Archive for the ‘Makan-makan’ Category

Tentang Catatan Makan-makan (Wisata Kuliner)

9 Februari 2009

Mohon dimaklumi bahwa kumpulan catatan saya tentang perjalanan MAKAN-MAKAN (alias Wisata Kuliner) selanjutnya akan saya pindahkan dan kumpulkan ke blog yang satunya, yaitu : Catatan Perjalanan Yusuf Iskandar, di bawah judul the Adventure of MAKAN-MAKAN. Ini adalah blog saya yang khusus mendongeng tentang perjalanan, kluyuran, unek-unek dan apa saja, meskipun sebagian catatan kuliner yang lama masih tetap ada di halaman ini.

Hal ini saya maksudkan agar blog Catatan Dari Madurejo ini dapat lebih berfokus ke perkara seluk dan beluk kewirausahaan dan inspirasi bisnis untuk membangun visi enterpreneurship. Tentu saja dengan referensi khusus warung ritel “Madurejo Swalayan” yang saat ini sedang saya kelola dan kembangkan.

Demikian untuk menjadikan maklum adanya, dan untuk itu dihaturkan beribu terima kasih.

Salam,
Yusuf Iskandar

NB :
Pesan Pak Bondan Winarno agar tetap sehat dan tetap semangat untuk jalan-jalan dan makan-makan.

Mie Koba Yang Bertahan Turun-temurun

25 Agustus 2008

Berkendaraan dari kota Pangkal Pinang, ibukota provinsi Bangka-Belitung, kira-kira sejauh 55 km ke arah tenggara akan membawa kita ke kota Koba. Perjalanan menuju Koba, ibukota kabupaten Bangka Tengah, lumayan enak dan menyenangkan. Kondisi jalan secara umum bagus dan mulus, hanya pada menjelang masuk kota lebar jalannya agak pas-pasan untuk papasan.

Sekitar 20 km sebelum Koba, rute perjalanan melintasi kawasan pantai utara pulau Bangka dengan tebaran pohon kelapa menghiasi di sepanjang pandangan ke arah kiri, khas pemandangan indah di pesisir. Sedang di sisi kanan jalan umumnya adalah dataran terbuka dengan semak dan sedikit pepohonan tinggi.

Lima tahun yang lalu, sebelum pembentukan provinsi baru Bangka-Belitung, Koba hanyalah kota kecamatan. Hingga kini populasinya tidak terlalu padat, hanya dihuni oleh sekitar 50 ribu jiwa penduduknya. Karena itu kenampakan kota ini relatif sepi, tidak hiruk maupun pikuk. Hanya saja saat saya melintas di kota ini beberapa hari yang lalu, sepanjang jalan utamanya penuh dengan sampah dan tampak sangat kotor. Maklum, karena sehari sebelumnya ada keramaian 17-an dan kelihatannya terlambat dibersihkan. Mudah-mudahan terlambatnya tidak kebablasan agar kota yang menjuluki dirinya “Bumi Selawang Segantang” itu tetap tampil asri dan bersih.

Koba memang sedang berbenah, mengejar ketertinggalannya dengan kota-kota kabupaten lainnya. Berbagai sektor sedang digarap oleh pemerintahnya, tak terkecuali pariwisata. Cuma pemerintah daerah Koba sedang agak gusar menemukan apa makanan khas Bangka Tengah. Sebab urusan makan-memakan ini seringkali menjadi menu unggulan dalam menjual potensi daerah agar menarik dikunjungi.

Nampaknya pemerintah setempat tidak kurang akal. Di Koba ada warung mie kuah yang cukup terkenal. Mie kuah ini memang agak berbeda dengan bakmie rebus yang banyak dijumpai di daerah-daerah lain. Belakangan terbersitlah ide untuk mengangkat mie kuah yang selama ini disebut sebagai mie koba, menyontek nama warung “Mie Koba” yang ada di kota Koba, menjadi salah satu makanan unggulan dari Bangka Tengah.

Kalau langkah ini berhasil, tentu merupakan langkah terobosan yang menarik. Popularitas tidak selalu terkait dengan bawaan alamiah. Banyak contoh produk jadi-jadian yang bisa populer karena kepiawaian dalam melakukan “packaging” dan “branding”, hingga akhirnya orang tidak perlu lagi mengingat dari mana asal bin muasalnya melainkan seperti apa produk akhirnya.

***

Di salah satu sudut deretan warung-warung makan di Jl. Pos, kota Koba, ada sebuah warung yang sangat sederhana. Saking sederhananya malah kemudian cenderung berkesan kumuh dan seadanya. Nama warungnya “Mie Koba”. Warung ini sudah ada di sana sejak puluhan tahun lalu dan dikelola secara turun-temurun.

Namun warung ini banyak dikunjungi orang yang kebetulan atau bahkan sering melintas di kota Koba. Hanya ada menu tunggal disediakan di warung ini, ya mie koba itu. Satu jenis masakan mie kuah yang sebenarnya tidak terlalu istimewa. Di daerah lain mie kuah jenis ini juga banyak dijumpai.

Agak berbeda dengan menu bakmi rebus yang juga berkuah, yang kalau kita pesan baru akan diracikkan, direbus lalu disajikan dalam piring, dilengkapi dengan asesori suwiran atau potongan daging ayam. Sedangkan mie kuah di Koba ini cara penyajiannya mirip tukang bakso atau mie ayam. Bahan utama mie dan asesorinya ditebar di atas piring lalu diguyur dengan kuah panas.

Barangkali racikan mie kuah “Mie Koba” ini memang agak berbeda. Mula-mula seonggok tauge atau kecambah (istilah Jogjanya, thokolan) ditaruh di atas piring, lalu mie kuning diletakkan di atasnya, setelah itu ditenggelamkan dengan guyuran kuah panas, baru ditaburi irisan daun seledri dan bawang goreng. Tanpa daging ayam, tanpa bakso, tanpa nasi. Ketika disajikan, maka dari aroma uap panas kuahnya saja sudah mengundang selera.

Aromanya khas, karena kuahnya diramu dengan kayu manis dengan takaran yang pas. Pada sruputan pertama kuahnya, seperti membangkitkan sensasi untuk jangan terlambat dilanjutkan dengan sruputan kedua dan ketiga. Setelah panasnya agak reda, baru disendok mienya. Lalu rasakan taugenya yang kemrenyes saat dikunyah. Tidak perlu hingga 33 kali untuk mengunyahnya, keburu kuahnya dingin dan hilang hoenaknya….

Sebuah sajian mie kuah yang sebenarnya sangat sederhana. Hanya karena ada tambahan ramuan kayu manis pada takaran yang pas yang membuat mie koba ini terasa lain dari biasanya. Tapi juga aroma kayu manis ini yang membuat penikmat mie koba enggan untuk nambah, sebab habis sepiring saja rasanya sudah kenyang, nikmat dan puas. Sebuah takaran makan yang kiranya juga pas dengan takaran kantong pembelinya.

Hanya yang agak mengherankan, kendati warung mie koba ini laris manis sejak dahulu kala, tampilan warungnya ya tetap begita-begitu saja. Sangat sederhana dan terkesan seadanya. Entahlah, barangkali memang di situlah letak “keberuntungannya”, sama seperti bangunan lama milik restoran seafood Mr. Asui di Pangkal Pinang yang meski berkembang pesat dan berada di tepi jalan raya, ya dibiarkan begitu saja apa adanya.

Tapi baiknya lupakan soal “keberuntungan”, melainkan ingat saja bahwa kelezatan yang tercipta dari keterampilan memasak mie kuah “Mie Koba” itulah yang menjadi kunci kelanggengan usahanya yang hingga kini bagai tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Tetap banyak didatangi para penggemarnya.

Yogyakarta, 25 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Seafood Mr. Asui, Sebuah Ikon Kuliner Di Pangkal Pinang

24 Agustus 2008

Sebuah bangunan lama dengan tampilan luar sangat sederhana, bahkan terkesan tidak terawat, dan tetap dibiarkan seperti itu hingga kini. Bangunan itu dulunya adalah restoran seafood yang hingga kini sangat terkenal di kawasan pulau Bangka, provinsi Babel (Bangka-Belitung). Seafood Restaurant Mr. Asui, namanya. Cara penamaannya yang keminggris, telah menjadi merek dagangnya sendiri.

Kini restoran Mr. Asui menempati bangunan yang tampilannya relatif lebih baru yang berada di belakangnya. Ada sebuah gang selebar 2,5 meteran sepanjang 15 meteran yang menghubungkan jalan besar menuju restoran yang berada di dalam gang. Lokasi restoran ini nyaris berada di posisi tusuk sate, di Jl. Kampung Bintang, Pangkal Pinang. Sangat mudah dicapainya, terutama dari jalan protokol Jl. Jendral Sudirman. Rasanya siapapun pasti tahu dimana restoran Mr. Asui berada.

Seafood Restaurant Mr. Asui seperti sudah menjadi ikon kuliner menu ikan laut di Pangkal Pinang. Menjadi tempat jujukan para penggemar menu masakan seafood yang kebetulan berkunjung ke Pangkal Pinang, tak terkecuali para pejabat dan selebriti. Menu masakan mahluk laut yang ditawarkan cukup komplit dengan citarasa yang tergolong enak.

***

Malam itu, kami tertarik untuk mencoba menu ikan jebung bakar, kakap bakar dan kepiting saos tiram, di antara sekian banyak pilihan ikan laut. Lalu, sepiring ca kangkung adalah asesori sayuran yang kami pesan.

