuk memeriahkan Milad 2 (Ultah 2) komunitas TDA Joglo, khususnya yang berada di wilayah kota Yogyakarta dan sekitarnya.

Salah satu acara Milad 2 yang sedang digagas adalah mengadakan Workshop Entrepreneurship dengan mengusung materi utama Marketing yang akan disampaikan oleh Mas Memetz Slamet Rahardjo (trainer CEVE). Tag line untuk acara ini adalah : “Yang Muda Yang Berbisnis”. Rencana penyelenggaraan : Minggu, 24 Mei 2009, bertempat di joglo belakang wartel (warung ritel) “Madurejo Swalayan”, Prambanan, Sleman, Ngayogyokarto Hadiningrat.

Gagasan acara workshop ini masih sementara, selengkap dan seresminya segera akan ditindak-lanjuti oleh Panitia Pelaksana. Demikian halnya untuk agenda-agenda lainnya dalam rangka merayakan Milad 2 TDA Joglo ini akan disusulkan info detilnya.

Yogyakarta, 15 April 2009
Yusuf Iskandar

Joglo "Madurejo Swalayan" (5 Juli 2008)

Joglo "Madurejo Swalayan" (5 Juli 2008)

Catatan Terlambat Dari Milad 3 TDA

2 April 2009

img_1878_r

Ultah ke-3 komunitas Tangan Di Atas (Milad 3 TDA) sudah berlangsung sebulan yll. di Jakarta. Belum sempat saya menuliskan pengalaman dahsyat dari forum itu, keburu harus segera terbang ke tanah Papua untuk urusan bisnis yang lain. Lebih tepat kalau saya sebut perjalanan ke Papua ini dalam rangka menunaikan   “bisnis memberi”. Ya, alasan paling masuk akal bagi saya terbang jauh ke belahan timur negeri tercinta ini memang bukan bisnis mencari keuntungan, melainkan bisnis berbagi. Lebih jelasnya pengalaman ini akan saya tuliskan terpisah.

Kembali ke Milad TDA. Beberapa teman lain warga TDA sudah banyak menuliskan pengalaman-pengalamannya. Maka, biarlah teman-teman warga TDA lainnya yang mewakili bercerita. Jika tertarik untuk tahu lebih jauh, silakan baca laporan dan catatan berikut ini :

Semoga bermanfaat.

Salam,
Yusuf Iskandar

Menuju Milad 3 TDA

27 Februari 2009

milad3tda_rKomunitas Tangan Di Atas (TDA) berulangtahun yang ke-3 (Milad 3 TDA). Puncak acaranya digelar pada hari Sabtu – Minggu, 28 Pebruari – 1 Maret 2009, bertempat di gedung BPPT, Jl. MH Thamrin, Jakarta. Inilah ajang pertemuan para penggiat, peminat, pelaku dan simpatisan bidang entrepreneurship yang selama ini bernaung di dalam wadah komunitas wirausahawan yang bernama Tangan Di Atas (TDA).

Menariknya, ajang pertemuan dalam rangka Milad 3 TDA ini sekaligus menjadi cikal bakal ajang lebih bergengsi yang berjudul Festival Entrepreneur Indonesia. Menariknya lagi, telah dijadwalkan acara ini akan dihadiri selain oleh lebih 1.000 orang wirausahawan dari berbaai penjuru Indonesia (yang adalah warga komunitas TDA) juga akan diisi oleh para pesohor dan pelaku usaha yang sudah malang-melintang di dunia entrepreneurship.

Untuk itulah, Insya Allah saya akan hadir ke Jakarta. Rencana berangkat hari Sabtu, tanggal 28 Pebruari 2009 pagi naik Lion Air jam 07:00 WIB. Mudah-mudahan banyak pencapaian bisa saya raih untuk dibawa pulang dan diterapkan di kampung tempat usaha saya, Madurejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta.

Selamat & Sukses menyertai Milad 3 TDA.

Yogyakarta, 27 Pebruari 2009
Yusuf Iskandar

Bisnis Anti Bangkrut

28 Januari 2009
Haji Alay

Haji Alay

Banyak orang ingin berbisnis. Banyak orang berniat terjun ke dunia bisnis. Lebih banyak lagi yang sedang belajar bisnis. Ketika tiba gilirannya benar-benar harus memulai bisnis, hati menjadi gamang, bimbang dan ragu, tidak yakin, kurang pede, awang-awangen, nglangut…. lalu akhirnya, tidak mulai-mulai juga.

Apa pasal? “Bagaimana kalau nanti tidak laku, gagal, rugi, lalu bangkrut?”. Begitu, atau kata-kata yang sejenis itu yang biasanya menjadi momok dalam diri sendiri sehingga urung memulai bisnis.

Lha kok, tiba-tiba ada orang yang dengan pede sekali bertanya : “Mau nggak, saya beritahu bisnis yang dijamin tidak akan rugi atau bangkrut?”.

Semua orang yang mendengar pertanyaan itu mak plenggong….., setengah melongo (karena hanya setengah, maka mimik buruknya jadi tidak terlalu kelihatan…..). Lalu lubang telinga pun serta-merta di-jembreng lebar-lebar. Penasaran kepingin tahu kelanjutannya. “Wah, penting ini”, kata hatinya sambil pura-pura seolah tidak penting.

Orang itu lalu berkata : “Bisnis yang dijamin tidak akan rugi dan tidak akan menyebabkan bangkrut adalah memuliakan anak yatim, memberi makan orang miskin, tidak berlaku tamak alias kewajiban zakat dan sedekahnya dipenuhi, dan jangan berlebihan mencintai dunia“.

Nafas pun kemudian dilepas lega. Kalau itu dari dulu juga sudah tahu, kata hati orang-orang yang mendengarkan. Tiwas methentheng…, telanjur konsentrasi, mendengarkan breaking news tentang trik berbisnis anti bangkrut, rupanya cuma itu….. Ya, singkatnya adalah bisnis memberi. Jadi nama bisnisnya adalah “memberi”. Bukan bisnis jual pulsa, bisnis ritel, bisnis garmen, bisnis IT, bisnis mobil, tapi bisnis “memberi”.

Dari jaman batu pun memang begitu….. Tapi ya bagaimana mau membiayai anak yatim atau orang miskin atau membayar zakat, lha wong cari penghasilan yang pas-pasan saja tidak pernah pas.

Itulah masalahnya, atau lebih tepat, tantangannya. Kebanyakan orang-orang ini terjebak dalam tempurung tengkurap, bahwa yang namanya memberi adalah mengeluarkan uang atau materi. Padahal yang dimaksud oleh si pembicara tadi bahwa memberi itu bisa juga berupa ilmu, pengalaman, tenaga, pikiran, senyum, waktu dan tempat (seperti sering diberikan oleh MC), serta banyak hal-hal lain yang tidak berarti mengeluarkan uang. Yaaa…, paling-paling sekali waktu njajakke…., mentraktir…..

Dengan kata lain, terjemahan dari pesan si pembicara tadi adalah, kalau belum punya penghasilan ya memberilah dengan tanpa mengeluarkan uang. Kalau penghasilannya masih sedikit, ya memberilah sedikit dari yang sedikit itu. Kalau penghasilannya sudah banyak, ya memberilah lebih banyak dibanding yang sedikit tadi. Kalau habis? Isi ulang…. Mudah, kan?

