Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘swalayan’

Ada Maling Di Tokoku

30 Juni 2011

Pengantar:

Seseorang tak di kenal gagal melakukan upaya percobaan pencurian di toko saya “Madurejo Swalayan”, Prambanan, Sleman, Yogya Istimewa, pada tanggal 2 Juni 2011 dini hari. Cerita itu saya tulis di Facebook pada tanggal 2-4 Juni 2011 dalam beberapa penggalan cerita status. Berikut ini rangkaian ceritanya.

***

(1)

Menjelang jam 3 dini hari di libur Kenaikan Isa Almasih, seseorang melompati pagar setinggi 3 m menggunakan tangga dari kebun belakang rumah tetangga toko Madurejo. Kemudian menuju bangunan di belakang toko, tolah-toleh sana-sini, mengintip ruang kantor, memeriksa pintu dan jendela, lalu naik ke lantai 2. Sekitar lima menit kemudian turun dari lantai 2.

Agaknya tadi melakukan slow motion, mengendap-endap, mengintip si penunggu toko yang tidur di lantai atas.

(2)

Seseorang yang agaknya ingat kalau sedang tanggal muda itu kemudian berjalan perlahan meninggalkan bangunan toko menuju ke bagian belakang. Mungkin memeriksa gudang di belakang yang kondisinya sedang kosong. Sekitar lima menit kemudian kembali lagi.

Aha.., dia kini mengenakan topi yang dipakai terbalik, bagian depan topinya menghadap ke belakang. Entah mengapa dia meloncati lubang jendela teras kantor, padahal ada ruang terbuka yang lebih mudah. Rupanya kini membawa obeng.

(3)

Dua jendela kantor dicoba dicongkel tapi gagal. Pintunya juga tidak bisa dibuka. Lalu mencoba membuka pintu belakang toko, juga gagal.

Merasa kurang nyaman, seseorang berjaket hijau dengan topi terbalik itu lalu kembali menuju tangga ke lantai atas. Barangkali ingin memastikan si penunggu toko masih terlelap. Dengan menggunakan senternya dia pun melompati barang-barang yang masih tergeletak di ujung bawah tangga, lalu mengendapendap naik.

(4)

Pada saat yang sama, si penunggu toko yang tidak lama sebelumnya baru kembali dari toilet di lantai bawah mendengar ada suara mencurigakan di bawah. Dia pun lalu waspada memasang pendengarannya tajam-tajam. Dia lalu memutuskan untuk memeriksanya. Dia bergerak keluar kamarnya, berjalan mengendap-endap menuju ke tangga. Pelan-pelan dilongokkan kepalanya mengintip ke bawah dari ujung atas tangga.

(5)

Waaa.., betapa kagetnya ketika dalam keremangan dilihat ada seseorang yang juga sedang mengendap-endap naik. Orang itu pun tak kalah kagetnya ketika tahu aksinya dipergoki.

Seperti adegan “Tom & Jerry”, seseorang tak di kenal itu langsung bubar jalan, turun dengan panik melompati tumpukan barang, lari sipat kuping (kencang) ke arah belakang, menembus kegelapan, menuju pojok halaman dimana ada bak sampah. Agaknya dia tahu ada posisi bagus untuk lompat pagar.

(6)

Sesaat kemudian si penunggu toko menyusul sambil teriak-teriak sekenanya. Namun dia memutuskan balik lagi mengambil senter dan membangunkan temannya. Dia khawatir kalau orang tak dikenal itu membawa senjata tajam dan berbuat nekad.

Tentu saja dia kehilangan banyak waktu. Orang tak dikenal itu sudah hilang ditelan malam. Sementara si penunggu toko memeriksa sekeliling halaman. Ketemu dengan pak tani yang sedang mengalirkan air di sawah yang tentu saja tidak ngeh.

(7)

Semua adegan di teras kantor dan belakang toko itu terekam oleh kamera CCTV toko “Madurejo Swalayan”. Sore tadi saya buat copy-nya untuk dilaporkan ke pak polisi Polsek Prambanan, tentang adanya percobaan pencurian. Walau tidak terlihat detil, tapi prejengan (profil wajah) dan postur tubuhnya cukup mudah dikenali.

Segenap pegawai pun saya kumpulkan untuk briefing tentang langkah antisipasi yang harus dilakukan, karena orang itu pasti akan kembali…

(8)

Orang itu pasti penasaran, maka dia akan belajar lebih baik untuk mengulangi. Entah kapan dan dengan cara apa.

Maka langkah antisipasi yang utama tentu saja meningkatkan kewaspadaan di semua bidang. Setelah itu, ada langkah pencegahan secara fisik dan non-fisik (kalau disebut metafisik asosiasinya jadi lain). Secara fisik adalah memperbaiki sistem pengamanan. Secara non-fisik adalah ndongo (berdoa) memohon perlindungan Tuhan sekaligus berserah menitipkan kepada-Nya.

(9)

Menyadari bahwa selalu saja ada hal-hal yang dapat terjadi di luar kontrol manusia, maka itulah perlunya langkah non-fisik. Sehebat-hebatnya upaya pengamanan, selalu ada celah yang dapat ditembus. Maka ndongo (berdoa) adalah upaya untuk menambal celah itu dan biar Tuhan yang melakukannya.

Kalau memang Tuhan mengijinkan celah itu ditembus orang jahat, maka pasti Dia sudah menyediakan kompensasinya. Maka dalam berbisnis pun sebaiknya melibatkan Dia serta semua system-Nya…

(10)

Tentang maling yang misinya gagal itu rupanya saat kabur meninggalkan sepasang sandal jepit warna hijau. Kutanya pada penunggu tokoku: “Mau dibuang atau dipakai?”.

“Saya pakai saja, pak”, jawabnya.

Yo wis… Kalau tidak, mau kubakar sambil kubaca-bacain (baca koran yang untuk membakar maksudnya). “Ben kobong silite…”, kataku.

Siapa tahu bisa membuat (maaf) duburnya terbakar. Bisa meloncat-loncat seperti jaran (kuda). Bisakah? Ya siapa tahu saja bisa…

(11)

Haha… ‘Boss’ saya dan penunggu toko tertawa ngakak mendengar gurauanku. Padahal saya mengatakannya sambil serius. Tentu saja saya tidak berharap itu terjadi. Si maling sudah berbaik hati “terpaksa” menyedekahkan sandalnya, masak mau dibalas dengan yang lebih buruk. Sementara tidak ada sedikitpun kerugian diderita, kecuali rasa jengkel diperdaya begundal iseng.

Perburuan sedang dilakukan. Mudah-mudahan berhasil agar cerita ini ada lanjutannya.

(12)

Pak polisi sudah mendatangi TKP. Kami pun membantu dengan memberikan info yang diperlukan. Kalau nantinya bisa dilacak, diburu dan ketahuan siapa pelakunya, lalu apa? Ya tidak ada apa-apa…

Tidak ada angan-angan untuk menghakimi sendiri (saya takut jadi hakim), melainkan hanya ingin mengingatkan agar jangan coba-coba mengulangi perbuatan nakalnya (mengingatkan tapi mengancam). Lebih dari semua itu, pencegahan dan kewaspadaan tetap harus diutamakan.

(13)

Ketika ngobrol-ngobrol dengan tetangga toko tentang insiden pencurian itu, seseorang bercerita bahwa di Yogya banyak toko-toko yang “dipagari”. Saya jelaskan bahwa toko saya pun sudah dipagar keliling setinggi 3 m. Itu yang kelihatan. Kalau yang tidak kelihatan sudah saya mintakan Tuhan untuk memagari dan saya pasrah bongkokan (total) kepada-Nya.

Maka kalau suatu saat Tuhan kok mengijinkan ada begundal iseng menerobos pagar bikinan-Nya. Ya monggo… Saya pun bisa tidur nyenyak.

(Note: Seorang teman menyarankan agar dipasang sensor gerak untuk mendeteksi gerakan orang tak diundang di saat yang tidak wajar. Tapi saya pikir-pikir, jangan-jangan nanti sistem keamanan toko saya lebih canggih ketimbang bank…hehe)

Yogyakarta, 2-4 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Ada Rampok Di Tokoku

6 Januari 2009

img_0939_r21Saat sedang tegang-tegangnya nonton film “The Day After Tomorrow” (kecuali setiap kali muncul iklan saya tinggal pergi) di Global TV tadi malam, sekitar jam 20:45 WIB ponsel istri saya berdering. Rupanya itu tilpun dari toko kami, “Madurejo Swalayan”. Tumben, malam-malam ada tilpun dari toko. Lalu terdengar suara istri saya meninggi dengan nada terkejut.

Piye, mbak….? Ono opo mbak….? Ora jelas suaramu……?” (Bagaimana, ada apa, suaranya tidak jelas….). Hanya terdengar suara tangisan seorang pegawai toko kami di seberang sana, di desa Madurejo yang berjarak sekitar 15 km dari rumah.

Kemudian seorang laki-laki mengambil alih gagang tilpun, lalu katanya : “Ibu segera ke toko, ada perampokan….”. Dan, sambungan tilpun pun lalu terputus. Begitu, laporan istri saya tergopoh-gopoh sambil masih mengacung-acungkan ponselnya, segera setelah menerima tilpun.

Mendengar ekspresi nada suara istri saat pertama kali menerima tilpun, saya sudah menduga bahwa sesuatu sedang terjadi di toko saya. Herannya, saya kok ya tetap asyik saja nonton TV sama anak laki-laki saya, sambil menunggu laporan istri itu. Sepertinya tayangan film TV malah lebih menegangkan.

Kata istri saya dengan nada suara tegang : “Mas, segera ke toko sekarang, ada rampok”.

Saya pun menjawab santai : “Ya, suruh nunggu…..” (maksudnya pegawai toko yang saya suruh menunggu saya datang, bukan perampoknya….).

Saya mulai beraksi (menggantikan aksi film TV yang saya tinggal). Pengawas dan pegawai toko tidak berhasil saya hubungi ke HP-nya. Lalu buru-buru saya coba menghubungi tetangga toko saya, dengan maksud untuk minta tolong menengok apa yang terjadi di sana sementara saya dalam perjalanan 30 menit dari rumah menuju toko.

(Ya.., ya.., tetangga adalah mahluk yang sering kita kesampingkan pada saat dunia sedang aman dan damai, tapi tiba-tiba menjadi sangat penting peranannya ketika terjadi keadaan darurat. Kalau kemudian dunia kembali aman dan damai, ya lupa lagi sama tetangga. Ugh…! Kasihan deh, jadi tetangga. Untungnya, saya tidak tergolong sebagai mahluk yang abai terhadap tetangga).

Ee, lha kok ndilalah….., no HP yang saya hubungi nyasar ke seorang teman lama yang kebetulan namanya sama dengan nama tetangga toko yang mau saya hubungi. Maksud hati mau bicara to the point, apa daya pembicaraan dengan teman lama saya itu malah susah untuk diputus. Bagi teman saya itu : “Kebetulan sudah lama tidak ketemu mas Yusuf…”. Weleh…., malah jadi kangen-kangenan. Lha saya sedang buru-buru dan rada sentress, je…

Setelah pembicaraan kangen-kangenan dengan teman lama berhasil diselesaikan dengan baik, saya lalu berubah pikiran untuk menghubungi petugas keamanan desa Madurejo, yang juga tetangga toko saya. Langsung saja saya minta beliau untuk menuju TKP dan minta tolong melakukan apa-apa yang perlu dilakukan sebelum saya tiba di sana.

***

Sekitar jam 21:30 saya tiba di toko bersama istri dan kedua anak saya yang kepingin tahu apa yang terjadi di toko. Toko sudah ditutup, tapi di depan toko masih ramai orang, di antaranya beberapa petugas polisi dari Polsek Prambanan. Istri saya segera menemui pegawai-pegawai toko yang masih shock, sedangkan saya langsung menuju TKP ditemani oleh petugas kepolisian dan seorang tetangga saya. Kronologi peristiwa perampokan justru saya dengar dari kedua orang yang menemani saya itu, sambil saya menginspeksi situasi meja kasir dimana perampokan terjadi, sambil saya men-jeprat-jepret-kan kamera, sambil saya berdialog. Sementara seorang pegawai kasir dan seorang temannya masih shock belum bisa banyak memberi keterangan.

Menurut cerita sementara : Datanglah dua orang pemuda berboncengan naik sepeda motor, lalu masuk toko dan hendak membeli rokok. Seperti biasa, penjualan rokok dilayani kasir. Ketika sepertinya hendak membayar di kasir, tiba-tiba sepucuk pistol ditodongkan ke kasir sambil menggertak agar uang di laci segera diserahkan. Laci kasir lalu ditarik dan di-oglek-oglek ternyata tidak bisa dibuka (kebetulan sistem komputer belum dalam posisi melakukan transaksi, jadi ya tidak bisa dibuka….. Agak bodoh juga rupanya rampok ini…, agaknya mereka masih perlu sedikit belajar tentang perkasiran…..).

Karena tergesa-gesa sebelum diketahui orang lain, laci di bawah meja kasir dibuka, dan diraihlah sebundel uang cadangan yang ada di sana (tadi malam saya perkirakan jumlahnya sekitar satu koma tiga juta rupiah, tapi setelah tadi pagi dihitung ulang dari data komputer ternyata jumlanya “hanya” tujuh ratus tiga puluhan ribu rupiah). Barangkali merasa bahwa uang jarahannya tidak banyak, sang penyamun itu lalu meminta HP milik mbak kasir. Kemudian secepat kilat mereka kabur nggendring….. berboncengan sepeda motor menuju arah selatan, dan menghilang ditelan malam.

Puji Tuhan walhamdulillah, sang penyamun gagal menggasak hasil penjualan toko saya sehari kemarin (kita sering tidak ngeh, rupanya ada juga kegagalan yang haus di-alhamdulillah-i…). Tapi… siwalan bener, mereka berhasil membuat shock dan menjatuhkan mental pegawai saya.

Secara materi, kerugian yang ditimbulkan oleh aksi perampokan ini relatif tidak seberapa, kerusakan fasilitas toko tidak ada, korban juga tidak jatuh. Akan tetapi kerugian immaterial sungguh tidak kecil. Dua orang pegawai saya hampir pingsan, belum bisa diajak bicara hingga malam, hanya bisa menangis sesenggukan. Sekitar jam 10 malam, kedua pegawai saya itu saya antarkan pulang ke rumahnya di lereng perbukitan sebelah timur Madurejo. Saya serahkan kepada keluarganya yang sudah pada beristirahat malam dan terkejut mendapati anak perempuan mereka pulang dari kerja tidak seperti biasanya. Salah satunya harus berjalan dipapah sambil masih menangis gero-gero (meraung) dan seorang lagi malah harus dibopong (diangkat dengan kedua tangan) dan tidak bisa berucap apa-apa selain sesenggukan. Menjadi kewajiban saya untuk menjelaskan apa yang terjadi, meminta maaf dan berterima kasih kepada keluarganya.

