Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘mini market’

(40) Masuk Toko Sandal Dilepas

13 Desember 2007

Buka usaha mini-market swalayan di kota, tentu sudah biasa. Tapi, buka toko swalayan-modern di pinggir kota, baru belum biasa. Di balik yang belum biasa inilah tersedia tantangan dan peluang (plus sedikit nekat….).  Sebenarnya lokasi toko “Madurejo Swalayan” tidak ndeso-ndeso amat, wong lokasinya ada di pinggir jalan, kira-kira pertengahan jalan Prambanan – Piyungan yang cukup ramai. Ya, jalannya yang ramai, karena merupakan jalan sudetan ke Wonosari dari arah Solo. Hanya saja sebagian masyarakat di sekitar desa Madurejo memang belum terbiasa dengan model belanja melayani sendiri. Sebagian masyarakatnya kebanyakan hidup dari pertanian dan pedagang kecil. Entah buruh tani, entah pemilik lahan. Maka selama ini kebutuhan sehari-harinya masih cukup dilayani oleh warung, toko atau pasar tradisional.  

Oleh karena itu sangat disadari bahwa pangsa pasar toko “Madurejo Swalayan” memang bukan mereka itu, melainkan sebagian lainnya yang selama ini sudah berinteraksi dengan masyarakat kota. Entah sebagai pekerja lepas harian, pegawai kantoran, pengusaha, pelajar atau mahasiswa, dan kalangan menengah ke atas lainnya. Selama ini mereka suka belanja ke Yogya, atau paling tidak ke Prambanan atau Piyungan, kota kecamatan terdekat. Mereka itulah sebagian masyarakat yang menjadi target pasar “Madurejo Swalayan”. Bahasa kampungnya, toko ini akan nyegati mereka agar tidak perlu belanja jauh-jauh ke Yogya.  

Lebih-lebih dengan naiknya harga BBM, praktis ongkos transport ke kota juga ikut membengkak. Alhamdulillah, toko ini buka pada saat harga BBM naik (Alhamdulillah untuk tokonya, bukan untuk naiknya harga BBM). Maka secara teoritis, warung, toko atau pasar tradisional tidak akan tersaingi oleh toko ini. Sudah punya segmen pasar sendiri-sendiri. Istilahnya Aa Gym, Tuhan pasti tidak akan salah mendistribusikan bagian rejeki bagi setiap orang. Tuhan Yang Maha Distributor – Maha Pemurah – Maha Adil.  Tapi ya setiap perubahan selalu ada dampaknya. Meskipun sudah diproyeksikan untuk menjaring konsumen kalangan menengah ke atas, tentu tidak mungkin untuk dipasang tulisan “Orang ndeso dilarang belanja”. Akhirnya hukum pasar berlaku, dimana ada barang lebih murah, kesana pula pembeli akan menuju. Maka tidak heran, kalau selisih harga Rp 50,- pun akan dikejar pembeli. Namun itu sisi belakang mata uang. Sedang sisi depannya adalah, orang desa pun tentu ingin tahu toko swalayan-modern itu seperti apa, barang apa saja yang dijual, harganya berapa, dsb.  Lha wong namanya toko swalayan-modern, kelebihan pertama tentu tampilan toko akan berbeda dengan toko tradisional, sebagai salah satu bentuk layanan dan untuk menarik perhatian calon pembeli. Singkat kata, konsumen atau pengunjung toko, entah beli entah tidak, harus dilayani sebaik-baiknya dan dimanjakan. Tampilan mesti keren, kerapian perlu dijaga, kebersihan apa lagi, pelayanan harus diutamakan. Semua itu menjadi sangat penting agar konsumen senang masuk toko, yang akhirnya kembali lagi esoknya dan belanja lagi lain waktu.   ***   

Suatu ketika datang ibu-ibu tua hendak membeli sesuatu. Begitu masuk toko tampak rada canggung, tolah-toleh kok enggak ada pelayan yang nyamperin. Di toko yang biasanya ibu itu berbelanja, selalu ada penjaga yang tanya mau beli apa lalu mengambilkan barangnya dan dibayar, sesekali terjadi tawar-menawar harga. Tapi di sini kok dibiarkan saja, hingga agak lama ibu itu berdiri saja menunggu dilayani. Penjaga toko swalayan memang perlu jeli mengambil inisiatif untuk meng-guide jika menemui pengunjung yang seperti ini. 

Kali lain ada bapak-bapak yang masuk berbelanja. Nampaknya beliau sudah tahu kalau mesti melayani sendiri. Tanpa canggung mencari barang yang hendak dibeli dan akhirnya ketemu. Giliran mau membayar, dikeluarkannya uang dari sakunya, lalu mencari penjaga toko dan menyerahkan uangnya. Ooo.., rupanya bapak itu belum tahu kalau semua transaksi pembayaran dilayani oleh kasir.  

Ada lagi yang masuk toko terus mengambil keranjang belanja warna biru muda, lalu dipilang-piling. Namanya toko baru, ya keranjang belanjanya masih baru. Enggak lama keranjang dibawa ke kasir. Kok keranjang kosong dibawa ke kasir? Rupanya keranjang itu yang mau dibayar, dikiranya termasuk barang yang dijual, padahal sudah dipasang tulisan petunjuk bahwa itu adalah keranjang belanja. 

Suatu hari datang seorang ibu dengan anak perempuannya. Melihat lantai toko yang putih bersih, rupanya mereka tidak tega untuk mengotori lantai dengan sandalnya. Maka, ibu dan anaknya pun kompak melepas sandal di luar teras, seperti mau melewati batas suci atau batas sandal/sepatu di masjid, lalu nyeker masuk toko……  

Biasanya pelayan toko akan  segera menyusuli dan meminta agar sandalnya dipakai saja. Namun sungguh mulia niat baik ibu ini, benar-benar tidak mau memakai sandalnya. Sayang kalau lantai toko yang putih bersih nanti jadi kotor, katanya. Bukan sekali-dua peristiwa seperti ini terjadi. Terkadang pelayan toko yang ngalahi mengambilkan sandalnya dan memberikan kepada sang empunya kaki agar sandalnya dipakai saja.  

Hikmah yang bisa dipetik : Pertama, perlu telaten dan sabar memasyarakatkan konsep toko swalayan di kawasan pinggir kota. Kedua, kebelumtahuan masyarakat akan konsep swalayan modern adalah “aset” potensial, kalau bisa mengelolanya.   

Madurejo, Sleman – 23 Nopember 2005.

Yusuf Iskandar

(23) Iklan TV, Waspadalah…! Waspadalah…!