Maka, kata si pembicara : “Kalau bisa dan yang terpenting ikhlas melakukan itu, maka Insya Allah digaransi tidak akan merugi dan tidak bakal bangkrut”. Sebab yang mengeluarkan kartu garansi adalah Tuhan yang tidak pernah pu-tippu (malah sering menjadi korban penipuan, itupun tidak pernah jera membagi rejeki-Nya meski bolak-balik ditipu…..).

Kalau sebenarnya memulai bisnis yang dijamin pasti untung itu begitu mudahnya, kenapa tidak juga mulai dari sekarang? Mulailah dengan bisnis “memberi”. Setelah itu, setelah materi berhasil dikumpulkan sedikit demi sedikit, lalu kembangkan dan majukan bisnis “memberi” itu dengan bisnis-bisnis turunannya. Seperti misalnya jual baju (baru maupun bekas), jual ayam (hidup atau mati), jual komputer (baru atau rekondisi), jual makanan (mentah atau matang), dan banyak jual-jual lainnya yang (sekali lagi) jangan lupa untuk terus menjaga bobot kualitas banyak “memberi”.

Si pembicara lalu menambahkan pesannya : “Kemudian berbisnislah dengan mengikuti sifat-sifat nabi Muhammad saw., yaitu sidik (berkata benar), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan yang sebenarnya) dan fathonah (cerdas)”. Ini adalah empat sifat wajib Rosulullah yang wajib pula diteladani oleh umatnya.

Kedengarannya seperti pelajaran agama Islam. Padahal substansinya tidak semata-mata belajar ilmu tauhid. Karena si pembicara adalah seorang yang beragama Islam, maka pedoman yang disampaikan pun meneladani nabinya umat Islam. Namun sebenarnya apa yang disampaikan oleh si pembicara itu adalah sifat-sifat atau perilaku manusia yang sangat universal. Agama atau keyakinan apapun di muka bumi (termasuk aliran sesat), kurang-lebihnya juga menyandarkan perilaku normatif yang hampir sama secara substansi karakteristiknya. Dengan demikian, anjuran si pembicara itu sebenarnya berlaku umum bagi siapa saja.

Jika demikian mudahnya, mari kita memulai bisnis lalu kita ikuti anjuran si pembicaa tadi dan kita buktikan bahwa kita tidak akan bangkrut. Namun barangkali perlu disadari, kalau sudah niat ingsun mau action, ya action-lah sampai tuntas. Terkapar terengah-engah di tengah jalan adalah bagian dari proses pembelajaran sebelum dada menyentuh garis finish. Begitu kira-kira yang telah disampaikan oleh si pembicara dengan penuh keyakinan untuk meyakinkan.

***

Si pembicara yang sangat pede dengan jurus-jurus bisnisnya itu pada kartu namanya tertulis  Haji Nuzli Arismal atau lebih dikenal dengan Haji Alay, yang juga adalah salah seorang sesepuh komunitas “entrepreneur” TDA (Tangan Di Atas). Beliau adalah seorang pebisnis yang sudah komplit makan asam, garam, gula dan jamu. Jatuh-bangun, malang-melintang, susah-gembira, adalah bagian dari perjalanan bisnisnya. Pasar Tanah Abang adalah “kampung halamannya”, dan sekarang beliau menjabat Ketua Umum Syarikat Masyarakat Industri & Pasar Indonesia (SMI&PI). Di usia senjanya, beliau tetap bersemangat empat-lima untuk mengompori dan menginspirasi para pebisnis muda.

Hari Minggu, 18 Januari 2009 yll, Haji Alay hadir di desa Manggung, kecamatan Ngemplak, kabupaten Boyolali, berada di tengah-tengah warga komunitas TDA Joglo, dalam rangka menunaikan bisnis “memberi”-nya. Haji Alay berkenan berbagi kepada siapa saja yang membutuhkan tanpa sedikitpun mengharapkan imbalan. Kualitas bisnis “memberi”-nya sudah pada level post-advance. Para entrepreneur muda yang haus akan pencerahan pun berdatangan dari beberapa wilayah di Jawa Tengah, guna ngangsu kaweruh (berguru) kepada sang guru.

Semoga ilmu yang diturunkan dapat diwarisi dan diamalkan. Diwarisinya sih gampang, wong dari jaman baheula ilmu itu ya memang begitu, tapi mengamalkannya itu……

Madurejo – Sleman, 28 Januari 2009
Yusuf Iskandar

img_0990_manggung

Berbagi Dan Memberi (Ngumpul Bareng TDA Joglo)

27 Januari 2009

Untuk kesekian kalinya, komunitas “entrepreneur” TDA Joglo (Tangan Di Atas wilayah Jogja, Solo dan seputarannya) mengadakan forum kumpul-kumpul di rumah salah seorang sesepuhnya, Pak Bams (Bambang Triwoko) di Pringwulung, Jogja.

Kali ini tema yang dibicarakan agak serius (meski tetap dalam suasana guyon-guyub-gayeng), yaitu tentang upaya dan program-program jangka pendek yang dapat dilakukan untuk pengembangan ke depan dari komunitas ini. Walau tidak semua warganya hadir, karena memang tidak direncanakan sebagai pertemuan besar, melainkan sekedar ajang ngumpul bareng informal, ngiras-ngirus selagi ada kunjungan muhibah dari teman-teman yang juga warga TDA Joglo yang tinggal di luar kota. Acara yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 24 Januari 2009, mulai jam 15.00 hingga selesai jam 20.00 ini pun dihadiri oleh lebih dari 20 orang, diselingi ngemil, makan dan break untuk sholat (bagi yang sholat, tentu saja…)

Acara dipimpin oleh pak presiden TDA Joglo, mas Budi Prajitno yang tinggal di Solo, didampingi oleh sesepuh merangkap tuan rumah, pak Bambang Triwoko (pemilik Betiga, distributor produk Danone wilayah Klaten).

Untuk menyebut sebagian tetamu yang datang dari jauh, antara lain : pak Harmanto Haroen bakul jamu dari Jakarta (pemilik PT Mahkota Dewa Indonesia), mas Eddy Aji Poerwanto pedagang pulsa dari Cimahi (pemilik Warung Barokah), pak Hadi Kuntoro si raja selimut dari Jakarta (pedagang selimut Jepang Hasuko), mas Yoyox Sancoyo pedagang busana muslim dari Wonosobo (distributor produk Rabbani wilayah Jateng-DIY), beserta teman-teman muda lainnya.

Berbagi dan Memberi…..  Itulah sebenarnya agenda yang paling ditunggu-tunggu setelah usai berbincang-bincang agak serius. Ya, para entrepreneur yang sudah melangkah sukses sebagai pengusaha itu berbagi dan memberikan ilmu dan pengalamannya kepada teman-teman yang masih TDB (Tangan Di Bawah alias masih bekerja sebagai orang gajian), atau yang sedang memulai dan merintis usahanya, termasuk yang sedang berjuang memajukan dan mengembangkan bisnisnya.

Filosofinya sederhana : Hanya dengan memberi maka kita pantas untuk menerima.

Agenda seperti ini memang perlu, agar wawasan kita tidak cupet, agar pikiran kita lebih out of the box, agar tidak merasa sendirian ketika dihadang kesulitan dan agar bisa bersinergi untuk meraih sukses rame-rame seperti potong padi di sawah.

Dan, pemilik Madurejo Swalayan hanyalah bagian kecil dari komunitas ini, tapi sedang mengejar bagian besar dari sukses yang jumlahnya tak terhingga itu….

