Arsip untuk ‘YOGYA – 27 MEI 2006 (Catatan Dari Musibah Gempa)’ Kategori

Ada Gempa Di Kotaku (1)

18 Desember 2007

Slamat datang di kota kami,
Yogyakarta indah dan permai

Begitulah bunyi bait pertama lagu “Mars Yogyakarta” yang suka dinyanyikan dengan irama riang dan bersemangat sambil menghentakkan kaki… prok… prok… prok…, seperti tentara sedang berbaris. Mencerminkan derap kebanggaan masyarakat kotaku, Yogyakarta (terkadang saya singkat dengan Jogja saja), hingga sebelum Sabtu pagi kelabu yang lalu.

Yogyakarta “Berhati Nyaman”. Bersih, sehat, indah dan nyaman.

Demikian tulisan semboyan kota yang akan banyak dijumpai di sepanjang jalan-jalan di kota Yogyakarta, terutama di kawasan pedagang kaki lima. Semboyan kebanggaan masyarakat kotaku, Yogyakarta, hingga sebelum Sabtu pagi haru-biru yang lalu.

Sabtu pagi, 27 Mei 2006. Tiba-tiba kotaku Yogyakarta menangis sesenggukan, seperti anak kecil yang sampai kehabisan napas dan kehilangan suara tangisnya. Tiba-tiba saja sang naga yang ada di dalam bumi kotaku menggeliat kencang dan memporak-porandakan sebagian penghuni yang selama ini petentang-petenteng di atasnya. Semua sebutan indah, permai dan berhati nyaman seperti ikut tiarap, terhempas berserakan.

***

Beberapa hari terakhir ini, maksudnya minggu lalu sebelum terjadi gempa bumi hebat di Yogyakarta, saya sering kerja lembur di rumah hingga larut pagi. Terkadang jam setengah dua atau setengah tiga pagi baru nggeblak tidur. Bersyukurlah saya, meskipun nganggur tapi masih ada yang dilemburi. Bukan, bukan karena kehabisan waktu, melainkan karena waktu siangnya saya pergunakan untuk menyelesaikan urusan lain yang ringan dan yang lucu. Sedangkan urusan yang rada pakai mikir biasanya saya selesaikan di malam hari pada saat sunyi-sepi-sendiri berkonsentrasi.

Jum’at malam hingga Sabtu dini hari yang lalu saya baru mematikan laptop selewat jam 2. Lalu ndlosor tidur. Sekitar jam setengah enam pagi lebih sedikit saya terbangun. Sambil melihat jam dinding di depan tempat tidur, saya sempat teringat bahwa waktu sholat subuh sedang di ambang batas penghabisan. Namun karena masih rada ngantuk plus agak malas (sebenarnya ya memang dasarnya rada malas…), saya nawar pada diri sendiri… “Mau leyeh-leyeh dulu sebentar, ah…! Biar jarum panjangnya sampai ke angka 12 dulu”.

Tepat jam enem kurang enem pagi (05:54) tiba-tiba tempat tidur seperti ada yang menggoyang-goyang. Spontan saya berpikir : “Ono lindu” (ada gempa). Berbekal pengalaman lebih sembilan tahun tinggal di tanah Papua, dimana Papua adalah salah satu tempat di muka bumi yang termasuk paling sering dilanda gempa, maka goyangan-goyangan gempa awal pada detik itu rasanya bukan hal yang luar biasa. Sampai kemudian saya rasakan ternyata bukan hanya tempat tidur yang bergoyang, melainkan juga lemari, dinding kamar, lalu rumah seisinya ternyata juga serentak turut bergoyang terus-menerus, bukan patah-patah…. Goyangan semakin kuat dan suara gemuruh semakin memekakkan telinga dan terdengar menakutkan.

Serta-merta saya loncat dari tempat tidur, berdesah menyebut asma Allah tiada henti, lalu berdiri tepat di bawah gawang pintu kamar. Hanya berdasarkan feeling saja, sepertinya itulah tempat paling aman saat itu untuk berhenti sejenak sambil menyapukan pandangan berkeliling dengan cepat. Di tengah goyangan hebat dan suara bergemuruh, saya lihat anak kedua saya masih tidur di lantai di depan televisi. Lalu saya ingat anak pertama saya tentu masih tidur di kamarnya di lantai atas. Sementara ibunya berada di belakang sedang beres-beres.

Dengan sekuat tenaga saya berteriak memanggil-manggil dan membangunkan kedua anak saya, sambil bertepuk tangan sekuat-kuatnya. Tentu bukan tepuk tangan kegirangan, melainkan saya bertujuan agar tercipta suara kejutan dengan nada berbeda. Namun sesungguhnya semua tindakan saya bertepuk tangan dan berteriak keras memanggil kedua anak saya agar segera bangun dan lari keluar rumah adalah sia-sia belaka. Suara yang saya ciptakan itu sepertinya hilang tertelan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Anak kedua saya terbangun justru karena nyaris kejatuhan pesawat televisi 21 inch yang loncat dari tempatnya dan dispenser yang ambruk menumpahkan galon beserta isi airnya. Sedangkan anak pertama saya di kamarnya di lantai atas terbangun karena monitor komputer di kamarnya terjungkal menimbulkan bunyi hempasan cukup keras.

Ketika saya lihat kedua anak saya sudah menyadari apa yang sedang terjadi dan bergegas menuju ke luar rumah, terdengar suara pesawat televisi 25 inchi di lantai atas terbanting dari singgasananya (bukan lengser). Padahal untuk mengangkat pesawat kuno itu sendirian pun saya tidak mampu ketika memasangnya. Rak kaset dan CD setinggi 2 meteran terhempas. Lemari kaca berisi bolo-pecah seperti dikocok dan berhamburan isinya. Guci dan piring keramik pecah bergulingan terhempas ke lantai. Akuarium pun tumbang membebaskan seekor arwana di dalamnya.

Suara gemuruh semakin kuat dan menakutkan. Rumah tembok dua lantai yang baru satu setengah tahun yang lalu saya tempati nampak dindingnya bergetar-getar seperti ada yang sedang berusaha merobohkan dengan menggoyang-goyangkannya. Tanpa pikir panjang, tetap dengan terus mendesahkan asma Allah tiada henti, sambil saya berterik : “Cepat…cepat… keluar dari rumah lewat pintu belakang…!”. Saya lihat pintu belakang sudah terbuka, sementara pintu depan rumah masih tertutup, dan saya masih sempat berpikir untuk tidak mengambil resiko jangan-jangan pintu depan masih dalam posisi terkunci.

Di belakang rumah sebenarnya juga bukan tempat yang sangat aman, karena kemudian kami masih harus berlari sipat-kuping menyusuri lorong samping kiri rumah untuk menuju halaman depan. Namun setidak-tidaknya kami lebih cepat berada di luar rumah, memperkecil resiko kejatuhan sesuatu di dalam rumah. Saat tiba di depan rumah, barulah getaran gempa dan suara gemuruh sudah menurun dan akhirnya berhenti.

Sungguh sebuah fragmen tragedi menyeramkan berdurasi sekian detik atau sekian menit yang begitu menegangkan. Semuanya berlangsung dengan sangat cepat. Saya tidak tahu persisnya kapan getaran kuat dimulai dan kapan akhirnya benar-benar berhenti. Tahu-tahu sudah berkumpul dengan orang lain di depan rumah dalam suasana tegang, sejak sebelumnya leyeh-leyeh di atas peraduan menunggu jarum panjang menggapai angka 12.

Di luar, di gang depan rumah, sudah ada ibunya anak-anak yang saat gempa pertama kali terjadi merasa panik sehingga langsung berlari menyusuri lorong samping rumah menuju depan. Itu karena hampir kejatuhan genting rumah kost di belakang rumah induk yang berjatuhan merosot ke bawah, deretan sepeda motor yang bertumbangan dan pecahan-pecahan tembok yang berhamburan. Sepercik pecahan dinding yang jatuh dari puncak wuwungan rumah sempat singgah di jidat kanan ibunya anak-anak dan menimbulkan sedikit luka memar. Anak-anak kost di belakang rumah juga sudah pada ngumpul di depan rumah. Semua orang masih tampak shock, tanpa sepatah katapun keluar dari mulut, selain desahan asma Allah yang masih menggetar di bibir.

Nyaris seperti tidak percaya bahwa kami semua bisa lolos dan selamat dari gempa bumi hebat yang baru saja menyerang tiba-tiba di saat kami semua masih terlena. Alhamdulillah…, Puji Tuhan…

Umbulharjo, Yogyakarta – 31 Mei 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (2)

18 Desember 2007

Sebenarnya cerita ini hanyalah sebagian kecil saja dari ribuan kisah yang barangkali akan dapat diceritakan dengan lebih rinci dan dramatis oleh ribuan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Belum lagi ribuan kisah tragis dan mengharukan yang akan dapat dikisahkan oleh ribuan masyarakat lainnya yang kebetulan menjadi korban.

Sebenarnya tidak ada hal yang istimewa dari kisah pengalaman kami sekeluarga pada Sabtu pagi 27 Mei 2006 yang lalu, selain ekspresi suasana tegang dan panik di tengah bencana gempa bumi, lalu….. Alhamdulillah, kami semua selamat. Belakangan saya membaca di surat kabar-surat kabar, ada banyak kisah lebih dramatis yang dialami oleh sebagian masyarakat korban gempa lainnya. Namun toh, kalau saya ingin menceritakannya juga, itu karena saya menemukan pelajaran sangat berharga yang sebenarnya telah lama saya ketahui tapi tidak pernah saya sadari benar akan betapa pentingnya. Sampai akhirnya saya benar-benar mengalaminya sendiri.

Seperti telah sering dikatakan orang bijak. Kalau mau dikatakan bahwa gempa bumi adalah sebuah bencana atau musibah, maka di balik setiap musibah pasti ada hikmah. Di balik setiap kejadian pasti ada ibrah ataupun pelajaran yang dapat dipetik. Pelajaran itulah yang secara tersurat ingin saya berbagi cerita melalui beberapa catatan ini.

Tuhan Sang Maha Pencipta tentu tidak sedang “iseng” menggoyang-goyang bumi-Nya. Pasti semua acara goyang-menggoyang bumi itu terprogram sedemikian sistematis dan rapinya. Pasti ada maksud tersirat yang hendak dituju-Nya. Kenapa goyangannya mesti menerus dalam beberapa detik atau menit. Kenapa bukan goyang patah-patah atau goyang ngebor. Kenapa mesti digoyang pada saat orang-orang masih pada enak-enakan di rumah menjelang memulai aktifitas hidupnya. Kenapa mesti banyak orang miskin dan orang ndeso yang jadi korban. Semua adalah menjadi misteri “the X-File”-nya Tuhan yang sulit terpecahkan.

Namun, jangan berhenti sampai di situ, jangan berhenti sampai di situ saja…! Begitu yang sampai sekarang selalu terngiang di telinga saya. Pasti ada sesuatu yang dimaui-Nya. Entah apa, melainkan terus dan teruslah berpikir untuk menemukan jawabannya sampai ke relung hati yang paling dalam. Selembar daun kering jatuh saja Tuhan urus sedemikian detil, terencana dan terukurnya. Setetes embun pagi saja Tuhan kelola dengan sedemikian indahnya. Apalagi goyangan sebongkah bumi dan isinya.

***

Beberapa menit setelah gempa berhenti, ketika kesadaran kami mulai pulih, ketika kepanikan mulai mereda, barulah kami mulai saling bicara. Gempa Merapi…, Merapi meletus…, begitulah umumnya pertama kali yang terpikir oleh hampir setiap orang. Maklum, beberapa minggu terakhir ini memang masyarakat Yogyakarta sedang “demam” Merapi dengan awan panas wedhus gembel dan mBah Marijannya.

Tapi dalam hati saya ragu. Gempa Merapi artinya gempa vulkanik. Dan gempa vulkanik tidak akan sekuat itu. Kalau begitu berarti gempa tektonik. Dan kalau gempa tektonik berarti pusatnya berada di sekitar palung Jawa di laut kidul (selatan). “Tsunami…!”, begitu yang kemudian terlintas di pikiran. Namun saya tidak berani mengucapkannya. Khawatir akan menjadi penambah kepanikan, terutama bagi anggota keluarga saya.

Kami saling berkumpul dengan sesama tetangga dengan aneka komentar masing-masing. Sampai akhirnya ada yang bercerita bahwa dia mendengar dari radio, katanya bukan Merapi melainkan gempa bumi yang berasal dari laut selatan. Ya, radio!. Itulah satu-satunya sumber informasi paling mudah dan murah. Tapi dimana ada radio? Ya! Radio di mobil adalah yang paling praktis. Untuk itu mobil harus dikeluarkan sekalian diamankan dari kemungkinan kerobohan sesuatu di dalam garasi. Bukan tidak mungkin gempa susulan akan terjadi sementara saya belum tahu bagaimana kondisi rumah pasca gempa yang baru saja terjadi.

Saya lalu mulai mencoba memberanikan diri mendekati rumah. Melakukan inspeksi secara visual terhadap kondisi fisik rumah. Mulai dari kenampakan luarnya. Lalu membuka pintu depan yang ternyata tidak terkunci. Menatap berkeliling memeriksa dinding-dinding ruang tamu. Tampak barang pecah belah berserakan jatuh dari atas meja dan dari dalam lemari kaca. Menuju ruang tengah tampak televisi dan dispenser bergulingan. Guci, piring dan benda-benda keramik pecah di mana-mana. Meja dan lemari bergeser dari posisinya. Sedikit retakan baru muncul di beberapa tempat.

Saya belum berani menuju ke lantai atas. Saya hanya menginspeksi dan memutuskan untuk tidak melakukan apapun sampai nanti situasi benar-benar tenang. Acara inspeksi pun dilaksanakan dalam suasana hati was-was. Ketika tiba-tiba terdengar suara gemuruh lembut, entah dari mana sumbernya dan terasa ada gempa susulan, secepat kilat berlari ke luar rumah. Kemudian masuk lagi ketika gempa susulan berhenti. Dalam suasana seperti itu, perasaan menjadi sangat sensitif terhadap getaran dan suara gemuruh betapapun lemah dan lembutnya. Anak laki-laki saya tertawa, karena seperti sedang bermain petak umpet.

Lalu saya lihat jam meja tertelungkup di atas kulkas. Ketika saya lihat ternyata jamnya mati dan jarum jamnya tepat menunjukkan waktu pukul 05:54 WIB. Itulah saat getaran kuat gempa terjadi dan menjatuhkan jam meja yang berdiri di atas lemari pendingin. Jam itu mati tepat menjelang enam menit yang semula saya merencanakan hendak bangkit dari tempat tidur. Ternyata Tuhan menyuruh saya bangkit lebih cepat.

Tiba-tiba saya ingat : “Lho, saya kan belum sholat subuh…?”. Waktu itu kira-kira sudah lewat jam enam seperempat. Lalu dengan nyali diberani-beranikan, saya mengambil air wudhu, menggelar sajadah lalu subuhan alias subuhe wis awan (sholat subuhnya kesiangan). Dalam hati saya menyesal, jelas ini perilaku salah. Tapi sesalah-salahnya saya, rasanya masih lebih salah kalau saya tidak sholat sama sekali. Biarlah, sholat subuh yang mestinya qoblal-gempa (sebelum gempa) berubah menjadi ba’dal-gempa (sesudah gempa). Tentu saja ini bukan terminologi agama, melainkan terminologi plesetan gaya Jogja yang baru saja terpeleset gempa.

Usai sholat, kemudian saya membuka garasi dan mengeluarkan mobil untuk diparkir di luar, di tempat yang lebih terbuka. Maka radio di mobil segera disetel keras-keras agar dapat didengarkan bersama-sama. Hanya ada beberapa studio radio yang memancarkan siarannya. Barangkali karena listrik mati atau studio yang lain juga rusak terkena gempa. Entahlah, pagi itu suara penyiar radio Sonora cabang Jogja sepertinya menjadi akrab di telinga. Sang penyiar mengudarakan pesan-pesan tilpun yang datang dari para pendengarnya.

Dari radio jugalah akhirnya saya tahu bahwa telah terjadi gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala Richter, dengan pusat gempa berada di selatan Yogyakarta pada jarak 38 km dari pantai dan pada kedalaman 33 km. Dari radio juga akhirnya saya tahu bahwa telah terjadi kerusakan hebat di mana-mana dan mulai dilaporkan banyak jatuh korban.

Hal yang terlintas pertama kali di pikiran saya setelah mendengar info pergempaan yang baru terjadi itu adalah bahwa sumber gempanya berada di dekat pantai dan dangkal. Informasi awal yang kata penyiarnya bersumber dari Badan Meteorologi dan Geofisika itu belakangan sangat membantu saya memahami apa artinya. Terutama ketika gencar merebak isu terjadinya tsunami yang kemudian menimbulkan kepanikan yang luar biasa.

Umbulharjo, Yogyakarta – 1 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (3)

18 Desember 2007

Beberapa puluh menit kemudian ketika suasana hati mulai agak tenang. Saya kembali melakukan inspeksi ke dalam rumah. Kali ini saya memberanikan diri untuk naik ke lantai atas. Sekedar untuk memastikan bahwa dinding-dinding rumah dan struktur rumah dalam kondisi aman, sehingga saya yakin bahwa kondisi rumah masih layak untuk ditempati. Tidak satupun benda-benda yang berserakan di lantai atas saya sentuh. Sengaja saya biarkan untuk sementara waktu. Pintu dan jendela-jendela di lantai atas saya buka agar udara segar dapat masuk ke dalam rumah.<

Dari hasil inspeksi saya menemukan fakta, bahwa semua benda-benda yang tergantung di dinding dalam keadaan utuh pada tempatnya. Foto-foto, gambar dan piring-piring keramik dan cendera mata yang tergantung di dinding tidak satu pun yang terjatuh. Semua benda-benda yang tergeletak di atas lantai juga tidak ada yang terguling, termasuk guci-guci kecil. Sebaliknya hampir semua benda yang tergeletak di atas tumpuan seperti meja, almari, dapur, nyaris semua berantakan berjatuhan, termasuk televisi, monitor komputer, akuarium, guci, piring dan segala macam. Herannya kendati pesawat televisi dan monitor komputer jatuh tersungkur dengan posisi layar kaca menghadap dan menyentuh lantai, tapi tidak satu pun yang retak atau pecah.

Sejenak saya berdiri pada posisi persis seperti ketika saya baru loncat dari tempat tidur lalu bertepuk tangan dan memanggil anak-anak saya tadi pagi. Tepat di bawah gawang pintu kamar sambil berpegangan tiang sebelah kiri. Tiba-tiba saya merinding sendiri. Di tempat itulah, beberapa puluh menit yang lalu saya menyaksikan rumah bergoyang-goyang seperti mau roboh dan anak-anak saya sempoyongan menuju pintu belakang. Di tengah suara gemuruh yang memekakkan telinga dan terdengar menakutkan.