Nama ikan jebung agak asing di telinga saya. Di tempat lain ikan jebung ini disebut juga ikan kambing-kambing (entah kenapa nama kambing tidak cukup disebut sekali saja, melainkan diulang dua kali). Disebut kambing-kambing karena memang profil wajah ikan ini kalau dilihat dari samping sangat mirip dengan prejengan wajah kambing yang sedang meringis kelihatan gigi-giginya.

Tidak seperti ikan bakar biasanya di tempat lain, ikan bakarnya engkoh Asui, baik ikan jebung maupun kakap yang kami pesan, dibakar begitu saja dengan tanpa dibumbui terlebih dahulu. Kalau digado atau dimakan ikannya saja tentu terasa hambar tak berasa. Yang khas di restoran ini adalah sambal cairnya yang menjadi teman makan ikan bakar. Sambalnya berasa manis dan asam. Pas benar kalau dicocol dengan suwiran ikan bakar yang tak berbumbu.

Sambal cair yang warnanya menyerupai saos tomat ini selalu tersedia di atas meja bersama dengan jeruk kunci dan cabe rawit merah. Jeruk kunci adalah salah satu jenis jeruk yang sepertinya jarang saya jumpai di tempat lain. Berukuran sebesar kelereng, sedikit lebih kecil dari jeruk purut, kulitnya halus dan biasa digunakan sebagai penambah rasa asam seperti halnya cuka atau jeruk nipis.

Sebaiknya dimakan pada saat masih fanas (pakai awalan ‘f’, saking masih panasnya…) atau sebelum dingin. Sebab kalau sudah dingin, serat-serat ikan jebung akan menjadi agak keras ketika digigit dan rasa seafood-nya menjadi kurang mak nyuss… dan malah membuat mudah nek

Bumbu tiram yang mengguyur kepitingnya juga begitu lebih berasa dan berasa lebih. Lebih-lebih kalau dapat kepiting perempuan dengan gumpalan butir-butir telurnya yang berwarna jingga dan kenyal digigit. Kalau kebanyakan nasinya, maka kuah saos tiramnya pun pas benar dicampur untuk menghabiskan nasi putih.

Bagi penggemar menu seafood, Seafood Restaurant Mr. Asui sebaiknya jangan dilewatkan bila sekali waktu berkesempatan berkunjung ke Pangkal Pinang, Bangka. Konon sudah banyak orang-orang Pangkal Pinang yang mencoba berwirausaha membuka restoran sejenis, tapi kebanyakan tidak mampu bertahan lama. Tidak sebagaimana restorannya engkoh Asui yang seperti melegenda dan identik dengan menu masakan seafood di kawasan kota Pangkal Pinang pada khususnya dan pulau Bangka pada umumnya. Entah apa rahasianya.

Yogyakarta, 24 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Pilih Trekulu Atau Bandeng Bakar Di Warung Padaidi

5 Juni 2008

PadaidiKali ini saya ingin mencari warung makan murah-meriah di Balikpapan, budgeted food barangkali istilah Londo-nya. Rumah makan yang harganya cocok bagi mereka yang beranggaran pas-pasan, tanpa mengorbankan kepuasan dan kenikmatannya. Di Balikpapan memang banyak pilihan makan ikan-ikanan, mulai yang kelas menengah ke atas hingga atas sekali, sampai yang kelas menengah ke bawah hingga bawah sekali.

Lalu meluncurlah ke warung makan Padaidi. Kalau boleh ini saya kelompokkan ke dalam kelas menengah ke bawah, dari sisi harganya. Lokasinya tidak jauh dari bandara Sepinggan, Balikpapan. Begitu keluar dari bandara langsung belok kanan, masih di Jalan Marsma Iswahyudi, mengikuti jalan alternatif yang menuju ke Samboja atau Muara Jawa. Tidak jauh dari bandara setelah melewati jembatan, warung Padaidi ada di sisi kanan jalan. Dari luar memang kurang telihat jelas keberadaan warung yang lebarnya hanya empat meteran ini. Kurang tampak tampilan warungnya karena tertutup oleh spanduk lebar berwarna hijau toscha pudar.

Apa yang menarik dengan menu makan di warung ini? Pada spanduknya tertulis “sedia ikan bakar dan ayam bakar”. Namun cobalah untuk memesan menu ikan bakarnya dan pilihlah antara ikan trekulu bakar atau bandeng bakar. Inilah menu unggulannya.

Ikan bakar yang disediakan biasanya sudah dipotong-potong. Satu porsi bandeng atau trekulu bakar hanya berupa sepotong ikan yang berukuran sedang. Kira-kira setiap ekornya dipotong menjadi empat, satu bagian kepala, dua bagian badan dan satu bagian ekor. Dagingnya yang tebal dan padat, cukup untuk dihabiskan bersama sepiring nasi putih, secawan sambal dan lalapannya yang terdiri dari kol, mentimun dan kacang panjang. Nasinya disediakan dalam wadah tersendiri, sehingga bisa bebas kalau mau nambah.

Agak istimewanya, setiap porsi disertai dengan kuah sop kaldu ikan yang hanya berisi sedikit potongan kecil wortel, kentang dan daun bawang. Itupun hanya sepertiga mangkuk isinya. Sekedar membantu membangkitkan selera makan, memperlancar masuknya makanan menuju tembolok dan (sudah barang tentu) sedap benar rasa kaldu ikannya. Sambalnya yang tidak terlalu pedas juga enak dan membuat ingin terus mencocolnya.

Potongan-potongan ikan itu dibakar menggunakan bara api. Tingkat kematangannya bisa merata dan tidak sampai menimbulkan bagian-bagian kulit ikan yang kelewat gosong. Akibatnya tingkat keempukan daging ikannya juga merata. Pas untuk dicuwil pakai tangan, pas untuk dicocolkan sambalnya yang berwarna jingga dan sedap itu, dan pas untuk dikunyah 33 kali, kalau sabar…..

Meski hanya sebuah warung kecil, tapi bila tiba jam makan siang seringkali calon pemakan harus rela antri untuk dilayani. Sesuai kelasnya, kebanyakan pelanggannya adalah pegawai atau karyawan perusahaan yang banyak tersebar di sepanjang jalur alternatif Balikpapan – Samboja. Banyak juga yang pesan untuk dibungkus dibawa pulang, atau untuk makan siang di kantor.

“Padaidi”, nama warung ini, dalam bahasa Bugis berarti “bersama kita”. Siapa saja boleh meneruskan kata itu dengan apa saja, termasuk “bersama kita bisa” atau “bersama kita makan ikan” (saya lebih suka yang kedua…). Tapi Padaidi juga adalah nama sebuah kota kecil di Sulawesi Tenggara. Bisa jadi pemiliknya berasal dari sana.

Jam buka warung ini biasanya pagi, tapi jam tutupnya ternyata tidak tentu. Begitu persediaan ikan habis, ya tutup. Dan biasanya kalau cuaca lagi cerah, menjelang sore sudah habis. Seperti pengalaman saya ketika hendak mampir untuk kedua kalinya di waktu sore, ternyata sudah tutup. Entah kenapa pemilik warung yang orang asli Bugis, sudah enam tahun ini tidak berniat untuk menambah stok sehingga bisa buka sampai malam. Barangkali memang sesederhana itulah “strategi” bisnisnya.

Yogyakarta, 5 Juni 2008
Yusuf Iskandar

Melahap Pecel Mbok Sador Menjelang Tengah Malam

24 Mei 2008

mbok sador_1

Detik-detik kelaparan saat terlambat makan malam sebenarnya sudah hampir lewat, bisa-bisa perut kembali menjadi kenyang dan tidak kepingin makan berat lagi. Ke kawasan Simpang Lima Semarang malam itu akhirnya kami menuju. Sebab di sana banyak pilihan makan. Simpang Lima adalah salah sebuah kawasan bisnis di kota Semarang yang kalau malam di sekelilingnya betebaran warung-warung tenda yang menyediakan aneka pilihan jenis makanan. Apalagi kalau malam Minggu, kawasan ini cukup ramai dan padat.

Berhenti di sisi selatan Simpang Lima, di ujung utara Jalan Pahlawan, tepatnya di seberang barat Ramayana, terdapat sebuah warung tenda yang menyajikan menu utama pecel. Sepintas warung ini biasa-biasa saja. Di tengah kebingungan mau makan apa, lalu seorang teman sambil agak kurang yakin merekomendasi untuk mencoba menu pecel di warung ini. Semangat untuk makan malam pun segera muncul kembali. Masuklah kami ke warung pecel Mbok Sador.

Kalau menilik nama warungnya memang tidak gaul babar blass….. Tapi, jangan tanya perkara rasanya ketika sudah melahap se-pincuk pecelnya mbok Sador. Nyemmm…. (tanya saja tidak boleh…., karena sebaiknya langsung dicoba saja kalau pas ke Semarang).

Namanya juga pecel, jadi tampilannya ya begitu-begitu juga. Tapi campuran sayurannya cukup komplit. Ada daun ubi, daun pepaya, kenikir, bayam, kacang panjang, kol, thokolan (kecambah atau tauge), lalu diguyur dengan sambal kacang hingga sayurannya tertutup merata. Penjualnya akan tanya pakai peyek (rempeyek) kacang atau teri, masih ada tambahan kerupuk gendar. Kalau bingung, tinggal bilang dicampur semuanya saja. Dijamin semuanya kemripik dan enak.