Hadi Kuntoro, Yoyox Sancoyo, Awan dan Evie.

Keterangan Foto (dari kiri ke kanan) - Duduk : M. Fadli, Eddy Aji Poerwanto, Yusuf Iskandar, Babang Triwoko dan Harmanto Haroen. Berdiri : Hadi Kuntoro, Yoyox Sancoyo, Awan dan Evie.

Makan malam di Banyu Mili Resto

Sekedar selingan di antara hari-hari padat acara di Yogyakarta, saya dan teman-teman serta para tetamu jauh itu pada hari Jum’at, 23 Januari 2009 sempat mampir bersantap malam di resto Banyu Mili, di kompleks perumahan Griya Mahkota, Jl. Godean, Yogyakarta.

Catatan tentang perjalanan kuliner ini dapat dibaca di sini.

Bambang Triwoko, Evie, Harmanto dan Eddy Poerwanto

Keterangan Foto (dari kiri ke kanan) : Bambang Triwoko, Evie, Harmanto dan Eddy Poerwanto

Yogyakarta, 27 Januari 2009
Yusuf Iskandar

Di Malaysia, Sambil Menyelam Minum Air

6 Juli 2008
Subangjaya

Subangjaya

Memperoleh kesempatan berkunjung ke negeri jiran, Malaysia, tentu jangan disia-siakan. Maksudnya, bukan sekedar melihat-lihat dan berwisata, melainkan juga menangkap peluang bisnis yang mungkin ada, dan pasti ada.

Begitu yang kemudian terlintas di pikiran ketika saya diundang untuk berkunjung ke Kuala Lumpur, Malaysia, pada tanggal 27 Juni s/d 1 Juli 2008 yang lalu. Sebenarnya ini perjalanan bisnis “sampingan” saya, melakukan presentasi dan sekaligus meeting dengan klien terkait dengan profesi saya sebagai konsultan geologi dan pertambangan.

Mempertimbangkan klien saya adalah sebuah perusahaan cukup besar dan sedang tumbuh di Malaysia, terutama bergerak di sektor properti, pendidikan dan perhotelan, maka kesempatan itupun saya pergunakan untuk ngiras-ngirus memperkenalkan produk bisnis “sampingan” saya yang lain, yaitu produk sleeve atau kantong atau slepi atau tas pelindung laptop yang terbuat dari bahan sintetis dan natural. Produk ini sendiri merupakan hasil kolaborasi bisnis (yang terjemahannya adalah turut memasarkan) dengan mas Joko Mukti, seorang pengrajin berbahan natural di Yogyakarta dan teman di kelompok Master Mind komunitas TDA Joglo (tepatnya MM4 – TDA Joglo).

Lebih tepat kalau saya sebut sambil menyelam minum air, sambil presentasi saya memamerkan sleeve pembungkus laptop di depan audience, tim punggawa klien saya. Presentasi dan meeting-nya sendiri dilakukan di lantai 9 Summit Building, sebuah gedung perkantoran milik klien saya yang berlokasi di bilangan Subangjaya, sisi baratdaya Kuala Lumpur.

Sleeve

Sleeve

Sejak berangkat dari Yogyakarta, sengaja sebuah sleeve berbahan sintetis dan natural saya masukkan bagasi. Baru ketika berangkat dari hotel menuju tempat presentasi, sleeve saya keluarkan, lalu laptop saya selipkan di dalamnya. Berangkat dari hotel, sebuah sleeve berisi laptop saya tenteng dan “agak” saya pamer-pamerkan agar dilihat orang. Saat ditraktir sarapan pagi di salah satu kedai di Summit Mall, sleeve saya letakkan di atas meja. Sampai di ruang presentasi, sleeve berisi laptop juga saya letakkan (sambil agak demonstratif) di atas meja.

Ketika laptop saya keluarkan untuk persiapan presentasi, sleeve pun saya letakkan begitu saja di atas meja biar terlihat. Benar juga, usai presentasi sang bos klien saya tertarik dengan sleeve saya dan mulai bertanya-tanya “binatang” apakah gerangan itu….?

Tibalah kesempatan untuk sekaligus “presentasi” tentang sleeve, gunanya, bahannya, pembuatannya, manfaatnya, dan sebagainya….., dan sebagainya….. dan lain sebagainya…….. Ujung-ujungnya, mengetengahkan sebuah gagasan bahwa jika pada bagian depan sleeve itu dipasang logo perusahaan, maka akan memberi kesan dan tampilan istimewa kepada orang yang melihatnya.

Bos klien saya tertarik untuk mempertimbangkan memilikinya. Apakah mereka memesan produk itu? Tidak, atau belum…. Tapi it’s sangat OK. Artinya, meninggalkan kesan baik saja untuk sementara saya anggap cukup. Saya telah berhasil membangun dan meninggalkan image bahwa ada produk khas yang selama ini mereka belum mengenalnya, dan produk khas itu adalah produk kerajinan berupa sleeve atau kantong pengaman laptop yang menjadi bisnis saya yang lain. Tentu saja di depan calon konsumen saya harus percaya diri untuk meyakinkan bahwa ini adalah bisnis saya, bukan sekedar turut menjualkan, meski maksudnya sama……

Beliau dan rekannya malah menyarankan, agar saya ikut ambil bagian kalau pas di Malaysia ada pameran. Jawab saya : “That’s really great idea, akan saya pertimbangkan dan rencanakan untuk itu” (tapi sesungguhnya jawab saya dalam hati adalah : “cari sponsor dulu, Bro….”).

Saya masih akan memiliki kesempatan untuk ketemu beliau lagi, entah di bumi belahan mana. Dan saya juga siap untuk memperkenalkan produk itu pada kesempatan berikutnya, entah kapan, dimana dan di depan siapa. Kalaupun tidak ada yang membelinya, sleeve itu tetap menarik untuk saya pakai sendiri dan tampil beda……

Yogyakarta, 6 Juli 2008
Yusuf Iskandar

NB :
Foto-foto contoh produk sleeve, dapat dilihat di Madurejo-Sleeve

Membangkitkan Semangat Usaha Korban Gempa Jogja

5 Juni 2008

Temu Usaha

Ketika gempa Jogja terjadi dua tahun yang lalu, tepatnya tanggal 27 Mei 2006, sesudahnya perhatian pemerintah dan masyarakat banyak tertuju kepada upaya rehabilitasi di bidang pembangunan fisik. Sedang perhatian kepada pemulihan sumber penghidupan khususnya ekonomi sangat kurang, apalagi di bidang pertanian yang terbukti sangat mendukung perekonomian masyarakat di pedesaan.

Dari latar belakang itulah, maka UN-FAO (United Nations – Food and Agriculture Organization) memprakarsai upaya pemulihan sumber penghidupan para pelaku industri rumah tangga berbasis hasil pertanian yang menjadi korban gempa. Dalam hal ini UN-FAO didukung oleh Program Kemitraan Indonesia-Australia (AUSAID) dan bekerjasama dengan berbagai lembaga donor dan mitra lokal.

Maka pembinaan dan pelatihan telah diberikan kepada kelompok masyarakat di dua wilayah, yaitu Desa Gondangan, Kabupaten Klaten dan Desa Srihardono, Kabupaten Bantul. Tujuan utamanya antara lain untuk pemulihan kapasitas produksi melalui penggantian aset usaha yang hilang, membangkitkan semangat berusaha (capacity building) dan pengembangan jaringan pemasarannya.