13 Desember 2007

Kira-kira pertengahan bulan puasa yang lalu, saya melihat ada bangunan bakal mall baru di Jl. Solo, Yogyakarta, kok sudah mulai ramai. Padahal mall-nya belum jadi. Karena penasaran, saya dan istri mencoba masuk ke mall yang belum jadi itu. Rupanya di lantai dasar mall sudah beroperasi supermarket baru, “Diamond” namanya. Meskipun tampilan bangunannya masih berantakan, pasar super ini rupanya juga tidak mau melewatkan momentum lebaran, sehingga sudah mencuri start di dasar mall Saphir Square yang belum jadi.  

 

Hal yang saya sukai adalah bahwa supermarket ini ternyata juga melayani grosiran (kalau kerja bakulan yang dicari ya sumber-sumber kulakan yang seperti ini). Hal yang kemudian menarik perhatian saya adalah ketika saya lihat beberapa orang pada mborong Mie Sedaap Sambal Goreng. Bahkan sampai berkarton-karton. Mudah ditebak pasti bukan untuk dikonsumsi sendiri. Untuk pesta juga tidak mungkin. Maka untuk apa lagi kalau bukan untuk dijual kembali, dan pemborong itu pasti seprofesi dengan saya…

Tapi kenapa Mie Sedaap Sambal Goreng, padahal banyak Mie Sedaap yang lain, atau Indo Mie, Super Mi, Sarimi, dsb. Pada saat itu saya benar-benar tidak tahu sebabnya. Hanya karena tidak ingin ketinggalan dan kehilangan momentum, maka saya pun latah ikut-ikutan mborong beberapa karton Mie Sedaap Sambal Goreng. Perilaku bodoh sebenarnya, tapi karena menurut analisa “quick count” plus sedikit feeling tidak bakal rugi, maka dilakukan juga. Sesial-sialnya, kalau saya jual di “Madurejo Swalayan” ditambah keuntungan Rp 50,- sampai Rp 100,- pasti laku, pikir saya.

Esoknya mi instan tersebut sudah terpajang di toko. Reaksi pasar ternyata di luar dugaan. Mi tersebut termasuk jenis mi instan yang cepat laku dan dipilih konsumen di antara mi-mi yang ada. Ketika stok mulai menipis, saya pun kembali ke “Diamond” supermarket karena saya yakin harganya masih rada miring. Sialnya di sana stok kartonan sedang kosong, sudah habis dibongkar dan dipajang di rak. Terpaksa harus agak repot, mengumpulkan bungkus demi bungkus mi yang sudah dipajang, kemudian dikartonin sendiri menggunakan karton seadanya, hingga terkumpul beberapa karton.

Dalam hati saya masih bertanya-tanya, kenapa Mie Sedaap Sambal Goreng ini laris manis. Apa memang rasanya lebih yahud? Saya sendiri belum pernah mencobanya, sebab saya pikir tidak ada bedanya dengan mi-mi lain sejenisnya. Sampai akhirnya seorang pelayan toko saya berkata bahwa barangkali orang-orang tertarik dengan iklannya di televisi. Tertarik dengan iklan TV? 

(Beberapa bulan terakhir ini saya memang jarang sekali nonton TV, boro-boro memperhatikan iklannya. Cukup baca koran seperlunya dan dengerin kilasan-kilasan berita di radio sambil nyopir. Yang saya tangkap dari headline-headline berita radio maupun surat kabar, konon negeri Indonesia sudah banting setir jadi “Indonesia Swalayan”, karena para abdi atau pelayannya, punggowo dan bolo kurowo-nya, sibuk melayani kebutuhan dirinya sendiri dan mengisi keranjang belanjaannya masing-masing. Kecuali para wakil bolo-kurowo yang keranjangnya sudah ada yang mengisikan sepuluh juta per bulan, itupun masih ada yang diam-diam pinjam keranjang belanja orang lain….. Bedanya dengan “Madurejo Swalayan” hanya soal omset. Yang satu ngurusi cepek-nopek, yang lain ngurusi cepek jut-nopek-jut. Kalau pada suatu saat CEO-nya berotasi tukar kursi ya tidak jadi soal, wong punya pengalaman yang sama…….)

Ketika akhirnya saya sempat melihat iklan Mie Sedaap Sambal Goreng di TV, saya baru benar-benar ngeh. Woooow…., pantesan mie sambal goreng ini laris manis tanjung kimpul….. Rupanya konsumen terpesona persis seperti orang-orang di iklan TV-nya yang sampai terlenakan, terbengongkan dan seakan terhipnotis gara-gara sajian Mie Sedaap Sambal Goreng yang jelas terasa sedaapnya……. Seperti tertulis dalam bungkusnya : “Kriuk…!!! Kriuk.. !!!”, begitulah bunyinya.

***

Pada suatu hari ada seorang ibu yang berbelanja dan bertanya apakah ada agar-agar Titik Puspa. Saya hanya tersenyum, saya pikir ibu ini bercanda. Agar komunikasi tetap berjalan dua arah, saya coba bertanya agar-agar yang seperti apa ya? Si ibu menjelaskan : “Itu lho, yang di TV ada Titik Puspa-nya…”.

Wah…, wah…, wah…, kali ini saya benar-benar telmi (telat mkir). Saya coba mengingat-ingat, rupanya yang dimaksud ibu itu adalah agar-agar Satelit cap Burung Sriti, So Well ! (tanda serunya gede banget). Tentu saja saya tidak boleh mentertawakan kejadian ini. Kalaupun mau mentertawakan, pastinya mentertawakan diri sendiri akibat ketelmian saya. Salah sendiri… jarang nonton TV.

Akibat jarang nonton TV juga saya sempat tertawa…, sampai kal-pingngkal…, ketika seorang pelayan perempuan di toko saya melaporkan bahwa ada beberapa pengunjung toko yang menanyakan susu bantal. Lho…, susu atau bantal?. Itu dua benda yang saya sukai. “Bentuknya seperti apa?”, tanya saya penasaran mengingat di toko sudah tersedia segala macam bentuk susu, dan bantal bayi juga ada. “Ya, susu segar biasa tapi bungkusnya seperti bantal……”, jawab pelayan toko. Sungguh saya belum bisa membayangkan, karena memang belum pernah melihatnya, mendengar namanya pun baru kali itu. “Seperti yang diiklankan di TV itu lho, Pak….”, tambah pelayan toko saya.

Akhirnya saya temukan juga produk itu. Gene….., hanya sejenis susu segar UHT yang dikemas berbentuk segi empat seperti bantal tapi berukuran kecil. Warna kemasannya ada yang hijau dan ada yang biru. Kalau dipegang terasa empuk kenyal-kenyal. 

