Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Jogja’

”Salam Sepur…!”, Sebuah Dialog Bangun Tidur

16 Januari 2010

(Judul tulisan ini tidak salah tulis). Seorang teman yang berniat buka warung mi di Jogja, sengaja datang dari Jakarta ke Jogja untuk melakukan survey kecil-kecilan. Sesuai namanya, kecil-kecilan, pasti bebas dari tetek-bengek teori, rumusan, pedoman atau formalitas lain yang semacam ini. Pokoknya datang ke Jogja, mampir ke beberapa warung bakmi yang dijumpai, memesan untuk mencicipi rasanya dan mencatat harganya, melakukan interview sederhana dan mempelajari lingkungannya. Begitu saja.

Setelah kembali ke Jakarta, tiba-tiba suatu pagi teman saya itu membangunkan saya melalui SMS yang dikirimkannya dan menceritakan tentang kesimpulan hasil survey-nya. Kesimpulannya mencengangkan saya : Dari tujuh warung mi yang ditelisik, 50% memakai “optional method” agar dagangannya laris. Saya mengernyitkan kening : “Metode opo maneh iki (metode apa lagi ini)…?” (Ini pasti hitungan kasar, sebab 50% dari tujuh berarti ada tiga setengah warung, tentu susah dibayangkan)

Hanya perlu beberapa detik untuk mengernyit, lalu saya pun tersenyum sendiri (lebih baik bangun tidur tersenyum sendiri ketimbang bangun tidur langsung uring-uringan). Biar saya pertegas, rupanya yang dimaksud “optional method” oleh teman saya itu adalah metode “tulis reg spasi sajen, kembang atau dukun”, kata lain untuk aplikasi software perklenikan.

Harap dimaklumi, ini kesimpulan coro ndeso (ala kampung) yang tidak perlu dipertanyakan keabsahannya karena memang sampai kapanpun tidak akan pernah dapat dibuktikan, selain dipercaya saja bagi yang mempercayainya. Tentu teman saya itu punya alasan sendiri kenapa sampai berkesimpulan demikian, dan bukan sekedar katanya atau kelihatannya. Dan teman saya yang pada dasarnya tidak percaya dan tidak suka dengan aplikasi software perklenikan semacam ini, menghibur diri untuk tetap berpikir rasional. Lalu mengakhiri SMS-nya dengan kata-kata : “He..he..Salam Super!”. Tanda bahwa dia menanggapinya sebagai bahan guyonan tapi semangat Mario Teguh.

Sambil kucek-kucek mata, saya balas SMS-nya layaknya seorang ‘tukang kompor’ (orang yang suka ngompor-ngomporin) sekelas Mario Teguh agak di bawahnya banyak : “Selalu ada ‘langkah tersembunyi’ yang dapat dipertanggungjawabkan yang dapat kita lakukan. Dan tugas pebisnis sejati adalah menemukan dan mengimplementasikan hal itu”. Saya pun tidak mau kalah mengakhiri balasan SMS saya dengan mengucapkan : “Salam Sepur….! (lurus, always on the right track, relatif lebih aman, murah dan cepat sampai tujuan….)”. Lalu teman saya itu menimpali : “Asal sepurnya tidak nyerempet irrational thing”.

Moral ceritanya adalah : Jangan karena kita tidak suka mengunakan software perklenikan lalu menyurutkan semangat untuk memulai usaha membuka warung, sebab selalu ada ‘langkah tersembunyi’ yang dapat dilakukan. Temukan itu, dan implementasikan. Lalu perhatikan apa yang terjadi.

Kalau yang terjadi ternyata warungnya sepi dan kalah bersaing? Ya, berarti ‘langkah tersembunyi’-nya belum ditemukan… (tanyakan kepada ahlinya dan jangan bertanya kepada ‘tukang kompor’ yang belum punya pengalaman nyata dalam bisnis perwarungan). Hidup entrepreneur….!

Yogyakarta, 16 Januari 2010

Yusuf Iskandar

Soto Pak Marto Jogja

22 November 2009

(Ketika) nyopiri ‘boss’ ke toko, tiba-tiba ‘boss’ ngajak mampir makan soto berdua di warung soto Pak Marto. Yo jelas mau, oedan opo… Apalagi ‘boss’ saya ini tergolong mahluk rada coantik… Bagi sopir seperti saya ini kan ‘urip iku mung nunut nyoto‘… Jika kemudian ada peluang berimprovisasi, maka lakukanlah…

Yogyakarta, 21 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Berharap Gratisan, Bersiap Tidak Punya Pilihan

14 Mei 2008

Ibu mertua saya adalah pemegang kartu Askes. Kalau mau memeriksakan kesehatannya, beliau akan pergi ke RSU dengan menggunakan segala fasilitas pelayanan gratis yang diberikan oleh kartu sakti bernama Askes itu. Bagi beliau ada beda yang nyata antara berobat gratis di RSU dan berobat membayar di RS swasta atau dokter praktek. Meskipun untuk memperoleh pelayanan gratis itu ada konsekuensi yang harus dijalani menyangkut kualitas pelayanan, menunggu antrian yang seringkali lama, atau jenis obat murah tapi bukan murahan.

Bukan nilai uangnya yang terkadang berwarna abu-abu, melainkan nilai kebanggaannya yang jelas beda antara hitam dan putih. Perbedaan yang tidak bisa dibandingkan dengan kata-kata sombong anak atau menantunya yang katanya lebih baik pergi ke dokter ahli swasta berapapun biayanya. Kebanggaan tak terukur bagi seorang janda tua pemegang kartu Askes yang tinggal tidak serumah dengan anak dan menantunya.

***

Ketika menemani mertua ke RSUD Wirosaban Jogja, saya ikut duduk beramai-ramai di ruang tunggu berbaur dengan banyak pasien lainnya. Saya hitung ada lebih 65 orang pasien yang sedang menunggu di sana, hampir semuanya sepuh (sempat-sempatnya mengitung…..). Tentu mereka juga pemegang kartu Askes atau Askeskin bagi masyarakat miskin. Ada dua golongan pasien, masing-masing menunggu di depan poliklinik penyakit dalam dan syaraf yang letaknya bersebelahan. Saya masih harus bersabar sambil klisikan menjelang munculnya rasa bosan.

Beberapa saat kemudian saya lihat pasien yang tadi sudah ditimbali (dipanggil) suster untuk masuk ke ruang periksa di kedua poliklinik, kok pada keluar lagi? Rupanya mereka yang keluar dari poliklinik syaraf diberitahu oleh susternya untuk menunggu di luar dulu karena dokternya mau jagong (kondangan). Dan mereka yang keluar dari poliklinik penyakit dalam diberitahu, juga untuk menunggu di luar dulu karena dokternya ada rapat. Hebatnya para orang-orang tua ini, mereka menceritakan semua itu kepada sesama pasien penunggu dengan ringan, muka cerah, tanpa menampakkan muka kecewa (mungkin ada sedikitlah…). Sedang saya yang mendengarnya saja kesal rasanya. Pasien-pasien tua itu disuruh menunggu karena dokternya mau kondangan dan ada rapat….?

Saya tidak ingin membahas tentang benar atau salah, sebaiknya atau tidak sebaiknya. Saya tidak punya ilmunya tentang etika semacam ini. Saya lebih tertarik mengenangnya sebagai peristiwa pelayanan bisnis. Saya mencoba berandai-andai…

Andai-andai yang pertama, kalau dokter itu adalah penjual singkong goreng, pasti akan ditinggal pergi pelanggannya yang memilih membeli gorengan di warung lain meski mungkin harus mengesampingkan faktor cita rasa. Andai-andai yang kedua, kalau pasien itu bukan pemegang kartu Askes atau Askeskin alias pasien mampu, pasti memilih untuk berobat ke dokter lain meski mungkin harus membayar lebih mahal.

***

Lebih 75 menit berlalu, para pasien tua masih dengan tekun menunggu sambil bercengkerama dengan sesama penunggu lainnya. Mereka tampak enjoy aja….. Heran, saya…..! Sudah saya tinggal sholat dhuhur di musholla, belum juga para dokter itu kembali (saya pikir kalau ditinggal sholat, dan sholatnya agak dipercepat…… lalu kondangan dan rapatnya juga akan cepat selesai, ternyata tidak ada hubungannya….. ugh…).

Untuk mengusir kebosanan, saya mengajak bercakap-cakap (kata ini sekarang jarang digunakan) orang tua laki-laki berusia 68 tahun yang duduk di sebelah saya. Beliau bercerita tentang stroke yang dideritanya sejak lima tahun terakhir. Setiap bulan selalu periksa ke RSUD Wirosaban Jogja, ya karena gratis itu. Darimana saya tahu usianya 68 tahun? Sederhana saja. Saya hanya tanya tentang pekerjaan terakhirnya, maka beliau dengan semangat empat lima bercerita pengalamannya sebagai PNS yang pensiun pada tahun 1995. Maka hitungannya menjadi 55 + (2008-1995) = 68.

Seorang ibu agak tua yang duduk agak di sebelah kiri saya kemudian juga saya ajak ngobrol. Sebagai penderita kolesterol, katanya (padahal kolesterol itu baik untuk tubuh, tapi kok malah menderita……?), beliau setiap bulan juga rajin periksa di tempat yang sama. Juga untuk alasan karena gratis.

Lho yang menghuuerankan saya, meski bapak tua itu kalau jalan sudah thunuk-thunuk dan ibu agak tua itu juga kelihatan kurang lincah, wajah-wajah mereka tetap cerah sumringah. Tidak sedikitpun menampakkan roman muka kesal atau manyun….., padahal pelayanan kesehatan yang mereka harapkan melalui kartu Askes atau Askeskin itu diberi bonus disuruh menunggu dokternya kondangan dan rapat entah sampai jam berapa atau berapa jam. Tampak benar, legowo sekali mereka menerima keadaan yang tanpa punya pilihan.

***

Sial benar orang yang mau gratisan, mereka tidak akan pernah punya pilihan. Barangkali aturannya memang berbunyi kalau mau berharap gratisan ya kudu bersiap tidak punya pilihan. Para pasien tua itu harus nrimo, karena satu-satunya pilihan bagi mereka adalah sabar menanti hingga para dokter itu kembali ke ruang prakteknya.

Kalau kemudian ada orang yang mampu memberi fasilitas gratisan dan sekaligus juga memberi pilihan kepada orang lain, sungguh orang itu mulia dan pantas didoakan agar panjang umur dan banyak rejeki. Sebaliknya kalau ada orang yang suka meminta fasilitas gratisan tapi ngotot menuntut diberi pilihan, sungguh orang yang tidak tahu diri. Cilakaknya, kelompok yang kedua ini sekarang lagi musim di negeri ini (mengalahkan musim durian, rambutan atau penghujan yang hanya berlangsung beberapa bulan saja).

Yogyakarta, 14 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Setengah Malam Bersama Pak Yusef Hilmi : Menggali Ide Bisnis Dan Menebar Rahmatnya

31 Maret 2008

Pengantar :

Berikut ini adalah catatan pendek dari forum ngobrol-ngobrol bersama Pak Yusef Hilmi, seorang trainer Mindset Motivator, yang telah berkunjung ke Jogja pada Kamis, 27 Maret 2008 yll. Pak Yusef telah berbagi banyak hal yang membukakan jendela wawasan warga TDA Joglo. Hadir : Mas Joko Mukti, Mas Fadli, Mas Seta, Mas Awan, Mas Ikhsan, Mas Hatta, Mas Trimuriana, Mas Ari, Mbak Evie, Mas Bams Triwoko (tuan rumah yang tak kenal lelah) dan saya sendiri.

Yusef_Hilmi

Dari kiri ke kanan : Awan, Hatta, Evie, Yusef Hilmi, Bams, Yusuf, Joko, Fadli, Seta (Foto : U_me di  http://fototdajoglo.blogspot.com)

——-

Bila niat untuk memulai sebuah usaha atau bisnis sudah muncul (niat untuk menjadi TDA), tetapi kebingungan hendak memulai dari mana atau mau menggarap bidang apa, maka salah satu langkah yang bisa ditempuh adalah menemukan apa yang sebenarnya menjadi kesukaan kita. Kesukaan yang benar-benar kita sukai (sebab ada kesukaan yang sebenarnya tidak atau belum benar-benar kita sukai atau masih “terkontaminasi” dengan kesukaan orang lain yang sepertinya kita juga menyukainya). Dalam istilah sekarang, kita sering menemui istilah : bisnis bermula dari hobi atau hobi yang dikembangkan menjadi bisnis.

Bila sesuatu itu benar-benar kita sukai dan telah menyatu kedalam ruh atau jiwa dalam keseharian kita, maka biasanya kita rela untuk melakukan apa saja demi sesuatu yang kita sukai itu. Seringkali kita rela berkorban waktu, tenaga dan pikiran, bahkan tidak merasa sayang untuk mengeluarkan biaya demi kesukaan kita. Menghasilkan keuntungan atau tidak, acapkali bukan menjadi ukurannya.

Setelah itu, tahap selanjutnya adalah mencari celah dan kemungkinan (lebih tepat disebut peluang) bagaimana mendayagunakan agar kesukaan kita itu bisa menghasilkan uang atau keuntungan. Sekedar mengambil contoh : seorang yang sukanya bicara, kemudian mengembangkan diri sebagai pembicara atau pengajar. Seorang yang hobi menjahit atau menyulam, kemudian mencoba menjual hasil karyanya sendiri atau menghimpun karya orang lain untuk dijualkan. Seorang yang hobi mengutak-atik komputer, lalu menjual jasa reparasi atau membuka kios komputer dan asesorisnya. Dan, masih ada ribuan contoh lainnya.

Demikian salah satu butir yang disampaikan oleh Pak Yusef J. Hilmi, seorang trainer Mindset Motivator dalam salah satu kesempatan ngobrol-ngobrol dengan komunitas TDA (Tangan Di Atas) di Yogyakarta, hari Kamis malam (27 Maret 2008) yang lalu. Setidak-tidaknya, Pak Yusef yang memang hobi bicara, bercerita dan ngobrol ini, bercerita tentang pengalamannya sendiri. Bagaimana beliau yang sebelumnya adalah seorang PNS lalu nekat banting setir hingga akhirnya menjadi seorang trainer dan pembicara yang tergolong sukses. Terbukti hingga saat ini beliau kesulitan mencari waktu kosong, karena jadwal permintaan untuk mengisi berbagai forum pelatihan dan pengembangan terus berdatangan.

Hal kedua yang ingin ditekankan oleh Pak Yusef adalah hendaknya jangan “pelit” untuk berbagi. Meski keahlian atau keterampilan atas apa yang mula-mula menjadi kesukaan kita itu bisa mendatangkan uang, kita tetap perlu membagikan dan memberikan kepada siapa saja yang membutuhkan keahlian atau keterampilan itu (dalam konteks membantu orang lain, yang dalam terminologi agama sering disebut dengan sedekah). Meski terkadang tidak dibayar dan bahkan malah nombok. Hal yang terakhir itu hanya mungkin dilakukan jika keahlian atau keterampilan itu memang berasal dari sesuatu yang memang kita sukai, sesuatu yang telah menjiwa dalam diri kita.

Hanya dengan memberi maka kita boleh berharap akan menerima. Semakin banyak memberi maka semakin kita boleh berharap untuk menerima lebih banyak lagi. Jangan menunggu untuk mempunyai lebih dahulu, baru merencana untuk memberi. Sebab, menjadi sifat manusia yang tidak pernah merasa cukup untuk mempunyai, hingga akhirnya dikhawatirkan malah menjadi tidak pernah memberi apa-apa. Memberi sebagai perwujudan dari upaya menebar rahmat kepada alam sekitar kita, tidak perduli siapapun atau apapun yang ada di sekitar kita itu.

***

Beruntung sekali saya sempat bergabung dengan teman-teman dari komunitas TDA Joglo (Jogja, Solo dan sekitarnya). Sebagai warga baru di komunitas TDA, kesempatan untuk bertemu dan berdiskusi dengan Pak Yusef Hilmi adalah kesempatan yang sangat berharga bagi saya. Sebagai seorang trainer dan pembicara yang sering dipercaya untuk memberi pembekalan kepada jajaran karyawan di berbagai perusahaan, Pak Yusef tentunya menyimpan banyak hal yang pantas untuk didengarkan pengalamannya terutama dalam usaha pengembangan diri maupun bisnis yang saya dan rekan-rekan tekuni.

