Archive for the ‘TENTANG APA SAJA’ Category

Catatan Ramadhan 1430H

31 Agustus 2009

Meski tidak ada hubungan langsung antara bulan Ramadhan dan ngurus toko, tapi ibadah Ramadhan itu sendiri hakekatnya adalah sebuah bisnis. Untuk itu saya menuliskan sekedar unek-unek dan pengalaman keseharian tentang Ramadhan. Selengkapnya saya tulis di Catatan Perjalanan Yusuf Iskandar :

Sekedar ingin berbagi. Semoga ada percikan manfaat yang dapat ditangkap.
Selamat melanjutkan dan menyempurnakan ibadah Ramadhan 1430H

Yogyakarta, 31 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

Belajar Dari Mbah Surip

5 Agustus 2009

Mbah Surip pelantun lagu reggea “Tak Gendong” telah berpulang kemarin pagi (Selasa, 4 Agstus 2009). Banyak orang merasa kehilangan dan berduka. Mbah Surip boleh ‘hilang’, tapi ada yang tidak hilang…..

Pelajaran apa yang dapat dipetik dari perjalanan hidup Mbah Surip? Spirit tentang sukses dan tentang kemauan keras untuk sukses. Di bidang apapun, termasuk sukses sebagai wirausahawan, entrepreneur, bisnis, atau kerja apapun yang dipilih untuk ditekuni… Sebab “God must love crazy people”, kata Chacin kepada Rambo dalam film ‘Rambo 3″. Semangat ‘gila’ itulah yang mengantarkan Mbah Surip ke puncak kesuksesannya, meski Tuhan berkehendak lain.

Mbah Surip telah menunjukkan tentang semangat menjadi ‘gila’, berpikir out of the box, mencintai pekerjaan, membuat terobosan, berpikir paradoksal (yang tidak mungkin menjadi mungkin), menikmati arti kemerdekaan…..

Selengkapnya saya menuliskan “In Memoriam Mbah Surip”, silakan baca Mbah Surip, di Catatan Perjalanan Yusuf Iskandar.

Merdeka…!

Yogyakarta, 5 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

Semua Pasti Kembali Kepada-Nya

22 Oktober 2008

Beberapa waktu terakhir ini saya agak jauh dari internet. Itu karena lagi sibuk mengurusi bapak saya yang sedang kritis sakitnya hingga akhirnya berpulang ke hadirat Illahi, Tuhan Seru Sekalian Alam Raya, pada hari Mnggu, 19 Oktober 2008, jam 12:00 WIB di Rumah Sakit Telogorejo Semarang, dalam usia 75 tahun. Jenazah dimakamkan pada hari itu juga jam 16:30 WIB di Kendal (Jawa Tengah).

Innalillahi wa-inna ilaihi roji’un.
Sesungguhnya semua itu berasal dari Allah, dan (akhirnya) semua pasti akan kembali kepada-Nya jua.

Kendal, 22 Oktober 2008
Yusuf Iskandar

Suatu Malam Di Mangga Besar

17 Agustus 2008

Namanya Nurul. Berparas manis imut-imut. Rambut lurus lepas sebahu. Postur tubuh kecil padat semampai. Mengaku umurnya 16 tahun. Setelah agak didorong-dorong oleh seorang perempuan setengah baya, akhirnya Nurul duduk di antara beberapa lelaki yang sudah lebih dahulu duduk di pinggir ruangan cukup luas yang di bagian tengahnya juga tertata beberapa set meja-kursi.

Di bawah cahaya remang-remang, dilatari suara musik jedak-jeduk, membuat siapapun yang mau bercakap-cakap harus bersuara agak berteriak. Tidak sepatah katapun diucapkan Nurul, melainkan hanya senyum yang dimanis-maniskan ditebar sebisanya. Sementara di bagian lain ruangan itu terlihat beberapa teman Nurul duduk manis di sofa panjang yang disorot lampu, seperti sedang menunggu tetamu. Beberapa teman Nurul lainnya malah sedang asyik bercengkerama dengan tamu lelaki lainnya. Tentu saja, sebagian besar para lelaki itu adalah tamu tak diundang dan tak dikenal sebelumnya.

Rupanya Nurul memang bukan tipe perempuan muda yang grapyak, supel atau pintar bicara. Tidak menunjukkan sikap dimanja-manjakan atau dimesra-mesrakan, sebagaimana teman-temannya. Melihat Nurul yang sepertinya salah tingkah, lelaki yang duduk rapat di sebelah kanannya terpaksa membuka pembicaraan.

Dari ngobrol-ngobrol dengan Nurul, muncullah banyak pengakuan. Pengakuan yang tidak perlu lagi diperdebatkan kejujuran atau kebenarannya. Tidak ada bedanya, karena bukan itu plot cerita fragmen satu babak malam itu. Nurul mengaku, berasal dari keluarga petani di Indramayu, anak sulung dari tiga bersaudara dan hanya tamatan SD. Nurul juga mengaku, belum setahun tinggal di Jakarta. Orang tuanya di desa tidak tahu apa yang dikerjakannya di Jakarta, kecuali sering menerima uang kiriman dari anak sulungnya yang mengadu peruntungan di Jakarta yang dulu pamitnya mencari pekerjaan.

“Tidak kepingin mencari pekerjaan lain?”, tanya lelaki itu.

“Ya, kepingin sih. Tapi apa? Saya tidak punya ketrampilan lain”, jawab Nurul. Lelaki itu hanya mengangguk-angguk. Bukan setuju, bukan juga tidak setuju, melainkan sekedar memberi kesan bahwa jawaban Nurul didengarnya. Jawaban Nurul adalah seperti layaknya jawaban keterpaksaan, jawaban orang yang merasa tidak punya pilihan. Kalaupun pilihan itu ada, maka itu pun dipilihnya karena merasa tidak bisa untuk tidak memilihnya.

Perempuan setengah baya yang tadi menggandeng Nurul untuk didudukkan di sebelah kiri lelaki itu, dari tadi terus mencuri-curi pandang ke arah Nurul. Sebentar pergi mengatur teman-teman Nurul lainnya untuk menemui tamu tak diundang dan tak dikenal yang baru datang, sebentar kemudian berada tidak jauh dari Nurul.

Sesekali dengan menggunakan bahasa isyarat muka dan mimiknya, seperti memberi dorongan kepada Nurul agar lebih agresif. Seolah-olah berkata : “Cepat ajak ke kamar”. Tapi sayang, Nurul memang bukan tipe perempuan muda yang agresif dan memiliki rasa percaya diri tinggi. Dia tetap bergeming dengan senyum yang hambar dan terkesan dipaksakan. Bahkan Nurul cenderung kelewat sopan untuk ukuran pekerjaannya malam itu. Sementara teman-temannya enteng saja minta rokok kepada tamunya, Nurul baru menerimanya setelah ditawari. Itupun rokoknya diisap sekedar sebagai pantas-pantas saja.

Tubuh padatnya yang kecil imut-imut dibungkus celana jeans ketat yang dipadu dengan baju kaus warna hijau gelap berlengan cingkrang yang sama ketatnya, dengan bahan kausnya agak kurang panjang sehingga pinggangnya terlihat selebar 2-3 cm. Jelas memperlihatkan postur tubuh dambaan kaum hawa, yang kalau saku belakang celananya disisipi HP suka tidak terasa. Tidak kalah dengan artis sinetron jadi-jadian di televisi.

Duduknya yang merapat ke arah lelaki di sebelah kanannya membuat sentuhan lengannya begitu halus, dingin dan lembut. Setidak-tidaknya lengan Nurul tergolong lengan yang sering dipoles dengan aneka lotion yang sering ditawarkan iklan televisi. Juga bau parfumnya yang tidak sumegrak melainkan terkesan lembut biasa-biasa saja. Namun itu saja tentu tidak cukup menjadi senjata marketing bagi Nurul untuk menjual dagangannya (lha yang dijual itu ya apa……..). Lelaki mana tidak tergoda. Kalau saja Nurul mau sedikit belajar tentang ilmu kepribadian. Setidak-tidaknya ilmu ndableg untuk agak nakal, agak genit atau agak norak.

Lama-lama perempuan setengah baya yang berdiri sekitar 3 meter di depan Nurul menjadi tidak sabar. Sambil agak mendekat, perempuan itu lalu berkata kepada sang lelaki. Meski suasana musik agak bising, tapi dari gerak bibirnya jelas terbaca : “Langsung saja ke kamar, mas”, sambil menunjuk ke arah bilik-bilik kamar yang dimaksud.

***

Sang lelaki kemudian kembali memancing pembicaraan, langsung ke pokok persoalan bisnisnya. “Kalau saya ajak kamu ke kamar, berapa saya mesti bayar?”.

“Sekitar Rp 350.000,-. Nanti bayarnya ke kasir.”, jawab Nurul polos dengan nada datar, sedikitpun tanpa ekspresi semangat perjuangan empat-lima agar dagangannya dibeli.

Eit…. (seperti kata Luna Maya dalam iklan operator ponsel di televisi), kok jadi seperti belanja di toko swalayan. Masuk toko, ambil barang sendiri lalu dimasukkan ke keranjang belanja, dibawa ke kasir dan bayar di sana. Keranjangnya ditinggal dan barangnya dibawa pulang. Bedanya hanya Nurulnya tidak bisa dibawa pulang, kecuali memang sedang merencanakan perang dunia ketiga.

“Tapi tidak semuanya saya terima. Paling-paling sekitar setengahnya. Terkadang ada tamu yang kasih tip lebih….”, kata Nurul kemudian. Dan lelaki itu hanya bisa berkata : “Oooo……”. Sudah pasti, yang setengah lagi adalah margin keuntungan toko dan pengelolanya. Namanya juga bisnis.

“Sudah dapat berapa tamu malam ini?”, tanya lelaki itu lagi.
“Belum ada”, jawab Nurul datar.

Ya, belum ada tamu atau sudah dapat lima tamu, sebenarnya tidak ada bedanya dalam konteks bisnis yang sedang berjalan malam itu. Meski begitu toh Nurul tetap perlu menerapkan sebuah trik bisnis dalam mempromosikan dirinya.

Lama kelamaan lelaki itu tidak tega juga menyita waktu Nurul terlalu lama, sedang sebenarnya dia tidak berniat melakukan transaksi bisnis dengan Nurul. Hingga akhirnya lelaki itu berkata lembut penuh penyesalan : “Nurul, kalau saya mau ditinggalkan, enggak apa-apa. Saya hanya ingin duduk-duduk saja kok…… Terima kasih, ya”.

Lalu Nurul pun segera berdiri dan pamit : “Iya, saya kesana dulu ya”. Entah kesana mana, tidak lagi penting. Lelaki itu menyaksikan kepergian Nurul dengan penuh penyesalan. Dia merasa telah menyita waktu Nurul yang seharusnya bagi Nurul mungkin cukup berharga untuk menerima tamu lainnya yang lebih prospek. Tapi jelas Nurul tidak berani meninggalkan begitu saja tamu lelakinya itu, sebab kalau tamu lelaki itu sampai komplain, bakal menjadi mimpi buruk bagi Nurul.

Good luck, Rul. Semoga harimu lebih baik”, kata lelaki itu dalam hati sambil agak melamun (melamun kok agak…), ngelangut, gusar, kasihan, dan setumpuk perasaan yang sukar dilukiskan. Sementara, waktu di Mangga Besar menunjukkan sebentar lagi tengah malam, lelaki itu ingat anak perempuannya yang sebaya Nurul yang pada malam itu tentu sudah tidur di kamarnya di Jogja, karena besok pagi harus pergi ke sekolah……

***

“Tuhaaaaaaannnnnnn………! Kami memang sudah merdeka. Tapi belum bagi Nurul dan teman-temannya……………”, teriak lelaki itu dalam hati.

Dan, lelaki itu adalah seorang bekas buruh tambang yang sudah terlatih melakukan pekerjaan “controlled drilling and blasting”. Karena itu, seperti tulisan yang sering muncul di televisi : “Jangan meniru adegan ini. Adegan ini dilakukan oleh orang yang sudah terlatih”.

NB :
Merdeka adalah kalau seseorang itu merasa bebas dan ikhlas untuk memilih dan tidak memilih. Apa saja…….

Yogyakarta, 17 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

”Ayat-Ayat Fitna” Oleh Quraish Shihab (E-Book)

14 Mei 2008

Quraish Shihab membagikan gratis 40 ribu buku berjudul “Ayat-Ayat Fitna, Sekelumit Keadaban Islam di Tengah Purbasangka”. Buku ini berusaha meluruskan kesalahpahaman dari ayat-ayat yang dipakai dalil untuk teror yang menggambarkan umat islam itu kejam seperti yang dipakai oleh film “Fitna” karya Geert Wilders.

Buku ini dapat di-download secara cuma-cuma di homepage penerbit Lentera Hati.

 

AYAT AYAT FITNA
Sekelumit Keadaan Islam di Tengah Purbasangka
M Quraish Shihab

Cetakan Pertama, April 2008
Penerbit Lentera Hati

 

 

Untuk turut menyebarluaskan buku setebal 98 halaman ini, sebagai alternatif dapat juga di-download di : Ayat-Ayat Fitna (ebook file pdf – 442 Kb)

Tulisan terkait di blog ini :
Ketika Wilders Menanam Ketakutan, “Fitna” Buahnya (Bag. 1)
Ketika Wilders Menanam Ketakutan, “Fitna” Buahnya (Bag. 2)
 
Semoga bermanfaat. 

Berharap Gratisan, Bersiap Tidak Punya Pilihan

14 Mei 2008

Ibu mertua saya adalah pemegang kartu Askes. Kalau mau memeriksakan kesehatannya, beliau akan pergi ke RSU dengan menggunakan segala fasilitas pelayanan gratis yang diberikan oleh kartu sakti bernama Askes itu. Bagi beliau ada beda yang nyata antara berobat gratis di RSU dan berobat membayar di RS swasta atau dokter praktek. Meskipun untuk memperoleh pelayanan gratis itu ada konsekuensi yang harus dijalani menyangkut kualitas pelayanan, menunggu antrian yang seringkali lama, atau jenis obat murah tapi bukan murahan.

Bukan nilai uangnya yang terkadang berwarna abu-abu, melainkan nilai kebanggaannya yang jelas beda antara hitam dan putih. Perbedaan yang tidak bisa dibandingkan dengan kata-kata sombong anak atau menantunya yang katanya lebih baik pergi ke dokter ahli swasta berapapun biayanya. Kebanggaan tak terukur bagi seorang janda tua pemegang kartu Askes yang tinggal tidak serumah dengan anak dan menantunya.

***

Ketika menemani mertua ke RSUD Wirosaban Jogja, saya ikut duduk beramai-ramai di ruang tunggu berbaur dengan banyak pasien lainnya. Saya hitung ada lebih 65 orang pasien yang sedang menunggu di sana, hampir semuanya sepuh (sempat-sempatnya mengitung…..). Tentu mereka juga pemegang kartu Askes atau Askeskin bagi masyarakat miskin. Ada dua golongan pasien, masing-masing menunggu di depan poliklinik penyakit dalam dan syaraf yang letaknya bersebelahan. Saya masih harus bersabar sambil klisikan menjelang munculnya rasa bosan.

Beberapa saat kemudian saya lihat pasien yang tadi sudah ditimbali (dipanggil) suster untuk masuk ke ruang periksa di kedua poliklinik, kok pada keluar lagi? Rupanya mereka yang keluar dari poliklinik syaraf diberitahu oleh susternya untuk menunggu di luar dulu karena dokternya mau jagong (kondangan). Dan mereka yang keluar dari poliklinik penyakit dalam diberitahu, juga untuk menunggu di luar dulu karena dokternya ada rapat. Hebatnya para orang-orang tua ini, mereka menceritakan semua itu kepada sesama pasien penunggu dengan ringan, muka cerah, tanpa menampakkan muka kecewa (mungkin ada sedikitlah…). Sedang saya yang mendengarnya saja kesal rasanya. Pasien-pasien tua itu disuruh menunggu karena dokternya mau kondangan dan ada rapat….?