Rugi sekali kalau melahap pecel mbok Sador hanya dengan campuran “standar”. Sebab telah disediakan menu penambah selera menghampar di depan mata. Tinggal bilang mau ditambah apa. Ada tahu atau tempe bacem, sate keong, sate usus, sate telor puyuh, sate gatra (telur ayam yang belum jadi), rempela ayam, potongan daging sapi, iso, babat, paru dan limpa sapi.

Bumbu sambal kacangnya sebenarnya biasa saja. Tumbukan kacang tanah tetapi tidak halus sekali sehingga masih terlihat banyak butir-butir tumbukan kasar bijih kacang tanahnya. Ketika saya tanya apa ada resep khususnya, dijawab oleh mbak penjualnya yang supel dan murah senyum bahwa resepnya biasa saja. Tapi ketika bumbu sambal kacang yang biasa-biasa saja itu disiram merata di atas campuran sayuran yang sudah ditambah dengan pilihan menu penggugah selera……., wuih….. terasa benar sedapnya. Tidak terlalu pedas, tidak terlalu manis, agak gurih dan ….. pokoknya hoenak pol…..

Semua itu disajikan dalam sebuah pincuk yang terbuat dari selembar potongan kertas yang di atasnya di-lambari dengan daun pisang lalu dibentuk menjadi wadah seperti corongan terbuka tapi tidak berlubang bawahnya. Se-pincuk pecel mbok Sador yang barangkali setara dengan sepiring munjung, malam itu pun habis tak bersisa. Kalau menuruti selera, ingin rasanya nambah lagi, tapi kapasitas perut saya rasanya sudah maksimum. Jadi cukuplah satu pincuk saja. Satu pincuk pecel yang nilainya sangat memuaskan.

***

mbok_sador_2

Warung kaki lima pecel mbok Sador ini memang sudah cukup kesohor di Semarang. Setiap hari melayani pelanggannya sejak jam lima sore hingga jam sebelas malam. Habis tidak habis, pokoknya jam sebelas malam (terkadang lebih sedikit) bubar. Kalau sisa ya anggaplah resiko bisnis. Dengan bahasa sederhana, begitulah kira-kira kata mbaknya yang jualan malam itu. Kini, pelanggan pecel mbok Sador akan lebih sering dilayani oleh seorang anak perempuannya dan seorang cucu-keponakannya.

Mbok Sador sendiri kini memang sudah sepuh dan lebih banyak tinggal di rumahnya di Kampung Gandekan, Semarang. Di kampung Gandekan pula mbok Sador dibantu keluarganya juga masih berjualan pecel. Kalau beliau kangen dengan warung pecelnya yang di Simpang Lima, sesekali beliau berkunjung dan sesekali pula ikut melayani pembeli. Namun biasanya tidak bertahan lama. Maklum sakit rematik yang dideritanya sudah tidak bisa diajak kompromi.

Namun patut dicatat bahwa usaha warung pecelnya yang mulai dibuka sejak kawasan Simpang Lima Semarang masih tertutup untuk pedagang kaki lima di sekitar tahun 1993 itu hingga kini tetap berkibar dan disukai oleh banyak pelanggannya. Manajemen pelayanannya sangat sederhana. Penjual pecel yang bertugas melayani pembeli juga merangkap sebagai pencatat apa yang dimakan oleh pembeli. Bukan pencatat order, karena pembeli langsung menyampaikan orderannya ketika menu disiapkan. Penjual pula yang merangkap sebagai kasir.

Semua pekerjaan itu dilakukan sambil duduk melayani pembeli menghadap sebuah meja setinggi kira-kira 50 cm yang di atasnya terhampar semua bahan ramuan pecel dan asesorinya. Di seputar meja display aneka menu pecel itu terdapat bangku tempat duduk bagi pembeli yang ingin makan sambil duduk menghadap penjualnya. Di belakangnya lagi tersedia banyak kursi plastik dan meja kalau bangku kelas utama yang di depan penuh. Sangat sederhana. Sesederhana suasana warungnya yang santai dan membuat betah.

Agaknya saya dan teman-teman yang saat menjelang tengah malam itu mampir ke warung pecel mbok Sador tidak salah pilih. Harganya wajar (tentu saja semakin banyak asesori ditambahkan, menjadi semakin mahal) dan yang penting rasanya pas dan memuaskan. Kepuasan itu tercermin ketika esok malamnya, juga menjelang tengah malam, saya dan teman-teman sepakat untuk kembali ke warung pecel mbok Sador untuk kedua kalinya. Dan, di kali yang kedua ini lebih siap untuk memilih asesori menu penggugah selera yang mau ditambahkan. Bahkan saking enaknya menikmati peyek kacang dan teri, oleh penjualnya saya dipersilakan untuk nambah dan ngambil sendiri. Weleh….., mbok Sador memang luar biasa, pecelnya maksudnya…..

Yogyakarta, 24 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Istirahat Makan Siang Di Kampoeng Kopi Banaran

19 Mei 2008

Banaran_1

Menempuh perjalanan Yogyakarta – Semarang atau Solo – Semarang atau sebaliknya, adakalanya menjadi membosankan, terutama bagi mereka yang sudah sering midar-mider di jalur itu dengan kendaraan pribadi. Kalau istirahat bisa dianggap sebagai obatnya, maka ada pilihan untuk mencoba beristirahat di Kampoeng Kopi Banaran.

Kampoeng Kopi Banaran adalah sebuah area tempat makan di pinggiur jalan yang bernuansa alam bebas. Kawasan yang juga menyebut dirinya Wisata Agro ini terletak di Jl. Raya Bawen – Solo km 1,5 tidak jauh dari pertigaan terminal Bawen ke arah selatan pada jalur yang menuju kota Salatiga dan Solo, Jateng. Lokasinya persis berada di tikungan jalan, sehingga pengunjung dari arah utara perlu ekstra hati-hati untuk masuk ke lokasi yang berada di sisi barat jalan ini.

Sejenak menyeruput kopi tubruk yang mak thengngng… sensasinya, bisa mengubah suasana batin para sopir menjadi lebih segar. Bagi mereka yang tidak biasa minum kopi hitam, masih banyak pilihan minuman panas atau dingin turunan dari kopi dan teh, atau minuman es-esan. Menu unggulannya memang kopi, sesuai namanya. Barangkali memang gagasan utamanya adalah menyediakan tempat pemberhentian atau peristirahatan yang menyenangkan bagi mereka yang sedang capek menempuh perjalanan berkendaraan.

Kalau kemudian sruputan kopi tubruk dirasa belum cukup (dan biasanya memang begitu…), ada tersedia banyak pilihan menu makan. Makanannya disajikan secara khas di atas wadah piring terbuat dari anyaman bambu yang di-lambari dengan daun pisang. Aneka masakan ayam kampung adalah lauk utamanya. Rasa masakannya tergolong enak dengan racikan bumbunya pas banget di lidah orang kebanyakan. Harga yang harus dibayar pun tergolong wajar.

Selain masakan ayam kampungnya yang pokoknya enak banget, jangan lupa untuk juga mencicipi tahu goreng bandungan plus sambalnya. Tahu khas dari daerah Bandungan, Ambarawa ini gigitannya terasa kenyal dan gurih dan hoenak tenan….., tapi tidak memberi efek kenyang. Serasa tidak akan cukup kalau hanya mencocol satu, dua, tiga, empat atau lima potong tahu gorengnya. Membeli yang belum dimasak untuk dibawa pulang pun bisa.

Sambil menikmati makan siang, alunan irama musik keroncong dan campursari yang dibawakan oleh sekelompok pemusik seolah-olah mengiringi irama yang sama di perut pengunjungnya. Sambil menunggu nasi di tembolok turun ke usus halus sebelum tubuh beranjak melanjutkan perjalanan, sambil kepala lenggut-lenggut seperti sapi kekenyangan mengikuti alunan musik keroncong sederhana. Nglaras benar……

***

Keunggulan lain lain dari Kampoeng Kopi Banaran ini selain masakannya yang enak dan lokasinya yang mudah dicapai, adalah bahwa kawasan ini cocok untuk dijadikan obyek tujuan wisata. Resto atau kafe ini menempati sebagian kecil dari kawasan perkebunan kopi seluas lebih 400 hektar milik PT Perkebunan Nusantara IX. Meski sebenarnya sudah sejak enam tahun lalu di kawasan ini sudah berdiri warung kopi Banaran, namun pengembangan secara lebih professional sebagai kawasan wisata agro mula dibuka sejak diresmikan pada tanggal 28 Agustus 2005.

Tentu wisata agro perkopian adalah utamanya. Dan, kini di kawasan ini juga telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas taman bermain, kegiatan outbound, sarana olah raga, camping ground, kebun buah, dsb. Lokasinya yang berada pada ketinggian lebih 400 meter di atas permukaan laut cukup memberi hawa segar di lingkungan perbukitan yang berpemandangan menarik. Sehingga kalaupun hanya ingin sekedar beristirahat, maka lokasi ini cocok untuk disinggahi bersama keluarga.

Bisnis warung kopi pinggir jalan yang bernuansa elite dan kini lebih populer dengan sebutan kafe, agaknya memang lagi nge-trend. Kampoeng Kopi Banaran juga menangkap peluang itu. Maka dalam skala kawasan yang lebih kecil, warung kopi Banaran juga membuka cabangnya di daerah kecamatan Mungkid, yaitu di penggal jalan naik-turun perbukitan di antara Magelang – Ambarawa. Lokasinya yang berada di pinggir jalan tidak terlalu sulit untuk ditemukan.