Kejadiannya sangat cepat, menegangkan dan mencekam. Belum pernah saya berada dalam situasi seperti itu. Kalau seandainya pada saat itu rumah kami roboh, maka kami bertiga pasti terjebak di dalamnya. Entah sebuah kebetulan atau keberuntungan, saya hanya ingat bahwa hanya Tuhan yang mampu melindungi kami dari ancaman bahaya pagi itu. Saya sadar betul, tidak satu oknum pun mampu membekingi saya pagi itu. Tidak satu rupiah pun dari sisa tabungan saya mampu saya belanjakan untuk mencari perlindungan pagi itu. Tidak juga jabatan CEO “Madurejo Swalayan” dapat saya banggakan untuk lepas dari teror alam yang mencekam. Tak satu pun!. Kecuali kuasa dan kebesaran Ilahi yang ada. Sang Pemilik Bumi yang sengaja “mencandai” mahluk-mahluk lemah ciptaan-Nya. Karena itu, hanya menyebut nama-Nya dengan penuh harap dan kepasrahan yang dapat saya lakukan.

Hal terbaik dan terburuk punya peluang yang sama untuk terjadi. Sekiranya Sang Penguasa Bumi menganggap keberadaan saya di atas dunia ini hanya menuh-menuhin saja, tidak membawa manfaat apapun, atau dianggap sudah cukup. Maka, tidak ada yang mustahil bagi-Nya karena memang tidak ada yang dapat menghalangi-Nya. Ada “alasan” kuat bagi Sang Penguasa Bumi untuk terjadinya hal yang terburuk. Demikian pula sebaliknya.

Saya tidak sedang mendramatisir cerita saya. Ketika saya bersujud dan bersyukur telah lolos dari ancaman bencana yang demikian dahsyat, tanpa saya sadari air mata saya menetes. Sebagai seorang muslim tiba-tiba saya ingat, bukan tanpa alasan kalau sampai tigapuluh satu kali Tuhan menyampaikan sindiran-Nya : “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang hendak kalian dustakan?” (QS. 55 : 1-78). Saya yakin di agama lainpun pasti ada pesan-pesan semacam ini.

***

Menurut berita di koran, momen goyangaan bumi yang mencekam itu berlangsung selama 57 detik, meskipun menurut perasaan saya pasti lebih lama dari itu. Katakanlah, benar selama 57 detik, maka saya sangat menyadari bahwa itulah “injury time” yang akan menentukan apakah saya masih akan menyaksikan jarum panjang menggapai angka 12 atau tidak, di hari Sabtu pagi itu.

Kalau saja sewaktu saya membangun rumah dulu, struktur fondasinya dan tulangannya tidak cukup kokoh, pasti pagi itu rumah saya sudah rata dengan tanah. Kalau saja pasangan batanya asal-asalan, pasti rumah saya roboh. Terbukti saya menyaksikanya pada bangunan-bangunan yang roboh akibat gempa di beberapa lokasi.

Sekencang apapun saya mampu berlari saat menyadari sedang terjadi gempa hebat, rasanya tidak akan mampu melebihi kecepatan robohnya rumah di saat “injury time”, kalau memang rumah yang saya tempati akan roboh oleh gempa. Maka saat “injury time” pagi itu, saat saya berdiri, bertepuk tangan dan berteriak memanggil anak-anak saya, saat anak pertama saya turun dari lantai atas dan saat anak kedua saya gelagapan bangun dari tertidurnya di depan televisi, adalah saat yang tepat untuk robohnya rumah kami. Semua persyaratan untuk roboh dan merobohi penghuninya sudah terpenuhi. Tinggal tombol “red light” menunggu dipencet oleh Sang Penguasa Bumi.

Barulah saya benar-benar menyadari, bahwa adalah sangat penting memperhatikan kekuatan struktur sebuah rumah pada saat rumah itu dibangun. Sudah lama saya tahu hal ini, tapi tidak pernah menganggapnya penting. Maka kalau ada pembangun rumah memanipulasi kekuatan strukturnya untuk apapun alasannya, maka sesungguhnya dia sedang “merencanakan” untuk mencelakai calon penghuninya. Terutama kalau kita tahu bahwa lokasi bangunan itu berada di kawasaan rawan gempa.

Sebelum membangun sebuah rumah atau bangunan apapun, tidak ada salahnya untuk sedikit meluangkan waktu mengetahui kondisi geologi kawasan itu. Terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan rawan gempa, seperti sepanjang pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa hingga Nusa Tenggara dan Maluku-Papua. Itulah kawasan jalur gempa, dekat garis pertemuan lempeng tektonik Eurasia dan Indo-Australia yang perlu diwaspadai. Tidak ada salahnya untuk sekedar ngobrol-ngobrol dengan mereka yang pernah kuliah ngelmu Geologi Struktur dan lulus murni (bukan nyontek). Tidak ada salahnya juga mencari tahu dimana berada sesar atau patahan aktif di kawasan tertentu. Setidak-tidaknya kita akan tahu seberapa besar potensi kerusakan bisa ditimbulkan kalau-kalau gempa bumi berkekuatan besar terjadi.

Bagaimana kalau kita tidak membangun sendiri rumahnya melainkan beli rumah di kompleks perumahan, misalnya di Bumi Gempa Permai atau Pantai Tsunami Indah? Saya tidak tahu jawabannya. Tapi pasti ada caranya.

Oleh karena itu bagi mereka yang membangun bangunan di kawasan rawan gempa, menurut saya bukanlah pemborosan kalau kita berlaku tidak terlalu pelit untuk membelanjakan uang lebih banyak guna memperkuat struktur bangunan. Juga bukanlah tindak ngoyoworo (membuang-buang waktu) kalau kita meluangkan waktu untuk sedikit mengetahui kondisi geologi suatu kawasan.

Sebab fakta membuktikan, setidak-tidaknya itulah yang saya lihat dan alami, kalau memang rumah kita memenuhi syarat untuk roboh diterpa gempa berkekuatan besar, maka tidak ada satu hal pun yang mampu menundanya. Tidak juga karena menunggu anak-anak kita bangun dari tidur atau sedang berlari keluar dari rumah. Kecuali Sang Maha Penggoyang Bumi berkehendak sebaliknya.

Sayangnya, saya sangat percaya bahwa apa yang dikehendaki oleh Sang Penggoyang Bumi akan berbanding lurus dengan apa yang sudah diikhtiarkan oleh penghuni bumi-Nya. Selebihnya di luar pemahaman ini, maka akan tetap menjadi misteri “The X-File”-nya Sang Pencipta….. Wallahu a’lam!

Umbulharjo, Yogyakarta – 3 Juni 2006
Yusuf Iskandar

——-

WORO-WORO :
Jika ada yang berniat menyumbangkan sesuatu bagi korban gempa Jogja dan sekitarnya (sembako, tenda, alas tidur, selimut, pakaian, obat-obatan, alat tulis/sekolah, atau apapun bentuknya), dan kesulitan menemukan tempat/lembaga untuk menyalurkannya, Insya Allah saya dapat membantu menyalurkannya langsung kepada mereka yang membutuhkan. Sasaran saya adalah kawasan desa-desa terpencil di lereng-lereng bukit di sebelah timur desa Madurejo yang berbatasan dengan kabupaten Klaten. Kawasan ini relatif kurang “populer” dibanding wilayah kabupaten mBantul lainnya, sehingga tidak mudah tersentuh bantuan sebagaimana kawasan mBantul selatan. (Yusuf Iskandar — HP. 08122787618).

Ada Gempa Di Kotaku (4)

18 Desember 2007

Sekitar menjelang jam delapanan, ketika orang-orang masih saling berkelompok membicarakan bencana luar biasa yang barusan dialami, tiba-tiba terjadi gempa susulan. Memang tidak terlalu keras getarannya, tapi tak ayal lagi membuat semua orang terkejut dan secara refleks saling mengambil posisi aman untuk menyelamatkan diri kalau-kalau terjadi sesuatu. Mereka yang sedang memeriksa rumah masing-masing atau berada di dekat rumah pun serta merta berhamburan menjauh. Keterkejutan yang tak perlu dibantah kenapa-kenapanya. Mengingat semua orang masih dalam situasi mental yang traumatis, belum lepas dari apa yang terjadi dua jam sebelumnya.

Tiba-tiba muncul kabar dari mulut ke mulut entah darimana asal bin muasalnya : “Ada tsunami!”. “Air… air… air sudah dekat!”. “Semua orang pada lari ke utara…!”. Kata-kata menakutkan sejenis itu seperti tak terbendung menular dari mulut ke mulut. Bisa dibayangkan betapa kepanikan tiba-tiba merebak. Hampir setiap orang menjadi panik. Siap-siap…, bergegas meninggalkan rumah untuk bergerak mencari tempat aman. Arah utara yang terpikir, yaitu menjauh dari arah pantai dan menuju daerah tinggi. Suasana begitu kalut dan panik. Orang-orang yang belum lagi pulih dari rasa takut yang mencekam akibat gempa hebat pagi harinya, tiba-tiba dihadapkan dengan ancaman baru gelombang tsunami. Tentu saja bencana tsunami Aceh yang menjadi referensi kepanikan di dalam pikiran setiap orang.

Tak terkecuali keluarga kami pun sempat panik, terutama ibunya anak-anak. Juga enam orang mahasiswa yang kost di tempat kami, yang segera siap-siap dengan sepeda motornya. Ibunya anak-anak segera menutupi pintu rumah, menguncinya, dan siap-siap mengajak pergi entah mau kemana. Saya sendiri sebenarnya ragu. “Tidak mungkin ada tsunami”, kata hati kecil saya. Tapi suasana memang sudah sedemikian paniknya. Para tetangga pun nampak siap-siap dengan mobil, sepedamotor atau berjalan kaki meninggalkan rumah entah hendak kemana. Isu yang santer terdengar mengatakan bahwa air sudah semakin dekat.

Entah kenapa saya merasa sangat pede untuk tidak percaya, untuk tidak kelewat panik. Namun karena saya pikir ini bukan saat yang tepat untuk eyel-eyelan (beradu argumen) dengan istri, maka saya tidak punya pilihan lain selain mengikuti “irama” kepanikan itu. Saya sarankan kepada istri, kalau memang mau pergi jangan lupa membawa bekal uang secukupnya. Jangan hanya berbekal kunci rumah, karena nampaknya yang terpikir hanya pokoknya mencari tempat aman secepatnya. Sekali lagi, entah hendak kemana.

Tapi sebelum kami memutuskan benar-benar mau meninggalkan rumah, saya minta kepada salah seorang anak kost untuk mencoba keluar mencari tahu informasi yang sebenarnya. Meskipun saya tahu bahwa hal itu tidak ada artinya sama sekali, toh saya suruh juga dua orang anak kost untuk menggunakan sepeda motornya keluar ke jalan raya.

Celakanya, kedua anak kost itu kembali dengan membawa berita yang lebih menakutkan. Air sudah semakin dekat dan orang-orang sudah berduyun-duyun bergerak cepat ke arah utara. Saya tetap tidak percaya. Saya ajak semua orang untuk mendengarkan berita dan laporan di radio mobil, yang ternyata tidak satupun ada peringatan tentang datangnya gelombang tsunami. Justru berita tentang kepanikan luar biasa yang sedang terjadi di mana-mana, di jalan-jalan yang menuju arah utara atau ke arah Kaliurang yang dianggap lebih tinggi lokasinya.

Akibat gempa pagi harinya dan ingatan tentang tragedi tsunami di Aceh, membuat orang lupa bahwa pergi ke dataran tinggi ke utara sama artinya dengan mendekati gunung Merapi dengan wedhus gembel-nya. Belakangan saya baca di koran bahwa beberapa menit setelah terjadinya gempa, telah terjadi luncuran awan panas yang lebih besar dari biasanya. Rupanya pagi itu kebanyakan orang lupa dengan ancaman Merapi.

Dari radio pula dilaporkan bahwa lalu lintas telah menjadi kacau-balau dan macet total dimana-mana. Selain karena lampu lalulintas tidak berfungsi akibat listrik padam karena gempa pagi harinya, juga karena adrenalin semua orang sudah terpacu untuk tidak ingin menjadi korban seperti di Aceh. Kalaupun lampu lalulintas hidup pun rasanya tidak ada lagi orang yang menghiraukannya. Maka peristiwa tabrakan atau serempetan dalam berlalulintas bukan lagi sebuah kecerobohan atau keteledoran, melainkan sebuah proses. Proses untuk mencari selamat. Dikabarkan bahwa kepanikan dan kekalutan di jalan-jalan sudah sedemikian memuncaknya. Tabrakan di mana-mana tak terhindarkan lagi, dan celakanya tak ada yang perduli. Masing-masing terpacu untuk secepatnya menuju arah utara. Mobil, sepeda motor, orang-orang berlarian dengan jerit dan tangis kepanikan. Demikian yang saya dengar dari siaran radio Sonora.

Sementara di depan rumah saya di Umbulharjo, ibunya anak-anak kebingungan mencari anak laki-lakinya yang ternyata tidak berada di rumah, justru pada situasi dimana kebanyakan orang sedang berusaha untuk dapat saling berkumpul dengan keluarganya. Rupanya anak laki-laki saya pergi main dengan membawa sepedanya. Ibunya jadi gethem-gethem (geram). Semua orang kepingin berkumpul dengan keluarganya pada situasi segenting dan semenegangkan ini, anak laki-laki saya malah pergi main, begitu jalan pikiran ibunya. Sangat ibuwi (maksudnya, manusiawi sebagai seorang ibu).

Tidak seberapa lama kemudian anak laki-laki saya pulang dengan sepedanya sambil cengengesan. Lalu bercerita, katanya jalanan sangat padat dan ramai, dan orang-orang bilang ada tsunami. Sampai dia kesulitan untuk bersepeda menuju pulang. Ya tentu saja. Ketika semua orang bergerak cepat ke arah utara, dia malah bersepeda melawan arus ke arah selatan untuk pulang. Rupanya dengan temannya anak laki-laki saya baru saja bersepeda berkeliling menginspeksi bangunan-bangunan yang runtuh akibat gempa, demikian laporannya. Dasar anak!

Entah karena semakin bisa mengendalikan rasa paniknya, entah karena melihat saya agak ogah-ogahan diajak pergi. Akhirnya istri saya beserta kedua anak saya ya tetap berdiri di depan rumah saja. Anak-anak kost pun saya yakinkan bahwa tidak ada tsunami. Akhirnya kami semua hanya ngobrol sambil duduk-duduk di atas selembar tikar di depan rumah, sambil mendengarkan laporan-laporan berita di radio Sonora.

***

Kenapa tidak mungkin ada tsunami? Meskipun saya bukan ahli geologi, kecuali pernah kuliah mata pelajaran tentang geologi, kalau sekedar memahami fenomenaa gempa dan tsunami dari referensi-referensi dan artikel-artikel rasanya saya masih bisa memahaminya. Saya mulai banyak belajar tentang pergempaan dan pertsunamian sejak tragedi gempa dan tsunami di Aceh.

Ketika sebelumnya saya mendengar dari radio bahwa pusat gempanya dekat dengan pantai selatan dan dangkal, maka saya cukup pede untuk menyimpulkan bahwa gempa tidak terjadi di palung Jawa atau di garis pertemuan antara lempeng Eurasia dan Indo-Australia. Oleh karena itu sangat kecil kemungkinannya terjadi longsoran di dasar laut yang sampai menimbulkan gelombang balik yang cukup besar. Paling-paling hanya ombak saja, tapi bukan gelombang tsunami.

Kalaupun toh kesimpulan saya salah dan gelombang tsunami sebesar di Aceh terjadi juga, maka pasti tidak akan sampai ke kota Yogyakarta. Pertama, karena jarak antara garis pantai dengan kota Yogyakarta cukup jauh, lebih 25 km. Kedua, karena antara garis pantai dengan kota Yogyakarta terdapat pegunungan-pegunungan kecil yang pasti mampu menghambat aliran gelombang. Ketiga, karena elevasi kota Yogyaakarta yang berada lebih 100 meter di atas permukaan laut. Maka hanya kalau terjadi gelombang tsunami yang segunung besarnya, yang mampu menjangkau kota Yogyakarta. Dan secara teoritis, itu adalah hil yang mustahal. Kecuali….., Sing Mbau Rekso Bumi menerapkan “penyimpangan” skenario.

Dengan alasan-alasan itulah yang membuat saya tidak larut dalam kepanikan, meskipun sempat saya nikmati “irama”-nya (saya juga heran sendiri…, kok sempat-sempatnya mikir yang begituan di tengah kekalutan suasana). Lebih baik menggelar tikar di depan rumah, menikmati sambil rada deg-degan gemuruh lembut suara gempa-gempa susulan. Setiap terjadi gempa susulan, selalu diikuti dengan suara bergemuruh. Mungkin karena pusat gempanya tidak terlalu jauh dan dangkal. Sambil mendengarkan siaran radio yang melaporkan jumlah korban yang terus meningkat dimana-mana terutama di kawasan kabupaten Bantul dan memonitor laporan para penilpun tentang tingkat kerusakan yang sangat parah menyebar dari berbagai penjuru kota. Termasuk laporan tentang kepanikan luar biasa yang sedang terjadi di jalan-jalan di kawasan Jogja utara.

Satu di antara penilpun rupanya datang dari warga yang tinggal di kawasan tidak jauh dari pantai selatan Parangtritis, yang mengabarkan katanya keadaan air laut baik-baik saja dan tenang-tenang saja, maksudnya tidak nampak ada gejolak yang luar biasa. Nah, lo…! Artinya, memang tidak ada tsunami. Tiwas (telanjur) panik…..

Tapi sungguh saya tidak maidu (menyalahkan). Situasinya memang benar-benar “kondusif” untuk timbulnya kekalutan dan kepanikan. Dan hal semacam ini bisa dialami oleh siapa saja dan terjadi di mana saja.

Umbulharjo, Yogyakarta – 4 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (5)

18 Desember 2007

Hingga tengah hari, Sabtu siang, terjadi paling tidak tiga kali gempa susulan yang terasa cukup kuat, dan banyak kali gempa susulan berkekuatan kecil. Setiap terjadi gempa susulan selalu disertai bunyi bergemuruh ke segenap penjuru. Memang tidak lagi semenakutkan gempa utama tetapi cukup membuat deg-degan setiap orang. Hingga sore hari, belum banyak orang yang cukup punya nyali untuk berada di dalam rumah. Semua orang berhimpun di luar rumah, paling tidak di dekat-dekat teras. Ada yang pasang tenda, atau pasang atap seadanya, atau sekedar selembar tikar di tempat teduh. Dengan harapan kalau terjadi gempa susulan dapat dengan mudah meloncat menjauh dari rumah. Gambaran seperti itulah yang sempat saya amati, ketika siang hari keluar naik sepeda motor membeli buah sambil berkeliling melihat situasi kota.