Kini, dua tahun setelah gempa, sebuah pertemuan digelar untuk membantu membuka akses pemasaran bagi produk hasil industri rumah tangga masyarakat korban gempa hasil binaan UN-FAO beserta segenap tim yang terlibat.

***

Makanan Olahan

Tanggal 29 Mei 2008, bertempat di hotel Grand Quality Yogyakarta, kebetulan saya diundang untuk turut menghadiri pertemuan antara pelaku usaha kecil korban gempa (produsen) dengan mitra dagang yang adalah calon pembeli potensial yang diharapkan akan turut memasarkannya. Saya sebut kebetulan, karena sebenarnya kehadiran saya di luar skenario panitia, terbukti pihak penerima tamu kebingungan mau memasukkan saya ke kelompok mana karena nama saya belum ada di formulir daftar hadir.

Ndilalah saja kok ya beberapa hari sebelumnya ada teman baru di TDA Joglo (Mas Cahyadi Joko Sukmono dari Frontier Indonesia) yang mengundang via email, padahal belum pernah saling ketemu. Ndilalah juga kok ya saya pas bisa datang. Ndilalah lagi, di sana saya bertemu dengan Mas Memetz (sesama warga kelompok diskusi MM4 TDA Joglo). Maka saya yang mula-mula menyebut kehadiran saya sebagai pribadi, hingga akhirnya ketika di dalam ruangan spontan berubah mewakili toko saya (Madurejo Swalayan), sama seperti wakil dari toko-toko ritel lainnya yang ada di Yogyakarta yang hari itu juga diundang hadir, antara lain dari toko Swalayan Pamela, Maga, bahkan juga Carrefour. Mestinya masih ada lebih banyak lagi toko swalayan atau minimarket sejenis di Yogyakarta (saya tidak tahu persis, apakah tidak diundang atau berhalangan hadir).

Melalui acara yang diberi judul Temu Usaha itu diperkenalkan dan sekaligus dipromosikan aneka jenis produk makanan olahan yang telah disempurnakan dari sisi keragaman produksi dan penampilan atau kemasannya. Dari daerah Gondangan, Klaten, yang merupakan daerah sentra industri makanan kecil dipamerkan antara lain krupuk aneka rasa, karak, criping, sukun, lalu ada kacang telor, pangsit, dsb. Dari daerah Srihardono, Bantul, yang merupakan sentra industri rumah tangga berbasis pertanian diperkenalkan antara lain geplak, peyek, tepung aci, krupuk aci aneka rasa, onde-onde dan juga minyak kelapa.

Dari Temu Usaha ini diharapkan akan menjadi kunci pembuka bagi sebuah kerjasama pemasaran antara pelaku industri rumah tangga dengan para pengusaha sebagai mitra usaha yang berkelanjutan. Bagi pelaku industri yang boleh dikatakan usahanya telah hancur karena gempa, melalui forum ini akan memiliki semangat untuk bangkit dan menata kembali, serta memulihkan dan meningkatkan sumber-sumber penghidupan ekonominya.

Acara pokoknya banyak terfokus pada diskusi tentang prosedur atau tata cata untuk dapat turut menjualkan produk olahan makanan di toko-toko ritel. Juga tentang cara penyajian atau pengemasannya (hal yang paling sering menjadi kelemahan pengusaha kecil kita). Hingga diberikannya kesempatan kepada mitra usaha untuk mencicipi (ini bagian yang paling saya sukai…) dan memberi penilaian atas lebih 20-an jenis produk olahan makanan yang diperkenalkan, dipamerkan dan dipromosikan.

Patut diberi apresiasi kepada pemrakarsa dan semua pihak yang terkait dengan program peduli kelompok usaha kecil semacam ini, baik FAO atau siapapun juga. Kepedulian terhadap upaya pembinaan dan pendampingan pengembangan bisnis masyarakat kecil semacam ini agaknya memang langka menjadi perhatian. Setidak-tidaknya agar sebagian dari masyarakat yang ekonominya sempat hancur terpuruk diporak-porandakan oleh gempa Jogja dua tahun yang lalu, bisa bangkit kembali untuk membangun sumber-sumber penghidupannya. Dan, tidak sekedar kembalinya bangunan fisik rumah saja, melainkan juga penghidupan di dalamnya.

Sebuah langkah kecil karena tidak bisa menjangkau semua kawasan korban gempa, namun juga sebuah langkah besar di antara banyak pihak yang kurang (sempat) memperhatikannya, bahkan pemerintah sendiri banyak mengalami kendala dan keterbatasan di sektor ini.

Yogyakarta, 4 Mei 2008
Yusuf Iskandar

(“Madurejo Swalayan” tentu saja ingin berperanserta sebisanya….., dan kali ini baru bisa bertemu dan bisa mencicipi….., berikutnya bisa turut menjualkan….. Pokoknya harus bisa saling membantu dan bisa saling menguntungkan….. Kalau Indonesia saja Bisa…!, apalagi Madurejo, buisa biyangeth….).

Stock Inventory Dan Peluang Bisnis Online

15 April 2008

Pengantar :

Pertemuan kedua kelompok Master Mind 4 TDA Joglo (komunitas Tangan Di Atas wilayah Jogja, Solo dan sekitarnya) diadakan kembali di rumah saya di Umbulharjo, Yogyakarta, pada tanggal 9 April 2008 yll. Pertemuan kali ini dihadiri oleh lima orang anggota (seorang berhalangan hadir), yaitu mas Memetz (praktisi bisnis ritel), mas Djoko Mukti (pemilik bisnis handycraft tas berbahan natural), mas Ichsan Santoso (pemilik bisnis ritel dan pakaian), mas Pipin (pewaralaba bengkel sepeda motor di Klaten) dan saya sendiri.

Setelah didahului dengan saling memberi update atas pencapaian dan kendala usaha yang sedang dijalani, diskusi selanjutnya difokuskan pada beberapa pokok bahasan, antara lain : masalah stock inventory dan peluang bisnis online untuk reseller.

——-

Stock Inventory Itu Perlu

Awalnya adalah keluhan saya dalam mengelola toko “Madurejo Swalayan” tentang repotnya melakukan stock inventory atau pendataan jumlah stok seluruh item barang yang ada di toko. Kelihatannya mudah saja, tinggal menghitung dan mencatat berapa jumlah setiap item barang yang ada. Tapi pelaksanaannya bisa sangat-sangat menyita waktu dan tenaga. Sementara toko harus tetap buka dan melayani konsumen. Hal ini disebabkan karena “Madurejo Swalayan” belum memiliki sistem yang baku tentang bagaimana melakukan stock inventory yang benar dan efektif. Berbeda halnya dengan toko-toko besar yang sudah memiliki sistem inventory sendiri.

Rupanya hal yang sama juga dihadapi oleh rekan-rekan lain yang tergabung dalam kelompok diskusi Master Mind TDA (Tangan Di Atas) Jogja. Sebagai sesama pemula dalam dunia bisnis, seorang teman juga mengalami kesulitan melakukan stock inventory untuk barang-barang di toko ritelnya. Seorang rekan lain judeg (kebingungan) mengelola stok suku cadang dari usaha bengkel sepeda motor terutama terkait dengan bengkel-bengkel cabangnya yang tersebar. Sedangkan bagi seorang rekan lainnya yang menerapkan kemitraan dengan pengrajin dalam usaha handycraft produk tas berbahan natural, masalah stock inventory akan lebih sederhana dan kelihatannya belum mendesak, meski tidak berarti boleh diabaikan.