Lagi-lagi, kata kuncinya ternyata adalah iklan di televisi. Nampaknya, kini sesekali saya mulai perlu mencermati dan mewaspadai iklan televisi. Betapapun iklan televisi sering menjengkelkan saya, ternyata beberapa kata kunci produk yang umumnya dijual di mini-market, ada di sana. Produk apa yang sedang gencar nyisip di acara TV, bisa diramalkan produk itu pula yang akan dicari dan ditanya konsumen, meskipun awalnya mungkin konsumen hanya sekedar ingin tahu dan coba-coba. Betapa dahsyatnya pengaruh iklan di televisi. Pantesan para produsen rela membayar milyaran rupiah untuk memperkenalkan produknya di layar kaca. Memang terbukti hasilnya.

Hal ini terutama terjadi di komunitas masyarakat pinggiran. Arus informasi cenderung datang searah, oleh karena itu berebut menjejali. Kalau bagi masyarakat perkotaan barangkali lain, karena tanpa nonton TV pun setiap detik setiap langkah sudah dikepung dengan iklan. Segala macam informasi berdatangan tanpa dicari, tapi punya banyak pilihan.

***

  

Bagi pelaku usaha ritel, sekali-sekali menthelengi (menatap tajam) siaran televisi barangkali ada manfaatnya. Agaknya memang sesekali perlu waspada terhadap iklan di televisi, siapa tahu ada iming-iming baru. Waspada, agar tidak ketinggalan momentum meraih untung secepatnya atas produk yang sedang gencar dipromosikan. Waspada, agar tidak kelihatan bodoh di depan pelanggan. Dan, tidak perlu bingun (sengaja tidak diakhiri “g”) ketika ada produk susu segar bermerek dagang Real Good, dikemas seperti bantal, empuk kenyal-kenyal, dihargai sedikit lebih mahal, ….. dan ternyata laku dijual….

Pintar-pintarnya ……., mengemas suatu produk yang sebenarnya biasa-biasa saja menjadi tampil beda dan berani memberinya julukan rada nyleneh agar mudah diingat (pasti lebih mudah mengingat sebutan susu bantal dari pada Real Good). Kalau soal produk susu segar yang dikemas menjadi kotak atau botol, macamnya sudah buuuanyak sekali di pasar, tapi yang kemasannya empuk kenyal-kenyal seperti bantal, ya baru susu bantal Real Good buatan Malang itulah….

Runyamnya kalau sudah begini, biasanya nanti muncul susu bantal-susu bantal baru, cap Kasur, cap Guling, cap Lampit.………… Kessihan deh, para “inovator” di negeri ini…….

Madurejo, Sleman – 7 Desember 2005.
Yusuf Iskandar

(20) “Impulse Buying”

13 Desember 2007

Rekreasi? Jalan-jalan ke mall? Membeli kebutuhan keluarga ke supermarket? “Lets go….., ayo anak-anak berangkat….”, sang Bapak memberi komando tanda siap berangkat.

Lalu, niat ingsun dari rumah hendak membeli sabun mandi, sabun cuci, odol, sampo, gula, teh, kopi, susu dan pembalut wanita. Total jendral menurut rencana ada sembilan item yang hendak dibeli. Berangkatlah satu keluarga, bapak, ibu dan anak-anak, pergi rombongan keluar rumah, sembari jalan-jalan, rekreasi, membeli kebutuhan keluarga ke toko swalayan terdekat.  

Begitu masuk toko swalayan……. jreng….., berhamburanlah bapak-ibu kemana, anak-anak entah kemana…… Beberapa puluh menit kemudian (terkadang jam), satu keluarga ketemu di antrian menuju kasir. Anak yang satu bilang : “Saya ambil ini, ya Pak?”. Anak yang satunya lagi bilang : “Saya ambil ini sama ini, ya Bu?”. Sang Bapak dan Ibu hanya mengangguk sambil tersenyum : “Iya”.

Setelah barang belanjaan di-scan sama mbak kasir, ngak-ngik…ngak-ngik…., lalu dibayar. Meninggalkan toko dengan senyum kemenangan. Lalu iseng-iseng dilihat struk belanjaan. Betapa kagetnya, ternyata jumlah belanjaan hari itu bukan sembilan item seperti yang direncanakan semula, melainkan jadi sembilan belas item, bahkan dua puluh sembilan item. Begitu sampai rumah, belanjaan dibongkar, eh… ternyata odolnya atau gulanya malah belum terbeli. Kok bisa? Dari mana datangnya barang belanjaan sebanyak itu? Ya, dari matanya bapak-ibu-anak-anak turun ke keranjang belanja……   

Haqqun-yakil…, siapa saja yang membaca tulisan ini pasti pernah mengalami hal yang serupa cerita di atas, termasuk yang menulis cerita. Itulah hebatnya apa yang disebut “impulse buying”, yang maksudnya pembelian seketika atau pembelian yang tak direncanakan. Dan peristiwa semacam ini hanya mungkin terjadi di toko ritel swalayan, tidak di toko tradisional. 

***

Tahukah Anda kenapa di atas rak-rak dekat kasir selalu tersedia aneka permen, snack dan barang-barang kecil yang sepertinya disusun sedemikian menariknya? Tidak lain, tidak bukan, agar sambil Anda ngantri menuju kasir, maka tangan-tangan lentik putra-putri Anda yang lucu-lucu akan dengan gesit dan cekatan menyabet aneka permen dan makanan kecil di sekitar rak tersebut.

Bukan hanya anaknya, Bapaknya pun bisa tiba-tiba ingin membeli rokok, padahal rokok di saku masih ada. Atau, tiba-tiba ingin membeli permen pelega tenggorokan, padahal tenggorokannya sehat-sehat saja. Atau, tiba-tiba merasa perlu beli batu batere, padahal belum tahu mau dipakai apa. Buat cadangan, katanya. Belum lagi ibunya, entah kenapa melihat sesuatu benda ditimbang-timbang kok harganya lebih murah dari biasanya atau di tempat lain. Maka, diambil dan digabungkanlah semua hasil sabetan tiba-tiba itu ke dalam keranjang belanja yang sudah mau mbludak…..    

“Sssttttt…., ini rahasia antar teman saja………, jangan bilang-bilang……”. Semua itu memang disengaja oleh si empunya toko. Disengaja agar para pengunjung tokonya terdorong untuk melakukan “impulse buying”. Tapi berani taruhan, meskipun Anda sudah tahu rahasia ini, tetap saja lain waktu masuk toko swalayan, entah kapan dan dimana, kejadian serupa akan terulang dan terulang dan terulang lagi…….. 

Itulah ruarrr biasanya virus penyakit yang namanya “impulse buying”. Sekalipun kita tahu bahayanya, tetap saja dengan sukarela membiarkannya terjadi dan terjadi lagi. Bagi para penentang perilaku konsumtif, penyakit ini dikategorikan sebagai musuh utama para konsumen. Tapi jika para penentang itu berada dalam situasi seperti di atas, dia pun tidak mampu menghindarinya. Aneh tapi nyata…..