Satu-satunya hiburan adalah radio, dan satu-satunya studio radio yang banyak disetel orang adalah siaran radio Sonora yang sejak terjadi gempa selalu memancarkan laporan via tilpun para pendengar dari segenap penjuru kota. Belakangan saya baru menemukan radio Pro3 FM-nya RRI. Sementara studio radio lainnya masih pada klepek-klepek, ditinggal kabur penyiarnya. Dari radiolah warga masyarakat Jogja semakin tahu apa yang terjadi di wilayah lain, tingkat kerusakan dimana-mana dan semakin banyaknya korban ditemukan berjatuhan. Termasuk permintaan bantuan dan ambulan.

Agaknya masyarakat Jogja pada saat itu perlu berterima kasih kepada studio radio Sonora. Di saat semua studio radio mati, di saat orang butuh informasi dan tidak ada yang dapat ditanya, radio Sonora terus-menerus mengudara 24 jam dengan memancarkan suara-suara  penilpun dari mana-mana. “Community journalism” telah terbangun dan berjalan dengan sendirinya. Masyarakat adalah wartawannya, siapapun dia, dimanapun dia berada. Dan hal ini sangat membantu bagi masyarakat lainnya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sisi lain kotanya. Siapa dan dimana butuh bantuan apa, siapa dan dimana dapat membantu apa. Dan sistem itu bekerja. Bantuan cepat tersampaikan, meski seadanya, meski tidak seberapa nilainya, tapi pasti sangat besar artinya bagi mereka yang sedang benar-benar membutuhkannya. Spontanitas bantu-membantu dan solidaritas sosial segera terbangun dengan sendirinya. Sungguh membanggakan. Sangat bertolak belakang kalau ingat berita tentang tawuran dan pertikaian.

***

Listrik mati di hampir semua kawasan. Telepon seluler serta-merta susah digunakan. Barangkali karena lalu-lintas komunikasi tiba-tiba sedemikian padatnya. Setiap orang kepingin saling mengirimkan kabarnya kepada sanak-famili pada waktu bersamaan. Demikian halnya sanak-famili yang di tempat jauh segera kepingin tahu kabar anak, keponakan, orang-orang terkasih, orang tua atau saudara lainnya yang tinggal di Jogja, sesaat setelah mendengar berita gempa dahsyat yang baru terjadi. Bisa dimaklumi, mengingat Jogja lagi penuh-penuhnya orang liburan panjang akhir pekan, juga lagi musim ujian sehingga umumnya mahasiswa berada di tempatnya.

Maka praktis seharian itu telepon seluler seperti macet-cet, susah dihubungi maupun menghubungi keluar. Hanya tilpun telkom rumahan (PSTN) yang masih berfungsi. Sayangnya wartel pada tutup, umumnya karena bangunannya juga rusak akibat gempa. Di rumah saya belum terpasang tilpun telkom. Maka HP menjadi andalan komunikasi. Itupun setengah mati susahnya. Lebih kesal lagi ternyata dari tiga pesawat HP yang ada di rumah, semuanya baterenya sudah lemah, tinggal satu atau dua bar indikator tenaganya. Jadi kepingin marah saja, kenapa semalam tidak ada yang punya inisiatif nge-charge batere HP. “Habis enggak tahu kalau mau ada gempa…..”, begitu setiap orang membela diri.

Sementara mau nge-charge batere, listrik mati dan tidak tahu akan sampai kapan. Kalau sudah begini baru teringat, kenapa selama ini tidak pernah terpikir untuk memiliki asesori colokan tambahan atau kabel ekstension (atau entah apa namanya) yang bisa dipakai untuk nge-charge HP dari mobil. Untungnya masih ada sisa cukup bensin dalam tangki mobil dan sepeda motor, karena dimana-mana serentak terjadi antrian panjang untuk memperoleh BBM. Setidak-tidaknya kalau mendadak diperlukan, mobil atau sepeda motor siap untuk digunakan.

Satu-satunya SMS yang berhasil saya kirimkan keluar di saat pagi adalah kabar selamat kepada sanak keluarga di kampung saya di Kendal. Bagaimanapun juga kabar gempa dahsyat akan segera sampai ke sana dan pasti akan segera menghubungi Jogja. Setelah itu, SMS sulit sekali dikirim keluar, sekali-dua kali berhasil membalas SMS teman-teman yang menanyakan kabar saya, setelah itu mental dan mental lagi tidak mau terkirim. Keadaan ini berlangsung hingga sore hari dan malam hari. Sesekali SMS bisa diterima, tapi tidak pernah bisa dibalas keluar.

Siang itu kami semua lebih banyak meluangkan waktu untuk beres-beres rumah sebisanya. Mengumpulkan barang-barang yang pecah, menata kembali benda-benda yang berserakan dan berhamburan. Minimal agar tidak mengganggu aktifitas di dalam rumah dan aman dari pecahan-pecahan beling (kaca). Perkara membuangnya bagaimana, nanti diurus belakangan.

Saat malam tiba, sebagian kawasan kota Jogja masih gelap gulita, sebagian lainnya ada yang sudah mulai menyala listriknya. Yang paling mencekam tentu saja di kawasan yang paling parah kondisinya, seperti sebagian besar wilayah kabupaten Bantul dimana sangat banyak rumah yang rata dengan tanah. Sudah pasti masyarakat pada tidur di luar rumah dalam suasana gelap-gulita. Atau di tenda-tenda kalau kebetulan sudah sempat menerima tenda bantuan. Lebih banyak lagi yang belum terjangkau tenda bantuan, asal ada tempat berteduh sementara dari benda-benda apa saja. Sementara langit mendung dan menampakkan tanda-tanda bakal turun hujan, begitu kata ramalan cuaca di radio. Dari radio pula saya mendengar tilpun permintaan bantuan makan, tenda, penerangan, medis, datang dari penilpun dimana-mana, tak henti-hentinya.

Tidak kalah serunya nasib anak-anak kost, terutama yang biasa makan di luar. Jelas tidak mudah menemukan warung makan di saat kondisi darurat seperti ini. Mereka midar-mider kesana-kemari untuk membeli makan, yang tentu saja tidak mudah menemukannya. Mentok-mentoknya masak mie instan, itupun kalau kebetulan masih punya persediaaan di kamarnya, karena di luar susah menemukan warung yang buka. Rumah makan atau restoran tidak ada yang buka. Apalagi warung kaki lima sego kucing (nasi kucing, istilah Jogja untuk sebungkus kecil nasi dengan sedikit lauk yang dibungkus daun pisang, umumnya dijual dengan harga Rp 600,- sampai Rp 800,- per bungkusnya, mirip segenggam makanan untuk kucing) yang biasanya betebaran di setiap penjuru kampung, hari itu tidak ada yang buka. Bisa jadi para penjualnya masing-masing juga lagi pada sibuk mengurus rumah dan keluarganya. Kalau kucingnya banyak berkeliaran di mana-mana, tapi sego atau nasinya yang enggak ada…..

***

Beruntung sekali, di kawasan Umbulharjo listrik sudah menyala sekitar jam 7 malam. Sementara di kampung sebelah-menyebelah masih gelap-gulita. Hal pertama yang kami lakukan setelah menghidupkan penerangan rumah adalah beramai-ramai nge-charge HP, lalu nyetel TV (kebetulan satu TV yang tadi siang njungkir ternyata masih bisa dinyalakan). Maka hampir semua acara televisi adalah berita gempa. Kami pun semakin tahu lebih banyak apa yang terjadi di belahan lain kota Yogyakarta dan sekitarnya, terutama kabupaten Bantul. Tiada kata yang pas melukiskan tragedi Sabtu pagi itu, selain tragis, menyedihkan dan memilukan.

Sementara istri menyiapkan makan malam seadanya, ya mie instan itu tadi dicampur sisa sayuran yang masih ada di dalam kulkas. Saya sibuk menjerang air untuk bikin kopi. Jangan sampai tertunda lagi. Secangkir kopi cap “Kapal Api” terasa luar biasa nikmatnya. Kopinya panas, tapi serasa menyejukkan pikiran. Maklum, sejak leyeh-leyeh bermalasan menunggu jarum panjang mencapai angka 12 di pagi harinya, namun kurang enam menit acara ngopi pagi batal gara-gara ada gempa. Bukan tidak sempat ngopi, melainkan kopi yang sudah disiapkan istri saya cangkirnya menggelinding dan isinya ndlewer (tumpah) kemana-mana……

Umbulharjo, Yogyakarta – 6 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (6)

18 Desember 2007

Malam pertama sejak gempa pagi harinya, orang-orang belum merasa nyaman untuk tidur di dalam rumah, sekalipun kondisi rumahnya masih baik dan layak huni. Gempa hebat Sabtu pagi itu memang benar-benar membuat ciut nyali siapapun. Satu lagi bukti bahwa manusia yang suka petentang-petenteng di muka bumi ini ternyata tidak ada apa-apanya ketika berhadapan dengan Sang Ontorejo yang kakinya sedang gedrug-gedrug di dalam perut bumi. Tak terkecuali keluarga kami pun rela tidur beralaskan tikar beratapkan langit di depan rumah.

Hanya karena semua orang melakukan hal yang sama, maka kesan rekreatifnya lebih terasa ketimbang kesan sedang ngungsi. Anggap saja sedang camping di depan rumah. Semua bisa dilakukan sambil berhaha-hihi. Meski begitu kami tidak lupa, bahwa hal itu karena kami semua selamat dan pada dasarnya tidak kurang suatu apapun kecuali nyali. Menjadi lain ceritanya kalau yang tidur di luar rumah itu adalah mereka yang jadi korban gempa, entah cedera fisik ataupun yang rumahnya roboh atau tidak layak ditempati. Dan mereka yang bernasib seperti ini ribuan jumlahnya.

Agak malam sedikit, ternyata hujan benar-benar turun, agak deras lagi. Kali ini ramalan cuaca tidak bohong. Maka buyarlah acara camping keluarga. Alas tidur terpaksa pindah ke teras rumah. Anak-anak kost yang belum berani masuk ke kamarnya pada tidur di garasi mobil yang sengaja dibuka. Itu kami, dan sebagian masyarakat yang selamat serta kondisi rumahnya baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan mereka para korban gempa yang kondisi rumahnya tidak baik-baik saja alias tidak layak ditempati lagi bahkan untuk berteduh dari terpaan hujan?

Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Bagi korban gempa yang sekampung rumahnya roboh semua tentu tidak mudah untuk keluar dari situasi seperti ini. Lha, mau berteduh kemana? Masih untung kalau di dekat-dekat situ ada bangunan yang agak utuh. Sementara di hari pertama tentu belum banyak bala bantuan yang menjangkau semua korban. Maka, sungguh bukan cerita yang mengada-ada kalau kabar di radio atau di koran esoknya mewartakan ada mereka yang tertidur dalam kondisi basah kuyup di bawah hujan. Itu baru mereka yang secara fisik selamat. Bagaimana dengan mereka yang secara fisik juga cedera tapi belum bisa terangkut ambulan, karena saking banyaknya korban cedera? Sepertinya tidak adalagi kata-kata yang pas buat melukiskan situasi malam itu, terutama bagi kampung-kampung yang seluruh rumahnya nyaris tidak menyisakan ada yang masih berdiri. Informasi seperti ini saya dengar bersambung-sambung dari radio.

***

Sekitar jam delapan dan jam sembilan malam, jalur komunikasi telepon seluler kelihatannya mulai agak lancar. SMS sesekali masuk dari rekan-rekan atau keluarga jauh yang menanyakan.tentang kabar keluarga di Jogja. Tak terkecuali mahasiswa yang kost di tempat kami. Dering tilpun dari orang tuanya, terutama ibu-ibunya di kampung halaman, bertubi-tubi menanyakan kondisi putra-putranya. Diantaranya meminta agar pulang dulu. Sangat bisa dimaklumi. Namun ada juga yang justru enggan pulang, karena kepingin menikmati fragmen hidup di bawah bayang-bayang suasana  ketegangan seperti ini.

Bagi saya, suasana seperti ini sangat sayang untuk dilewatkan. Saya beruntung dan bersyukur sempat mengalami suasana ketegangan dan kepanikan semacam ini dalam keadaan selamat bersama keluarga. Ini adalah pengalaman hidup yang belum tentu akan terulang seratus tahun lagi. Juga belum tentu akan sempat mengalaminya di tempat lain. Karena gempa tidak bisa diprediksi kapan terjadinya, bahkan beberapa detik sebelumnya, hingga tahu-tahu terjadi dan beberapa detik kemudian korban berjatuhan meluluh-lantakkan apa saja. Maka tentu tidak bisa diburu seperti pemburu hantu atau pemburu badai tropis tornado misalnya.

Sebaliknya berharap agar terjadi gempa adalah sebuah kesombongan. Kalau boleh memilih : terjadi gempa hebat, sempat mengalami dan selamat. Namun sayang, Sang Ontorejo Yang Maha Penguasa perut bumi sudah memilih skenario terbaik, tentang siapa yang dipilihnya menjadi korban, siapa yang menjadi penolong dan siapa-siapa yang bisa belajar dari ilmu-Nya. Semua ter-setting dalam naskah teater kasih dan sayang-Nya (dalam bahasa agama saya : Rahman dan Rahim-Nya). Tinggal kita ini menyesuaikan diri, sedikit saja berbaik-baik kepada Sang Ontorejo (syukur-syukur bisa banyak) dan ikuti tata-krama yang sudah diamanatkan. Tidak usahlah petentang-petenteng di atas bumi-Nya, seperti hendak merengkuh semua isinya. Bukan tidak perlu, melainkan cukuplah kalau sekiranya bisa berlaku proporsional.

***

Baru saja jalur komunikasi SMS rada lancar, muncul isu baru yang cukup membuat resah. SMS mulai pating sliwer (berseliweran), mengabarkan bahwa malam ini akan terjadi gempa susulan yang lebih dahsyat dan diharapkan masyarakat waspada. Dikabarkan informasi itu bersumber dari Jepang, ada lagi yang bilang dari Australia, ada lagi yang mengatakan dari BBC. Gempa lebih kuat akan terjadi sekitar jam 2 atau 3 dini hari. Bayangkan, di saat semua orang masih termangu-mangu dengan goyangan dahsyat Sabtu pagi hari dan bagi mereka yang selamat masih dheleg-dheleg seperti tidak percaya. Tiba-tiba diberitahu akan terjadi lagi yang lebih dahsyat.

Sial benar ini si pembuat isu! Anak-anak kost di tempat saya pun gelisah menanyakan tentang hal itu. Sebagai orang yang dituakan di rumah, tentu saya merasa wajib bertindak mengayomi. Saya pun terpaksa berlagak sok tahu dan sok pinter. Terkadang perilaku seperti ini dibutuhkan dalam keadaan darurat. Bukan dalam kerangka kesombongan, melainkan dalam misi menciptakan ketenteraman. Saya katakan bahwa isu itu sama sekali tidak benar. Tidak usah gelisan dan jangan terpengaruh, kata saya.

Meski saya bertindak sok tahu dan sok pinter, namun tentu ada dasarnya. Dan itu pula yang saya jelaskan kepada anak-anak kost dan keluarga saya.

Pertama, hingga detik ini belum ada satu alat pun dan seorang ahli pun yang mampu meramalkan kapan gempa akan terjadi, apalagi sampai bisa mengatakan jam dan intensitasnya. Maka kalau ada oknum entah itu londo Jepang, londo Ostrali atau londo Inggris menyatakan akan terjadi gempa lebih hebat, bahkan menyebut jam kapan akan terjadi, maka itu pasti dalam rangka pu-tippu..., dan su-issu

Kedua, dalam sejarah pergempaan (ada untungnya juga menyukai pelajaran sejarah), belum pernah terjadi ada gempa susulan yang intensitasnya melebihi gempa utama (main strike). Kalau toh terjadi juga gempa besar, maka pasti episentrumnya berbeda. Ini sebenarnya penjelasan normatif. Tidak berbohong, tapi juga tidak mengatakan yang sebenarnya. Tidak perlu saya katakan bahwa bergesernya episentrum itu bisa sejauh 1 km atau 1000 km. Tidak penting lagi penjelasan semacam ini. Yang paling pokok adalah keluarga saya dan orang-orang di sekitar saya merasa tenang dan tidak panik. Perkara nanti jam 2 atau jam 3 dini hari kok terjadi juga gempa dahsyat, maka biarlah itu menjadi urusannya Al-Khalik Sang Pemilik Bumi. Lebih baik ditinggal tidur saja, dan jangan lupa berdoa.

***

Namun tak urung saya pun sebenarnya ikut deg-degan. Sialan ini isu…! Pada saat segenap keluarga pada dlosoran tidur di teras depan karena hujan dan anak-anak kost tidur ngeringkel di garasi mobil, saya merelakan diri jadi satpam. Tidur sambil duduk di kursi bambu, sambil siap-siap, berharap menjadi orang pertama yang memimpin evakuasi kalau-kalau terjadi sesuatu yang lebih buruk. Kunci mobil, kunci rumah, HP, lampu senter, korek api (plus rokoknya tentu saja, lha ngapain bawa korek api thok…), dompet seisinya (jangan sampai kosong), semua siap di jaket dan setidak-tidaknya berada di tempat yang mudah dijangkau. Karena merasa mempunyai tanggung jawab seperti itu, maka tidur pun jadi tidak nyenyak.

Untuk kesekian kalinya saya nggrundel : “Isu sialan…!”. Bagai menunggu lonceng kematian, setiap setengah jam saya terbangun. Hingga mendekati jam 2 dini hari, lebih seperempat jam, lebih setengah jam, hingga lewat jam tiga dini hari, jam empat, lalu terdengar adzan subuh. Alhamdulillah, puji Tuhan, lonceng kematian tidak jadi berdentang. Berganti dengan seruan sholat subuh : “Sholat itu lebih baik daripada tidur…..”, apalagi tidurnya sambil duduk. Begitu seruan bersahutan dari masjid-masjid yang listriknya sudah menyala…

Umbulharjo, Yogyakarta — 7 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (7)

18 Desember 2007

Masih di malam pertama hari pertama pasca gempa, Sabtu malam Minggu menjelang tengah malam. Istri dan anak-anak sudah pada terlelap di teras rumah dan anak-anak kost pun sudah mulai ada yang mendengkur di garasi. Di luar masih gerimis rintik-rintik. Udara memang cukup dingin dari sebelumnya, angin pun semribit. Mata mulai riyip-riyip menahan kantuk, tapi tidur sambil duduk tidak bisa lepas dan leluasa. Ya gara-gara isu gempa dahsyat yang katanya mau nyambangi lagi.

Gempa susulan berintensitas kecil sesekali menggangu kenyamanan tidur semua orang. Setiap kali ada gemuruh lembut dan bumi bergoyang kecil, seperti dikomando semua orang njenggirat bangkit dari tidurnya. Siap-siap kabur kalau-kalau intensitasnya meningkat besar. Saya pikir hanya kami yang bertingkah seperti itu. Esoknya semua orang saling bertukar cerita dan rupanya semua orang pula berperilaku yang sama pada malam itu.