Peristiwa perampokan tadi malam itu langsung ditangani oleh pihak kepolisian Sektor Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Meski untuk urusan pelaporan itu, tadi malam saya harus berada di kantor Polsek hingga jam 01:30 dini hari. Menemani pak polisi yang sedang bekerja agar baik jalannya….., mengisi beberapa lembar kertas berjudul Laporan Tuntas dan Laporan Polisi rangkap tiga berkarbon, menggunakan mesin ketik Brother yang sudah karatan dan tanpa kap atasnya. Diiringi bunyi cethak-cethok…pencetan jari tengah tangan kiri dan jari telunjuk tangan kanan, dan memerlukan waktu satu jam untuk menyelesaikannya.

Setelah itu dilanjutkan dengan pembuatan Berita Acara Pemeriksaan dengan menjawab 17 pertanyaan (jadi ingat berita tentang pemeriksaan tersangka korupsi yang oleh koran selalu disebut jumlah pertanyaannya). Hal yang terakhir ini diketik dengan komputer, tapi tetap saja berjalan lambat karena nampaknya pak polisi juga sangat hati-hati dalam menyelesaikannya (maklum, BAP adalah dokumen hukum yang setiap kalimatnya menjadi sangat berarti ketika misalnya kasus itu naik ke proses peradilan). Saya harus memakluminya, meski untuk itu saya, istri dan anak-anak harus pulang sampai rumah jam 02:00 dini hari.

***

Perihal kerugian dari kejadian perampokan ini rasanya langsung bisa saya ikhlaskan. Eee…, barangkali kedua penyamun itu sedang butuh biaya pengobatan keluarganya (meski hati saya berprasangka juga, jangan-jangan malah buat bok-mabbok dan ler-teller….). Kini tinggal tugas saya dan istri untuk memulihkan moral dan semangat kerja pegawai saya yang sempat shock dan jatuh mentalnya akibat mengalami peristiwa perampokan (menurut istilah kepolisian disebut curat alias pencurian dengan pemberatan) yang bagi pegawai saya bisa berakibat sangat traumatis.

Akhirnya, pelajaran yang bisa dipetik adalah bahwa saya harus bisa memetik pelajarannya. Lho? Embuh-lah….. Tapi yang saya yakini pasti adalah bahwa di dunia in tidak ada peristiwa yang kebetulan. Daun jatuh saja diurus dengan sangat cermat oleh Tuhan. Apalagi peristiwa perampokan yang melibatkan banyak pihak, pasti Tuhan punya “naskah” skenario yang sangat tebal. Mudah-mudahan saya mampu membaca dan memahaminya.

Madurejo – Sleman, 6 Januari 2009
Yusuf Iskandar

Bincang-bincang Tentang Kewirausahaan Dengan Mahasiswa

21 Desember 2008

dscn5984_upn1_14dec08_r

Foto : Saya di tengah (berkacamata berbaju warna krem), di sebelah kiri saya mas Atok Suryono yang juga menjadi narasumber (berkacamata berbaju warna putih kotak-kotak), di sekelilingnya adalah para mahasiswa yang jumlah keseluruhannya lebih dari 25 orang.

Hari Minggu mestinya waktu yang sangat berharga untuk istirahat atau beracara keluarga. Tapi hari minggu yang lalu, 14 Desember 2008, saya putuskan untuk mengisi acara bincang-bincang dengan adik-adik mahasiswa tentang kewirausahaan. Kebetulan (sebenarnya ya tidak juga kalau dikatakan kebetulan….., wong sudah lama direncanakan) teman saya mas Kundarto mengundang saya untuk bersedia datang ke kampusnya di Fakultas Pertanian, UPN “Veteran” Yogyakarta untuk berbagi tentang pengalaman kewirausahaan.

Hanya karena saya yakin ini adalah sebuah bisnis yang menguntungkan, maka saya menerima tawarannya. Pertama, karena saya sangat menghargai inisiatif teman saya itu untuk memberi bekal tentang kewirausahaan kepada mahasiswa didiknya. Kedua, karena saya mempunyai kesempatan untuk memberi atau bahasa agamanya sedekah, berupa sedikit ilmu dan sedikit pengalaman yang saya miliki tentang kewirausahaan (memang punyanya ya hanya sedikit…). Tentu saja sesuai bidang bisnis yang sedang saya tekuni adalah terkait dengan bisnis mracangan, bisnis ritel “Madurejo Swalayan”. Ketiga, saya sedang memperluas silaturrahim, setidak-tidaknya dengan adik-adik mahasiswa (Ee… siapa tahu kenal dengan mahasiswi cantik. Lha, kalau sudah kenal njuk ngopo…..?  Ya, enggak ada apa-apa, wong cuma kenal saja……).

Saya percaya bahwa memberi atau sedekah dan silaurrahim adalah kata kunci untuk bisnis yang pasti menguntungkan. Hanya jika saya mau memberi maka saya boleh berharap menerima. Semakin banyak memberi maka semakin banyak pula saya akan menerima, bahkan jauh lebih banyak dari yang pernah saya berikan. Begitulah “ngelmu gaib” yang saya pelajari.

Menatap wajah-wajah sumringah penuh semangat adik-adik mahasiswa yang kok ya mau-maunya di hari Minggu menghadiri dan mendengar dongengan saya, tentu membuat saya semakin bersemangat untuk berbagi.

Pokok bahasan yang saya sampaikan sederhana saja, antara lain tentang pilihan setelah lulus kuliah, mau menjadi pegawai atau pengusaha. Dengan perkataan lain, menjadi orang gajian atau wirausahawan. Bagaimana menata pola pikir (mind set) diantara kedua pilihan itu. Lalu dilanjutkan dengan berbagi pengalaman tentang bisnis ritel.

Saya sudah menduga tentang pertanyaan yang bakal muncul, yang kemudian ternyata dugaan saya benar, yaitu tentang bagaimana mendapatkan modal atau kepingin berusaha tapi tidak punya modal. Ini hal mendasar yang seringkali muncul akibat dari wawasan yang belum terbuka tentang kewirausahaan. Lalu menjadi salah kaprah bahwa yang disebut modal adalah uang. Sebab kalau hanya berpatokan kaku pada modal adalah uang, maka berarti kalau tidak punya uang ya tidak jadi berwirausaha. Lha rak ciloko, padahal semangat bambu runcing sudah mendidih di ubun-ubun untuk segera mulai jualan, misalnya. Apa ya terus bubar jalan begitu saja……..

Pertanyaan berikutnya adalah tentang apakah sebaiknya buka usaha sendiri atau ikut waralaba. Ada karakteristik bisnis tertentu yang perlu dipahami untuk membuat pilihan ini. Bukan soal salah atau benar, sebaiknya atau tidak sebaiknya, melainkan apa yang diinginkan dengan membuka usaha beserta resiko-resikonya.

Hal yang membuat saya respek adalah bahwa ternyata ada beberapa mahasiswa yang ternyata sudah memulai berbisnis di sela-sela waktu studinya. Ini gejala bagus yang kini semakin banyak dijumpai. Bahkan ada yang sudah mengalami jatuh-bangun, jatuh dan bangun lagi, lalu jatuh lagi, hingga kemudian merasa kalau drinya tidak bisa bisnis. Padahal justru itulah tanda-tanda kesuksesan yang bakal diraihnya.

Hanya karena pernah jatuh maka seseorang menjadi tahu artinya bangun. Semakin sering jatuh, semakin lihai seseorang untuk memahami caranya bangun. Lha kalau kemudian njuk jatuuuuuh terus…..tidak bangun-bangun? Maka hanya Tuhan dan tukang ledeng yang tahu sebabnya (maksudnya perlu dipuntir-puntir dan dipukul-pukul). Karena pasti ada mekanisme hidup yang salah, tidak pernah mau introspeksi dan tidak pernah mau belajar (wis, ora perlu eyel-eyelan….). Belum tentu berarti bodoh. Bisa jadi nilai matematikanya sembilan kurang sedikit. Melainkan hanya sedikit tertidur sehingga perlu gempa 7,9 skala Richter untuk membangunkannya.

Walhasil, akhirnya acara bincang-bincang dan diskusi berjalan bagai tak ingin berakhir. Saya pun mengakhirinya dengan ajakan : “Yuk kita ikrarkan resolusi bagi diri kita masing-masing di penghujung tahun 2008 ini”, sambil wanti-wanti agar tidak terlena bahwa krisis global saat ini sedang mengancam ketersediaan lapangan pekerjaan.

Yogyakarta, 21 Desember 2008
Yusuf Iskandar

Selamat Idul Fitri 1429H

2 Oktober 2008

Segenap keluarga besar “Madurejo Swalayan” menghaturkan :

“Selamat Idul Fitri 1429H — Mohon Maaf Lahir dan Batin”

Taqobbalullahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.
Kullu amin wa antum bi khoir.
Minal aidin wal faizin.

Madurejo – Prambanan, 1 Oktober 2008  (1 Syawal 1429H)
Yusuf Iskandar

Berani Bisnis Ritel Dengan Merek Sendiri

18 Agustus 2008

Pengantar :
Memenuhi permintaan beberapa rekan yang tidak sempat membaca artikel selengkapnya di majalah “Wirausaha & Keuangan”, Edisi No. 62/Juni 2008. Di bawah ini teks selengkapnya.

——-

Yusuf Iskandar, semula tidak pede saat mendirikan Madurejo Swalayan yang berlokasi di pinggiran timur kota Yogyakarta. Selain merek swalayan yang belum banyak dikenal orang, juga lokasinya yang berada di antara Jalan Raya Jogja – Solo dan Jogja – Wonosari, jauh dari keramaian. Meskipun lokasinya berada di pinggir jalan, namun area sekitarnya masih berupa kawasan persawahan dan relatif jauh dari perkampungan penduduk desa.

Banyak tantangan di awal berdirinya usaha ritel ini, mulai dari ketiadaan pengalaman sebelumnya, minim pengetahuan manajemen hingga lokasi yang kurang strategis, jauh dari kawasan pemukiman (padahal menurut teori bisnis ritel harus dekat dengan pemukiman), dan letaknya yang berada di kawasan ndeso di pinggir kota yang masyarakat umumnya masih awam dengan konsep toko modern.

Namun tantangan tidak selalu harus dieliminasi, melainkan didayagunakan untuk diubah menjadi peluang. Istilahnya, harus berani berpikir paradogsal. Berpikir kebalikannya. Karena di setiap tantangan dan kelemahannya selalu ada peluang. Ibarat seorang ahli geologi yang menemukan singkapan batu bijih, maka pasti ada batuan induknya yang mengandung mineral bahan tambang yang berharga dan bernilai ekonomis.

Mencari, menggali dan menggarap peluang untuk menambang batuan induknya, itulah yang dilakukan Yusuf selaku pemilik bisnis ritel Madurejo Swalayan.

Tren Pelanggan Justru Meningkat

Dengan keadaan seperti di atas, tetapi dikelola dengan sepenuh hati, ternyata bisnis ritel terbukti sejak mulai beroperasi pada bulan Oktober 2005 hingga masuk ke tahun ketiga di tahun 2008 ini, terus menunjukkan adanya peningkatan.

“Kenaikan omset penjualan, pertambahan aset toko, perluasan toko, pertambahan jumlah karyawan, adalah sebagian dari pencapaian yang kerangka besarnya adalah menebar rahmat bagi semua stakeholder (di antaranya adalah pemilik, pegawai, pemasok dan masyarakat sebagai konsumen), di lingkungan dimana bisnis ini berada”, ujar Yusuf.

Tantangan ke depan bagi Yusuf adalah mengelola Madurejo Swalayan, yang semula dianggap banyak orang pesimistis karena belum memenuhi syarat tempat bagi tumbuhnya bisnis ritel ternyata telah terbantahkan.

“Kami justru sedang menyempurnakan sistem manajemen toko, mempersiapkan strategi pengembangannya dan mengantisipasi era persaingan bisnis ritel yang semakin kompetitif. Cepat atau lambat ketatnya persaingan bisnis ritel juga akan merambah kawasan desa Madurejo dan sekitarnya seiring dengan bertambahnya kepadatan penduduk dan perkembangan wilayah. Ini menarik”, jelasnya.

Hingga kini, Madurejo Swalayan yang dikelola Yusuf Iskandar telah siap memberi kemudahan bagi masyarakat di sekitarnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan harga yang wajar dan kompetitif.

Disebut kemudahan karena jika dibandingkan kalau masyarakat harus membelinya di kota kecamatan terdekat atau ke kota Yogyakarta yang memerlukan biaya transport yang cukup besar, maka belanja di Madurejo Swalayan relatif lebih murah.

Ternyata benar kata orang-orang bijak. Berbisnis tidak perlu takut, tidak perlu berhitung terlalu njlimet, apapun bisnisnya jika kita tekun dan bekerja keras, akan menuai hasil seperti yang diharapkan.

Ingin sharing bisnis bersama Yusuf, hubungi telepon 0274-4398430 atau handphone 08122787618.

Membincang Bisnis Melalui Kelompok Master Mind

10 Maret 2008

(Catatan dari diskusi kelompok komunitas TDA Joglo)

MM4_TDA-Joglo

(Foto dari kiri ke kanan : Ichsan, Huda, Djoko, Yusuf, Memetz)

Pengantar :

TDA adalah kependekan dari Tangan Di Atas, yaitu sebuah jaringan komunitas bagi para pengusaha dan calon pengusaha yang ingin saling memberi. Sesuai dengan namanya, “tangan di atas” adalah perlambang dari seorang “pemberi”, berarti yang memberi penghasilan atau gaji (kepada karyawan), yang berarti juga yang memberi ilmu (kepada sesama), yang memberi manfaat (pada orang banyak). Maka anggota komunitas TDA adalah para pengusaha dan calon pengusaha yang mempunyai usaha, yang berminat mengembangkan usaha dan yang ingin mengetahui informasi peluang dan perkembangan usaha (bisnis).

Salah satu media yang digunakan “hanya sebagai alat” untuk berkomunikasi adalah milis (mailing list). Milis ini mempunyai misi untuk menjadi sarana berbagi (sharing) dan komunikasi bagi para pengusaha, calon pengusaha atau pengusaha pemula untuk bersama-sama membuka pasar, menjalin kerja sama dengan produsen, mencari alternatif dukungan finansial dan saling membimbing.

Dalam perkembangannya, agar komunikasi lebih efektif, maka dibentuk kelompok diskusi yang lebih kecil berdasarkan kawasan geografis dimana anggota atau aktifitasnya berada. Salah satu diantaranya adalah TDA Joglo atau Tangan Di Atas daerah Jogja – Solo dan sekitarnya yang dibentuk pada tahun 2007. Awalnya TDA Joglo dibentuk sebagai bagian dari komunitas TDA yang dibentuk di Jakarta oleh Bapak Roni Yuzirman pada tahun 2006 yang pada saat ini sudah mempunyai lebih 1.850 anggota yang tersebar di seluruh Indonesia sampai ke manca negara.