Sebaliknya bagi para peritel atau pengusaha toko swalayan, penyakit itu justru mutlak wajib ‘ain hukumnya untuk dipelihara, dikembang-biakkan dan jika perlu diriset agar lebih berdayaguna dan berhasilguna. Jangan pernah menyalahkan siapapun, itulah dunia persilatan jual-beli di toko swalayan. Menghindari masuk toko swalayan? Silakan berantem dulu dengan putra-putri Panjenengan yang manis-manis dan lucu-lucu di rumah…….

***

Saya paling senang kalau lagi berada di toko, lalu melihat satu keluarga masuk toko untuk berbelanja. Hampir pasti peristiwa “impulse buying” akan terjadi. Dan itu berarti barang dagangan saya akan banyak laku. Meskipun mungkin barang-barang yang digaet anak-anak tidak seberapa nilainya. Paling-paling permen atau gula-gula yang harganya sekitar Rp 500,- sampai Rp 1.000,-. Tapi jangan lupa, justru benda-benda remeh-temeh seperti itu mampu memberikan keuntungan Rp 100,- sampai Rp 200,-, yang artinya 20% margin keuntungan. Sebuah nilai yang cukup tinggi untuk standar mini market atau toko retail. Sebagai ilustrasi, kalau kejadian seperti itu berulang dalam hitungan dua item kali 25 kejadian, maka berarti keuntungan paling tidak senilai Rp 5.000,- sampai Rp 10.000,-. Kenyataannya, adegan seperti itu seringkali melibatkan lebih banyak item barang dalam puluhan kali kejadian.

Kecil? Tepat sekali. Itu sebabnya maka umumnya tidak dianggap signifikan oleh orang kebanyakan. Tapi tidak bagi pengusaha toko swalayan. Itu adalah nilai yang sangat signifikan. Karena pengusaha toko tidak melihatnya dalam kerangka satu atau sedikit kejadian, melainkan dalam sekian kali lipat kejadian. Bahasa bisnisnya disebut omset. Istilah yang sangat umum, tapi sangking umumnya jadi sering tidak berarti apa-apa bagi orang umum. 

Namun di balik semua kisah itu, terkadang hati ini dibuat trenyuh….

Pada suatu sore, seorang bapak dan anak perempuannya dengan berboncengan sepeda datang ke toko. Berpakaian rada lusuh, agaknya sang bapak baru pulang kerja. Melihat tampilan fisiknya, jelas ini orang desa warga sekitar. Bukan orang yang biasa belanja di toko swalayan di kota. Mereka lalu masuk toko, memutari rak-rak makanan bersama anak perempuannya, lalu mengambil beberapa yang diperlukan dengan tanpa menggunakan keranjang belanjaan.

Ketika sang bapak hendak membayar ke kasir, ndilalah anak perempuannya rada rewel. Tangan bapaknya ditarik-tarik, minta dibelikan makanan kecil atau snack-snackan sejenis Taro, Chiki, Chitos, dan pokoknya yang semacam itulah. Sang Bapak menolak, tapi sang anak terus saja merengek sambil menunjuk-nunjuk dan menarik-narik tangan bapaknya.

Melihat peristiwa itu, pikiran saya cepat menganalisa. Ada dua kemungkinan yang mendorong peristiwa itu terjadi : sang bapak tidak suka dengan jenis makanan seperti itu (yang konon kaya akan kandungan MSG), atau sang bapak uangnya tidak cukup. Menurut feeling saya, kemungkinan kedua lebih masuk akal yang menjadi penyebabnya. Inilah jenis “impulse buying” yang tidak seharusnya saya biarkan meng-“impulse”. Kita harus bijaksana, terpaksa turun tangan turut membantu sang bapak ngerih-rih (menenangkan) sang anak agar mereda rengekannya dan mau nurut sama bapaknya. Minimal, sang bapak tidak merasa dipermalukan oleh tingkah polah sang anak yang tentunya tidak bisa dipersalahkan. Lha wong namanya anak…… Benar-benar perjuangan yang tidak mudah, menaklukkan keinginan seorang anak.

Kemudian ……., terbayang di ingatan saya, ketika beberapa tahun yang lalu anak kedua saya minta dibelikan mainan yang harganya puluhan dollar dan tidak saya penuhi. Lalu anak saya gero-gero, nangis coro Jowo, ndeprok di depan sebuah toko di New Orleans. Untungnya masih ada sisa uang di saku. Lha kalau tidak?. Maka, saya bayangkan bapak di toko saya itu barangkali baru menerima upah hariannya yang jumlahnya benar-benar pas-pasan, sehingga mati-matian beliau tidak mau memenuhi permintaan sang anak, meski barangkali “hanya” menyangkut uang senilai Rp 850,- sampai Rp 1000,-

Subhanallah……., ternyata tidak cukup hanya berbekal ilmu Manajemen Ritel yang mesti saya pahami, melainkan juga Manajemen Hati…….

Madurejo, Sleman – 1 Desember 2005.
Yusuf Iskandar

(15) “One Stop Shopping”

13 Desember 2007

Salah satu hal yang menyenangkan dalam berbisnis dengan orang desa adalah mereka dengan polos tanpa beban, suka menyampaikan usulan-usulan atau ide-ide yang menarik. Wong namanya mini-market, mereka beranggapan bahwa toko itu mestinya menyediakan segala macam kebutuhan. Maunya “one stop shopping”, istilah sononya. Sekali nyangking keranjang belanja, duapuluh-tigapuluh barang kebutuhan terpenuhi.

Dilihatnya tidak ada tempat cucian plastik, mereka usul agar jual tempat cucian plastik. Ada pembeli yang punya panci alumunium di rumah tapi pegangan tutupnya rusak, maka mengajukan usul agar menjual pegangan tutup panci. Ada yang mengusulkan agar jual buah-buahan, jual ikan segar, jual barang plastik-plastikan (maksudnya barang-barang yang terbuat dari plastik). Atau, bilang kalau minyak goreng, roti atau obat-obatannya kurang lengkap. Ada yang mengeluh tempat parkirnya panas, dengan kata lain sebenarnya usul mbok diberi peneduh.  Pendeknya, baru beberapa hari toko buka sudah banyak usulan ini-itu. Semua usulan, termasuk yang paling aneh sekalipun mesti diapresiasi. Baik usulan yang layak maupun kelewat mengada-ada, perlu kearifan untuk menyikapinya. Sebab semua itu datang dari calon pelanggan setia. Mudah-mudahan tidak ada yang usul jual ayam atau kambing untuk kurban …… 

Mengasyikkan, tapi juga merepotkan kalau semua usulan mesti dipenuhi. Selain berarti mesti menambah modal kerja, juga tempat atau kapasitas ruangan toko yang membatasi. Tapi setidak-tidaknya, semua masukan atau ide dari konsumen itu menjadi data lapangan yang sangat berharga. Yang pada suatu saat nanti akan diperlukan untuk menjadi bahan feasibility study (kayak yak-yak-o.…) jika ingin mengembangkan usaha.