Salah satu kebiasaan saya kalau menjumpai produk kopi yang khas di daerah yang kebetulan sempat saya kunjungi adalah ingin menikmati lebih puas di rumah. Karena itu sekotak kopi robusta Banaran seberat 250 gram saya cangking untuk dibawa pulang (mbayar, tentu saja…..). Sekedar agar ketika di rumah bisa lebih puas menikmati rasa kopinya yang mantap alami….., seperti yang tertulis di bungkusnya.

Yogyakarta, 19 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Ada Pilihan Sop Gurami Di Serang

15 Mei 2008

Hari sudah agak malam ketika saya tiba di kota Serang, Banten. Baru saja keluar di pintu tol Serang Timur dari arah Jakata dan perjalanan masih akan berlanjut ke kota Pandeglang. Sudah tiba waktunya makan malam. Karena itu perlu segera mencari tempat makan yang mudah ditemukan lokasinya, tidak perlu keluar jauh dari jalur utama dan tentu saja yang menunya enak, tidak harus enak sekali.

Pak sopir yang mengantar saya merekomendasikan untuk mampir ke rumah makan “S” Rizky. Menilik namanya memang berkesan kurang “menjual”. Hanya karena pak sopir menambahi, katanya : “sopnya enak, pak…”, maka saya lalu menyetujuinya.

Lokasinya mudah dicapai di dalam kota, tepatnya di Jl. Jendral Sudirman, dekat perempatan Ciceuri. Malam itu rumah makan sudah agak sepi, nampaknya memang sudah menjelang waktunya tutup. Syukurnya kami masih dilayani dengan baik.

Sesuai dengan alasan pertama mampir adalah karena katanya sopnya enak, maka menu sop-sopan segera dipesan. Ada tiga macam sop yang dtawarkan malam itu, yaitu sop buntut, sop buntut goreng dan sop gurami. Mendengar namanya saja saya sudah bingung memilih. (Lha iya, memilih satu dari tiga yang sama enaknya saja susah, apalagi memilih satu dari lebih lima puluh yang tidak sama enaknya atau sama tidak enaknya….).

Karena dimungkinkan untuk memilih dua, maka kami pesan sop buntut dan sop gurami masing-masing satu porsi. Kebetulan gurami yang ukuran kecil habis, apa boleh buat yang berukuran besar pun tidak mengapa, sepanjang tingkat keenakannya tidak berpengaruh.

Tidak terlalu lama menunggu, segera saja seporsi sop buntut Rizky, begitu judulnya, tersaji di meja. Tanpa menunggu sop gurami datang, langsung saja beraksi dengan sruputan pertama kuahnya, diikuti gigitan pertama daging buntutnya, baru dicampur dengan nasi. Dagingnya empuk benar, dipadu dengan irisan wortel, kentang, daun bawang dan kepyuran emping melinjo. Terbukti memang benar kata pak sopir tadi. Sopnya enak. Ini sudah cukup memenuhi syarat untuk memuaskan perut keroncongan.

Kemudian sop guraminya disajikan sampai munjung isi mangkuknya. Lha, wong guraminya yang ukuran besar, padahal sudah dipotong-potong. Serat-serat daging guraminya terasa sekali sejak gigitan pertama dan rasa ikannya juga masih terasa segar. Pertanda bahwa ikan guraminya masih segar. Padahal yang saya khawatirkan tadinya adalah kalau ikan guraminya sudah kurang segar, maka akan pupuslah kesedapan sop yang saya bayangkan. Paduan dalam kuahnya adalah daun bawang irisan agak besar-besar, disertai kilasan rasa jahe. Pas benar taste-ya.

***

Rumah makan “S” Rizky ini rupanya kepunyaan pak Bupati Pandeglang. Selain yang saya kunjungi di Serang malam itu, masih ada dua rumah makan lainnya yang masih satu kepemilikan yang masing-masing berada di kota Pandeglang dan Labuan.

Saya memang tidak bisa berlama-lama terhanyut dalam kenikmatan sop buntut dan sop gurami, mengingat perjalanan malam masih harus dilanjutkan 2-3 jam lagi. Itupun perut sudah terasa kenyang, wong dihadapkan dengan seporsi sop buntut plus seporsi sop gurami besar. Tentu saja tidak saya habiskan sendiri, melainkan gotong royong dengan pak sopir. Tapi ya tetap saja meyebabkan jadi agak malas untuk berdiri kembali ke kendaraan karena kekenyangan.

Setidak-tidaknya menu sop rumah makan “S” Rizky ini layak untuk menjadi pilihan bilamana sedang mampir ke kota Serang dan kepingin singgah sebentar untuk makan. Selain menu sop-sopan, di sini juga tersedia menu lainnya, termasuk aneka minuman dan jus yang dinamai menggunakan nama-nama gaul sebagai penarik. Meski tidak tergolong hoenak sekali, tapi tidak mengecewakan, terutama sop guraminya itu…..

Yogyakarta, 15 Mei 2008
Yusuf Iskandar

”Seafood of Love” Untuk Satenya Bu Entin

13 Mei 2008

Labuan hanyalah kota kecamatan di kawasan pantai barat Banten. Tidak jauh ke sebelah selatan dari pantai Carita yang belakangan lebih terkenal itu. Namun kalau kebetulan pergi berlibur ke pantai Carita, sebaiknya jangan lewatkan untuk mampir ke Labuan, lalu carilah Rumah Makan Bu Entin di Jalan Raya Labuan Encle. Kalau kesulitan, tanya saja sama orang lewat di sana pasti tahu tempatnya.

Apa yang menarik dengan rumah makan Bu Entin? Wow…, jangan kaget di sana ada sate raksasa…… Ini bukan menu satenya Buto Ijo, melainkan ya disediakan bagi pemangsa daging sejenis manusia yang kelaparan. Hanya manusia yang kelaparan yang sanggup menghabiskan beberapa tusuk satenya Bu Entin.

Coba simak deskripsi berikut ini : Satu tusuk sate hati sapi terdiri dari lima potong yang kalau di tempat lain barangkali satu potongnya ini sudah ekuivalen dengan setusuk sate. Satu tusuk sate cumi-cumi terdiri dari lima ekor masing-masing berukuran sebesar batu baterei D-size gemuk sedikit. Satu tusuk sate udang terdiri dari lima ekor masing-masing berukuran sekorek api besar sedikit dan ada juga yang lebih besar. Satu tusuk sate ikan (entah ikan apa) terdiri hanya seekor ikan laut kira-kira selebar peci hitam untuk sholat (tidak usah repot-repot sholat dulu untuk membayangkan, pokoknya cukup buesar….).

Belum lagi otak-otak yang bungkus daun pisangnya gosong di sana-sini dan masih panas, dipadu dengan dua macam sambal berwarna merah dan coklat muda. Masih ada urap, lalap leuncak, mentimun dan tauge kecil mentah, dsb.

Dari tampilannya saja (sumprit…, saya berkata sejujurnya) ludah saya sudah tertelan beberapa gelombang. Sampai bingung saya harus memulai dari mana untuk memakannya, padahal nasi sudah dituang ke piring dari beboko (ceting) yang disediakan. Akhirnya yang saya ambil duluan malah tauge mentah saya campur dengan sambal cabe merah.

Sebungkus otak-otak saya buka kemudian dan saya dulitkan (cocolkan) ke sambal yang berwarna coklat muda. Komentar saya spontan pendek saja… “Hmm…., enak…, enak sekali….”. Pilihan hasil assessment saya memang hanya dua, enak dan hoenak sekale…..

Sejurus kemudian baru setusuk cumi, setusuk udang dan beberapa potong hati sapi yang saya dudut (lolos) dari tusuknya. Itupun sudah hampir menenggelamkan nasi di piring saya, yang kemudian malah belakangan baru saya makan nasinya.

Oedan tenan……., sungguh sebuah petualangan makan-makan yang ruarrr biasa…..  Setiap gigitan dan kunyahan cumi-cumi dan udangnya terasa benar sensasi seafood bakarnya. Juga potongan hati sapinya mak kress…. di gigi ketika memotong tekstur bongkahan sate hati sapi yang dibakar hingga tingkat kematangan well done (sebaiknya jangan setengah matang).

Hampir sejam kemudian, perut sudah terasa kenyang nian…… nafsu serakah seperti sulit dikendalikan, tapi apa daya kapasitas tembolok manusia memang ada batasnya.

***

Entah dimana Bu Entin pernah belajar bisnis, namun sejak awal membuka usaha (yang kata pegawainya sejak tahun 1996), Bu Entin sudah menerapkan jurus deferensiasi. Bu Entin berani tampil beda dengan ide sate hati sapi raksasa dan sate seafood yang juga berukuran tidak biasa. Ditambah dengan adonan sambalnya yang mirasa, membuat faktor pembeda itu semakin mantap pada posisinya dan bertahan hingga kini. Akhirnya terbentuklah brand image Bu Entin yang seakan menjadi jaminan kepuasan pelanggannya.

Bu Entin memang luar biasa, masakannya maksudnya……. Meski yang menyajikan masakannya sebenarnya juga bukan Bu Entin sendiri melainkan para pegawainya. Tapi nama kondangnya sudah cukup untuk memanipulasi seperti apapun kualitas kemahiran memasak pegawainya. Siapapun pengunjung yang datang untuk menikmati sate raksasa dan sate seafood Bu Entin, maka yang terbayang adalah buah karya tangan Bu Entin.