Dalam perkembangannya kini, TDA Joglo tidak hanya berkonotasi georafis untuk mewadahi kegiatan bisnis anggotanya di daerah Jogja – Solo dan sekitarnya saja. Embel-embel “joglo” berarti bangunan tradisional Jawa yang melambangkan sebagai pelindung atau wadah bagi segenap anggotanya yang merasa memiliki ikatan emosional kedaerahan khususnya wilayah Jateng – DIY (tidak dalam pemahaman yang eksklusif dan fanatis). Diharapkan komunitas ini dapat berkembang di daerah-daerah sehingga akan semakin menguatkan jaringan kerja antar anggotanya yang tersebar di seluruh Indonesia dan manca negara.

Istilah-istilah yang sering digunakan dalam komunitas ini, antara lain :

  • TDA (Tangan Di Atas, adalah sebutan bagi mereka yang sudah sepenuhnya menjadi pengusaha, tidak perduli seberapa besar atau kecilnya skala usaha atau bisnisnya).
  • TDB (Tangan Di Bawah, adalah sebutan bagi mereka yang masih berprofesi sebagai orang gajian, pegawai/karyawan, tidak perduli seberapa besar atau kecilnya perusahaan tempatnya menerima gaji atau seberapa besar gaji yang diterimanya).
  • Amfibi (sebutan bagi mereka yang menjalankan fungsi ganda antara sudah TDA dan masih TDB).

——-

Hari Minggu yang lalu, 9 Maret 2008, bertempat di rumah saya di kawasan Umbulharjo, Yogyakarta, telah diadakan sebuah pertemuan kecil yang disebut dengan Master Mind (MM). Ini adalah kelompok kecil terdiri kurang dari 10 orang. Ada beberapa kelompok kecil yang dibentuk di bawah TDA Joglo yang berujuan agar diskusi dapat lebih fokus dan efektif. Dalam forum kecil inilah segala macam informasi atau permasalahan yang dimiliki atau dialami oleh anggota kelompoknya dapat didiskusikan bersama dan dipecahkan untuk dicarikan solusinya secara bersama pula.

Bagaikan sebuah keluarga, maka setiap orang merasa tidak sendirian dengan permasalahan usaha atau bisnis yang sedang dihadapinya, melainkan ada anggota keluarga lain yang membantunya. Kesuksesan yang sedang diraih oleh salah seorang anggota pun adalah kesuksesan bersama sehingga dapat menjadi motivator bagi anggota yang lain dalam mengembangkan usahanya.

Pertemuan Master Mind yang diadakan di rumah saya itu adalah pertemuan pertama bagi kelompok ke-4 dari Master Mind di wilayah Jogja, maka sebut saja kelompok ini dengan Master Mind 4 (MM4) TDA Jogja.

Anggotanya ada mas Memetz (seorang yang telah berpengalaman di bidang manajemen minimarket dan menekuni art & craft, masih berstatus amfibi), mas Djoko Mukti (seorang pengrajin tas berbahan natural yang baru saja banting setir dari TDB menjadi TDA), mas Ichsan Santoso, (seorang pengusaha toko swalayan dan grosir pakaian bernama “Manfaat Fashion”), mas Huda (aktif di dunia cetak-mencetak, masih berstatus TDB), dan saya sendiri yang tiga tahun lalu banting setir menjadi TDA dan lalu membuka usaha toko ritel bernama “Madurejo Swalayan”. Selain itu, pertemuan ini juga dihadiri mas Bams Triwoko (penggiat TDA Joglo yang tak kenal lelah memotivasi warganya, yang juga adalah pemilik berbagai bidang usaha).

Di antara beberapa topik yang didiskusikan dalam peremuan awal MM4 TDA Jogja ini adalah berbagai hal terkait dengan bisnis toko swalayan atau toko ritel. Dari sharing tentang pengalaman menjalankan bisnis toko ritel, maka berbagai masalah dan kendala yang selama ini sering dihadapi lalu diangkat sebagai topik diskusi. Banyak masukan-masukan sangat positif dan berharga dari para anggota MM4 TDA Jogja tentang bagaimana seharusnya atau sebaiknya hal itu ditangani dan dicarikan solusinya.

Bagi saya yang sedang merintis dan mengembangkan usaha toko “Madurejo Swalayan”, tentu saja bisa banyak belajar dari pengalaman dan semangat sedulur-sedulur muda yang telah menunjukkan semangat kewirausahaan yang sungguh luar biasa.

Rasanya pertemuan yang (padahal) sudah berlangsung hampir lima jam, tidak cukup untuk membahas berbagai hal. Waktu berlalu begitu cepat. Itu karena setiap kalimat yang diketengahkan sepertinya menjadi sangat berharga, sehingga menjadi tidak membosankan. Lebih berarti lagi dengan diselingi suguhan teh jahe, gorengan, nasi goreng dan bakmi.

Komitmen perlu dimantapkan, bahwa pertemuan pertama ini (Insya Allah) akan bersambung dengan pertemuan-pertemuan berikutnya dengan mengangkat berbagai topik dan permasalahan yang dihadapi oleh anggotanya untuk dicarikan jalan keluarnya, termasuk berbagai peluang yang dapat digali untuk dikembangkan.

Semoga pertemuan pertama MM4 TDA Jogja ini menjadi langkah awal yang baik, seperti halnya “spirit” yang sudah dibuktikan oleh anggotanya untuk menuju rumah saya di Umbulharjo yang ternyata alamatnya rodo angel golek-golekane (agak susah dicarinya) di saat sore menjalang petang di bawah cuaca hujan deras. Hanya karena motivasi yang tinggi saja yang menjadikan pertemuan pertama MM4 TDA Jogja jadi berlangsung, meski hujan turun sangat deras dan listrik sempat padam di awalnya.

Maka, “Madurejo Swalayan” siap untuk berkembang lebih cepat seiring dengan karep-nya yang punya toko, bukan sekedar membangun bisnis kecil-kecilan, melainkan dengan visi besar-besaran. Insya Allah… God Speed…

Umbulharjo – Jogja, 10 Maret 2008
Yusuf Iskandar

In Memorium Pak De HMS — Sustainable Business

27 Januari 2008

SoehartoInnalillahi wa inna ilaihiroji’un…

Bapak Pembangunan itu telah tiada tadi siang, Minggu, 27 Januari 2008, jam 13:10 WIB. Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya sesuai dengan amal ibadahnya (dan, biar Allah swt. sendiri yang memberi rapor atas amal ibadahnya itu).

Terlepas dari masalah hukum yang dihadapi oleh Haji Muhammad Soeharto (HMS) selama dekade menjelang akhir hayatnya, ada hikmah positif yang saya petik dari beliau di awal kepemimpinannya.

Tangan besinya telah menjaga, mengawal dan mensukseskan “teori” yang diyakini keampuhannya sejak awal memimpin negeri ini, yaitu Trilogi Pembangunan. Bahkan telah mematahkan teori ekonomi pembangunan yang hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, thok. Sedangkan, Pak De HMS meraciknya menjadi Trilogi Pembangunan yang diawali dengan Stabilitas, baru Pertumbuhan, dan akhirnya Pemerataan. Lengkapnya :

  • Stabilitas Nasional yang dinamis
  • Pertumbuhan Ekonomi Tinggi, dan
  • Pemerataan Pembangunan dan hasil-hasilnya.

“Teori” Trilogi Pembangunan itu lalu diimplementasikan melalui program Pembangunan Jangka Panjang (PJP) selama lima kali Pelita (5 x 5 tahun = 25 tahun). Barangkali karena beliau khawatir PJP tidak tercapai sesuai impian mulianya, maka Pak De HMS “merasa perlu” untuk mengawal dan memimpin sendiri menjadi pimpronya. Untuk itu, maka beliau “terpaksa” harus menjadi presiden minimal untuk waktu 25 tahun ke depan, sejak dicanangkannya Pelita Pertama pada tanggal 1 April 1969.

Namun sayang, di tengah perjalanan banyak anggota keluarga besar timnya yang terlena sehingga banyak yang terpeleset dan keenakan dalam terpelesetnya. Terus dan terus, berurat berakar. Jama’ah yang terpeleset pun semakin tahun semakin banyak. Akhirnya menjadi “salah kaprah” secara berjama’ah pula, hingga sepertinya menjadi kebenaran kolektif. Dan, Pak De HMS terperosok bak ketua Paguyuban.

Namun tidak dipungkiri, bahwa “teori” Trilogi Pembangnannya terbukti sukses dikawal hingga babak terakhir, sampai akhirnya Pak De HMS lengser keprabon.

***

Obsesinya untuk mensejahterakan rakyatnya dengan cara mengawalnya sendiri pelaksanaan PJP, terbukti berhasil (sekali lagi, terlepas dari aneka ria dakwaan, sangkaan, tuduhan, terkait KKN). Barangkali tanpa disadari oleh beliau, bahwa sejak awal kuartal pertama tahun 1969, hanya obsesi itulah yang ada dalam benak dan pikiran Pak De HMS. Dan, itu barangkali dapat digambarkan sebagai mulai bekerjanya “law of attraction” (hukum tarik-menarik) yang terpancar dari pikiran beliau. Hingga akhirnya berhasil diwujudkan pada 25 tahun kemudian.

Sekali lagi, namun sayang, pancaran pikiran positif atas obsesi Pak De HMS, pada babak-babak akhir kepemimpinannya terkontaminasi oleh pikiran positif (juga) akan virus kenikmatan dan keenakan menduduki kursi goyang ketua “Paguyuban Indonesia”. Maka, “law of attraction” pun bekerja untuk kedua pikiran positif yang (disadari atau tidak, direncana atau tidak) terpancar bersamaan dalam pikiran Pak De HMS.

Dalam pikiran Pak De HMS, bahwa skenario sustainable development atau pembangunan berkelanjutan selama PJP harus sukses dan sukses, Pelita demi Pelita, meski untuk itu beliau harus tersandung-sandung mengendalikan sendiri wadya bolo timnya dan ketidakpuasan stakeholder lainnya. Tidak boleh ada yang mbalelo. Kalau ada yang merintangi pun akan digebugnya. Pokoknya pembangunan berkelanjutan harus sukses..ses..ses..ses…

Jadi, lalu apa urusannya?

Sebagai pengelola warung ritel ndeso, “Madurejo Swalayan”, pantas rasanya kalau saya mengambil inspirasi dari semangat tanpa menyerah (meski tidak harus dengan tangan besi yang seakan-akan menghalalkan segala cara), tentang bagaimana mengurus warung seperti mengurus negara (dan, jangan sebaliknya).

Sustainable business harus dijaga kinerjanya, jangan hanya bulita demi bulita (business lima tahun), melainkan obsesikan bahwa bisnis itu akan berlangsung lima kali bulita, syukur lebih. Pancarkan pikiran positif dan obsesi sustainable business sebagai pancingan bekerjanya “law of attraction” untuk 25 tahun ke depan.

Menciptakan stabilitas kinerja toko di tahun-tahun awal. Meningkatkan pertumbuhan bisnisnya setinggi mungkin. Hingga kelak dapat melakukan pemerataan bisnis dan hasil-hasilnya. Kalaupun harus berjama’ah, maka itu adalah dalam rangka berbagi sukses dan kebaikan dalam bingkai hubungan antar manusia (mu’amalah) seperti yang digariskan oleh Sang Pemilik Alam Semesta.

Bisnis tidak selalu berarti usaha jual-beli, melainkan bisnis untuk urusan apa saja. Tidak sekedar “do it”, melainkan “plan it” sebaik-baiknya. Lalu pancarkan pikiran-pikiran positif akan pencapaiannya dalam jangka panjang.

Tidak mudah memang, tapi tidak berarti tidak bisa. Insya Allah. God speed…..!

Yogyakarta, 27 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Hari Baru Di Puncak Lawu

1 Januari 2008

Hari Baru Di Puncak Lawu

Tim “Madurejo Swalayan” Menuju Puncak Lawu

Noval, 13 tahun, berharap bisa menyongsong fajar baru 2008 di puncak gunung Lawu (3265 meter dpl). Namun apa daya, yang dijumpainya pagi tanggal 1 Januari 2008 tadi pagi adalah hujan badai dan kabut tebal dengan suhu udara berkisar 4oC.

Bagaimanapun juga, sebagai warga terkecil dari tim “Madurejo Swalayan”, Noval ingin menyampaikan ucapan Selamat Tahun Baru 2008.

Semoga kesuksesan senantiasa menyertai siapa saja yang berusaha dan bekerja keras, seperti Noval akhirnya mencapai puncak Lawu, setelah berjuang tertatih-tatih mendaki jalan terjal, diterpa hujan badai dan dibawah cengkeraman udara dingin. Dan ini adalah pendakian pertamanya.

Yogyakarta, 1 Januari 2008.

Yusuf Iskandar
(Bapaknya Noval yang terpaksa ikut mendampingi Noval menuju puncak Lawu, karena Noval tetap keukeuh ingin ke sana meskipun sudah diberitahu bahwa kondisi cuaca saat ini sedang kurang menguntungkan)

Ada Gempa Di Kotaku (8)

18 Desember 2007

Hari Minggu, sehari setelah gempa, adalah hari kebersihan. Trauma gempa kemarin masih belum hilang. Namun dalam rumah perlu dibenahi dan dibersihkan dari puing-puing perabot rumah tangga yang masih berantakan dan tercecer di sana-sini. Sementara di luar rumah juga perlu dibersihkan dari pot-pot bunga yang hancur jumpalitan.

Hari Sabtu sebenarnya saya sudah memperoleh kabar dari Pengawas “Madurejo Swalayan” bahwa secara fisik toko dalam keadaan baik. Tapi di bagian dalam ada sebagian plafon yang roboh. Isi toko sudah barang tentu berantakan. Barang-barang di rak pada berhamburan, meski tidak semuanya. Beruntung perangkat komputernya tidak bergulingan seperti yang ada di rumah. Pagi hari setelah gempa, hanya ada seorang pegawai yang datang. Itupun karena kebetulan rumahnya dan keluarganya selamat. Akhirnya dipersilakan pulang saja, barangkali tenaganya lebih dibutuhkan di rumah kalau-kalau terjadi sesuatu. Sedang karyawan lainnya masih belum jelas kondisinya. Informasi awal mengatakan semua dalam keadaan selamat, tapi rumahnya sebagian hancur. Maka “Madurejo Swalayan” tidak bisa beroperasi, berlaku keadaan darurat, entah sampai kapan.

Pada hari Minggunya saya minta Pengawas toko untuk berkeliling memastikan bagaimana kondisi para pegawai dan keluarganya. Sebagian di antara mereka kondisi rumahnya hanya retak-retak saja. Tapi tiga orang karyawan rumahnya berantakan dan tidak layak huni. Ada yang roboh dan ada yang ndoyong sehingga tidak berani menempatinya. Ada yang bisa dengan legowo menerima musibah ini dan ada yang shock.