Saya tidak ingin membahas tentang benar atau salah, sebaiknya atau tidak sebaiknya. Saya tidak punya ilmunya tentang etika semacam ini. Saya lebih tertarik mengenangnya sebagai peristiwa pelayanan bisnis. Saya mencoba berandai-andai…

Andai-andai yang pertama, kalau dokter itu adalah penjual singkong goreng, pasti akan ditinggal pergi pelanggannya yang memilih membeli gorengan di warung lain meski mungkin harus mengesampingkan faktor cita rasa. Andai-andai yang kedua, kalau pasien itu bukan pemegang kartu Askes atau Askeskin alias pasien mampu, pasti memilih untuk berobat ke dokter lain meski mungkin harus membayar lebih mahal.

***

Lebih 75 menit berlalu, para pasien tua masih dengan tekun menunggu sambil bercengkerama dengan sesama penunggu lainnya. Mereka tampak enjoy aja….. Heran, saya…..! Sudah saya tinggal sholat dhuhur di musholla, belum juga para dokter itu kembali (saya pikir kalau ditinggal sholat, dan sholatnya agak dipercepat…… lalu kondangan dan rapatnya juga akan cepat selesai, ternyata tidak ada hubungannya….. ugh…).

Untuk mengusir kebosanan, saya mengajak bercakap-cakap (kata ini sekarang jarang digunakan) orang tua laki-laki berusia 68 tahun yang duduk di sebelah saya. Beliau bercerita tentang stroke yang dideritanya sejak lima tahun terakhir. Setiap bulan selalu periksa ke RSUD Wirosaban Jogja, ya karena gratis itu. Darimana saya tahu usianya 68 tahun? Sederhana saja. Saya hanya tanya tentang pekerjaan terakhirnya, maka beliau dengan semangat empat lima bercerita pengalamannya sebagai PNS yang pensiun pada tahun 1995. Maka hitungannya menjadi 55 + (2008-1995) = 68.

Seorang ibu agak tua yang duduk agak di sebelah kiri saya kemudian juga saya ajak ngobrol. Sebagai penderita kolesterol, katanya (padahal kolesterol itu baik untuk tubuh, tapi kok malah menderita……?), beliau setiap bulan juga rajin periksa di tempat yang sama. Juga untuk alasan karena gratis.

Lho yang menghuuerankan saya, meski bapak tua itu kalau jalan sudah thunuk-thunuk dan ibu agak tua itu juga kelihatan kurang lincah, wajah-wajah mereka tetap cerah sumringah. Tidak sedikitpun menampakkan roman muka kesal atau manyun….., padahal pelayanan kesehatan yang mereka harapkan melalui kartu Askes atau Askeskin itu diberi bonus disuruh menunggu dokternya kondangan dan rapat entah sampai jam berapa atau berapa jam. Tampak benar, legowo sekali mereka menerima keadaan yang tanpa punya pilihan.

***

Sial benar orang yang mau gratisan, mereka tidak akan pernah punya pilihan. Barangkali aturannya memang berbunyi kalau mau berharap gratisan ya kudu bersiap tidak punya pilihan. Para pasien tua itu harus nrimo, karena satu-satunya pilihan bagi mereka adalah sabar menanti hingga para dokter itu kembali ke ruang prakteknya.

Kalau kemudian ada orang yang mampu memberi fasilitas gratisan dan sekaligus juga memberi pilihan kepada orang lain, sungguh orang itu mulia dan pantas didoakan agar panjang umur dan banyak rejeki. Sebaliknya kalau ada orang yang suka meminta fasilitas gratisan tapi ngotot menuntut diberi pilihan, sungguh orang yang tidak tahu diri. Cilakaknya, kelompok yang kedua ini sekarang lagi musim di negeri ini (mengalahkan musim durian, rambutan atau penghujan yang hanya berlangsung beberapa bulan saja).

Yogyakarta, 14 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Bukan Saya

13 Mei 2008

Hari ini akan saya ingat sebagai hari yang agak beda dari biasanya. Ada dua peristiwa biasa tapi memberi hikmah yang tidak biasanya.

Jam delapan pagi saya sudah bergegas meluncur ke rumah seorang teman lama untuk melayat ibu mertuanya yang meninggal kemarin. Sudah agak lama saya tidak berkomunikasi dengan teman saya, yang hampir 29 tahun yll pernah sekamar kost di Yogya. Saya sempatkan untuk melayat ke rumah duka dan mengantar jenazahnya hingga ke pemakaman.

Baru saja tiba di rumah sepulang melayat, ada tilpun dari ibu mertua yang minta diantar ke rumah sakit. Segera bergegas lagi bersama istri menjemput ibu mertua dan mengantarnya ke RSUD Wirosaban, Yogyakarta. Setelah mengurus ini-itu di loket, kemudian tiba di ruang tunggu poliklinik penyakit dalam. Namanya juga ruang tunggu, jadi mestinya ya ruang untuk menunggu. Dan yang namanya menunggu dokter di rumah sakit rakyat jelata, tak terprediksi berapa lamanya. Tingkat kelamaannya akan berbanding lurus dengan tingkat kemanyunan pengantar dan penunggu seperti saya.

Sambil melamun manyun, terkadang duduk terkadang berdiri, sambil tersenyum kecut dalam hati seperti ada yang mengingatkan perjalanan saya beberapa jam sebelumnya pagi tadi. Sebenarnya tidak ada yang salah, dua pekerjaan telah dan sedang saya jalani dengan tanpa beban dan ikhlas (meski agak manyun juga kelamaan menunggu), mengantar jenazah mertua teman dan mengantar mertua sakit.

Tiba-tiba saya seperti sedang disadarkan. Harusnya saya bersyukur telah berkesempatan mengantar jenazah mertua teman ke pemakaman, bukannya saya yang diantar. Harusnya saya bersyukur telah berkesempatan mengantar mertua ke rumah sakit, bukan saya yang diantar.

Seringkali kita berlindung dan merasa nyaman berada di balik kata “bukan saya”. Bukan saya yang digusur, bukan saya yang jadi korban kecelakaan, bukan saya yang terkena bencana, bukan saya yang kesulitan beli minyak, bukan saya yang terpaksa meminta-minta, bukan saya yang di-PHK, bukan saya yang disia-sia Satpol PP, bukan saya yang gagal ujian, bukan saya yang…… , bukan saya…….

Semua berlalu tanpa makna. Begitu saja. Lalu kita pun lupa. Tapi dua pengalaman pagi tadi yang sebenarnya biasa-biasa saja, entah kenapa tiba-tiba menggetarkan hati saya. Bukan saya….., lalu apakah akan tetap begitu saja sambil menunggu tiba kesempatannya (kesempatan kok ditunggu…..), diantar seperti ibu mertua teman saya dan ibu mertua saya?

Padahal yang namanya kesempatan itu sama sekali tidak berbanding lurus atau berbanding terbalik atau berpersamaan matematika dengan waktu, melainkan adalah eksistensi diri kita sendiri. Bak quiz tapi judi di televisi yang direstui petinggi negeri, berbiaya premium tinggi dan dipandu mahluk cantik merak ati : siapa cepat dia dapat…… Begitu juga kesempatan mengantar atau diantar silih berganti tidak mengenal antri.

Yogyakarta, 13 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Sopir Taksi Itu Bernama Ibrahim

10 April 2008

Kalau memperhatikan cara bicaranya, susunan kalimat dan pilihan kata yang digunakannya, saya yakin sopir taksi yang sore itu mengantar saya ke Cengkareng, pasti bukan sopir biasa. Mengesankan sebagai seorang yang terpelajar. Hal seperti ini seringkali merangsang rasa keingintahuan saya.

Mulailah saya membuka pembicaraan sebagai penjajakan bahwa dugaan saya benar. Percakapan tentang lalulintas Jakarta yang padat dan tersendat, tentang rute yang dipilih menuju bandara dan tentang taksi berwarna biru muda yang dikemudikannya. Semuanya dijawab dan dijelaskan dengan susunan kalimat dan tutur kata yang enak dan runtut.

Rupanya pak sopir taksi itu pernah kuliah di universitas negeri ternama di Jakarta, karena tidak lulus lalu pindah ke sebuah universitas swasta dan akhirnya berhasil meraih gelar sarjana ekonomi. Karir pekerjaannya dijalani dengan mulus dan lancar. Pernah bekerja di beberapa perusahaan, sampai yang terakhir berwiraswasta menjalankan usahanya di bidang kontraktor sipil dan konstruksi. Pendeknya, dari sisi materi untuk ukuran hidup bersama keluarganya di Jakarta nyaris tidak kurang suatu apapun, bahkan lebih dari cukup.

Hingga akhirnya musibah menimpa usahanya, seorang rekanannya membawa kabur uang proyek. Jadilah dia menjadi satu-satunya pihak yang harus bertanggungjawab. Semua asetnya terpaksa dijual dan hidup harus dimulai dari awal lagi. Cerita yang sebenarnya klasik, tapi tetap saja membangkitkan empati.

Sejak itu hidupnya tidak menentu. Jiwanya stress berat harus menanggung beban hidup yang tak pernah terbayangkan selama lebih 20 tahun karir pekerjaannya. Sejak musibah di-kemplang rekan sendiri menimpanya, kegiatan sehari-harinya tidak karuan. Seringkali ia terbengong-bengong di masjid Istiqlal saat orang-orang lain sibuk bekerja di siang hari. Keluarganya yang tinggal di Bekasi tentu saja menjadi kalang kabut dibuatnya.

Lelakon seperti ini sempat dijalaninya selama tiga bulan, hingga akhirnya ada seorang sahabatnya menyarankan untuk bekerja menjadi sopir taksi di salah satu kelompok perusahaan taksi paling terkenal berlambang burung biru.

Hal yang kemudian menarik perhatian saya adalah bahwa kini pak sopir itu sangat menikmati pekerjaannya sebagai sopir taksi, lebih dari yang pernah dia jalani selama karir pekerjaannya. Demikian pengakuannya di balik wajah cerianya. Cara bercerita, ekspresi yang ditunjukkan, alasan-alasan yang dikemukakan dan semua latar belakang yang diceritakannya, meyakinkan saya bahwa pengakuannya jujur.

***

Lama-lama mengasyikkan juga ngobrol dengan sopir taksi itu. Hingga tak terasa waktu satu jam terlewati hingga saya tiba di Terminal B Cengkareng. Pak sopir taksi yang rupanya doyan ngobrol ini akhirnya justru yang memberi saya banyak pelajaran tentang hidup dan kehidupan. Setidak-tidaknya dari pengalamannya bagaimana ia terpuruk dari usahanya yang pernah membawanya membumbung ke angkasa dan bagaimana ia kini harus bangkit dari awal lagi.

Apa yang menarik dari pilihannya bekerja menjadi sopir taksi? Ada beberapa hal yang sempat saya ingat yang barangkali tak pernah terpikir di benak orang “normal” yang selama ini ketawa-ketiwi menaiki taksinya.

Pertama, menjadi sopir taksi burung biru ternyata membuatnya mempunyai kebebasan finansial (maksudnya bukan bebas secara finansial, melainkan bebas menentukan perfinansialannya). Meski dengan sistem kerja 2-1 (dua hari “on”, sehari “off”), tapi dia bebas menentukan mau bekerja berapa jam sehari dan berapa penghasilan perhari yang dianggapnya cukup. Semakin dia rajin dan tekun, semakin tinggi komisi dan bonus yang boleh diharapkannya. Ketekunannya dalam lima bulan ini telah membuatnya dipercaya oleh perusahaannya. Begitu pengakuannya.

Kedua, di group taksi burung biru ini dia menemukan banyak teman-teman senasib (maksudnya banyak sesama sopir yang juga bergelar sarjana dan banyak sesama sopir yang sebelumnya adalah pengusaha yang kemudian bangkrut karena menjadi korban tipu-tipu dan bukan sebab lain –  kalau tidak salah dulu juga ada mantan Direktur Bank Duta yang akhirnya memilih profesi ini). Sehingga pak sopir taksi ini merasa berada di “frekuensi” yang sama dengan banyak rekannya sesama sopir taksi.

Ketiga, pak sopir taksi yang grapyak-semanak (cepat akrab bagai saudara) dan pandai bicara ini akhirnya banyak berinteraksi dengan masyarakat yang menjadi penumpangnya, dari beragam pekerjaan, latar belakang, dan permasalahannya masing-masing. Ini yang kemudian membuatnya merasa tidak sendiri dan lebih bisa menikmati pekerjaannya sebagai sopir taksi. Belum lagi seringkali ada juga penumpang yang memberi wejangan-wejangan keagamaan tentang kehidupan. Hal yang selama ini tidak pernah didengarnya.

Keempat, dan ini yang paling membuatnya merasa bersyukur, ikhlas dan lebih arif menyikapi lelakon hidupnya, yaitu bahwa rejeki itu memang sudah ada yang mendistribusikannya dari langit bagi setiap mahluk, dan ada hak orang lain yang menempel dalam rejeki itu. Selama ini dia merasa banyak berbuat salah dalam cara memperoleh kupon antrian pembagian rejeki dan cara mengelola rejeki yang diperolehnya.

Pak sopir taksi yang lancar mengutip ayat-ayat Qur’an ini merasa sangat beruntung. Ya, beruntung karena dia merasa memperoleh hidayah (petunjuk) untuk menyadari kesalahannya selama ini, dibandingkan dengan banyak orang lain yang kekeuh tidak mau menyadari kekeliruannya dalam menjalani sisa kehidupan.

Dari tanda pengenal di taksinya, akhirnya saya tahu bahwa pak sopir taksi yang arif itu bernama Ibrahim. Pak Ibrahim ini rupanya berasal dari Solo (Solowesi maksudnya…., tepatnya Makassar) dan sudah menikmai manis, asam, asin, pahit dan getirnya Jakarta sejak 27 tahun yang lalu saat lulus dari SMA di Makassar.

“Terima kasih pak Ibrahim, Sampeyan telah bersedia berbagi sehingga saya juga bisa ikut belajar dari pengalaman hidup yang Sampeyan jalani…”.

Yogyakarta, 10 April 2008
Yusuf Iskandar

Jumatan Di Tengah Jalan Kehujanan

5 April 2008

Wong ndeso seperti saya ini rada keder juga ternyata menghadapi kepadatan lalu lintas Jakarta. Seperti pengalaman mau menyeberang jalan Mampang Prapatan Raya di teriknya siang Jumat kemarin, susahnya minta ampun. Lalulintas seperti tidak ada selanya. Akhirnya cari barengan. Kalau berjamaah rupanya menjadi lebih diperhatikan orang, termasuk berjamaah untuk menyeberang jalan. Setidak-tidaknya pengendara kendaraan lain menjadi tidak nekat. Tujuan saya memang mau sholat jumatan berjamaah di seberang jalan.

Masjid yang letaknya tepat di pinggir jalan itu rupanya penuh. Setengah jamaah sudah berada di dalam bangunan masjid, setengah lainnya menyebar di trotoar dan di jalan. Padahal, sebagian teras masjidnya sudah dibangun dengan “memakan” trotoar jalan. Maka sebagian Jl. Mampang Prapatan pun digelari tikar dan karpet untuk menampung peserta jumatan yang membludak. Bukan hanya sebagian, setengah lebar jalan malah. Akibatnya lalulintas jadi tersendat karena ada penyempitan jalan.

Hal yang tampaknya sudah lumrah di Jakarta. Saya memang baru pertama kali mengalami yang seperti ini. Selama ini kalau kebetulan jumatan di Jakarta, biasanya di dalam gedung atau kompleks perkantoran, atau di masjid yang lokasinya tidak persis di jalan besar.

Sambil duduk sila di atas gelaran karpet di tengah jalan, saya membayangkan bagaimana kalau jumatan pas hujan deras dan air di jalan mengalir deras pula. Kemana mau pindah?

Ee… lha kok tenan. Belum selesai khotbah, sholat belum dimulai, gerimis tiba-tiba turun. Semakin deras dan titik airnya semakin besar-besar. Jamaah nampak mulai gelisah, sebagian sudah pada berdiri dan bubar menyelamatkan diri mencari tempat aman dari hujan. Ya susah juga, wong di dalam masjidnya sudah penuh.