Maka kepada Pak Yusef, saya dan teman-teman di TDA Joglo pun ngangsu kaweruh (berguru) tentang banyak hal. Tentang motivasi diri, tentang komunikasi bisnis, tentang strategi pemasaran, tentang filosofi hidup, dan segala macam seluk-beluk dan celah-celahnya. Tidak cukup rasanya membicarakan semua itu hanya dalam waktu setengah malam atau beberapa jam saja. Kalau tidak karena Pak Yusef esok harus terbang ke Balikpapan pagi-pagi, rasanya malam itu kami akan wayangan (begadang).

Pokok bahasan lain yang sepertinya melecut semangat kami yang hadir, antara lain adalah tentang keberadaan kami masing-masing di dalam komunitas TDA. Komunitas yang di antara warganya memilik visi usaha, bisnis atau jiwa enterpreneurship yang sama. Tidak perduli seberapa besar atau kecil skalanya.

Pak Yusef meyakinkan bahwa kami sudah berada di wadah yang tepat (on the right track). Diibaratkan oleh Pak Yusef bahwa kami sesama warga TDA sudah berada pada gelombang atau frekuensi yang sama. Sehingga apapun pokok bahasan yang dibicarakan, akan bertolak dari landasan berpikir dan menuju ke muara yang sama visinya. Lebih mudah mendefinisikan dan lalu mencari solusi atas suatu masalah atau menangkap peluang-peluang, jika masing-masing orang atau individu itu sudah memiliki gelombang pikiran yang sama. Tinggal bagaimana masing-masing warga TDA ini mendayagunakannya untuk mengejar kesuksesan atau menggapai apa yang diimpikannya.

***

Diskusi belum selesai, dan mudah-mudahan tidak akan pernah selesai. Dengan begitu maka kita dan siapa saja menjadi terdorong untuk terus belajar dan belajar. Rencana-rencana lanjutan pun disiapkan. Bulan April ini rekan-rekan di TDA Semarang akan punya hajatan besar. Maka agenda kolaborasi TDA Jogja, Solo, Semarang dan sekitarnya, sedang digagas lebih lanjut.

Ke Semarang Pak Yusef berikutnya akan menuju. Di sana akan digelar Pestipal Angkringan bersama teman-teman dari JRU (Jaringan RumahUSAHA) Semarang, lalu ada TDA GTC Unissula (Goes to Campus Universitas Islam Sultan Agung), dan Pak Yusef pun akan kembali membagi ilmu dan pengalamannya.

Terima kasih Pak Yusef. Kami sangat menghargai waktu dan ketulusan Sampeyan untuk berbagi dan berada di tengah warga TDA Jogja, Solo, Semarang dan sekitarnya. Keluarbiasaan Anda tidak cukup terwakili hanya dengan catatan pedek ini.

Yogyakarta, 31 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Berani Dulu, Benar Kemudian (Bag. 1)

10 Maret 2008

(Catatan dari pertemuan komunitas Wikimu di Jogja)

Pengantar :

Wikimu adalah media citizen journalism dimana siapa saja dapat dan boleh mengirimkan atau memposting tulisan tentang apa saja.

Hari Jum’at, 7 Maret 2008 yang lalu, bertempat di Museum Batik Yogyakarta, Jl. Dr. Sutomo 13A, telah dilangsungkan pertemuan informal bagi Wikimuers (demikian sebutan untuk anggota komunitas Wikimu). Forum ini merupakan forum silaturrahim (istilah gaulnya, kopi darat) bagi segenap Wikimuer yang tinggal di seputaran kota Jogja, yang selama ini hanya saling mengenal melalui tulisan dan komentar-komentarnya di situs Wikimu.

Dari sekitar 80an orang warga Wikimu yang tinggal di seputaran Jogja dan sekitar 140an Wikimuers yang tinggal di kawasan Jateng-DIY, ternyata acara Wikimu Gathering kemarin hanya dihadiri oleh 14 orang Wikimuers. Dari redaktur Wikimu telah diwakili oleh mas Bayu Wardhana dan mbak Melani Laksmono.

Agaknya timing pelaksanaannya rada kurang pas dan terlalu mendadak, sehingga banyak warga Wikimu yang pamit berhalangan tidak bisa hadir. Maka dengan tanpa mengurangi tujuan dari diadakannya agenda gathering ini, beberapa pokok bahasan, saran dan aneka masukan telah diperbincangkan dan didiskusikan dengan serius tapi santai, sehingga banyak hal-hal positif yang dipandang pantas untuk dipertimbangkan oleh redaksi Wikimu untuk ditindaklanjuti.

Sesuai sebutannya, maka acara ini memang dirancang untuk ngobrol-ngobrol santai sambil bertukar pikiran dan berbagi pengalaman tentang media Wikimu dan bagaimana media ini akan melangkah ke depan.

Saya hadir di forum ini sebagai salah seorang warga baru Wikimu yang kebetulan sedang menggeluti dunia kewirausahaan dan hobi tulis-menlis, maka bagi saya forum ini bisa menjadi sarana untuk mencari inspirasi, membangun jejaring, memperbanyak relasi dan saluran “pelampiasan” untuk menebar tulisan.

Masih terkait dengan dunia kewirausahaan, saya telah melobi Pemimpin Redaksi majalah “Wirausaha & Keuangan” agar berkenan membagi gratis majalahnya kepada yang hadir dalam forum Wikimu Gathering (dihaturkan terima kasih kepada Mas Isdiyanto, Pemred majalah WK). Meski bukan majalah edisi terbaru, namun kontribusi ini tentu akan menambah wawasan dan memancing inspirasi bagi pembaca barunya, yaitu warga Wikimu yang hadir.

Di antara sekian topik yang diperbincangkan, salah satunya adalah tentang bagaimana mendorong dan merangsang semangat masyarakat untuk mau dan berani mengemukakan pemikirannya melalui tulisan.

——-

Berani Dulu, Benar Kemudian

Agaknya ungkapan “berani karena benar” tidak berlaku dalam semangat tulis-menulis. Sebagian dari kita setuju bahwa sejak masih sekolah di SD atau SMP kita kurang dirangsang untuk melakukan aktiftas tulis-menulis. Bahkan menulis buku harian atau agenda pribadi pun tidak setiap orang bisa dengan mudah melakukannya.

Ketika masih sekolah dulu, guru bahasa Indonesia yang “ex-officio” sebagai guru mengarang (baca : membuat tulisan) seringkali tanpa disadari malah “menakut-nakuti” muridnya dengan menyodorkan aturan tata bahasa yang ketat, sehingga murid-muridnya menjadi takut untuk menulis. Takut disalahkan tata bahasanya. Takut disalahkan gaya bahasanya. Takut dianggap lucu hasil karya tulisnya. Maka akhirnya, murid-muridnya pun menjadi takut menulis, bahkan sekedar menuliskan ungkapan perasaannya (kecuali surat cinta karena yang tahu hanya aku dan dia saja, betapapun ndeso-nya surat cinta, pasti akan tertulis begitu indahnya……..).

***

Terobosan harus dilakukan. Wikimu telah menjadi fasilitator untuk langkah terobosan itu. Wikimu telah menjadi media yang disediakan kepada siapa saja yang mau dan berani menulis. Menulis tentang apa saja. Tentu ada batasan-batasan dan etika yang normatif dan berlaku umum terkait dengan “apa saja” itu.

Berani dulu, benar kemudian. Itulah ungkapan yang kiranya pas mewakili sebagian pokok bahasan dari apa yang tersirat dalam pertemuan informal dalam forum Wikimu Gathering di Jogja.

Beberapa Wikimuers juga menyampaikan berbagai kendala kenapa jarang atau tidak pernah mengirim tulisan ke Wikimu. Salah satu sebabnya antara lain mereka terkadang merasa gojak-gajek (ragu-ragu) atau takut atau malu atau “lebih baik tidak jadi dikirim saja”.

Saya pikir, sebaiknya lupakan dulu hal-hal yang seringkali menjadi sebab tidak jadi mengirim tulisan itu. Pokoknya, berani menulis dulu. Lalu dikirimkan ke redaksi Wikimu. Baru kemudian dikaji tentang benar, baik, pas, indah atau menariknya. Mungkin hanya apabila tulisan itu berkategori berita atau warta (yang adalah berlandaskan fakta), maka harus bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Selebihnya, berani dulu, benar kemudian. Benar dalam pengertian tentang perbahasaannya, antara lain tata bahasa, logika cerita, susunan kalimat, dsb.

Sekedar ilustrasi, bahwa masalah tata bahasa seringkali menjadi hal yang salah kaprah bagi sebagian dari kita. Sekedar contoh salah kaprah adalah penggunaan di dan ke antara kapan sebagai awalan (sehingga harus disambung dengan kata yang mengikuti) dan kapan sebagai kata depan (sehingga harus ditulis dipisah dengan kata yang mengikuti). Sebab, kalimat “Pak Lurah sedang sembahyang di langgar” tentu berbeda maknanya dengan “Pak Lurah sedang sembahyang dilanggar“.

Hanya saja, perlu dipahami bahwa bukan berarti lantas berani terus-terusan tanpa mau mempelajari tentang bagaimana yang benar. Nanti judul tulisan ini menjadi : “Berani dulu, salah terus-terusan…..”.

Setiap penulis tetap memiliki kewajiban untuk belajar dan belajar, karena tidak ada seorangpun yang digaransi tanpa pernah melakukan kesalahan. Meski demikian, hendaknya jangan lalu menjadi tidak mau atau tidak berani menulis.

Ada baiknya juga belajar dari resepnya mas Mimbar Saputro (seorang sahabat Wikimuer) : Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Biarkan editor pusing tujuh keliling, penulis tetap mengirimkan artikelnya…. (hanya perlu dijaga agar editornya jangan sampai jengkel karena terlalu sering harus ngedat-ngedit tulisan kita…..).

Selamat menulis, dan jangan lupa mengirimkan tulisannya ke Wikimu.

Yogyakarta, 10 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (1)

18 Desember 2007

Slamat datang di kota kami,
Yogyakarta indah dan permai

Begitulah bunyi bait pertama lagu “Mars Yogyakarta” yang suka dinyanyikan dengan irama riang dan bersemangat sambil menghentakkan kaki… prok… prok… prok…, seperti tentara sedang berbaris. Mencerminkan derap kebanggaan masyarakat kotaku, Yogyakarta (terkadang saya singkat dengan Jogja saja), hingga sebelum Sabtu pagi kelabu yang lalu.

Yogyakarta “Berhati Nyaman”. Bersih, sehat, indah dan nyaman.

Demikian tulisan semboyan kota yang akan banyak dijumpai di sepanjang jalan-jalan di kota Yogyakarta, terutama di kawasan pedagang kaki lima. Semboyan kebanggaan masyarakat kotaku, Yogyakarta, hingga sebelum Sabtu pagi haru-biru yang lalu.

Sabtu pagi, 27 Mei 2006. Tiba-tiba kotaku Yogyakarta menangis sesenggukan, seperti anak kecil yang sampai kehabisan napas dan kehilangan suara tangisnya. Tiba-tiba saja sang naga yang ada di dalam bumi kotaku menggeliat kencang dan memporak-porandakan sebagian penghuni yang selama ini petentang-petenteng di atasnya. Semua sebutan indah, permai dan berhati nyaman seperti ikut tiarap, terhempas berserakan.

***

Beberapa hari terakhir ini, maksudnya minggu lalu sebelum terjadi gempa bumi hebat di Yogyakarta, saya sering kerja lembur di rumah hingga larut pagi. Terkadang jam setengah dua atau setengah tiga pagi baru nggeblak tidur. Bersyukurlah saya, meskipun nganggur tapi masih ada yang dilemburi. Bukan, bukan karena kehabisan waktu, melainkan karena waktu siangnya saya pergunakan untuk menyelesaikan urusan lain yang ringan dan yang lucu. Sedangkan urusan yang rada pakai mikir biasanya saya selesaikan di malam hari pada saat sunyi-sepi-sendiri berkonsentrasi.

Jum’at malam hingga Sabtu dini hari yang lalu saya baru mematikan laptop selewat jam 2. Lalu ndlosor tidur. Sekitar jam setengah enam pagi lebih sedikit saya terbangun. Sambil melihat jam dinding di depan tempat tidur, saya sempat teringat bahwa waktu sholat subuh sedang di ambang batas penghabisan. Namun karena masih rada ngantuk plus agak malas (sebenarnya ya memang dasarnya rada malas…), saya nawar pada diri sendiri… “Mau leyeh-leyeh dulu sebentar, ah…! Biar jarum panjangnya sampai ke angka 12 dulu”.

Tepat jam enem kurang enem pagi (05:54) tiba-tiba tempat tidur seperti ada yang menggoyang-goyang. Spontan saya berpikir : “Ono lindu” (ada gempa). Berbekal pengalaman lebih sembilan tahun tinggal di tanah Papua, dimana Papua adalah salah satu tempat di muka bumi yang termasuk paling sering dilanda gempa, maka goyangan-goyangan gempa awal pada detik itu rasanya bukan hal yang luar biasa. Sampai kemudian saya rasakan ternyata bukan hanya tempat tidur yang bergoyang, melainkan juga lemari, dinding kamar, lalu rumah seisinya ternyata juga serentak turut bergoyang terus-menerus, bukan patah-patah…. Goyangan semakin kuat dan suara gemuruh semakin memekakkan telinga dan terdengar menakutkan.

Serta-merta saya loncat dari tempat tidur, berdesah menyebut asma Allah tiada henti, lalu berdiri tepat di bawah gawang pintu kamar. Hanya berdasarkan feeling saja, sepertinya itulah tempat paling aman saat itu untuk berhenti sejenak sambil menyapukan pandangan berkeliling dengan cepat. Di tengah goyangan hebat dan suara bergemuruh, saya lihat anak kedua saya masih tidur di lantai di depan televisi. Lalu saya ingat anak pertama saya tentu masih tidur di kamarnya di lantai atas. Sementara ibunya berada di belakang sedang beres-beres.

Dengan sekuat tenaga saya berteriak memanggil-manggil dan membangunkan kedua anak saya, sambil bertepuk tangan sekuat-kuatnya. Tentu bukan tepuk tangan kegirangan, melainkan saya bertujuan agar tercipta suara kejutan dengan nada berbeda. Namun sesungguhnya semua tindakan saya bertepuk tangan dan berteriak keras memanggil kedua anak saya agar segera bangun dan lari keluar rumah adalah sia-sia belaka. Suara yang saya ciptakan itu sepertinya hilang tertelan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Anak kedua saya terbangun justru karena nyaris kejatuhan pesawat televisi 21 inch yang loncat dari tempatnya dan dispenser yang ambruk menumpahkan galon beserta isi airnya. Sedangkan anak pertama saya di kamarnya di lantai atas terbangun karena monitor komputer di kamarnya terjungkal menimbulkan bunyi hempasan cukup keras.

Ketika saya lihat kedua anak saya sudah menyadari apa yang sedang terjadi dan bergegas menuju ke luar rumah, terdengar suara pesawat televisi 25 inchi di lantai atas terbanting dari singgasananya (bukan lengser). Padahal untuk mengangkat pesawat kuno itu sendirian pun saya tidak mampu ketika memasangnya. Rak kaset dan CD setinggi 2 meteran terhempas. Lemari kaca berisi bolo-pecah seperti dikocok dan berhamburan isinya. Guci dan piring keramik pecah bergulingan terhempas ke lantai. Akuarium pun tumbang membebaskan seekor arwana di dalamnya.

Suara gemuruh semakin kuat dan menakutkan. Rumah tembok dua lantai yang baru satu setengah tahun yang lalu saya tempati nampak dindingnya bergetar-getar seperti ada yang sedang berusaha merobohkan dengan menggoyang-goyangkannya. Tanpa pikir panjang, tetap dengan terus mendesahkan asma Allah tiada henti, sambil saya berterik : “Cepat…cepat… keluar dari rumah lewat pintu belakang…!”. Saya lihat pintu belakang sudah terbuka, sementara pintu depan rumah masih tertutup, dan saya masih sempat berpikir untuk tidak mengambil resiko jangan-jangan pintu depan masih dalam posisi terkunci.

Di belakang rumah sebenarnya juga bukan tempat yang sangat aman, karena kemudian kami masih harus berlari sipat-kuping menyusuri lorong samping kiri rumah untuk menuju halaman depan. Namun setidak-tidaknya kami lebih cepat berada di luar rumah, memperkecil resiko kejatuhan sesuatu di dalam rumah. Saat tiba di depan rumah, barulah getaran gempa dan suara gemuruh sudah menurun dan akhirnya berhenti.