Layaknya sebuah kesuksesan, maka kemudian berduyun-duyun para pengikut meniru jejak Bu Entin membuka usaha rumah makan sejenis di seputaran kawasan Labuan. Namun tetap saja Rumah Makan Bu Entin yang paling banyak diminati sehingga bukannya pengunjungnya berkurang, malahan semakin dikenal.

Kendati tampilan warungnya terkesan sangat sederhana, namun sajian cita rasa yang ditawarkan sungguh tidak sesederhana tampilannya, melainkan membuat kangen banyak pelanggan setianya terlebih bagi pengunjung fanatik yang sudah telanjur cocok dengan masakan Bu Entin.

Seorang pengunjungnya yang datang dari mancanegara saking terkesannya dengan masakan sate seafood Bu Entin, sampai menyempatkan untuk menuliskan sebuah puisi berjudul “Seafood of Love”, yang kini dipajang di dinding Rumah Makan Bu Entin.

Begini bunyi penggalan bait terakhirnya :

My seafood of love, my dining pleasure
Finger lickin’ food, so fresh and tasty
Breezing through my mind
You leave me breathless and wanting for more….

Tiada kata-kata yang lebih indah dapat saya ucapkan setelah berucap hatur nuhun kepada pelayannya, melainkan puji Tuhan wal-hamdulillah …… Kalau ada umur panjang, bolehlah saya kepingin mampir lagi.

Yogyakarta, 12 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Menyantap Sate Padali Sebelum Masuk Sumur

12 Mei 2008

Warung sate itu bernama Padali. Jangan salah, bahwa Padali itu bukan suaminya Bu Dali. Awalnya saya juga mengira demikian (sebutan khas orang Sunda yang biasa menulis Pa untuk Pak). Padali adalah nama tempat atau kampung dimana warung itu berada.

Warung Sate Padali saya jumpai di rute perjalanan dari arah Labuan menuju Legon, dermaga penyeberangan ke pulau Umang, Pandeglang, Banten. Kira-kira 13 km sebelum masuk Sumur, perlu hati-hati (namanya juga mau masuk sumur……). Di sana ada perempatan jalan kecil yang cukup padat kalau siang hari karena selain jalannya relatif sempit meski beraspal, tapi lokasinya berdekatan dengan pasar dan pusat kegiatan ekonomi masyarakat kampung Padali.

Untuk menuju ke Sumur, sesampai di perempatan Padali belok ke kanan. Tapi kalau mau mengisi perut dulu, ambil jalan lurus sedikit dan berhenti di sebelah kanan jalan. Sebuah spanduk warna putih bertuliskan cukup jelas memberitahu keberadaan Warung Sate Padali. Di daerah sepanjang rute ini memang tidak banyak pilihan warung makan. Setidak-tidaknya saya sudah berusaha mencarinya sejak dari kawasan Sumur dan belum menemukan yang pas di hati, hingga akhirnya ketemu warung sate Padali. Maka warung sate Padali bisa jadi pilihan di antara yang tidak banyak itu.

Apa menu yang ditawarkan? Menu unggulannya adalah sate kambing, sate sapi dan sop kikil kambing. Masih ada asesori tambahan yaitu krecek kambing. Krecek di sini bukan seperti krecek-nya orang Jogja yang disebut koyoran yang berbahan kulit sapi dan biasanya dimasak sambal goreng pelengkap gudeg atau sayur brongkos. Krecek kambing di sini adalah potongan-potongan jerohan kambing, seperti babat, usus, limpa dan kawan-kawannya, yang digoreng dan berasa gurih. Meski tersedia juga menu lainnya bagi yang tidak suka daging-dagingan.

Menyesuaikan dengan kondisi perut yang sudah mendendangkan irama macam-macam, maka malam itu saya memesan sate kambing, sopi kikil kambing, sedikit krecek kambing karena penasaran ingin mencoba rasanya, ditambah dengan petai bakar. Tidak terlalu lama untuk menunggu disajikan. Satenya disajikan dengan bumbu ganda, ada bumbu kecap dan ada bumbu kacang. Bumbu kacangnya sungguh sedap, agak manis dan agak pedas. Lebih sedap lagi ketika setusuk sate kambing panas dioleskan pada kedua bumbu yang dicampurkan. Wuih……, sepertinya tidak sabar ingin segera menelan semuanya……

Tapi namanya juga manusia, panjang ususnya tentu saja terbatas. Belum habis seporsi sate yang terdiri dari 10 tusuk, diselingi dengan mengerokoti kulit kikil kambing yang lunak dengan bumbu sopnya pas benar, masih diselingi dengan gigitan-gigitan krecek kambing, akhirnya ibarat lomba lari belum sampai garis finish sudah klepek-klepek……., kecepatan terpaksa dikurangi. Perut kemlakaren……., kekenyangan.

Paduan rasa dan bumbunya secara keseluruhan cukup memuaskan. Hanya sayangnya agak kurang pandai memilih daging, sehingga ada beberapa potong daging kambing yang kenyal dan alot dikunyah. Tapi, it’s OK. Harganya tidak semahal di kota. Di kawasan ini harga makanan relatif murah, meski lokasinya jauh dari mana-mana.

***

Penjual sate yang saya lupa menanyakan namanya dan mengaku berasal dari Purwakarta ini rupanya sudah sekitar empat tahunan berjualan sate di Padali. Kini warung satenya semakin ramai dikunjungi para pemakan (orang yang mencari makan di luar, maksudnya). Terutama sejak di dekat sana ada aktifitas ekonomi baru, yaitu usaha pertambangan emas di wilayah kecamatan Cibaliung.

Kawasan barat wilayah kabupaten Pandeglang yang selama ini dikenal sebagai daerah yang kurang subur untuk usaha pertanian, kini kehidupan ekonomi sebagian penduduknya menjadi agak terangkat. Terutama mereka yang mempunyai keterampilan untuk dididik menjadi tenaga kerja tambang. Kawasan itu juga menjadi lebih ramai dibanding sebelumnya, dengan adanya penduduk pendatang yang bekerja di tambang.

Sepasang suami-istri penjual sate itu pun kini bisa tersenyum gembira, tiga ekor kambing siap disembelih setiap harinya guna memenuhi permintaan penggemar satenya. Kalau daging sapinya cukup dengan membelinya di pasar.

Warung sate ini dari luar masih terlihat sangat sederhana dan terkesan ndeso, meja dan bangkunya juga seadanya, dan sebaiknya tidak dibayangkan seperti warung sejenis di kota. Namun saya yakin tidak lama lagi warung sate ini akan tampil beda, baik tampilan tempat maupun pelayanannya. Racikan bumbu sate dan sopnya cukuplah menjadi modal bagi kesuksesan warung ndeso ini kalau saja mereka pandai mengelola warungnya yang ada sekarang.

Belum lagi kalau pengunjung ke obyek wisata pantai Sumur, pulau Umang dan sekitarnya semakin ramai. Bolehlah pemilik warung sate ini berharap agar dalam perjalanan wisatanya orang-orang mau mampir menyantap sate Padali dulu sebelum masuk Sumur.

Yogyakarta, 11 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Nasi Tumpang, Bosok Tapi Nendang

18 April 2008

Kepingin makan nasi pecel? Tidak sulit untuk menemukan tempatnya. Campuran sayur-mayur yang diguyur dengan sambal kacang lalu ditambah kerupuk atau peyek, tahu atau tempe, sebagai asesori tambahannya, banyak dijual dan menyebar hampir di setiap kota. Cari saja warung nasi pecel.

Lain halnya kalau mau mencoba makan nasi sambal tumpang atau biasa disebut nasi tumpang saja. Ke kota Kedirilah tempatnya. Bahan dasarnya nyaris sama, yaitu sayur-mayur. Akan tetapi di kota Kediri tempat asal nasi tumpang, varian sayurnya biasanya tertentu, yaitu daun pepaya, buah pepaya muda yang diiris kecil-kecil, kecambah dan terkadang ada tambahan mentimun. Yang beda adalah sambalnya, yang disebut dengan sambal tumpang.

Sepintas sambal tumpang ini mirip sambal pecel, tapi sebenarnya beda. Tidak menggunakan tumbukan kacang melainkan tempe bosok (busuk) yang rasa dan aromanya agak semangit (sangit). Hanya saja busuknya tempe ini bukan sebab tempe basi atau sisa yang sudah beberapa hari tidak laku dijual, melainkan memang sengaja dibusukkan (seperti kurang kerjaan saja…., bukannya makan tempe segar malah ditunggu setelah busuk baru dimasak). Inilah salah satu kekayaan budaya permakanan Indonesia. Anehnya, justru cita rasa semangit yang diramu dengan kencur, serai, daun salam, daun jeruk, bawang merah-putih dan santan, itulah yang diharapkan mak nyusss….

Bagi kebanyakan masyarakat Kediri dan sekitarnya, menu nasi tumpang ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai bekal sarapan pagi yang murah, meriah, bergizi dan hoenak tenan…. Warung nasi tumpang dapat dengan mudah dijumpai di banyak tempat di kampung-kampung atau di pinggir-pinggir jalan. Mirip warung-warung gudeg saat pagi hari di Jogja. Harga sepincuk nasi tumpang cukup murah wal-meriah, sekitaran Rp 2.000,- per porsi kecil.

***

Sarapan nasi tumpang….. membangkitkan kembali ingatan masa kecil hingga muda saya, sewaktu saya masih sering mengunjungi rumah nenek di Kediri. Mbah saya yang tinggal di kampung Banjaran ini setiap pagi buta beliau sudah kluthikan (bersibuk-sibuk) di dapur saat yang lain masih terlelap, untuk persiapan jualan nasi tumpang di depan rumah kecilnya saat matahari menjelang terbit.