Ada beberapa hal penting yang muncul dalam diskusi yang kemudian saya catat. Beberapa hal yang kiranya perlu untuk ditindaklanjuti sesuai kondisi masing-masing.

  • - Sebagai bagian dari rumusan “Retail is Detail”, stock inventory memang perlu dilakukan secara periodik yang waktunya disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Data-data stock inventory ini sangat diperlukan dalam membuat laporan neraca keuangan (financial balance sheet).
  • - Perlu dicari cara yang praktis untuk melakukan stock inventory bagi tiap-tiap jenis bisnis yang berbeda. Khusus untuk bisnis ritel memang lebih njlimet (rumit) karena menyangkut sejumlah item barang dagangan yang sangat banyak jenis dan jumlahnya.
  • - Salah satu cara yang (kelihatannya) relatif mudah diterapkan adalah dengan pengaturan rak (grondola) dan lemari untuk sekelompok jenis item barang tertentu (jika perlu setiap rak atau grondola dan lemari memiliki daftar barang masing-masing yang ada di atasnya).
  • - Menugaskan setiap pelayan toko atau pegawai untuk bertanggungjawab terhadap sekelompok item barang yang ada pada rak-rak atau lemari etalase tertentu, sehingga memudahkan dalam pengawasan dan pengontrolannya.
  • - Hal yang akan menjadi masalah adalah bagaimana agar pelaksanaan inventory dapat diselesaikan dengan cara seksama dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya.
  • - Stock inventory perlu dilakukan secara periodik.

Peluang Bisnis Online Untuk Reseller

Salah satu trend bisnis saat ini adalah membuka toko di dunia maya alias online store dengan memanfaatkan fasilitas internet. Beberapa teman telah mulai mengembangkan usahanya justru melalui toko online. Nyaris bidang garapannya tak terbatas. Ada yang telah menjalankan toko pakaian (fashion) secara online dan nampaknya cukup berkembang. Juga menjual tas tangan berbahan natural, sebagai produk handycraft, juga memulainya secara online.

Sistem bisnis online ini telah diakui oleh banyak kalangan kini semakin berkembang pesat. Maka, ini adalah “dunia baru” dan sekaligus peluang yang perlu dicermati untuk jangan sampai ketinggalan jaman, terutama bagi para pelaku bisnis.

Salah satu cara memulai bisnis yang cukup mudah adalah menjadi reseller. Intinya, menjualkan produk orang lain. Dengan memanfaatkan sarana toko online yang kini dapat dilakukan dengan gratis melalui blog, tanpa perlu repot-repot mempunyai situs sendiri (meski yang terakhir itu pada saatnya akan diperlukan sebagai simbol bonafiditas), bisnis reseller ini menjadi demikian mudah dilakukan. Melalui bisnis reseller (dalam beberapa kasus) juga terbuka kemungkinan untuk dilakukan dengan tanpa modal awal (kecuali biaya sewa internet)

Salah satu keuntungan menjadi anggota suatu kelompok bisnis atau katakanlah komunitas yang anggotanya memiliki visi bisnis dan “frekuensi” yang sama, adalah adanya lalulintas informasi yang cepat dan nyaris tanpa batas. Dari hasil pertukaran informasi maka akan mudah diketahui dan dikomunikasikan siapa mempunyai bisnis apa. Kemudian dipilih yang mana yang disuka, lalu dibangunlah kerjasama dalam bentuk reseller. Mudahnya, ikut memasarkan dan menjualkan suatu produk yang dipilih dan disuka itu. Selanjutnya tinggal membuat blog gratisan untuk membuka toko.

Peluang semacam ini cukup menarik dan relatif mudah dan murah untuk digarap sebagai langkah awal memulai sebuah bisnis. Kata kuncinya hanya satu, yaitu suka ngublek-ublek dan main-main dengan internet.

Yogyakarta, 15 April 2008
Yusuf Iskandar

Setengah Malam Bersama Pak Yusef Hilmi : Menggali Ide Bisnis Dan Menebar Rahmatnya

31 Maret 2008

Pengantar :

Berikut ini adalah catatan pendek dari forum ngobrol-ngobrol bersama Pak Yusef Hilmi, seorang trainer Mindset Motivator, yang telah berkunjung ke Jogja pada Kamis, 27 Maret 2008 yll. Pak Yusef telah berbagi banyak hal yang membukakan jendela wawasan warga TDA Joglo. Hadir : Mas Joko Mukti, Mas Fadli, Mas Seta, Mas Awan, Mas Ikhsan, Mas Hatta, Mas Trimuriana, Mas Ari, Mbak Evie, Mas Bams Triwoko (tuan rumah yang tak kenal lelah) dan saya sendiri.

Yusef_Hilmi

Dari kiri ke kanan : Awan, Hatta, Evie, Yusef Hilmi, Bams, Yusuf, Joko, Fadli, Seta (Foto : U_me di  http://fototdajoglo.blogspot.com)

——-

Bila niat untuk memulai sebuah usaha atau bisnis sudah muncul (niat untuk menjadi TDA), tetapi kebingungan hendak memulai dari mana atau mau menggarap bidang apa, maka salah satu langkah yang bisa ditempuh adalah menemukan apa yang sebenarnya menjadi kesukaan kita. Kesukaan yang benar-benar kita sukai (sebab ada kesukaan yang sebenarnya tidak atau belum benar-benar kita sukai atau masih “terkontaminasi” dengan kesukaan orang lain yang sepertinya kita juga menyukainya). Dalam istilah sekarang, kita sering menemui istilah : bisnis bermula dari hobi atau hobi yang dikembangkan menjadi bisnis.

Bila sesuatu itu benar-benar kita sukai dan telah menyatu kedalam ruh atau jiwa dalam keseharian kita, maka biasanya kita rela untuk melakukan apa saja demi sesuatu yang kita sukai itu. Seringkali kita rela berkorban waktu, tenaga dan pikiran, bahkan tidak merasa sayang untuk mengeluarkan biaya demi kesukaan kita. Menghasilkan keuntungan atau tidak, acapkali bukan menjadi ukurannya.

Setelah itu, tahap selanjutnya adalah mencari celah dan kemungkinan (lebih tepat disebut peluang) bagaimana mendayagunakan agar kesukaan kita itu bisa menghasilkan uang atau keuntungan. Sekedar mengambil contoh : seorang yang sukanya bicara, kemudian mengembangkan diri sebagai pembicara atau pengajar. Seorang yang hobi menjahit atau menyulam, kemudian mencoba menjual hasil karyanya sendiri atau menghimpun karya orang lain untuk dijualkan. Seorang yang hobi mengutak-atik komputer, lalu menjual jasa reparasi atau membuka kios komputer dan asesorisnya. Dan, masih ada ribuan contoh lainnya.

Demikian salah satu butir yang disampaikan oleh Pak Yusef J. Hilmi, seorang trainer Mindset Motivator dalam salah satu kesempatan ngobrol-ngobrol dengan komunitas TDA (Tangan Di Atas) di Yogyakarta, hari Kamis malam (27 Maret 2008) yang lalu. Setidak-tidaknya, Pak Yusef yang memang hobi bicara, bercerita dan ngobrol ini, bercerita tentang pengalamannya sendiri. Bagaimana beliau yang sebelumnya adalah seorang PNS lalu nekat banting setir hingga akhirnya menjadi seorang trainer dan pembicara yang tergolong sukses. Terbukti hingga saat ini beliau kesulitan mencari waktu kosong, karena jadwal permintaan untuk mengisi berbagai forum pelatihan dan pengembangan terus berdatangan.