Untungnya sewaktu sholat dimulai, gerimis hanya berupa titik air kecil-kecil saja, belum berubah menjadi hujan. Untungnya lagi sang khatib yang menyampaikan pesan-pesan khotbah agak pengertian, sehingga khotbahnya tidak berpanjang-panjang. Demikian halnya sang imam pemimpin sholat juga “tahu diri” kalau setengah jamaahnya yang di belakang sedang gelisah bakal kehujanan. Irama gerak sholat pun agak digas lebih cepat dan dengan memilih bacaan surat Qur’an yang tidak terlalu panjang.

Tepat ketika sholat selesai, hujan turun, mak bress….., semakin lebat. Untung sholat sudah selesai. Serta-merta jamaah lari sipat kuping bubar jalan berhamburan bagai anak ayam tidak memperdulikan induknya. Lalulintas terhenti beberapa saat, memberi kesempatan kepada orang-orang yang hendak menyeberang jalan menyelamatkan diri dari hujan. Tak terelakkan kalau kemudian pakaian jadi basah.

***

Agaknya jumatan di tengah jalan sudah menjadi hal biasa di kota besar seperti Jakarta, yang kebetulan letak masjidnya tepat di pinggir jalan besar. Sehingga seminggu sekali jalan raya yang padat lalulintasnya terpaksa dikorbankan, menjadi “three-in-one” (maksudnya berubah dari 3 lajur menjadi tinggal 1 lajur jalan). Apa hendak dikata kalau kemudian jalan yang sudah padat itu menjadi agak macet dan tersendat lalulintasnya. Peristiwa mingguan yang tak terbayangkan sebelumnya oleh orang desa seperti saya yang biasanya jumatan di kampung dalam suasana santai dan tidak kemrungsung.

Kedua belah pihak nampaknya harus saling maklum. Pihak yang jumatan ya mesti hati-hati sholat di pinggir bahkan di tengah jalan. Pihak pengguna jalan juga mesti agak mengalah akibat penyempitan jalan.

Apa ada solusinya yang praktis dan mudah? Rasanya tidak ada. Sebab di satu pihak, sampai kapanpun masjid dan jamaahnya ya tetap ada di situ, bahkan peserta jumatan cenderung semakin banyak seiring semakin padatnya penduduk kota. Di pihak lain, lalulintas ya akan tetap padat seperti itu dan juga kecenderungannya semakin padat.

Peristiwa jumatan di tengah jalan dan sesekali kehujanan, mau diapa-apakan ya tetap terjadi seperti itu. Sampai kapanpun, kecuali kalau kotanya pindah. Maka satu-satunya solusi adalah menghidupkan dan membumikan semangat dan budaya tenggang rasa yang akhir-akhir ini terasa semakin pudar.

Tenggang rasa, kata yang enak diucapkan, manis dijadikan bahan pidato, indah dituliskan, tapi ngudubilah tidak mudah untuk diamalkan. Boro-boro menenggang rasa, menenggang kebutuhan hidup saja seperti diuber setan…. Kalau sudah demikian, tinggal kita ini memilih mau berada di sisi sebelah “mananya” tenggang rasa. It’s your call……

Yogyakarta, 5 April 2008
Yusuf Iskandar

Ketika Wilders Menanam Ketakutan, “Fitna” Buahnya (Bag. 2)

1 April 2008

Fitna_2

Pengantar :

Tulisan ini adalah penjelasan tambahan setelah saya menerima beberapa pertanyaan terkait tulisan saya sebelumnya tentang “Fitna”. Sebelumnya mohon maaf apabila dalam tulisan ini ada sedikit bahasan tentang ayat Qur’an, semata-mata untuk memperjelas pokok pikirannya.

——-

Sejak awal, ide liar Geert Wilders nampaknya memang berangkat dari prasangka buruk (su’udz-dzon). Judul filmnya sendiri mencerminkan niatnya untuk menebar fitnah. Dan, fitnah itu disasarkan kepada segenap lapisan orang Islam di dunia dengan cara menggeneralisir bahwa seperti itulah “ancaman” yang bakal datang dari orang-orang Islam.

Seandainya fitnahnya “Fitna” itu ditujukan hanya kepada representasi golongannya orang-orang semacam Osama bin Laden, maka itu hanyalah nila setitik. Orang Islam pada umumnya barangkali ora urus (tidak perduli). Tapi ketika fitnah itu ditujukan kepada segenap lapisan kaum muslim di dunia, itulah persoalannya. Sudah barang tentu sama artinya dengan mengublek-ublek susu sebelanga.

Kalau ada orang difitnah, maka sangat wajar kalau kemudian orang itu marah. Apalagi kalau fitnah itu menyangkut perkara keyakinan, maka tingkat keberangannya bisa berlapis-lapis. Mulai lapisan terbawah yang hanya cengengesan sampai yang teratas bertindak anarkis. Reaksi dari setiap lapisan korban fitnah itulah yang memang diharapkan oleh si penebar.

Dalam Islam, sesungguhnya kedudukan orang yang terfitnah (teraniaya) adalah sangat dekat ke haribaan Illahi-Robbi. Sedemikian dekatnya sehingga kalaupun orang yang teraniaya itu mau berdoa apa saja agar dibalaskan yang setimpal kepada si pemfitnah, Tuhan akan mengabulkannya.

Jangan pernah mengira bahwa penafsiran ayat-ayat Qur’an seperti yang dipahami dan “diamalkan” oleh segolongan orang sekelas dan sejenis Osama bin Laden adalah sama dengan penafsiran dan pengamalan oleh segolongan kaum muslim yang lain (yang jumlahnya jauh lebih banyak). Penafsiran ayat-ayat Qur’an memang tidak mudah, setidak-tidaknya diperlukan ilmu tafsir untuk memahaminya.

Sekadar ilustrasi : bahasa Al-Qur’an adalah bahasa Arab yang bernilai sastra sangat tinggi. Oleh karena itu, tidak setiap orang yang sehari-hari berbahasa Arab serta-merta bisa dengan mudah memahamnya. Bahkan lulus dari jurusan Sastra Arab dengan magna cum laude pun tidak ada hubungannya dengan kepandaiannya menafsirkan ayat Qur’an. Dalam studi theologi Islam ada cabang ilmu Tafsir Al-Qur’an.

Barangkali analogi yang lebih mudah adalah tentang buku-buku sastra Jawa, dimana tidak serta-merta orang-orang Jawa yang sehari-hari berbahasa Jawa akan bisa memahaminya dengan mudah. Lebih banyak yang malah tidak paham maksudnya sama sekali.

Ketidakmudahan penafsiran ayat-ayat Qur’an itu nampaknya oleh sebagian orang Islam (baca : tokoh Islam) ditangkap sebagai “peluang bisnis” untuk “dijual” kepada sebagian orang Islam yang lain. Dengan perkataan lain, penafsirannya menjadi rentan terhadap “kepentingan”. Tidak terkecuali kepentingan politik, bisnis, ekonomi, dan sebagainya.

Contoh paling mudah adalah, coba lihat hiruk-pikuk setiap kali menjelang Pemilu di jaman Orba dulu. Para juru kampanye dengan entengnya mengutip ayat-ayat Qur’an kemudian berteriak lantang bahwa tanda gambar itu haram dan tanda gambar ini masuk sorga. Akibatnya, para pengikut fanatiknya akan menelan begitu saja apa kata sang tokoh.

***

Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi, ketika orang sekaliber dan sekharismatik Osama bin Laden sambil mata melotot dan mengangkat pedang, mengutip ayat Qur’an surat Muhammad (QS. 47:4) : “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka…..” (dalam film “Fitna” penggalan ayat itu ditulis : Therefore, when ye meet the unbelievers, smite at their necks and when ye have caused a bloodbath among them bind a bond firmly on them).

Tidak diikuti dengan penjelasan siapa orang kafir yang dimaksud dalam ayat itu dan dalam situasi seperti apa perintah itu diturunkan. Sepemahaman saya, intinya ayat itu menjelaskan bahwa perintah itu turun ketika kaum muslimin berhadapan dengan orang-orang kafir yang memusuhi orang-orang Islam di medan perang.  

Contoh lain adalah kutipan surat Al-Anfaal (QS. 8:60) :  “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu…..” (dalam film “Fitna” penggalan ayat itu ditulis : Prepare for them whatever force and cavalry ye are able of gathering, to strike terror, to strike terror into the hearts of the enemies, of Allah and your enemies).

Beberapa tafsir menjelaskan yang intinya adalah bahwa umat Islam diperintahkan untuk mempersiapkan diri dan perlengkapan perangnya dengan semaksimal mungkin, guna unjuk kekuatan untuk menakut-nakuti dan menjatuhkan moral musuh sebelum maju ke medan perang.

Hal-hal di atas itulah, sebagian contoh yang kemudian oleh orang-orang sejenis Geert Wilders yang memang sudah tertanam semangat untuk memfitnah, lalu dijadikan “peluang bisnis” sebagai senjata untuk menebar “Fitna”. Sialnya, Geert Wilders juga menelan begitu saja penggalan-penggalan kejadian semacam itu (dan banyak lagi lainnya dalam film “Fitna”), lalu sambung-menyambung menjadi satu, itulah film “Fitna”…

Kalau saja Wilders mau meluangkan waktu untuk mengkaji terlebih dahulu dengan merujuk kepada orang-orang yang memang kompetan dan mumpuni di bidang ilmu tafsir Qur’an, pasti kejadianya akan berbeda. Tapi ya itu tadi, karena dari awal niat ingsung Wilders memang hendak menebar “Fitna”.

Osama dan teman-teman sepemahamannya yang hanya nila setitik itu mempunyai “kepentingan”. Wilders pun menangkap peluang itu karena juga punya “kepentingan”. Maka jangan salahkan orang-orang Islam lainnya yang sebelanga juga membela diri demi “kepentingan” yang lain. Allah pun punya “kepentingan”, antara lain hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain.

Hanya saja bagi orang-orang Islam lainnya itu kini punya pilihan. Dan, Allah sungguh memberi pilihan-pilhan yang sebenarnya sangat indah, tapi jelas bukan dengan membalas secara anarkis dengan menghalalkan segala cara, sebab yang terakhir ini pun rentan untuk ditunggangi dengan aneka “kepentingan”.

(Saya berlindung kepada Allah apabila paparan dan kutipan tafsir yang saya tulis di atas terdapat ketidakbenaran atau ketidak-akuratan. Mudah-mudahan ada ikhwan lain yang membantu meluruskannya. ).

Yogyakarta, 1 April 2008
Yusuf Iskandar

Ketika Wilders Menanam Ketakutan, “Fitna” Buahnya (Bag. 1)

30 Maret 2008

FitnaHati Geert Wilders demikian galau dan khawatir. Penganut fanatik aliran kebebasan yang menjadi anggota Parlemen Belanda dari Partai Kebebasan sejak tahun 1998 itu semakin hari semakin ketakutan. Takut kebebasan hidupnya akan direnggut. Takut ada pihak lain yang tidak sejalan dengan pikirannya akan mendominasi kehidupan dunianya. Takut semangat kebebasan sebebas-bebasnya yang sedang diperjuangkannya akan pupus di tengah jalan.

Namun sayang, ketakutan yang semakin tertanam di hati dan jiwa Geert Wilders adalah ketakutan yang tanpa ilmu, tanpa hati dan tanpa ruh untuk menemukan kebenaran yang sejati. Maka, berbagai alasan pembenaran untuk membela diri harus dibuat. Berbagai logika sesaat untuk mencapai target yang diharapkan perlu direkonstruksi dan dibangun, hingga pada akhirnya diharapkan memperoleh pembenaran kolektif. Upaya mencari pembenaran yang tidak dibarengi dengan upaya memahami ilmunya, sehingga yang terjadi adalah upaya yang dibangun atas dasar prasangka.

Wilders terkejut ketika melihat pertumbuhan komunitas masyarakat muslim di negerinya Belanda dan juga di Eropa. Seabad yang lalu jumlah orang Islam di Belanda hanya 54 gelintir manusia dan ternyata pada tahun 2004 sudah menjadi 944.000 orang. Lebih kaget lagi, pada tahun 2007 jumlah masyarakat muslim di seluruh belahan Eropa diperkirakan mencapai 54 juta orang.

Sementara dalam gambaran Wilders, orang-orang Islam ini adalah orang-orang yang sama seperti yang menabrakkan dua pesawat komersial ke gedung WTC New York pada 11 September 2001 atau yang mengebom stasiun kereta api Atocha Madrid pada 11 Maret 2004. Dalam benak Wilders, orang-orang Islam ini adalah para teroris yang bakal menguasai dunia dengan semangat meneror dan menghancurkan kebebasan sebebas-bebasnya yang diimpikan Wilders. Semua gambaran itu dikemas dalam bingkai prasangka buruk tanpa ilmu, hati dan spirit yang proporsional untuk menemukan kebenaran.

Kini ketakutan Wilders semakin memuncak. “Islam will dominate the world”, teriaknya. Lebih konyol lagi Wilders mempropagandakan ketakutannya jangan-jangan negerinya Belanda akan menjadi negara Islam kalau perkembangan Islam semakin dibiarkan. Dan secara berlebihan Wilders pun mengingatkan bangsanya : “The Netherlands under the spell of Islam”.

Dieksploitirnya gambaran masa depan Belanda jika perkembangan islam tidak diredam. Kaum gay, anak-anak dan wanita, adalah korban gambaran suram kehidupan masyarakat Belanda yang akan menanggung akibatnya. Apalagi kalau bukan demi alasan kebebasan hidup yang hendak dibela Wilders.

Untuk memperkuat alasannya mencegah perkembangan Islam, maka Wilders berusaha mengumpulkan data dan fakta yang menurutnya cukup menjadi bukti. Antara lain, berbagai rekaman dan dokumentasi tentang serangan menara WTC, pemboman stasiun Atocha, pidato dan ceramah tokoh-tokoh Islam, kliping koran terkait geliat Islam. Jika perlu pun celotehan innocent seorang anak berumur 3,5 tahun bernama Basmallah yang ditanya dengan pertanyaan tendensius tentang bangsa Yahudi juga ditunjukkan.

Tak ketinggalan, kumandang dan terjemahan ayat-ayat Qur’an diketengahkan, antara lain QS. 8:60, QS. 4:56, QS. 47:4, QS. 4:89 dan QS. 8:39. Terjemahan ayat-ayat Qur’an yang serta-merta lalu dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa di dunia, menurut penafsiran Wilders sendiri. Padahal kalau Wilders tahu ilmunya, bahwa tidak sedemikian gampang untuk menafsirkan ayat-ayat Qur’an, karena setiap ayat dalam kitab Qur’an tidaklah berdiri sendiri. Ada yang disebut asbabunnuzul (konteks dan sebab-sebab turunnya ayat), ada Hadist yang mendukung penafsirannya, dan ada “alat-alat” lain yang diperlukan dan perlu dipahami, sebelum sampai pada kesimpulan yang benar.

Wilders lalu mengilustrasikan paranoidnya dengan sebuah gambar yang sebenarnya indah dan artistik namun memaksa yang melihatnya untuk geleng-geleng kepala, betapa “bodohnya” anggota Parlemen ini dengan kreatifitasnya. Tampaklah halaman kitab Qur’an yang sepertinya hendak dibuka, lalu gambar berubah menjadi hitam, dan terdengar suara kertas disobek, disertai tulisan : “The sound you heard was a page being removed from the phonebook”.

Karena kesimpulan Wilders dibangun atas dasar prasangka buruk, maka yang kemudian ingin diteriakkan kepada dunia adalah : “Stop Islamisation” dan “Defend our Freedom”. Jika pada tahun 1945 Nazi ditumpas di Eropa dan tahun 1989 Komunis juga diberangus di Eropa, maka Wilders pun menyerukan kepada dunia : “Now, the islamic ideology has to be defeated”.

Penggalan-penggalan cerita itu dirangkai dengan “bagus” oleh Geert Wilders dalam sebuah episode film pendek berdurasi 16 menit 48 detik berjudul “Fitna”, yang disutradarai oleh Scarlet Pimpernel dan script-nya ditulis sendiri oleh Geert Wilders. Film yang secara resmi baru di-release pada tanggal 27 Maret 2008 itu segera saja menggegerkan dan mengundang kontroversi.

Tak kurang Sekjen PBB mengecamnya, pemerintah Belanda menyampaikan penyesalannya kepada semua kalangan muslim atas munculnya film “Fitna”. Komunitas muslim Belanda juga sedang mengajukan tuntutan ke pengadilan. Berbagai kalangan melancarkan protes namun sejauh ini tetap dalam damai. Kini, film “Fitna” dihentikan penayangannya di internet dan ditarik dari server-nya LiveLeak.com maupun Fitnathemovie.com.