Sungguh sebuah fragmen tragedi menyeramkan berdurasi sekian detik atau sekian menit yang begitu menegangkan. Semuanya berlangsung dengan sangat cepat. Saya tidak tahu persisnya kapan getaran kuat dimulai dan kapan akhirnya benar-benar berhenti. Tahu-tahu sudah berkumpul dengan orang lain di depan rumah dalam suasana tegang, sejak sebelumnya leyeh-leyeh di atas peraduan menunggu jarum panjang menggapai angka 12.

Di luar, di gang depan rumah, sudah ada ibunya anak-anak yang saat gempa pertama kali terjadi merasa panik sehingga langsung berlari menyusuri lorong samping rumah menuju depan. Itu karena hampir kejatuhan genting rumah kost di belakang rumah induk yang berjatuhan merosot ke bawah, deretan sepeda motor yang bertumbangan dan pecahan-pecahan tembok yang berhamburan. Sepercik pecahan dinding yang jatuh dari puncak wuwungan rumah sempat singgah di jidat kanan ibunya anak-anak dan menimbulkan sedikit luka memar. Anak-anak kost di belakang rumah juga sudah pada ngumpul di depan rumah. Semua orang masih tampak shock, tanpa sepatah katapun keluar dari mulut, selain desahan asma Allah yang masih menggetar di bibir.

Nyaris seperti tidak percaya bahwa kami semua bisa lolos dan selamat dari gempa bumi hebat yang baru saja menyerang tiba-tiba di saat kami semua masih terlena. Alhamdulillah…, Puji Tuhan…

Umbulharjo, Yogyakarta – 31 Mei 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (3)

18 Desember 2007

Beberapa puluh menit kemudian ketika suasana hati mulai agak tenang. Saya kembali melakukan inspeksi ke dalam rumah. Kali ini saya memberanikan diri untuk naik ke lantai atas. Sekedar untuk memastikan bahwa dinding-dinding rumah dan struktur rumah dalam kondisi aman, sehingga saya yakin bahwa kondisi rumah masih layak untuk ditempati. Tidak satupun benda-benda yang berserakan di lantai atas saya sentuh. Sengaja saya biarkan untuk sementara waktu. Pintu dan jendela-jendela di lantai atas saya buka agar udara segar dapat masuk ke dalam rumah.<

Dari hasil inspeksi saya menemukan fakta, bahwa semua benda-benda yang tergantung di dinding dalam keadaan utuh pada tempatnya. Foto-foto, gambar dan piring-piring keramik dan cendera mata yang tergantung di dinding tidak satu pun yang terjatuh. Semua benda-benda yang tergeletak di atas lantai juga tidak ada yang terguling, termasuk guci-guci kecil. Sebaliknya hampir semua benda yang tergeletak di atas tumpuan seperti meja, almari, dapur, nyaris semua berantakan berjatuhan, termasuk televisi, monitor komputer, akuarium, guci, piring dan segala macam. Herannya kendati pesawat televisi dan monitor komputer jatuh tersungkur dengan posisi layar kaca menghadap dan menyentuh lantai, tapi tidak satu pun yang retak atau pecah.

Sejenak saya berdiri pada posisi persis seperti ketika saya baru loncat dari tempat tidur lalu bertepuk tangan dan memanggil anak-anak saya tadi pagi. Tepat di bawah gawang pintu kamar sambil berpegangan tiang sebelah kiri. Tiba-tiba saya merinding sendiri. Di tempat itulah, beberapa puluh menit yang lalu saya menyaksikan rumah bergoyang-goyang seperti mau roboh dan anak-anak saya sempoyongan menuju pintu belakang. Di tengah suara gemuruh yang memekakkan telinga dan terdengar menakutkan.

Kejadiannya sangat cepat, menegangkan dan mencekam. Belum pernah saya berada dalam situasi seperti itu. Kalau seandainya pada saat itu rumah kami roboh, maka kami bertiga pasti terjebak di dalamnya. Entah sebuah kebetulan atau keberuntungan, saya hanya ingat bahwa hanya Tuhan yang mampu melindungi kami dari ancaman bahaya pagi itu. Saya sadar betul, tidak satu oknum pun mampu membekingi saya pagi itu. Tidak satu rupiah pun dari sisa tabungan saya mampu saya belanjakan untuk mencari perlindungan pagi itu. Tidak juga jabatan CEO “Madurejo Swalayan” dapat saya banggakan untuk lepas dari teror alam yang mencekam. Tak satu pun!. Kecuali kuasa dan kebesaran Ilahi yang ada. Sang Pemilik Bumi yang sengaja “mencandai” mahluk-mahluk lemah ciptaan-Nya. Karena itu, hanya menyebut nama-Nya dengan penuh harap dan kepasrahan yang dapat saya lakukan.

Hal terbaik dan terburuk punya peluang yang sama untuk terjadi. Sekiranya Sang Penguasa Bumi menganggap keberadaan saya di atas dunia ini hanya menuh-menuhin saja, tidak membawa manfaat apapun, atau dianggap sudah cukup. Maka, tidak ada yang mustahil bagi-Nya karena memang tidak ada yang dapat menghalangi-Nya. Ada “alasan” kuat bagi Sang Penguasa Bumi untuk terjadinya hal yang terburuk. Demikian pula sebaliknya.

Saya tidak sedang mendramatisir cerita saya. Ketika saya bersujud dan bersyukur telah lolos dari ancaman bencana yang demikian dahsyat, tanpa saya sadari air mata saya menetes. Sebagai seorang muslim tiba-tiba saya ingat, bukan tanpa alasan kalau sampai tigapuluh satu kali Tuhan menyampaikan sindiran-Nya : “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang hendak kalian dustakan?” (QS. 55 : 1-78). Saya yakin di agama lainpun pasti ada pesan-pesan semacam ini.

***

Menurut berita di koran, momen goyangaan bumi yang mencekam itu berlangsung selama 57 detik, meskipun menurut perasaan saya pasti lebih lama dari itu. Katakanlah, benar selama 57 detik, maka saya sangat menyadari bahwa itulah “injury time” yang akan menentukan apakah saya masih akan menyaksikan jarum panjang menggapai angka 12 atau tidak, di hari Sabtu pagi itu.

Kalau saja sewaktu saya membangun rumah dulu, struktur fondasinya dan tulangannya tidak cukup kokoh, pasti pagi itu rumah saya sudah rata dengan tanah. Kalau saja pasangan batanya asal-asalan, pasti rumah saya roboh. Terbukti saya menyaksikanya pada bangunan-bangunan yang roboh akibat gempa di beberapa lokasi.

Sekencang apapun saya mampu berlari saat menyadari sedang terjadi gempa hebat, rasanya tidak akan mampu melebihi kecepatan robohnya rumah di saat “injury time”, kalau memang rumah yang saya tempati akan roboh oleh gempa. Maka saat “injury time” pagi itu, saat saya berdiri, bertepuk tangan dan berteriak memanggil anak-anak saya, saat anak pertama saya turun dari lantai atas dan saat anak kedua saya gelagapan bangun dari tertidurnya di depan televisi, adalah saat yang tepat untuk robohnya rumah kami. Semua persyaratan untuk roboh dan merobohi penghuninya sudah terpenuhi. Tinggal tombol “red light” menunggu dipencet oleh Sang Penguasa Bumi.

Barulah saya benar-benar menyadari, bahwa adalah sangat penting memperhatikan kekuatan struktur sebuah rumah pada saat rumah itu dibangun. Sudah lama saya tahu hal ini, tapi tidak pernah menganggapnya penting. Maka kalau ada pembangun rumah memanipulasi kekuatan strukturnya untuk apapun alasannya, maka sesungguhnya dia sedang “merencanakan” untuk mencelakai calon penghuninya. Terutama kalau kita tahu bahwa lokasi bangunan itu berada di kawasaan rawan gempa.

Sebelum membangun sebuah rumah atau bangunan apapun, tidak ada salahnya untuk sedikit meluangkan waktu mengetahui kondisi geologi kawasan itu. Terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan rawan gempa, seperti sepanjang pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa hingga Nusa Tenggara dan Maluku-Papua. Itulah kawasan jalur gempa, dekat garis pertemuan lempeng tektonik Eurasia dan Indo-Australia yang perlu diwaspadai. Tidak ada salahnya untuk sekedar ngobrol-ngobrol dengan mereka yang pernah kuliah ngelmu Geologi Struktur dan lulus murni (bukan nyontek). Tidak ada salahnya juga mencari tahu dimana berada sesar atau patahan aktif di kawasan tertentu. Setidak-tidaknya kita akan tahu seberapa besar potensi kerusakan bisa ditimbulkan kalau-kalau gempa bumi berkekuatan besar terjadi.

Bagaimana kalau kita tidak membangun sendiri rumahnya melainkan beli rumah di kompleks perumahan, misalnya di Bumi Gempa Permai atau Pantai Tsunami Indah? Saya tidak tahu jawabannya. Tapi pasti ada caranya.

Oleh karena itu bagi mereka yang membangun bangunan di kawasan rawan gempa, menurut saya bukanlah pemborosan kalau kita berlaku tidak terlalu pelit untuk membelanjakan uang lebih banyak guna memperkuat struktur bangunan. Juga bukanlah tindak ngoyoworo (membuang-buang waktu) kalau kita meluangkan waktu untuk sedikit mengetahui kondisi geologi suatu kawasan.

Sebab fakta membuktikan, setidak-tidaknya itulah yang saya lihat dan alami, kalau memang rumah kita memenuhi syarat untuk roboh diterpa gempa berkekuatan besar, maka tidak ada satu hal pun yang mampu menundanya. Tidak juga karena menunggu anak-anak kita bangun dari tidur atau sedang berlari keluar dari rumah. Kecuali Sang Maha Penggoyang Bumi berkehendak sebaliknya.

Sayangnya, saya sangat percaya bahwa apa yang dikehendaki oleh Sang Penggoyang Bumi akan berbanding lurus dengan apa yang sudah diikhtiarkan oleh penghuni bumi-Nya. Selebihnya di luar pemahaman ini, maka akan tetap menjadi misteri “The X-File”-nya Sang Pencipta….. Wallahu a’lam!

Umbulharjo, Yogyakarta – 3 Juni 2006
Yusuf Iskandar

——-

WORO-WORO :
Jika ada yang berniat menyumbangkan sesuatu bagi korban gempa Jogja dan sekitarnya (sembako, tenda, alas tidur, selimut, pakaian, obat-obatan, alat tulis/sekolah, atau apapun bentuknya), dan kesulitan menemukan tempat/lembaga untuk menyalurkannya, Insya Allah saya dapat membantu menyalurkannya langsung kepada mereka yang membutuhkan. Sasaran saya adalah kawasan desa-desa terpencil di lereng-lereng bukit di sebelah timur desa Madurejo yang berbatasan dengan kabupaten Klaten. Kawasan ini relatif kurang “populer” dibanding wilayah kabupaten mBantul lainnya, sehingga tidak mudah tersentuh bantuan sebagaimana kawasan mBantul selatan. (Yusuf Iskandar — HP. 08122787618).

Ada Gempa Di Kotaku (4)

18 Desember 2007

Sekitar menjelang jam delapanan, ketika orang-orang masih saling berkelompok membicarakan bencana luar biasa yang barusan dialami, tiba-tiba terjadi gempa susulan. Memang tidak terlalu keras getarannya, tapi tak ayal lagi membuat semua orang terkejut dan secara refleks saling mengambil posisi aman untuk menyelamatkan diri kalau-kalau terjadi sesuatu. Mereka yang sedang memeriksa rumah masing-masing atau berada di dekat rumah pun serta merta berhamburan menjauh. Keterkejutan yang tak perlu dibantah kenapa-kenapanya. Mengingat semua orang masih dalam situasi mental yang traumatis, belum lepas dari apa yang terjadi dua jam sebelumnya.

Tiba-tiba muncul kabar dari mulut ke mulut entah darimana asal bin muasalnya : “Ada tsunami!”. “Air… air… air sudah dekat!”. “Semua orang pada lari ke utara…!”. Kata-kata menakutkan sejenis itu seperti tak terbendung menular dari mulut ke mulut. Bisa dibayangkan betapa kepanikan tiba-tiba merebak. Hampir setiap orang menjadi panik. Siap-siap…, bergegas meninggalkan rumah untuk bergerak mencari tempat aman. Arah utara yang terpikir, yaitu menjauh dari arah pantai dan menuju daerah tinggi. Suasana begitu kalut dan panik. Orang-orang yang belum lagi pulih dari rasa takut yang mencekam akibat gempa hebat pagi harinya, tiba-tiba dihadapkan dengan ancaman baru gelombang tsunami. Tentu saja bencana tsunami Aceh yang menjadi referensi kepanikan di dalam pikiran setiap orang.

Tak terkecuali keluarga kami pun sempat panik, terutama ibunya anak-anak. Juga enam orang mahasiswa yang kost di tempat kami, yang segera siap-siap dengan sepeda motornya. Ibunya anak-anak segera menutupi pintu rumah, menguncinya, dan siap-siap mengajak pergi entah mau kemana. Saya sendiri sebenarnya ragu. “Tidak mungkin ada tsunami”, kata hati kecil saya. Tapi suasana memang sudah sedemikian paniknya. Para tetangga pun nampak siap-siap dengan mobil, sepedamotor atau berjalan kaki meninggalkan rumah entah hendak kemana. Isu yang santer terdengar mengatakan bahwa air sudah semakin dekat.

Entah kenapa saya merasa sangat pede untuk tidak percaya, untuk tidak kelewat panik. Namun karena saya pikir ini bukan saat yang tepat untuk eyel-eyelan (beradu argumen) dengan istri, maka saya tidak punya pilihan lain selain mengikuti “irama” kepanikan itu. Saya sarankan kepada istri, kalau memang mau pergi jangan lupa membawa bekal uang secukupnya. Jangan hanya berbekal kunci rumah, karena nampaknya yang terpikir hanya pokoknya mencari tempat aman secepatnya. Sekali lagi, entah hendak kemana.

Tapi sebelum kami memutuskan benar-benar mau meninggalkan rumah, saya minta kepada salah seorang anak kost untuk mencoba keluar mencari tahu informasi yang sebenarnya. Meskipun saya tahu bahwa hal itu tidak ada artinya sama sekali, toh saya suruh juga dua orang anak kost untuk menggunakan sepeda motornya keluar ke jalan raya.

Celakanya, kedua anak kost itu kembali dengan membawa berita yang lebih menakutkan. Air sudah semakin dekat dan orang-orang sudah berduyun-duyun bergerak cepat ke arah utara. Saya tetap tidak percaya. Saya ajak semua orang untuk mendengarkan berita dan laporan di radio mobil, yang ternyata tidak satupun ada peringatan tentang datangnya gelombang tsunami. Justru berita tentang kepanikan luar biasa yang sedang terjadi di mana-mana, di jalan-jalan yang menuju arah utara atau ke arah Kaliurang yang dianggap lebih tinggi lokasinya.

Akibat gempa pagi harinya dan ingatan tentang tragedi tsunami di Aceh, membuat orang lupa bahwa pergi ke dataran tinggi ke utara sama artinya dengan mendekati gunung Merapi dengan wedhus gembel-nya. Belakangan saya baca di koran bahwa beberapa menit setelah terjadinya gempa, telah terjadi luncuran awan panas yang lebih besar dari biasanya. Rupanya pagi itu kebanyakan orang lupa dengan ancaman Merapi.

Dari radio pula dilaporkan bahwa lalu lintas telah menjadi kacau-balau dan macet total dimana-mana. Selain karena lampu lalulintas tidak berfungsi akibat listrik padam karena gempa pagi harinya, juga karena adrenalin semua orang sudah terpacu untuk tidak ingin menjadi korban seperti di Aceh. Kalaupun lampu lalulintas hidup pun rasanya tidak ada lagi orang yang menghiraukannya. Maka peristiwa tabrakan atau serempetan dalam berlalulintas bukan lagi sebuah kecerobohan atau keteledoran, melainkan sebuah proses. Proses untuk mencari selamat. Dikabarkan bahwa kepanikan dan kekalutan di jalan-jalan sudah sedemikian memuncaknya. Tabrakan di mana-mana tak terhindarkan lagi, dan celakanya tak ada yang perduli. Masing-masing terpacu untuk secepatnya menuju arah utara. Mobil, sepeda motor, orang-orang berlarian dengan jerit dan tangis kepanikan. Demikian yang saya dengar dari siaran radio Sonora.