Bukankah kata orang-orang pinter (selain paranormal), bahwa peluang emas justru sering berawal dari ide-ide gila atau usulan-usulan enggak masuk akal yang pada mulanya dianggap impossible….?

***

Pada akhirnya memang konsumenlah yang men-drive pengelola toko. Baru ketahuan ada yang kurang lengkap justru ketika ada pembeli tidak menemukan barang yang mau dibeli. Terpaksa harus diberi jawaban diplomatis : “Barangnya belum datang, mudah-mudahan besok sudah ada”. Tidak menipu, tapi juga tidak menjanjikan. Apa boleh buat, hari itu juga pengelola toko harus berusaha keras mencari barang yang belum ada itu. Jangan sampai sang pembeli kecewa kalau besok datang lagi dan barangnya belum juga ada. Kekecewaan seperti ini bisa berakibat kurang menguntungkan kalau sampai pembeli itu berkesimpulan bahwa tokonya tidak lengkap, lalu dia cerita ke saudara-saudaranya atau tetangganya se-RT.

Peristiwa seperti ini sering terjadi di minggu-minggu pertama sejak toko buka. Kepalang basah, pengelola toko mesti pontang-panting segera mencari barang-barang yang belum lengkap yang ditanyakan calon pembeli, karena mereka adalah calon pelanggan potensial, kalau bisa mengelolanya. Sepanjang barang itu adalah jenis barang yang memang selayaknya ada, maka perlu dipertimbangkan untuk dipenuhi. Apalagi kalau bisa memberikan harga yang kompetitif. Kalau mereka puas, maka bisa diharapkan akan jadi ujung tombak promosi gratis gethok-tular. “Word of mouth”, kata pakar pemasaran.

Rada terpaksa, hampir setiap hari pengelola toko pergi belanja mencari barang yang belum ada, sekalian kulakan barang-barang kebutuhan sehari-hari yang cepat laku (fast moving). Maklum, belum bisa menimbun stok karena keterbatasan modal kerja dan belum siapnya gudang penyimpanan.

Mobil keluarga kijang hitam metalik LGX 2000 cc kini telah beralih fungsi untuk ngangkut minyak, gula, sabun, mie instan, snack, permen, rokok, pembalut, tisu, dsb. BBM-nya yang boros plus harga BBM yang naik dua kali lipat, dilupakan dulu. Me-manage konsumen (calon pelanggan potensial) menjadi prioritas utama untuk saat ini. Jangan salah, bukan berarti lantas main tabrak-kromo. Semua akan muncul hitung-hitungannya dalam financial report.  

(Enaknya jualan kebutuhan sehari-hari, kalau tidak laku bisa dibeli sendiri. Paling tidak, keuntungannya tidak lari ke orang lain. Kalau jual rokok kurang laku, ya di-udut sendiri….., susah amat…!)

Terkadang barang yang ditanyakan konsumen harganya tidak seberapa, masih lebih mahal sebungkus Marlboro yang dibeli sopir kijang itu. Tapi masalahnya bukan sekedar mengharap keuntungan dari hanya satu jenis barang yang dicari konsumen, melainkan kalau konsumen bisa menemukan barang yang dicari, maka boleh berharap konsumen itu juga akan membeli kebutuhan lain sekaligus, mumpung berada di toko itu. “One stop shopping”, lebih baik berada di satu toko tapi terpenuhi semua kebutuhannya dari pada mesti berpindah-pindah toko. Maka margin yang kecil bisa menjadi berlipat, uang cepek-nopek bisa berubah menjadi cemban-nomban, karena omset penjualan bertambah. 

Demi mengejar keuntungan yang nilai rupiahnya tidak seberapa, pengelola toko merangkap sopir setiap saat kudu siap pontang-panting kulakan guna memenuhi kepuasan calon pelanggan. Setidaknya untuk bulan-bulan awal ini. ……………….Huhhh….!!!

Madurejo, Sleman – 26 Nopember 2005.
Yusuf Iskandar

(12) Sabar Menanti

13 Desember 2007

Kalau benar bahwa usaha toko swalayan atau bisnis ritel atau mini-market atau mracangan, itu menguntungkan : “Berapa lama waktu diperlukan untuk balik modal?. Atau : “Kapan balik modalnya?”. Itulah pertanyaan yang pernah ditanyakan oleh beberapa rekan, dan memang seharusnya ditanyakan. Sehingga sebelum kita benar-benar terjun ke kancah dunia persilatan peritelan, kita sudah punya gambaran yang meyakinkan bahwa bisnis ini layak atau tidak layak untuk ditekuni..

Kalau jenis pertanyaan itu yang menggangu pikiran kita sebagai calon pemain baru di bisnis ritel, maka ada dua pilihan yang dapat dilakukan. Bertanya kepada penganut aliran “Just Do It”, atau kepada penganut aliran  “Just Plan It”. Jawaban dari kelompok yang pertama akan mengatakan : “Sudahlah……, pokoknya mulai lakukan saja, keburu para pesaing mendahuluinya……!”. Maka, kita pun lalu panik bin gedandapan (bergerak tergesa-gesa). “Iya, ya. Kalau keduluan orang lain bisa tewas kita…..”, demikian hati kecil kita akan terprovokasi.

Sedangkan kalau pertanyaan itu ditujukan kepada kelompok yang kedua, ijinkanlah pengelola “Madurejo Swalayan” yang mewakilinya (meskipun “Madurejo Swalayan” juga pemain baru, tapi setidak-tidaknya sudah mendahului start . …..). Jangan kemana-mana, ikuti yang berikut ini…….   

(Mohon maaf seribu kali maaf, saya merasa perlu untuk berulang-ulang mengatakan bahwa pilihan ini bukan soal salah atau benar, baik atau buruk, melainkan hanya soal selera. Sama seperti Anda lebih suka naik sepeda onthel atau sepeda jengki, makan nasi goreng atau nasi rebus, masing-masing ada konsekuensinya, ada plus-minusnya).