Prioritas saya saat itu adalah bagaimana bisa membantu karyawan yang terkena gempa dengan mengirim sekedar bantuan guna meringankan beban penderitaan mereka. Yang paling praktis saat itu adalah bahan kebutuhan pokok. Maka saya lalu menyempatkan untuk berkeliling mengunjungi satu-persatu rumah pegawai-pegawai saya, hingga ke tempat yang agak jauh ke pelosok desa di pinggiran perbukitan timur. Dusun Sengir, namanya. Bukan sekedar memberi bantuan tapi juga memberi dorongan moril dan membesarkan hati mereka agar ikhlas dan tabah menerima musibah ini. Saya pikir, inilah salah satu hikmah gempa. Saya jadi tahu dimana rumah tinggal mereka dan saya jadi mengenal keluarganya.

Saya ajak kedua anak saya untuk ikut berkeliling mengantarkan bantuan. Agar mereka melihat sendiri, betapa beban hidup yang harus dialami dan ditanggung oleh mereka yang menjadi korban gempa. Terlebih bagi mereka yang tinggal di pelosok yang jauh dari jalan raya, yang berarti jauh pula dari jangkauan bantuan. Juga agar mereka bisa membedakan antara dirinya yang meski ketakutan tapi masih bisa kembali ke rumah dengan persediaan bahan makan yang cukup, dengan mereka yang bukan saja ketakutan tapi juga tidak bisa kembali ke rumah dengan tanpa persedian bahan makanan. Lalu bagaimana dengan pakaiannya?. Bagaimana dengan kesehatannya? Bagaimana pula dengan sekolah anak-anaknya?.

***

Kerusakan bagian dalam “Madurejo Swalayan” memang perlu segera diperbaiki agar secepatnya toko siap untuk beroperasi kembali. Namun ternyata tidak mudah mencari tukang pada saat-saat seperti itu. Semua tukang tentunya sedang repot entah karena mengurusi dan membenahi rumahnya sendiri, tetangganya, saudaranya atau malah cedera terkena gempa. Seperti banyak diketahui, banyak warga masyarakat Bantul yang bermata-pencaharian sebagai buruh atau tukang bangunan. Saudara dan teman saya yang rumahnya memerlukan penanganan segera terpaksa mendatangkan tukang dari daerah lain. Apa boleh buat. Ongkos tukangnya sendiri sih normal saja, tapi biaya “overhead” menjadi tinggi.

Beberapa pegawai toko sudah mulai ada yang bisa masuk kerja pada hari kelima pasca gempa. Agenda pertama adalah beres-beres dan benah-benah toko. Meski perbaikan toko belum dikerjakan, tapi pintu depan toko sudah mulai dibuka sedikit. Tujuan utamanya adalah sekedar membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mendesaknya. Barangkali membutuhkan sesuatu, mengingat sejak gempa terjadi hampir semua toko dan warung pada tutup dan masyarakat pun kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya. Akhirnya baru pada hari ke-10 pasca gempa, perbaikan “Madurejo Swalayan” sempat dikerjakan. Untungnya kerusakan tidak terlalu parah, sehingga tidak memakan waktu lama.

Untuk sementara waktu, selain pintu toko hanya dibuka sedikit, juga jam operasinya dibatasi mulai jam 7:00 pagi sampai jam 3:00 sore saja. Listrik di kawasan desa Madurejo dan sekitarnya baru hidup pada hari kelima pasca gempa. Itupun masih mota-mati (bolak-balik mati). Merebaknya isu penjarahan juga menjadi pertimbangan untuk tidak buka sampai malam. Isu terjadinya penjarahan memang cukup gencar. Baik penjarahan oleh masyarakat korban gempa yang tidak sabar menanti datangnya bantuan, maupun oleh oknum tidak bertanggungjawab yang mengail di air keruh, memanfaatkan momen kepanikan dan keterdesakan masyarakat untuk memperoleh keuntungan sendiri. Banyak cerita dan kejadian menyebar dari mulut ke mulut tentang hal ini.

***

Kawasan sebelah timur desa Madurejo, tepatnya di lereng-lereng pegunungan yang bersambungan dengan bukit Patuk, memang termasuk kawasan yang berada di sekitar patahan atau sesar Opak yang tergolong aktif alias selalu bergerak. Kawasan sesar aktif ini membentang dari pantai Samas di Bantul selatan menuju arah timut laut hingga Jatinom di sisi barat laut Klaten, melewati daerah Kretek, Bambanglipuro, Jetis, Imogiri, Piyungan, Berbah dan Prambanan. Masih ditambah percabangan sesar aktif ke arah Gantiwarno dan Wedi, Klaten.

Maka ketika di laut pantai selatan ada gempa, getaran gempa mudah sekali untuk menjalar mengikuti jalur sesar aktif itu. Akibatnya, bukan hanya wilayah kabupaten Bantul yang mengalami kerusakan parah, melainkan juga ke arah timur laut. Semakin jauh dari pusat gempa, semakin ringan tingkat kerusakannya. Itu sebabnya korban dan kerusakan terparah berada di daerah Bantul selatan hingga timur, termasuk Imogiri dan Piyungan, dan daerah Klaten bagian barat.

Dengan keluar masuk desa untuk mengirim bantuan itulah saya melihat bahwa distribusi bantuan dari pemerintah maupun lembaga-lembaga lain, terutama ke wilayah yang jauh dari jalan raya, memang terlambat. Lebih-lebih kawasan timur yang berbatasan dengan kabupaten Klaten. Agaknya kawasan timur ini kalah “populer” dengan kota Bantul. Akibatnya, semua bantuan yang berdatangan umumnya terkonsentrasi dan diprioritaskan untuk dikirim ke kawasan Bantul selatan. Dampak dari terlambatnya distribusi bantuan nampak di sepanjang jalan raya dari arah Jogja menuju Piyungan dan Wonosari, dan dari arah Piyungan menuju ke Prambanan. Dua penggal jalan yang saya lewati siang itu.

Lalu lintas tersendat di kedua penggal jalan ini karena di tengah jalan berjejer masyarakat korban gempa yang memasang penyekat jalan dengan kursi, drum, meja, atau apa saja, sambil meminta bantuan kepada setiap kendaraan yang lewat. Poster-poster seadanya bertuliskan korban gempa dan belum datangnya bantuan menghiasi di sepanjang jalan. Trenyuh melihatnya. Jumlahnya ratusan, bahkan mungkin ribuan. Belakangan saya dengar dan saya baca di koran, di kawasan lain pun terjadi hal yang kurang lebih sama. Bahkan di jalan raya Bantul selatan sudah mulai menjurus ke anarkis. Mereka tidak segan-segan menggedor-gedor mobil yang tidak mau memberikan sekedar bantuan. Bagi pengendara kendaraan tentunya juga dilematis. Mau memberi sekedar uang pada dua atau tiga orang, tentu orang-orang lainnya di sepanjang jalan itu juga perlu dibantu. Mau memberi bantuan kepada semua orang, tentunya tidak mampu.

Kenapa bisa terjadi hal yang demikian? Bak mengurai benang kusut. Padahal kalau kita lihat di televisi, kita dengar di radio dan kita baca di surat kabar, kiriman bantuan sudah sedemikian banyaknya datang dari mana-mana, bahkan sejak hari kedua pasca gempa. Solidaritas sosial yang demikian membanggakan, tidak hanya dari warga lokal, tapi juga nasional dan internasional. Tapi kenapa keluhan keterlambatan distribusi terjadi dimana-mana?

Semakin kita berpikir untuk menjawab kenapa, semakin kita terpancing untuk menyalahkan pihak lain. Jadi? Pelajaran apa yang bisa dipetik? Atau setidak-tidaknya, bisakah kita memetik pelajaran?

Umbulharjo, Yogyakarta – 8 Juni 2006
Yusuf Iskandar

(44) “Jahe Telur”

13 Desember 2007

Pada suatu hari, siang menjelang sore, sekitar seminggu sebelum hari Lebaran yang lalu, datang seorang muda berpenampilan rapi masuk toko. Sekilas nampaknya sedang mencari-cari produk tertentu, lalu akhirnya bertanya tentang produk bubuk minuman “Jahe Telur” bungkus sachet. Dari penampilannya mengesankan sebagai seorang yang ramah, sopan, grapyak, suka guyon dan bersahabat. Seorang temannya yang tampak lebih pendiam datang menyusul di belakangnya.  

Orang yang kemudian memperkenalkan diri bernama Imam ini baru datang dari Merauke, Papua. Mengaku berasal dari desa tetangga tidak jauh dari Madurejo tapi sudah beberapa tahun merantau ke Papua buka usaha warung, berjualan minuman bubuk kesehatan. Ya  “Jahe Telur” itu. Dia pulang kampung untuk kulakan “Jahe Telur”, tapi belum menemukan barangnya. Karena melihat ada toko baru di dekat kampungnya, maka dia minta tolong untuk dicarikan produk itu. Rencananya dalam dua-tiga hari sebelum Lebaran akan kembali ke Merauke. Sampai disini, bagian pendahuluan kisah perantauannya sangat meyakinkan, sampai kemudian tiba di bagian isi kisahnya. Maka terjadilah dialog, tanya-jawab dari seorang pengelola toko yang terkagum-kagum dengan seorang perantau yang sukses di rantau.  

Saya tanya Merauke-nya di sebelah mana, diapun menjawab dengan mantap. Saya katakan saya punya saudara seorang Kyai di sana, diapun dengan kalemnya mengatakan sering juga main-main ke pesantrennya. Saya tanya mengapa Lebaran bukannya berada di kampung tapi malah mau balik ke Merauke, diapun menjawab mau mremo, di saat orang-orang muslim pada pulang kampung, orang-orang asing justru banyak mengunjungi warungnya. Saya tanya siapa konsumen utama minuman “Jahe Telur”, diapun menjawab dengan meyakinkan bahwa banyak orang-orang bule menyukai produk itu. 

Saya semakin menyukai cara menjawabnya yang sangat pede. Lalu saya tanya apakah memang di sana banyak bule, diapun menjawab dengan berapi-api bahwa di sana banyak sekali bule-bule yang bekerja di perusahaan minyak, kebanyakan bule-bulenya dari Australia yang bekerja di perusahaan Prifot (yang dimaksud pasti Freeport). Weee……, lhadalah…….! Ini inlander belum tahu kalau sedang bicara dengan seorang pangsiunan pajuang kumpeni (company) yang disebut itu…….. 

Mencermati jawaban-jawabannya, akhirnya kesimpulan saya hanya satu, yaitu bahwa orang ini sedang beraksi hendak berniat tidak baik. Tapi apa? Saya sengaja tidak meng-counter ceritanya, kecuali hanya manggut-manggut serius. Sebab kalau itu saya lakukan, maka kisah ini akan berhenti. Sedangkan saya ingin tahu kelanjutannya, karena bagi saya ini bahan cerita yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Oleh karena itu harus saya biarkan dulu cerita mengalir sampai ke bagian ending-nya. 

Sampai akhirnya dia minta tolong sungguh-sungguh agar dicarikan produk “Jahe Telur” yang katanya buatan Kediri, agar dia tidak perlu mencari jauh-jauh sebab dia akan melanjutkan perjalanan kulakan lainnya ke Solo. Lain waktu kalau memerlukannya lagi dia akan langsung menghubungi saya. Tidak lupa saya ditinggali contoh bungkus sachet-nya. Dia minta diusahakan “Jahe Telur” sebanyak 30 pak. Harga satu paknya Rp 105.000,- isi 30 sachet. Bahkan dia mengatakan, apa perlu titip uangnya dulu?. Saya jawab tidak perlu, daripada nanti benar-benar dititipi malah nambah urusan di belakang. Kemudian dua orang muda inipun pergi sambil meninggalkan nomor HP dan pesan agar dihubungi kalau barangnya sudah ada. Luar biasa skenarionya.   

Segera setelah itu, saya ceritakan peristiwa ini ke beberapa pegawai “Madurejo Swalayan” dengan pesan agar berhati-hati. Saya beritahukan kepada mereka bahwa kelanjutan skenario kisah di atas kemungkinan akan begini : Entah hari ini, entah besok, akan datang seorang yang mengaku sales dari produk “Jahe Telur” dan menawarkan produk dagangannya. Jika skenario saya benar, maka jelas ini upaya penipuan.    

Eee…. kok ya ndilalah……. Tidak sampai satu jam, datang mobil Panther warna biru tua berplat nomor  Jakarta. Seseorang memperkenalkan diri sebagai sales lepas, menawarkan produk minuman bubuk. Katanya dia membawa segala macam produk minuman kesehatan. Jawaban saya singkat saja sambil acuh tak acuh, bahwa saya belum berniat jualan produk minuman bubuk kesehatan. Dia pun menjadi semakin spesifik, katanya ada produk minuman bubuk kopi-kopian, jahe-jahean, telur-teluran, dst. dalam bentuk sachet-an. Saya tetap menunjukkan sikap tidak tertarik. Sampai akhirnya dia mengatakan bahwa dia juga membawa produk “Jahe Telur” buatan Kediri.    

“Jreeeeeeng………!!!” (begitulah bunyi musik pengiringnya). Dia pun langsung menawarkan apakah saya akan melihat dulu bentuknya. Karena tujuan saya sudah tercapai, maka saya jawab tidak perlu. Rupanya dia penasaran. Lalu bertanya : “Apakah belum ada orang yang menanyakan produk itu?”. Saya jawab : “Belum ada yang tanya, tuh”. Akhirnya sales itupun berpamitan. Dengan senyum kemenangan saya temani sales itu sampai ke depan toko, sambil saya ingat-ingat plat nomor mobilnya yang rupanya sengaja diparkir agak jauh dari halaman toko. (Dalam hati saya berkata : “Berantem sudah, kalian!”). 

Beberapa belas menit kemudian, rupanya Mas Imam, sang “perantau sukses“ tadi tilpun saya. Katanya dia lupa, apakah tadi contoh bungkus “Jahe Telur” sudah ditinggalkan ke saya atau belum. Saya jawab : “Sudah mas, Insya Allah besok akan saya coba carikan produk itu di Pasar Sentul, Yogya” (disertai doa pendek semoga berbohong pada saat sedang dikibulin bukanlah perbuatan dosa….). Dia berkata bahwa dia sedang belanja di pasar di Solo. He..he..he.. , cepat amat naik sepeda motornya mas, kok sudah blusukan di Solo…….. 

Apa yang akan terjadi jika sekiranya saya larut dalam permainan sandiwara mereka? Lalu mereka berhasil memperdaya pengelola “Madurejo Swalayan”? Kira-kira akan begini : Kami akan kulakan produk “Jahe Telur” sebanyak minimal 30 pak, senilai Rp 3,15 juta, malah mungkin lebih. Setelah itu kami akan menghubungi nomor HP Mas Imam dan ternyata nada sibuk, diulang lagi tidak ada yang ngangkat, dicoba lagi masih tidak nyambung, dan terus tidak nyambung. Mas Imam pun ditunggu dua hari, dua minggu sampai dua tahun tidak akan pernah kembali lagi. Kecian deh gue…..!