Sementara di depan rumah saya di Umbulharjo, ibunya anak-anak kebingungan mencari anak laki-lakinya yang ternyata tidak berada di rumah, justru pada situasi dimana kebanyakan orang sedang berusaha untuk dapat saling berkumpul dengan keluarganya. Rupanya anak laki-laki saya pergi main dengan membawa sepedanya. Ibunya jadi gethem-gethem (geram). Semua orang kepingin berkumpul dengan keluarganya pada situasi segenting dan semenegangkan ini, anak laki-laki saya malah pergi main, begitu jalan pikiran ibunya. Sangat ibuwi (maksudnya, manusiawi sebagai seorang ibu).

Tidak seberapa lama kemudian anak laki-laki saya pulang dengan sepedanya sambil cengengesan. Lalu bercerita, katanya jalanan sangat padat dan ramai, dan orang-orang bilang ada tsunami. Sampai dia kesulitan untuk bersepeda menuju pulang. Ya tentu saja. Ketika semua orang bergerak cepat ke arah utara, dia malah bersepeda melawan arus ke arah selatan untuk pulang. Rupanya dengan temannya anak laki-laki saya baru saja bersepeda berkeliling menginspeksi bangunan-bangunan yang runtuh akibat gempa, demikian laporannya. Dasar anak!

Entah karena semakin bisa mengendalikan rasa paniknya, entah karena melihat saya agak ogah-ogahan diajak pergi. Akhirnya istri saya beserta kedua anak saya ya tetap berdiri di depan rumah saja. Anak-anak kost pun saya yakinkan bahwa tidak ada tsunami. Akhirnya kami semua hanya ngobrol sambil duduk-duduk di atas selembar tikar di depan rumah, sambil mendengarkan laporan-laporan berita di radio Sonora.

***

Kenapa tidak mungkin ada tsunami? Meskipun saya bukan ahli geologi, kecuali pernah kuliah mata pelajaran tentang geologi, kalau sekedar memahami fenomenaa gempa dan tsunami dari referensi-referensi dan artikel-artikel rasanya saya masih bisa memahaminya. Saya mulai banyak belajar tentang pergempaan dan pertsunamian sejak tragedi gempa dan tsunami di Aceh.

Ketika sebelumnya saya mendengar dari radio bahwa pusat gempanya dekat dengan pantai selatan dan dangkal, maka saya cukup pede untuk menyimpulkan bahwa gempa tidak terjadi di palung Jawa atau di garis pertemuan antara lempeng Eurasia dan Indo-Australia. Oleh karena itu sangat kecil kemungkinannya terjadi longsoran di dasar laut yang sampai menimbulkan gelombang balik yang cukup besar. Paling-paling hanya ombak saja, tapi bukan gelombang tsunami.

Kalaupun toh kesimpulan saya salah dan gelombang tsunami sebesar di Aceh terjadi juga, maka pasti tidak akan sampai ke kota Yogyakarta. Pertama, karena jarak antara garis pantai dengan kota Yogyakarta cukup jauh, lebih 25 km. Kedua, karena antara garis pantai dengan kota Yogyakarta terdapat pegunungan-pegunungan kecil yang pasti mampu menghambat aliran gelombang. Ketiga, karena elevasi kota Yogyaakarta yang berada lebih 100 meter di atas permukaan laut. Maka hanya kalau terjadi gelombang tsunami yang segunung besarnya, yang mampu menjangkau kota Yogyakarta. Dan secara teoritis, itu adalah hil yang mustahal. Kecuali….., Sing Mbau Rekso Bumi menerapkan “penyimpangan” skenario.

Dengan alasan-alasan itulah yang membuat saya tidak larut dalam kepanikan, meskipun sempat saya nikmati “irama”-nya (saya juga heran sendiri…, kok sempat-sempatnya mikir yang begituan di tengah kekalutan suasana). Lebih baik menggelar tikar di depan rumah, menikmati sambil rada deg-degan gemuruh lembut suara gempa-gempa susulan. Setiap terjadi gempa susulan, selalu diikuti dengan suara bergemuruh. Mungkin karena pusat gempanya tidak terlalu jauh dan dangkal. Sambil mendengarkan siaran radio yang melaporkan jumlah korban yang terus meningkat dimana-mana terutama di kawasan kabupaten Bantul dan memonitor laporan para penilpun tentang tingkat kerusakan yang sangat parah menyebar dari berbagai penjuru kota. Termasuk laporan tentang kepanikan luar biasa yang sedang terjadi di jalan-jalan di kawasan Jogja utara.

Satu di antara penilpun rupanya datang dari warga yang tinggal di kawasan tidak jauh dari pantai selatan Parangtritis, yang mengabarkan katanya keadaan air laut baik-baik saja dan tenang-tenang saja, maksudnya tidak nampak ada gejolak yang luar biasa. Nah, lo…! Artinya, memang tidak ada tsunami. Tiwas (telanjur) panik…..

Tapi sungguh saya tidak maidu (menyalahkan). Situasinya memang benar-benar “kondusif” untuk timbulnya kekalutan dan kepanikan. Dan hal semacam ini bisa dialami oleh siapa saja dan terjadi di mana saja.

Umbulharjo, Yogyakarta – 4 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (5)

18 Desember 2007

Hingga tengah hari, Sabtu siang, terjadi paling tidak tiga kali gempa susulan yang terasa cukup kuat, dan banyak kali gempa susulan berkekuatan kecil. Setiap terjadi gempa susulan selalu disertai bunyi bergemuruh ke segenap penjuru. Memang tidak lagi semenakutkan gempa utama tetapi cukup membuat deg-degan setiap orang. Hingga sore hari, belum banyak orang yang cukup punya nyali untuk berada di dalam rumah. Semua orang berhimpun di luar rumah, paling tidak di dekat-dekat teras. Ada yang pasang tenda, atau pasang atap seadanya, atau sekedar selembar tikar di tempat teduh. Dengan harapan kalau terjadi gempa susulan dapat dengan mudah meloncat menjauh dari rumah. Gambaran seperti itulah yang sempat saya amati, ketika siang hari keluar naik sepeda motor membeli buah sambil berkeliling melihat situasi kota.

Satu-satunya hiburan adalah radio, dan satu-satunya studio radio yang banyak disetel orang adalah siaran radio Sonora yang sejak terjadi gempa selalu memancarkan laporan via tilpun para pendengar dari segenap penjuru kota. Belakangan saya baru menemukan radio Pro3 FM-nya RRI. Sementara studio radio lainnya masih pada klepek-klepek, ditinggal kabur penyiarnya. Dari radiolah warga masyarakat Jogja semakin tahu apa yang terjadi di wilayah lain, tingkat kerusakan dimana-mana dan semakin banyaknya korban ditemukan berjatuhan. Termasuk permintaan bantuan dan ambulan.

Agaknya masyarakat Jogja pada saat itu perlu berterima kasih kepada studio radio Sonora. Di saat semua studio radio mati, di saat orang butuh informasi dan tidak ada yang dapat ditanya, radio Sonora terus-menerus mengudara 24 jam dengan memancarkan suara-suara  penilpun dari mana-mana. “Community journalism” telah terbangun dan berjalan dengan sendirinya. Masyarakat adalah wartawannya, siapapun dia, dimanapun dia berada. Dan hal ini sangat membantu bagi masyarakat lainnya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sisi lain kotanya. Siapa dan dimana butuh bantuan apa, siapa dan dimana dapat membantu apa. Dan sistem itu bekerja. Bantuan cepat tersampaikan, meski seadanya, meski tidak seberapa nilainya, tapi pasti sangat besar artinya bagi mereka yang sedang benar-benar membutuhkannya. Spontanitas bantu-membantu dan solidaritas sosial segera terbangun dengan sendirinya. Sungguh membanggakan. Sangat bertolak belakang kalau ingat berita tentang tawuran dan pertikaian.

***

Listrik mati di hampir semua kawasan. Telepon seluler serta-merta susah digunakan. Barangkali karena lalu-lintas komunikasi tiba-tiba sedemikian padatnya. Setiap orang kepingin saling mengirimkan kabarnya kepada sanak-famili pada waktu bersamaan. Demikian halnya sanak-famili yang di tempat jauh segera kepingin tahu kabar anak, keponakan, orang-orang terkasih, orang tua atau saudara lainnya yang tinggal di Jogja, sesaat setelah mendengar berita gempa dahsyat yang baru terjadi. Bisa dimaklumi, mengingat Jogja lagi penuh-penuhnya orang liburan panjang akhir pekan, juga lagi musim ujian sehingga umumnya mahasiswa berada di tempatnya.

Maka praktis seharian itu telepon seluler seperti macet-cet, susah dihubungi maupun menghubungi keluar. Hanya tilpun telkom rumahan (PSTN) yang masih berfungsi. Sayangnya wartel pada tutup, umumnya karena bangunannya juga rusak akibat gempa. Di rumah saya belum terpasang tilpun telkom. Maka HP menjadi andalan komunikasi. Itupun setengah mati susahnya. Lebih kesal lagi ternyata dari tiga pesawat HP yang ada di rumah, semuanya baterenya sudah lemah, tinggal satu atau dua bar indikator tenaganya. Jadi kepingin marah saja, kenapa semalam tidak ada yang punya inisiatif nge-charge batere HP. “Habis enggak tahu kalau mau ada gempa…..”, begitu setiap orang membela diri.

Sementara mau nge-charge batere, listrik mati dan tidak tahu akan sampai kapan. Kalau sudah begini baru teringat, kenapa selama ini tidak pernah terpikir untuk memiliki asesori colokan tambahan atau kabel ekstension (atau entah apa namanya) yang bisa dipakai untuk nge-charge HP dari mobil. Untungnya masih ada sisa cukup bensin dalam tangki mobil dan sepeda motor, karena dimana-mana serentak terjadi antrian panjang untuk memperoleh BBM. Setidak-tidaknya kalau mendadak diperlukan, mobil atau sepeda motor siap untuk digunakan.

Satu-satunya SMS yang berhasil saya kirimkan keluar di saat pagi adalah kabar selamat kepada sanak keluarga di kampung saya di Kendal. Bagaimanapun juga kabar gempa dahsyat akan segera sampai ke sana dan pasti akan segera menghubungi Jogja. Setelah itu, SMS sulit sekali dikirim keluar, sekali-dua kali berhasil membalas SMS teman-teman yang menanyakan kabar saya, setelah itu mental dan mental lagi tidak mau terkirim. Keadaan ini berlangsung hingga sore hari dan malam hari. Sesekali SMS bisa diterima, tapi tidak pernah bisa dibalas keluar.

Siang itu kami semua lebih banyak meluangkan waktu untuk beres-beres rumah sebisanya. Mengumpulkan barang-barang yang pecah, menata kembali benda-benda yang berserakan dan berhamburan. Minimal agar tidak mengganggu aktifitas di dalam rumah dan aman dari pecahan-pecahan beling (kaca). Perkara membuangnya bagaimana, nanti diurus belakangan.

Saat malam tiba, sebagian kawasan kota Jogja masih gelap gulita, sebagian lainnya ada yang sudah mulai menyala listriknya. Yang paling mencekam tentu saja di kawasan yang paling parah kondisinya, seperti sebagian besar wilayah kabupaten Bantul dimana sangat banyak rumah yang rata dengan tanah. Sudah pasti masyarakat pada tidur di luar rumah dalam suasana gelap-gulita. Atau di tenda-tenda kalau kebetulan sudah sempat menerima tenda bantuan. Lebih banyak lagi yang belum terjangkau tenda bantuan, asal ada tempat berteduh sementara dari benda-benda apa saja. Sementara langit mendung dan menampakkan tanda-tanda bakal turun hujan, begitu kata ramalan cuaca di radio. Dari radio pula saya mendengar tilpun permintaan bantuan makan, tenda, penerangan, medis, datang dari penilpun dimana-mana, tak henti-hentinya.

Tidak kalah serunya nasib anak-anak kost, terutama yang biasa makan di luar. Jelas tidak mudah menemukan warung makan di saat kondisi darurat seperti ini. Mereka midar-mider kesana-kemari untuk membeli makan, yang tentu saja tidak mudah menemukannya. Mentok-mentoknya masak mie instan, itupun kalau kebetulan masih punya persediaaan di kamarnya, karena di luar susah menemukan warung yang buka. Rumah makan atau restoran tidak ada yang buka. Apalagi warung kaki lima sego kucing (nasi kucing, istilah Jogja untuk sebungkus kecil nasi dengan sedikit lauk yang dibungkus daun pisang, umumnya dijual dengan harga Rp 600,- sampai Rp 800,- per bungkusnya, mirip segenggam makanan untuk kucing) yang biasanya betebaran di setiap penjuru kampung, hari itu tidak ada yang buka. Bisa jadi para penjualnya masing-masing juga lagi pada sibuk mengurus rumah dan keluarganya. Kalau kucingnya banyak berkeliaran di mana-mana, tapi sego atau nasinya yang enggak ada…..

***

Beruntung sekali, di kawasan Umbulharjo listrik sudah menyala sekitar jam 7 malam. Sementara di kampung sebelah-menyebelah masih gelap-gulita. Hal pertama yang kami lakukan setelah menghidupkan penerangan rumah adalah beramai-ramai nge-charge HP, lalu nyetel TV (kebetulan satu TV yang tadi siang njungkir ternyata masih bisa dinyalakan). Maka hampir semua acara televisi adalah berita gempa. Kami pun semakin tahu lebih banyak apa yang terjadi di belahan lain kota Yogyakarta dan sekitarnya, terutama kabupaten Bantul. Tiada kata yang pas melukiskan tragedi Sabtu pagi itu, selain tragis, menyedihkan dan memilukan.

Sementara istri menyiapkan makan malam seadanya, ya mie instan itu tadi dicampur sisa sayuran yang masih ada di dalam kulkas. Saya sibuk menjerang air untuk bikin kopi. Jangan sampai tertunda lagi. Secangkir kopi cap “Kapal Api” terasa luar biasa nikmatnya. Kopinya panas, tapi serasa menyejukkan pikiran. Maklum, sejak leyeh-leyeh bermalasan menunggu jarum panjang mencapai angka 12 di pagi harinya, namun kurang enam menit acara ngopi pagi batal gara-gara ada gempa. Bukan tidak sempat ngopi, melainkan kopi yang sudah disiapkan istri saya cangkirnya menggelinding dan isinya ndlewer (tumpah) kemana-mana……

Umbulharjo, Yogyakarta – 6 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (8)

18 Desember 2007

Hari Minggu, sehari setelah gempa, adalah hari kebersihan. Trauma gempa kemarin masih belum hilang. Namun dalam rumah perlu dibenahi dan dibersihkan dari puing-puing perabot rumah tangga yang masih berantakan dan tercecer di sana-sini. Sementara di luar rumah juga perlu dibersihkan dari pot-pot bunga yang hancur jumpalitan.

Hari Sabtu sebenarnya saya sudah memperoleh kabar dari Pengawas “Madurejo Swalayan” bahwa secara fisik toko dalam keadaan baik. Tapi di bagian dalam ada sebagian plafon yang roboh. Isi toko sudah barang tentu berantakan. Barang-barang di rak pada berhamburan, meski tidak semuanya. Beruntung perangkat komputernya tidak bergulingan seperti yang ada di rumah. Pagi hari setelah gempa, hanya ada seorang pegawai yang datang. Itupun karena kebetulan rumahnya dan keluarganya selamat. Akhirnya dipersilakan pulang saja, barangkali tenaganya lebih dibutuhkan di rumah kalau-kalau terjadi sesuatu. Sedang karyawan lainnya masih belum jelas kondisinya. Informasi awal mengatakan semua dalam keadaan selamat, tapi rumahnya sebagian hancur. Maka “Madurejo Swalayan” tidak bisa beroperasi, berlaku keadaan darurat, entah sampai kapan.

Pada hari Minggunya saya minta Pengawas toko untuk berkeliling memastikan bagaimana kondisi para pegawai dan keluarganya. Sebagian di antara mereka kondisi rumahnya hanya retak-retak saja. Tapi tiga orang karyawan rumahnya berantakan dan tidak layak huni. Ada yang roboh dan ada yang ndoyong sehingga tidak berani menempatinya. Ada yang bisa dengan legowo menerima musibah ini dan ada yang shock.