***

Mari kita tengok lagi lembar business plan “Madurejo Swalayan”. Data-data awal sudah diketahui : Modal tetap untuk beli tanah dan mbangun toko sebesar Rp 220 juta,- (kecil-besarnya angka ini tentu tergantung pada harga beli lahannya dan ongkos pembangunannya). Modal untuk menyediakan prasarana toko Rp 50 juta,-. Modal kerja untuk kulakan isi toko Rp 108 juta,-. Modal kerja operasional yang harus disediakan selama periode belum meraih keuntungan (saya cadangkan selama 5 bulan dengan rata-rata per bulan memerlukan sekitar Rp 4 juta,-), sehingga totalnya menjadi Rp 20 juta,-.  

Maka total modal yang diperlukan adalah Rp 398 juta,- (Rp 378 juta,- dana yang pasti dikeluarkan di tahap awal dan Rp 20 juta,- dana cadangan yang pengeluarannya di-icrit-icrit setiap bulan). Saya anggap rencana pembiayaan modal ini sebagai opsi pertama. Untuk keperluan hitung-hitungan ekonomi, saya mempertimbangkan perlunya ada opsi kedua sebagai pembanding.  

Opsi kedua adalah dengan tidak memasukkan modal tetap properti (lahan dan bangunan) dalam menghitung jumlah modal awal, sehingga total modal awalnya menjadi hanya Rp 158 juta,-. Alasan yang mendasari adanya opsi kedua adalah karena ada atau tidak ada “Madurejo Swalayan”, lahan dan bangunan tetap akan ada dan dibangun di sana sampai waktu yang tidak saya ketahui, mungkin 15 tahun, 25 tahun atau bahkan selamanya. Nilainya pun akan semakin naik, seakan-akan menjadi investasi tersendiri sebagai properti. Opsi kedua ini tidak akan saya ambil seandainya lahan yang ditempati “Madurejo Swalayan” merupakan lokasi sewaan, dimana umurnya terbatas sepanjang umur toko yang diproyeksikan dalam business plan.   

Setelah sejenak semlengeren (diam termangu-mangu) melihat angka Rp 378 juta,- duit kabeh……., kemudian kembali ke pertanyaan semula. Kalau semua uang itu saya investasikan untuk mbukak toko swalayan modern di pinggiran kota, apakah kira-kira uang itu akan kembali, dan kapan? Untuk melihat hal itu saya membuat dua versi skenario usaha berdasarkan perkiraan tingkat kemajuan penjualannya, yaitu : skenario pesimistik (kemungkinan terjelek) dan skenario optimistik (kemungkinan terbaik) tingkat kemajuan omset penjualan yang diperkirakan akan terjadi. 

Perkiraan tingkat penjualan rata-rata per hari yang saya patok pada bulan pertama (Oktober 2005) adalah Rp 750.000,- Angka ini saya jadikan target awal untuk kedua skenario pesimistik maupun optimistik. Dari mana angka itu saya peroleh? Awalnya ya cari di sawah, kemudian saya banding-bandingkan dengan pengalaman toko sejenis milik seorang saudara dan teman yang berlokasi di kawasan lain. Kemudian dipertimbangkan dengan potensi pasar di sekitar desa Madurejo dan peluang-peluang promosi yang dapat digarap di tahap awal ini. Maka ketemulah angka itu.   

Pada skenario pesimistik, saya perkirakan sejak bulan pertama hingga selama 15 bulan pertama (sampai akhir tahun 2006) akan mencapai rata-rata kenaikan 8%, diikuti dengan asumsi peningkatan sebesar 10% per tahun mulai tahun ketiga hingga tahun ke-15. Pada skenario optimistik, penjualan selama 15 bulan pertamanya akan mencapai rata-rata peningkatan 10%, dengan asumsi peningkatan tahunannya juga sama 10%. Angka pertumbuhan yang 10% ini (untuk sementara ini) saya anggap sebagai cukup realistis, seiring dengan asumsi tingkat inflasi dan ekskalasi.

Pada skenario optimistik ini saya melihat potensi dan peluang yang sekiranya akan mampu mendongkrak omset, antara lain menggarap secara lebih baik adanya peluang-peluang khusus seperti bulan puasa, lebaran, musim awal sekolah, bulan haji, dsb. (Untuk diketahui bulan haji atau bulan Dzulhijjah dalam kalender Hijriyah adalah bulan dimana masyarakat Jawa sering punya gawe …, hajatan perkawinan).

Dari proyeksi hasil penjualan harian dan peningkatannya, maka akan dapat dihitung proyeksi keuntungan kotor yang dapat dikumpulkan per bulan dan per tahun dengan asumsi persentase margin keuntungan rata-ratanya 10%. Setelah dikurangi dengan biaya operasi bulanan, maka diperolehlah keuntungan bersihnya. Biaya operasi bulanan akan merangkak dari Rp 3,5 juta,- hingga Rp 5 juta,- pada tahun pertama, selanjutnya akan ada peningkatan (asumsikan saja) 10% per tahun.  

Dari angka-angka itu, maka saya dapat membuat prediksi laporan laba-rugi (income statement) per bulan. Pada skenario pesimistik, keuntungan (profit) akan mulai dapat dicapai pada bulan keenam. Sedangkan pada skenario optimistik, keuntungan (profit) dicapai lebih cepat yaitu mulai bulan ketiga. Timbunan angka-angka itu beserta rencana pengalokasian modal tetap (asset) dan modal kerja (working capital), kesemuanya menumpuk dalam business plan “Madurejo Swalayan”.

Dengan hitung-hitungan sederhana menggunakan “pipo londo”, akan dapat dibuat proyeksi aliran uang tunai (cashflow) tahunannya. Tampaklah kini, kapan modal saya akan kembali (break-even). Merujuk pada skenario optimistik, modal saya akan kembali seluruhnya dalam tujuh setengah tahun menurut opsi pertama dan dalam empat tahun menurut opsi kedua. Wah, kok suwe yo… (lama juga ya). Apakah saya cukup sabar? Nampaknya memang saya mesti sabar menanti kembalinya sang modal……..  

(Saya coba melamun ngangen-angen….., membayang-bayangkan, tujuh setengah tahun kelihatannya kok bukan waktu yang lama. Rasanya baru kemarin saya tiba di Tembagapura jadi orang gajian ketika anak kedua saya masih rambatan. Ee…., tiba-tiba saya sudah berhasil jadi penganggur terselubung di Yogya dan anak kedua saya yang kini kelas 6 SD itu sudah pecicilan minta diajari naik sepeda motor.

Barangkali waktu tujuh setengah tahun ke depan cukup bagi saya untuk mempersiapkan anak-anak saya menjadi calon CEO “Madurejo Swalayan”, kalau mereka mau. Kalau ternyata kelak memilih untuk  ngurusi bisnis nyambi jualan faktur pajak dan menjadi pengekspor fiktif, atau memilih untuk mencalonkan diri jadi presiden, itu sepenuhnya akan jadi pilihannya. Tugas saya adalah mempersiapkan mereka menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsanya, saleh secara individu dan saleh secara sosial. Insya Allah…….).