Barangkali produk “Jahe Telur” itu bukan palsu. Memerlukan kerja serius untuk mempersiapkan dan mendesain kemasan sachet. Tapi pasti produk itu dibuat asal-asalan. Kalau saya perhatikan lebih jeli contoh bungkus sachet “Jahe Telur” yang ditingkalkan, di bagian pinggir bawah bungkus warna kuning itu ada lipatan kecil (nampaknya sengaja dilipat agar tidak terlihat tulisannya). Ketika saya baca ternyata di balik lipatan itu ada tulisan kecil : Dep. Ker. No. sekian-sekian. Lho…?, kalau Dep. Kes. saya tahu. Lha, kalau Dep. Ker., apa barangkali Departemen Kerehatan (departemen yang ngurusi orang-orang yang banyak rehatnya…)?.  Itulah sepenggal kisah sukses saya menghalau petualang bisnis. Seperti pernah saya singgung sebelumnya : Dimana ada toko baru buka, di situ ada petualang bisnis. Tinggal bagaimana pengelola toko mengasah dan mempertajam gerak refleknya untuk mengantisipasi gerak tipu yang dimainkan oleh para petualang semacam ini. Jangan mudah tergiur, kalau tidak ada hujan tidak ada angin, kok ujug-ujug ada orang berbaik hati memberi order jutaan rupiah.  

***  Sebaliknya, ada juga kisah tidak sukses. Beberapa ulah oknum sales-sales nakal yang hanya ingin barang dagangannya dikulak banyak-banyak. Sebenarnya tidak juga kalau dibilang penipuan. Wong terjadi proses jual beli, artinya ada penyerahan barang dan ada pembayaran. Hanya saja sang oknum sales ini mau untung sendiri. Tidak perduli barangnya tidak laku, harganya kemahalan, alih-alih membina kerjasama saling menguntungkan. Yang penting barangnya banyak terbeli saat itu, setelah itu pergi dan tidak pernah kembali lagi menampakkan batang hidungnya. Produk yang dibeli memang ada, tapi nggaaaaak …..laku-laku. Lha wong memang jenis produk yang tidak laku di pasaran. 

Kalau sudah curiga dan tidak yakin produknya tidak bakal laku kenapa dikulak juga? Itulah masalahnya. Sedemikian dahsyatnya rayuan dan bujukan sang sales dalam menawarkan barang dagangannya, bagai terkena gendam dan lalu produk itu pun dibeli dalam jumlah cukup banyak. Entah jenis phobia apa namanya, sebagai toko yang baru buka sepertinya ada ketakutan jangan-jangan calon pelanggan akan kecewa kalau mereka mencari produk itu dan ternyata tidak lengkap tersedia. Toh kalau tidak laku bisa ditukar nantinya, begitu jalan pikiran praktisnya saat itu.   

Sebagai toko yang baru buka dan yang sedang berjuang mengumpulkan keuntungan cepek-nopek setiap harinya, memang rentan terhadap tipuan menggairahkan semacam ini. Produk yang ditawarkannya bisa bermacam-macam. Modus operandi dan alur cerita sandiwaranya juga bisa beraneka-versi. Namun ending yang diharapkan oleh sang petualang bisnis itu tetap sama……. meraup untung setinggi-tingginya dengan menjual barang yang sebenarnya berharga murah sebanyak-banyaknya, tidak perduli itu jenis produk yang akan laku dijual lagi di pasaran atau tidak. Puji Tuhan, saya masih bisa turut menghidupi para petualang bisnis .….! (meskipun kesal juga sebenarnya).

Madurejo, Sleman – 24 Januari 2006.
Yusuf Iskandar

(43) “Believe It or Not”

13 Desember 2007

Suatu hari saya kedatangan tiga orang tamu dari Muntilan, kota kecamatan di pertengahan antara Yogya – Magelang. Dua orang di antaranya sedang melakukan studi banding sehubungan dengan rencananya untuk membuka toko swalayan di daerahnya. Saya percaya ini studi banding beneran. Kalau cuma studi banding-studi bandingan, ngapain mesti ke Madurejo. 

Bersama kedua orang itu ada seorang lagi yang menemani. Rupanya beliau adalah seseorang yang sudah berpengalaman dalam mengelola toko swalayan. Memiliki jam terbang jauh lebih banyak dalam dunia perswalayanan dibanding pengelola “Madurejo Swalayan”. Mendengar saya mengeluh bahwa seringkali mengulang-ulang “pekerjaan bodoh” memindah dan menggeser barang dagangan, beliau tenang-tenang saja, tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan. Katanya, itu sih biasa. Malah terkadang perlu sengaja dilakukan saat toko sedang sepi dan penjaganya banyak nganggur. Lho, kok….?  

Lalu beliau memberi ilustrasi. Kalau kita memelihara binatang, perkembangannya akan berbeda antara binatang yang tekun kita urus, kita rawat, kita sayang, dengan binatang yang diumbar begitu saja. Demikian pula kalau kita menanam tanaman, pertumbuhannya juga akan berbeda antara tumbuhan yang rajin kita urus, kita siangi, kita sirami, kita pupuk, dengan yang dibiarkan asal tumbuh.   

Saya mengangguk-angguk, dalam hati saya sepakat. Tapi itu kan mahluk hidup, bagaimana dengan benda mati?  Sesama mahluk hidup tentu lebih mudah untuk terbentuknya ikatan “emosional”. Bagaimana dengan ikatan “emosional” antara mahluk hidup dengan benda mati?.  

Ambil contoh misalnya kita punya sesuatu benda, katakanlah sepeda motor atau rumah. Kalau malas-malasan merawat sepeda motor, jarang-jarang memandikannya, tahunya tinggal start dan jalan, kalau rusak tinggal blusukkan ke bengkel. Biasanya penampilan sepeda motor kita jadi berantakan dan tidak menarik, mati segan hidup tak mau, mocat-macet. Sepeda motor seperti kehilangan “roh”-nya, yang ogah mengakui bahwa kita adalah pemiliknya.  

Sewaktu saya masih jadi orang gajian di Papua, punya rumah kecil di Yogya. Paling-paling ditempati enam bulan sekali setiap cuti tengah tahunan. Selebihnya ditinggal kosong tidak ada yang ngurus, kalaupun ada paling-paling disapu dan dinyalakan atau dimatikan lampunya. Begitu tiba waktunya cuti ke Yogya, bawaannya ingin nesu aja…(marah terus) untuk sebab yang tidak seharusnya bisa bikin nesu…..   

Macam-macam sebabnya. Yang atapnya bocor, dindingnya retak-retak, lantainya sompel, halamannya jadi hutan, lampunya putus, pompa airnya mocat-macet, pojokan langit-langitnya dirubung sawang (sarang laba-laba), pintunya ngak-ngik…. dan, macam-macam gangguan kecil terjadi setiap enam bulan sekali. Selalu ada pengeluaran tak terduga untuk mengatasi thethek-bengek semacam itu. Akhirnya jadi enggak betah di rumah, malah lebih sering di luar rumah. Uang habis enggak apa-apa, toh bulan depan akan gajian lagi…… Tampak luar masih tetap sebuah rumah, tapi rumah menjadi seperti tidak bersahabat. Seperti kehilangan “roh”-nya. Seandainya rumah bisa ngomong, dia tidak merasa perlu menganggap bahwa kita adalah tuannya. 

Hal yang sama, barangkali (saya katakan barangkali, karena saya baru menjalaninya dua setengah bulan) akan terjadi dengan aset barang dagangan di “Madurejo Swalayan”. Kalau saya menganggapnya semata-mata sebagai benda mati (meskipun substansinya ya memang begitu….), pokoknya dipajang saja dan asal laku dijual, maka aset itupun akan menganggap dirinya sebagai obyek penderita dan sebagai “penganggur”. Padahal yang sesungguhnya diharapkan oleh pemiliknya adalah agar aset-asetnya dapat menjadi obyek pelaku dan “mau bekerja” untuk pemiliknya. Maka aset-aset itu mestinya perlu diberi perhatian lebih, disayang-sayang, dielus-elus, layaknya binatang kesayangan, tanaman kesukaan atau rumahku sorgaku.    

Memindah-mindah, menggeser-geser, membersihkannya, menyusunnya biar tampil rapi dan menarik, hanyalah sebuah ekspresi bagaimana saya perduli dan menyayangi barang-barang dagangan di toko. Maka kalau para pegawai toko sesekali perlu mengubah tata letak barang-barang di atas rak, salah satu alasannya adalah agar peletakan barang-barang tersebut tampil lebih cantik supaya menggoda pengunjung toko untuk melakukan “impuls buying”.  

*** 

Inilah hal-hal gaib yang perlu kita tengok keberadaannya. Kisah dunia lain, dunianya benda mati yang didambakan  “mau bekerja” untuk kita. Dipandang dari sudut ilmu manapun susah dideskripsikan, namun auranya ada, semangatnya ada, ikatan “emosional”-nya ada (meskipun mungkin sepihak…). Saya merasa tidak malu untuk menjadi seperti orang gila untuk hal ini…….      

Sulit dipercaya! Sulit dinalar! Berbau tahayul……, tapi tahayul tanpa menyan, tanpa jopa-japu, tanpa topo kungkum, tanpa bunga setaman, tanpa terkait dengan agama dan kepercayaan apapun, dan yang lebih penting ora mbayar…… Yang saya lakukan hanya sekedar ingin berbuat amal saleh terhadap “pekerja” saya. Hukum alam mengatakan (dalam agama saya disebut sunatullah) : jangan pernah berharap orang lain akan berbuat baik kepada kita kalau kita tidak pernah mau berbuat baik kepada orang lain. Dan, “orang lain” itu adalah semua properti “Madurejo Swalayan” dan seisinya itu tadi.  

Will it work? Yo, embuh……..! Ini hanya soal “Believe it or not”. Tapi saya “believe”, tuh……

 

Madurejo, Sleman – 22 Desember 2005.

Yusuf Iskandar

(32) Menggarap “Opportunity”

13 Desember 2007

Jaman kini, analisis SWOT (Strengths – Weaknesses – Opportunities – Threats) seperti sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perencanaan strategis perusahaan-perusahaan besar oleh para praktisi bisnis professional. Konsep dasar analisis SWOT, menurut buku yang pernah saya baca, merujuk pada pemikiran seorang ahli strategi perang bernama Sun Tzu. Salah satu inti pemikirannya kira-kira berbunyi demikian : Apabila kita dapat mengenal kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan, maka berarti kita sudah memenangkan pertempuran.

Pendekatan SWOT layaknya membuat perencanaan strategi di medan pertempuran itulah yang kini banyak digunakan sebagai pendekatan dalam membuat perencanaan bisnis, termasuk bisnis ritel, termasuk toko swalayan, termasuk “Madurejo Swalayan” di desa Madurejo. 

Cukuplah kalau bisa melakukan analisis SWOT sederhana saja, di antara sekian banyak model kuantitatif perumusan strategi bisnis yang sebenarnya dapat dipilih. Memilih model analisis SWOT sederhana, sekedar untuk menyadari dan memahami kelemahannya (weaknesses) lalu menggali dan mendayagunakan peluang yang dapat dibangun (opportunities); meminimalkan ancaman yang mungkin menghambat perkembangan usaha (threats) untuk kemudian memaksimalkan kekuatan yang dimilikinya (strengths).  

***

Dalam jangka pendek, hal yang dianggap paling perlu dipikirkan dari pendekatan SWOT “Madurejo Swalayan” adalah kelemahannya dalam hal pemilihan lokasi (sebenarnya ini bukan pilihan, wong pada waktu membeli lahan ya hanya tanah itu yang dijual dengan harga terjangkau). Saya sebut dalam jangka pendek, karena dalam jangka panjang unsur kelemahan ini berpotensi untuk berubah menjadi unsur kekuatan.

Seperti saya singgung sebelumnya, lokasi “Madurejo Swalayan” masih dikelilingi areal persawahan, berjarak agak jauh dari kawasan perkampungan, tidak persis berada di jalur berangkat dan pulang kerja para komuter masyarakat desa Madurejo dan sekitarnya. Opportunities dan Strengths seperti apakah yang digarap oleh “Madurejo Swalayan” pada tahap awal ini, dalam upayanya untuk menggali peluang-peluang (opportunities) dan mendayagunakan kekuatan-kekuatan (strengths) yang dimiliki yang sekiranya akan dapat menutupi kelemahannya?.                                                                         

Pertama : Menggarap tampilan dan prasarana toko dan menjadikannya sebagai sebuah “singkapan”. Awalnya ini adalah peluang, tapi kini sudah menjadi sebuah kekuatan. Berbekal semangat berani tampil beda, maka desain arsitektur luar dibuat agak tidak umum untuk ukuran desa Madurejo, dengan memberi sentuhan desain minimalis dengan warna yang khas, tanpa kesan nge-jreng.

Tampilan depan sengaja dirancang untuk memberi kesan tinggi dan gagah, dibandingkan umumnya toko di sepanjang Jalan Prambanan – Piyungan. Halaman depan toko disisakan agak luas sehingga memberi areal parkir yang lebih leluasa bagi pengunjung toko, termasuk menyediakan ruang bagi kendaraan lewat yang numpang atret atau berputar haluan (asal bukan untuk garasi gratis saja…).

Penerangan dan tata lampu toko dirancang agar effektif untuk penerangan dalam toko tapi juga tampak moncer kalau malam hari. Laron dan serangga sawah saja senang berkunjung ke toko, apalagi pejalan malam yang kehausan, kehabisan rokok atau kepalanya nyut-nyutan sebelum pergi tidur…. 

Konsep tata ruangnya bukan mengikuti konsep toko tertutup. Bukan karena mau menghemat agar tidak perlu memasang AC, melainkan menghindari kesan eksklusif yang bisa membuat masyarakat desa sekitarnya malah takut mau masuk toko. Dengan konsep terbuka, memberi kesan lebih bersahabat, seolah-olah berkata : “Monggo mampir…….”. 

Kedua : Memberi porsi lebih pada pelayanan yang efektif. Setelah orang lewat tertarik dengan kenampakan “singkapan” sehingga mau mampir masuk toko, maka segera dipasang perangkap yang bernama : Pelayanan, Pelayanan dan Pelayanan. Peluang ini harus ditangkap dan dikelola lebih efektif. Sasaran untuk membuat pengunjung yang sudah kadung terperangkap masuk toko menjadi merasa senang, dihargai dan nyaman, merupakan opportunity yang akan terus dikembangkan dan diinovasi. Bangunan keramahtamahan dan jurus komunikasi yang mempribadi mulai dikerahkan, sifatnya kondisional dan selektif menghindari kesan berlebihan dan mengada-ada. Para pelayan toko di “Madurejo Swalayan” semakin hari semakin belajar memainkan peran ini. 