Hal kedua yang ingin ditekankan oleh Pak Yusef adalah hendaknya jangan “pelit” untuk berbagi. Meski keahlian atau keterampilan atas apa yang mula-mula menjadi kesukaan kita itu bisa mendatangkan uang, kita tetap perlu membagikan dan memberikan kepada siapa saja yang membutuhkan keahlian atau keterampilan itu (dalam konteks membantu orang lain, yang dalam terminologi agama sering disebut dengan sedekah). Meski terkadang tidak dibayar dan bahkan malah nombok. Hal yang terakhir itu hanya mungkin dilakukan jika keahlian atau keterampilan itu memang berasal dari sesuatu yang memang kita sukai, sesuatu yang telah menjiwa dalam diri kita.

Hanya dengan memberi maka kita boleh berharap akan menerima. Semakin banyak memberi maka semakin kita boleh berharap untuk menerima lebih banyak lagi. Jangan menunggu untuk mempunyai lebih dahulu, baru merencana untuk memberi. Sebab, menjadi sifat manusia yang tidak pernah merasa cukup untuk mempunyai, hingga akhirnya dikhawatirkan malah menjadi tidak pernah memberi apa-apa. Memberi sebagai perwujudan dari upaya menebar rahmat kepada alam sekitar kita, tidak perduli siapapun atau apapun yang ada di sekitar kita itu.

***

Beruntung sekali saya sempat bergabung dengan teman-teman dari komunitas TDA Joglo (Jogja, Solo dan sekitarnya). Sebagai warga baru di komunitas TDA, kesempatan untuk bertemu dan berdiskusi dengan Pak Yusef Hilmi adalah kesempatan yang sangat berharga bagi saya. Sebagai seorang trainer dan pembicara yang sering dipercaya untuk memberi pembekalan kepada jajaran karyawan di berbagai perusahaan, Pak Yusef tentunya menyimpan banyak hal yang pantas untuk didengarkan pengalamannya terutama dalam usaha pengembangan diri maupun bisnis yang saya dan rekan-rekan tekuni.

Maka kepada Pak Yusef, saya dan teman-teman di TDA Joglo pun ngangsu kaweruh (berguru) tentang banyak hal. Tentang motivasi diri, tentang komunikasi bisnis, tentang strategi pemasaran, tentang filosofi hidup, dan segala macam seluk-beluk dan celah-celahnya. Tidak cukup rasanya membicarakan semua itu hanya dalam waktu setengah malam atau beberapa jam saja. Kalau tidak karena Pak Yusef esok harus terbang ke Balikpapan pagi-pagi, rasanya malam itu kami akan wayangan (begadang).

Pokok bahasan lain yang sepertinya melecut semangat kami yang hadir, antara lain adalah tentang keberadaan kami masing-masing di dalam komunitas TDA. Komunitas yang di antara warganya memilik visi usaha, bisnis atau jiwa enterpreneurship yang sama. Tidak perduli seberapa besar atau kecil skalanya.

Pak Yusef meyakinkan bahwa kami sudah berada di wadah yang tepat (on the right track). Diibaratkan oleh Pak Yusef bahwa kami sesama warga TDA sudah berada pada gelombang atau frekuensi yang sama. Sehingga apapun pokok bahasan yang dibicarakan, akan bertolak dari landasan berpikir dan menuju ke muara yang sama visinya. Lebih mudah mendefinisikan dan lalu mencari solusi atas suatu masalah atau menangkap peluang-peluang, jika masing-masing orang atau individu itu sudah memiliki gelombang pikiran yang sama. Tinggal bagaimana masing-masing warga TDA ini mendayagunakannya untuk mengejar kesuksesan atau menggapai apa yang diimpikannya.

***

Diskusi belum selesai, dan mudah-mudahan tidak akan pernah selesai. Dengan begitu maka kita dan siapa saja menjadi terdorong untuk terus belajar dan belajar. Rencana-rencana lanjutan pun disiapkan. Bulan April ini rekan-rekan di TDA Semarang akan punya hajatan besar. Maka agenda kolaborasi TDA Jogja, Solo, Semarang dan sekitarnya, sedang digagas lebih lanjut.

Ke Semarang Pak Yusef berikutnya akan menuju. Di sana akan digelar Pestipal Angkringan bersama teman-teman dari JRU (Jaringan RumahUSAHA) Semarang, lalu ada TDA GTC Unissula (Goes to Campus Universitas Islam Sultan Agung), dan Pak Yusef pun akan kembali membagi ilmu dan pengalamannya.

Terima kasih Pak Yusef. Kami sangat menghargai waktu dan ketulusan Sampeyan untuk berbagi dan berada di tengah warga TDA Jogja, Solo, Semarang dan sekitarnya. Keluarbiasaan Anda tidak cukup terwakili hanya dengan catatan pedek ini.

Yogyakarta, 31 Maret 2008
Yusuf Iskandar

“Retail Is Detail”, nJlimet Tapi Perlu

18 Maret 2008

“Retail is Detail”……, tiba-tiba ungkapan ini terlontar dalam diskusi pertama kelompok Master Mind komunitas TDA (Tangan Di Atas) Jogja. Sebenarnya ungkapan ini sudah cukup sering diangkat menjadi topik bahasan ketika sedang membicarakan bisnis ritel. Tapi entah kenapa kali ini begitu membekas di pikiran saya sehingga merangsang untuk mengetahui lebih jauh. Hal ini tentu terkait dengan usaha yang sedang saya tekuni, yaitu usaha toko ritel “Madurejo Swalayan” (sudah lama saya tidak cerita-cerita tentang toko saya ini).

Saya coba melacak di internet, saya temukan bahwa ungkapan ini pernah dilontarkan oleh seoran bernama James Gulliver. Tapi, siapa pak James ini? Saya belum menemukan jawabannya.

***

Detil, secara umum dapat saya artikan sebagai hal-hal yang kecil, rinci dan teliti. Secara mudah saya memaknai “Retail is Detil” sebagai bisnis ritel yang menuntut pelakuknya untuk memperhatikan hal-hal yang kecil, secara rinci dan teliti. Ini karena pada dasarnya bisnis ritel adalah bisnis recehan. Bisnis yang keuntungannya berasal dari kumulasi berbagai nilai yang relatif kecil atau sedikit. Sedangkan hal-hal yang kecil atau sedikit itu adanya pada bagian-bagian yang nylempit atau menyisip atau tersembunyi pada bagian-bagian yang rinci, dan oleh karena itu perlu ketelitian untuk mampu melihat atau meraihnya.

Bagi pengusaha atau mereka yang bergerak di bidang usaha ritel, pasti paham bahwa bisnis ritel adalah tipikal sebuah bisnis yang membutuhkan perhatian lebih pada urusan-urusan detil. Meski sebenarnya bukan juga monopoli usaha ritel. Usaha apapun pasti membutuhkan perhatian pada hal-hal detil. Hanya saja untuk bidang usaha peritelan, masalah perdetilan ini memang lebih nampak terlihat dan terjalani sebagai bagian tak terpisahkan dari berjalannya bisnis itu sendiri.