Madurejo, Sleman – 6 Pebruari 2006

Yusuf Iskandar

(4) Kenapa Memilih Mini-market?

13 Desember 2007

Ada seorang teman yang sempat berkunjung ke jobsite “Madurejo Swalayan” di Jl. Prambanan – Piyungan, Yogyakarta, bertanya kepada saya : “Kenapa memlih membuka usaha mini-market? Kok bukan toko yang lain?”. Ini pertanyaan yang gampang-gampang susah untuk dijawab. Gampang, karena tinggal mengatakan : “Karena ini memang keinginan kami”. Susah, karena jawaban itu pasti tidak akan memuaskan si penanya. Maka, perkenankan saya menuturkan kilas balik latar belakangnya, sampai akhirnya kami memutuskan untuk membuka usaha mini-market atau toko ritel swalayan yang kemudian bernama “Madurejo Swalayan” ini dan bukan toko yang lain

Cerita ini terkait dengan kebingungan seorang mantan pejuang kumpeni (company) yang 16 tahun menjadi orang gajian, lalu banting setir menjadi penganggur terselubung, mondar-mandir beberapa bulan di Yogya dan “diteror” anak-anaknya dengan sindiran-sindiran katanya enggak kerja malah nganggur aja. Terus mau ngapain? Nantinya terbukti bahwa keterpojokan seperti ini bisa membangkitkan energi bawah sadar seperti sedang dikejar kirik edan.

Harap menjadikan maklum adanya, buka usaha toko di desa Madurejo ini memang ide pertamanya datang dari istri tercinta (maka wajar saja kalau sebagai penghormatan jasa beliau lalu kemudian diangkat menjadi Chief Financial Officer alias ibu bendahara “Madurejo Swalayan”). Sejak awal, tepatnya sejak saya berhasil menjadi penganggur terselubung di akhir tahun 2004 (saya anggap ini sebuah keberhasilan), angan-angan istri saya ini memang hanya : pokoknya buka usaha toko. Titik! Alasannya sederhana tapi masuk akal dan sangat mulia : Eeee, mbok menawanya sang suami telanjur malas untuk kembali jadi orang gajian lagi di kumpeni mana-mana, maka sudah ada cantholan untuk menghidupi keluarga dan anak-anak, bapaknya biar embuh ben sak karepe ……terserah apa maunya.

***

Tiga bulan pertama sejak jadi penganggur terselubung, saya masih ketawa-ketiwi saja, tanpa beban melakoni hidup sehari-hari. Meskipun anak-anak mulai menyindir-nyindir, bapaknya ini ngapain sudah enak-enak kerja terima gaji besar setiap bulan kok pakai keluar segala, malah sekarang nganggur. “Jadi enggak bisa minta apa-apa lagi seperti dulu, ya mbak…. .”, kata sang adik kepada kakak perempuannya. Apa enggak nelangsa hati ini mendengarnya.

Memasuki bulan keempat mulailah muncul kegelisahan. Gelisah untuk memutuskan antara kembali menjadi orang gajian di kumpeni lain atau terjun secara total ke dunia persilatan wirausaha. Hasil konsultasi ke kiri dan ke kanan belum ada yang memberikan jawaban yang memuaskan. Jangan heran, teman-teman yang tahu saya keluar dari pekerjaan sebagai orang gajian, kebanyakan memuji keberanian saya dan mendukung untuk memasuki dunia wirausaha. Dalam hati saya tersenyum kecut : “Berani bagaimana? Lha wong saya ini terpaksa je…….”.

Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, khawatir kalau saya jadi terjebak untuk menyalahkan pihak lain yang telah mem-fait accompli saya. Apapun alasannya, kalau pun ada kesalahan maka itu pasti kesalahan saya, bukan kesalahan siapapun. (Lha iya to, apa kalau saya menyalahkan orang lain, njuk orang lain itu mau membantu saya memberikan jalan keluar?. Toh akhirnya saya juga yang harus berusaha mencari jalan keluarnya sendiri).

Untungnya, saya sangat percaya bahwa konsultan terbaik itu bukan menoleh ke kiri atau ke kanan, melainkan ndangak ke atas. Maka kepada satu-satunya “Atasan” saya itulah saya minta petunjuk yang akhirnya sedikit demi sedikit menemukan titik terang. Setidak-tidaknya agak meredam kegelisahan di bulan keempat setelah jadi penganggur terselubung.

Petunjuk itu datang melalui ibunya anak-anak. Katanya : “Mbok tanah yang di Jalan Prambanan – Piyungan itu dibangun untuk toko saja” (kebetulan tanah yang dimaksud itu belum lama lunas cicilannya). “Nanti bisa digunakan untuk mbukak usaha, embuh kapan yang penting punya tempatnya dulu”, lanjutnya kemudian. Ya!. Pemikiran ibunya anak-anak ini sebenarnya mletik (ide cemerlang) juga.

Namun hati kecil saya yang belum bisa langsung menerima. Uedan!, pikir saya. Bertahun-tahun jadi tukang insinyur dengan gaji jut-jutan, sekolahnya luuuama lagi, kok ujug-ujug dodol mracangan ning ndeso sing bathine sak uprit……!. (tiba-tiba buka warung di desa yang keuntungannya cuma sedikit). Jujur saja, kesombongan semacam ini tentu tidak mudah untuk ditutup-tutupi begitu saja, setelah belasan tahun malang-melintang di dunia industri pertambangan modern, lengkap dengan privilege dan kartu nama prestise.

Lama-lama (tentu atas petunjuk “Atasan” juga), saya mulai mencoba untuk realistis. Sepertinya kok tidak ada salahnya juga untuk memenuhi usulan ibunya anak-anak ini. Sebanyak apapun uang saku yang saya gembol dari Papua, kalau tidak segera dicantholke (dibelanjakan untuk memiliki aset), pasti tahu-tahu buablasss sak angin-angine……

Akhirnya kami mulai membangun toko, setelah sepakat menggunakan uang saku dari kumpeni terakhir yang telah berbaik hati membekali saya menjadi penganggur terselubung di Jogja. Pokoknya harus jadi bangunan toko, embuh jadi toko apa atau mau jualan apa. Gagasannya, kalau pun akhirnya kefefet tidak ada mata pencaharian pengganti, maka bisa langsung kulakan dan jualan. Itu saja.