Efek traumatis gempa Sabtu pagi memang luar biasa. Sampai-sampai sedemikian sensitifnya panca indra setiap orang hingga setiap kali ada suara sedikit gemuruh atau entah bunyi apa yang mengagetkan, spontan gerak refleks bereaksi untuk siap-siap lari. Tidak sedikit pula yang lari sungguhan karena khawatir bunyi itu adalah gempa yang datang kembali. Dan ini nyata terjadi serta dialami oleh hampir setiap orang. Situasi seperti itu berlangsung sampai berhari-hari pasca gempa. Ada yang bisa cepat pulih dari tekanan rasa panik, ada yang sampai berhari-hari sulit untuk me-recovery ketenangan psikologisnya. Anak-anak adalah mereka yang paling berat beban trauma psikologisnya.

Anak seorang teman hingga seminggu pasca gempa masih takut masuk rumah. Ada lagi yang selalu menghindar dari berita gempa di televisi. Ada lain lagi yang tidak suka mendengar orang membicarakan soal gempa. Bisa dibayangkan bagaimana dengan anak-anak yang benar-benar menjadi korban gempa. Maka tidak berlebihan kalau para pakar seringkali mengatakan agar jangan menyepelekan trauma psikologis yang dialami oleh anak-anak korban gempa. Semua itu memang nyata adanya.

***

Sekira menjelang tengah malam hari pertama, agaknya jalur komunikasi telepon seluler mulai lebih normal. Justru pada saat mata hendak dipejamkan, SMS mulai pathing pecotot berhamburan di HP. Menilik jam pengirimannya, SMS-SMS itu dikirim pada siang hari dan baru bisa diterima malam hari. Belakangan hari teman-teman mengeluh katanya handphone-nya susah sekali dihubungi. Begitulah adanya.

Belum selesai membalas satu SMS, sekian SMS lagi menyusul masuk. Begitu seterusnya. Akhirnya saya pikir-pikir, bisa-bisa saya tidak tidur semalaman kalau mesti menjawab SMS satu per satu. Padahal malam itu ada puluhan SMS yang berduyun-duyun ngebaki (memenuhi) HP. Akhirnya saya buat format balasan standar. Toh nada pertanyaannya hampir sama, yaitu menanyakan bagaimana kabar keluarga akibat gempa.

Kemudian saya tulislah bunyi balasan standar, saya simpan sebagai template. Maka untuk membalas SMS, saya tinggal buka template, lalu : “Kirim”. Hanya untuk jenis pertanyaan dan pengirim tertentu yang perlu dikecualikan untuk dijawab tidak menggunakan template. Wajar saja, dimana-mana ya selalu ada pengecualian. Selama tidak dengan maksud diskriminatif, melainkan kepatutan etika saja.

Jadi ya mohon hal yang seperti ini dimaklumi oleh para pengirim SMS. Tanpa mengurangi rasa apresiasi dan terima kasih kepada rekan dan saudara yang telah berkirim SMS. Namun setidak-tidaknya SMS balasan itu tetap keluar dari nomor HP saya dan hasil pencetan jempol saya (terkadang sambil ngantuk). Bukan mesin penjawab otomatis atau SMS server seperti pada program berhadiah di televisi, kuis tapi judi atau judi berwajah kuis, yang untuk megirimnya terkena bayaran premium. Menang syukur, tidak menang ya paling pulsa berkurang “enggak seberapa”. Lain kali dicoba “berjudi” lagi…, di televisi, diselenggarakan oleh lembaga yang diakui pemerintah. Tapi, kapakno-kapak (diapa-apakan) ya tetap saja judi… Begitulah yang saya lakukan. Bukan berjudinya, tapi cara menjawab SMS yang tumpuk-undung di Inbox HP.

Masalah membalas puluhan SMS teratasi? Belum! Pasalnya, cilakak dua belas….., pulsa mulai menipis. Terpaksa harus ada yang disisakan sedikit untuk antisipasi kalau-kalau ada hal mendesak yang membutuhkan komunikasi keluar. Itu karena di rumah saya belum terpasang tilpun telkom rumahan (PSTN). Solusinya, saya coba membalas SMS dengan meminjam menggunakan HP istri, lalu nempil (pinjam) pulsa HP kepunyaan anak saya. Lama-lama, semua pulsa menipis. Kesal juga. Tapi mau kesal sama siapa?. SMS banyak masuk tapi hanya bisa membacanya tanpa bisa membalasnya. Si pengirim SMS pasti menunggu kepingin tahu kabar kami. Ya sudah, SMS-SMS itu dipenthelengi (ditatap) saja. Maunya nggrundel, kenapa pulsa-pulsa tinggal sedikit, bukannya dari kemarin dijog (diisi ulang). Jawabannya valid : “Habis tidak tahu kalau mau ada gempa…..”.

Lewat tengah malam nada khusus HP saya masih saja memancarkan bunyi morse : “tit-tit-tit … tiiiiit-tiiiiit … tit-tit-tit”. Terjemahannya : “Pak, pak, ada essemmess pak…”. Ah, saya tinggal tidur saja…, sambil duduk di atas kursi bambu yang saya beli di Jombor setahun yang lalu. Sambil menanti Ontorejo yang sedang amblas bumi menggeliat kembali pada jam dua atau tiga dini hari. Siwalan itu isu…..!

Umbulharjo, Yogyakarta – 7 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (8)

18 Desember 2007

Hari Minggu, sehari setelah gempa, adalah hari kebersihan. Trauma gempa kemarin masih belum hilang. Namun dalam rumah perlu dibenahi dan dibersihkan dari puing-puing perabot rumah tangga yang masih berantakan dan tercecer di sana-sini. Sementara di luar rumah juga perlu dibersihkan dari pot-pot bunga yang hancur jumpalitan.

Hari Sabtu sebenarnya saya sudah memperoleh kabar dari Pengawas “Madurejo Swalayan” bahwa secara fisik toko dalam keadaan baik. Tapi di bagian dalam ada sebagian plafon yang roboh. Isi toko sudah barang tentu berantakan. Barang-barang di rak pada berhamburan, meski tidak semuanya. Beruntung perangkat komputernya tidak bergulingan seperti yang ada di rumah. Pagi hari setelah gempa, hanya ada seorang pegawai yang datang. Itupun karena kebetulan rumahnya dan keluarganya selamat. Akhirnya dipersilakan pulang saja, barangkali tenaganya lebih dibutuhkan di rumah kalau-kalau terjadi sesuatu. Sedang karyawan lainnya masih belum jelas kondisinya. Informasi awal mengatakan semua dalam keadaan selamat, tapi rumahnya sebagian hancur. Maka “Madurejo Swalayan” tidak bisa beroperasi, berlaku keadaan darurat, entah sampai kapan.

Pada hari Minggunya saya minta Pengawas toko untuk berkeliling memastikan bagaimana kondisi para pegawai dan keluarganya. Sebagian di antara mereka kondisi rumahnya hanya retak-retak saja. Tapi tiga orang karyawan rumahnya berantakan dan tidak layak huni. Ada yang roboh dan ada yang ndoyong sehingga tidak berani menempatinya. Ada yang bisa dengan legowo menerima musibah ini dan ada yang shock.

Prioritas saya saat itu adalah bagaimana bisa membantu karyawan yang terkena gempa dengan mengirim sekedar bantuan guna meringankan beban penderitaan mereka. Yang paling praktis saat itu adalah bahan kebutuhan pokok. Maka saya lalu menyempatkan untuk berkeliling mengunjungi satu-persatu rumah pegawai-pegawai saya, hingga ke tempat yang agak jauh ke pelosok desa di pinggiran perbukitan timur. Dusun Sengir, namanya. Bukan sekedar memberi bantuan tapi juga memberi dorongan moril dan membesarkan hati mereka agar ikhlas dan tabah menerima musibah ini. Saya pikir, inilah salah satu hikmah gempa. Saya jadi tahu dimana rumah tinggal mereka dan saya jadi mengenal keluarganya.

Saya ajak kedua anak saya untuk ikut berkeliling mengantarkan bantuan. Agar mereka melihat sendiri, betapa beban hidup yang harus dialami dan ditanggung oleh mereka yang menjadi korban gempa. Terlebih bagi mereka yang tinggal di pelosok yang jauh dari jalan raya, yang berarti jauh pula dari jangkauan bantuan. Juga agar mereka bisa membedakan antara dirinya yang meski ketakutan tapi masih bisa kembali ke rumah dengan persediaan bahan makan yang cukup, dengan mereka yang bukan saja ketakutan tapi juga tidak bisa kembali ke rumah dengan tanpa persedian bahan makanan. Lalu bagaimana dengan pakaiannya?. Bagaimana dengan kesehatannya? Bagaimana pula dengan sekolah anak-anaknya?.

***

Kerusakan bagian dalam “Madurejo Swalayan” memang perlu segera diperbaiki agar secepatnya toko siap untuk beroperasi kembali. Namun ternyata tidak mudah mencari tukang pada saat-saat seperti itu. Semua tukang tentunya sedang repot entah karena mengurusi dan membenahi rumahnya sendiri, tetangganya, saudaranya atau malah cedera terkena gempa. Seperti banyak diketahui, banyak warga masyarakat Bantul yang bermata-pencaharian sebagai buruh atau tukang bangunan. Saudara dan teman saya yang rumahnya memerlukan penanganan segera terpaksa mendatangkan tukang dari daerah lain. Apa boleh buat. Ongkos tukangnya sendiri sih normal saja, tapi biaya “overhead” menjadi tinggi.

Beberapa pegawai toko sudah mulai ada yang bisa masuk kerja pada hari kelima pasca gempa. Agenda pertama adalah beres-beres dan benah-benah toko. Meski perbaikan toko belum dikerjakan, tapi pintu depan toko sudah mulai dibuka sedikit. Tujuan utamanya adalah sekedar membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mendesaknya. Barangkali membutuhkan sesuatu, mengingat sejak gempa terjadi hampir semua toko dan warung pada tutup dan masyarakat pun kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya. Akhirnya baru pada hari ke-10 pasca gempa, perbaikan “Madurejo Swalayan” sempat dikerjakan. Untungnya kerusakan tidak terlalu parah, sehingga tidak memakan waktu lama.

Untuk sementara waktu, selain pintu toko hanya dibuka sedikit, juga jam operasinya dibatasi mulai jam 7:00 pagi sampai jam 3:00 sore saja. Listrik di kawasan desa Madurejo dan sekitarnya baru hidup pada hari kelima pasca gempa. Itupun masih mota-mati (bolak-balik mati). Merebaknya isu penjarahan juga menjadi pertimbangan untuk tidak buka sampai malam. Isu terjadinya penjarahan memang cukup gencar. Baik penjarahan oleh masyarakat korban gempa yang tidak sabar menanti datangnya bantuan, maupun oleh oknum tidak bertanggungjawab yang mengail di air keruh, memanfaatkan momen kepanikan dan keterdesakan masyarakat untuk memperoleh keuntungan sendiri. Banyak cerita dan kejadian menyebar dari mulut ke mulut tentang hal ini.

***

Kawasan sebelah timur desa Madurejo, tepatnya di lereng-lereng pegunungan yang bersambungan dengan bukit Patuk, memang termasuk kawasan yang berada di sekitar patahan atau sesar Opak yang tergolong aktif alias selalu bergerak. Kawasan sesar aktif ini membentang dari pantai Samas di Bantul selatan menuju arah timut laut hingga Jatinom di sisi barat laut Klaten, melewati daerah Kretek, Bambanglipuro, Jetis, Imogiri, Piyungan, Berbah dan Prambanan. Masih ditambah percabangan sesar aktif ke arah Gantiwarno dan Wedi, Klaten.

Maka ketika di laut pantai selatan ada gempa, getaran gempa mudah sekali untuk menjalar mengikuti jalur sesar aktif itu. Akibatnya, bukan hanya wilayah kabupaten Bantul yang mengalami kerusakan parah, melainkan juga ke arah timur laut. Semakin jauh dari pusat gempa, semakin ringan tingkat kerusakannya. Itu sebabnya korban dan kerusakan terparah berada di daerah Bantul selatan hingga timur, termasuk Imogiri dan Piyungan, dan daerah Klaten bagian barat.

Dengan keluar masuk desa untuk mengirim bantuan itulah saya melihat bahwa distribusi bantuan dari pemerintah maupun lembaga-lembaga lain, terutama ke wilayah yang jauh dari jalan raya, memang terlambat. Lebih-lebih kawasan timur yang berbatasan dengan kabupaten Klaten. Agaknya kawasan timur ini kalah “populer” dengan kota Bantul. Akibatnya, semua bantuan yang berdatangan umumnya terkonsentrasi dan diprioritaskan untuk dikirim ke kawasan Bantul selatan. Dampak dari terlambatnya distribusi bantuan nampak di sepanjang jalan raya dari arah Jogja menuju Piyungan dan Wonosari, dan dari arah Piyungan menuju ke Prambanan. Dua penggal jalan yang saya lewati siang itu.

Lalu lintas tersendat di kedua penggal jalan ini karena di tengah jalan berjejer masyarakat korban gempa yang memasang penyekat jalan dengan kursi, drum, meja, atau apa saja, sambil meminta bantuan kepada setiap kendaraan yang lewat. Poster-poster seadanya bertuliskan korban gempa dan belum datangnya bantuan menghiasi di sepanjang jalan. Trenyuh melihatnya. Jumlahnya ratusan, bahkan mungkin ribuan. Belakangan saya dengar dan saya baca di koran, di kawasan lain pun terjadi hal yang kurang lebih sama. Bahkan di jalan raya Bantul selatan sudah mulai menjurus ke anarkis. Mereka tidak segan-segan menggedor-gedor mobil yang tidak mau memberikan sekedar bantuan. Bagi pengendara kendaraan tentunya juga dilematis. Mau memberi sekedar uang pada dua atau tiga orang, tentu orang-orang lainnya di sepanjang jalan itu juga perlu dibantu. Mau memberi bantuan kepada semua orang, tentunya tidak mampu.

Kenapa bisa terjadi hal yang demikian? Bak mengurai benang kusut. Padahal kalau kita lihat di televisi, kita dengar di radio dan kita baca di surat kabar, kiriman bantuan sudah sedemikian banyaknya datang dari mana-mana, bahkan sejak hari kedua pasca gempa. Solidaritas sosial yang demikian membanggakan, tidak hanya dari warga lokal, tapi juga nasional dan internasional. Tapi kenapa keluhan keterlambatan distribusi terjadi dimana-mana?

Semakin kita berpikir untuk menjawab kenapa, semakin kita terpancing untuk menyalahkan pihak lain. Jadi? Pelajaran apa yang bisa dipetik? Atau setidak-tidaknya, bisakah kita memetik pelajaran?

Umbulharjo, Yogyakarta – 8 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (9)

18 Desember 2007

Sejak hari kedua pasca gempa, gaung solidaritas sosial merebak kemana-mana. Nyaris tak ada stasiun televisi, radio dan media cetak yang melewatkan momen bencana gempa ini untuk saling bahu-membahu menggalang bantuan. Individu-individu yang peduli pada korban gempa berupaya menggalang bantuan dengan caranya sendiri. Relawan berdatangan dari mana-mana. Kelompok-kelompok organisasi non-formal seperti berebut untuk membantu. Belum lagi organisasi formal yang mengusung aneka warna bendera. Tak terkecuali masyarakat internasional pun berdatangan. Berbagai bentuk bantuan seakan-akan tumplek-bleg ke Jogja.

Jogja jadi semakin terkenal. Kota Bantul naik daun. Kalau dulu orang mudanya rada-rada malu menyebut asalnya dari Bantul, kini semua seakan bangga menyebut nama Bantul. Bahkan banyak masyarakat Jogja (apalagi yang pendatang) yang selama ini tidak pernah mengenal kecamatan Bambanglipuro (kedengaran aneh dan mengingatnya pun susah), kini semua orang sangat lancar menyebutnya.

***

Jangan heran kalau di hari-hari awal pasca gempa, jalur lalu lintas Jogja – Bantul luar biasa padatnya. Padat oleh mereka yang bergerak untuk mengungsi. Padat oleh mereka yang minta sumbangan di jalan. Padat oleh mereka yang midar-mider mencari kebutuhan hidup mengingat banyak toko pada tutup. Padat oleh mereka yang berdatangan ingin menyaksikan tingkat kerusakan kota dan perkampungan akibat gempa. Padat oleh kendaraan relawan dan kelompok-kelompok pemberi bantuan. Ditambah lagi dengan konvoi kendaraan pengangkut bantuan yang kesana-kemari. Ngebut lagi!.

Uedan tenan…! Sungguh membuat saya hueran bin gumun. Kendaraan-kendaraan pengangkut bantuan ini rupanya merasa dirinya sebagai pemakai jalan yang harus diutamakan. Akibatnya, tidak perduli jalan sempit dan ramai, konvoi kendaraan-kendaraan ini tetap memaksakan diri untuk bergerak cepat. Malah cenderung membahayakan pemakai jalan lainnya. Apalagi kalau kendaraan yang dipakai adalah kendaraan non-sipil (untuk tidak menyebut militer). Lampu pengatur lalu-lintas seperti tidak berfungsi.

Barangkali bisa menjadi masukan untuk merevisi undang-undang atau peraturan lalu lintas. Selain mobil ambulan, pejabat, pemadam kebakaran, maka mobil pembawa bantuan untuk korban bencana alam agaknya harus termasuk juga ke dalam golongan kendaraan yang harus didahulukan untuk diberi jalan. Meskipun tidak masuk akal, tapi prakteknya demikian.

Lha, kalau hanya membawa mie instan, beras, gula, susu, air mineral atau pakaian bekas, mau tiba di tempat tujuan jam 7 atau jam 8, apa bedanya? Tidak akan berpengaruh terhadap keselamatan jiwa korban bencana. Tapi ya tetap saja, kalau bisa sampainya jam 6 tapi sudah narik dua trip. Maka sopir-sopirnya pun seperti kesetanan. Dan siapapun pemakai jalan pada saat itu harus berlapang dada untuk mengalah. Semua orang harus mafhum, karena semua orang pula ingin menjadi yang teristimewa. “Mau ngirim bantuan, je…“, begitu kata wong Jogja.

Ya, sudah… Yang penting semua atas dasar niat baik untuk membantu sesamanya. Perlu digarisbawahi pada kata “niat baik”. Karena rupanya selalu ada oknum-oknum yang mancing di air buthek. Meski dibantah oleh pak polisi. Tapi sudah menjadi rahasia umum yang banyak diceritakan orang dari berbagai lokasi bencana. Mula-mula datang sebagai “relawan” membagi-bagikan mie instant. Begitu ada yang lengah, beberapa sepeda motor diangkut oleh teman-teman “relawan” ini. Barang-barang di rumah yang ditinggal mengungsi pun dijarah. Suasana memang menunjang, karena listrik masih padam, sementara setiap orang sedang pusing dengan dirinya sendiri dan keluarganya. Akibatnya, masyarakat korban gempa menjadi sensitif kalau ada orang tak dikenal datang pada saat sore atau malam hari. Ini memang cerita selingan saja, meski tidak diragukan kebenarannya.