Wilders mengawali filmnya dengan peringatan : “This film contains very shocking images”, dan mengakhirinya dengan menampilkan kartun nabi Muhammad saw. yang pada surbannya terpasang bom waktu yang meledak di akhir film (Wilders ternyata menggunakan kartun karya Kurt Westergaard ini tanpa ijin pemiliknya). Pada bagian akhir pula dipertontonkan animasi yang cukup artistik, perubahan tulisan FITNA menjadi FIN (sayap?).

Menilik judul dari film pendek ini, tampak jelas bahwa sejak semula ide dan kreatifitas liar Geert Wilders ini memang dimaksudkan untuk menebar fitnah. Wilders gagal mengidentifikasi untuk melihat perbedaan antara Islam dan islamisme, antara orang-orang Islam dan orang-orang yang mengamalkannya dengan keliru. Ketika kegagalan (atau boleh juga kalau hendak disebut kebodohan) Wilders ini mencapai puncaknya dan menjelma menjadi ketakutan yang tanpa ilmu, hati dan jiwa, maka Wilders pun tersesat, menjadi picik dan semakin liar. Ternyata bagi seorang Geert Wilders, just a wild is not enough, but getting wilder and wilder……

Orang-orang seperti ini banyak jumlahnya. Orang-orang yang seharusnya dikasihani karena sedang berada dalam kesesatan. Mereka punya hati, mereka punya jiwa, ilmunya pun ada dan dapat dipelajari. Tapi mengapa mereka memilih untuk membatasi diri dan justru mengembangkan prasangka-prasangka yang kemudian cenderung paranoid.

Sementara orang-orang yang menjadi korban fitnah adalah golongannya orang-orang yang teraniaya, yang dalam Islam sangat dekat posisinya di hadapan Tuhannya. Seorang Geert Wilders pantas didoakan agar segera menemukan jalan kebenarannya, agar kecerdasan otaknya tidak menjadi liar karena ketidakmampuannya memahami ilmu, mengendalikan hati dan jiwanya.

“Keliaran” semacam ini memang tidak bisa ditolerir dan harus dilawan. Tapi juga adalah kerugian besar kalau kemudian menghabiskan energi, waktu dan pikiran untuk bertindak melampaui batas. Jangan biarkan Wilders kemudian berkesimpulan bahwa ternyata “benar” orang Islam itu memang seperti apa yang ada dalam bayangan otaknya.

Yogyakarta, 30 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Sumilar Sebagai Pengganti Abate

26 Maret 2008

Sumilar5 Sumilar7

Pagi tadi rumah saya kedatangan petugas pengasapan (fogging) dari Kelurahan. Asap putih pun segera memenuhi sekeliling rumah. Pengasapan akan membantu untuk membasmi nyamuk dewasa, sedangkan jentik dan telurnya tak terusik. Cara yang efektif untuk mengatasi jentik nyamuk dan telurnya adalah dengan rumus 3M (menguras, menutup, mengubur), ikanisasi (menaruh ikan di bak atau tandon air) dan pemberian abate.

Dua hari yang lalu rumah saya juga didatangi dua orang petugas penyuluh kesehatan dari Kelurahan. Kunjungannya ini memang terkait dengan wabah penyakit demam berdarah yang akhir-akhir ini menyemarak di kampung kami (seperti yang saya ceritakan sebelumnya).

Selain memberi penyuluhan tentang 3M, lalu melakukan pengamatan secara sekilas kalau-kalau ada tempat-tempat yang disukai nyamuk untuk bersarang dan bertelur. Ada satu lagi yang baru, yaitu membagi bubuk pembasmi nyamuk yang disebut sumilar.

Sumilar ini ternyata adalah bahan pengganti abate yang selama ini digunakan dan dikenal masyarakat. Cara penggunaannya hampir sama dengan abate, yaitu dicelupkan atau dimasukkan ke dalam bak atau tandon air. Menurut penjelasannya, bahan pembasmi nyamuk yang disebut sebagai hormon sumilar ini lebih baik dibanding abate.

Setelah melacak di internet, saya menemukan penjelasan dari Sugeng Juwono Mardihusodo, seorang Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM yang juga menjabat sebagai presiden nyamuk, Asosiasi Pengendalian Nyamuk Indonesia (Kompas, Selasa 04-03-2008). Menurut beliau, sumilar sanggup menghambat pertumbuhan dan perkembangan larva nyamuk untuk menjadi dewasa dan mematikannya. Selain itu, sumilar juga mempunyai daya bunuh lebih lama dibanding abate. Kalau abate hanya efektif untuk 2-3 bulan pemakaian, sedangkan sumilar bisa mencapai 4-5 bulan.

Masih menurut Pak Sugeng : “Nyamuk-nyamuk sekarang sudah semakin sulit diberantas. Mereka sudah kebal abate dan disinfektan. Kekebalan pada nyamuk tersebut muncul karena memiliki gen resisten terhadap obat-obatan itu”.

***

Rupanya sekarang ini sumilar sedang diujicoba untuk dimasyarakatkan di kota Yogyakarta. Mudah-mudahan bukan uji coba tentang daya gunanya, melainkan hanya pemasyarakatannnya saja. Pelaksanaan uji coba ini adalah hasil kerjasama antara pemerintah kota dengan sebuah yayasan non-profit di Yogyakarta.

Sumilar kini mulai dibagi-bagikan secara gratis kepada masyarakat kota (masyarakat luar kota belum). Nampaknya Yogyakarta menjadi kota pertama yang menggunakan produk sumilar yang konon buatan Malaysia (begitu menurut informasi petugas penyuluh). Dari namanya saja sudah dapat ditebak, produk ini adalah buatan perusahaan Sumitomo.

Sumilar ini berupa butir-butir berukuran kecil (lebih kecil dari butiran batupasir), berwarna coklat muda bercampur dengan satu-dua butiran yang berwarna kehitaman. Bahan butiran halus ini dibagikan sudah dalam bentuk kemasan sangat sederhana, yaitu berupa bungkusan kantong plastik kecil yang diikat tali (jelas ini bukan kemasan dari pabriknya melainkan dikemas ulang agar masyarakat tinggal memakainya dengan mudah).

Plastiknya sendiri sudah ditusuk-tusuk dengan jarum sehingga berlubang-lubang kecil yang memungkinkan ditembus air. Di dalam bungkusan plasik ditambahi beberapa butir kerikil yang berfungsi sebagai pemberat. Maka, bungkusan sumilar tinggal dicelupkan atau ditenggelamkan ke dalam bak air dengan menggunakan talinya sebagai penggantung.

Seberapa efektifnya penggunaan sumilar sebagai pengganti abate? Kota Yogyakarta sedang membuktikannya. Kiranya yang akan menjadi kendala nampaknya justru ketelatenan masyarakat untuk memasang atau menggantung kantong plastik berisi sumilar ke dalam bak atau tandon, mengingat jika menggunakan abate biasanya tinggal menumpahkannya saja ke dalam air.

Umbulharjo – Yogyakarta, 26 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Waspadalah, Justru Ketika Demam Mulai Turun (Bag. 2)

21 Maret 2008

Cover DBCover DBKeprihatinan saya masih berlanjut perihal wabah penyakit demam berdarah (DB). Usai sholat jumatan siang tadi saya ketemu salah seorang tetangga yang baru saja sembuh dari serangan DB dan orang tua dari dua anak yang terserang DB yang salah satunya sempat mengalami masa kritis beberapa hari yll. Kesempatan ini saya pergunakan sebaik-baiknya untuk menggali informasi dan pengalaman.

Pasalnya beberapa hari yll anak kedua saya (13,5 tahun) mendadak pulang lebih awal dari sekolahnya dan mengeluh kepala pusing, badan panas disertai muntah-muntah. Serta-merta pikiran saya melayang jauh mengarah kepada kemungkinan serangan DB. Terapi pertama yang saya lakukan adalah memberinya obat turun panas dan “memaksanya” agar tetap makan dan banyak minum (minum apa saja).

Ternyata tetangga saya yang terserang DB tidak hanya empat orang, melainkan lebih dari enam orang. Tentu saja peristiwa ini membuat Pak RW menjadi sibuk. Upaya untuk melakukan pengasapan (fogging) pun diajukan kepada instansi terkait agar segera dapat dilakukan di wilayah kampung kami.

Hal yang perlu diketahui adalah bahwa pengasapan itu sebenarnya hanya akan membunuh nyamuk, sedangkan jentik-jentik dan telurnya tetap sehat wal afiat dan siap-siap menjadi kader agen penyebar virus dengue. Oleh karena itu, pengasapan bisa tidak berarti apa-apa jika tidak dibarengi dengan pemberantasan sarang nyamuk. Untuk itu, ingat rumus 3M (Menutup, Menguras, Mengubur) adalah langkah yang tepat dan bukan sekedar slogan.

***

Kenapa orang dewasa yang terkena DB jarang yang sampai mengalami ke tahap masa kritis? Salah satu alasan yang bagi saya masuk akal adalah karena orang dewasa lebih nalar bahwa meski sakit, tubuh tetap perlu makan dan banyak minum. Sedangkan anak kecil, kalau sudah emoh makan dan minum, sekali emoh ya tetap emoh. Tidak perduli apa urusannya.

Padahal, tetap makan dan banyak minum adalah satu-satunya cara agar terhindar dari masa kritis penderita DB. Begitulah kesimpulan kami orang awam ini. Setidak-tidaknya kesimpulan itu dibenarkan oleh pengalaman tetangga saya yang sudah dua kali terserang DB dan orang tua dari kedua anak yang terserang DB. Kesimpulan yang sangat masuk akal setelah merujuk kepada penjelasan dokter dan apa yang diterangkan dalam buku praktis “Mengenal Demam Berdarah”, tulisan Prof. Dr. dr. Sutaryo, Sp. A(K).

Penyakit DB yang disebabkan oleh virus dengue itu hingga kini belum ada obatnya. Satu-satunya tindakan yang dapat dilakukan adalah memperbaiki kodisi dan daya tahan tubuh penderita atau calon penderita. Kondisi tubuh yang fit perlu dipertahankan, baik dalam rangka pencegahan maupun perawatan.

Benar-benar kita perlu waspada ketika mulai menderita demam, lalu perhatikan pada hari keempat ketika demam mulai turun. Apakah kondisi tubuh menjadi lebih enakan, segar dan mau makan juga minum. Atau sebaliknya, tubuh menjadi lemah, kepala pusing, mual-mual dan tidak enak makan atau minum, otot-otot dan persendian nyeri, atau malah ada tanda-tanda perdarahan. Ada baiknya mengingat-ingat rumus KLMNO(P) seperti ditunjukkan dalam buku di atas.

Jika hal terakhir itu yang terjadi, perhatikan penuturan dari tetangga saya berikut ini :

Menurut dokter, itulah saatnya mulai terjadi pembengkakan lever (hati), sehingga terasa seperti ada yang mendorong (menyodok-nyodok) ke atas, di dalam perut. Peristiwa ini menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Apalagi bila peristiwa ini dialami oleh anak-anak kita, jangan maido (menyalahkan) kalau mereka akan mengerang dan merintih kesakitan.

Bagi anak-anak yang umurnya masih di bawah 3 tahun, barangkali mereka hanya bisa menangis dan merintih menahan sakit. Tetapi bagi mereka yang usianya lebih tua, seringkali sampai mengeluarkan kata-kata yang siapapun orang tua yang mendengarnya pasti akan menangis. “Saya tidak tahan lagi, Ma…”, “Saya tidak kuat lagi, Bu…”, “Lebih baik mati saja……”. Begitulah rintihan anak-anak, saking menahan rasa sakit luar biasa yang ditimbulkan. Ini bukan kalimat yang saya dramatisir, melainkan sungguh-sungguh terjadi dan banyak terjadi. Pada tahap ini pula penderita adakalanya mengalami shock atau juga kehilangan kesadaran seperti orang linglung.

Dengan rasa sakit seperti itu, sudah barang tentu tidak akan mampu untuk makan atau minum. Apapun yang dimasukkan ke mulutnya segera akan muntah keluar lagi. Itulah sebabnya kenapa harus segera dibawa ke rumah sakit, karena harus diberi infus untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum tubuhnya yang semakin lemah. Memang hanya itulah terapi yang akan diberikan dokter. Obat-obatan selebihnya hanya bersifat “asesori” yang tidak ada hubungan langsung dengan serangan virus dangue.

Dan satu lagi upaya terakhir, berserah diri kepada Yang Maha Kuasa dengan kekuatan doa. Masa kritis itu akan terjadi pada hari keempat hingga keenam sejak hari pertama penderita mengalami demam. Jika penderita berhasil melewati masa kritis ini, maka kebanyakan penderita segera akan memasuki masa pemulihan mulai hari ketujuh dan selanjutnya, hingga diijinkan meninggalkan rumah sakit oleh dokter. Jadi kalau dihitung-hitung sejak hari pertama terserang demam, maka siklusnya hanya sekitar tujuh hari dan (mudah-mudahan) penderita akan segera pulih.

***

Apa yang saya ceritakan di atas adalah ringkasan pengalaman dari seorang tetangga saya yang belum lama pulih dari DB dan seorang tetangga yang anaknya sempat mengalami masa kritis akibat DB. Pengalaman itu lalu saya rujuk kepada buku “Mengenal Demam Berdarah”.

Meskipun demam yang dialami anak saya sudah turun dan sekarang malah sudah pecicilan minta ijin mau bersepeda keliling ring-road Jogja, tapi keprihatinan saya akan serangan wabah DB belum reda. Apalagi melihat siaran berita di televisi yang masih saja menayangkan wabah penyakit DB di mana-mana. Penyakit ini pernah membunuh adik sepupu saya lebih 35 tahun yll, ketika itu DB masih menjadi new comer di Indonesia.

Maka sekali lagi waspadalah, justru ketika demam mulai turun.

Umbulharjo – Yogyakarta, 21 Maret 2008 (Jumat Agung dan hujan nyaris seharian mengguyur kota Yogyakarta)
Yusuf Iskandar

Waspadalah, Justru Ketika Demam Mulai Turun (Bag. 1)

21 Maret 2008

Suatu ketika anak, adik, keponakan, saudara atau tetangga kita terserang demam tinggi. Kejadian ini seringkali membuat kita, apalagi orang tuanya, kalang kabut dibuatnya. Berbagai obat penurun panas diberikan dan berbagai cara dilakukan untuk meredakan demamnya. Sehari, dua hari, tiga hari, hingga hari keempat akhirnya panas badannya menurun. Kita pun merasa lega.

Namun, sungguh. Pada musim penghujan seperti sekarang ini, dimana wabah demam berdarah (DB) sedang melanda hampir ke seantero belahan Indonesia, sebaiknya mulai memberi perhatian lebih jika mengalami kejadian seperti ilustrasi di atas. Siapa tahu, turunnya suhu badan itu justru pertanda masuknya si penderita demam ke tahap kritis DB.

Akhir-akhir ini berita tentang wabah DB hampir setiap hari mewarnai media kita. Slogan 3M pun bak kafilah yang terus berlalu. Saking seringnya penayangan berita itu sehingga sepertinya menjadi kabar yang “biasa-biasa saja”. Persis seperti dulu ketika kita mendengar berita bencana banjir, longsor, angin ribut atau kecelakaan, ada seorang saja yang meninggal, kita sudah prihatin setengah mati. Namun belakangan ini, saking seringnya kabar tentang bencana muncul di media, kok sepertinya menjadi kabar yang biasa saja. Akhirnya kita kurang tertarik untuk mencermatinya. Demikian halnya dengan kabar tentang demam berdarah.

Namun ketika anak, adik, keponakan atau saudara kita terserang DB, barulah kita kelabakan, bahwa ternyata tidak banyak yang kita ketahui tentang wabah penyakit ini.

***

Minggu-minggu belakangan ini ada empat orang tetangga saya di kampung Kalangan, Umbulharjo, terserang DB. Tiga orang anak-anak dan satu orang dewasa. Dua dari tiga anak ini adalah kakak beradik. Syukurlah, kini semua sudah mulai pulih kondisinya, meski dua dari ketiga anak itu sempat mengalami periode masa kritis.