Memasuki bulan kelima, keenam dan ketujuh, eee…. lha kok saya malah jadi lupa dengan kegelisahan sebelumnya antara mau kerja lagi atau wirausaha. Hari-hari berlalu dengan makin asyik aja……, berkonsentrasi pada pekerjaan pembangunan toko yang belum jelas ini. Kepalang basah, kalau memang mau buka usaha toko ya mesti direncana sebaik-baiknya, jangan asal pokoknya punya toko, lalu pokoknya jualan, pokoknya tidak rugi, pokoknya ada usaha, pokoknya ketimbang nganggur….. Lama-lama bisa jadi pokoknya tidak kembali (tidak kembali pokok alias tidak breakeven).

Mulailah kami melakukan survei kecil-kecilan. Midar-mider (kesana-kemari) menyusuri jalan raya Prambanan – Piyungan untuk mencari ilham kira-kira usaha apa yang cocok dikerjakan. Mulai rajin jalan-jalan (tapi pakai mobil) di sana. Mengamati kesibukan masyarakat, perkampungan dan perumahan ditolah-toleh, toko-toko yang ada diintip-intip, teman-teman dan saudara dimintai pertimbangan. Masih juga belum ketemu titik terangnya. (Lha ya maklum, setelah 16 tahun bekerja mendesain-merencana-mengawasi-mengevaluasi proyek penambangan, lha kok tiba-tiba njuk nyurvei warung .……).

Beberapa alternatif dikumpulkan, hingga akhirnya menemukan beberapa pilihan peluang bisnis atau usaha yang kiranya punya potensi bagus untuk dikembangkan. Antara lain, toko material dan bangunan, toko obat atau apotek, toko spare-part dan bengkel, toko elektronik, dan tentunya toko ritel atau kelontong. Tidak perlu dilakukan analisa bisnis yang rumit-rumit untuk memilihnya. Pasti akan merepotkan, disamping hasilnya juga semuanya akan punya prospek bagus. Dilakukanlah evaluasi secara umum saja, ditimbang-timbang plus-minusnya, tingkat kesulitannya, potensi pasarnya, dan hal-hal lain yang lebih ke soal-soal praktisnya saja.

Entah istri saya dapat wangsit dari mana, hingga akhirnya dia memantapkan hati untuk buka toko ritel dengan prioritas pada kebutuhan sehari-hari. Pertimbangannya sederhana sekali, malah tidak pernah terpikir oleh saya sebelumnya. Katanya, kalau toko bangunan, apotek, elektronik, apalagi bengkel, dia merasa sebagai seorang wanita akan sangat bergantung dengan keberadaan saya atau setidak-tidaknya orang lain. Sedangkan kalau toko ritel, istri saya merasa mampu untuk menanganinya sendiri kalau pun misalnya tiba-tiba saya tinggal pergi karena saya berubah pikiran ingin kembali jadi orang gajian, entah di hutan atau gunung mana lagi. Saya hargai ini sebagai kebulatan tekad seorang istri dengan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa. Hingga akhirnya saya mengangguk mengamini.

Tidak takut?. Bukankah toko ritel sudah bertebaran di mana-mana? Apakah kira-kira akan bisa jalan? Saya ingat ketika seorang teman pernah membisiki saya. Begini kira-kira katanya : “Di pasar itu bakul brambang (bawang merah) jentrek-jentrek, bakul sayur berderet-deret, bakul ikan dempet-dempetan, tapi semua laku. Tidak pernah ada ceritanya bakul brambang, bakul sayur dan bakul ikan yang bangkrut. Kalaupun tidak jualan, itu karena orangnya capek atau sibuk usaha lain, tapi bukan karena bangkrut”. Inilah rahasia “Ilmu Gaib” lainnya, bahwa setiap orang memang sudah memiliki takaran rejekinya masing-masing. Ingat lho, takaran bukan bantuan langsung tunai (kok nyimut…..?). Jadi, siapa cepat (mengusahakannya) dia dapat, yang ogah-ogahan ya enggak dapat-dapat.

Lalu difokuskanlah semua langkah untuk menggarap peluang bisnis toko ritel. Lha, tapi pembangunan toko sudah telanjur dimulai, tidak dirancang untuk toko ritel. Maka jalan keluarnya gampang saja.….., ya sudah, yang sudah telanjur biarkan saja, nanti bisa dipikir sambil tidur. Selebihnya yang belum telanjur, mulai saat itu semuanya diarahkan untuk menuju ke usaha toko ritel, prioritasnya kebutuhan sehari-hari, sistem jualannya swalayan, konsepnya sistem bisnis modern, visinya jauh ke sepuluh-lima belas tahun ke depan, dengan memanfaatkan semua peluang yang ada dan yang harus dicari untuk diadakan.

Pertengahan bulan ketujuh sejak menjadi penganggur terselubung, adalah titik awal semua rencana usaha mengarah ke bentuk usaha toko ritel yang kemudian bernama “Madurejo Swalayan” ini. “Just Plan It” dimulai, business plan disusun, visi-misi dicanangkan, mental dan fisik dipersiapkan, dsb. dsb. dsb…… Sedangkan, hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan (dan tanggung jawab operasional toko nantinya) dan lain lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Niat kebulatan tekad kami hanya satu : Menjadikan usaha ini sebagai bagian dari ibadah. Dengan demikian pembagian tugasnya jelas. Sebagai bawahan kami berkewajiban bekerja keras mengubah setiap tetes keringat menjadi tetes-tetes kesuksesan, selebihnya biar “Atasan” yang ngurus……. Mudah saja, tidak perlu job profile atau job description yang neko-neko. Kami percaya, “Atasan” Yang (Maha) Satu ini tidak akan pernah mem-fait accompli bawahannya (inilah bedanya dengan atasan yang telah berbaik hati nyangoni saya untuk kembali ke Yogyakarta).

Kalaupun ada masalah, dijanjikan ada jalan keluarnya dan itu pasti yang terbaik. Sungguh luar biasa “Atasan” saya Yang (Maha) Satu ini. Bahkan tidak hanya kepada kami, melainkan juga kepada siapa saja, yang meminta maupun yang tidak meminta. (Dalam buku tebal bertulisan Arab yang sering terpajang di ruang tamu, selalu tampak rapi, bersih dan telihat baru, karena jarang disentuh apalagi dibuka, saya temukan penggalan kalimat begini  : “Opo sampeyan ora dong?……., Tidakkah kalian mengerti?”. Tulisan Arabnya berbunyi : Afalaa ta’qiluun …….).

***

Kini, kalau ada yang tanya kepada saya : “Kenapa memilih membuka usaha mini-market? Kok bukan toko yang lain?”. Kalau menginginkan jawaban lengkap, ya seperti dongeng di atas itulah jawabannya. Kalau cukup jawaban singkat : Itulah pilihan terbaik menurut petunjuk dari “Atasan” kami…..

Madurejo, Sleman – 21 Pebruari 2006
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.