Direncana atau tidak, disadari atau tidak, diketahui atau tidak, perdetilan itu ada di sana sebagai sumberdaya (resource) yang akan menentukan banyak atau sedikitnya keuntungan. Tinggal pandai-pandainya sang pelaku bisnis untuk menangkap dan mendayagunakan.

Sekedar untuk menyebut sebagian saja dari banyak contoh, ilustrasi berikut ini akan memperjelas tentang perdetilan itu.

  1. Uang recehan Rp 100,- barangkali tidak berarti banyak dalam laku keseharian kita. Dalam kenyataannya kini uang receh cepek-an ini semakin sulit diperoleh. Tapi jika menyangkut sebuah komoditi (katakanlah permen atau makanan kecil) yang harga jualnya Rp 500,- atau Rp 1.000,- maka uang cepek itu nilainya adalah 20% atau 10%. Belum lagi kalau menyangkut uang kembalian yang nilainya setara dengan sebiji atau dua biji permen. Kalau saja ada 100 orang yang transaksinya menyisakan plus atau minus Rp 100,- maka nilainya menjadi tidak lagi kecil. Karena itu, uang kecil ini perlu dikelola dengan baik dan teliti, baik demi kepentingan penjual maupun pembeli.
  1. Kulakan gula karungan tentu lebih murah dibanding kulakan gula kiloan. Meski selisihnya relatif kecil, tapi kalau frekuensi kulakannya sering dan dalam jumlah banyak tentu menjadi besar. Setelah dikulak pun masih menuntut ketelitian dan ketekunan untuk memecah menjadi bungkusan plastik setengah atau sekiloan. Takarannya minimal harus pas atau untuk amannya dilebihkan sedikit. Aman dalam pengertian agar tidak mengurangi takaran timbangannya. Aktifitas ini memang rentan terhadap laku curang mengurangi berat timbangan, meski itu hanya seperempat sendok. Kenapa dilebihkannya hanya sedikit? Sebab kalau kebanyakan nanti jangan-jangan jumlah plastikannya jadi kurang, artinya kerugian. Karena berat sekarung gula 50 kg mestinya kalau dibungkus sekiloan menjadi 50 kilo pas. Tidak lebih, tidak kurang.
  1. Setiap jenis (atau biasa disebut item) barang, variannya luar biasa banyaknya. Ambil contoh sabun. Pertama berdasarkan merek, kedua bentuknya (padat atau cair), ketiga ukurannya (berat atau isi), keempat aromanya atau mungkin kegunaannya. Belum lagi untuk jenis tertentu ada diskon harga atau harga promosi atau ada bonus. Masing-masing memerlukan penanganan yang teliti baik dari segi harga jual, margin keuntungan, input data ke dalam sistem, pemajangan (display) di rak, penataan agar menarik, penanganan kalau ada yang rusak, dsb.
  1. Penempatan atau penyimpanan stok untuk setiap item barang juga memerlukan kejelian dan ketelitian. Bagaimana agar mudah dicari, diambil, diperiksa, tidak mengganggu tampilan, rapi, aman (antara lain dari hujan dan tikus). Ketidakteraturan dalam penyimpanan stok bisa berakibat barang terselip, dikira stok sudah habis, tidak tahunya sebenarnya masih ada. Ketidakrapian juga bisa berakibat stok rusak, sehingga perlu dikelola tersendiri untuk dikembalikan atau dilakuan penukaran misalnya. Kalau tidak, maka bisa berarti kerugian. Meski seringkali menyangkut barang kecil dan “tidak seberapa” harganya, tapi kalau terakumulasi menjadi banyak.
  1. Memasukkan data pembelian (kulakan) ke dalam sistem. Seringkali ada jenis barang tertentu yang diberikan diskon khusus atau bonus tambahan. Terkadang hanya 0,5% atau malah 0,25%. Angka-angka kecil dan njlimet seperti ini pun perlu ditangani dengan teliti dan jangan sekali-kali diabaikan. Sebab (sekali lagi) ketika diakumulasi untuk sekian tumpuk barang, nilainya menjadi besar. Bahkan ketika kulakan pun tawar-menawar diskon dengan sales atau pemasok bisa alot hanya untuk angka-angka “receh” seperti itu.
  1. Penataan barang dagangan di atas rak juga perlu sentuhan seni tersendiri, agar menarik dan enak dipandang oleh pembeli. Harapannya tentu agar konsumen “tergoda” untuk melihat, mengambil, lalu memasukkannya ke dalam keranjang belanja. Penataan atau penampilan yang kurang diperhatikan oleh toko, bisa menyebabkan calon pembeli enggan mendekati, karena kotor misalnya, atau tergeletak tidak beraturan.
  1. Rak atau lemari kaca yang tidak tersusun baik, bola lampu putus atau penerangan yang seadanya, lantai yang kotor, cara berpakaian pelayan yang tidak rapi, susunan pengelompokan barang yang berantakan, sistem suara yang sember, perilaku pelayan yang masa bodoh, semuanya adalah hal-hal kecil dan perlu ditangani secara rinci dan teliti. Malah terkadang memberi kesan kelewat reseh. Tapi ya memang seperti itulah hal-hal detil yang tidak boleh diremehkan.
  1. Hal-hal administratif pun bisa menjadi penentu bagi kelancaran usaha ritel, termasuk absensi, catatan kinerja, urusan kepegawaian, pengarsipan, dsb, meski terkadang hanya menyangkut selembar atau dua lembar kertas.

Hal-hal tersebut di atas hanyalah sedikit contoh dari urusan detil yang kalau mau ditulis daftarnya menjadi sangat panjang. Mereka yang sudah bergerak di bisnis ini tentu sangat memahami rumit dan njlimet-nya. Intinya bahwa bisnis ritel adalah bisnis yang mengurusi hal-hal kecil, rinci dan teliti sebagai sumberdaya keuntungannya. Oleh karena itu, menjadi rumusan baku bagi pengusaha bisnis ritel ketika hendak menggapai sukses, bahwa kapakno-kapak (diapa-apapun juga) “Retail is Detail”, njlimet tapi perlu.

Dan, seninya adalah bahwa untuk setiap toko di setiap lokasi dan untuk setiap jenis komoditi akan memerlukan tingkat kedetilan yang berbeda. Bahkan setiap orang atau pengelola pun mempunyai “gaya” berbeda dalam mengelola perdetilan itu.

Akhirnya, bagi mereka yang sedang ancang-ancang untuk menekuni bisnis ini, perlu kiranya merenungkan ungkapan yang menegaskan : “if you are not detail, you better step out from retail” (kalau Sampeyan tidak mau ngurusi hal-hal detil, maka lebih baik cari bisnis yang lain, deh…).

Yogyakarta, 18 Maret 2008
Yusuf Iskandar

(NB. Sedang mulai berbenah untuk menangani hal-hal detil yang semakin lama terasa semakin membuat pecah kepala…..)

Membincang Bisnis Melalui Kelompok Master Mind

10 Maret 2008

(Catatan dari diskusi kelompok komunitas TDA Joglo)

MM4_TDA-Joglo

(Foto dari kiri ke kanan : Ichsan, Huda, Djoko, Yusuf, Memetz)

Pengantar :

TDA adalah kependekan dari Tangan Di Atas, yaitu sebuah jaringan komunitas bagi para pengusaha dan calon pengusaha yang ingin saling memberi. Sesuai dengan namanya, “tangan di atas” adalah perlambang dari seorang “pemberi”, berarti yang memberi penghasilan atau gaji (kepada karyawan), yang berarti juga yang memberi ilmu (kepada sesama), yang memberi manfaat (pada orang banyak). Maka anggota komunitas TDA adalah para pengusaha dan calon pengusaha yang mempunyai usaha, yang berminat mengembangkan usaha dan yang ingin mengetahui informasi peluang dan perkembangan usaha (bisnis).