***

Hal yang selalu mengundang kritik ketika terjadi bencana alam adalah lambatnya distribusi bantuan. Tak terkecuali dengan yang terjadi di Jogja, Bantul dan sekitarnya. Hari kedua pasca gempa, bantuan seperti mbanyu mili…, mengalir deras dari mana-mana. Tapi di radio, televisi dan surat kabar banyak dikeluhkan masyarakat yang tak juga kunjung menerima bantuan. Rasanya tidak percaya. Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Prosedur yang kelewat berbelit? Sistem yang terlalu birokratis? Atau, petugasnya kami-tenggengen (terbengong-bengong) tidak tahu apa yang harus dilakukan? Sehingga bantuan hanya menumpuk dan tidak segera disalurkan? Masih lebih baik kalau tidak disimpan oleh oknum nakal untuk dirinya sendiri.

Maka sangat dipahami kalau kemudian pihak-pihak swasta, lembaga swadaya atau pribadi-pribadi, memilih untuk menyalurkannya sendiri bantuan yang mereka telah himpun. Langsung ke sasaran dan tidak khawatir dikorup oleh oknum. Tapi ada juga kelemahannya. Terkadang satu kelompok korban memperoleh kelewat banyak bantuan, korban lainnya sama sekali belum menerima apa-apa. Apalagi kalau lokasi korban berada jauh dari akses jalan terdekat.

Itulah yang terjadi dengan masyarakat korban gempa yang berada antara lain di lereng-lereng perbukitan sebelah timur Piyungan – Prambanan. Kawasan ini kurang “populer” dan jauh dari jalan raya yang bisa diakses oleh kendaraan roda empat. Bantuan dari pemerintah belum menyentuh, kecuali dari lembaga-lembaga swasta. Ke sanalah saya akan mengarahkan bantuan yang saya terima sebagai titipan dari beberapa rekan. Insya Allah tidak akan percuma, apapun bentuknya.

Umbulharjo, Yogyakarta – 8 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (10)

18 Desember 2007

Gempa terjadi di Jogja dan sekitarnya dan sebagian kawasan selatan Jawa Tengah. Jelas ini bukan di Aceh, atau Nias atau Papua, dimana infrastruktur perhubungan menjadi kendala. Ini di Jogja, yang jalan-jalannya hingga pelosok desa relatif hampir semua sudah beraspal halus, setidak-tidaknya masih lebih mudah dijangkau. Sarana transportasi pun nyaris bukan halangan. Tapi kenapa manajemen distribusi bantuan kepada korban gempa sepertinya amburadul.

Begitulah setiap kali kita dengar komentar yang berhamburan di radio dan media lainnya. Sistem manajemen distribusi bantuan seringkali menjadi sorotan. Semua orang geregetan. Semua orang seperti mau marah. Sepertinya kita ini orang-orang bodoh yang tidak pernah bisa belajar dari penanganan korban bencana yang bertubi-tubi dialami oleh bangsa Indonesia (kalau kalimat ini saya terus-teruskan, bisa-bisa saya ikut-ikutan menghujat orang lain…..).

Atau memang kita ini terbiasa baru mau belajar setelah mengalaminya sendiri. Ketika bencana sedang dialami orang lain, kita pikir kita lolos dan tidak akan mengalaminya. Makanya malas untuk belajar. Ketika bencana itu benar-benar terjadi pada diri kita, barulah kita ngeh dan lalu bekerja sambil belajar (sambil berdoa juga, kalau sempat…). Nanti setelah bencana ini berlalu, kita semua akan sibuk rapat-rapat untuk melakukan evaluasi dan menyusun sistem manajemen penanganan korban gempa bumi.

Tapi ya sudah lewat. Menurut sejarah dan “gathukologi” (ilmu gathuk), gempa besar kemungkinan bisa terjadi lagi seratus-dua ratus tahun yang akan datang di wilayah yang sama. Dokumen sistem manajemen penanganan bencana yang kita susun berbulan-bulan itu sudah dimakan rayap di perpustakaan. Lalu kita baru akan bekerja lagi sambil belajar ketika (entah kapan) terjadi lagi gempa besar. Begitu seterusnya. Bukan hanya Jogja, melainkan juga Aceh, Nias, Lampung, Bengkulu, Sulawei Utara, Papua, Nusa Tenggara Timur, dsb.

Maka kalau ada yang bisa saya sarankan kepada masyarakat yang selama ini “belum” pernah mengalami bencana besar. Bersiap-siaplah. Sekaranglah saatnya melakukan studi banding ke Jogja. Belajarlah ke Jogja, bagaimana seharusnya sistem manajemen penanganan korban bencana itu dilakukan. Kemudian lakukanlah seminar-seminar, sarasehan, diskusi, lokakarya, konferensi, simposium, kolokium, baik yang ilmiah maupun tidak ilmiah, guna merumuskan sebuah cetak biru sistem manajemen penanganan bencana yang paling pas buat daerah masing-masing.

Saya sama sekali tidak bermaksud maidu (menyalahkan). Antara manajemen krisis dan krisis manajemen memang hanya dua kata yang dibolak-balik saja. Dalam kondisi badan lagi fresh, fit, segar-bugar, habis minum kopi, kedua hal itu dapat dipahami dan dirunut dengan jelas. Namun ketika pikiran sedang buthek, panik, dicaci setiap orang, maka sepertinya susah untuk membedakan antara keduanya. Apalagi bagi bangsa Indonesia yang lagi enggak enak badan. Bangsa Jepang dan Amerika yang sehat wal-ngafiat saja kalang-kabut dan dicaci di sana-sini ketika amburadul menangani korban gempa hebat di Kobe dan badai tropis di New Orleans.

***

Belum lepas dari ingatan kita, setahun yang lalu Jogja pernah geger-genjik bakal diterpa badai tropis dari laut kidul. Segala macam persiapan sudah dilakukan oleh setiap orang kalau benar-benar bencana badai tropis itu terjadi. Dari persiapan fisik, lahir-batin, moril-materiil, sampai bikin sayur lodeh tujuh macam. Pendeknya, masyarakat Jogja bersama pemimpinnya sudah siap tempur kalau bencana itu datang. Eee…, badai tropis urung berkunjung.

Sebulan yang lalu hingga sebelum gempa, semua orang terutama yang tinggal di seputaran kawasan gunung Merapi bersama mBah Marijan, sepertinya sudah benar-benar siap lahir-batin menghadapi amukan letusan Merapi. Semua jurus pengamanan, pengungsian, tanggap-darurat sudah dipersiapkan dengan matang. Belum sempat bencana itu terjadi (tentunya mudah-mudahan ya tidak terjadi, atau kalaupun terjadi janganlah sampai menelan korban…..), datanglah gempa dahsyat yang menelan korban ribuan jiwa dan milyaran harta benda. Dan, kalang-kabutlah semua orang karena tidak siap dengan serangan fajar gempa tak dinyana-nyana…

Apa benang merahnya? Sumprit..., ini hanya anekdot versi saya, sebelum saya akhiri catatan panjang saya.

Saya melihat, bahwa aba-aba ancaman badai tropis adalah “test case” pertama dari Sang Empunya Bumi. Ternyata : Ooo… masyarakat Jogja sudah siap to….. Lalu aba-aba datang lagi dengan ancaman Merapi sebagai “test case” kedua. Ternyata juga : Ooooooo… elok tenan (bagus sekali) masyarakat Jogja memang sudah siap. Nah, saiki tak wenehi (sekarang Saya kasih) “test case” ketiga tanpa aba-aba. Hurug-hurug-hurug-hurug….., cukup 57 detik saja!. Wee… ternyata wong Jogja ini cuma adigang-adigung suka menyepelekan ayat-ayatnya Sang Empunya Hidup…..

***

Well…, Merapi tadi pagi memuntahkan awan panas dan guguran lava sangat besar dan terbesar selama ini. Sehingga semua orang kalang kabut mengira Merapi meletus. Siangnya gempa agak kuat kembali mengguncang membuat semua orang panik dan berhamburan.

Maka, “aba-aba” seperti apa lagi yang dibutuhkan agar manusia ini tidak lupa bersimpuh dan bersyukur atas semua nikmat yang telah diperolehnya?

Umbulharjo, Yogyakarta – 8 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (11)

18 Desember 2007

Beberapa hari yang lalu saya menerima transfer sejumlah uang dari seorang rekan yang katanya pembaca setia “dongengan” saya. Beliau berniat membantu korban bencana gempa Jogja tapi kesulitan menyalurkannya (suka menjadi bagian saya kalau sudah urusan yang sulit-sulit…..). Berhubung beliaunya ini tinggal di tempat yang jauuuh…, yang ketika di Jogja Sabtu pagi ada gempa, di kotanya “belum”, karena masih Jum’at sore.

Maka dengan senang hati saya akan membantu menyalurkannya. Meski sudah dua minggu gempa Jogja berlalu, informasi yang saya terima mengatakan masih ada lokasi-lokasi yang seret bantuan, terutama wilayah yang jauh dari akses jalan besar. Kesanalah saya hendak menuju, antara lain di sisi timur jalan raya Piyungan – Prambanan dan di kawasan perengan bukit Patuk yang memang berada di seputaran jalur sesar aktif Piyungan – Prambanan.

Secepatnya saya belanja ke sebuah toko grosir, setumpuk mie instan dan beras yang sudah diplastiki 5 kilograman pun memenuhi kendaraan keluarga, sekijang munjung. Ini bukan acara kulakan untuk “Madurejo Swalayan”, tapi untuk persiapan nge-drop bantuan bahan makanan bersama rekan lain dari desa Madurejo. Meski stok barang dagangan di “Madurejo Swalayan” sebenarnya juga menipis, tapi saya belum berencana untuk kulakan banyak-banyak. Menunggu situasi pasar dan kehidupan masyarakat kembali normal. Sales-sales pun belum banyak yang berkeliling beroperasi.

Rupanya ada juga sales-sales yang nekat. Berkeliling bukannya ngecek barang dagangan produknya, tapi malah mengajukan “inkaso”, ini istilah untuk menagih pembayaran tunda yang sudah jatuh tempo. Terang saja, dibayar dengan kata “maaf”. Lha, wong lagi kayak gini, kok ya tega-teganya nagih utang. Ya, memang haknya, tapi mbok ya rada ngerti sedikit gitu lho…., bahwa beberapa minggu ini tidak ada pemasukan berarti.

Mendadak saya mesti ke Jakarta untuk urusan satu dan lain hal (ini bahasa diplomatis para birokrat), terpaksa pengiriman bantuan ditunda dua hari sekalian sambil menunggu datangnya tambahan bantuan dari luar daerah yang diperkirakan akan datang hari Sabtu ini.

***

Di Jakarta, meski hanya sehari, saya sempatkan untuk menilpun ke rumah. Harap maklum saja, di saat-saat seperti ini memang rada gamang sebenarnya untuk meninggalkan keluarga agak lama dan jauh. Rupanya Jum’at pagi kemarin terjadi gempa susulan cukup kuat yang membuat sebagian masyarakat Jogja dan sekitarnya cukup panik dan berhamburan ke luar ruangan. Begitu cerita istri saya, diperjelas pula oleh berita koran lokal “Kedaulatan Rakyat” yang saya baca tadi pagi.

Di stasiun Gambir tadi malam, sepur Argo Lawu yang akan mengantarkan saya kembali ke Jogja (bersama ratusan penumpang yang lain, tentunya) akan berangkat setengah jam lagi. Sambil makan nasi rawon yang tidak seberapa enak dan jus tomat, di sebuah kantin di lantai dua stasiun Gambir, tiba-tiba saya terkesiap selama sepersekian detik, ketika terdengar bunyi gemuruh hurug-hurug-hurug….. Rupanya sebuah kereta sedang melintas di lantai atas stasiun. Mirip seperti itulah gemuruhnya suara gempa di Yogyakarta pada Sabtu pagi, 27 Mei yang lalu.

Bagi mereka yang belum bisa membayangkan seperti apa gemuruhnya gempa di Jogja, yang saya alami ketika sedang berada di dalam rumah yang kebetulan struktur bangunannya agak tinggi, maka cobalah untuk berada di lantai dua stasiun Gambir. Bagi warga paguyuban PJKA (Pulang Jum’at Kembali Ahad), tentu mudah untuk melakukan rekonstruksi ini. Tunggulah beberapa saat sampai sebuah kereta lewat di atasnya. Boleh juga dipraktekkan untuk bertepuk tangan dan berteriak keras seperti yang saya lakukan pada 27 Mei pagi itu….. Jangan khawatir dilihat orang. Tidak akan ada orang yang perduli pada Anda (paling-paling disenyumi manis…), karena tepuk tangan dan teriakan Anda akan hilang tertelan suara gemuruh kereta yang sedang melintas di atas stasiun.

***

Intensitas gemuruhnya suara getaran gempa tentu tidak sama dan tidak merata, tergantung lokasi bangunan tempat kita berdiri dan struktur bangunannya. Gemuruh paling kuat akan dirasakan ketika berada di dalam rumah tingkat atau bangunan tembok yang tinggi. Bangunan dengan struktur dominan kayu (apalagi kalau kayunya sudah tua) tentu gemuruhnya lebih lembut dan hanya sebentar, sebab keburu rubuh atau kita yang kerubuhan….. Sedangkan struktur rumah tembok satu lantai, tingkat kegemuruhannya juga agak rendah. Tapi tetap saja bergemuruh dan kedengaran menakutkan, apalagi kalau sempat melihat dinding-dinding tinggi bangunannya bergoyang-goyang.

Kini, masyarakat Jogja masih sumelang (was-was), ditambah lagi isu menyesatkan masih berseliweran, jangan-jangan gempa dahsyat yang terjadi Sabtu pagi itu akan berulang. Sangat-sangat dapat dimaklumi kalau sampai kini pun masih ada orang-orang yang takut tidur di dalam rumah, apalagi di lantai atas. Beberapa tetangga saya hingga sekarang masih tidur malam di teras rumah, bahkan televisinya pun dipasang di luar rumah. Sekalian ronda, sekalian nonton Piala Dunia, barangkali. Syukurnya, keluarga saya sudah mulai pulih dari trauma kepanikan, kami sudah mulai merasa rada leluasa tidur di dalam rumah. Meskipun kalau gempa susulan sesekali terjadi, sempat mak tratap…, njenggirat kaget

Gempa-gempa susulan masih terus berulang terjadi hingga memasuki minggu ketiga pasca gempa. Gema suara gemuruhnya seperti masih menghantui, pada setiap kali gempa susulan terjadi. Masih banyak orang yang mengalami trauma psikologis yang ternyata memang tidak mudah untuk menetralisirnya. Masih ada kereta yang akan lewat di atas stasiun Gambir.

Masih ada gemuruh membayangi. Dan masih ada, bahkan banyak orang-orang dan terutama anak-anak yang perlu dibantu mengatasi trauma psikologis pasca gempa. Saya yakin ini bukan pekerjaan mudah. Sebagaimana korban-korban bencana alam di tempat lain, masih banyak diperlukan relawan untuk kerja sulit ini hingga waktu yang panjang pasca gempa.

Madurejo, Sleman – 10 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (12)

18 Desember 2007

Pak Rohani tidak dapat menyembunyikan butir air matanya ketika ia bercerita bagaimana ia dan istrinya lolos dari maut saat terjadi gempa dahsyat 27 Mei yang lalu. Pak Rohani dan istrinya saling berpelukan merunduk di belakang pintu rumahnya yang keburu roboh dan menimbun tubuh keduanya, ketika mereka berdua sedang berjuang lari keluar dari rumah pada detik-detik mematikan ketika bumi bergoncang hebat.

Itulah detik-detik dimana Pak Rohani dan istrinya berpacu dalam “injury time” (istilah ini saya gunakan kebetulan ada pesta Piala Dunia di Jerman). Saya hanya ingin sedikit mengulang cerita saya sebelumnya, bahwa kalau memang rumah yang kita tempati itu “layak” roboh akibat gempa, maka tidak ada satu hal pun yang dapat menundanya. Tidak juga Pak Rohani yang menyeret istrinya untuk segera keluar dari rumahnya.

Detik-detik “injury time” berlangsung dengan sangat cepat, dan kecepatan lari Pak Rohani dan istrinya ternyata tidak mampu mendahuluinya. Maka tertimbunlah mereka. Puji Syukur, mereka selamat dan akhirnya dapat keluar dari sela-sela reruntuhan rumahnya ketika gempa mereda. Tidak lama kemudian Pak Rohani tahu bahwa beberapa orang tetangganya bernasib sama, yaitu kerobohan rumahnya saat gempa terjadi. Namun nasib setelahnya tidak sama, beberapa orang tetangganya telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Kata-kata apa lagi yang dapat diucapkan oleh Pak Rohani dan istrinya, demi mengingat peristwa itu?

Pak Rohani adalah kepala dusun Kenaran, desa Sumberharjo, kecamatan Prambanan, kabupaten Sleman. Delapan orang warganya meninggal dan 115 rumah warganya roboh akibat gempa. Kini pak Kadus (kepala dusun) yang kebetulan juga seorang aktifis NU ini ditunjuk menjadi koordinator posko pengelola bantuan gempa di kampungnya. Semua warganya, kalau malam tiba kini masih tidur di tenda panjang yang dibangun di tengah jalan kampungnya.

Kalau kita sering mendengar atau membaca berita tentang para korban gempa yang masih tinggal di tenda-tenda darurat, jangan dibayangkan itu adalah tenda seperti tenda pramuka, pecinta alam, atau tenda tentara. Sebagian kecil di antaranya yang kebetulan sudah memperoleh bantuan tenda “beneran”, memang benar demikian. Namun lebih banyak lainnya adalah “tenda-tendaan” yang berupa bedeng-bedeng atau sekedar atap penutup yang terbuat dari plastik atau terpal dengan dinding seng bekas, tripleks atau penghalang apa saja yang dapat digunakan.

Hari-hari malam seperti sekarang ini, malam-malam purnama, udara cukup dingin. Jadi jangan tanyakan bagaimana mereka tidur mlungker bin ngeringkel berdesak-desakan. Bagaimana anak-anak dan bayi-bayi mereka tidur. Bagaimana mereka mengatasi hembusan angin dingin. Tapi juga jangan heran, kalau di bawah “tenda-tendaan” itu mereka yang pecandu bola masih bisa berjama’ah begadang menyaksikan siaran Piala Dunia, jam 20:00, jam 23:00 lalu jam 01:00 dini hari. Setidaknya mereka jadi tidak tidur kedinginan, melainkan kedinginn saja karena tidak tidur.