Dua hari yang lalu saya sempat bezoek ke Rumah Sakit. Dari cerita-cerita dengan orang tua penderita, akhirnya sedikit banyaknya saya dapat belajar tentang seluk dan beluknya penyakit yang akhir-akhir ini cukup menjadi momok bayang-bayang kematian.

Saya mulai bisa merasakan bagaimana kalutnya sebagai orang tua ketika tiba-tiba anaknya terserang demam tinggi, kemudian diikuti muntah-muntah, lalu ngomyang (bahas Jawa, artinya mengigau atau bicara sendiri tidak karuan), dan terjadinya di tengah malam (kalau mau lebih dramatis lagi, saat sedang hujan lebat dan pas listrik mati).

Barulah saya ngeh, betapa pengetahuan praktis yang kedengarannya remeh-temeh ini menjadi sangat penting di kala kita sendiri yang mengalami menjadi orang tua itu.

Tetangga saya itu lalu menyodorkan sebuah buku tipis tentang perdemamberdarahan. Sepintas saya buka-buka buku itu ternyata memuat banyak tips praktis yang disajikan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Buku tipis terbitan Medika Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada itu berjudul “Mengenal Demam Berdarah”, ditulis oleh Prof. Dr. dr. Sutaryo, Sp A(K), seorang dokter spesialis anak yang juga staf pengajar Fakultas Kedokteran UGM.

Berikut ini sedikit tips yang saya kutip dari buku itu, sekedar untuk jaga-jaga siapa tahu di musim wabah DB seperti sekarang ini tiba-tiba pengetahuan praktis itu dibutuhkan.

Tentang gejala DB :

Gejala umum DB (seperti umumnya penyakit lain) dimulai dengan demam tinggi yang terjadi pada masa akut hari ke-1, ke-2 dan ke-3, diikuti gejala-gejala yang dalam buku itu dirumuskan dengan : Demam + KLMNO(P), yaitu :

  1. Demam
  2. Kepala nyeri, pusing.
  3. Lemah.
  4. Mual (nek), muntah.
  5. Nyeri Otot dan sendi.
  6. Perdarahan spontan jarang terjadi pada masa akut. Kalaupun ada, misalnya mimisan, bintik merah di kulit.

Setelah masa akut pada tiga hari pertama, maka waspadalah ketika kemudian demam mulai menurun.

Demam turun akan berarti baik, kalau pasien semakin segar, mau makan dan minum, dan gejala KLMNO(P) menghilang.

Demam turun akan berarti semakin kritis, kalau gejala KLMNO(P) semakin parah :

  • Kepala semakin pusing
  • Lemah sampai kesadaran menurun bahkan shock,
  • Mual, muntah, perut sangat-sangat nyeri
  • Nyeri Otot
  • Perdarahan spontan (seperti mimisan, muntah darah, berak darah, batuk darah, biru-biru pada bekas tusukan jarum).

Tentang demam dan masa kritis :

Demam pada DB berkisar selama 2 – 7 hari (suhu badan mencapai lebih 38,5 derajat Celcius). Hari ke-1 hingga ke-3 adalah masa akut. Sedangkan masa kritis terjadi pada hari ke-4 hingga ke-6 (ketika suhu badan mulai menurun). Disebut masa kritis karena 80% penderita yang tergolong berat akan mengalami shock dan hilang kesadaran pada hari-hari ini.

Tentang perawatan di rumah :

Ketika masih menjalani perawatan di rumah (biasanya kita atau orang tua belum tahu dan belum menyadari akan kemungkinan terkena DB), maka yang paling utama penderita harus diupayakan tetap mau makan dan minum (apa saja) sebanyak-banyaknnya, juga perlu diperhatikan kekerapan kencingnya.

Jika kira-kira sudah masuk hari ke-4, ke-5, ke-6 sejak pertama kali demam, lalu muncul gejala salah satu saja dari 6K, maka segeralah dilarikan ke Rumah Sakit terdekat.

6K itu adalah :

  1. K – Kesadaran menurun, anak gelisah
  2. K – Kulit, kaki, tangan terasa anyes (sejuk), lembab dan dingin.
  3. K – Kencing berkurang, atau malahan tidak kencing selama 6 jam.
  4. K – Kejang
  5. K – Kurang sekali makan dan minum, muntah terus-menerus, sehngga tubuh menjadi lemas
  6. K – Keluar perdarahan (hidung, kulit, mulut, dubur).

Tentang nyamuk pembawa virus dengue :

Mahluk pembawa virus dengue penyebab DB, yaitu nyamuk aedes aegyptie (ini jenis nyamuk rumahan) mempunyai daya jelajah per harinya mencapai 30-50 meter. Sedangkan kawannya aedes albopictus (ini jenis nyamuk kebun atau outdoor) mempunyai kemampuan jelajah per harinya hingga 400-600 meter.

Nyamuk ini suka di tempat yang gelap dan lembab. Sekali beroperasi, dia senang menggigit beberapa orang sekaligus. Waktu operasinya biasanya pagi dan sore. Meski nyamuk ini tergolong pendek umurnya, hanya sekitar dua mingguan, tapi telurnya mencapai sejumlah 400 dan jika tidak ada genangan air mampu bertahan di dinding tandon air hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Maka, kita semua sesungguhnya mempunyai peluang yang sama untuk digigit nyamuk, karena nyamuk-nyamuk nakal ini lincah menyusup baik di kolong-kolong jalan tol maupun hingga naik lift ke lantai 30 apartemen.

Akhirnya, ada baiknya kita tingkatkan kewaspadaan melakukan deteksi dini seperti hendak menyongsong banjir kiriman, tsunami atau gunung mbledos, terhadap tanda-tanda serangan demam berdarah.

Jadi, waspadalah, justru ketika demam mulai turun. Jangan-jangan serangan DB sedang mengintai anak, adik, keponakan, saudara, tetangga atau malah diri kita sendiri.

Umbulharjo – Yogyakarta, 20 Maret 2008 (di Alun-alun Utara sedang ada perayaan Grebeg Sekaten)
Yusuf Iskandar

NB :
Meski “Madurejo Swalayan” menjual aneka obat anti nyamuk, tapi pasti itu tidak akan mampu membasmi gerombolan nyamuk dan telur-telurnya, melainkan hanya sebagai pengantar tidur saja.

Untung Saya Lupa Mengaktifkan Kartu Kredit

21 Februari 2008

Lagi enak-enak teklak-tekluk setengah mengantuk naik taksi menuju bandara Cengkareng, tiba-tiba HP berbunyi. Setelah diangkat, nun di seberang sana seseorang dengan ramah memperkenalkan diri sebagai Bp Jonathan Entah Siapa…, Manajer Kartu Kredit Master dan Visa.

Pertanyaan pertama : “Apakah kartu bapak masih aktif?” Setelah saya jawab “Ya”, lalu dilanjutkan dengan pertanyaan kedua : “Kartu bapak Master atau Visa?”. Setelah saya jawab “Visa”, lalu beliau bapak Manajer itu melanjutkan dengan promosi yang “pokoknya wah tenan…”.

Sejauh itu tutur katanya masih sopan dan ramah. Dia pun dapat menyebut dengan benar alamat penagihan kartu saya. Saya jadi larut dalam pembicaraan dan mendengarkan penjelasannya. Irama pembicaraannya semakin cepat, seperti tidak memberi kesempatan kepada yang diajak bicara untuk menyela.

Inti promosinya : saya terpilih di antara seratus orang pemegang kartu yang mendapatkan voucher hotel gratis, tiket pesawat gratis untuk 2 orang, aneka ria diskon, masih ada tiket pesawat tambahan. Setiap tahun jatah itu akan diberikan. Berlaku sampai lima tahun. Tidak akan hangus meski setahun belum sempat digunakan. Dan seterusnya, dst, dst……

Mulailah kesadaran saya berangsur normal setelah tadi terkantuk-kantuk. Juga mulailah feeling saya merasakan ada yang tidak beres.

Pertama, masak promosi seperti itu dilakukan oleh seorang Manajer? Bukankah biasanya oleh staf Customer Service atau Bagian Promosi?.
Kedua, masak dia tidak tahu jenis kartu saya?
Ketiga, masak dia tidak tahu kartu saya masih aktif atau tidak?

Sempat juga ditanyakan pertanyaan selanjutnya : “Berapa batas kredit kartu bapak?”. Sejenak saya berpikir, lalu kemudian saya jawab asal-asalan saja : “Kalau tidak salah…., sekian-sekian……”. Dengan cepat sang Manajer menyahut dengan begitu meyakinkan : “Ya betul, pak!”. Lha padahal jawaban saya tadi ngawur, batas kredit saya yang sebenarnya tidak seperti yang saya katakan. Maka kini saya semakin pasti, bahwa ini adalah acara tilpun-tilpunan ngawur-ngawuran……

Karena saya ingin tahu kelanjutan kisahnya, maka saya ikuti saja pembicaraannya, tapi tetap dengan kewaspadaan tinggi jangan sampai terjebak kena tipu.

Setelah sekira lima menit dia bicara fasilitas-fasilitas yang dijanjikan sangat “wah” tadi, ujung-ujungnya dia mengatakan (bukan minta persetujuan) bahwa saya akan dikenakan biaya sebesar tiga juta sekian rupiah untuk sekali saja, bisa dicicil 12 bulan tanpa bunga.

Kontan, saya bicara setengah teriak di sela-sela pembicaraan cepatnya yang seperti susah disela tadi. Intinya saya minta agar tidak dilanjutkan dan saya tidak berminat ikut program itu. Lalu saya tegaskan bahwa saya tidak pernah memberi konfirmasi persetujuan tentang pengenaan biaya yang dimaksud.

Barulah sang Manajer keluar “aslinya”, membalas teriakan saya dengan nada kasar dan marah (wong saya yang punya kartu kok dia yang marah…) : “Tidak bisa, pak!. Biaya sudah dibebankan ke kartu bapak. Sekarang semua voucher sedang dikirim ke alamat bapak. Kalau bapak menolak, kiriman akan mengambang di jalan” (dalam hati saya…. emangnya jalan rumah saya banjir……).

Dengan cepat pula saya bicara keras : “Pokoknya saya tidak pernah menyetujui!”. Masih juga dibalas : “Tidak bisa, biaya sudah dibebankan ke kartu bapak!”.

Saya lanjutkan : “Ini tidak benar dan saya akan complaint……”. Sang Manajer pun menukas : “Silakan saja…….”. Lalu tilpun di seberang sana ditutup.

***

Satu episode komunikasi menjengkelkan baru saja saya lewati. Sebelum ini memang beberapa kali saya ditilpun untuk diberi penawaran ini dan itu melalui faslitas kartu kredit. Biasanya ketika saya tolak dengan halus, mereka pun bisa menerima. Tapi kali ini kok lain, malah cenderung dengan pemaksaan.

Saya merasa tidak nyaman juga jadinya. Lalu saya coba menghubungi bagian Customer Service penerbit kartu kredit saya, dengan maksud saya hendak mengkonfirmasi tentang omongan sang Manajer tadi dan menyampaikan complaint atas “gangguan” yang baru saya alami. Mesin penjawab otomatis di seberang sana menjawab bahwa kartu kredit saya belum diaktifkan.

Barulah saya ingat, sejak saya ganti kartu karena kartu yang lama ketlingsut entah hilang kemana, rupanya saya lupa belum mengaktifkannya. Maka, jangankan sang Manajer, saya pun tidak bisa menggunakan kartu itu, wong statusnya tidak aktif.

Rupanya ada untungnya juga lupa mengaktifkan kartu kredit. Dan sekarang saya malah jadi mikir, apakah masih perlu saya aktifkan kalau data saya ternyata bisa berada di tangan orang lain.

Oh ya, nomor tilpun sang Manajer tadi adalah 021-31936428 (barangkali saja ada yang berminat menerima tawarannya…… hik..hik..hik..)

Yogyakarta, 21 Pebruari 2008
Yusuf Iskandar

Kendal Kaline Banjir

21 Februari 2008

Sewaktu tempat-tempat lain tidak banjir, kota Kendal banjir. Sewaktu tempat-tempat lain kena banjir, Kendal tambah buuuanjir. Begitu karakter kota kelahiran saya, Kendal yang letaknya 30 km di sebelah barat Semarang, yang identik dengan banjir.

Mereka yang dulu sering menjalani rute pantura Semarang – Jakarta, pasti familiar dengan kota ini setiap kali datang musim rendeng (penghujan). Sampai kini pun kota ini tetap menjadi langganan banjir. Bedanya, kalau dulu banjir sering memutus jalan raya seperti yang sekarang terjadi di jalur Pati – Rembang. Kalau sekarang karena jalan raya semakin ditinggikan, tinggal perkampungan di sekitarnya tetap banjir.

Nampaknya sudah jadi tradisi alam, bahwa “berkahnya” Kendal datang bersama datangnya banjir. Siapa tahu?

Banjir kali ini munculnya seperti guyonan, silih berganti banjir-surut-banjir-surut, berulang kali. Baru saja selesai membersihkan latri (istilah lokal untuk tanah laterit atau lumpur) di dalam rumah, ngos-ngosannya belum hilang, lalu datang banjir mengirim lumpur lagi. Dibersihkan lagi, lalu datang lagi. Begitu dalam dua minggu terakhir ini. Kalau lumpur sudah masuk rumah, tinggi se-polok (tumit) atau se-gares (betis) tidak ada bedanya, sama-sama kudu brangkangan ngosek latri (sambil merangkak membersihkan lumpur) di dalam rumah.

Untungnya Pemkab Kendal cepat tanggap, bantuan beras, uang, dapur umum, cepat mengalir dan in-action. Tapi ya selalu saja ada pihak yang kurang puas dan juga yang “nakal”. Nampaknya dimana-mana kok ya begitu. Pihak Pemkab “cepat berbuat sesuatu” rasanya sudah sangat baiklah, tinggal dibutuhkan orang (pejabat) yang mau belajar bagaimana membenahi sistemnya agar semakin baik dalam management penanganan bencana.

(Padahal banjir sudah datang sejak dahulu kala, tapi belajarnya kok enggak selesai-selesai?)

Tadi malam, dari Jakarta saya mampir Kendal. Jalan Semarang – Kendal rusak parah. Pengemudi kendaraan, lebih-lebih sepeda motor di malam hari, perlu ekstra sabar dan hati-hati. Sangat berbahaya. Banyak lubang tidak terlihat. Taksi yang saya tumpangi dari bandara Ahmad Yani Semarang yang biasanya suka ngebut, kali ini sopirnya agak spaneng (stress), menthelengi dalan (melototi jalan), ngiwo-nengen milih dalan (ke kiri-ke kanan memilih jalan bagus), bolak-balik mak jeglak-jegluk….. terjebak lubang.

Sejak kemarin hingga hari ini, hujan seperti tidak berhenti. Cuaca memang membuat malas. Kasihan anak-anak sekolah. Belum lagi mereka yang rumahnya kebanjiran sejak Senin, bahkan sejak akhir minggu lalu dan belum tuntas membersihkannya, pasti sangat direpotkan.

Tinggal “uji nyali”, siapa yang mampu menjadi “pemenang” dalam keterdesakan, kesulitan dan cobaan semacam ini.

Saya ke Kendal bukan dalam rangka mau “banjiran” (istilah lokal yang maksudnya berekreasi banjir bagi mereka yang tidak kebanjian, wong rekreasi kok menikmati banjir…..) melainkan menjenguk orang tua yang sedang sakit. Rumah masa kecil saya sekarang kalau musim banjir mulai sering ikut-ikutan dimasuki air plus lumpur. Padahal dulu kampung saya termasuk daerah bebas banjir.

Memang benar, sungai-sungai semakin dangkal sehingga air cepat meluber kemana-mana seperti lumpur Sidoarjo. Waktu kecil dulu seingat saya permukaan air berada jauh dari permukaan jalan. Kalau ciblon (mandi di sungai) dengan meloncat dari jembatan ke permukaan sungai, serasa seperti sedang meloncat dari papan loncat kolam renang bertaraf internasional. Tapi kini permukaan air sepertinya mudah untuk diraih, juga semakin buthek (keruh).