Prioritas saya saat itu adalah bagaimana bisa membantu karyawan yang terkena gempa dengan mengirim sekedar bantuan guna meringankan beban penderitaan mereka. Yang paling praktis saat itu adalah bahan kebutuhan pokok. Maka saya lalu menyempatkan untuk berkeliling mengunjungi satu-persatu rumah pegawai-pegawai saya, hingga ke tempat yang agak jauh ke pelosok desa di pinggiran perbukitan timur. Dusun Sengir, namanya. Bukan sekedar memberi bantuan tapi juga memberi dorongan moril dan membesarkan hati mereka agar ikhlas dan tabah menerima musibah ini. Saya pikir, inilah salah satu hikmah gempa. Saya jadi tahu dimana rumah tinggal mereka dan saya jadi mengenal keluarganya.

Saya ajak kedua anak saya untuk ikut berkeliling mengantarkan bantuan. Agar mereka melihat sendiri, betapa beban hidup yang harus dialami dan ditanggung oleh mereka yang menjadi korban gempa. Terlebih bagi mereka yang tinggal di pelosok yang jauh dari jalan raya, yang berarti jauh pula dari jangkauan bantuan. Juga agar mereka bisa membedakan antara dirinya yang meski ketakutan tapi masih bisa kembali ke rumah dengan persediaan bahan makan yang cukup, dengan mereka yang bukan saja ketakutan tapi juga tidak bisa kembali ke rumah dengan tanpa persedian bahan makanan. Lalu bagaimana dengan pakaiannya?. Bagaimana dengan kesehatannya? Bagaimana pula dengan sekolah anak-anaknya?.

***

Kerusakan bagian dalam “Madurejo Swalayan” memang perlu segera diperbaiki agar secepatnya toko siap untuk beroperasi kembali. Namun ternyata tidak mudah mencari tukang pada saat-saat seperti itu. Semua tukang tentunya sedang repot entah karena mengurusi dan membenahi rumahnya sendiri, tetangganya, saudaranya atau malah cedera terkena gempa. Seperti banyak diketahui, banyak warga masyarakat Bantul yang bermata-pencaharian sebagai buruh atau tukang bangunan. Saudara dan teman saya yang rumahnya memerlukan penanganan segera terpaksa mendatangkan tukang dari daerah lain. Apa boleh buat. Ongkos tukangnya sendiri sih normal saja, tapi biaya “overhead” menjadi tinggi.

Beberapa pegawai toko sudah mulai ada yang bisa masuk kerja pada hari kelima pasca gempa. Agenda pertama adalah beres-beres dan benah-benah toko. Meski perbaikan toko belum dikerjakan, tapi pintu depan toko sudah mulai dibuka sedikit. Tujuan utamanya adalah sekedar membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mendesaknya. Barangkali membutuhkan sesuatu, mengingat sejak gempa terjadi hampir semua toko dan warung pada tutup dan masyarakat pun kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya. Akhirnya baru pada hari ke-10 pasca gempa, perbaikan “Madurejo Swalayan” sempat dikerjakan. Untungnya kerusakan tidak terlalu parah, sehingga tidak memakan waktu lama.

Untuk sementara waktu, selain pintu toko hanya dibuka sedikit, juga jam operasinya dibatasi mulai jam 7:00 pagi sampai jam 3:00 sore saja. Listrik di kawasan desa Madurejo dan sekitarnya baru hidup pada hari kelima pasca gempa. Itupun masih mota-mati (bolak-balik mati). Merebaknya isu penjarahan juga menjadi pertimbangan untuk tidak buka sampai malam. Isu terjadinya penjarahan memang cukup gencar. Baik penjarahan oleh masyarakat korban gempa yang tidak sabar menanti datangnya bantuan, maupun oleh oknum tidak bertanggungjawab yang mengail di air keruh, memanfaatkan momen kepanikan dan keterdesakan masyarakat untuk memperoleh keuntungan sendiri. Banyak cerita dan kejadian menyebar dari mulut ke mulut tentang hal ini.

***

Kawasan sebelah timur desa Madurejo, tepatnya di lereng-lereng pegunungan yang bersambungan dengan bukit Patuk, memang termasuk kawasan yang berada di sekitar patahan atau sesar Opak yang tergolong aktif alias selalu bergerak. Kawasan sesar aktif ini membentang dari pantai Samas di Bantul selatan menuju arah timut laut hingga Jatinom di sisi barat laut Klaten, melewati daerah Kretek, Bambanglipuro, Jetis, Imogiri, Piyungan, Berbah dan Prambanan. Masih ditambah percabangan sesar aktif ke arah Gantiwarno dan Wedi, Klaten.

Maka ketika di laut pantai selatan ada gempa, getaran gempa mudah sekali untuk menjalar mengikuti jalur sesar aktif itu. Akibatnya, bukan hanya wilayah kabupaten Bantul yang mengalami kerusakan parah, melainkan juga ke arah timur laut. Semakin jauh dari pusat gempa, semakin ringan tingkat kerusakannya. Itu sebabnya korban dan kerusakan terparah berada di daerah Bantul selatan hingga timur, termasuk Imogiri dan Piyungan, dan daerah Klaten bagian barat.

Dengan keluar masuk desa untuk mengirim bantuan itulah saya melihat bahwa distribusi bantuan dari pemerintah maupun lembaga-lembaga lain, terutama ke wilayah yang jauh dari jalan raya, memang terlambat. Lebih-lebih kawasan timur yang berbatasan dengan kabupaten Klaten. Agaknya kawasan timur ini kalah “populer” dengan kota Bantul. Akibatnya, semua bantuan yang berdatangan umumnya terkonsentrasi dan diprioritaskan untuk dikirim ke kawasan Bantul selatan. Dampak dari terlambatnya distribusi bantuan nampak di sepanjang jalan raya dari arah Jogja menuju Piyungan dan Wonosari, dan dari arah Piyungan menuju ke Prambanan. Dua penggal jalan yang saya lewati siang itu.

Lalu lintas tersendat di kedua penggal jalan ini karena di tengah jalan berjejer masyarakat korban gempa yang memasang penyekat jalan dengan kursi, drum, meja, atau apa saja, sambil meminta bantuan kepada setiap kendaraan yang lewat. Poster-poster seadanya bertuliskan korban gempa dan belum datangnya bantuan menghiasi di sepanjang jalan. Trenyuh melihatnya. Jumlahnya ratusan, bahkan mungkin ribuan. Belakangan saya dengar dan saya baca di koran, di kawasan lain pun terjadi hal yang kurang lebih sama. Bahkan di jalan raya Bantul selatan sudah mulai menjurus ke anarkis. Mereka tidak segan-segan menggedor-gedor mobil yang tidak mau memberikan sekedar bantuan. Bagi pengendara kendaraan tentunya juga dilematis. Mau memberi sekedar uang pada dua atau tiga orang, tentu orang-orang lainnya di sepanjang jalan itu juga perlu dibantu. Mau memberi bantuan kepada semua orang, tentunya tidak mampu.

Kenapa bisa terjadi hal yang demikian? Bak mengurai benang kusut. Padahal kalau kita lihat di televisi, kita dengar di radio dan kita baca di surat kabar, kiriman bantuan sudah sedemikian banyaknya datang dari mana-mana, bahkan sejak hari kedua pasca gempa. Solidaritas sosial yang demikian membanggakan, tidak hanya dari warga lokal, tapi juga nasional dan internasional. Tapi kenapa keluhan keterlambatan distribusi terjadi dimana-mana?

Semakin kita berpikir untuk menjawab kenapa, semakin kita terpancing untuk menyalahkan pihak lain. Jadi? Pelajaran apa yang bisa dipetik? Atau setidak-tidaknya, bisakah kita memetik pelajaran?

Umbulharjo, Yogyakarta – 8 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (9)

18 Desember 2007

Sejak hari kedua pasca gempa, gaung solidaritas sosial merebak kemana-mana. Nyaris tak ada stasiun televisi, radio dan media cetak yang melewatkan momen bencana gempa ini untuk saling bahu-membahu menggalang bantuan. Individu-individu yang peduli pada korban gempa berupaya menggalang bantuan dengan caranya sendiri. Relawan berdatangan dari mana-mana. Kelompok-kelompok organisasi non-formal seperti berebut untuk membantu. Belum lagi organisasi formal yang mengusung aneka warna bendera. Tak terkecuali masyarakat internasional pun berdatangan. Berbagai bentuk bantuan seakan-akan tumplek-bleg ke Jogja.

Jogja jadi semakin terkenal. Kota Bantul naik daun. Kalau dulu orang mudanya rada-rada malu menyebut asalnya dari Bantul, kini semua seakan bangga menyebut nama Bantul. Bahkan banyak masyarakat Jogja (apalagi yang pendatang) yang selama ini tidak pernah mengenal kecamatan Bambanglipuro (kedengaran aneh dan mengingatnya pun susah), kini semua orang sangat lancar menyebutnya.

***

Jangan heran kalau di hari-hari awal pasca gempa, jalur lalu lintas Jogja – Bantul luar biasa padatnya. Padat oleh mereka yang bergerak untuk mengungsi. Padat oleh mereka yang minta sumbangan di jalan. Padat oleh mereka yang midar-mider mencari kebutuhan hidup mengingat banyak toko pada tutup. Padat oleh mereka yang berdatangan ingin menyaksikan tingkat kerusakan kota dan perkampungan akibat gempa. Padat oleh kendaraan relawan dan kelompok-kelompok pemberi bantuan. Ditambah lagi dengan konvoi kendaraan pengangkut bantuan yang kesana-kemari. Ngebut lagi!.

Uedan tenan…! Sungguh membuat saya hueran bin gumun. Kendaraan-kendaraan pengangkut bantuan ini rupanya merasa dirinya sebagai pemakai jalan yang harus diutamakan. Akibatnya, tidak perduli jalan sempit dan ramai, konvoi kendaraan-kendaraan ini tetap memaksakan diri untuk bergerak cepat. Malah cenderung membahayakan pemakai jalan lainnya. Apalagi kalau kendaraan yang dipakai adalah kendaraan non-sipil (untuk tidak menyebut militer). Lampu pengatur lalu-lintas seperti tidak berfungsi.

Barangkali bisa menjadi masukan untuk merevisi undang-undang atau peraturan lalu lintas. Selain mobil ambulan, pejabat, pemadam kebakaran, maka mobil pembawa bantuan untuk korban bencana alam agaknya harus termasuk juga ke dalam golongan kendaraan yang harus didahulukan untuk diberi jalan. Meskipun tidak masuk akal, tapi prakteknya demikian.

Lha, kalau hanya membawa mie instan, beras, gula, susu, air mineral atau pakaian bekas, mau tiba di tempat tujuan jam 7 atau jam 8, apa bedanya? Tidak akan berpengaruh terhadap keselamatan jiwa korban bencana. Tapi ya tetap saja, kalau bisa sampainya jam 6 tapi sudah narik dua trip. Maka sopir-sopirnya pun seperti kesetanan. Dan siapapun pemakai jalan pada saat itu harus berlapang dada untuk mengalah. Semua orang harus mafhum, karena semua orang pula ingin menjadi yang teristimewa. “Mau ngirim bantuan, je…“, begitu kata wong Jogja.

Ya, sudah… Yang penting semua atas dasar niat baik untuk membantu sesamanya. Perlu digarisbawahi pada kata “niat baik”. Karena rupanya selalu ada oknum-oknum yang mancing di air buthek. Meski dibantah oleh pak polisi. Tapi sudah menjadi rahasia umum yang banyak diceritakan orang dari berbagai lokasi bencana. Mula-mula datang sebagai “relawan” membagi-bagikan mie instant. Begitu ada yang lengah, beberapa sepeda motor diangkut oleh teman-teman “relawan” ini. Barang-barang di rumah yang ditinggal mengungsi pun dijarah. Suasana memang menunjang, karena listrik masih padam, sementara setiap orang sedang pusing dengan dirinya sendiri dan keluarganya. Akibatnya, masyarakat korban gempa menjadi sensitif kalau ada orang tak dikenal datang pada saat sore atau malam hari. Ini memang cerita selingan saja, meski tidak diragukan kebenarannya.

***

Hal yang selalu mengundang kritik ketika terjadi bencana alam adalah lambatnya distribusi bantuan. Tak terkecuali dengan yang terjadi di Jogja, Bantul dan sekitarnya. Hari kedua pasca gempa, bantuan seperti mbanyu mili…, mengalir deras dari mana-mana. Tapi di radio, televisi dan surat kabar banyak dikeluhkan masyarakat yang tak juga kunjung menerima bantuan. Rasanya tidak percaya. Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Prosedur yang kelewat berbelit? Sistem yang terlalu birokratis? Atau, petugasnya kami-tenggengen (terbengong-bengong) tidak tahu apa yang harus dilakukan? Sehingga bantuan hanya menumpuk dan tidak segera disalurkan? Masih lebih baik kalau tidak disimpan oleh oknum nakal untuk dirinya sendiri.

Maka sangat dipahami kalau kemudian pihak-pihak swasta, lembaga swadaya atau pribadi-pribadi, memilih untuk menyalurkannya sendiri bantuan yang mereka telah himpun. Langsung ke sasaran dan tidak khawatir dikorup oleh oknum. Tapi ada juga kelemahannya. Terkadang satu kelompok korban memperoleh kelewat banyak bantuan, korban lainnya sama sekali belum menerima apa-apa. Apalagi kalau lokasi korban berada jauh dari akses jalan terdekat.

Itulah yang terjadi dengan masyarakat korban gempa yang berada antara lain di lereng-lereng perbukitan sebelah timur Piyungan – Prambanan. Kawasan ini kurang “populer” dan jauh dari jalan raya yang bisa diakses oleh kendaraan roda empat. Bantuan dari pemerintah belum menyentuh, kecuali dari lembaga-lembaga swasta. Ke sanalah saya akan mengarahkan bantuan yang saya terima sebagai titipan dari beberapa rekan. Insya Allah tidak akan percuma, apapun bentuknya.

Umbulharjo, Yogyakarta – 8 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (10)

18 Desember 2007

Gempa terjadi di Jogja dan sekitarnya dan sebagian kawasan selatan Jawa Tengah. Jelas ini bukan di Aceh, atau Nias atau Papua, dimana infrastruktur perhubungan menjadi kendala. Ini di Jogja, yang jalan-jalannya hingga pelosok desa relatif hampir semua sudah beraspal halus, setidak-tidaknya masih lebih mudah dijangkau. Sarana transportasi pun nyaris bukan halangan. Tapi kenapa manajemen distribusi bantuan kepada korban gempa sepertinya amburadul.

Begitulah setiap kali kita dengar komentar yang berhamburan di radio dan media lainnya. Sistem manajemen distribusi bantuan seringkali menjadi sorotan. Semua orang geregetan. Semua orang seperti mau marah. Sepertinya kita ini orang-orang bodoh yang tidak pernah bisa belajar dari penanganan korban bencana yang bertubi-tubi dialami oleh bangsa Indonesia (kalau kalimat ini saya terus-teruskan, bisa-bisa saya ikut-ikutan menghujat orang lain…..).

Atau memang kita ini terbiasa baru mau belajar setelah mengalaminya sendiri. Ketika bencana sedang dialami orang lain, kita pikir kita lolos dan tidak akan mengalaminya. Makanya malas untuk belajar. Ketika bencana itu benar-benar terjadi pada diri kita, barulah kita ngeh dan lalu bekerja sambil belajar (sambil berdoa juga, kalau sempat…). Nanti setelah bencana ini berlalu, kita semua akan sibuk rapat-rapat untuk melakukan evaluasi dan menyusun sistem manajemen penanganan korban gempa bumi.

Tapi ya sudah lewat. Menurut sejarah dan “gathukologi” (ilmu gathuk), gempa besar kemungkinan bisa terjadi lagi seratus-dua ratus tahun yang akan datang di wilayah yang sama. Dokumen sistem manajemen penanganan bencana yang kita susun berbulan-bulan itu sudah dimakan rayap di perpustakaan. Lalu kita baru akan bekerja lagi sambil belajar ketika (entah kapan) terjadi lagi gempa besar. Begitu seterusnya. Bukan hanya Jogja, melainkan juga Aceh, Nias, Lampung, Bengkulu, Sulawei Utara, Papua, Nusa Tenggara Timur, dsb.

Maka kalau ada yang bisa saya sarankan kepada masyarakat yang selama ini “belum” pernah mengalami bencana besar. Bersiap-siaplah. Sekaranglah saatnya melakukan studi banding ke Jogja. Belajarlah ke Jogja, bagaimana seharusnya sistem manajemen penanganan korban bencana itu dilakukan. Kemudian lakukanlah seminar-seminar, sarasehan, diskusi, lokakarya, konferensi, simposium, kolokium, baik yang ilmiah maupun tidak ilmiah, guna merumuskan sebuah cetak biru sistem manajemen penanganan bencana yang paling pas buat daerah masing-masing.