Dusun Kenaran, Sumberharjo, lokasinya sebenarnya tidak terlalu jauh dari jalan raya Prambanan – Piyungan, kira-kira masuk sejauh 4 km ke arah timur. Namun tidak terlihat dari jalan raya karena untuk mencapainya harus melalui jalan aspal kecil yang membelah kawasan persawahan. Dusun itulah yang menjadi tujuan pertama saya pada hari Sabtu siang kemarin untuk membagikan bantuan bahan makanan titipan dari seorang teman yang telah mentransfer uangnya kepada saya. Kebetulan saya menuju lokasi itu bersamaan dengan tim dari radio Gema Panca Marga Pacitan yang membagi-bagikan pakaian kaos ratusan lembar jumlahnya.

Dari desa Sumberharjo, saya yang disertai oleh anggota tim yang terdiri dari istri, anak pertama saya yang sedang menunggu hasil ujian nasional SMP-nya dan keponakan kecil yang masih berusia 2,5 tahun, berpindah menuju ke arah yang lebih selatan. Masih bersama tim dari Pacitan, kami menuju dusun Wanujoyo Lor dan Wanujoyo Kidul, desa Srimartani, kecamatan Piyungan, kabupaten Bantul. Lokasinya sekitar 2 km ke arah timur dari jalan raya Piyungan – Prambanan melalui jalan yang membelah kawasan persawahan. Bantuan ke dusun ini saya salurkan melalui posko yang ada di depan jalan masuk dan ada juga yang saya sampaikan langsung melalui seorang sesepuh kampung sambil saya berkendaraan mengelilingi dusun.

Dari jalan raya, desa ini tampak baik-baik saja. Namun kita baru tahu apa yang terjadi setelah benar-benar memasuki wilayah pedukuhannya. Sungguh membuat kita menahan nafas. Bisa dikatakan hampir semua rumah yang ada telah roboh, rusak berat dan tidak layak huni. Sebagian besar di antaranya benar-benar rata dengan tanah. Dari lebih 1400 jiwa penduduknya, sebanyak 37 orang meninggal dunia dan ratusan orang cedera yang sebagiannya kini masih dirawat di rumah sakit. Namun ada juga bayi-bayi yang lahir beberapa hari setelah gempa.

***

Perjalanan pendistribusian bantuan bahan makanan Sabtu sore kemarin kami lanjutkan ke arah lebih ke selatan lagi. Tepatnya ke jalan yang menuju kota Wonosari. Setelah melewati jalan berkelok-kelok menaiki bukit, kira-kira di Km 19, di kecamatan Patuk, saya berbelok ke arah barat daya memasuki jalan kecil yang menuju kecamatan Dlingo. Setelah menempuh jarak sekitar 6,5 km menyusuri pinggiran bukit Patuk, lalu masuk ke kiri melalui jalan kecil pas selebar kendaraan kira-kira sejauh 2 km. Dua pedukuhan yang lokasinya bersebelahan menjadi tujuan kami, yaitu Pencitrejo dan Ngenep, di kecamatan Terong.

Meskipun secara administratif kedua dusun ini termasuk wilayah kabupaten Bantul, tapi lokasinya cukup jauh dari kota Bantul yang gambar dan fotonya sering muncul di televisi atau di koran, karena lokasi kedua pedukuhan ini berbatasan dengan kabupaten Gunung Kidul. Saya yakin orang tidak akan tahu kalau di lokasi terpencil di balik perbukitan ini kondisinya juga sangat parah, kalau tidak mengunjunginya sendiri. Namanya juga di desa dan di perbukitan, rumah-rumah penduduknya tentu tidak berjejer-jejer seperti di kota, melainkan menyebar di mana-mana di balik-balik semak pepohonan.

Tampak di pinggiran jalan kampung adalah beberapa tenda yang didirikan di sela reruntuhan rumah. Di situlah kini mereka tinggal. Menurut Pak Mujimin, kepala dusun Ngenep, seluruh rumah warganya roboh, 40 rumah di antaranya ambruk-bruk seketika saat gempa terjadi. Beruntung hanya seorang yang meninggal, meski banyak yang cedera. Menyaksikan apa yang terjadi, terlalu sulit rasanya menerka-nerka perasaan seperti apa yang sedang dirasakan oleh mereka yang menjadi korban gempa. Kami yang menyaksikan seperti terlarut dalam kesedihan yang mereka sedang rasakan. Terlebih kaum ibu, hanya bisa istighfar (memohon ampun kepada Allah). Ya, kalau bukan karena ampunan-Nya, rasa kasih dan sayang dari siapa lagi yang bisa diharapkan…..

Pak Mujimin kini merasa masygul menatap rumahnya yang hampir rampung dibangun dengan susah payah itu ikut tumbang juga. Pasalnya, hari Jum’at sore sebelum gempa terjadi, ia baru menyelesaikan bagian terakhir teras rumahnya. Besoknya adalah hari pertama rumah barunya jadi, tentu saja rumah baru menurut ukuran kampungnya. Namun sayang, Yang Maha Kuasa kelihatannya tidak mengijinkan Pak Mujimin menyaksikan rumah barunya, begitu Pak Mujimin membahasakan pengalaman pedihnya. Belum tinggi matahari terbit, matanya masih dikucek-kucek, belum sempat kedua matanya menyaksikan dengan jelas rumahnya yang baru rampung dibangun, keburu ada gempa merobohkannya.

Sabtu sore kemarin itu sebenarnya saya juga ada rencana untuk mendistribusikan bantuan ke lembah yang lebih terpencil lagi, masih di desa Terong. Rencananya bahan makanan akan dilangsir dengan sepeda motor karena tidak ada jalan yang dapat dilalui mobil. Selama ini memang sudah ada bantuan yang diterjunkan dari helikopter, tapi tentu belum mencukupi. Namun mengingat hari sudah menjelang gelap, akhirnya saya batalkan rencana untuk langsung menuju lokasi.

Pendistribusian bantuan bahan makanan sore kemarin terpaksa saya cukupkan dulu, untuk dilanjutkan hari berikutnya. Tidak ada kata terlambat. Tidak akan pernah ada istilah terlambat untuk membantu mereka yang membutuhkan, lebih-lebih mereka yang tinggal di lokasi-lokasi yang sedikit dicapai orang.

***

Sampai di rumah saya baru ingat, hari Minggu ini ada acara kerja bakti di lingkungan tempat tinggal saya untuk membersihkan sisa-sisa reruntuhan yang masih teronggok di ujung jalan. Kampung juga perlu dibersihkan. Ya sudah, bersih-bersih kampung dulu. Insya Allah hari Senin pendistribusian bantuan akan dilanjutkan.

Umbulharjo,Yogyakarta – 11 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (13)

18 Desember 2007

Tiba-tiba saya ingat kepada bekas tetangga saya yang dulu pernah memberi saya seekor pitik ayam alas. Dia tinggal di Imogiri. Pikiran saya cepat melayang jauh ke sana, sebab saya tahu bahwa Imogiri adalah salah satu wilayah yang cukup parah terkena gempa. Bukan hanya perumahan penduduknya yang porak-poranda, bahkan kompleks makam raja-raja Ngayogyokarta Hadiningrat pun tak lepas dari kerusakan akibat goyangan gempa.

Hari Senin siang yang lalu saya meluncur ke Imogiri sambil membawa sisa titipan bantuan dari seorang teman yang tinggal jauh di seberang lautan sana. Setiba di jalan utama menjelang pasar, yang terlihat sepertinya hanya bangunan toko dan rumah-rumah penduduk yang roboh di sepanjang kiri-kanan jalan. Saya coba berkendaraan perlahan sambil tolah-toleh dimana rumah bekas tetangga saya itu. Lho, kok rumahnya hilang?

Ternyata rumahnya roboh. Rumah tetangganya yang di depan, belakang, kiri dan kanannya juga roboh. Makanya rumah bekas tetangga saya itu seperti hilang berada di tengah reruntuhan satu kawasan. Tidak jauh dari rumahnya, di seberang jalan, di teras rumah saudaranya yang kebetulan tidak “terlalu” roboh, melainkan miring-miring arep (mau) ambruk, saya lihat istrinya sedang menyiap-nyiapkan minuman dan makanan gorengan. Dalam hati saya bertanya : untuk apa, atau untuk siapa? Apakah nyambi jual teh hangat dan gorengan? Karena memang tidak banyak yang dapat dikerjakan oleh mereka yang menjadi korban gempa di minggu-minggu awal pasca gempa.

Setelah ikutan duduk di teras itu, sambil ngobrol-ngobrol, ya masih cerita tentang aneka pengalaman pergempaan tentunya, barulah saya tahu. Bukan hanya tahu, tapi trenyuh atiku dibuatnya. Pertanyaan basa-basi yang saya ajukan dengan hati-hati bernada serius : “Apakah nyambi jual minuman?”. Jawabnya sungguh membuat saya malu pada diri sendiri. “Inggih mboten, pak (Ya, tidak, pak)…”. Sambil rada nyengenges sang istri berkata : “Wong ini sekedar menyediakan untuk siapa saja yang membutuhkan, siapa saja yang kehausan di jalan. Ya, orang lewat, ya bakul pasar, ya para tukang yang sedang kerja membersihkan reruntuhan. Siapa saja silakan mengambil sendiri kalau mau…”, begitu kira-kira lanjutnya. Mak deg, atiku.

Hebat sekali orang ini. Lha wong rumahnya rubuh, tidur di “tenda-tendaan”, makan ya masih tergantung suplai orang lain, kok sempat-sempatnya menjerang air di pinggir jalan dan menyediakan teh hangat gratis buat siapa saja, teh manis lagi… Malah kalau ada kerabat dekatnya yang datang, seperti saya dan anak saya siang itu, lalu disuguhi bakwan goreng. Bener-bener ora tinemu ning akal (tidak masuk logika saya). Tapi ya…, yang namanya berbuat amal saleh menolong sesama itu nampaknya tidak memerlukan logika, dan memang tidak usah dilogika. Kalau memang sudah krenteg mau berbuat baik, “just do it”! Selebihnya biar Sang Maha Pemberi Rejeki yang mengurusnya… Menurut ungkapan populernya : Gusti Allah mboten sare (Tuhan itu tidak tidur)….. Mau ditinggal tidur segenap mahluk-Nya pun Dia tetap mboten sare…..

Setinggi-tingginya dan selama-lamanya saya pernah belajar (perlu saya tekankan pada kata selama-lamanya, sebab saya bersyukur bisa nggondhol pangkat sarjana setelah melalui semester 18….. Ing wayah semono, di jaman itu…..), dan sejauh-jauhnya saya pernah menuntut ngelmu dan pengalaman. Ternyata saya justru memperoleh pelajaran hidup sangat berharga dari bekas tetangga saya, orang Imogiri, tidak jauh-jauh dari tempat tinggal saya.

***

Bekas tetangga saya ini sempat mengajak saya melihat-lihat rumahnya dan rumah-rumah tetangganya. Rata-rata tinggal menyisakan sekitar setengah meter tinggi dinding batanya. Kalau saya cermati, kebanyakan rumah-rumah yang roboh di kawasan pedesaan ini adalah bangunan lama (meski tidak semuanya begitu, banyak juga bangunan baru yang ikut roboh). Tipikal bangunan kuno di pinggiran Jogja adalah berdinding tebal, karena dindingnya tersusun dari dua batu bata berjejer atau kalau tidak ya dipasang melintang, maka tebal dindingnya adalah dua kali (ada juga yang lebih) tebal dinding bata pada umumnya bangunan sekarang.

Namun adonan pasangannya tidak menggunakan pasir, gamping dan semen, melainkan campuran tanah liat atau lempung, bubuk bata merah dan gamping, dan sangat jarang yang menggunakan campuran semen. Selain itu, umumnya tidak menggunakan rangka penguat yang biasanya berupa kolom cor-coran dan besi batangan. Bahkan di sudut-sudut bangunannya pun hanya mengandalkan cara pemasangan batu bata yang disilang-menyilang. Kemudian rangka atapnya atau wuwungan, hanya menempel atau tergeletak di atas dinding batanya. Karuan saja, sangat rentan terhadap goyangan dan geseran.

Pertanyaannya, kenapa orang Jogja berani membuat struktur bangunan seperti ini? Termasuk bangunan-bangunan kuno milik keraton? Jawabnya mudah, karena orang Jogja tidak pernah menyangka ada gempa berkekuatan besar dapat melanda. Tidak juga pernah ada cerita temurun-turun dari embah buyutnya embah bahwa dahulu kala Sang Ontorejo Yang Maha Penguasa Perut Bumi pernah ngolet (menggeliat) di dalam buminya Jogja.

Kata kuncinya adalah “tidak pernah menyangka”. Maka, waspadalah para penduduk bumi di belahan lain yang selama ini anteng-anteng saja dan “tidak pernah menyangka”. Potensi gangguan alam bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dari mana saja, menimpa siapa saja, dengan atau tanpa peringatan dini. Tapi pasti ada ilmu yang bisa “dibaca”.

***

Bekas tetangga saya ini bersama anaknya kemudian mengantarkan saya mendistribusikan bantuan logistik ke kawasan Imogiri selatan. Kami menuju ke dukuh Karang Rejek, desa Karang Tengah, kira-kira dua kilometer tenggara pasar Imogiri. Sedikit menaiki dan menuruni lereng bukit, melalui jalan kecil selebar pas satu kendaraan. Hampir semua rumah di pedukuhan itu roboh, ada juga yang masih berdiri tapi tidak aman ditempati karena retak parah disana-sini.

Dari Karang Rejek, saya melanjutkan ke dukuh Srunggan, masih di desa Karang Tengah, sekitar tiga kilometer selatan pasar Imogiri. Di pedukuhan ini juga sebagian besar rumah roboh atau rusak parah. Yang pasti pemiliknya tidak lagi berani menempati. Mereka masih tidur di tenda-tenda. Ada yang masih berupa tenda-tendaan, sekedar atap kedap air dihalangi dinding seadanya. Namun di beberapa tempat saya lihat ada yang sudah dipasang tenda bagus dan terlihat baru berbentuk setengah silinder tengkurap (sebab kalau tengadah ya susah didirikan), bantuan dari Bulan Sabit Merah Internasional.

Perjalanan pengiriman bantuan siang hingga sore itu saya akhiri dengan berkendaraan mengelilingi kota kecamatan Imogiri, Bantul, dan kawasan sekitarnya. Betapa kerusakan merata di seluas kawasan yang saya lewati. Minggu ketiga pasca gempa ini kebanyakan masyarakat mulai melakukan bersih-bersih di wilayah masing-masing. Kebutuhan logistik sudah mulai tercukupi, meski masih dibutuhkan. Kebutuhan peralatan pertukangan mulai banyak diperlukan untuk membongkar reruntuhan dan ada juga yang mulai mendirikan tempat berteduh seadanya.

Umbulharjo,Yogyakarta – 16 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (14)

18 Desember 2007

Seperti yang dilakukan oleh banyak kelompok masyarakat, baik yang berasal dari kota Jogja sendiri maupun dari luar Jogja, posko-posko bencana gempa Jogja bermunculan di berbagai penjuru kota. Mereka mengkoordinasi berbagai bantuan yang berhasil diterima dan dikumpulkan, lalu menyalurkannya langsung kepada kelompok-kelompok masyarakat di berbagai titik lokasi korban gempa. Langsung kepada para korban. Entah mengapa mereka umumnya tidak mau menyerahkannya melalui posko-posko yang dibangun pemerintah, melainkan memilih untuk menyalurkannya sendiri. Berbaik-sangka sajalah, barangkali agar bisa turut merasakan langsung seperti apa beban derita mereka yang menjadi korban.

Teman-teman saya yang mantan pegawai Freeport, Papua, juga membentuk posko peduli gempa Jogja. Segenap rekan dan sesama mantan pegawai Freeport yang tinggal di luar Jogja lalu dihubungi, barangkali berniat menyampaikan sekedar bantuan, maka posko peduli gempa siap membantu menyalurkannya. Tidak terkecuali segenap rekan yang masih aktif bekerja di Papua juga menggalang dana.

Akhirnya terkumpullah sejumlah dana yang segera dibelikan nasi bungkus, sembako, susu, tenda, selimut, peralatan masak, dsb. Semua didistribusikan sebagai tindakan tanggap darurat bagi korban gempa, ke seganap penjuru wilayah Jogja, Bantul, Sleman, Gunung Kidul dan Klaten. Mulai dari pembagian nasi bungkus ke rumah sakit-rumah sakit hingga bantuan sembako ke pelosok desa. Sebagian di antaranya adalah keluarga karyawan Freeport yang rumahnya roboh atau rusak berat. Kini, posko peduli gempa siap-siap memasuki tahap rekonstruksi atau rehabilitasi. Sejumlah dana yang masih digalang di Papua akan segera menyusul untuk disalurkan.

Hari Rabu yang lalu, sejumlah paket bantuan logistik yang masih tersisa di posko saya bawa ke lokasi yang termasuk terpencil, yang selama dua minggu ini masih seret bantuan (saya menyukai urusan yang sulit-sulit seperti ini…). Berombongan bersama beberapa teman, saya kembali membawa rombongan menuju ke desa Terong, kecamatan Dlingo, Bantul. Ini adalah wilayah Bantul di pinggir timur laut yang berbatasan dengan Gunung Kidul. Melalui jalan Wonosari yang mendaki, sampai di Patuk membelok ke barat ke arah Dlingo. Menyusuri pinggiran terbuka sisi barat laut bukit Patuk ini berpemandangan indah, apalagi saat senja hari, seperti yang saya alami hari Sabtu sebelumnya. Memandang ke arah barat daya, terbentang kota Yogyakarta dan sekitarnya terlihat dari ketinggian. Sesampai di sekitar kilometer enam lalu berbelok ke selatan menuruni bukit Patuk.

Lokasinya berdekatan dengan yang saya datangi hari Sabtu sore sebelumnya, namun beda pedukuhan dan beda kampung. Kami lalu menuju ke dukuh Joho, melalui jalan desa berupa tanah berbatu, naik dan turun perbukitan, membelah kawasan tegalan atau ladang penduduk sampai mentok ke ujung pedukuhan. Sebelumnya daerah ini sulit dijangkau karena satu-satunya jalan penghubung dengan jalan besar tertutup longsoran. Dari sekitar 450 jiwa warganya banyak mengalami cedera, tidak ada korban meninggal dunia. Namun tidak perlu ditanyakan lagi jumlah rumah yang roboh, semua penduduknya kini tinggal di bawah tenda seadanya.

Dengan masih adanya gempa-gempa susulan yang sangat terasa di daerah ini, hingga minggu ketiga pasca gempa mereka belum cukup punya nyali untuk mulai membenahi rumahnya yang berantakan. Malah ada yang terpaksa tinggal bersama sapi-sapinya, karena rupanya konstruksi kandang sapi lebih aman terhadap potensi roboh oleh gempa. Ya…, tinggal di kandang sapi, akrab berbagi tempat bersama sapi-sapinya.

Karena lokasinya yang tidak mudah dicapai, boro-boro terlihat dari jalan besar, maka tidak banyak bantuan yang sampai ke dukuh ini, kecuali memperoleh cipratan bantuan dari pemerintah pedukuhan atau RT lain. Menurut catatan petugas posko di sini, hanya ada sedikit bantuan yang masuk, dua atau tiga kali diantaranya berupa bantuan agak banyak yang pernah mereka terima. Bandingkan dengan mereka yang tinggal di kawasan yang mudah dicapai, puluhan paket bantuan pasti sudah mereka terima sejak gempa terjadi 27 Mei yang lalu.