Mempertimbangkan luasan toko yang terbatas, maka diterapkan strategi “one stop shopping“ secara selektif untuk jenis-jenis barang kebutuhan hajat hidup tertentu saja, setidaknya memberi pilihan kepada pengunjung. Manajemen toko agak luwes dalam menerapkan “return policy“ secara terbatas, dalam pengertian barang yang di-return memang belum digunakan atau tidak rusak oleh kesalahan pembeli. Setidak-tidaknya, manajemen “Madurejo Swalayan” tidak menulis besar-besar : “Maaf, barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar/dikembalikan“.  

Ketiga : Memanfaatkan kultur guyub-rukun dan paseduluran ala kampung. Iklan di koran, radio, apalagi TV, nampak terlalu luas cakupannya dan tidak efektif dari segi biaya. Spanduk dan selebaran, bisa jadi lebih cocok. Namun pengelola “Madurejo Swalayan” menempuh cara yang lebih tradisional, karena di sana ada peluang sekaligus kekuatan. Peluang yang tidak akan hilang bersamaan dengan dibuangnya selebaran untuk bungkus blanggreng (ketela goreng) atau digunakannya bekas spanduk untuk penambal dinding jumbleng (sumur atau peturasan di luar rumah) atau warung tenda.  

Forum seperti selamatan, rapat kampung, kegiatan masjid, silaturrahmi, adalah interaksi sosial yang membuka peluang untuk publisitas murah tapi mengena. Pendekatan kekeluargaan atau paseduluran adalah peluang yang memang sudah ada dalam kultur masyarakat di pedesaan. Peluang ini sangat mungkin untuk digarap menjadi kekuatan. Kesempatan untuk memperkenalkan diri selalu terbuka di setiap kesempatan berinteraksi dengan masyarakat tanpa memberi kesan sedang berpromosi.  

Membangun rantai gethok tular (word of mouth), cerita dari mulut ke mulut, benar-benar menjadi senjata utama. Jika sistem ini bisa diupayakan berjalan, maka peluang-peluang yang telah digarap itu akan berubah menjadi kekuatan yang luar biasa.  

*** 

Kelemahan (weakness) memang terkadang susah dieliminasi, tapi pasti bisa dimanipulasi. Dan masih banyak peluang (opportunity) lain yang dapat digali untuk memanipulasi kelemahan yang ada, juga untuk menciptakan kekuatan (strength) baru. Atau, menurut istilah Matriks SWOT, pasti ada Strategi WO (Weaknesses – Opportunities) ataupun SO (Strengths – Opportunities) yang dapat disiasati. 

Untuk kesekian kalinya, kalau saya ditanya apakah akan berhasil? Saya belum tahu, masih terlalu singkat waktunya untuk melakukan evaluasi. Hanya karena saya berprinsip bahwa sesuatu harus dilakukan, maka saya lakukan saja, karena dasar pemikirannya masuk akal.

Sejujurnya kukatakan…… Saya terkadang tertawa sendiri, membayangkan saya sedang ditertawakan orang .….., ngurus warung kecil di desa saja kok neko-neko…….. Tapi seperti pernah saya katakan sebelumnya bahwa saya lebih suka berdiri di emperan toko, tolah-toleh kesana-kemari, lalu mengeker (meneropong) jauh General Electric, Motorola, Kodak, Sony dan kawan-kawannya yang sukses menerapkan cara “Six Sigma”, lebih dari sekedar menggarap “opportunity”. Organisasi (toko) akan memperoleh hasil jauh lebih cepat jika bersedia mengakui kelemahan-kelemahannya, belajar dari kelemahan tersebut, dan mulai menentukan prioritas untuk mengkoreksinya. Jujurlah dengan kekuatan dan kelemahan bisnis kita. Itulah landasan melangkah menuju “the Six Sigma Way”.

Binatang macam apalagi ini…….? Biarlah saya khayalkan dulu jenis binatang itu sambil tidur, sambil bermimpi…., yang penting sekarang saya tahu dulu bahwa binatang itu ada.

Madurejo, Sleman – 12 Januari 2006.
Yusuf Iskandar

(30) Pareto

13 Desember 2007

Bagi sebagian orang, kata “Pareto” mungkin bukan kata yang asing di telinga. Tapi bagi sebagian orang awam lainnya, saya ingin meyakinkan bahwa “Pareto” itu bukan nama burung, bukan nama sejenis gethuk dari Italia, bukan pula nama alat musik dari Spanyol, tapi pasti ini nama orang.

Kata Pareto berasal dari nama seorang ahli ekonomi berkebangsaan Italia, Vilfredo Pareto lengkapnya, lahir di Paris tahun 1848. Di usia senjanya, Pak Pareto gusar melihat kepincangan penyebaran tingkat kekayaan masyarakat di negerinya. Maka pada tahun 1906, diciptakanlah sebuah formula matematis untuk menggambarkan penyebaran kekayaan di negerinya yang tidak merata. Dikemukakan bahwa ternyata 20% orang Italia telah menguasai 80% kekayaan di negerinya.

Dalam perkembangannya, rumusan Pak Pareto ini ternyata diamini oleh beberapa ahli lainnya, sehingga kini rumusan itu dikenal dengan sebutan prinsip Pareto atau aturan 80/20. Aturan ini ternyata cocok untuk diterapkan hampir di setiap bidang kegiatan manusia. Secara mudahnya dapat dirumuskan bahwa 20% sesuatu akan berakibat dalam 80% sesuatu lainnya.

Contoh di bidang lain mengindikasikan bahwa 20% kesalahan atau penyimpangan akan menyebabkan 80% problem yang timbul. Para manajer proyek akan mengatakan bahwa 20% pekerjaan akan menyita 80% waktu dan sumber daya. Para pengusaha akan mengatakan bahwa 20% stok barang akan memakan 80% tempat penyimpanan, atau 80% stok barang berasal dari 20% pemasok. Para peritel mengatakan bahwa 20% pelanggan akan menghasilkan 80% penjualan.

Singkat cerita, CEO “Madurejo Swalayan” berasumsi bahwa 20% pelanggannya yang sekarang akan berkontribusi terhadap 80% omset toko, atau 20% calon pelanggan yang dapat diidentifikasi pada saat ini akan berpotensi menjadi pelanggan setia yang memberikan 80% keuntungan toko. Oleh karena itu, konsentrasi perhatian dan energi diberikan untuk menangani secara khusus pada porsi yang 20% itu (meskipun demikian, jangan lalu diterjemahkan : yang 80% lainnya dibiarin aja……).

Jika kita berhasil me-manage porsi yang 20% dengan baik, maka setidak-tidaknya sudah diperoleh hasil 80% dari sasaran yang diharapkan. Memang perlu disadari sepenuhnya bahwa kejadiannya tentu tidak akan persis seperti itu. Namun aturan 80/20 atau prinsip Pareto ini kiranya akan banyak membantu dalam mempersiapkan strategi pengembangan usaha. Usaha apa saja, tidak hanya dalam urusan bisnis retail. Paling tidak kita sudah melangkah dari “hard work” ke “smart work”. Meskipun kata John Reh, itu saja belum cukup, prinsip Pareto akan membawa kita ke “smart work on the right things”. Ya, memfokuskan 80% waktu dan tenaga pada 20% pekerjaan yang benar-benar penting dan strategis

***

Berangkat dari pemikiran itu, maka pengelola “Madurejo Swalayan” selalu mewanti-wanti kepada segenap pegawai agar mengamat-amati siapa-siapa saja pelanggan setia atau calon pelanggan setia yang harus diberikan perhatian khusus. Seperti saya ceritakan sebelumnya, karena kami menempuh cara tradisional “amati dan ingat”, maka ini memang bukan pekerjaan mudah, melainkan dipermudah, dengan pertimbangan salah-salah sedikit tidak apa-apa.

Targetnya adalah kalau bisa memegang ekornya para pelanggan setia itu dan berusaha merengkuh sebanyak 20% dari jumlah pelanggan yang sering berbelanja. Jumlah yang 20% ini harus benar-benar bisa di-manage dengan baik, di-eman (disayang-sayang), dan dipertahankan kesetiaannya.

Semua cerita di atas adalah teori yang memang sudah diyakini banyak kalangan. Bagaimana penerapannya? Lha, di sinilah susahnya……

Pertama, mengidentifikasi pelanggan atau calon pelanggan setia dengan cara “amati dan ingat” adalah pekerjaan yang tidak mudah. Tapi ya harus tetap dilakukan, wong itu satu-satunya cara yang paling praktis dan murah. Penerapan Kartu Anggota untuk saat ini masih dipandang belum pas bagi kultur masyarakat desa Madurejo dan sekitarnya. Seorang rekan menyarankan untuk mengambil foto pelanggan pada saat mereka berbelanja. Ini juga masih dianggap kurang pas (bisa-bisa para pelanggan malah tidak mau kembali berbelanja karena takut gambarnya masuk koran…..).

Kedua, kalau sudah berhasil melakukan identifikasi, lalu mau diapakan mereka? Yang bisa dilakukan sekarang ini adalah memberikan mereka keramahtamahan yang agak khusus tapi tidak mencolok (ini juga hal gaib yang susah didefinisikan). Ya, pokoknya begitulah, memberikan mereka suasana mempribadi. Membangun komunikasi yang nyemanak (berlaku layaknya seperti saudara). Memberitahu mereka tentang keunggulan produk-produk tertentu. Memberitahu mereka kalau misalnya mulai minggu depan harga akan naik. Bagi pekerja pelayan toko pemula yang belum berpengalaman melakukan interaksi pelayan-pembeli, ini jelas suatu pekerjaan yang rada membingungkan mereka. Tapi tidak jadi soal, kata pepatah : Bingung pangkal pandai……. (Kalau tidak kebablasan…!).   

Ketiga, ketika kemudian mereka lama tidak muncul berbelanja, apa yang bisa dilakukan? Ya, tidak ada, selain menunggu dengan sabar sampai mereka muncul kembali. Mau ditilpun, kemana? Mau disurati, nanti malah dikira undangan selametan…… Pendeknya, memang kudu sabar dan telaten me-manage pelanggan dan calon pelanggan di kampung Madurejo ini.

Ketika akhirnya semua kendala itu bisa dilalui dengan baik, belum tentu juga akan berhasil. Belum lagi kalau porsinya harus mencapai 20% dari total pelanggan. Tapi toh, upaya semacam itu tetap harus dilakukan. Paling tidak untuk menunjukkan bahwa sesuatu sudah dilakukan dengan langkah yang benar. Kalau kita sudah “do something” maka kita pun pantas untuk optimis dan berharap hasilnya, daripada “do nothing” babar blasss….   

***  

Sebagaian orang mengatakan bahwa prinsip Pareto atau aturan 80/20 ini bukan sekedar formula matematis. Melainkan sebuah seni, sebuah kreatifitas. Seni untuk mengkutak-katik porsi yang 20% sebab, dan mengkutak-katik porsi yang 80% hasil. Seni untuk mereka-reka kira-kira yang mana sih calon pelanggan setia dan kenapa demikian. Seni untuk mengakali hal-hal semacam apa sih yang sekiranya bisa menggenapkan jumlah pelanggan hingga 20%. Seni untuk menganalisis bagaimana mencapai hasil yang 80% bahkan lebih.

  

Oleh karena itu, jangan meremehkan profesi seorang peritel atau pekerja bakulan yang professional, karena sesungguhnya mereka itu juga seorang seniman……. 

Madurejo, Sleman – 3 Januari 2006.
Yusuf Iskandar

(27) Pelayanan, Pelayanan, dan Pelayanan

13 Desember 2007

Sekali waktu saya sempatkan untuk ngobrol-ngobrol dengan pegawai dalam forum semacam “safety talk”. Sebagai orang yang pernah digaji dalam lingkaran per-safety-an yang sangat ketat, yaitu industri pertambangan, tentu ada pengalaman yang sedikit atau banyak perlu ditanamkan dalam lingkaran yang lebih kecil. Bisnis pertokoan memang bisnis yang resiko keselamatan kerjanya relatif tidak ada apa-apanya dibandingkan bisnis pertambangan. Meski begitu toh saya sama sekali tidak menginginkan terjadi sesuatu yang dapat mencelakai atau mencederai pegawai, aset saya.

Saya ingin agar mereka selamat-sehat-walafiat sejak berangkat dari rumahnya hingga kembali lagi ke rumahnya. Biasanya mereka berangkat ke toko naik sepeda (kebanyakan tinggal di dusun yang agak jauh dari jalan raya). Artinya resiko terhadap keselamatan lalu lintas, kehujanan, kegelapan kalau malam, adalah hal rutin yang mereka hadapi. 

Saya jelaskan kepada mereka tentang hal-hal penting dalam usaha toko swalayan. Selama ini saya selalu menekankan bahwa tugas pokok mereka adalah pelayanan dan pengawasan. Apapun yang mereka kerjakan yang berkaitan dengan toko, maka selalu orientasinya adalah memberi pelayanan terbaik dan pengawasan yang bijaksana.

Entoch begitu…, mereka sempat tersenyum bengong (ini ekspresi mimik yang susah digambarkan ……, bayangkan saja sendiri….!) ketika saya tegaskan bahwa ada tiga hal terpenting yang wajib dipahami dan dikerjakan dalam keseharian mereka, yaitu: Pertama, pelayanan…..; Kedua, pelayanan…..; dan Ketiga, pelayanan…… Lha, pengawasannya manna…?

***

Bicara masalah pelayanan seringkali membosankan. Sudah terlalu sering dibicarakan, ditulis dan diseminarkan di mana-mana, mbayar lagi…. Gampang ditebak kemana arahnya. Semua pihak mengklaim dan menjanjikan pelayanan terbaik, meski faktanya seringkali jadi pelayanan terbalik. Bukan melayani melainkan dilayani. Jadi menjengkelkan. Mau marah, sama siapa? Kalau kejengkelan akan pelayanan sudah mentok di ubun-ubun, paling-paling berbunyi-bunyi di koran. Solusinya muncul juga di koran, katanya permasalahan sudah diselesaikan dengan baik oleh kedua belah pihak.

“Madurejo Swalayan” memang hanyalah toko ritel kecil di pinggiran kota. Namun bukan berarti lantas soal pelayanan dapat dinomorduakan. Pelayanan dapat diterjemahkan ke dalam pemahaman yang mudah, yaitu bagaimana agar pelanggan kerasan berbelanja di sana dan ingin kembali berbelanja lagi.

Lalu sebaik apakah pelayanan mesti diberikan? Saya membedakannya menjadi tiga tingkatan (pengkategorian yang saya karang-karang sendiri, sesuka-suka saya saja…..) : Pertama, pelayanan yang sebaik-baiknya; Kedua, pelayanan yang lebih baik; dan Ketiga, pelayanan yang terbaik. Menurut saya tidak ada tawar-menawar, pelayanan harus diberikan pada tingkat paling tinggi yaitu pelayanan yang terbaik. Inilah tingkatan pelayanan yang layak diberikan kepada pelanggan saya masyarakat desa Madurejo. Oleh karena itu segenap daya upaya harus dikerahkan untuk menuju ke pelayanan terbaik.