Saya sama sekali tidak bermaksud maidu (menyalahkan). Antara manajemen krisis dan krisis manajemen memang hanya dua kata yang dibolak-balik saja. Dalam kondisi badan lagi fresh, fit, segar-bugar, habis minum kopi, kedua hal itu dapat dipahami dan dirunut dengan jelas. Namun ketika pikiran sedang buthek, panik, dicaci setiap orang, maka sepertinya susah untuk membedakan antara keduanya. Apalagi bagi bangsa Indonesia yang lagi enggak enak badan. Bangsa Jepang dan Amerika yang sehat wal-ngafiat saja kalang-kabut dan dicaci di sana-sini ketika amburadul menangani korban gempa hebat di Kobe dan badai tropis di New Orleans.

***

Belum lepas dari ingatan kita, setahun yang lalu Jogja pernah geger-genjik bakal diterpa badai tropis dari laut kidul. Segala macam persiapan sudah dilakukan oleh setiap orang kalau benar-benar bencana badai tropis itu terjadi. Dari persiapan fisik, lahir-batin, moril-materiil, sampai bikin sayur lodeh tujuh macam. Pendeknya, masyarakat Jogja bersama pemimpinnya sudah siap tempur kalau bencana itu datang. Eee…, badai tropis urung berkunjung.

Sebulan yang lalu hingga sebelum gempa, semua orang terutama yang tinggal di seputaran kawasan gunung Merapi bersama mBah Marijan, sepertinya sudah benar-benar siap lahir-batin menghadapi amukan letusan Merapi. Semua jurus pengamanan, pengungsian, tanggap-darurat sudah dipersiapkan dengan matang. Belum sempat bencana itu terjadi (tentunya mudah-mudahan ya tidak terjadi, atau kalaupun terjadi janganlah sampai menelan korban…..), datanglah gempa dahsyat yang menelan korban ribuan jiwa dan milyaran harta benda. Dan, kalang-kabutlah semua orang karena tidak siap dengan serangan fajar gempa tak dinyana-nyana…

Apa benang merahnya? Sumprit..., ini hanya anekdot versi saya, sebelum saya akhiri catatan panjang saya.

Saya melihat, bahwa aba-aba ancaman badai tropis adalah “test case” pertama dari Sang Empunya Bumi. Ternyata : Ooo… masyarakat Jogja sudah siap to….. Lalu aba-aba datang lagi dengan ancaman Merapi sebagai “test case” kedua. Ternyata juga : Ooooooo… elok tenan (bagus sekali) masyarakat Jogja memang sudah siap. Nah, saiki tak wenehi (sekarang Saya kasih) “test case” ketiga tanpa aba-aba. Hurug-hurug-hurug-hurug….., cukup 57 detik saja!. Wee… ternyata wong Jogja ini cuma adigang-adigung suka menyepelekan ayat-ayatnya Sang Empunya Hidup…..

***

Well…, Merapi tadi pagi memuntahkan awan panas dan guguran lava sangat besar dan terbesar selama ini. Sehingga semua orang kalang kabut mengira Merapi meletus. Siangnya gempa agak kuat kembali mengguncang membuat semua orang panik dan berhamburan.

Maka, “aba-aba” seperti apa lagi yang dibutuhkan agar manusia ini tidak lupa bersimpuh dan bersyukur atas semua nikmat yang telah diperolehnya?

Umbulharjo, Yogyakarta – 8 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (11)

18 Desember 2007

Beberapa hari yang lalu saya menerima transfer sejumlah uang dari seorang rekan yang katanya pembaca setia “dongengan” saya. Beliau berniat membantu korban bencana gempa Jogja tapi kesulitan menyalurkannya (suka menjadi bagian saya kalau sudah urusan yang sulit-sulit…..). Berhubung beliaunya ini tinggal di tempat yang jauuuh…, yang ketika di Jogja Sabtu pagi ada gempa, di kotanya “belum”, karena masih Jum’at sore.

Maka dengan senang hati saya akan membantu menyalurkannya. Meski sudah dua minggu gempa Jogja berlalu, informasi yang saya terima mengatakan masih ada lokasi-lokasi yang seret bantuan, terutama wilayah yang jauh dari akses jalan besar. Kesanalah saya hendak menuju, antara lain di sisi timur jalan raya Piyungan – Prambanan dan di kawasan perengan bukit Patuk yang memang berada di seputaran jalur sesar aktif Piyungan – Prambanan.

Secepatnya saya belanja ke sebuah toko grosir, setumpuk mie instan dan beras yang sudah diplastiki 5 kilograman pun memenuhi kendaraan keluarga, sekijang munjung. Ini bukan acara kulakan untuk “Madurejo Swalayan”, tapi untuk persiapan nge-drop bantuan bahan makanan bersama rekan lain dari desa Madurejo. Meski stok barang dagangan di “Madurejo Swalayan” sebenarnya juga menipis, tapi saya belum berencana untuk kulakan banyak-banyak. Menunggu situasi pasar dan kehidupan masyarakat kembali normal. Sales-sales pun belum banyak yang berkeliling beroperasi.

Rupanya ada juga sales-sales yang nekat. Berkeliling bukannya ngecek barang dagangan produknya, tapi malah mengajukan “inkaso”, ini istilah untuk menagih pembayaran tunda yang sudah jatuh tempo. Terang saja, dibayar dengan kata “maaf”. Lha, wong lagi kayak gini, kok ya tega-teganya nagih utang. Ya, memang haknya, tapi mbok ya rada ngerti sedikit gitu lho…., bahwa beberapa minggu ini tidak ada pemasukan berarti.

Mendadak saya mesti ke Jakarta untuk urusan satu dan lain hal (ini bahasa diplomatis para birokrat), terpaksa pengiriman bantuan ditunda dua hari sekalian sambil menunggu datangnya tambahan bantuan dari luar daerah yang diperkirakan akan datang hari Sabtu ini.

***

Di Jakarta, meski hanya sehari, saya sempatkan untuk menilpun ke rumah. Harap maklum saja, di saat-saat seperti ini memang rada gamang sebenarnya untuk meninggalkan keluarga agak lama dan jauh. Rupanya Jum’at pagi kemarin terjadi gempa susulan cukup kuat yang membuat sebagian masyarakat Jogja dan sekitarnya cukup panik dan berhamburan ke luar ruangan. Begitu cerita istri saya, diperjelas pula oleh berita koran lokal “Kedaulatan Rakyat” yang saya baca tadi pagi.

Di stasiun Gambir tadi malam, sepur Argo Lawu yang akan mengantarkan saya kembali ke Jogja (bersama ratusan penumpang yang lain, tentunya) akan berangkat setengah jam lagi. Sambil makan nasi rawon yang tidak seberapa enak dan jus tomat, di sebuah kantin di lantai dua stasiun Gambir, tiba-tiba saya terkesiap selama sepersekian detik, ketika terdengar bunyi gemuruh hurug-hurug-hurug….. Rupanya sebuah kereta sedang melintas di lantai atas stasiun. Mirip seperti itulah gemuruhnya suara gempa di Yogyakarta pada Sabtu pagi, 27 Mei yang lalu.

Bagi mereka yang belum bisa membayangkan seperti apa gemuruhnya gempa di Jogja, yang saya alami ketika sedang berada di dalam rumah yang kebetulan struktur bangunannya agak tinggi, maka cobalah untuk berada di lantai dua stasiun Gambir. Bagi warga paguyuban PJKA (Pulang Jum’at Kembali Ahad), tentu mudah untuk melakukan rekonstruksi ini. Tunggulah beberapa saat sampai sebuah kereta lewat di atasnya. Boleh juga dipraktekkan untuk bertepuk tangan dan berteriak keras seperti yang saya lakukan pada 27 Mei pagi itu….. Jangan khawatir dilihat orang. Tidak akan ada orang yang perduli pada Anda (paling-paling disenyumi manis…), karena tepuk tangan dan teriakan Anda akan hilang tertelan suara gemuruh kereta yang sedang melintas di atas stasiun.

***

Intensitas gemuruhnya suara getaran gempa tentu tidak sama dan tidak merata, tergantung lokasi bangunan tempat kita berdiri dan struktur bangunannya. Gemuruh paling kuat akan dirasakan ketika berada di dalam rumah tingkat atau bangunan tembok yang tinggi. Bangunan dengan struktur dominan kayu (apalagi kalau kayunya sudah tua) tentu gemuruhnya lebih lembut dan hanya sebentar, sebab keburu rubuh atau kita yang kerubuhan….. Sedangkan struktur rumah tembok satu lantai, tingkat kegemuruhannya juga agak rendah. Tapi tetap saja bergemuruh dan kedengaran menakutkan, apalagi kalau sempat melihat dinding-dinding tinggi bangunannya bergoyang-goyang.

Kini, masyarakat Jogja masih sumelang (was-was), ditambah lagi isu menyesatkan masih berseliweran, jangan-jangan gempa dahsyat yang terjadi Sabtu pagi itu akan berulang. Sangat-sangat dapat dimaklumi kalau sampai kini pun masih ada orang-orang yang takut tidur di dalam rumah, apalagi di lantai atas. Beberapa tetangga saya hingga sekarang masih tidur malam di teras rumah, bahkan televisinya pun dipasang di luar rumah. Sekalian ronda, sekalian nonton Piala Dunia, barangkali. Syukurnya, keluarga saya sudah mulai pulih dari trauma kepanikan, kami sudah mulai merasa rada leluasa tidur di dalam rumah. Meskipun kalau gempa susulan sesekali terjadi, sempat mak tratap…, njenggirat kaget

Gempa-gempa susulan masih terus berulang terjadi hingga memasuki minggu ketiga pasca gempa. Gema suara gemuruhnya seperti masih menghantui, pada setiap kali gempa susulan terjadi. Masih banyak orang yang mengalami trauma psikologis yang ternyata memang tidak mudah untuk menetralisirnya. Masih ada kereta yang akan lewat di atas stasiun Gambir.

Masih ada gemuruh membayangi. Dan masih ada, bahkan banyak orang-orang dan terutama anak-anak yang perlu dibantu mengatasi trauma psikologis pasca gempa. Saya yakin ini bukan pekerjaan mudah. Sebagaimana korban-korban bencana alam di tempat lain, masih banyak diperlukan relawan untuk kerja sulit ini hingga waktu yang panjang pasca gempa.

Madurejo, Sleman – 10 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (13)

18 Desember 2007

Tiba-tiba saya ingat kepada bekas tetangga saya yang dulu pernah memberi saya seekor pitik ayam alas. Dia tinggal di Imogiri. Pikiran saya cepat melayang jauh ke sana, sebab saya tahu bahwa Imogiri adalah salah satu wilayah yang cukup parah terkena gempa. Bukan hanya perumahan penduduknya yang porak-poranda, bahkan kompleks makam raja-raja Ngayogyokarta Hadiningrat pun tak lepas dari kerusakan akibat goyangan gempa.

Hari Senin siang yang lalu saya meluncur ke Imogiri sambil membawa sisa titipan bantuan dari seorang teman yang tinggal jauh di seberang lautan sana. Setiba di jalan utama menjelang pasar, yang terlihat sepertinya hanya bangunan toko dan rumah-rumah penduduk yang roboh di sepanjang kiri-kanan jalan. Saya coba berkendaraan perlahan sambil tolah-toleh dimana rumah bekas tetangga saya itu. Lho, kok rumahnya hilang?

Ternyata rumahnya roboh. Rumah tetangganya yang di depan, belakang, kiri dan kanannya juga roboh. Makanya rumah bekas tetangga saya itu seperti hilang berada di tengah reruntuhan satu kawasan. Tidak jauh dari rumahnya, di seberang jalan, di teras rumah saudaranya yang kebetulan tidak “terlalu” roboh, melainkan miring-miring arep (mau) ambruk, saya lihat istrinya sedang menyiap-nyiapkan minuman dan makanan gorengan. Dalam hati saya bertanya : untuk apa, atau untuk siapa? Apakah nyambi jual teh hangat dan gorengan? Karena memang tidak banyak yang dapat dikerjakan oleh mereka yang menjadi korban gempa di minggu-minggu awal pasca gempa.

Setelah ikutan duduk di teras itu, sambil ngobrol-ngobrol, ya masih cerita tentang aneka pengalaman pergempaan tentunya, barulah saya tahu. Bukan hanya tahu, tapi trenyuh atiku dibuatnya. Pertanyaan basa-basi yang saya ajukan dengan hati-hati bernada serius : “Apakah nyambi jual minuman?”. Jawabnya sungguh membuat saya malu pada diri sendiri. “Inggih mboten, pak (Ya, tidak, pak)…”. Sambil rada nyengenges sang istri berkata : “Wong ini sekedar menyediakan untuk siapa saja yang membutuhkan, siapa saja yang kehausan di jalan. Ya, orang lewat, ya bakul pasar, ya para tukang yang sedang kerja membersihkan reruntuhan. Siapa saja silakan mengambil sendiri kalau mau…”, begitu kira-kira lanjutnya. Mak deg, atiku.

Hebat sekali orang ini. Lha wong rumahnya rubuh, tidur di “tenda-tendaan”, makan ya masih tergantung suplai orang lain, kok sempat-sempatnya menjerang air di pinggir jalan dan menyediakan teh hangat gratis buat siapa saja, teh manis lagi… Malah kalau ada kerabat dekatnya yang datang, seperti saya dan anak saya siang itu, lalu disuguhi bakwan goreng. Bener-bener ora tinemu ning akal (tidak masuk logika saya). Tapi ya…, yang namanya berbuat amal saleh menolong sesama itu nampaknya tidak memerlukan logika, dan memang tidak usah dilogika. Kalau memang sudah krenteg mau berbuat baik, “just do it”! Selebihnya biar Sang Maha Pemberi Rejeki yang mengurusnya… Menurut ungkapan populernya : Gusti Allah mboten sare (Tuhan itu tidak tidur)….. Mau ditinggal tidur segenap mahluk-Nya pun Dia tetap mboten sare…..

Setinggi-tingginya dan selama-lamanya saya pernah belajar (perlu saya tekankan pada kata selama-lamanya, sebab saya bersyukur bisa nggondhol pangkat sarjana setelah melalui semester 18….. Ing wayah semono, di jaman itu…..), dan sejauh-jauhnya saya pernah menuntut ngelmu dan pengalaman. Ternyata saya justru memperoleh pelajaran hidup sangat berharga dari bekas tetangga saya, orang Imogiri, tidak jauh-jauh dari tempat tinggal saya.

***

Bekas tetangga saya ini sempat mengajak saya melihat-lihat rumahnya dan rumah-rumah tetangganya. Rata-rata tinggal menyisakan sekitar setengah meter tinggi dinding batanya. Kalau saya cermati, kebanyakan rumah-rumah yang roboh di kawasan pedesaan ini adalah bangunan lama (meski tidak semuanya begitu, banyak juga bangunan baru yang ikut roboh). Tipikal bangunan kuno di pinggiran Jogja adalah berdinding tebal, karena dindingnya tersusun dari dua batu bata berjejer atau kalau tidak ya dipasang melintang, maka tebal dindingnya adalah dua kali (ada juga yang lebih) tebal dinding bata pada umumnya bangunan sekarang.

Namun adonan pasangannya tidak menggunakan pasir, gamping dan semen, melainkan campuran tanah liat atau lempung, bubuk bata merah dan gamping, dan sangat jarang yang menggunakan campuran semen. Selain itu, umumnya tidak menggunakan rangka penguat yang biasanya berupa kolom cor-coran dan besi batangan. Bahkan di sudut-sudut bangunannya pun hanya mengandalkan cara pemasangan batu bata yang disilang-menyilang. Kemudian rangka atapnya atau wuwungan, hanya menempel atau tergeletak di atas dinding batanya. Karuan saja, sangat rentan terhadap goyangan dan geseran.

Pertanyaannya, kenapa orang Jogja berani membuat struktur bangunan seperti ini? Termasuk bangunan-bangunan kuno milik keraton? Jawabnya mudah, karena orang Jogja tidak pernah menyangka ada gempa berkekuatan besar dapat melanda. Tidak juga pernah ada cerita temurun-turun dari embah buyutnya embah bahwa dahulu kala Sang Ontorejo Yang Maha Penguasa Perut Bumi pernah ngolet (menggeliat) di dalam buminya Jogja.