Pelanggannya ya para tetangga sendiri, terutama para pegawai dan buruh yang hendak berangkat ke tempat kerja atau pelajar yang mau berangkat ke sekolah. Orang-orang tua, muda, anak-anak, silih berganti dan rela ngantri membeli nasi tumpang barang sepincuk dua pincuk (wadah daun yang berbentuk corongan lebar). “Ritual” pagi ini berlangsung dalam suasana semanak (penuh kekeluargaan), sambil becanda dan saling berbagi cerita ringan keseharian tentang apa saja. Ah, indah sekali….! Khas kehidupan keseharian para akar rumput dalam suasana penuh guyub, guyon, gayeng…..

Simbah memang sudah meninggal enam tahun yll. Namun saat-saat indah bersama simbah itu sepertinya masih lekat di ingatan, setiap kali saya berkunjung ke Kediri. Sebuah kenangan sederhana yang begitu terasa mengesankan…..

Masih terbayang bagaimana simbah meladeni saya dan cucu-cucunya yang lain dengan sabar dan telaten. Menyiapkan nasi tumpang yang disajikan dalam pincuk daun pisang made-in mbah saya sendiri. Lebih khas lagi, masih ada asesori peyek kacang atau ikan teri yang digoreng sendiri, berukuran kecil-kecil dan bentuknya tidak beraturan tapi berasa gurih dan kemripik. Hingga enam tahun yang lalu ketika simbah masih sugeng (hidup), beliau masih suka mengirimi anak dan cucunya sekaleng biskuit kong guan merah berisi peyek kacang dan teri.

***

Kini, setiap kali saya ke Kediri, menu nasi tumang nyaris tidak pernah saya lewatkan. Rasanya yang khas dengan sambal tempe bosok yang sama sekali tidak terkesan sebagai makanan busuk, bahkan nendang tenan sensasi semangit-nya…..

Seperti seminggu yang lalu saya berkunjung ke Kediri. Meski bukan saat pagi hari, tapi tetap saja yang pertama saya cari adalah nasi tumpang. Salah satu warung nasi tumpang yang cukup dikenal adalah nasi tumpang Bu Wandi yang berada di bilangan jalan Panglima Polim. Warung ini adalah cabang dari warungnya yang sejak lama ada di kawasan Pasar Paing.

Porsi sepiring nasi tumpang Bu Wandi cukup banyak. Tambahan berupa beberapa lembar peyek yang berukuran setelapak tangan orang dewasa semakin melengkapi kekhasan menu ini. Jika kurang lengkap, bisa ditambah dengan gorengan tahu kuning yang diceplus dengan cabe rawit. Sedangkan sambal tumpangnya sendiri biasanya memang sudah cukup pedas.

Tidak puas dengan satu porsi, saya pun masih nambah dengan seporsi lagi sayur dan sambal tumpangnya thok, tanpa nasi. Pokoknya benar-benar puas, puas, puas….. setelah sekian lama tidak menikmati menu ini. Bahkan anak saya yang sebenarnya kurang suka makan pecel saja bisa menghabiskan seporsi nasi tumpang Bu Wandi dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya. Enak, katanya.

Sesekali di Jogja saya meminta ibunya anak-anak untuk membuatkan sambal tumpang. Tapi ternyata memang semangitnya tempe Jogja yang dibusukkan sendiri, berbeda dengan yang saya rasakan di Kediri.

Ke Kediri aku kan kembali, menikmati nasi tumpang yang benar-benar membuat kenyang dan nendang sensasi semangit tempe bosok-nya…..

Yogyakarta, 18 April 2008
Yusuf Iskandar

Bebeknya Bu Suwarni Prambanan, Enak Dibacem Dan Perlu

6 April 2008

Bu SuwarniSekali waktu berkunjunglah ke Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Sekitar satu kilometer sebelum mencapai Prambanan dari arah Solo atau kalau dari arah Jogja sekitar satu kilometer setelah candi Prambanan, membelok ke selatan menuju ke stasiun Prambanan. Di jalan depan stasiun ke arah barat, sebelum belok melintas persimpangan rel kereta api, di pojok kanan ada sebuah warung makan yang cukup terkenal. Namanya Rumah Makan Bu Suwarni.

Menu utama warungnya Bu Suwarni ini adalah menu bebek-bebekan, terutama bebek goreng dan soto bebek. Bagi penggemar rasa khas daging bebek, warung ini layak dipertimbangakan untuk menjadi pilihan. Bebek gorengnya yang dibumbu bacem, terasa benar bacemannya. Baceman khas Jogja dengan rasa manis yang agak kuat. Bumbu bacemnya merasuk hingga menyentuh bagian paling dalam dari daging bebek yang tekstur seratnya lebih kentara dibanding daging ayam.

Kalau kurang suka dengan bebek goreng bumbu bacem khas Jogja, masih ada pilihan soto bebek. Soto bebeknya Bu Suwarni memang beda. Kalau umumnya daging bebek digoreng, dibakar, atau dipanggang, maka soto bebeknya miraos tenan…. Dari sruputan kuahnya sudah terasa kaldu daging bebeknya. Sotonya sendiri tidak jauh beda dengan ramuan soto ayam. Ada campuran tauge kecil (untuk membedakan dengan umumnya tauge yang ukurannya besar), irisan kol dan loncang (daun bawang), ditambah irisan ampela bebek, lalu diguyur kuah soto berkaldu bebek. Khas sekali rasanya.

Warung makan Bu Suwarni ini memang tipikal bisnis keluarga. Sejak berdiri lebih 25 tahun yang lalu, manajemen warung ini tidak jauh-jauh dari sentuhan keluarga besarnya. Bahkan semua pelayannya adalah juga masih ada hubungan kekeluargaan. Hingga kini warung bebek-bebekan ini sepertinya tak goyah oleh aneka badai ekonomi. Tetap beroperasi dan bahkan semakin berkibar.

Dulu-dulunya, warung Bu Suwarni hanya menempati petak kecil di pinggiran jalan raya Prambanan. Sejak tahun 1987, bu Suwarni yang berasal dari dukuh Pereng, Prambanan, pindah ke dalam. Ya, di jalan stasiun barat itu hingga sekarang. Tahun 2006 sewaktu terjadi gempa Yogya, dimana sebagian Prambanan termasuk wilayah yang cukup parah terkena gempa, Rumah Makan Bu Suwarni pun roboh. Kini bangunan warungnya nampak jauh lebih representatif, seiring dengan perkembangan usahanya.

Melihat keberhasilan warungnya bu Suwarni berbisnis menu bebek pada saat ini hingga rata-rata menghabiskan 50 ekor bebek per harinya, terbayang bagaimana gigihnya sosok bu Suwarni muda ketika memulai membuka warung makan bebek goreng. Tentu dengan kondisi yang sangat sederhana pada masa itu. Kalau kini usia bu Suwarni sekitar 47 tahunan, berarti bu Suwarni masih berusia sekitar 21 tahun ketika memulai bisnis ini pada tahun 1982.

Kita sering “terjebak” hanya melihat ujung dari perjalanan hidup seseorang ketika kesuksesan sudah diraih. Tapi kita sering alpa melihat dan mempelajari bagaimana jatuh-bangunnya sesorang dalam merintis, mengembangkan, mempertahankan dan akhirnya menjaga prestasi usahanya. Bu Suwarni layak menjadi sebuah cermin bagi semangat enterpreneurship di jaman kini. Istilah kewirausahaan yang pada masa itu belum dikenal orang, kecuali sekedar bagaimana bertahan hidup dengan cara yang halal dan barokah. Tipikal cara berpikir orang-orang desa yang lugu dan tidak neko-neko. Kalau akhirnya semangat bertahan hidup itu mampu memberikan hasil yang lebih dari cukup, maka itu adalah berkah dari kerja kerasnya selama meniti masa-masa sulit sekian tahun yang lalu.

***

Sebelum meninggalkan warungnya bu Suwarni, saya sempatkan untuk melongok dapurnya dan memesan seekor bebek utuh tanpa kepala untuk di bawa pulang. Saya baru tahu kalau beli bebek utuh rupanya tidak termasuk kepalanya seperti halnya kalau beli seekor ayam utuh. Tapi, apalah artinya sepenggal kepala bebek (sedang kepala-kepala yang lain saja kita sering tidak perduli) jika dibandingkan dengan kepuasan menyantap sepotong bebek goreng dan semangkuk soto bebek yang rasanya khas dan miraos (enak) dengan ganti harga yang wajar.

Bebeknya bu Suwarni, memang enak dibacem dan perlu (perlu dicoba maksudnya).

Yogyakarta, 6 April 2008
Yusuf Iskandar

Kapucino Dan Ayam Goreng

4 April 2008

Tiba di bandara Cengkareng masih terlalu pagi. Mau langsung nyingklak taksi ke Kuningan, jangan-jangan perkantoran di sana belum mulai buka dasar. Mendingan menikmati secangkir kopi dulu.

Tempat paling dekat dan mudah dicapai adalah warung KFC Jagonya Ayam. Tapi apapun ayamnya, minumnya tetap kopi. Memang ngopi tujuannya. Ketika sudah berdiri di depan counter, entah kenapa yang saya pesan bukan kopi seperti biasanya, melainkan kapucino, saudaranya kopi. Sekali waktu kepingin juga mencoba menu yang berbeda, begitu yang ada dalam pikiran saya.