Salah satu media yang digunakan “hanya sebagai alat” untuk berkomunikasi adalah milis (mailing list). Milis ini mempunyai misi untuk menjadi sarana berbagi (sharing) dan komunikasi bagi para pengusaha, calon pengusaha atau pengusaha pemula untuk bersama-sama membuka pasar, menjalin kerja sama dengan produsen, mencari alternatif dukungan finansial dan saling membimbing.

Dalam perkembangannya, agar komunikasi lebih efektif, maka dibentuk kelompok diskusi yang lebih kecil berdasarkan kawasan geografis dimana anggota atau aktifitasnya berada. Salah satu diantaranya adalah TDA Joglo atau Tangan Di Atas daerah Jogja – Solo dan sekitarnya yang dibentuk pada tahun 2007. Awalnya TDA Joglo dibentuk sebagai bagian dari komunitas TDA yang dibentuk di Jakarta oleh Bapak Roni Yuzirman pada tahun 2006 yang pada saat ini sudah mempunyai lebih 1.850 anggota yang tersebar di seluruh Indonesia sampai ke manca negara.

Dalam perkembangannya kini, TDA Joglo tidak hanya berkonotasi georafis untuk mewadahi kegiatan bisnis anggotanya di daerah Jogja – Solo dan sekitarnya saja. Embel-embel “joglo” berarti bangunan tradisional Jawa yang melambangkan sebagai pelindung atau wadah bagi segenap anggotanya yang merasa memiliki ikatan emosional kedaerahan khususnya wilayah Jateng – DIY (tidak dalam pemahaman yang eksklusif dan fanatis). Diharapkan komunitas ini dapat berkembang di daerah-daerah sehingga akan semakin menguatkan jaringan kerja antar anggotanya yang tersebar di seluruh Indonesia dan manca negara.

Istilah-istilah yang sering digunakan dalam komunitas ini, antara lain :

  • TDA (Tangan Di Atas, adalah sebutan bagi mereka yang sudah sepenuhnya menjadi pengusaha, tidak perduli seberapa besar atau kecilnya skala usaha atau bisnisnya).
  • TDB (Tangan Di Bawah, adalah sebutan bagi mereka yang masih berprofesi sebagai orang gajian, pegawai/karyawan, tidak perduli seberapa besar atau kecilnya perusahaan tempatnya menerima gaji atau seberapa besar gaji yang diterimanya).
  • Amfibi (sebutan bagi mereka yang menjalankan fungsi ganda antara sudah TDA dan masih TDB).

——-

Hari Minggu yang lalu, 9 Maret 2008, bertempat di rumah saya di kawasan Umbulharjo, Yogyakarta, telah diadakan sebuah pertemuan kecil yang disebut dengan Master Mind (MM). Ini adalah kelompok kecil terdiri kurang dari 10 orang. Ada beberapa kelompok kecil yang dibentuk di bawah TDA Joglo yang berujuan agar diskusi dapat lebih fokus dan efektif. Dalam forum kecil inilah segala macam informasi atau permasalahan yang dimiliki atau dialami oleh anggota kelompoknya dapat didiskusikan bersama dan dipecahkan untuk dicarikan solusinya secara bersama pula.

Bagaikan sebuah keluarga, maka setiap orang merasa tidak sendirian dengan permasalahan usaha atau bisnis yang sedang dihadapinya, melainkan ada anggota keluarga lain yang membantunya. Kesuksesan yang sedang diraih oleh salah seorang anggota pun adalah kesuksesan bersama sehingga dapat menjadi motivator bagi anggota yang lain dalam mengembangkan usahanya.

Pertemuan Master Mind yang diadakan di rumah saya itu adalah pertemuan pertama bagi kelompok ke-4 dari Master Mind di wilayah Jogja, maka sebut saja kelompok ini dengan Master Mind 4 (MM4) TDA Jogja.

Anggotanya ada mas Memetz (seorang yang telah berpengalaman di bidang manajemen minimarket dan menekuni art & craft, masih berstatus amfibi), mas Djoko Mukti (seorang pengrajin tas berbahan natural yang baru saja banting setir dari TDB menjadi TDA), mas Ichsan Santoso, (seorang pengusaha toko swalayan dan grosir pakaian bernama “Manfaat Fashion”), mas Huda (aktif di dunia cetak-mencetak, masih berstatus TDB), dan saya sendiri yang tiga tahun lalu banting setir menjadi TDA dan lalu membuka usaha toko ritel bernama “Madurejo Swalayan”. Selain itu, pertemuan ini juga dihadiri mas Bams Triwoko (penggiat TDA Joglo yang tak kenal lelah memotivasi warganya, yang juga adalah pemilik berbagai bidang usaha).

Di antara beberapa topik yang didiskusikan dalam peremuan awal MM4 TDA Jogja ini adalah berbagai hal terkait dengan bisnis toko swalayan atau toko ritel. Dari sharing tentang pengalaman menjalankan bisnis toko ritel, maka berbagai masalah dan kendala yang selama ini sering dihadapi lalu diangkat sebagai topik diskusi. Banyak masukan-masukan sangat positif dan berharga dari para anggota MM4 TDA Jogja tentang bagaimana seharusnya atau sebaiknya hal itu ditangani dan dicarikan solusinya.

Bagi saya yang sedang merintis dan mengembangkan usaha toko “Madurejo Swalayan”, tentu saja bisa banyak belajar dari pengalaman dan semangat sedulur-sedulur muda yang telah menunjukkan semangat kewirausahaan yang sungguh luar biasa.

Rasanya pertemuan yang (padahal) sudah berlangsung hampir lima jam, tidak cukup untuk membahas berbagai hal. Waktu berlalu begitu cepat. Itu karena setiap kalimat yang diketengahkan sepertinya menjadi sangat berharga, sehingga menjadi tidak membosankan. Lebih berarti lagi dengan diselingi suguhan teh jahe, gorengan, nasi goreng dan bakmi.

Komitmen perlu dimantapkan, bahwa pertemuan pertama ini (Insya Allah) akan bersambung dengan pertemuan-pertemuan berikutnya dengan mengangkat berbagai topik dan permasalahan yang dihadapi oleh anggotanya untuk dicarikan jalan keluarnya, termasuk berbagai peluang yang dapat digali untuk dikembangkan.

Semoga pertemuan pertama MM4 TDA Jogja ini menjadi langkah awal yang baik, seperti halnya “spirit” yang sudah dibuktikan oleh anggotanya untuk menuju rumah saya di Umbulharjo yang ternyata alamatnya rodo angel golek-golekane (agak susah dicarinya) di saat sore menjalang petang di bawah cuaca hujan deras. Hanya karena motivasi yang tinggi saja yang menjadikan pertemuan pertama MM4 TDA Jogja jadi berlangsung, meski hujan turun sangat deras dan listrik sempat padam di awalnya.

Maka, “Madurejo Swalayan” siap untuk berkembang lebih cepat seiring dengan karep-nya yang punya toko, bukan sekedar membangun bisnis kecil-kecilan, melainkan dengan visi besar-besaran. Insya Allah… God Speed…

Umbulharjo – Jogja, 10 Maret 2008
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.