Kata kuncinya adalah “tidak pernah menyangka”. Maka, waspadalah para penduduk bumi di belahan lain yang selama ini anteng-anteng saja dan “tidak pernah menyangka”. Potensi gangguan alam bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dari mana saja, menimpa siapa saja, dengan atau tanpa peringatan dini. Tapi pasti ada ilmu yang bisa “dibaca”.

***

Bekas tetangga saya ini bersama anaknya kemudian mengantarkan saya mendistribusikan bantuan logistik ke kawasan Imogiri selatan. Kami menuju ke dukuh Karang Rejek, desa Karang Tengah, kira-kira dua kilometer tenggara pasar Imogiri. Sedikit menaiki dan menuruni lereng bukit, melalui jalan kecil selebar pas satu kendaraan. Hampir semua rumah di pedukuhan itu roboh, ada juga yang masih berdiri tapi tidak aman ditempati karena retak parah disana-sini.

Dari Karang Rejek, saya melanjutkan ke dukuh Srunggan, masih di desa Karang Tengah, sekitar tiga kilometer selatan pasar Imogiri. Di pedukuhan ini juga sebagian besar rumah roboh atau rusak parah. Yang pasti pemiliknya tidak lagi berani menempati. Mereka masih tidur di tenda-tenda. Ada yang masih berupa tenda-tendaan, sekedar atap kedap air dihalangi dinding seadanya. Namun di beberapa tempat saya lihat ada yang sudah dipasang tenda bagus dan terlihat baru berbentuk setengah silinder tengkurap (sebab kalau tengadah ya susah didirikan), bantuan dari Bulan Sabit Merah Internasional.

Perjalanan pengiriman bantuan siang hingga sore itu saya akhiri dengan berkendaraan mengelilingi kota kecamatan Imogiri, Bantul, dan kawasan sekitarnya. Betapa kerusakan merata di seluas kawasan yang saya lewati. Minggu ketiga pasca gempa ini kebanyakan masyarakat mulai melakukan bersih-bersih di wilayah masing-masing. Kebutuhan logistik sudah mulai tercukupi, meski masih dibutuhkan. Kebutuhan peralatan pertukangan mulai banyak diperlukan untuk membongkar reruntuhan dan ada juga yang mulai mendirikan tempat berteduh seadanya.

Umbulharjo,Yogyakarta – 16 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (14)

18 Desember 2007

Seperti yang dilakukan oleh banyak kelompok masyarakat, baik yang berasal dari kota Jogja sendiri maupun dari luar Jogja, posko-posko bencana gempa Jogja bermunculan di berbagai penjuru kota. Mereka mengkoordinasi berbagai bantuan yang berhasil diterima dan dikumpulkan, lalu menyalurkannya langsung kepada kelompok-kelompok masyarakat di berbagai titik lokasi korban gempa. Langsung kepada para korban. Entah mengapa mereka umumnya tidak mau menyerahkannya melalui posko-posko yang dibangun pemerintah, melainkan memilih untuk menyalurkannya sendiri. Berbaik-sangka sajalah, barangkali agar bisa turut merasakan langsung seperti apa beban derita mereka yang menjadi korban.

Teman-teman saya yang mantan pegawai Freeport, Papua, juga membentuk posko peduli gempa Jogja. Segenap rekan dan sesama mantan pegawai Freeport yang tinggal di luar Jogja lalu dihubungi, barangkali berniat menyampaikan sekedar bantuan, maka posko peduli gempa siap membantu menyalurkannya. Tidak terkecuali segenap rekan yang masih aktif bekerja di Papua juga menggalang dana.

Akhirnya terkumpullah sejumlah dana yang segera dibelikan nasi bungkus, sembako, susu, tenda, selimut, peralatan masak, dsb. Semua didistribusikan sebagai tindakan tanggap darurat bagi korban gempa, ke seganap penjuru wilayah Jogja, Bantul, Sleman, Gunung Kidul dan Klaten. Mulai dari pembagian nasi bungkus ke rumah sakit-rumah sakit hingga bantuan sembako ke pelosok desa. Sebagian di antaranya adalah keluarga karyawan Freeport yang rumahnya roboh atau rusak berat. Kini, posko peduli gempa siap-siap memasuki tahap rekonstruksi atau rehabilitasi. Sejumlah dana yang masih digalang di Papua akan segera menyusul untuk disalurkan.

Hari Rabu yang lalu, sejumlah paket bantuan logistik yang masih tersisa di posko saya bawa ke lokasi yang termasuk terpencil, yang selama dua minggu ini masih seret bantuan (saya menyukai urusan yang sulit-sulit seperti ini…). Berombongan bersama beberapa teman, saya kembali membawa rombongan menuju ke desa Terong, kecamatan Dlingo, Bantul. Ini adalah wilayah Bantul di pinggir timur laut yang berbatasan dengan Gunung Kidul. Melalui jalan Wonosari yang mendaki, sampai di Patuk membelok ke barat ke arah Dlingo. Menyusuri pinggiran terbuka sisi barat laut bukit Patuk ini berpemandangan indah, apalagi saat senja hari, seperti yang saya alami hari Sabtu sebelumnya. Memandang ke arah barat daya, terbentang kota Yogyakarta dan sekitarnya terlihat dari ketinggian. Sesampai di sekitar kilometer enam lalu berbelok ke selatan menuruni bukit Patuk.

Lokasinya berdekatan dengan yang saya datangi hari Sabtu sore sebelumnya, namun beda pedukuhan dan beda kampung. Kami lalu menuju ke dukuh Joho, melalui jalan desa berupa tanah berbatu, naik dan turun perbukitan, membelah kawasan tegalan atau ladang penduduk sampai mentok ke ujung pedukuhan. Sebelumnya daerah ini sulit dijangkau karena satu-satunya jalan penghubung dengan jalan besar tertutup longsoran. Dari sekitar 450 jiwa warganya banyak mengalami cedera, tidak ada korban meninggal dunia. Namun tidak perlu ditanyakan lagi jumlah rumah yang roboh, semua penduduknya kini tinggal di bawah tenda seadanya.

Dengan masih adanya gempa-gempa susulan yang sangat terasa di daerah ini, hingga minggu ketiga pasca gempa mereka belum cukup punya nyali untuk mulai membenahi rumahnya yang berantakan. Malah ada yang terpaksa tinggal bersama sapi-sapinya, karena rupanya konstruksi kandang sapi lebih aman terhadap potensi roboh oleh gempa. Ya…, tinggal di kandang sapi, akrab berbagi tempat bersama sapi-sapinya.

Karena lokasinya yang tidak mudah dicapai, boro-boro terlihat dari jalan besar, maka tidak banyak bantuan yang sampai ke dukuh ini, kecuali memperoleh cipratan bantuan dari pemerintah pedukuhan atau RT lain. Menurut catatan petugas posko di sini, hanya ada sedikit bantuan yang masuk, dua atau tiga kali diantaranya berupa bantuan agak banyak yang pernah mereka terima. Bandingkan dengan mereka yang tinggal di kawasan yang mudah dicapai, puluhan paket bantuan pasti sudah mereka terima sejak gempa terjadi 27 Mei yang lalu.

Namun mereka toh tidak nggrundel, mengeluh atau protes. Ya memang begitulah adanya. Yang penting masih bisa terpenuhi kebutuhan makan sehari-hari melalui dapur umum. Anak-anak mereka pun masih bisa pergi ke sekolah. Bal-balan Piala Dunia juga masih dapat mereka saksikan. Beruntung, kalau malam listrik sudah nyala untuk beberapa jam lamanya.

Dari dukuh Joho kami menuju dukuh Pencitrejo, pedukuhan yang sama dengan yang saya datangi hari Sabtu sore sebelumnya, namun kini kami menuju ke wilayah RT berbeda. Pembagian administratif di pedesaan ini memang rada membingungkan kalau belum familiar. Saya pun susah mengingatnya. Ada desa, lalu ada dukuh, lalu ada lagi dusun (terkadang disebut RW). Dalam satu dusun bisa terdiri dari banyak RT.

Nasib korban gempa di Pencitrejo RT 03 ini tidak beda jauh dengan warga Joho. Lokasinya tidak mudah diakses dari jalan besar. Sekitar 70 jiwa warganya masih tidur di tenda-tenda. Dapat dikatakan semua rumahnya roboh. Beberapa warga ada yang sudah berani mulai bersih-bersih rumah. Ya bersih-bersih saja, wong rumahnya roboh dan tidak bisa ditempati. Sebagian di antara rumah-rumah mereka berada di lereng, dimana banyak tanah yang merekah dan batu-batu besar menggelinding dari tempatnya semula saat gempa terjadi.

Dalam perjalanan pulang dari Pencitrejo, saya ketemu dengan petani yang sedang memanen singkong. Rasanya senang sekali memandangnya. Hasil panenannya ditimbun di tepi jalan desa yang hanya pas selebar kendaraan. Saya tergoda untuk berhenti, lalu akhirnya kepingin membeli sekadarnya. Saya sodorkan selembar uang lima ribuan. Rupanya malah ditukar dengan sekantong singkong banyak sekali. Lumayan untuk dibuat balok (singkong goreng) bekal ronda malamnya. Namanya juga tinggal di kampung.

***

Sejauh ini, tindakan tanggap darurat baik yang digerakkan oleh pemerintah maupun oleh spontanitas lembaga swadaya maupun individu masyarakat telah terbangun dengan baik sekali. Praktis semua lini pertahanan hidup dapat dikelola dengan sinergi yang manis. Semua pihak bahu-membahu membangun solidaritas sosial lintas batas. Para korban gempa yang rumahnya luluh-lantak pun tidak merasa sendirian. Banyak pihak merasa perduli untuk berbagi penderitaan, berbagi suka-duka dan berbagi nikmat.

Mereka para korban gempa mulai dapat tidur nyenyak di tenda-tenda darurat, sambil bermimpi kapan janji Pak De Jusuf Kalla yang hendak menabur bantuan Rp 10 juta hingga Rp 30 juta segera turun dari langit Jogja yang sesekali kelabu kecipratan abu Merapi. Listrik mulai mengalir dan hajatan bal-balan di Jerman pun dapat mengisi hari-hari malam dingin mereka. Beras berkarung-karung berlabel Bulog juga mulai berdatangan ke posko-posko bencana yang ada di hampir setiap pedukuhan. Petugas pemerintah yang akan membagikan uang lauk-pauk sebesar Rp 3.000,- per jiwa per hari dan tunjangan hidup Rp 100.000,- per bulan juga mulai sibuk mendata warganya, ada yang sudah mulai menerimanya, sebagian lainnya masih H2C (harap-harap cemas).

Maka kemudian muncul pertanyaan sederhana : Sampai kapankah mereka akan mampu bertahan dalam kondisi seperti itu? Sebab kini relawan domestik maupun mancanegara berangsur-angsur sudah mulai hengkang kembali ke kehidupannya masing-masing. Bantuan logistik tentu akan tiba saatnya menyurut. Orang-orang yang selama ini sangat perduli untuk berbagi tentu akan habis juga apa yang dapat dibaginya. Piala Dunia pun akan mencapai finalnya.

Akan tiba saatnya mereka para korban gempa kembali sendirian. Sendiri dengan problem keluarganya. Sendiri dengan rumahnya yang belum ada gantinya. Sendiri dengan anak-anaknya yang segera masuk sekolah. Sendiri dengan tunjangan hidup yang terbatas. Sendiri dan dheleg-dheleg, apakah masih mampu bekerja dengan upah mencukupi. Orang-orang yang semula sangat antusias dengan kepeduliannya, lalu entah pada kemana. Pemerintah yang semula mati-matian mengurusi mereka, mulai sibuk dengan urusan kantor yang sekian lama “terbengkelai”.

Tahap rekonstruksi atau rehabilitasi atau entah program apa lagi namanya memang segera dimulai. Tapi ada sekian ribu rumah, sekian ribu jiwa, sekian ribu derita, lengkap dengan sekian ribu persoalannya, harus ditangani. Sungguh pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi pemerintah atau siapa saja.

Kerawanan sosial baru harusnya sudah mulai diantisipasi. Belum lagi kerawanan individual. Individu yang suka bersemangat lebih, seperti semangat mengumpulkan dana bantuan yang lebih, beras lebih, selimut lebih, mie instan lebih, susu lebih, tenda lebih, alat masak lebih dan kelebihan-kelebihan (kalau perlu, ya dilebih-lebihkan) lainnya…..

Umbulharjo,Yogyakarta – 16 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (15)

18 Desember 2007

Ada saweran di Jakarta. Persisnya dimana saya tidak tahu. Tapi tahu-tahu seseorang yang setia mengikuti “dongengan” saya tentang gempa Jogja ini kemudian memberitahukan bahwa uang hasil saweran bersama teman-temannya itu telah ditransfer ke rekening saya di Jogja.

Dari pengamatan saya selama mendistribusikan bantuan, nampaknya bantuan berupa logistik sudah hampir menjangkau semua lokasi, meskipun di beberapa lokasi awalnya nampak seret. Beberapa warga di lokasi yang sempat saya kunjungi memberitahukan bahwa mereka sangat butuh peralatan pertukangan. Karena pada minggu ketiga pasca gempa ini kebanyakan para korban gempa mulai melakukan gerakan gotong-royong membersihkan kampung dan rumahnya dari reruntuhan. Mereka telah mulai melakukannya dengan peralatan seadanya. Hanya sedikit lokasi yang saya baca informasinya di media masih memerlukan bantuan logistik, tenda dan selimut.

Mempertimbangkan hal itu, maka uang kiriman dari Jakarta itu akhirnya sebagian saya belikan beras dan sebagian besar lainnya saya belikan peralatan pertukangan, seperti sekop, cangkul, cethok, ember, linggis, tomblok (keranjang anyaman bambu) dan slenggrong (serok tangan).

***

Hari-hari ini jalan-jalan di Jogja dan sekitarnya penuh dengan timbunan reruntuhan bangunan. Hampir di setiap ujung gang, teronggok timbunan reruntuhan bangunan yang memang sengaja dikumpulkan di tepi jalan besar. Selanjutnya petugas dari pemerintah dibantu dengan personil TNI mengambil dan mengangkut material reruntuhan dengan truk-truk untuk ditimbun di tempat-tempat pembuangan yang telah ditentukan. Maka bagi mereka yang membutuhkan tanah urug, sekaranglah saat yang tepat untuk memperolehnya secara gratis, daripada beli tanah urug. Asal saja mau mengurus sendiri pengangkutannya.

Bagi para korban gempa di kawasan kota Jogja, pekerjaan pembersihan reruntuhan relatif lebih mudah, karena rumah yang runtuh jumlahnya lebih sedikit dibanding dengan yang masih berdiri tegak. Sehingga sarana pertukangan tidak terlalu sulit untuk memperolehnya. Mau beli, banyak toko bangunan menyediakannya. Pinjam tetangga pun masih bisa. Namun tidak demikian halnya dengan mereka yang tinggal di lokasi yang jauh dari kota yang hampir seluruh rumahnya rata dengan tanah. Peralatan pertukangan yang mereka miliki barangkali ikut tertimbun reruntuhan rumahnya. Bagi mereka itu, adanya pemberian bantuan peralatan pertukangan sangat mereka harapkan. Mereka pun sangat gembira ketika bantuan itu akhirnya datang juga.

Siang tadi saya mengunjungi empat pedukuhan yang kesemuanya berada di desa Sumberharjo, kecamatan Prambanan, Sleman. Masih terbilang tetangga desa dengan “Madurejo Swalayan”, meski jaraknya terpisah rada jauh. Peralatan pertukangan yang saya bawa pun saya bagi menjadi empat agar mudah mendistribusikannya. Saya ditemani oleh tetangga saya di Madurejo yang membawa mobil bak terbukanya, mengingat Kijang saya tentu tidak muat untuk mengangkut peralatan pertukangan yang saya beli.

Kawasan timur Jogja memang menjadi prioritas saya. Ini adalah kawasan terkena bencana yang berita keparahannya kalah “rating” dengan kawasan Bantul selatan. Padahal kawasan timur Jogja ini juga masih termasuk wilayah kabupaten Bantul yang berbatasan dengan kabupaten Sleman, Gunung Kidul dan Klaten. Karena juga berada di jalur sesar Opak yang aktif, maka tingkat kerusakannya tidak kalah dengan wilayah Bantul selatan dan tenggara, yang relatif lebih banyak didatangi tim bala bantuan.