Pelayan KFC dengan sigap segera meracik kapucino dan lalu menyodorkan secangkir styrofoam putih ukuran kecil, seharga total Rp 7.400,- termasuk Pajak Pembangunan 10%. Saya taksir isi cairan kapucinonya tidak lebih dari 100 ml.

Sruputan pertama begitu menggoda, selebihnya terserah peminumnya. Namun saya rada kecewa, sruputan pertama ternyata tidak meninggalkan taste yang pas. Agak semu-semu pahit, mungkin coklatnya kebanyakan. Pokoknya, saya kurang puas dengan rasa kapucino yang saya harapkan. Bisa jadi, selera perkapucinoan saya yang beda. Tapi yang jelas rasanya tidak seperti biasanya kapucino yang saya minum.

Sambil menikmati kapucino yang tidak nikmat, sambil menghisap Marlboro, sambil menulis SMS, saya lalu merenung-renung. Apa iya saya pantas kecewa gara-gara kapucino yang kurang pas rasanya?

Akhirnya saya hanya bisa tersenyum sendiri (di dalam hati tentunya, wong kedai KFC sudah mulai ramai). Mestinya saya yang salah. Sudah jelas-jelas ini warung jualan ayam goreng kok berharap mendapat kapucino enak. Kalau mau kapucino atau kopi yang enak, ya mestinya ke Starbucks, bukannya KFC. Jadi kalaupun disediakan minuman kopi atau kapucino, maka itu hanyalah pelengkap penderita (bagi pembeli yang kecewa seperti saya, maksudnya).

Tiba saatnya saya menuju ke pangkalan taksi. Sambil dalam hati saya membuat kesimpulan : Kalau mau minum kopi enak, ya jangan mencari warung ayam goreng. Kalau mau makan ayam goreng yang enak, ya jangan mencari warung kopi. Mudah saja.

Namun kalau kemudian ketemu kedua-duanya enak, maka itulah diferensiasi bagi warung itu. Pembeda yang menjadi nilai tambah bagi warung itu dalam merebut pasar. Dan seringkali faktor pembeda ini menjadi awal dari kemenangan persaingan usaha.

Ngopi dulu, ah……

Jakarta, 4 April 2008
Yusuf Iskandar

Sambal Bawangnya Bu Santi Di Babarsari Jogja

29 Maret 2008

Usai membereskan SPT pajak yang lumayan menyita waktu dan pikiran. Ya maklum, meskipun sebenarnya mudah (apalagi selama ini tidak pernah mengurus pelaporan pajak sendiri), tapi pengalaman pertama selalu berarti petualangan baru. Sialnya, pengalaman pertama ini selalu terjadi (karena tidak ada manusia lahir kok ujug-ujug sudah berpengalaman).

Lalu muncul ide untuk mencari makan siang yang memberi sensasi beda. Pilihan jatuh ke rumah makan Bu Santi di dekat pertigaan Jl. Babarsari – Seturan, Jogja. Di sana ada menu ikan sederhana dengan sambal bawangnya yang khas dan pedas.

Warungnya kecil dan tidak terlihat jelas dari luar. Lokasinya strategis, nyaris tepat di pojok pertigaan jalan yang selalu padat. Saking strategisnya sehingga terkadang jadi sulit memperoleh tempat parkir untuk mobil. Hanya selembar spanduk bertuliskan “Rumah Makan Sambal Bawang Yang Asli Bu Santi” yang dipasang tepat di depan warung selebar empat meteran, menandai adanya warung ini. Rasanya, setiap orang di kawasan ini pasti tahu dimana lokasi warung makannya Bu Santi.

Membaca tulisan spanduknya saya menyimpulkan bahwa berarti selama ini banyak rumah makan sejenis yang tidak asli, tentu maksudnya adalah menyontek kesuksesan menu sambal bawang bu Santi. Dalam bisnis, sah-sah saja.

Meski dari luar tampak kecil, tapi rupanya di bagian dalamnya meluas. Ruangan berukuran sekitar 15 m x 12 m itu terbagi menjadi ruangan bermeja-kursi, sebagian ruang untuk lesehan dan dapur terbuka dengan lebih 15 kompornya yang non-stop siap melayani para pencari makan. Warung ini menyediakan menu ikan dan ayam sebagai menu utamanya, dilengkapi dengan sayur asam dan tentu saja lalapan plus sambal bawangnya yang terkenal di kalangan mahasiswa yang kampusnya berada di seputar Seturan, Babarsari, Condong Catur, Jogja.

Masuk warung langsung pesan ikan bawal dan udang goreng garing, sayur asam dan ceker ayam bumbu rica-rica. Sepertinya sudah tidak sabar untuk segera melahapnya.

***

Dua macam nasi putih tersedia, tinggal pilih mau nasi putih biasa atau nasi uduk. Boleh mengambil sesukanya dan sekenyangnya karena sudah menjadi satu dengan harga yang dibayar untuk setiap porsi makan. Agaknya ada juga pengunjung yang memanfaatkan “peluang bisnis” dari kebebasan mengambil nasi ini. Indikasinya, saya melihat tulisan besar yang terpasang di dinding yang berbunyi : “1 porsi lauk untuk 1 orang”. Barangkali ada juga pengunjung yang datang untuk romantis-romantisan dengan sepiring berdua. Ngirit maksudnya. Pesan satu porsi lauk lalu mengambil nasi uduk sesukanya bersama temannya.

Pertama yang saya sukai di warung ini adalah konsep cepat saji, maksudnya pelayanan penyajiannya cepat. Pelanggan tidak dibiarkan berlama-lama menelan ludah karena menunggu pesanan. Sementara bau ikan dan ayam goreng plus sambal bawangnya menyebar dari dapur terbukanya.

Begitu pesanan tersaji, secepat kilat bawal goreng garing yang masih panas segera saya cuwil, saya sobek-sobek….., lalu saya cocolkan ke sambal bawangnya dan …. nyem…nyem…nyem…. Aroma dan rasa bawangnya benar-benar nendang. Menu utama warung ini memang hanya cocok bagi mereka yang menyukai aroma bawang putih. Sebab di warung ini hanya tersedia satu macam sambal saja, yaitu cabe rawit hijau yang ditumbuk halus dengan aroma kuat bawang putih. Satu hal lagi, hanya ada satu ukuran tingkat kepedasannya. Maka bagi orang seperti saya yang tidak tahan pedas, mesti diakali dengan mencocol sambalnya jangan terlalu banyak dan itupun lalu dicampur kecap manis.

Sebagai penggemar rempah bawang putih, menu bu Santi ini benar-benar pas di selera saya. Udang goreng garingnya juga kemriuk kriuk… kriuk… ketika dimakan habis sekulit-kulitnya, sekepala-kepalnya, sekaki-kakinya. Tentu saja rada megap-megap kepedasan. Namun, citarasa sedap sambal bawangnya seakan mengalahkan rasa pedasnya. Sampai-sampai keringat mulai membuat gatal di kepala….

Untuk menetralisir pedasnya sambal, segera saya sruput kuah sayur asam. Cilakak dua belas, ternyata sayur asamnya juga pedas. Sayur asam yang berasa nano-nano…., asam, manis, asin, dengan komposisinya kacang panjang, jipang (labu siam), terong, jagung dan irisan cabe rawit. Berhubung rasanya pas dan hoenak tenan…, apa boleh buat, terpaksa dihabiskan juga. Cuma mesti agak hati-hati jangan sampai keceplus mengunyah irisan cabenya. Cara memasak kacang panjangnya yang setengah matang rupanya memberi sensasi kemrenyes ketika digigit. Ini ilmu baru yang saya peroleh tentang memasak sayur asam.

Berhubung tersedia dua macam nasi putih, maka keduanya perlu dicoba. Sepiring pertama habis dengan nasi uduk, maka yang kedua nambah dengan nasi putih biasa. Lha wong mengambil nasinya bebas….

Pada bagian akhir, potongan kecil-kecil telapak kaki ceker ayam bumbu rica-rica lumayan menghibur sebagai makanan penutup. Yang saya maksudkan menghibur adalah karena tidak terlalu pedas, melainkan hanya agak repot nithili…. , menggigit dan mengelupas kulit tipis yang menyelimuti ruas-ruas jari kaki ayam.

Warung bu Santi kelihatannya memang didesain untuk memenuhi kebutuhan para mahasiswa yang banyak tinggal di lingkungan Babarsari – Seturan. Harganya relatif murah untuk rasa masakan yang lumayan enak terutama paduan sambal bawangnya.

Meskipun demikian, untuk tujuan berekreasi makan-makan bersama keluarga, lokasi dan suasana warung ini kurang representatif. Tetapi untuk tujuan berpetualang makan-makan, warung ini sekali waktu perlu dicoba. Warung milik bu Santi yang asal Muntilan dan sehari-harinya diawasi oleh putrinya ini, 16 orang awaknya siap melayani para petualang kuliner dari jam 10 pagi hingga dini hari jam 1 atau jam 2. Dua baskom sambal bawang pedas pun menunggu untuk dihabiskan.

Maka, jika tujuannya adalah mencari kenikmatan dari berpetualang makan-makan, kiranya perlu memperhatikan jam-jam padat di rumah makan bu Santi ini, yaitu biasanya pada saat waktu makan malam. Saat para mahasiswa mengisi perut menjelang belajar di kost-nya (tentu saja yang belajar, yang tidak belajar lebih banyak lagi…. ).