Jangan puas hanya cukup memberikan pelayanan saja. Karena pelayanan saja, adalah jenis pelayanan pada tingkat yang paling rendah, lebih rendah dari pelayanan jenis pertama. Memberikan pelayanan thok…., sama artinya dengan membuka toko lalu setelah itu….., laku syukur enggak laku ya sudah. Orang Jogja bilang ora ngoyo (tidak memaksakan diri untuk bekerja keras). Bahasa evaluasi proyeknya : Alternatif “do nothing”. Wong namanya alternatif, jadi ya bolah-boleh saja untuk dipilih.

Ini memang bukan soal salah atau benar. Karena memang misi tokonya berbeda. Yang satu ingin menuju puncak seperti ikut Akademi Fantasi, yang satunya menuju pincuk (daun pisang yang dilipat dan dibentuk sedemikian rupa mirip corongan untuk sekedar wadah makanan), ketimbang nganggur……  

***

 

Bagi pengelola “Madurejo Swalayan”, pelayanan bukan soal bolah atau boleh, melainkan satu-satunya pilihan adalah memberikan pelayanan yang terbaik. Sebab kalau pelayanan terbaik itu berjalan efektif dan efisien, berhasilguna dan berdayaguna, maka soal pengawasan (tugas pokok kedua setelah pelayanan) dengan sendirinya sudah termasuk di dalamnya.

 

Semudah itukah? Tentu, tidak…! Tapi setidak-tidaknya itulah yang saya temukan selama hampir tiga bulan mengelola “Madurejo Swalayan”. Saya sendiri tidak tahu apakah khayalan saya itu akan berhasil. Sialnya, satu-satunya yang saya tahu adalah saya meyakininya………..

 

Madurejo, Sleman – Hari Natal 25 Desember 2005.

Yusuf Iskandar

(26) Jika Bapak Berbelanja

13 Desember 2007

Suatu ketika kasir dan pelayan toko “Madurejo Swalayan” tertawa terkikik-kikik. Ada gerangan apakah? Usut punya usut, ternyata mereka baru saja mengalami kejadian lucu. Ada satu keluarga, bapak, ibu dan seorang putrinya datang berbelanja. Setelah berkeliling toko dan selesai mengumpulkan belanjaannya, mereka siap meninggalkan toko. Si ibu dan anaknya sudah bertransaksi dengan kasir, namun si bapak masih tertinggal karena asyik mencermati produk susu UHT.

Si ibu memanggil-manggil bapaknya mengajak segera pulang. Si bapak tetap bergeming seperti tidak mendengar ajakan istrinya. Beberapa saat si bapak tetap belum selesai juga. Si ibu yang sudah menunggu di depan kasir mulai gelisah dan tidak sabar. Mulailah si ibu berkreatifitas (ini yang ditunggu-tunggu pengelola toko swalayan…), tangannya menggapai dua buah permen sejenis lolipop yang berbentuk seperti stick drum tapi pendek. Satu untuk dirinya sendiri, satu lagi diberikan kepada anaknya. Permen itu bukannya di-emut (dikulum) melainkan digigit dan dikremus…. Tentu saja cepat habis. Tapi sayang cepat habisnya permen tidak diiringi dengan cepat selesainya si bapak.

Rupanya si anak tidak suka dengan permen itu. Seperti tidak sabar, diraih dan dikremus pula permen anaknya oleh si ibu. Lho? Habislah dua batang permen di-kremus-kremus…, dan si bapak masih belum juga selesai. Dengan mimik muka kesal, diambilnya makanan kecil yang tadi dibeli lalu dimakannya di depan kasir sambil mucu-mucu….. (mulutnya seperti dimonyong-monyongkan tanpa disengaja). Kasir dan pelayan toko terbengong-bengong menyaksikan adegan drama satu babak itu sambil menahan tawa.

Tidak terlalu sulit untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi dengan si ibu…….., “impulse buying”. Tapi bagaimana halnya yang sedang terjadi dengan si bapak? 

***

Pernah berada di suatu toko lalu tertarik mencermati deretan sampo atau sabun mandi? Anda sedang menghadap rak di suatu toko swalayan. Sejauh mata melirik ke kiri dan ke kanan, disana bersusun rapi aneka merek produk sampo dan sabun mandi komplit dengan varian-variannya. Sedemikian menariknya sehingga Anda terpancing untuk mengambil salah satunya lalu membaca lebih cermat segala macam tulisan yang ada pada botol atau bungkusnya.

Ada sampo yang untuk menghitamkan, menghaluskan, melembutkan, melembabkan, menyehatkan, melicinkan, membersihkan rambut. Pokoknya semua yang indah-indah tentang rambut. Ada yang mengandung vitamin A, B, C, D, E, sampai Z, plus diperkaya dengan aneka kandungan ini-itu. Pokoknya semua yang sehat-sehat tentang rambut   

Belum puas dengan satu merek, beralih ke merek lain, botol di sebelahnya, lalu sebelahnya, lalu sebelahnya lagi. Padahal kalau dihitung-hitung ada buanyak merek sampo dengan puluhan variannya. Setelah cukup lama meng-assess setiap jenis sampo, akhirnya terpilihlah satu jenis sampo yang Anda simpulkan paling cocok untuk rambut Anda. Aha…! Anda pun merasa lega, puas, dan bangga pada diri sendiri berhasil me-review, menganalisis dan membuat kesimpulan.

Itulah aksi yang banyak dilakukan kaum bapak ketika masuk toko swalayan. Repotnya kalau kaum bapak ikut-ikutan belanja kebutuhan sehari-hari, banyak sekali pertimbangannya saat hendak memilih satu jenis produk yang dibutuhkan. Segenap kemampuan dan energi akan dikerahkan untuk melakukan penilaian hingga diperolehnya kesimpulan produk mana yang paling pas.

Lain bapak lain pula ibunya. Jarang kaum ibu yang mau repot-repot membuang waktu untuk melakukan aksi “teliti sebelum membeli” seperti itu. Kalau si ibu sudah suka dengan produk atau merek tertentu, biasanya jadi pelanggan fanatik, ya pokoknya produk itulah yang akan langsung dipilih. Sampai nanti ada faktor eksternal yang menggoyahkan imannya, antara lain iklan televisi…….

Namun anehnya, semua yang dilakukan oleh kaum bapak itu hanya akan terjadi ketika masih berada di dalam toko. Sementara ketika sudah berada di dalam kamar mandi, boro-boro ingat segala macam keunggulan dan manfaat yang ditawarkan sampo. Mereknya pun belum tentu ingat. Langsung saja kepala di-usek-usek pakai sampo yang ada di kamar mandi. Tak perduli masih tumbuh rambut di kepala atau sudah tidak. Entah itu sampo cap Macan atau cap Gajah,…. Sebodo amat…..!

Kejadian yang hampir sama berulang kembali di toko swalayan ketika kaum bapak tiba-tiba ingin membeli sabun, odol, susu, suplemen, dan lain-lain. Lalu apa yang mendorong terjadinya perilaku semacam itu? Pertama, karena “impulse buying”, pembelian yang sebelumnya tidak direncanakan. Kedua, karena pesona dari display barang-barang di toko.

Itu sebabnya kenapa saya yakin sekali bahwa penyusunan barang-barang di rak merupakan salah satu elemen kritikal dalam pengelolaan toko swalayan, karena dapat menjadi pemicu bagi “impulse buying”. Menjaga tampilan atau display barang-barang agar tetap terlihat rapi, bersih, menarik dan tidak membosankan, tidak bisa ditawar-tawar lagi.

***

Itu juga yang sedang terjadi pada diri si bapak bersama istri dan putrinya di “Madurejo Swalayan”. Sedemikian asyiknya si bapak menilai dan menimbang susu mana yang paling pas buat putrinya. Padahal sejak dari rumah tidak berencana membeli susu, tapi tiba-tiba merasa perlu memilihkan dengan cermat susu yang terbaik bagi putrinya. Seandainya tadi si bapak menyerahkan saja kepada si ibu untuk membeli susu bagi putrinya, barangkali akan beres dalam beberapa detik saja. Lha wong namanya susu UHT, dimana-mana dan apapun mereknya, ya seperti itulah komposisi dan manfaatnya.

Karena itu, jangan pernah mengajak bapak untuk turut memilihkan barang kebutuhan sehari-hari di toko swalayan. Dijamin akan membuat kesal ibu. Tapi juga jangan ngikutin ibu untuk masuk toko swalayan jika bapak tidak sabar menunggu…… Bukan lama memilih barang, melainkan karena biasanya ibu rentan terhadap godaan “impuls buying”. Inginnya semua barang mau dimasukkan ke dalam keranjang belanja, kalau perlu setoko-tokonya sekalian.……

Kendatipun demikian, mari coba tanyakan kepada pengelola toko swalayan : Apa yang paling disukai? Jawabnya : Kalau ada rombongan satu keluarga lengkap masuk ke dalam tokonya. Semakin banyak peserta kecilnya, semakin lebar senyuman penyambutannya………. Monggo…, ada yang bisa kami bantu…….?.

Madurejo, Sleman – 18 Desember 2005.
Yusuf Iskandar

(24) Melayani Raja

13 Desember 2007

Suatu kali saya lihat kasir saya eyel-eyelan (adu argumentasi) dengan seorang pembeli yang sedang melakukan transaksi pembayaran. Ini tentu situasi yang tidak menguntungkan. Setelah saya dekati ternyata ibu yang sedang melakukan pembayaran tersebut complaint, kok harga di kasir lebih mahal dari label harga yang tertempel di rak. Ibu itu wajar saja protes. Tapi rupanya kasir saya merasa dirinya sedang dipersalahkan, diapun membela diri bahwa harga di komputer yang benar. 

 

Peristiwa yang hampir sama, bisa juga terjadi karena salah penempatan label di rak. Mungkin karena salah menuliskan angka harga, atau karena salah menempatkan label akibat display barang dagangan bergeser tapi labelnya lupa ikut digeser. Sementara ini penulisan label di “Madurejo Swalayan” masih secara manual. Ini memang jalan pintas yang masih bisa dimaklumi mengingat untuk nge-print label sejumlah ribuan item barang, tentu sangat menyita waktu.

 

Kejadian salah penempatan label sebenarnya umum dialami oleh toko swalayan modern kelas lokalan yang baru buka. Selalu saja ada hal-hal yang terlewat untuk dipersiapkan dengan sempurna. Sebenarnya hal seperti ini sudah diprediksi bakal terjadi, hanya saja saya terlewat memberi pengarahan kepada para pegawai. Ditambah lagi, semua pegawai “Madurejo Swalayan” adalah orang-orang muda yang baru lulus SLTA, belum punya pengalaman kerja, masih belum punya banyak jam terbang dalam bermasyarakat, dan yang paling penting adalah masih belum terampil dalam berkomunikasi. Hal yang terakhir ini memang tidak ada sekolahnya. Kalau ilmu komunikasi sangat banyak guru dan bukunya, tapi keterampilan dalam sesrawungan (berinteraksi sosial) adalah lain hal. 

Ihwal eyel-eyelan kasir dengan ibu yang complaint tadi, segera saja saya menengahi. Hal pertama yang saya lakukan adalah meminta maaf kepada ibu itu dengan sedikit tambahan penjelasan bahwa ada kesalahan dalam pemasangan label harga. Mudah-mudahan permintaan maaf saya dapat menetralisir kekecewaannya, meskipun saya yakin tidak sepenuhnya demikian. Hikmah dari peristiwa itu, justru seharusnya kami berterima kasih kepada ibu itu karena telah memberitahukan bahwa ada kesalahan dalam pelabelan harga barang. Namun sayang, penyelesaian yang diberikan oleh kasir agak kurang manis. Apa hendak dikata, ini adalah salah satu resiko yang harus dihadapi.

***

Segera setelah kejadian itu, briefing saya berikan kepada segenap pegawai toko. Kalau ada yang salah, maka itu bukan salah kasir atau penjaga toko melainkan salah manajemen toko dalam mempersiapkan SDM-nya. Inilah akibatnya kalau buka toko tapi mesti kejar tayang, hingga hal-hal non-teknis menjadi terlewat untuk memperoleh perhatian yang semestinya.

Prinsip kami dalam melayani pengunjung toko berpedoman pada semboyan “pembeli adalah raja”. Semboyan ini senantiasa dipahamkan dan berulangkali diingatkan kepada para pegawai. Entah pengunjung itu membeli sesuatu ataupun tidak, maka tetap dia harus dilayani bak seorang raja (atau ratu, kalau perempuan).

Sesungguhnya, selama ini saya sendiri tidak pernah percaya dengan semboyan itu. Atau lebih tepat kalau disebut skeptis. Bagaimana tidak, seumur hidup saya telah berpengalaman jadi pembeli tapi rasanya belum pernah diperlakukan seperti raja. Sering-sering malah cenderung “diakalin” saja sama penjualnya. Tapi ya nurut saja, tidak bisa berbuat apa-apa, paling-paling nggrundel di belakang…..

Baru sekarang ketika saya sedang belajar untuk menjadi penjual yang professional, saya paham betapa pentingnya arti semboyan bahwa pembeli adalah raja. Lha wong namanya raja, ya ndak mau disalahkan. Kalaupun bisa, ya tetap ndak mau….. Pokoknya, “raja” adalah oknum yang harus selalu dianggap benar, betapapun nyebelin-nya…… Pelayanan terbaik harus tetap diberikan. Maka melayani pembeli adalah seperti melayani seorang raja.

(Terakhir sempat saya baca di koran, hanya Raja Bhumibol Adulyadej dari Thailand yang dengan arif mematahkan pepatah bahwa menganggap raja tidak pernah berbuat salah adalah penghinaan. Sayangnya Raja Bhumibol bukan pelanggan “Madurejo Swalayan”……).

Filosofi itulah yang saya coba tanamkan dalam diri para pegawai “Madurejo Swalayan”. Oleh karena itu, setiap kali terjadi perselisihan, atau complaint dari pengunjung toko, maka asumsi pertama yang harus digunakan adalah bahwa pembelilah yang benar dan manajemen tokolah yang salah. Tentu saja kekecualian diberlakukan kalau perselisihan itu disengaja atau jelas-jelas perilaku tidak wajar dari pembeli, maka itu bukan insiden, melainkan niat buruk yang perlu ditangani berbeda..

Maka kalimat wajib yang harus disampaikan ketika berada dalam situasi seperti itu adalah diawali dengan kata “maaf” dan diakhiri dengan ucapan “terima kasih”. Asal mengucapkan kata “maaf”-nya jangan pakai “p” dan jangan terlalu boros, nanti dikira sedang shooting film “Bajaj Bajuri“…….