Keadaan pendangkalan sungai semacam ini sepertinya juga terjadi di berbagai daerah. Semakin tanggul pelindung rumah atau kampung ditinggikan, air pun semakin mencari celah untuk melampauinya. Semakin jalan ditinggikan, air pun semakin leluasa nyambangi rumah dan perkampungan di sekitarnya.

Menyitir lagunya Waljinah :

Kendal kaline wungu, ajar kenal karo aku…..
Kendal kaline banjir, yen ora kenal ora usah dipikir…..

Kendal kaline banjir, yen pingin kenal (Kendal) yo monggo mampir….. ngrewangi ngosek lumpur (membantu membersihkan lumpur) maksudnya.

Salam banjir dari Kendal, 21 Pebruari 2008
Yusuf Iskandar

Bencana Alam Lumpur Lapindo?

19 Februari 2008

“Penetapan semburan lumpur Lapindo di Kabupaten Sidoarjo sebagai bencana oleh Tim Pengawas Penanggulangan Lumpur Sidoarjo DPR akan berimplikasi luas, antara lain pemerintah dan pemerintah daerah menjadi penanggungjawab dalam penanggulangan bencana, termasuk soal biaya” (Kompas, 19 Februari 2008).

***

Biasanya yang namanya bencana alam itu ya seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, angin puting beliung, atau yang sebangsa itu. Disaster yang natural. Disaster yang terjadinya karena faktor God will (skenarionya Sang Penguasa Alam). Lha, kalau bencana itu terjadi karena faktor keteledoran manusia, apa iya disebut bencana alam?

“Enak sekali jadi pengusaha Lapindo”, demikian komentar seorang teman. Setelah proyek daripada pengeboran daripada PT Lapindo Brantas Inc. itu menimbulkan bencana karena keteledoran pengusahanya, lalu berlindung di balik TP2LS DPR. Itu artinya, tinggal gelangang colong playu (lari dari tanggung jawab). Tinggal pemerintah yang ngurusi gelangang-nya. Lha, pemerintah ini kok ya mau-maunya ditinggali gelanggang…. Opo pemerintah wis sugih? (apa pemerintah sudah kaya?).

Sejatinya memang bukan persoalan kaya atau belum kaya, punya uang atau belum punya uang, dalam menyelesaikan masalah bencana lumpur Lapindo. Melainkan lebih kepada tanggungjawab moral dan professional pihak pengusahanya.

Jelas-jelas bencana lumpur itu terjadi sebagai akibat dari keteledoran atau kecerobohan pihak pengusaha dalam memenuhi SOP (Standart Operating Prosedure) dalam proses pengeboran. Hal ini sudah banyak dikaji oleh para ahli yang kompeten di bidangnya dan dipublikasi di berbagai media. Maka siapapun tahu siapa yang seharusnya paling bertanggungjawab atas akibat yang ditimbulkan oleh kegagalan itu.

Kini, masalah menjadi meluber seperti luberannya lumpur Lapindo di Sidoarjo. Bukan lagi menjadi masalah kegagalan teknis yang ditanggungjawabi secara moral dan professional. Melainkan sudah berubah menjadi masalah kegagalan teknis yang ditanggungjawabi secara politis. Dan, sidang paripurna DPR pun menggelar pembahasan ini. Sementara Wapres Jusuf Kalla menegaskan : “Bencana alam atau bukan, itu bukan masalah politis”.

Politisasi bencana lumpur Lapindo barangkali hanya masalah ketok palu di DPR. Tapi “implikasinya sangat luas dan tidak ringan”, kata ahli hukum tata negara UGM, Denny Indrayana. Sebab, bagaimana menyembuhkan cedera rasa keadilan masyarakat Sidoarjo yang menjadi korban lumpurlah yang sebenarnya paling mendesak diberikan solusi. Bagaimana mempersingkat proses tarik-ulur pemenuhan hak-hak para korban bencana, bukan malah ditarik-tarik terus, enggaaak…. selesai-selesai. Merekalah (mereka masyarakat maksudnya, bukan anggota DPR) yang paling merasakan beban penderitaan akibat bencana Lapindo.

Rasa apatis masyarakat terhadap proyek-proyek padat modal dan padat teknologi seharusnya lebih diutamakan untuk secepatnya diantisipasi. Sebab implikasinya bukan tidak mungkin menumbuhkan rasa tidak percaya masyarakat pada umumnya terhadap proyek-proyek semacam Lapindo, ataupun bentuk-bentuk proyek investasi yang lain. Bagaimana agar kelak masyarakat tidak menjadi trauma dalam menyikapi adanya proyek investasi yang sedang digalakkan pemerintah. Jangan-jangan kalau nanti ada masalah, tidak ada penyelesaian yang adil dan malah merepotkan saja.

***

Bagaimana melihat multiplier effect dari penanganan bencana semacam lumpur Lapindo ini? Mencoba melihat kembali tentang perlunya studi AMDAL bagi setiap proyek investasi (lihat : Keputusan Kepala BAPEDAL No. 8 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup), maka sosialisasi kepada masyarakat terhadap proyek yang akan dijalankan adalah salah satu tahap awal yang harus dilakukan.

Apa yang sekarang terjadi ketika tahap sosialisasi itu dijalankan? Masyarakat akan bertanya dengan kritis apa yang akan dilakukan oleh perusahaan atau pengusaha jika terjadi bencana “semacam” lumpur Lapindo. Artinya, efek traumatis masyarakat setiap kali ada proyek investasi di daerahnya nampaknya memang sudah tertanam.

Seorang teman bercerita, kecenderngan masyarakat yang skeptis terhadap adanya proyek investasi nampak dari komentar mereka : “lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya”. Itu karena cara penanganan korban lumpur Lapindo selalu menjadi referensi kekhawatiran mereka. Dan, memulihkan atau membalikkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap adanya proyek investasi bukanlah pekerjaan mudah. Tidak semudah membelokkan urusan moral dan professionalisme menjadi urusan politis.

Maka sebenarnya dapat dipahami kalau masyarakat Sidoarjo muring-muring (marah) lalu menjadi sensitif kalau sudah bicara tentang upaya memperjuangkan hak-hak mereka. Juga harus dipahami kalau masyarakat di tempat lain menjadi trauma terhadap proyek-proyek investasi yang sedang digalang pemerintah. Bukan saja terhadap proyek yang padat modal dan padat teknologi yang bersentuhan langsung dengan alam, melainkan juga proyek di berbagai sektor industri.

Bagaimana pemerintah menyikapi bencana (dan rentetan dampaknya) lumpur Lapindo dengan bijaksana dengan memperhatikan kepentingan hak-hak masyarakat yang menjadi korban, dan bagaimana membangun tingkat kepercayaan masyarakat terhadap proyek-proyek investasi lainnya, kiranya perlu lebih dikedepankan. Agar masyarakat sebagai stakeholder sebuah proyek investasi tidak sekedar menjadi penonton, atau peminta sumbangan ketika perayaan 17-an.

Perusahaan adalah pihak yang paling berkewajban memposisikan masyarakat sebagai stakeholder, dan paling bertanggungjawab menyelesaikan jika terjadi masalah. Bukannya malah tinggal gelanggang colong playu itu tadi. Tinggal gelanggang-nya diurus pemerintah dan masyarakatnya yang menjadi korban.

Apakah bencana lumpur (pengeboran) Lapindo lalu tetap diklaim sebagai bencana alam? Apakah bencana (keteledoran) manusia akan dituduhkan sebagai bencana (“keteledoran”) alam? Lha, kok nyimut…..

Yogyakarta, 19 Pebruari 2008
Yusuf Iskandar

Belajar Dari Kemelut Di Depan Gawangnya Freeport (I)

19 Desember 2007

( 1 )

Sebenarnya saya juga tidak habis pikir, kenapa sekelompok orang desa yang dilarang gresek (mengais-ngais) emas di saluran pembuangan tailing (limbah tambang) di tambang Freeport di pegunungan Papua sana, kok gedung Plaza 89 Kuningan yang ditimpuki batu oleh sekelompok calon pemimpin bangsa berpendidikan tinggi di Jakarta? Lebih tidak mudeng (paham) lagi, yang di desa sana kemudian menuntut penambahan porsi pembagian dana yang 1% dari pendapatan Freeport, tapi yang di Jakarta menuntut penutupan tambang.

Andaikan saya adalah pemilik Freeport, rasanya su pecah kitorang pu kepala ….. (sudah pecah kami punya kepala) karena kelewat pening mengurai benang kusut. Bagaimana tidak? Dari hanya satu soal tidak boleh mendulang tailing, lalu beranak-pinak jadi belasan soal yang harus dicarikan solusinya sak deg sak nyet (saat ini juga). Dari hanya soal bisnis lokal menyangkut segram-dua gram emas bagi masyarakat setempat, menjadi skala bisnis milyaran dollar bagi masyarakat dunia, menyangkut isu lingkungan, isu HAM, isu politik tentang PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat), isu “konspirasi” antar bangsa, isu penutupan tambang, sampai ke isu NKRI. Sak jane ki piye …..(sebenarnya bagaimana sih)?

Sebagai seorang mantan professional tukang insinyur tambang yang sekarang nyambi jadi CEO bisnis mracangan ritel di pinggiran Jogja, wajar kalau saya turut gundah dan gulana. Namun bagaimanapun juga saya harus berpikir jernih….., agar bisa tetap berpikir professional dan proporsional. Saya menerjemahan kata professional ini dengan mudah saja, yaitu mereka yang berpikir dan bertindak berlandaskan SOP (Standard Operating Procedure) atau tata kerja yang benar di bidang masing-masing. Karena itu mereka yang berpikir dan bertindak tidak atas dasar SOP yang semestinya (seumpama berdasarkan rumor, katanya, kabarnya, tampaknya, bajunya, warnanya, baunya, dsb.), di mata saya tak ubahnya seperti acara infotainment atau infomezzo.

Cilakak duabelas-nya, kalau yang berpikir dan bertindak tidak sesuai SOP itu ternyata seorang penjabat (pakai sisipan”n”), tokoh atau orang yang keminter, maka meroketlah dia menjadi seorang bintang infotainment baru. Kalau hanya untuk sekedar bahan guyonan atau plesetan, daripada bengong, okelah…….., saya juga suka dengan infomezzo untuk bekal haha-hihi….. mengusir sentress (pakai sisipan”n”). Tapi kalau kemudian dilempar ke tengah forum publik yang diliput media? Kalau dikatakan tidak professional….., nanti tersinggung. Tapi kalau mau dibilang professional….., kok bau-baunya ngawur……….

Itulah hal pertama yang membuat saya turut belasungkawa dan menyedihi diri sendiri. Sebab akhir-akhir ini saya banyak mendengar dan membaca komentar para tokoh dan pakar terkait dengan kemelut di depan gawangnya Freeport. Sebagian di antaranya kedengaran professional dan proporsional. Namun sebagian yang lain pathing pecothot….. (kata lain untuk tidak professional).

Lho, mereka juga para ahli. Iya…! Tapi, ibarat seorang ahli tinju yang mengulas soal teknik-teknik menjahit baju (akan lain soalnya kalau ahli tinju ini pernah ikut kursus menjahit misalnya). Atau, ahli bikin bakso berformalin membahas tentang bagaimana seharusnya mengatasi penyakit flu burung (akan lain soalnya kalau si tukang bakso ini pernah jadi petugas lapangan penyuluh kesehatan misalnya). Ya bolah-boleh saja….. wong ini negeri demokrasi, yang (sebaiknya) tidak boleh dan tidak etis adalah kalau njuk menyalahkan bahkan malah mengadili pihak lain.

Alangkah indahnya kalau sebelum menjatuhkan vonis terlebih dahulu mempelajari berkas perkaranya dengan cermat, teliti, adil dan tidak emosional. Bila perlu observasi lapangan dengan membawa koco-benggolo (suryakanta), sehingga tahu persis seluknya dan beluknya dan bukan hanya kabarnya dan kabarinya.

Jangan-jangan mereka yang beringas di Plaza 89 Kuningan dan bahkan di Jayapura itu adalah generasi muda Papua yang belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri (melainkan mata kepala orang lain yang rentan terhadap praktek manipulasi dan provokasi) operasi penambangan Freeport dan (apalagi) memahami bagaimana Freeport akhirnya menginvestasikan uang milyaran dollar di Papua dan terus bertambah, sejak 40 tahun yang lalu.

Lha kalau investor kelas kakap seperti Freeport sudah mulai merasa tidak man-nyamman, bagaimana dengan investor-investor besar lainnya? Apalagi yang kelas teri? Lalu muncul dua kepentingan :

Pertama, kepentingan karena khawatir kalau-kalau calon investor kakap lainnya pada lari nggembring membatalkan rencana penanaman modalnya dan Kedua, kepentingan karena khawatir kalau-kalau masyarakat lokal menjadi pihak yang selalu terkalahkan. Padahal mestinya kedua belah pihak bisa di-guyub-rukun-kan untuk hidup berdampingan dalam kerangka simbiose mutualisme untuk kesejahteraan bersama.

Adalah fakta bahwa ada yang perlu dibenahi dalam pengelolaan penambangan Freeport sebagai sebuah sistem (bukan sub-sistem) bisnis. Tapi adalah opini emosional kalau kemudian ditemukan adanya masalah kok lalu tambangnya ditutup saja. Janganlah seperti man-paman petani di kampung saya yang membakar sawahnya gara-gara judeg (kehabisan akal) karena sawahnya diganggu tikus. Atau, man-paman Bush yang membakar Afghanistan karena dikira tikusnya ngumpet di sana.

***

Hal kedua yang membuat saya sangat prihatin adalah bahwa saya haqqun-yakil potensi konflik atau kemelut di depan gawangnya Freeport sekarang ini mestinya sudah teridentifikasi sejak lebih 35 tahun yang lalu. Tapi seperti pernah saya singgung sebelumnya, jangan-jangan…………

“sang pimpro gagal mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh stakeholders proyeknya, atau sebenarnya tahu permasalahannya tetapi gagal menempatkannya dalam prioritas problem solving and decision making. …….Pada waktu itu, barangkali memang para stakeholders itu senyam-senyum dan oka-oke saja karena segenap kepentingannya tidak (atau belum) terganggu, fasilitas hidupnya terpenuhi dan tampaknya aman-aman saja ….. Tapi ketika jaman berganti dan permasalahan yang terpendam itu kemudian meledak karena ketemu pemantik, tinggal sang pimpro dan rombongan shareholders-nya kebakaran jenggot”.

Sebagai seorang sopir yang baru saja bermanuver banting setir atau alih profesi, saya melihat agaknya cerita tentang Freeport ini adalah cerita rakyat tradisional tentang sopir-sopir besar yang mengabaikan penumpang-penumpang kecilnya. Masa-masa 35 tahun yang lalu, penumpang-penumpang kecil ini sepertinya tidak terlihat oleh sopir-sopir kendaraan besar yang ex-officio adalah penguasa dan pengusaha. Kalaupun terlihat, ya hanya nylempit di antara bagasi-bagasi besar penumpang lainnya. Sehingga tampak benar-benar keciiiiiil….. sekali, malah masih pada ber-pornoaksi telanjang, enggak pakai baju, ingusan. Akibatnya, menurut ngelmu manajemen resiko……. cincai-lah itu, adalah faktor threats (ancaman) yang dapat dieliminasi pada saat itu juga, tanpa perlu berpikir panjang, apalagi melalui polling SMS……

Namun agaknya ada yang terlupakan. Jaman telah berganti, sopir-sopir cadangan juga bermunculan, penumpang pun berganti generasi. Masa 35 tahun adalah masa yang sangat cukup bagi penumpang-penumpang kecil yang dahulu ingusan dan telanjang untuk berbenah, berdandan dan mematut-matut diri. Sementara sopir-sopir itu tetap saja menganggap mereka seperti 35 tahun yang lalu. Menganggap bahwa senyam-senyum, oka-oke dan manggut-manggutnya mereka sekarang adalah sama dengan lebih 35 tahun yang lalu.

Maka jadilah bom waktu yang tinggal menunggu pemicu. Maka begitu ketemu pemicu, bukan masalah bomnya yang meledak. Kalau hanya bomnya….. kecil lah itu. Melainkan multiple effect kerusakannya ternyata merambat kemana-mana, menjadi pemicu atas timbunan daftar panjang ganjalan yang sudah terendap dan terakumulasi selama periode berbenah diri, sampai ke urusan yang tidak masuk akal sekalipun.