Yogyakarta, 29 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Beda Bikin Marem, Di ‘Marem’ Pondok Seafood

26 Desember 2007

(1)

Mencari makan malam di saat kemalaman di malam Minggu. Akhirnya kami sekeluarga menuju ke pondok makan menu ikan laut di bilangan jalan Wonosari, Yogyakarta. ‘Marem’ Pondok Seafood, judul rumah makannya, yang ternyata malam itu tutup lebih malam dari malam-malam biasanya. Jam buka normalnya mulai jam 10 pagi sampai jam 9 malam.

Malam Minggu kemarin itu adalah kunjungan kami yang ketiga kali. Tentu ada alasan kenapa sampai berkunjung kesana berkali-kali. Ya, apalagi kalau bukan karena masakannya cocok, enak dan harganya wajar. Yang ngangeni (bikin kangen)dari rumah makan ini adalah menu ca kangkung dan udang galah hotplate, sedangkan menu lainnya juga sama enaknya.

Lokasinya agak tersembunyi tapi mudah dicapai. Dari Yogya menuju ke arah jalan Wonosari, ketemu traffic light pertama lalu belok kanan. Marem’ Pondok Seafood kira-kira berada 200 meter dari perempatan di sisi sebelah kiri. Rumah makan yang mengusung motto “Coba yang beda, beda bikin marem” (kedengaran seadanya dan rada kurang menjual) ini sebenarnya menempati areal yang tidak terlalu besar, tapi tertata apik dan rapi.

Menu unggulannya adalah udang galah marem hotplate. Bisa ditebak, ini udang galah goreng yang dimasak mirp-mirip bumbu asam manis dan disajikan di atas wadah yang masih panas berasap. Rasa udangnya, irisan paprika dan bawang bombay-nya begitu mengena di lidah, demikian halnya dengan kuah kental yang menyelimutinya. Taste yang berbeda dari yang biasanya saya temui di rumah makan lain. Lain rumah makan, pasti lain pula rasanya. Tapi yang ini beda. Ya, beda bikin marem, itu tadi.

Tiga kali kami berkunjung, tiga kali pula udang galah kami nikmati hingga ludes sekuah-kuahnya. Untung saja plate-nya hot, kalau tidak….. nasinya saya tuang ke plate, agar bisa dikoreti kuahnya……

Selain udang ada juga pilihan kepiting yang didatangkan dari Tarakan, Kaltim. Ada kepiting jantan, kepiting telor dan kepiting gembur. Juga cumi dan kerang. Meski judulnya seafood, tapi juga tersedia ikan gurame, nila dan bawal.

Sayurnya ada aneka pilihan sup, ca kangkung, tauge ikan asin atau oseng jamur putih. Nah, ca kangkungnya ini yang ngangeni. Padahal dimana-mana yang namanya ca atau tumis atau oseng kangkung ya pasti kayak gitu juga, tapi yang ini hoenak tenan….. Selain racikan masakannya yang mak nyuss, kangkungnya sendiri rupanya agak beda. Ya, beda bikin marem, itu tadi.

Setiap kali saya tanya darimana kangkungnya, setiapkali pula tidak pernah dijawab jelas oleh pelayannya, selain hanya mengatakan ada pemasoknya. Agaknya memang dirahasiakan. Batang kangkungnya kemrenyes seperti kangkung plecing dari Lombok, daunnya lebar-lebar, disajikan agak belum masak sekali sehingga warna hijaunya masih seindah warna aslinya. Dan, inilah rahasia menikmati ca kangkung, yaitu makanlah selagi masih fanas (pakai ‘f’, karena kepanasan sehingga bibir susah mengucap ‘p’). Kalau ditunggu dingin, maka Anda akan kehilangan sensasi kemrenyes dari kangkungnya.

Ada juga lalapan plus pilihan sambalnya, mau sambal bawang mentah, sambal terasi mentah atau samal tomat goreng. Minumnya? Terakhir saya mencoba ‘Algojo’ yang ternyata adalah alpokat gulo jowo (es alpokat pakai gula jawa atau gula merah).

Pak Gunawan, sang pemilik ‘Marem’ Pondok Seafood, memang pintar memilih juru masak. Dua orang juru masaknya yang katanya orang Jogja dan Tegal, pantas diacungi dua jempol (kalau hanya satu jempol nanti kokinya berebut….., berebut diacungi, bukan berebut jempol… ). Sentuhan tangan sang kokilah yang telah menghasilkan ramuan bumbu dan olahan masakannya menjadi sajian yang tidak membuat bosan para pencari makan (pengunjung, maksudnya) untuk singgah berulang kali.

(2)

Lebih dari sekedar masakannya yang enak. Hal lain yang menarik perhatian saya daripada rumah makan ‘Marem’ Pondok Seafood adalah pelayanannya. Rumah makan ini diawaki oleh 12 orang, sebagai ujung tombaknya adalah pelayan perempuan, yaitu bagian yang mendatangi tamu pertama kali dan mencatat menu pesanan pelanggan.

Pelayanan yang ramah, bersahabat dan mempribadi, tercermin dari cara para pelayan memperlakukan tamu-tamunya. Setidak-tidaknya, tiga kali saya berkunjung, tiga kali dilayani oleh pelayan berbeda, tiga kali pula saya menangkap kesan pelayanan yang sama seperti yang saya ekspresikan itu.

Anak perempuan saya (Mia, namanya) sempat heran, mbak pelayan ini sesekali menyebut nama anak saya itu. Padahal, teman sekolah bukan, tetangga bukan, berkenalan juga belum pernah, bahkan baru sekali itu ketemunya. Kesan mempribadi dengan menyebut nama seseorang seketika terbentuk. Peristiwa itu akan demikian membekas di hati pelanggan, seolah-olah mbak pelayan ini bukan orang lain. Rupanya mbak pelayan ini memperhatikan percakapan kami, sehingga dia tahu nama anak saya.

Demikian pula sesekali mbak pelayan membuka percakapan dengan tanpa menimbulkan kesan mengada-ada. Barangkali karena melihat saya banyak bertanya mengorek informasi, maka mbak pelayan pun dengan ramah bisa memancing pertanyaan apa ada yang ingin diketahui lagi, misalnya. Yang sebenarnya dapat saya terjemahkan sebagai apa ada yang mau dipesan lagi.

Bagi saya, pengalaman di ‘Marem’ Pondok Seafood adalah sebuah pelajaran. Dan pelajaran itu saya tanamkan kepada kedua anak saya sambil bercakap-cakap dalam perjalanan pulang setelah puas makan. Bukan pelajaran tentang masakannya, kalau soal itu tinggal ikut kursus saja. Melainkan pelajaran tentang pelayanan, yang bisa diaplikasikan pada berbagai aktifitas kehidupan. Bisnis hanyalah satu diantaranya.

Dua hal saya coba bicarakan. Pertama, memperhatikan pelayanan sejenis di resto-resto di luar negeri (sekedar contoh, sebut saja di Amerika dan Australia). Pada umumnya kalau kita makan, maka sang pelayan akan tidak bosan-bosannya mencoba memancing percakapan selintas, yang sepertinya basa-basi, tapi memberi kesan mempribadi. Intinya, kepentingan para pencari makan sangat diperhatikan dan dilayani sebaik-baiknya. Jangan biarkan ada cela sedikitpun dalam masalah pelayanan.

Kebalikannya pada umumnya di Indonesia (saya suka menjadikan kasus ini sebagai ilustrasi). Kalau bisa urusan hajat perut ini diselenggarakan (tidak perlu dengan cara saksama) melainkan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, jika perlu. Tamu datang, dicatat ordernya, dikirim pesanannya (kalau agak lama pun cuek bebek…), dihabiskan makanannya (bahkan kalau tidak dihabiskan pun ora urus yang penting mbayar), lalu pulang.

Kedua, filosofi pelayanan semacam ini sudah, sedang dan akan terus dicoba diterapkan di toko ritel yang saya kelola, yaitu “Madurejo Swalayan” di pinggiran timur Yogya. Sejak awal berdirinya dua tahun yang lalu, kepada para pelayan toko selalu saya tekankan dan saya motivasi tentang perlunya menciptakan suasana paseduluran (persaudaraan) yang mempribadi kepada pelanggan. Lingkungan ndeso dimana toko saya berada memang memungkinkan untuk hal itu. Pengalaman menunjukkan bahwa ternyata yang demikian ini tidak mudah.

Hasil apa yang selanjutnya diharapan? Bolehlah kita berharap di kesempatan lain pelanggan kita akan kembali lagi karena merasa dia sedang berada di toko kepunyaan teman atau saudaranya, bukan orang lain.

Sebenarnya malam itu saya ingin ngobrol-ngobrol dan mengenal lebih jauh dengan Pak Gunawan, sang pemilik ‘Marem’ Pondok Seafood. Tapi sayang saya tidak ketemu beliau. Mudah-mudahan di kunjungan berikutnya (kami memang sudah kadung menyukai masakannya), saya berhasil menemui beliau.

Ada tiga kemungkinan yang saya ingin pelajari lebih dalam, soal pelayanan di rumah makan ini. Pertama, para pelayan mungkin sebelum turun ke lapangan sudah diajari dan dibekali dengan ngelmu masalah pelayanan. Kedua, jika ternyata kemungkinan pertama salah, maka berarti telah dilakukan sistem seleksi penerimaan pegawai yang baik. Ketiga, jika kedua hal itu ternyata bukan juga, maka ya bejo-ne (untungnya) Pak Gunawan, punya pegawai yang terampil. Dan yang terakhir ini tidak bisa ditiru.

*) Marem = puas (bhs. Jawa)

Madurejo, Sleman – 26 Desember 2007
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.