Penggunaan kata “maaf” dalam tradisi pergaulan masyarakat di Indonesia memang agak berbeda nuansa batin dan sense-nya dibanding dengan kata “Im sorry” dalam tradisi pergaulan barat . Oleh karena itu mengumbar pengucapan kata “maaf” perlu dikelola dengan pas, meskipun baik, jangan-jangan malah nanti diterjemahkan oleh pelanggan bahwa kita memang sering berbuat salah dalam mengelola toko. Jadi memang perlu teknik penyampaian yang “strategis”. Caranya bagaimana? Ya, enggak tahu….., tidak ada rumus yang sama bagi setiap orang dan setiap kondisi. Siasati aja sendiri ……

Madurejo, Sleman – 11 Desember 2005.
Yusuf Iskandar

(22) Memasang Spanduk, Siapa Takut?

13 Desember 2007

Salah satu resiko bagi orang yang membuka usaha adalah didatangi orang yang minta sumbangan. Macam-macam alasan dan tujuannya. Menghadapi hal yang demikian, saya menetapkan policy, bahwa prioritas diberikan kalau permintaan sumbangan itu datang dari kalangan desa setempat. Di luar itu, sumbangan ala kadarnya saja. Bagaimanapun juga, masyarakat setempat adalah stakeholder yang perlu diberi perhatian lebih. Belakangan terpikir, bagaimana agar tidak sekedar memberi sumbangan, melainkan bisa saling take and give.    

 

Terakhir datang permintaan sumbangan dari panitia “mujahadah” desa Madurejo. Panitia ini akan menggelar acara mujahadah umum di Balai Desa yang akan melibatkan segenap warga masyarakat muslim desa Madurejo khususnya dan kecamatan Prambanan umumnya. Acara akan dipimpin oleh seorang Kyai yang cukup disegani di sana.

 

 

Mujahadah adalah istilah yang berasal dari bahasa Arab yang maksudnya berdoa dengan kesungguhan. Istilah majelis mujahadah dalam bahasa populer dapat disamakan dengan istilah majelis istighosah, dzikir bersama, doa bersama, dan yang semacam itu yang sempat “nge-trend” dimana-mana. Sebutan istilah mujahadah ini sangat lekat di kalangan masyarakat muslim di daerah seputaran Yogyakarta, khususnya yang berbasis di pesantren tradisional. 

 

Melihat latar belakang yang demikian, maka tidak ada salahnya forum ini dimanfaatkan sebagai ajang woro-woro (pemberitahuan). Sumbangan uang diberikan sebagai wujud tanggungjawab sosial toko “Madurejo Swalayan”, sekaligus sebagai ibadah bagi pemiliknya. Akan tetapi juga terselip sisi “muamalah”-nya bahwa sebagai pihak yang turut menjadi sponsor bagi acara tersebut, maka selembar spanduk bertuliskan logo, nama dan alamat toko akan dipasang di arena mujahadah.

 

Jadi, kalau memang diperlukan harus memasang spanduk, siapa takut? Meskipun “Madurejo Swalayan” belumlah ada apa-apanya dibandingkan dengan mini-market atau toko swalayan sejenis yang ada di Yogya bahkan di pinggirannya, namun siapa lagi yang akan nguri-uri (menghidup-hidupkan), kalau bukan dirinya sendiri. Dan, dirinya “Madurejo Swalayan” telah siap melakukan berbagai jurus untuk membesarkan dirinya.

 

***

 

Tiba waktunya pagelaran majelis mujahadah, acara berlangsung malam hari mulai sekitar jam 21:00 WIB hingga selesai tengah malam. Dari kejauhan saya lihat spanduk “Madurejo Swalayan” sudah terpasang disana. Dalam hati saya berkata, ratusan orang-orang saleh yang datang dari berbagai penjuru kecamatan Prambanan dan sekitarnya, tentu akan melihat dan membaca spanduk itu, saat mereka memasuki arena majelis mujahadah. Mereka pasti orang-orang saleh, paling tidak pada malam itu. Sebab kalau malam itu tidak saleh tidak mungkin mau menyempatkan hadir, bahkan berombongan dan berdesak-desakan naik truk atau angkutan bak terbuka, berbaju koko-bersarung-berpeci dan berkain kerudung. Semoga terkirim doa tulus bagi segenap warga masyarakat Madurejo dan sekitarnya, dan “Madurejo Swalayan” terselip di dalamnya. 

 

Tidak perlu berharap yang muluk-muluk. Cukup kalau ada lima sampai sepuluh orang saja dari ratusan yang hadir malam itu, terangsang ingin tahu lalu menyempatkan untuk mampir ke “Madurejo Swalayan” di lain hari. Tidak usah belanja, cukup kalau mau mampir saja. Sebab, multiplier effect dari yang sepuluh orang itu saja sudah luar biasa dampaknya bagi publisitas atau upaya pengenalan atas sebuah tempat usaha baru yang lokasinya ada di sekitar tempat tinggal mereka.

 

Terbukti beberapa hari sesudahnya, ada seorang ibu pegawai negeri siang-siang mampir ke toko (entah pulang dari kantor, entah mbolos dari kantornya), yang dengan jujur bercerita bahwa beliau baru tahu ada toko “Madurejo Swalayan” setelah membaca spanduk di acara mujahadah. Bingo….! Semoga masih ada sembilan orang lagi yang bernasib sama seperti ibu itu, meskipun tidak cerita. Itulah salah satu yang diharapkan dari jurus woro-woro, iklan atau promosi. Tentu bukan satu-satunya cara, masih banyak cara lain yang dapat ditempuh. Gagasan-gagasan dan terobosan-terobosan baru terus digali dan dipikirkan (seringkali sambil tidur…..).

 

Jika harus memasang spanduk untuk melakukan promosi, tidak selamanya berarti bagaimana mengajak orang untuk datang ke “Madurejo Swalayan”, melainkan juga bagaimana agar keberadaan “Madurejo Swalayan” dapat diterima dan dirasakan sebagai bagian dari komunitas di sana. Sesuai dengan visi dan misi toko ini : mengajak masyarakat desa Madurejo untuk beribadah bersama-sama di bidangnya masing-masing. Sederhana saja….. 

 

Madurejo, Sleman – 5 Desember 2005.

Yusuf Iskandar

(20) “Impulse Buying”

13 Desember 2007

Rekreasi? Jalan-jalan ke mall? Membeli kebutuhan keluarga ke supermarket? “Lets go….., ayo anak-anak berangkat….”, sang Bapak memberi komando tanda siap berangkat.

Lalu, niat ingsun dari rumah hendak membeli sabun mandi, sabun cuci, odol, sampo, gula, teh, kopi, susu dan pembalut wanita. Total jendral menurut rencana ada sembilan item yang hendak dibeli. Berangkatlah satu keluarga, bapak, ibu dan anak-anak, pergi rombongan keluar rumah, sembari jalan-jalan, rekreasi, membeli kebutuhan keluarga ke toko swalayan terdekat.  

Begitu masuk toko swalayan……. jreng….., berhamburanlah bapak-ibu kemana, anak-anak entah kemana…… Beberapa puluh menit kemudian (terkadang jam), satu keluarga ketemu di antrian menuju kasir. Anak yang satu bilang : “Saya ambil ini, ya Pak?”. Anak yang satunya lagi bilang : “Saya ambil ini sama ini, ya Bu?”. Sang Bapak dan Ibu hanya mengangguk sambil tersenyum : “Iya”.

Setelah barang belanjaan di-scan sama mbak kasir, ngak-ngik…ngak-ngik…., lalu dibayar. Meninggalkan toko dengan senyum kemenangan. Lalu iseng-iseng dilihat struk belanjaan. Betapa kagetnya, ternyata jumlah belanjaan hari itu bukan sembilan item seperti yang direncanakan semula, melainkan jadi sembilan belas item, bahkan dua puluh sembilan item. Begitu sampai rumah, belanjaan dibongkar, eh… ternyata odolnya atau gulanya malah belum terbeli. Kok bisa? Dari mana datangnya barang belanjaan sebanyak itu? Ya, dari matanya bapak-ibu-anak-anak turun ke keranjang belanja……   

Haqqun-yakil…, siapa saja yang membaca tulisan ini pasti pernah mengalami hal yang serupa cerita di atas, termasuk yang menulis cerita. Itulah hebatnya apa yang disebut “impulse buying”, yang maksudnya pembelian seketika atau pembelian yang tak direncanakan. Dan peristiwa semacam ini hanya mungkin terjadi di toko ritel swalayan, tidak di toko tradisional. 

***

Tahukah Anda kenapa di atas rak-rak dekat kasir selalu tersedia aneka permen, snack dan barang-barang kecil yang sepertinya disusun sedemikian menariknya? Tidak lain, tidak bukan, agar sambil Anda ngantri menuju kasir, maka tangan-tangan lentik putra-putri Anda yang lucu-lucu akan dengan gesit dan cekatan menyabet aneka permen dan makanan kecil di sekitar rak tersebut.

Bukan hanya anaknya, Bapaknya pun bisa tiba-tiba ingin membeli rokok, padahal rokok di saku masih ada. Atau, tiba-tiba ingin membeli permen pelega tenggorokan, padahal tenggorokannya sehat-sehat saja. Atau, tiba-tiba merasa perlu beli batu batere, padahal belum tahu mau dipakai apa. Buat cadangan, katanya. Belum lagi ibunya, entah kenapa melihat sesuatu benda ditimbang-timbang kok harganya lebih murah dari biasanya atau di tempat lain. Maka, diambil dan digabungkanlah semua hasil sabetan tiba-tiba itu ke dalam keranjang belanja yang sudah mau mbludak…..    

“Sssttttt…., ini rahasia antar teman saja………, jangan bilang-bilang……”. Semua itu memang disengaja oleh si empunya toko. Disengaja agar para pengunjung tokonya terdorong untuk melakukan “impulse buying”. Tapi berani taruhan, meskipun Anda sudah tahu rahasia ini, tetap saja lain waktu masuk toko swalayan, entah kapan dan dimana, kejadian serupa akan terulang dan terulang dan terulang lagi…….. 

Itulah ruarrr biasanya virus penyakit yang namanya “impulse buying”. Sekalipun kita tahu bahayanya, tetap saja dengan sukarela membiarkannya terjadi dan terjadi lagi. Bagi para penentang perilaku konsumtif, penyakit ini dikategorikan sebagai musuh utama para konsumen. Tapi jika para penentang itu berada dalam situasi seperti di atas, dia pun tidak mampu menghindarinya. Aneh tapi nyata…..

Sebaliknya bagi para peritel atau pengusaha toko swalayan, penyakit itu justru mutlak wajib ‘ain hukumnya untuk dipelihara, dikembang-biakkan dan jika perlu diriset agar lebih berdayaguna dan berhasilguna. Jangan pernah menyalahkan siapapun, itulah dunia persilatan jual-beli di toko swalayan. Menghindari masuk toko swalayan? Silakan berantem dulu dengan putra-putri Panjenengan yang manis-manis dan lucu-lucu di rumah…….

***

Saya paling senang kalau lagi berada di toko, lalu melihat satu keluarga masuk toko untuk berbelanja. Hampir pasti peristiwa “impulse buying” akan terjadi. Dan itu berarti barang dagangan saya akan banyak laku. Meskipun mungkin barang-barang yang digaet anak-anak tidak seberapa nilainya. Paling-paling permen atau gula-gula yang harganya sekitar Rp 500,- sampai Rp 1.000,-. Tapi jangan lupa, justru benda-benda remeh-temeh seperti itu mampu memberikan keuntungan Rp 100,- sampai Rp 200,-, yang artinya 20% margin keuntungan. Sebuah nilai yang cukup tinggi untuk standar mini market atau toko retail. Sebagai ilustrasi, kalau kejadian seperti itu berulang dalam hitungan dua item kali 25 kejadian, maka berarti keuntungan paling tidak senilai Rp 5.000,- sampai Rp 10.000,-. Kenyataannya, adegan seperti itu seringkali melibatkan lebih banyak item barang dalam puluhan kali kejadian.

Kecil? Tepat sekali. Itu sebabnya maka umumnya tidak dianggap signifikan oleh orang kebanyakan. Tapi tidak bagi pengusaha toko swalayan. Itu adalah nilai yang sangat signifikan. Karena pengusaha toko tidak melihatnya dalam kerangka satu atau sedikit kejadian, melainkan dalam sekian kali lipat kejadian. Bahasa bisnisnya disebut omset. Istilah yang sangat umum, tapi sangking umumnya jadi sering tidak berarti apa-apa bagi orang umum. 

Namun di balik semua kisah itu, terkadang hati ini dibuat trenyuh….

Pada suatu sore, seorang bapak dan anak perempuannya dengan berboncengan sepeda datang ke toko. Berpakaian rada lusuh, agaknya sang bapak baru pulang kerja. Melihat tampilan fisiknya, jelas ini orang desa warga sekitar. Bukan orang yang biasa belanja di toko swalayan di kota. Mereka lalu masuk toko, memutari rak-rak makanan bersama anak perempuannya, lalu mengambil beberapa yang diperlukan dengan tanpa menggunakan keranjang belanjaan.

Ketika sang bapak hendak membayar ke kasir, ndilalah anak perempuannya rada rewel. Tangan bapaknya ditarik-tarik, minta dibelikan makanan kecil atau snack-snackan sejenis Taro, Chiki, Chitos, dan pokoknya yang semacam itulah. Sang Bapak menolak, tapi sang anak terus saja merengek sambil menunjuk-nunjuk dan menarik-narik tangan bapaknya.

Melihat peristiwa itu, pikiran saya cepat menganalisa. Ada dua kemungkinan yang mendorong peristiwa itu terjadi : sang bapak tidak suka dengan jenis makanan seperti itu (yang konon kaya akan kandungan MSG), atau sang bapak uangnya tidak cukup. Menurut feeling saya, kemungkinan kedua lebih masuk akal yang menjadi penyebabnya. Inilah jenis “impulse buying” yang tidak seharusnya saya biarkan meng-“impulse”. Kita harus bijaksana, terpaksa turun tangan turut membantu sang bapak ngerih-rih (menenangkan) sang anak agar mereda rengekannya dan mau nurut sama bapaknya. Minimal, sang bapak tidak merasa dipermalukan oleh tingkah polah sang anak yang tentunya tidak bisa dipersalahkan. Lha wong namanya anak…… Benar-benar perjuangan yang tidak mudah, menaklukkan keinginan seorang anak.

Kemudian ……., terbayang di ingatan saya, ketika beberapa tahun yang lalu anak kedua saya minta dibelikan mainan yang harganya puluhan dollar dan tidak saya penuhi. Lalu anak saya gero-gero, nangis coro Jowo, ndeprok di depan sebuah toko di New Orleans. Untungnya masih ada sisa uang di saku. Lha kalau tidak?. Maka, saya bayangkan bapak di toko saya itu barangkali baru menerima upah hariannya yang jumlahnya benar-benar pas-pasan, sehingga mati-matian beliau tidak mau memenuhi permintaan sang anak, meski barangkali “hanya” menyangkut uang senilai Rp 850,- sampai Rp 1000,-

Subhanallah……., ternyata tidak cukup hanya berbekal ilmu Manajemen Ritel yang mesti saya pahami, melainkan juga Manajemen Hati…….

Madurejo, Sleman – 1 Desember 2005.
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.