Lokasi pertama yang saya datangi adalah dusun Gunung Gebang. Lokasinya tidak jauh dari jalan raya. Namun kondisi pedukuhan ini tidak terlihat dari jalan raya karena terbatasi oleh hamparan sawah dan pepohonan. Ketika saya memasukinya, sekitar dua kilometer ke arah timur dari jalan raya Prambanan – Piyungan, barulah saya tahu bahwa semua rumah warganya ambruk dan rusak berat karena gempa. Sekitar 950 jiwa warganya masih tinggal di tenda-tenda dan dilayani oleh dapur umum. Sebagian warganya sedang bergotong-royong menangani rumah-rumah yang roboh. Tentu mereka sangat senang menerima bantuan peralatan pertukangan yang sedang mereka butuhkan.

Dari Gunung Gebang saya menuju ke arah utara lalu ke timur lagi, lebih jauh ke dalam dari jalan raya Prambanan – Piyungan. Dusun Polangan namanya. Di wilayah ini pun semua rumahnya roboh dan rusak berat. Sekitar 450 warganya juga masih tinggal di tenda-tenda. Sebuah Sekolah Dasar tampak rusak berat, sehingga para murid pun belajar dan baru saja menyelesaikan ujian SD di tenda-tenda yang khusus dibangun menggantikan ruang kelas yang tidak aman lagi ditempati untuk kegiatan belajar-mengajar. Dusun ini tampak sepi, rupanya mereka sedang bergotong-royong membersihkan reruntuhan, sebagian lagi ada yang sudah mulai sibuk mengurus sawahnya yang saat ini sedang musim panen padi.

Dari Polangan saya bergerak semakin ke arah timur laut, semakin menjauh dari jalan raya, ke dusun Klero. Kondisi dusun ini pun tidak jauh berbeda. Meski jumlah rumah yang roboh tidak sebanyak pedukuhan lainnya, tapi umumnya kondisi rumah-rumah mereka tidak layak dan tidak aman untuk ditempati. Justru karena itu maka peralatan pertukangan akan sangat membantu mereka untuk sekalian saja meruntuhkan rumah yang nyaris roboh, sebelum nantinya malah merobohi penghuninya. Bantuan logistik nampaknya sudah mencukupi untuk waktu ini, namun peralatan pertukangan belum ada yang mengirimnya.

Menyusuri jalan-jalan desa sore tadi terasa menyenangkan. Dimana-mana hamparan sawah dengan padinya yang sudah mulai menguning. Di mana-mana pula ada kegiatan potong padi rame-rame. Tampak para petani sedang bersemangat memanen padinya. Sebagian padi hasil panenaannya ditimbun begitu saja di tepi jalan desa, sebagian orang ada yang mengangkutnya dengan sepeda motor. Tidak lagi dengan gerobak atau sepeda atau dipikul atau digendong. Damai hati ini rasanya menyaksikan pemandangan langka semacam itu.

Akhirnya sampailah saya di dusun paling timur, di lereng perbukitan, namanya dusun Sengir. Seminggu sebelumnya saya sudah mencapai desa ini untuk nge-drop bantuan sembako, karena kebetulan ada seorang pegawai “Madurejo Swalayan” yang rumahnya nyaris roboh tinggal di sini. Tapi sore tadi tujuan saya lebih jauh lagi, yaitu ke dusun Nglepen.

Jarak dari dusun Sengir ke dusun Nglepen sebenarnya hanya sekitar satu kilometer. Tapi untuk mencapainya mesti menempuh jalan terjal berupa tanah bebatuan, naik ke lereng atas kawasan perbukitan. Seekor Kijang warna hitam metalik yang terkadang digunakan untuk jalan-jalan bersama keluarga ke mal dan terkadang digunakan untuk kulakan ke toko grosir, sore tadi terseok-seok mendaki jalan terjal berbatu-batu. Muatannya penuh berisi beras dan peralatan pertukangan munjung, ditambah dengan enam orang penumpangnya termasuk sopir, Ini gara-gara mobil bak terbuka yang tadi membantu mengangkut alat pertukangan tidak berani ikut mendaki perbukitan.

***

Beberapa hari sebelumnya, dusun Nglepen ini hanya bisa dicapai dengan sepeda motor karena jalan utamanya terhalang longsoran. Bahkan sebelum itu dusun ini nyaris terisolir beberapa hari sejak gempa terjadi karena lokasinya memang tidak mudah dicapai. Kini para pejabat pemerintah setempat berduyun-duyun mengunjungi dusun ini silih berganti setiap hari. Apa gerangan yang menarik dari dusun ini?

Dusun yang hanya dihuni oleh sekitar 60 jiwa ini semua rumahnya roboh dan rusak berat. Tapi tunggu dulu, sepertinya ada beberapa rumah yang hilang ditelan bumi….. Ini peristiwa yang sulit dipercaya kalau bukan karena melihatnya sendiri. Ada sebentang tanahnya yang merekah sepanjang lebih 100 meter, dan mengakibatkan areal seluas sekitar 3 hektar bergeser ke arah barat sejauh 15 – 20 meter. Pergeseran sejauh itu tentu menyebabkan adanya rekahan yang sangat lebar sehingga seolah-olah apa saja yang tepat berada di atasnya seperti ambles bumi, ditarik Sang Ontorejo dari perut bumi…..

Masih tampak jelas garis-garis rekahan di seluruh kawasan yang bergeser ini. Warga yang tinggal di situ pun semula tidak percaya. Omah sak lemah-lemahe (rumah setanah-tanahnya) telah pindah dari lokasinya semula. Tapi faktanya, ada sebuah rumah yang kini bergeser ke barat sejauh 20 meter meninggalkan dapurnya yang masih berada di sisi timur rekahan. Demikian pula sebuah kandang sapi ditinggal rumah induknya yang bergeser ke barat. Pohon-pohon pisang dan kelapa menjadi seolah-olah tumbuh di dasar cerukan karena tanahnya amblas ke dalam rekahan sedalam sepuluh meteran. Beberapa rumah yang tepat berada di rekahan pun hancur berkeping-keping terbawa dasar tanahnya yang amblas. Sungguh beruntung peristiwa ini tidak memakan korban jiwa. Hanya longsornya beberapa bagian jalan desa sempat menyebabkan dusun ini terisolir dari bantuan hingga beberapa hari pasca gempa.

Barangkali kawasan ini tepat berada di salah satu bidang percabangan sesar Opak yang aktif. Hampir semua kawasan di sisi barat jalur rekahan ini rusak berat. Sementara kawasan yang berada di lokasi lebih tinggi di sisi timur rekahan nyaris tidak mengalami kerusakan berarti. Begitulah fenomena alam gempa dan peristiwa geologis, kalau harus memilih “korban”-nya. Peristiwa alam yang tidak dapat diduga dan tidak dapat diramalkan, tapi pasti ada yang bisa “dibaca”.

Warga dusun Nglepen merasa senang ketika ada yang mengirim peralatan pertukangan guna membantu pekerjaan mereka membenahi sisa-sisa reruntuhan rumahnya yang barangkali masih ada benda-benda yang dapat dimanfaatkan. Sebagian warganya kini minta direlokasi ke tempat lain.

Mestinya mereka yang paham ilmu geologi yang berduyun-duyun ke sana, mumpung rekahannya masih perawan dan bau tanah, dan belum tergerus erosi air hujan. Jangan-jangan ada bencana lain sedang menanti, ketika hujan deras mengguyur. Bukan para punggawa pemerintah yang hanya piya-piye terkagum-kagum lalu foto-foto, setelah itu pulang tidak tahu apa yang mesti dilakukan selain menulis laporan standar dan bercerita kepada tetangga-tetangganya…..

Umbulharjo,Yogyakarta – 17 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Ada Gempa Di Kotaku (16)

18 Desember 2007

Kemarin saya menerima lagi titipan uang dari teman yang minta disalurkan sebagai bantuan kepada korban gempa. Selain itu, kebetulan masih ada sedikit sisa dana transferan dari Texas dan saweran dari Jakarta. Akhirnya saya gabungkan semuanya lalu saya belikan beras, tikar dan alat pertukangan. Salah satu titipan itu datang dari seorang teman yang bekerja sebagai pegawai negeri di Jogja dan rumahnya rusak karena gempa. Tentu saja ketika akan menyalurkannya saya jadi rada bingun (tidak diakhiri “g”).

Lha, kalau ada seorang pegawai negeri yang rumahnya rusak karena gempa kok nitip uang untuk disalurkan kepada korban gempa, njuk harus saya berikan kepada korban gempa yang seperti apa lagi? Untung, untung, untung, untung….., saya sudah menyalurkan dana pribadi untuk korban gempa. Seandainya belum? Wah, jannnn…, isin tenan aku (malu sekali saya).

Saya mencoba membayangkan (mudah-mudahan orang lain juga bisa membayangkan seperti saya)….. Seandainya kemarin itu saya belum “sempat” menyisihkan sekedar bantuan untuk korban gempa, apa peristiwa ini bukan sebuah pukulan telak ke ulu hati….. Kalau di Jerman, ini pasti sudah menjadi tendangan penalti yang merobek jantung pertahanan akibat sliding tackle di depan gawang…..

Jelas, “gengsi” saya akan terprovokasi atau setidak-tidaknya terusiklah. Lha, wong yang jelas-jelas menjadi korban gempa saja masih bisa membantu korban gempa lainnya. Lha saya yang selamat wal-afiat masak tidak bisa! Begitu bayangan “gengsi” saya…..

Khayalan saya selanjutnya….(saya rada terampil kalau urusan yal-khayyal), secepat kilat saya akan merogoh saku, mengeluarkan uang, lalu mengirimkan bantuan, entah melalui lembaga mana saja. Demi “gengsi”, saya merasa perlu untuk tergopoh-gopoh segera mengirimkan bantuan, sekadarnya….(maksudnya, sekadar 5 gram emas 22 karat atau 24 karat…). Perkara bantuan saya itu nantinya di langit tingkat tujuh akan digolongkan sebagai bantuan demi “gengsi”, biarlah itu menjadi bisnis saya dengan Sang Maha Pemberi Rejeki.

***

Siang tadi saya meluncur ke jalan arah Imogiri menaiki seekor Kijang sambil nggotong beras, tikar dan alat pertukangan. Tiba di sekitar kilometer 12 berbelok masuk ke timur menuju perkampungan dusun Blawong, Desa Trimulyo, kecamatan Jetis, Bantul. Lokasinya berada di tepian sungai Opak. Sebenarnya tidak terlalu jauh dari jalan raya. Namun di perkampungan padat ini ternyata bantuan beras dari pemerintah tersendat-sendat. Bantuan dari luar pun rada sulit mencapainya, paling-paling berhenti di posko yang berada di dekat jalan raya. Maklum, jalan menuju lokasi ini rada suk-suk-an….. (berdesak-desakan) dengan timbunan puing reruntuhan.

Jalan kampung yang biasanya cukup lebar, kini menjadi sempit pas selebar kendaraan karena di kiri-kanannya penuh dengan timbunan reruntuhan. Dengan kata lain, nyaris semua rumah yang dulunya berdempet-dempetan kini roboh-boh, sehingga puing reruntuhannya ya ditimbun begitu saja di tepian jalan kampung.

Di salah satu sudut jalan saya baca sebuah tulisan bercat hijau, yang bunyinya bernada getir : “Kami bukan tontonan!”. Rupanya sejak terjadi gempa, banyak orang keluar-masuk kampung hanya untuk melihat saja, bukannya memberi bantuan. Seandainya siang tadi saya tidak membawa bantuan, sungkan rasanya kalau harus berkendaran perlahan menyusup di sela-sela timbunan puing reruntuhan di sepanjang jalan kampung. Belum lagi cuaca panas dan berdebu. Ada rasa tidak tega menyaksikan rumah-rumah yang rata dengan tanah sementara penghuninya tidur di “tenda-tendaan” atau barak ala kadarnya. Entah sampai kapan.

Dari dusun Blawong saya melanjutkan perjalanan pendistribusian bantuan ke arah selatan lagi. Kira-kira di kilometer 14 jalan raya Imogiri Timur, lalu berbelok lagi ke arah timur, masuk ke dusun Manggung, kelurahan Wukirsari, kecamatan Imogiri, Bantul. Kondisi umum para korban gempa di daerah ini juga tidak jauh beda dengan di dusun Blawong, dan dusun-dusun lain di sekitarnya yang memang tergolong kawasan parah terkena gempa. Hanya karena lokasinya agak ke dalam dari jalan raya, maka bantuan-bantuan dari luar agak sulit mencapai lokasi-lokasi yang seperti ini.

Untuk masuk ke jalan kampung pun agak sulit, wong penuh dengan timbunan reruntuhan di kiri-kanan jalan kampungnya. Kalau bukan karena sudah tahu sasaran lokasi yang hendak dituju, atau ada petunjuk jalan yang menemani, sepertinya sulit mengharapkan dermawan pemberi bantuan mau masuk ke sana. Maka wajarlah, meski sudah memasuki minggu keempat pasca gempa, masih ada korban gempa di lokasi yang seperti ini yang mengeluh masih kekurangan bantuan logistik.

Namun pada umumnya para korban gempa mulai membutuhkan peralatan pertukangan, karena mereka sudah mulai berbenah memberesi puing-puing reruntuhan rumah masing-masing. Bagian-bagian rumah yang masih bagus diambil dan dikumpulkan, untuk kemudian dimanfaatkan untuk membangun “rumah baru” seadanya. Maksudnya tentu bedeng-bedeng yang lebih pantas dan aman untuk berlindung dari hujan, panas dan angin malam. Daripada terus-menerus tinggal di ‘tenda-tendaan”, yang kalau siang kepanasan dan kalau malam kedinginan. Pendek kata, enggak pernah ada enaknya…..

Paling tidak, agar mereka memiliki rumah tinggal yang lebih layak dan representatif sambil menunggu bantuan pemerintah (kalau pemerintahnya tidak ngapusi…), atau sambil menghimpun kekuatan sendiri baik secara finansial maupun moral untuk membangun kembali rumahnya. Barangkali untuk jangka waktu enam bulan sampai setahun ke depan, atau malah selamanya.

Seorang teman di Missouri menanyakan kira-kira bantuan apa yang paling dibutuhkan oleh korban gempa pada saat ini. Saya menyarankan, kalau dananya cukup banyak, maka membangunkan beberapa rumah sederhana adalah yang paling dibutuhkan. Tapi kalau dananya tidak mencukupi, memberi sarana untuk mereka membangun sendiri “rumah baru”-nya akan sangat mereka harapkan. Seperti misalnya peralatan pertukangan, atau material bangunan seperti seng, tripleks, gedeg (dinding anyaman bambu), semen, dsb. Sedangkan untuk material seperti batu bata, genteng dan kayu, umumnya mereka masih bisa memanfaatkannya dari sisa reruntuhan.

Alternatif lain, membangunkan prasarana umum seperti fasilitas air bersih atau kamar mandi umum, rehabilitasi tempat ibadah atau sarana sekolah swasta (kalau sekolah negeri biasanya sudah dianggarkan oleh pemerintah). Jangan lupa, bulan depan sudah masuk musim sekolah, tahun ajaran baru, maka bantuan buku dan peralatan sekolah juga akan sangat mereka harapkan. Permintaan ini pernah disampaikan kepada saya sewaktu saya mengirim bantuan logistik ke desa Karang Tengah, Imogiri, dan desa Terong, Dlingo, seminggu yang lalu. Saya pun hanya bisa manggut-manggut membenarkan kesulitannya….. Sebenarnya saya juga tahu ini perilaku bodoh. Wong sudah jelas-jelas sulit, kok dibenarkan….. Lha, mau bilang iya, takut tidak bisa memenuhinya. Mau bilang Insya Allah, takut kalau saya tidak mampu mengusahakannya.

***

Memasuki minggu keempat pasca gempa, umumnya para pemberi bantuan dan relawan mulai merubah orientasi bentuk bantuannya ke arah rekonstruksi dan rehabilitasi. Periode tanggap-darurat dipandang sudah cukup, meski di sana-sini masih ada keluhan perlu beras dan logistik.

Semoga masih banyak orang-orang yang terusik “gengsi”-nya untuk membantu proses rekonstruksi dan rehabilitasi yang pasti akan memakan waktu yang sangat panjang, moral maupun spiritual, fisik maupun psikis, uang maupun jasa. Tidak ada kata terlambat. Tidak perduli apakah bantuan itu karena “gengsi” atau karena keikhlasan. Semua akan sangat bermanfaat membantu para korban gempa bangkit dari keterpurukannya. Bangkit menyongong hari esok…..

Umbulharjo,  Yogyakarta – 20 Juni 2006
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.