Namun mereka toh tidak nggrundel, mengeluh atau protes. Ya memang begitulah adanya. Yang penting masih bisa terpenuhi kebutuhan makan sehari-hari melalui dapur umum. Anak-anak mereka pun masih bisa pergi ke sekolah. Bal-balan Piala Dunia juga masih dapat mereka saksikan. Beruntung, kalau malam listrik sudah nyala untuk beberapa jam lamanya.

Dari dukuh Joho kami menuju dukuh Pencitrejo, pedukuhan yang sama dengan yang saya datangi hari Sabtu sore sebelumnya, namun kini kami menuju ke wilayah RT berbeda. Pembagian administratif di pedesaan ini memang rada membingungkan kalau belum familiar. Saya pun susah mengingatnya. Ada desa, lalu ada dukuh, lalu ada lagi dusun (terkadang disebut RW). Dalam satu dusun bisa terdiri dari banyak RT.

Nasib korban gempa di Pencitrejo RT 03 ini tidak beda jauh dengan warga Joho. Lokasinya tidak mudah diakses dari jalan besar. Sekitar 70 jiwa warganya masih tidur di tenda-tenda. Dapat dikatakan semua rumahnya roboh. Beberapa warga ada yang sudah berani mulai bersih-bersih rumah. Ya bersih-bersih saja, wong rumahnya roboh dan tidak bisa ditempati. Sebagian di antara rumah-rumah mereka berada di lereng, dimana banyak tanah yang merekah dan batu-batu besar menggelinding dari tempatnya semula saat gempa terjadi.

Dalam perjalanan pulang dari Pencitrejo, saya ketemu dengan petani yang sedang memanen singkong. Rasanya senang sekali memandangnya. Hasil panenannya ditimbun di tepi jalan desa yang hanya pas selebar kendaraan. Saya tergoda untuk berhenti, lalu akhirnya kepingin membeli sekadarnya. Saya sodorkan selembar uang lima ribuan. Rupanya malah ditukar dengan sekantong singkong banyak sekali. Lumayan untuk dibuat balok (singkong goreng) bekal ronda malamnya. Namanya juga tinggal di kampung.

***

Sejauh ini, tindakan tanggap darurat baik yang digerakkan oleh pemerintah maupun oleh spontanitas lembaga swadaya maupun individu masyarakat telah terbangun dengan baik sekali. Praktis semua lini pertahanan hidup dapat dikelola dengan sinergi yang manis. Semua pihak bahu-membahu membangun solidaritas sosial lintas batas. Para korban gempa yang rumahnya luluh-lantak pun tidak merasa sendirian. Banyak pihak merasa perduli untuk berbagi penderitaan, berbagi suka-duka dan berbagi nikmat.

Mereka para korban gempa mulai dapat tidur nyenyak di tenda-tenda darurat, sambil bermimpi kapan janji Pak De Jusuf Kalla yang hendak menabur bantuan Rp 10 juta hingga Rp 30 juta segera turun dari langit Jogja yang sesekali kelabu kecipratan abu Merapi. Listrik mulai mengalir dan hajatan bal-balan di Jerman pun dapat mengisi hari-hari malam dingin mereka. Beras berkarung-karung berlabel Bulog juga mulai berdatangan ke posko-posko bencana yang ada di hampir setiap pedukuhan. Petugas pemerintah yang akan membagikan uang lauk-pauk sebesar Rp 3.000,- per jiwa per hari dan tunjangan hidup Rp 100.000,- per bulan juga mulai sibuk mendata warganya, ada yang sudah mulai menerimanya, sebagian lainnya masih H2C (harap-harap cemas).

Maka kemudian muncul pertanyaan sederhana : Sampai kapankah mereka akan mampu bertahan dalam kondisi seperti itu? Sebab kini relawan domestik maupun mancanegara berangsur-angsur sudah mulai hengkang kembali ke kehidupannya masing-masing. Bantuan logistik tentu akan tiba saatnya menyurut. Orang-orang yang selama ini sangat perduli untuk berbagi tentu akan habis juga apa yang dapat dibaginya. Piala Dunia pun akan mencapai finalnya.

Akan tiba saatnya mereka para korban gempa kembali sendirian. Sendiri dengan problem keluarganya. Sendiri dengan rumahnya yang belum ada gantinya. Sendiri dengan anak-anaknya yang segera masuk sekolah. Sendiri dengan tunjangan hidup yang terbatas. Sendiri dan dheleg-dheleg, apakah masih mampu bekerja dengan upah mencukupi. Orang-orang yang semula sangat antusias dengan kepeduliannya, lalu entah pada kemana. Pemerintah yang semula mati-matian mengurusi mereka, mulai sibuk dengan urusan kantor yang sekian lama “terbengkelai”.

Tahap rekonstruksi atau rehabilitasi atau entah program apa lagi namanya memang segera dimulai. Tapi ada sekian ribu rumah, sekian ribu jiwa, sekian ribu derita, lengkap dengan sekian ribu persoalannya, harus ditangani. Sungguh pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi pemerintah atau siapa saja.

Kerawanan sosial baru harusnya sudah mulai diantisipasi. Belum lagi kerawanan individual. Individu yang suka bersemangat lebih, seperti semangat mengumpulkan dana bantuan yang lebih, beras lebih, selimut lebih, mie instan lebih, susu lebih, tenda lebih, alat masak lebih dan kelebihan-kelebihan (kalau perlu, ya dilebih-lebihkan) lainnya…..

Umbulharjo,Yogyakarta – 16 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (15)

18 Desember 2007

Ada saweran di Jakarta. Persisnya dimana saya tidak tahu. Tapi tahu-tahu seseorang yang setia mengikuti “dongengan” saya tentang gempa Jogja ini kemudian memberitahukan bahwa uang hasil saweran bersama teman-temannya itu telah ditransfer ke rekening saya di Jogja.

Dari pengamatan saya selama mendistribusikan bantuan, nampaknya bantuan berupa logistik sudah hampir menjangkau semua lokasi, meskipun di beberapa lokasi awalnya nampak seret. Beberapa warga di lokasi yang sempat saya kunjungi memberitahukan bahwa mereka sangat butuh peralatan pertukangan. Karena pada minggu ketiga pasca gempa ini kebanyakan para korban gempa mulai melakukan gerakan gotong-royong membersihkan kampung dan rumahnya dari reruntuhan. Mereka telah mulai melakukannya dengan peralatan seadanya. Hanya sedikit lokasi yang saya baca informasinya di media masih memerlukan bantuan logistik, tenda dan selimut.

Mempertimbangkan hal itu, maka uang kiriman dari Jakarta itu akhirnya sebagian saya belikan beras dan sebagian besar lainnya saya belikan peralatan pertukangan, seperti sekop, cangkul, cethok, ember, linggis, tomblok (keranjang anyaman bambu) dan slenggrong (serok tangan).

***

Hari-hari ini jalan-jalan di Jogja dan sekitarnya penuh dengan timbunan reruntuhan bangunan. Hampir di setiap ujung gang, teronggok timbunan reruntuhan bangunan yang memang sengaja dikumpulkan di tepi jalan besar. Selanjutnya petugas dari pemerintah dibantu dengan personil TNI mengambil dan mengangkut material reruntuhan dengan truk-truk untuk ditimbun di tempat-tempat pembuangan yang telah ditentukan. Maka bagi mereka yang membutuhkan tanah urug, sekaranglah saat yang tepat untuk memperolehnya secara gratis, daripada beli tanah urug. Asal saja mau mengurus sendiri pengangkutannya.

Bagi para korban gempa di kawasan kota Jogja, pekerjaan pembersihan reruntuhan relatif lebih mudah, karena rumah yang runtuh jumlahnya lebih sedikit dibanding dengan yang masih berdiri tegak. Sehingga sarana pertukangan tidak terlalu sulit untuk memperolehnya. Mau beli, banyak toko bangunan menyediakannya. Pinjam tetangga pun masih bisa. Namun tidak demikian halnya dengan mereka yang tinggal di lokasi yang jauh dari kota yang hampir seluruh rumahnya rata dengan tanah. Peralatan pertukangan yang mereka miliki barangkali ikut tertimbun reruntuhan rumahnya. Bagi mereka itu, adanya pemberian bantuan peralatan pertukangan sangat mereka harapkan. Mereka pun sangat gembira ketika bantuan itu akhirnya datang juga.

Siang tadi saya mengunjungi empat pedukuhan yang kesemuanya berada di desa Sumberharjo, kecamatan Prambanan, Sleman. Masih terbilang tetangga desa dengan “Madurejo Swalayan”, meski jaraknya terpisah rada jauh. Peralatan pertukangan yang saya bawa pun saya bagi menjadi empat agar mudah mendistribusikannya. Saya ditemani oleh tetangga saya di Madurejo yang membawa mobil bak terbukanya, mengingat Kijang saya tentu tidak muat untuk mengangkut peralatan pertukangan yang saya beli.

Kawasan timur Jogja memang menjadi prioritas saya. Ini adalah kawasan terkena bencana yang berita keparahannya kalah “rating” dengan kawasan Bantul selatan. Padahal kawasan timur Jogja ini juga masih termasuk wilayah kabupaten Bantul yang berbatasan dengan kabupaten Sleman, Gunung Kidul dan Klaten. Karena juga berada di jalur sesar Opak yang aktif, maka tingkat kerusakannya tidak kalah dengan wilayah Bantul selatan dan tenggara, yang relatif lebih banyak didatangi tim bala bantuan.

Lokasi pertama yang saya datangi adalah dusun Gunung Gebang. Lokasinya tidak jauh dari jalan raya. Namun kondisi pedukuhan ini tidak terlihat dari jalan raya karena terbatasi oleh hamparan sawah dan pepohonan. Ketika saya memasukinya, sekitar dua kilometer ke arah timur dari jalan raya Prambanan – Piyungan, barulah saya tahu bahwa semua rumah warganya ambruk dan rusak berat karena gempa. Sekitar 950 jiwa warganya masih tinggal di tenda-tenda dan dilayani oleh dapur umum. Sebagian warganya sedang bergotong-royong menangani rumah-rumah yang roboh. Tentu mereka sangat senang menerima bantuan peralatan pertukangan yang sedang mereka butuhkan.

Dari Gunung Gebang saya menuju ke arah utara lalu ke timur lagi, lebih jauh ke dalam dari jalan raya Prambanan – Piyungan. Dusun Polangan namanya. Di wilayah ini pun semua rumahnya roboh dan rusak berat. Sekitar 450 warganya juga masih tinggal di tenda-tenda. Sebuah Sekolah Dasar tampak rusak berat, sehingga para murid pun belajar dan baru saja menyelesaikan ujian SD di tenda-tenda yang khusus dibangun menggantikan ruang kelas yang tidak aman lagi ditempati untuk kegiatan belajar-mengajar. Dusun ini tampak sepi, rupanya mereka sedang bergotong-royong membersihkan reruntuhan, sebagian lagi ada yang sudah mulai sibuk mengurus sawahnya yang saat ini sedang musim panen padi.

Dari Polangan saya bergerak semakin ke arah timur laut, semakin menjauh dari jalan raya, ke dusun Klero. Kondisi dusun ini pun tidak jauh berbeda. Meski jumlah rumah yang roboh tidak sebanyak pedukuhan lainnya, tapi umumnya kondisi rumah-rumah mereka tidak layak dan tidak aman untuk ditempati. Justru karena itu maka peralatan pertukangan akan sangat membantu mereka untuk sekalian saja meruntuhkan rumah yang nyaris roboh, sebelum nantinya malah merobohi penghuninya. Bantuan logistik nampaknya sudah mencukupi untuk waktu ini, namun peralatan pertukangan belum ada yang mengirimnya.

Menyusuri jalan-jalan desa sore tadi terasa menyenangkan. Dimana-mana hamparan sawah dengan padinya yang sudah mulai menguning. Di mana-mana pula ada kegiatan potong padi rame-rame. Tampak para petani sedang bersemangat memanen padinya. Sebagian padi hasil panenaannya ditimbun begitu saja di tepi jalan desa, sebagian orang ada yang mengangkutnya dengan sepeda motor. Tidak lagi dengan gerobak atau sepeda atau dipikul atau digendong. Damai hati ini rasanya menyaksikan pemandangan langka semacam itu.

Akhirnya sampailah saya di dusun paling timur, di lereng perbukitan, namanya dusun Sengir. Seminggu sebelumnya saya sudah mencapai desa ini untuk nge-drop bantuan sembako, karena kebetulan ada seorang pegawai “Madurejo Swalayan” yang rumahnya nyaris roboh tinggal di sini. Tapi sore tadi tujuan saya lebih jauh lagi, yaitu ke dusun Nglepen.

Jarak dari dusun Sengir ke dusun Nglepen sebenarnya hanya sekitar satu kilometer. Tapi untuk mencapainya mesti menempuh jalan terjal berupa tanah bebatuan, naik ke lereng atas kawasan perbukitan. Seekor Kijang warna hitam metalik yang terkadang digunakan untuk jalan-jalan bersama keluarga ke mal dan terkadang digunakan untuk kulakan ke toko grosir, sore tadi terseok-seok mendaki jalan terjal berbatu-batu. Muatannya penuh berisi beras dan peralatan pertukangan munjung, ditambah dengan enam orang penumpangnya termasuk sopir, Ini gara-gara mobil bak terbuka yang tadi membantu mengangkut alat pertukangan tidak berani ikut mendaki perbukitan.

***

Beberapa hari sebelumnya, dusun Nglepen ini hanya bisa dicapai dengan sepeda motor karena jalan utamanya terhalang longsoran. Bahkan sebelum itu dusun ini nyaris terisolir beberapa hari sejak gempa terjadi karena lokasinya memang tidak mudah dicapai. Kini para pejabat pemerintah setempat berduyun-duyun mengunjungi dusun ini silih berganti setiap hari. Apa gerangan yang menarik dari dusun ini?

Dusun yang hanya dihuni oleh sekitar 60 jiwa ini semua rumahnya roboh dan rusak berat. Tapi tunggu dulu, sepertinya ada beberapa rumah yang hilang ditelan bumi….. Ini peristiwa yang sulit dipercaya kalau bukan karena melihatnya sendiri. Ada sebentang tanahnya yang merekah sepanjang lebih 100 meter, dan mengakibatkan areal seluas sekitar 3 hektar bergeser ke arah barat sejauh 15 – 20 meter. Pergeseran sejauh itu tentu menyebabkan adanya rekahan yang sangat lebar sehingga seolah-olah apa saja yang tepat berada di atasnya seperti ambles bumi, ditarik Sang Ontorejo dari perut bumi…..

Masih tampak jelas garis-garis rekahan di seluruh kawasan yang bergeser ini. Warga yang tinggal di situ pun semula tidak percaya. Omah sak lemah-lemahe (rumah setanah-tanahnya) telah pindah dari lokasinya semula. Tapi faktanya, ada sebuah rumah yang kini bergeser ke barat sejauh 20 meter meninggalkan dapurnya yang masih berada di sisi timur rekahan. Demikian pula sebuah kandang sapi ditinggal rumah induknya yang bergeser ke barat. Pohon-pohon pisang dan kelapa menjadi seolah-olah tumbuh di dasar cerukan karena tanahnya amblas ke dalam rekahan sedalam sepuluh meteran. Beberapa rumah yang tepat berada di rekahan pun hancur berkeping-keping terbawa dasar tanahnya yang amblas. Sungguh beruntung peristiwa ini tidak memakan korban jiwa. Hanya longsornya beberapa bagian jalan desa sempat menyebabkan dusun ini terisolir dari bantuan hingga beberapa hari pasca gempa.

Barangkali kawasan ini tepat berada di salah satu bidang percabangan sesar Opak yang aktif. Hampir semua kawasan di sisi barat jalur rekahan ini rusak berat. Sementara kawasan yang berada di lokasi lebih tinggi di sisi timur rekahan nyaris tidak mengalami kerusakan berarti. Begitulah fenomena alam gempa dan peristiwa geologis, kalau harus memilih “korban”-nya. Peristiwa alam yang tidak dapat diduga dan tidak dapat diramalkan, tapi pasti ada yang bisa “dibaca”.

Warga dusun Nglepen merasa senang ketika ada yang mengirim peralatan pertukangan guna membantu pekerjaan mereka membenahi sisa-sisa reruntuhan rumahnya yang barangkali masih ada benda-benda yang dapat dimanfaatkan. Sebagian warganya kini minta direlokasi ke tempat lain.

Mestinya mereka yang paham ilmu geologi yang berduyun-duyun ke sana, mumpung rekahannya masih perawan dan bau tanah, dan belum tergerus erosi air hujan. Jangan-jangan ada bencana lain sedang menanti, ketika hujan deras mengguyur. Bukan para punggawa pemerintah yang hanya piya-piye terkagum-kagum lalu foto-foto, setelah itu pulang tidak tahu apa yang mesti dilakukan selain menulis laporan standar dan bercerita kepada tetangga-tetangganya…..

Umbulharjo,Yogyakarta – 17 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (16)

18 Desember 2007

Kemarin saya menerima lagi titipan uang dari teman yang minta disalurkan sebagai bantuan kepada korban gempa. Selain itu, kebetulan masih ada sedikit sisa dana transferan dari Texas dan saweran dari Jakarta. Akhirnya saya gabungkan semuanya lalu saya belikan beras, tikar dan alat pertukangan. Salah satu titipan itu datang dari seorang teman yang bekerja sebagai pegawai negeri di Jogja dan rumahnya rusak karena gempa. Tentu saja ketika akan menyalurkannya saya jadi rada bingun (tidak diakhiri “g”).

Lha, kalau ada seorang pegawai negeri yang rumahnya rusak karena gempa kok nitip uang untuk disalurkan kepada korban gempa, njuk harus saya berikan kepada korban gempa yang seperti apa lagi? Untung, untung, untung, untung….., saya sudah menyalurkan dana pribadi untuk korban gempa. Seandainya belum? Wah, jannnn…, isin tenan aku (malu sekali saya).

Saya mencoba membayangkan (mudah-mudahan orang lain juga bisa membayangkan seperti saya)….. Seandainya kemarin itu saya belum “sempat” menyisihkan sekedar bantuan untuk korban gempa, apa peristiwa ini bukan sebuah pukulan telak ke ulu hati….. Kalau di Jerman, ini pasti sudah menjadi tendangan penalti yang merobek jantung pertahanan akibat sliding tackle di depan gawang…..

Jelas, “gengsi” saya akan terprovokasi atau setidak-tidaknya terusiklah. Lha, wong yang jelas-jelas menjadi korban gempa saja masih bisa membantu korban gempa lainnya. Lha saya yang selamat wal-afiat masak tidak bisa! Begitu bayangan “gengsi” saya…..