Tahulah saya sekarang, kenapa urusan tidak boleh mendulang emas di saluran pembuangan limbah tailing di puncak pegunungan nun jauh di sana bisa menyublim di ujung dunia lainnya menjadi keberingasan menuntut tambang ditutup. Rupanya timbunan permasalahan penumpang-penumpang yang dulu dianggap kecil itu memang sambung-menyambung menjadi satu, seperti nyanyian ….. Dari Mimika Sampai Jakarta ….. yang berjajar pulau-pulau, dan itulah Indonesia…..

( 2 )

Freeport riwayatmu kini……. Apakah kejadian akhir-akhir ini akan dipandang sebagai hanyalah sebutir kerikil yang nyisip di antara jari kaki ataukah sebongkah gunung es? Tidak ada bedanya. Toh periode lebih 35 tahun sudah terlewati dan nampaknya tidak terlalu sulit untuk diatasi. Barangkali periode 35 tahun ke depan pun bisa diatasi sebagaimana periode 35 tahun yang lalu. Mudah-mudahan jaman tidak berubah. Tapi ….., siapa yang bisa menggaransi? Maka disitulah baru muncul bedanya…….

Bumi Papua sedang dilanda angkara……. Sialnya kok ya di sana ada Prifot (demikian orang awam suka menyebut perusahaan tambang raksasa ini. Membolak-balik pengucapan huruf “f” dan hurup “p” memang lebih mudah dan lebih enak didengar, seperti menyebut pilem, prei, paham, pilsapat, parmasi, palsapah, dan sebaliknya juga fagi-fagi fergi ke fasar lufa fakai celana fendek karena kefefet kefingin fifis…….).

Konplik demi konplik mewarnai romantika bisnis milyaran dollar. Kemelut demi kemelut merundung di depan gawangnya Freeport. Padahal mestinya ada yang bisa dilakukan untuk menghindari blunder dengan cara yang arif dan bijaksana. Mundur selangkah untuk maju sekian langkah. Kalau mau ……….. (Ijinkan saya menirukan kata “Atasan” saya Yang (Maha) Satu : ….. Tidak ada kesulitan melainkan di baliknya ada kemudahan — QS. 94:5-6).

Ibarat sopir-sopir kendaraan besar yang ex-officio pengusaha dan penguasa ini dan itu, yang terlena lebih 35 tahun. Sopir yang satu lebih suka status quo….. (Habis enak sih…..!). Sopir yang satu memilih menjadi seperti paman petani atau paman Bush. Sementara sopir-sopir lainnya sudah terbangun dari terlenanya, tapi ketika mencoba bermanuver banting setir kepalanya nyampluk (membentur) kaca spion sehingga hanya bisa melihat dari sisi yang berbalikan (sayangnya tidak setiap kaca spion tertulis peringatan seperti di luar negeri : “objects in mirror are closer than they appear”) .

Kalau saya……., kalau saya ini lho….., lebih baik terlena 35 tahun tapi ada yang membangunkan. Perkara siapa yang membangunkan ya mestinya bukan soal benar. Kata orang sonoan dikit : perhatikan “what”-nya dan bukan “who”-nya. Menyitir pesan Kanjeng Nabi Muhammad saw. : (simaklah) apa yang dikatakan dan bukan siapa yang mengatakannya ….. (bahasa londo-Arabnya : maa-qoola walaa man-qoola).

Kini threats (ancaman) sudah di depan hidung dan mata. Bukan sekedar mendulang tailing, bukan sekedar soal lingkungan, bukan sekedar praktek HAM. Itu isu yang sudah usang, sudah mataun-taun (bertahun-tahun) diungkat-ungkit-ungkat. Melainkan lebih serius lagi soal nyanyian Dari Sabang Sampai Merauke…… yang sedang diublek-ublek oleh penumpang-penumpang kecil yang 35 tahun yang lalu masih telanjang dan ingusan….., karena di jaman itu belum ada kompor minyak masuk pedalaman Papua, sehingga tidak ada yang ngomporin……

***

Berhubung saya yang hanya sopir kendaraan kecil yang ex-officio CEO “Madurejo Swalayan”, sebuah bisnis ritel ndeso, ini selalu optimis dan terkadang kelewat percaya diri, maka saya keukeuh untuk mengatakan bahwa di balik setiap threats (ancaman) pasti ada opportunities (peluang). Dan peluang itu tidak akan pernah habis digali dan tidak akan pernah selesai digarap.

Merubah ancaman menjadi peluang memang bukan pekerjaan seperti membalik telapak tangan (kalau telapak kaki memang rada sulit). Perlu perjuangan panjang dan melelahkan. Perlu kerja keras semua pihak. Dan lebih berat lagi adalah perlu good will dan hati legowo dari para sopir untuk melakukan banting setir secara terencana, terukur, terarah dan tidak emosional.

Pendeknya, matahari harus dibangunkan…..!. (Ben tambah nggegirisi……!). Kalau perlu jangan biarkan dia selalu tenggelam di horizon barat, melainkan tenggelamkan dia di ufuk timur. Paradigma community development harus dirombak-mbak…..! Tidak ada tawar-menawar…..! Paradigma lho, bukan paraturan (peraturan atau kebijakan). Kalo paraturan mah suke-suke nyang bikin aje….

Suka tidak suka, saya tetap mengatakan, jangan biarkan stakeholders selalu berarti obyek, melainkan subyek. Setidak-tidaknya ajari mereka agar berkompeten menjadi subyek. Kalau paradigma tidak berubah, maka action plan-nya pasti akan tambal sulam saja, gali lubang tutup lubang. Nampaknya, “ngelmu gaib” pun harus diyakinkan. Dan yang paling penting, bahwa peluang itu sebenarnya ada di depan mata.

***

Sesungguhnya ini bukan hanya monopoli sopir-sopir kendaraan besar seperti Freeport. Freeport saja yang sedang ketiban apes, duluan diobok-obok. Meskipun sesungguhnya ada fakta lain yang tidak bisa saya ceritakan di sini. Bahkan oleh para antropolog pun tidak pernah disinggung-singgung adanya satu faktor sosio-kultural-antropologis (embuh panganan opo iki……) yang terkait dengan etos kerja.

Tapi baiklah, hal itu dikesampingkan saja. Masih banyak sopir-sopir kendaraan besar berpangkat penguasa dan pengusaha di tempat-tempat lain yang seprana-seprene (sengaja) terlena dan enggan dibangunkan. Dan agaknya perlu mulai mawas diri dan belajar dari apa yang sedang dirundung oleh Freeport. Tidak ada buruknya kalau mau belajar dari kemelut di depan gawangnya Freeport, mumpung belum kedarung (telanjur) menjadi blunder.

Omong-omong soal menggarap peluang, rasanya kok tidak ada kata terlambat. Sopir-sopir boleh udzur, boleh meninggal duluan (kalau menginginkan), boleh malas mikir, boleh over-sek (saya suka terjemahan baru ini, untuk menyebut : usia lebih seketan, lebih limapuluhan), tapi kernet dan penumpang kecilnya pasti semakin pintar dan cerdas. Lha, mbok kernet-kernet dan penumpang-penumpang kecil itu disuruh memikirkan bagaimana menggali, menangkap dan menggarap peluang-peluang yang ada. Agar hubungan sesrawungan (silaturahmi) antara segenap anasir stakeholders dan shareholders tampak lebih manis, mesra dan profitable.

Tapi perlu pengorbanan dan biaya tidak sedikit? Lha iya….., sudah dibilangin …….., mbok kernet-kernet dan penumpang-penumpang kecil itu disuruh memikirkan bagaimana memasukkan biaya-biaya dan peluang-peluang itu sekaligus ke dalam analisis bisnis yang diperbaharui. Mencari tambahan kernet-kernet yang lebih terampil dan trengginas (lincah) juga bukan hal yang tabu. Jer basuki mawa bea…….. Kalau kepingin hidup aman, nyaman, damai, tenteram, sejahtera, gemah ripah loh jonawi tata tentrem kerta raharja, keuntungan dan kekayaannya terus melimpah dan menggunung, ya jelas perlu pengorbanan dan biaya.

Tidak lain agar anak-cucu sopir-sopir yang sudah over-sek itu tetap bisa menyanyikan lagu Dari Sabang Sampai Merauke dengan penuh semangat, langkah tegap, kepala tegak dengan rona kebanggaan di wajahnya, entah berambut lurus atau keriting, entah berkulit sawo bosok, kuning langsat atau gelap gulita …….

Madurejo, Sleman — 5 Maret 2006
Yusuf Iskandar

Belajar Dari Kemelut Di Depan Gawangnya Freeport (II)

19 Desember 2007

( 3 )

Saya rada terhenyak membaca tulisan berjudul “Bongkar Kejahatan Freeport” yang berisi wawancara dengan Amin Rais. Bukan soal kejahatannya. Kalau yang namanya kejahatan (bila memang terbukti benar) di manapun juga ya harus diberantas dan jangan dibiarkan meraja dan melela. Saya justru nglangut….. (menerawang jauh) perihal bongkarnya. Bukankah bangsa ini terkenal dengan sindiran pandai mbongkar tidak bisa masang (kembali)? Kata lain untuk pandai mengacak-acak setelah itu kebingungan untuk memperbaiki dan merapikannya kembali.

Di berbagai forum milis di internet, sempat muncul banyak tanggapan dan silang pendapat tentang topiknya Amin Rais ini. Sebenarnya saya agak enggan untuk memikirkannya (mendingan saya ngurusi toko saya “Madurejo Swalayan” agar semakin maju). Biar sajalah menjadi porsinya para ahli untuk membahasnya. Tapi lama-lama saya terusik juga dengan beberapa komentar rekan-rekan (yang pernah) seprofesi yang berada di dekat saya. Seorang rekan lain mengirim email agar saya menelaah lebih dalam tentang hal ini.

Sejujurnya, saya tidak memiliki kapasitas sedalam itu. Sedang wadah organisasi profesi maupun asosiasi industri yang lebih berkompeten pun tidak kedengaran suaranya. Karena topik ini sebenarnya sudah menyangkut banyak dimensi. Oleh karena itu saya akan mencoba menuliskan pikiran saya dan membatasi hanya dari sudut pandang seorang mantan pekerja tambang dan sesuai peran sosial saya sebagai anggota masyarakat, agar pikiran saya tetap jernih, netral dan logis.

***

Sekitar tahun 1996 (atau 1997, saya lupa persisnya), Amin Rais pernah datang ke Tembagapura atas undangan Himpunan Masyarakat Muslim (HMM) di lingkungan PT Freeport Indonesia (PTFI). HMM adalah organisasi sosial keagamaan yang menjadi wadah bagi kegiatan keagamaan segenap keluarga besar PT Freeport Indonesia, kontraktor maupun perusahaan privatisasi, mencakup segenap karyawan dan keluarganya, yang tersebar dari puncak gunung Grassberg hingga pantai Amamapare. Organisasi yang belakangan saya sempat dipercaya untuk memimpinnya, dua tahun sebelum saya banting setir.

Menilik siapa pengundangnya, tentu saja Pak Amin Rais ini diundang dalam kerangka misi dakwah di lingkungan PTFI, setidak-tidaknya menyangkut peran belau sebagai tokoh Muhammadiyah dan dosen UGM. Maka selama di Tembagapura dan sekitarnya, selain mengisi berbagai kegiatan dakwah juga diskusi di masjid. Semua berlangsung sangat konstruktif dan menambah wawasan. Sebagai tamu HMM, beliau tentunya juga tamu PTFI, maka ada kesempatan bagi beliau untuk berkeliling melihat serba sekilas (baca : waktunya terlalu singkat untuk dapat mendalami) proses operasi pertambangan dari ujung ke ujung.

Semua kegiatan beliau di lingkungan PTFI telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur standar yang berlaku di perusahaan. Pak Amin Rais pun ketawa-ketiwi, manggut-manggut dan puas dengan berbagai penjelasan tentang berbagai tahapan produksi dan segala macamnya. Tidak sedikitpun muncul komentar bernada negatif dari mulut beliau. Para panitia dari HMM pun senang mendampingi beliau selama kunjungannya. Ya, siapa yang tidak bangga berada dekat dengan seorang tokoh sekaliber Amin Rais ini.

Namun apa yang kemudian terjadi esok harinya sungguh membuat kuping semua aktifis HMM dan pejabat PTFI merah dibuatnya. Baru sehari setelah meninggalkan Tembagapura dan Timika, Amin Rais sudah melempar komentar tajam tentang PTFI kepada wartawan dan masih dilanjutkan di DPR. Maka kalang kabutlah semua pejabat PTFI, terlebih aktifis HMM yang “terpaksa” menjadi pihak paling bertanggungjawab atas kehadiran Amin Rais.

***

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya pulang kampung ke Kendal, seorang adik ipar saya bercerita tentang peluang berinvestasi untuk pembuatan batu bata. Pada saat itu adik ipar saya ini memang sedang menekuni bisnis pembuatan batu bata. Lokasinya di pinggiran sungai, tepatnya memanfaatkan tanah lempung hasil pengendapan yang membentang di sepanjang bantaran sungai. Tanah laterit endapan sungai itu memang dimanfaatkan oleh banyak masyarakat di sekitarnya untuk pembuatan batu bata.

Bahkan di tempat-tempat lain terkadang tanah persawahan pun dimanfaatkan untuk pembuatan batu bata. Tanah lempung sungai dan sawah memang paling bagus untuk bahan pembuat batu bata. Kalau kemudian ditanyakan apa sungai dan sawahnya lalu tidak rusak dan tergerus semakin dalam karena diambil tanah lempungnya? Maka jawabnya, itulah anugerah Sang Pencipta Alam agar dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan penghuninya. Adakalanya tanahnya habis terkikis, adakalanya bertambah lagi endapan tanah di atasnya. Sang Pencipta Alam telah dengan sungguh-sungguh mencipta setiap butir tanah. Maka penghuninya pun mesti dengan sungguh-sungguh mendayagunakannya dengan bijaksana.

Di situlah kuncinya. Bijaksana. Maka jika diperlukan pengaturan atas segala sesuatunya, mesti dirancang dan diarahkan untuk menuju kepada pendayagunaan yang bijaksana. Bijaksana bagi alam ciptaan-Nya dan bijaksana bagi pengambil manfaatnya. Maka kalau kini kita sedang membangun, jangan lupa bahwa batu bata yang kita gunakan itu berasal dari galian ratusan bantaran sungai dan ribuan hektar sawah. Entah kita sedang membangun rumah, kantor, sekolah, mal, rumah sakit, pasar, pabrik, jembatan, bendungan, saluran irigasi atau monumen.

( 4 )

Pertambangan adalah industri yang padat modal dan beresiko tinggi. Maka wajar kalau tidak setiap pengusaha punya nyali untuk menanamkan investasinya di industri pertambangan, apalagi yang berskala raksasa. Terlebih pada masa itu, pada masa negeri ini sedang bangkit, pada masa pemerintah belum sepenuhnya siap menangani investasi asing yang sak hohah dollar (buanyak sekali) nilainya. Maka kalau pada tahun 1967 Freeport mau menanamkan modalnya di Papua, itu hasil perjuangan tidak mudah oleh para pelobi kelas tinggi di jajaran pejabat pemerintah Indonesia.

Banyak kekurangan pada mulanya memang, karena menangani Freeport adalah pengalaman pertama pemerintah Indonesia dalam menangani modal asing bidang pertambangan. Belum lagi lokasinya di kawasan yang masih sangat terpencil dan jauh dari pusat pemerintahan. Namun tahun demi tahun kekurangan itu semakin diperbaiki hingga sekarang. Bangsa ini pun semakin pandai, baik dari segi teknis maupun manajerial.

Adalah fakta bahwa dalam perkembangannya, Freeport tidak tinggal mengeruk keuntungan. Kontribusi kepada pemerintah dan masyarakat juga semakin meningkat dalam berbagai bentuknya. Meskipun seperti pernah saya singgung sebelumnya, perlu ada perubahan paradigma dalam community development. Freeport mestinya tidak mengingkari akan hal ini. Tidak ada kata terlambat untuk melakukannya. Bahwa kondisi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi dimana tambang Freeport berada saat ini berbeda jauh dengan kondisi lebih 35 tahun yang lalu, dimana masyarakatnya masih hanya bisa tolah-toleh kesana-kemari, kami tenggengen….. (bengong).

