Ada Rampok Di Tokoku

img_0939_r21Saat sedang tegang-tegangnya nonton film “The Day After Tomorrow” (kecuali setiap kali muncul iklan saya tinggal pergi) di Global TV tadi malam, sekitar jam 20:45 WIB ponsel istri saya berdering. Rupanya itu tilpun dari toko kami, “Madurejo Swalayan”. Tumben, malam-malam ada tilpun dari toko. Lalu terdengar suara istri saya meninggi dengan nada terkejut.

Piye, mbak….? Ono opo mbak….? Ora jelas suaramu……?” (Bagaimana, ada apa, suaranya tidak jelas….). Hanya terdengar suara tangisan seorang pegawai toko kami di seberang sana, di desa Madurejo yang berjarak sekitar 15 km dari rumah.

Kemudian seorang laki-laki mengambil alih gagang tilpun, lalu katanya : “Ibu segera ke toko, ada perampokan….”. Dan, sambungan tilpun pun lalu terputus. Begitu, laporan istri saya tergopoh-gopoh sambil masih mengacung-acungkan ponselnya, segera setelah menerima tilpun.

Mendengar ekspresi nada suara istri saat pertama kali menerima tilpun, saya sudah menduga bahwa sesuatu sedang terjadi di toko saya. Herannya, saya kok ya tetap asyik saja nonton TV sama anak laki-laki saya, sambil menunggu laporan istri itu. Sepertinya tayangan film TV malah lebih menegangkan.

Kata istri saya dengan nada suara tegang : “Mas, segera ke toko sekarang, ada rampok”.

Saya pun menjawab santai : “Ya, suruh nunggu…..” (maksudnya pegawai toko yang saya suruh menunggu saya datang, bukan perampoknya….).

Saya mulai beraksi (menggantikan aksi film TV yang saya tinggal). Pengawas dan pegawai toko tidak berhasil saya hubungi ke HP-nya. Lalu buru-buru saya coba menghubungi tetangga toko saya, dengan maksud untuk minta tolong menengok apa yang terjadi di sana sementara saya dalam perjalanan 30 menit dari rumah menuju toko.

(Ya.., ya.., tetangga adalah mahluk yang sering kita kesampingkan pada saat dunia sedang aman dan damai, tapi tiba-tiba menjadi sangat penting peranannya ketika terjadi keadaan darurat. Kalau kemudian dunia kembali aman dan damai, ya lupa lagi sama tetangga. Ugh…! Kasihan deh, jadi tetangga. Untungnya, saya tidak tergolong sebagai mahluk yang abai terhadap tetangga).

Ee, lha kok ndilalah….., no HP yang saya hubungi nyasar ke seorang teman lama yang kebetulan namanya sama dengan nama tetangga toko yang mau saya hubungi. Maksud hati mau bicara to the point, apa daya pembicaraan dengan teman lama saya itu malah susah untuk diputus. Bagi teman saya itu : “Kebetulan sudah lama tidak ketemu mas Yusuf…”. Weleh…., malah jadi kangen-kangenan. Lha saya sedang buru-buru dan rada sentress, je…

Setelah pembicaraan kangen-kangenan dengan teman lama berhasil diselesaikan dengan baik, saya lalu berubah pikiran untuk menghubungi petugas keamanan desa Madurejo, yang juga tetangga toko saya. Langsung saja saya minta beliau untuk menuju TKP dan minta tolong melakukan apa-apa yang perlu dilakukan sebelum saya tiba di sana.

***

Sekitar jam 21:30 saya tiba di toko bersama istri dan kedua anak saya yang kepingin tahu apa yang terjadi di toko. Toko sudah ditutup, tapi di depan toko masih ramai orang, di antaranya beberapa petugas polisi dari Polsek Prambanan. Istri saya segera menemui pegawai-pegawai toko yang masih shock, sedangkan saya langsung menuju TKP ditemani oleh petugas kepolisian dan seorang tetangga saya. Kronologi peristiwa perampokan justru saya dengar dari kedua orang yang menemani saya itu, sambil saya menginspeksi situasi meja kasir dimana perampokan terjadi, sambil saya men-jeprat-jepret-kan kamera, sambil saya berdialog. Sementara seorang pegawai kasir dan seorang temannya masih shock belum bisa banyak memberi keterangan.