Khayalan saya selanjutnya….(saya rada terampil kalau urusan yal-khayyal), secepat kilat saya akan merogoh saku, mengeluarkan uang, lalu mengirimkan bantuan, entah melalui lembaga mana saja. Demi “gengsi”, saya merasa perlu untuk tergopoh-gopoh segera mengirimkan bantuan, sekadarnya….(maksudnya, sekadar 5 gram emas 22 karat atau 24 karat…). Perkara bantuan saya itu nantinya di langit tingkat tujuh akan digolongkan sebagai bantuan demi “gengsi”, biarlah itu menjadi bisnis saya dengan Sang Maha Pemberi Rejeki.

***

Siang tadi saya meluncur ke jalan arah Imogiri menaiki seekor Kijang sambil nggotong beras, tikar dan alat pertukangan. Tiba di sekitar kilometer 12 berbelok masuk ke timur menuju perkampungan dusun Blawong, Desa Trimulyo, kecamatan Jetis, Bantul. Lokasinya berada di tepian sungai Opak. Sebenarnya tidak terlalu jauh dari jalan raya. Namun di perkampungan padat ini ternyata bantuan beras dari pemerintah tersendat-sendat. Bantuan dari luar pun rada sulit mencapainya, paling-paling berhenti di posko yang berada di dekat jalan raya. Maklum, jalan menuju lokasi ini rada suk-suk-an….. (berdesak-desakan) dengan timbunan puing reruntuhan.

Jalan kampung yang biasanya cukup lebar, kini menjadi sempit pas selebar kendaraan karena di kiri-kanannya penuh dengan timbunan reruntuhan. Dengan kata lain, nyaris semua rumah yang dulunya berdempet-dempetan kini roboh-boh, sehingga puing reruntuhannya ya ditimbun begitu saja di tepian jalan kampung.

Di salah satu sudut jalan saya baca sebuah tulisan bercat hijau, yang bunyinya bernada getir : “Kami bukan tontonan!”. Rupanya sejak terjadi gempa, banyak orang keluar-masuk kampung hanya untuk melihat saja, bukannya memberi bantuan. Seandainya siang tadi saya tidak membawa bantuan, sungkan rasanya kalau harus berkendaran perlahan menyusup di sela-sela timbunan puing reruntuhan di sepanjang jalan kampung. Belum lagi cuaca panas dan berdebu. Ada rasa tidak tega menyaksikan rumah-rumah yang rata dengan tanah sementara penghuninya tidur di “tenda-tendaan” atau barak ala kadarnya. Entah sampai kapan.

Dari dusun Blawong saya melanjutkan perjalanan pendistribusian bantuan ke arah selatan lagi. Kira-kira di kilometer 14 jalan raya Imogiri Timur, lalu berbelok lagi ke arah timur, masuk ke dusun Manggung, kelurahan Wukirsari, kecamatan Imogiri, Bantul. Kondisi umum para korban gempa di daerah ini juga tidak jauh beda dengan di dusun Blawong, dan dusun-dusun lain di sekitarnya yang memang tergolong kawasan parah terkena gempa. Hanya karena lokasinya agak ke dalam dari jalan raya, maka bantuan-bantuan dari luar agak sulit mencapai lokasi-lokasi yang seperti ini.

Untuk masuk ke jalan kampung pun agak sulit, wong penuh dengan timbunan reruntuhan di kiri-kanan jalan kampungnya. Kalau bukan karena sudah tahu sasaran lokasi yang hendak dituju, atau ada petunjuk jalan yang menemani, sepertinya sulit mengharapkan dermawan pemberi bantuan mau masuk ke sana. Maka wajarlah, meski sudah memasuki minggu keempat pasca gempa, masih ada korban gempa di lokasi yang seperti ini yang mengeluh masih kekurangan bantuan logistik.

Namun pada umumnya para korban gempa mulai membutuhkan peralatan pertukangan, karena mereka sudah mulai berbenah memberesi puing-puing reruntuhan rumah masing-masing. Bagian-bagian rumah yang masih bagus diambil dan dikumpulkan, untuk kemudian dimanfaatkan untuk membangun “rumah baru” seadanya. Maksudnya tentu bedeng-bedeng yang lebih pantas dan aman untuk berlindung dari hujan, panas dan angin malam. Daripada terus-menerus tinggal di ‘tenda-tendaan”, yang kalau siang kepanasan dan kalau malam kedinginan. Pendek kata, enggak pernah ada enaknya…..

Paling tidak, agar mereka memiliki rumah tinggal yang lebih layak dan representatif sambil menunggu bantuan pemerintah (kalau pemerintahnya tidak ngapusi…), atau sambil menghimpun kekuatan sendiri baik secara finansial maupun moral untuk membangun kembali rumahnya. Barangkali untuk jangka waktu enam bulan sampai setahun ke depan, atau malah selamanya.

Seorang teman di Missouri menanyakan kira-kira bantuan apa yang paling dibutuhkan oleh korban gempa pada saat ini. Saya menyarankan, kalau dananya cukup banyak, maka membangunkan beberapa rumah sederhana adalah yang paling dibutuhkan. Tapi kalau dananya tidak mencukupi, memberi sarana untuk mereka membangun sendiri “rumah baru”-nya akan sangat mereka harapkan. Seperti misalnya peralatan pertukangan, atau material bangunan seperti seng, tripleks, gedeg (dinding anyaman bambu), semen, dsb. Sedangkan untuk material seperti batu bata, genteng dan kayu, umumnya mereka masih bisa memanfaatkannya dari sisa reruntuhan.

Alternatif lain, membangunkan prasarana umum seperti fasilitas air bersih atau kamar mandi umum, rehabilitasi tempat ibadah atau sarana sekolah swasta (kalau sekolah negeri biasanya sudah dianggarkan oleh pemerintah). Jangan lupa, bulan depan sudah masuk musim sekolah, tahun ajaran baru, maka bantuan buku dan peralatan sekolah juga akan sangat mereka harapkan. Permintaan ini pernah disampaikan kepada saya sewaktu saya mengirim bantuan logistik ke desa Karang Tengah, Imogiri, dan desa Terong, Dlingo, seminggu yang lalu. Saya pun hanya bisa manggut-manggut membenarkan kesulitannya….. Sebenarnya saya juga tahu ini perilaku bodoh. Wong sudah jelas-jelas sulit, kok dibenarkan….. Lha, mau bilang iya, takut tidak bisa memenuhinya. Mau bilang Insya Allah, takut kalau saya tidak mampu mengusahakannya.

***

Memasuki minggu keempat pasca gempa, umumnya para pemberi bantuan dan relawan mulai merubah orientasi bentuk bantuannya ke arah rekonstruksi dan rehabilitasi. Periode tanggap-darurat dipandang sudah cukup, meski di sana-sini masih ada keluhan perlu beras dan logistik.

Semoga masih banyak orang-orang yang terusik “gengsi”-nya untuk membantu proses rekonstruksi dan rehabilitasi yang pasti akan memakan waktu yang sangat panjang, moral maupun spiritual, fisik maupun psikis, uang maupun jasa. Tidak ada kata terlambat. Tidak perduli apakah bantuan itu karena “gengsi” atau karena keikhlasan. Semua akan sangat bermanfaat membantu para korban gempa bangkit dari keterpurukannya. Bangkit menyongong hari esok…..

Umbulharjo,  Yogyakarta – 20 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (17 – Wis, Ah!)

18 Desember 2007

Beberapa hari setelah gempa memurungkan Jogja, ada seorang korban gempa kehausan di jalan Prambanan – Piyungan. Kebetulan “Madurejo Swalayan” sudah buka setengah pintu, maka orang itu lalu masuk toko dan membeli air mineral. Saya sebut korban gempa karena menurut cerita tetangga saya di Madurejo, rumah orang itu yang di Prambanan rusak berat.

Hanya saja orang itu adalah korban gempa yang tidak membutuhkan bantuan, malah tergolong korban gempa yang sewajarnya kalau ikut membantu korban gempa lainnya. Meskipun punya rumah di Prambanan, tapi orang itu tinggal di Jakarta. Bantuan jatah uang lauk pauk yang Rp 90.000,- per jiwa per bulan atau tujangan pakaian dan alat rumah tangga yang Rp 100.000,- nilainya, barangkali tidak berarti apa-apa. Malah masih bisa keliling Jogja naik mobil. Boro-boro tidur di tenda, meski rumahnya tidak bisa ditinggali, tidur di hotel pun bukan masalah.

Rupanya kasir “Madurejo Swalayan” mengenali wajah orang itu. Cuma tidak berani ngajak omong. Takut, katanya. Orang itu bernama Hidayat Nurwachid.

***

Beberapa hari yang lalu datang seorang nenek tua (soalnya ada juga nenek yang muda) ke rumah saya di Umbulharjo. Nenek itu minta agar saya membeli sisa dua kilo emping melinjo dari lima kilo yang sejak pagi harinya dibawanya berkeliling kampung. Dua kilo emping melinjo itu diwadahi dalam dua tas kresek kumal warna putih dan hitam. Nenek tua yang katanya tinggal di sebelah utara pasar Pleret itu bercerita bahwa rumahnya roboh, suaminya kakinya patah dan kini masih dirawat di rumah sakit, dan seorang anaknya meninggal tertimpa reruntuhan.

Dari sorot matanya saya menangkap ketulusan ceritanya (entahlah kalau tangkapan saya salah, tapi saya menghindar untuk tidak berprasangka buruk…..). Ketika saya tanya darimana emping melinjonya itu, dia menjawab emping itu hasil bikinannya sendiri sebelum ada gempa. Daerah Plered dan sekitarnya memang banyak tanaman melinjo dan sebagian masyarakatnya ada yang menekuni kerajinan membuat emping melinjo. Katanya, itulah sisa hartanya yang masih bisa diselamatkan. Entah bagaimana emping nenek itu bisa menyelamatkan diri, saya merasa tidak perlu terlalu jauh menanyakannya.

Uang yang diperoleh dari hasil menjual melinjo itu akan digunakan untuk tambahan membeli gedeg (dinding anyaman bambu) agar dia bisa membangun tempat tinggal sementara seadanya, di lokasi bekas reruntuhan rumahnya. Nenek itu juga meminta kalau-kalau di rumah saya punya seprei bekas yang boleh diminta.

Itulah salah satu potret korban gempa yang akan banyak dijumpai di kawasan Jogja dan sekitarnya saat sekarang ini. Potret tentang orang-orang yang sangat membutuhkan uluran tangan orang lain. Hanya sebuah potret, dari ribuan potret yang mungkin ada. Sebanyak apapun kita membantunya, rasanya tidak akan mampu membantu mereka keluar dari keterpurukannya. Tapi sebaliknya, sesedikit apapun kita ikhlas membantunya, rasanya akan sangat berarti untuk sedikit saja meringankan beban derita mereka. Kalaupun tidak mampu membantu banyak untuk banyak orang, membantu sedikit untuk satu orang kiranya sudah cukup menjadikannya sebagai sebuah kemuliaan.

***

Hingga menjelang sebulan pasca gempa yang terjadi pada Sabtu, 27 Mei 2006, jam 05:54 WIB dan telah memporak-porandakan wilayah Jogja dan sekitarnya, kini gaungnya memang telah mulai memudar. Masyarakat korban gempa pun mulai sibuk dengan persoalannya masing-masing. Namun kehidupan terus berlanjut. Dengan atau tanpa bantuan relawan. Dengan atau tanpa kepedulian masyarakat lain. Tapi mestinya tetap dengan pendampingan pihak pemerintah dan timnya untuk menyertai mereka yang kini terpuruk, mereka yang nyaris kehilangan masa depan, mereka yang tidak tahu mau apa dan bagaimana setelah ini.

Gempa susulan masih sesekali terjadi, kadang siang atau malam. Sesekali dengan intensitas cukup besar, sehingga mengagetkan semua orang. Hanya trauma kepanikan sudah lebih terkondisikan, sehingga tidak serta-merta orang-orang berhamburan lari. Namun tetap saja deg-degan saat gempa susulan terjadi. Retak-retak pada bangunan rumah saya sepertinya semakin membesar. Akibat gempa yang lalu saja terbentuk retak-retak seukuran rambut menghiasi bangunan rumah saya, kini retak-retak itu sepertinya sudah seukuran tujuh rambut.

Kehidupan masyarakat telah berangsur normal. Maksudnya, yang selamat ya tetap hidup dengan keselamatannya, yang menderita ya tetap hidup dengan penderitaannya. Hanya ahlak dan pekerti manusia akan mengisi celah di antara keduanya. Peluang untuk beramal baik atau tidak baik terbuka lebar menghubungkan di antara keduanya.

Tidak perlu ada kambing hitam, karena sudah jelas tidak ada yang memprovokasi terjadinya gempa. Tidak juga ada pihak yang dapat disalahkan. Berbeda halnya dengan bencana banjir atau tanah longsor, dimana antara pihak pemerintah, LSM, pengusaha dan masyarakat biasanya akan cenderung saling ding-tudding…..

Gempa bumi adalah “hak prerogatif” Sang Empunya Bumi, untuk menyusun jadwal lempeng tektonik mana yang mau ditumbukkan dengan keras, lempeng mana yang mau diogrok-ogrok duluan. Juga untuk memilih lokasi, memilih waktu dan menyusun daftar korbannya. Juga memilih siapa yang sedang dihukum dan siapa yang sedang diuji. Tinggal manusia sendiri yang kudu jeli introspeksi dalam membaca ayat-ayat-Nya. Ya, diri kita sendiri. Bukan ustadz atau pendeta, bukan penceramah agama, bukan atasan, bukan beking atau centeng, bukan juga rojo brono (harta karun) yang menggunung. Terserah kita mau “belajar” pethenthengan atau ditinggal tidur saja, gempa tetap terjadi sesuai “agenda”-Nya.

***

Setelah semua mata tertuju ke selatan Jogja, terutama ke wilayah kabupaten mBantul dan sekitarnya, kini semua mata beralih pandang ke utara Jogja. Disana ada gunung Merapi yang sedang batuk-batuk enggak enak badan. Wedhus gembel sudah mengembik panjang, lava pijar sudah tumpah dleweran, korban pun sudah jatuh. Ancaman banjir lahar bak sedang mengincar mangsanya.

Mudah-mudahan tidak lagi ada ujian lebih berat harus ditanggung oleh masyarakat Jogja. En toch, Sang Maha Pemilik Merapi berniat menambah ujian bagi masyarakat Jogja, agar naik kelas menjadi lebih “cerdas” memahami ayat-ayat-Nya, kita semua berusaha dan berdoa agar semuanya masih “manageable” untuk tidak menimbulkan korban jiwa.

Kini sebaiknya segenap elemen masyarakat bahu-membahu mengantisipasi “aba-aba” Yang Maha Kuasa. Pemerintah tinggal menjadi fasilitator yang baik. Orang-orang pinter itu di koran dan televisi suka bercerita tentang kearifan lokal. Tapi sungguh saya sendiri sulit untuk memahami mangsudnya. Bagi saya yang penting masyarakat perlu diberi pemahaman lebih intensif tentang potensi bencana dan bagaimana menghindarinya. Masyarakat awam perlu diajari ilmu tentang tingkah laku atau budi pekerti yang mudah dipahami, ya tingkah laku bumi, ya tingkah laku penghuninya. Bukan menunggu wangsit yang akan dituturkan mBah Marijan. Bukan mempersiapkan ubo rampe (pernik-pernik) yang tidak berujung-pangkal. Bukan juga menyiapkan data-data untuk mencari kambing hitam. Seperti saya pun tidak pernah menginginkan untuk membuat dongeng tentang “Di Kotaku Ada Gunung mBledos”.

***

Gemuruh gempa di kotaku Yogyakarta yang terjadi pada 27 Mei yang lalu memang hanya “terselenggara” selama 57 detik. Pemenang dari “injury time” seketika dapat diketahui hasilnya. Namun gemuruh masalah yang menyertainya bisa tak berbilang batasnya. Hanya waktulah kelak yang akan menentukan siapa pemenangnya. Proses rekonstruksi dan rehabilitasi akan memakan waktu sangat panjang. Masih diperlukan banyak dukungan dan kepedulian dari siapa saja dan dari bidang keilmuan apa saja.

Berbagai spanduk kini banyak menghiasi di setiap penjuru kota (ada sponsornya, tentu saja). Berisi kata-kata yang membangkitkan rasa percaya diri, menyejukkan hati dan memompa semangat. Pak Sultan Ngarso Dalem bersama segenap punggawa dan masyarakat pun telah berikrar bersama di desa Wonokromo, Pleret, Bantul : “Bangkitlah Jogjaku!”.

Bolah-boleh saja kalau mau alon-alon waton kelakon (pelan tapi terselesaikan). Juga boleh kalau mau milih mangan ora mangan kumpul (makan atau tidak makan asal kumpul), atau kumpul ora kumpul mangan (kumpul atau tidak kumpul asal makan). Sumonggo kerso….., silakan saja….. Semua itu ternyata tidak ada bedanya kalau sudah terpojok oleh ujian yang maha dahsyat. Terbukti bahwa semua tak berkutik melawan kehendak-Nya saat terjadi gempa.

Maka ketika bantuan terlambat, semua orang toh akhirnya meminta sumbangan di sepanjang jalan, atau menghadang truk pembawa bantuan, dan ada juga yang nekat menjarah. Tak jelas lagi siapa yang ora mangan (tidak makan) dan siapa yang ora kumpul (tidak kumpul). Akhirnya semua lupa dan berubah menjadi sing penting mangan (yang penting makan). Tidak perlu dicari siapa yang salah, karena memang begitulah sistem kosmologi yang berlaku bagi mahluk jenis apapun yang sedang terpuruk dan terpojok. Dan itu bisa terjadi menimpa siapa saja. Tidak hanya manusia, melainkan juga kucing, kambing, macan, dhemit, tuyul and his gang…..

Mari, jangan terus terpuruk meratapi nasib. Siapapun harus bisa belajar dari tragedi ini. Belajar rame-rame menurut ngelmu dan kompetensinya. Belajar menjadi korban bencana yang baik, belajar menjadi korban selamat yang baik, belajar menjadi pemberi bantuan yang baik, belajar menjadi pengelola bantuan yang baik, belajar menjadi pemerintah (tukang memberi perintah) yang baik, belajar menjadi pengamat yang baik, dan banyak pelajaran lainnya…..  Tuhan tidak akan pernah membebani mahluk ciptaan-Nya melainkan sebatas kemampuan mahluk itu untuk mengatasinya. Wong Tuhan yang bikin, pasti Beliau juga tahu seberapa kekuatan benda bikinan-Nya.<

“Ayo bangkit, bangkitlah Jogjaku…..!”. Maksudnya, bangkit dari keterpurukan akibat gempa dan bangkit siap-siap menyalami Merapi…..

(Wis, ah!. Arep bal-balan karo sembur-semburan lumpur. Nuwun…..).

Umbulharjo, Yogyakarta – 23 Juni 2006
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.