Adalah fakta bahwa masyarakat di sekitar Freeport berada, kini sebagian di antaranya sudah semakin pandai dan terdidik. Dan memang demikian seharusnya. Tidak bodoh turun-temurun, melainkan harus ada yang berani menjadi pandai. Sehingga mampu berpikir lebih komprehensif dan berwawasan luas tentang bagaimana masa depan masyarakat dan desanya.

Adalah fakta bahwa sekitar 90% saham Freeport kepemilikannya berada di tangan pihak asing (yang kebetulan berbangsa Amerika) dan pihak Indonesia hanya mengantongi sekitar 10% (saya sebut sekitar karena saya tidak hafal koma-komanya). Maka pembagian keuntungannya pun tentunya kurang lebihnya akan seperti itu juga. Dengan kata lain, hasil yang dibawa ke Amerika akan 9 kali lebih banyak daripada yang ditinggal di Indonesia. Akan tetapi hal ini pun harus dipahami karena memang sejak semula (meski sempat bertambah dan berkurang) pembagian porsi sahamnya demikian. Itulah kesepakatan yang ada sejak sebelum industri pertambangan itu dimulai. (Konyol sekali kalau saya urun 10% untuk investasi pembuatan batu-bata kok keuntungannya minta bagian 50%, misalnya).

Adalah fakta bahwa Freeport sudah menunaikan kewajiban pajaknya sesuai dengan kesepakatan Kontrak Karya yang pernah ditandatangani (yang kemudian pernah juga direvisi). Rasanya, saya tahu persis bahwa tidak ada satupun policy terselubung yang diterapkan Freeport untuk mengelabuhi sistem peraturan perpajakan yang sudah disepakati. Kalau kemudian ternyata dipandang bahwa sistem perpajakan yang berlaku itu merugikan Indonesia dan menguntungkan Freeport, maka tidak bijaksana kalau kemudian Freeport-nya yang disalahkan.

Adalah fakta bahwa ada kondisi lingkungan yang rusak sebagai akibat dari dampak operasi penambangan. Akan tetapi, hal yang perlu dipahami adalah bahwa semua sistem pengelolaan lingkungan itu sudah dikaji sangat mendalam dan memakan waktu bertahun-tahun, hingga akhirnya disetujui oleh pemerintah Indonesia yang notabene diwakili oleh para pakar di bidangnya, sebagai alternatif terbaik dalam pengelolaan dampak lingkungan pertambangan.

Adalah fakta bahwa keberadaan Freeport baik secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan lebih duapuluh ribu lapangan pekerjaan bagi orang Indonesia. Jika mereka yang bekerja di lingkungan Freeport itu rata-rata, katakanlah, menanggung seorang istri dan seorang anak, berarti ada puluhan ribu orang yang hidupnya bergantung dari perusahaan ini.

Adalah fakta bahwa sebagian posisi tertentu dalam manajemen Freeport masih dikuasai oleh tenaga kerja asing. Maka menjadi tugas pemerintah dan tanggung jawab pemilik perusahaanlah yang semestinya berbaku-atur bagaimana sebaiknya kebijakan ketenagakerjaan diterapkan. Taruhlah pemerintah mau menerapkan policy ketenagakerjaan yang ketat, tidak ada alasan bagi Freeport untuk mengelaknya. Tinggal pilihannya kemudian adalah : Pertama, sang pemerintah ini mau atau tidak…..? Kedua, tenaga kerja domestiknya siap atau tidak…..? Pilihan yang tidak sulit sebenarnya, asal kedua niat baik itu dapat dijembreng (digelar) dengan lugas dan tuntas, tanpa sluman-slumun-slamet…..

Adalah fakta bahwa yang namanya pertambangan itu ya pasti menggali tanah atau batu karena barang tambangnya berada di dalamnya. Karena mineral bijih tembaga, emas dan perak itu ada nyisip dalam bongkah batuan, maka untuk mengambilnya tentu berarti harus mengambil bongkah batuannya. Sama persis seperti kalau mau mengambil pasir ya harus menggali timbunan pasir. Untuk mengambil batatas (ubi) ya harus menggali akar tanaman batatas (ubi). Untuk mengambil sagu ya harus menebang dan menguliti pohon sagu. Untuk memperoleh batu bata ya harus mengambil endapan tanah lempung di bantaran sungai atau sawah. Yang menjadi masalah adalah kalau mau mengambil ubi tapi mencuri tanaman ubi orang lain, atau mengacak-acak lahan milik orang lain, atau tanah hasil galiannya ditimbun begitu saja di kebun orang lain. Atau penggalian pasir dan pembuatan batu bata itu dilakukan di halaman rumah orang lain tanpa ijin.

Pertanyaannya menjadi : Kalau kemudian dinilai ada yang salah dengan Freeport, apakah semua kerja keras itu akan di-stop atau diberhentikan sekarang juga? Dengan tanpa memperhitungkan rentetan akibat dan dampaknya, baik secara teknis, politis, ekonomis, sosial dan aneka sudut pandang lainnya?. Untuk menjawab pertanyaan ini biarlah menjadi porsi para pakar di bidangnya dan para pengambil keputusan. Lebih baik saya tinggal tidur saja, apalagi barusan sakit gigi yang minta ampun sakitnya……

Namun kalau saya ditanya bisik-bisik (jangan keras-keras lho ya…..), saya akan mengatakan bahwa hanya orang yang lagi esmosi (emosi, maksudnya) dan berpikiran cupet (dangkal) saja yang akan menjawab : “Ya”.

Tapi penambangan Freeport di Papua itu sangat merugikan?. Nah, kalau masalah itu yang dianggap biang keladinya, ya mari dikumpulkan saja semua pihak yang terkait. Pemilik Freeport, pemerintah dan masyarakat yang berkepentingan untuk duduk bersama dengan kepala dan hati dingin, bagaimana merubah yang merugikan itu menjadi menguntungkan semua pihak. Semua kerumitan kemelut itu terjadi sebagai akibat dari adanya sistem peraturan dan pengaturan yang kurang pas yang selama ini telah diberlakukan dan disepakati. Tidak perlu ngeyel atau ngotot-ngototan. Hukum alam mengatakan, bahwa sesuatu itu terjadi pasti karena ada sesuatu yang lain yang tidak pas atau tidak seimbang.

Namun kabar baiknya adalah, selama sesuatu itu masih bernama peraturan (bukan hukum Tuhan), maka pasti merupakan hasil karya manusia. Ya tinggal mengumpulkan manusianya yang membuat peraturan dan kesepakatan itu, untuk kemudian bersepakat merubahnya. Pihak pemerintah memang menjadi juru kunci, maksudnya pihak yang memegang kunci untuk mengurai kemelut di depan gawangnya Freeport. Saya kok sangat yakin, meski sesungguhnya tidak mudah, bahwa banyak cara bisa dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki dan membenahi kekurangan, kekeliruan, ketidakadilan, kerugian, kegagalan, dan hal-hal lainnya, selain pokoknya di-stop saja.

( 5 )

Di sisi lain, kalau kemudian dari fakta-fakta di atas panggung dan di depan layar seperti yang saya kemukakan di atas, ternyata dijumpai ada penari latar yang numpang jingkrak-jingkrak lalu dapat honor gede, ya cancang (ikat) saja kakinya. Dan jika diketemukan indikasi adanya tindak penyelewengan, korupsi, kolusi, nepotisme, kejahatan, dan segala macam hal-hal buruk lainnya, ya bongkarlah dan berantaslah itu. Tangkap penjahatnya, adili dan kenakan sangsi hukuman yang setimpal. Tidak boleh ada kejahatan yang dilindungi atau ditutup-tutupi. Siapapun dia, tidak pandang bulu, kulit, rambut, warna atau baunya dari pihak manapun. Begitu saja kok freeport…..

Jangan karena ada fakta-fakta yang buruk atau tidak menguntungkan, lalu fakta-fakta yang baik dan menguntungkan malah dikorbankan. Sementara untuk meraih fakta-fakta yang baik dan menguntungkan itu diperlukan usaha dan waktu yang tidak sedikit dan tidak mudah.

Hanya masalahnya, ya jangan hanya pintar membongkar, setelah itu dibiarkan saja tidak dipasang lagi. Inilah yang membuat saya nglangut…… Kita cenderung suka mbongkar-mbongkar, mengacak-acak, mengobrak-abrik, setelah itu tidak bisa memperbaiki, menata ulang dan membenahinya menjadi lebih baik.

(Semalam saya bermimpi menjadi pemilik Freeport, lalu saya berpidato di depan khalayak. Begini pidato saya : “Wahai segenap karyawan Freeport, masyarakat Papua, pejabat pemerintah Indonesia, yang sangat saya cintai dan hormati. Sebagai seorang pengusaha tulen, maka saya akan mencari dan menggarap setiap peluang guna meraih keuntungan sebuuuanyak-buuuanyaknya, dengan tetap menjunjung tinggi peraturan dan kesepakatan yang pernah saya tandatangani……..”. Ketika kemudian saya terbangun, saya celatu : “Apa ya saya salah kalau punya pikiran seperti itu…..?”)

Madurejo, Sleman — 13 Maret 2006
Yusuf Iskandar

Surat Pembaca

19 Desember 2007

Beberapa bulan terakhir ini saya mempunyai kebiasaan baru. Terutama sejak urusan “Madurejo Swalayan” agak mereda dan mulai ada tanda-tanda running well, meskipun belum well-well amat sih. Tapi paling tidak ya sudah mulai bisa ditinggal untuk konsentrasi tolah-toleh pada peluang bisnis yang lain.

Pagi hari setelah ngojek mengantar anak-anak ke sekolah, duduk malas-malasan di teras, sambil menikmati kopi sesruput-dua sruput dan ngudut sehisap-dua hisap, sesekali mendengarkan berita pagi di televisi (mendengarkan saja, wong tidak sambil melihat TV-nya melainkan sambil duduk dari kejauhan), sambil baca koran tentu saja. Kebiasaan dan kesukaan baru saya adalah mencermati surat pembaca di surat kabar, kadang-kadang juga majalah.

Lha wong namanya surat pembaca, jadi isinya ya sebagian besar adalah keluhan. Ada sedikit porsi saja yang bernada penjelasan atau informasi. Seandainya surat pembaca itu ada gambarnya, maka akan tampaklah wajah-wajah orang nesu (marah), mecucu (bersungut-sungut), gethem-gethem (geregetan), sampai yang misuh-misuh (maki-maki), meski ada juga yang klecam-klecem (tersenyum malu) sambil jengkel, juga nglulu (nah, yang ini saya tidak tahu bahasa Indonesianya).

Terkadang syik-asyik juga membayangkan sedang menatap wajah-wajah itu. Saya sangat menikmati membaca aneka surat pembaca. Meskipun tidak saya pungkiri ada kalanya emosi saya terlarut di dalamnya. Namun saya tetap mencoba menikmatinya sebagai sebuah selingan pagi. Lebih nikmat dibanding nonton acara di televisi pagi-pagi sudah ngrumpitainmen, ngerasani rumah tangga selebriti. Kenal juga tidak, tetangga bukan, saudara apalagi…….

Seperti pagi tadi, saya tertarik membaca sebuah surat pembaca di harian Kompas edisi Yogyakarta. Karena saya menganggapnya selingan, maka tidak perlu dipikir sampai mendalam. Apalagi mengkajinya soal benar atau salahnya, logis atau tidak logisnya. Tidak perlu sampai pethenthengan sambil menambah jumlah kerutan di kening yang sudah banyak. Melainkan anggaplah kita sedang menikmati sebuah pementasan komedi situasi yang penuh satire dan sindiran.

Sambil tersenyum kecut melihat tingkah polah bagaimana masyarakat kita mengekspresikan ketidakpuasan dan kepuasannya. Kalaupun hal itu tidak bisa dilakukan, ya anggaplah sedang nyenyumi diri sendiri. Terakhir ini yang paling uenak, mudah, murah, tanpa beban dan gratis.

***

Seorang pembaca menulis tentang gropyokan unggas. Saya menduga pembaca itu jengkel melihat burung, ayam dan ribuan unggas dibantai untuk alasan pencegahan penyebaran penyakit flu burung, dengan kompensasi Rp 10.000,- (itupun kalau tidak dipotong biaya administrasi).

Penggalan suratnya, beginilah bunyinya :

Dengan adanya kasus dugaan flu burung maka semua burung radius sekian meter atau kilometer harus dimusnahkan? Lho apa manusia sudah menjadi penguasa Bumi dan Alam melebihi Allah Yang Maha Kuasa? ……………. Dengan pemusnahan burung-burung itu apakah keseimbangan ekosistem tidak terganggu? Bagaimana nanti jika terjadi jutaan belalang atau kutu yang menyerbu manusia apabila predatornya yaitu burung dimusnahkan? Untuk itu, marilah kita melakukan tindakan yang proporsional saja, jangan sewenang-wenang……………. Penyebab tetanus adalah kotoran kuda, kudanya kan tidak dimusnahkan? Yang diberi vaksin tetanus adalah manusianya……….. Penyebab penyakit diphteria adalah mycobacterium diphteria ditularkan oleh unggas, membunuh manusia jauh lebih banyak dari flu unggas. Yang divaksin kan manusianya?…………….

Saya membaca surat pembaca itu lebih tiga kali, kalau tidak salah empat kali, sambil senyam-senyum sendiri (Ya maklum wong namanya juga pengangguran. Masih rada terhormat karena masih suka baca-tulis email, daripada sudah nganggur bengong saja! Saya sedang menggagas-gagas bagaimana agar menulis email bisa menjadi sebuah profesi…..).

Sekali lagi, saya menikmatinya sebagai sebuah selingan yang menghibur. Saya tidak berminat menelaah surat pembaca itu dari sudut pandang benar atau salah, logis atau tidak logis. Ini menjadi bahan komedi situasi plesetan yang mengasyikkan. Semacam infomezzo, gitulah…. Bahwa di luar sana sedang terjadi sesuatu, dan di luar lebih sana lagi ada yang grundelan. Begitu saja!

Bagi si penulis surat, nampaknya kalau ada wabah penyakit pes, jangan tikusnya yang dibasmi melainkan manusianya diimunisasi (Wah, lem tikus di toko saya bakal tidak laku…..). Kalau ada wabah demam berdarah, jangan nyamuknya dibasmi melainkan manusianya divaksin (makin tidak laku saja obat nyamuk di “Madurejo Swalayan”). Kalau ada serangan hama wereng, jangan werengnya dipithesi melainkan padinya diobatkuati.

Diam-diam saya tersenyum kecut (ya pada diri sendiri, pada siapa lagi…..?). Seandainya si penulis surat pembaca itu terpilih menjadi presiden Amerika……. Maka ketika Amerika diancam teroris, bukan terorisnya yang diuber-uber membabi dan membuta melainkan negara dan perilaku oknum bangsanya sendirilah yang akan ditangani.

Seandainya si penulis surat pembaca itu menjadi pemilik sebuah perusahaan raksasa sekelas Freeport, Newmont atau Exxon Mobil umpamanya (ini sak umpamanya saja lho…..). Maka ketika perusahaan yang dimilikinya diancam dan diganggu oleh masyarakat sekitarnya, bukan masyarakatnya yang digusah (diusir) melainkan paradigma pikir oknum stakeholders dan shareholders-nya yang akan dibenahi (saya sebut saja oknum agar terkesan kedengaran lebih manis gitu loh, seperti bahasanya para penjabat).

***

Hmmm…., hidup ini terlalu indah untuk dipethenthengi (dihadapi dengan laku memaksakan diri). Kita saja yang suka membuatnya jadi rumit. Wong tinggal nyetempel saja mesti bikin orang lain terkantuk-kantuk dulu, sampai dia sendiri yang kemudian repot membangunkannya, tak-tok-tak-tok ….. Harusnya Gampang Dibikin Susah…… “TanyaKen apa” (diucapkan seperti Butet Kartarajasa menirukan suara pemegang lisensi 32 tahun tampuk RI-1).

Madurejo, Sleman – 28 Maret 2006
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.