Menurut cerita sementara : Datanglah dua orang pemuda berboncengan naik sepeda motor, lalu masuk toko dan hendak membeli rokok. Seperti biasa, penjualan rokok dilayani kasir. Ketika sepertinya hendak membayar di kasir, tiba-tiba sepucuk pistol ditodongkan ke kasir sambil menggertak agar uang di laci segera diserahkan. Laci kasir lalu ditarik dan di-oglek-oglek ternyata tidak bisa dibuka (kebetulan sistem komputer belum dalam posisi melakukan transaksi, jadi ya tidak bisa dibuka….. Agak bodoh juga rupanya rampok ini…, agaknya mereka masih perlu sedikit belajar tentang perkasiran…..).

Karena tergesa-gesa sebelum diketahui orang lain, laci di bawah meja kasir dibuka, dan diraihlah sebundel uang cadangan yang ada di sana (tadi malam saya perkirakan jumlahnya sekitar satu koma tiga juta rupiah, tapi setelah tadi pagi dihitung ulang dari data komputer ternyata jumlanya “hanya” tujuh ratus tiga puluhan ribu rupiah). Barangkali merasa bahwa uang jarahannya tidak banyak, sang penyamun itu lalu meminta HP milik mbak kasir. Kemudian secepat kilat mereka kabur nggendring….. berboncengan sepeda motor menuju arah selatan, dan menghilang ditelan malam.

Puji Tuhan walhamdulillah, sang penyamun gagal menggasak hasil penjualan toko saya sehari kemarin (kita sering tidak ngeh, rupanya ada juga kegagalan yang haus di-alhamdulillah-i…). Tapi… siwalan bener, mereka berhasil membuat shock dan menjatuhkan mental pegawai saya.

Secara materi, kerugian yang ditimbulkan oleh aksi perampokan ini relatif tidak seberapa, kerusakan fasilitas toko tidak ada, korban juga tidak jatuh. Akan tetapi kerugian immaterial sungguh tidak kecil. Dua orang pegawai saya hampir pingsan, belum bisa diajak bicara hingga malam, hanya bisa menangis sesenggukan. Sekitar jam 10 malam, kedua pegawai saya itu saya antarkan pulang ke rumahnya di lereng perbukitan sebelah timur Madurejo. Saya serahkan kepada keluarganya yang sudah pada beristirahat malam dan terkejut mendapati anak perempuan mereka pulang dari kerja tidak seperti biasanya. Salah satunya harus berjalan dipapah sambil masih menangis gero-gero (meraung) dan seorang lagi malah harus dibopong (diangkat dengan kedua tangan) dan tidak bisa berucap apa-apa selain sesenggukan. Menjadi kewajiban saya untuk menjelaskan apa yang terjadi, meminta maaf dan berterima kasih kepada keluarganya.

Peristiwa perampokan tadi malam itu langsung ditangani oleh pihak kepolisian Sektor Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Meski untuk urusan pelaporan itu, tadi malam saya harus berada di kantor Polsek hingga jam 01:30 dini hari. Menemani pak polisi yang sedang bekerja agar baik jalannya….., mengisi beberapa lembar kertas berjudul Laporan Tuntas dan Laporan Polisi rangkap tiga berkarbon, menggunakan mesin ketik Brother yang sudah karatan dan tanpa kap atasnya. Diiringi bunyi cethak-cethok…pencetan jari tengah tangan kiri dan jari telunjuk tangan kanan, dan memerlukan waktu satu jam untuk menyelesaikannya.

Setelah itu dilanjutkan dengan pembuatan Berita Acara Pemeriksaan dengan menjawab 17 pertanyaan (jadi ingat berita tentang pemeriksaan tersangka korupsi yang oleh koran selalu disebut jumlah pertanyaannya). Hal yang terakhir ini diketik dengan komputer, tapi tetap saja berjalan lambat karena nampaknya pak polisi juga sangat hati-hati dalam menyelesaikannya (maklum, BAP adalah dokumen hukum yang setiap kalimatnya menjadi sangat berarti ketika misalnya kasus itu naik ke proses peradilan). Saya harus memakluminya, meski untuk itu saya, istri dan anak-anak harus pulang sampai rumah jam 02:00 dini hari.

***

Perihal kerugian dari kejadian perampokan ini rasanya langsung bisa saya ikhlaskan. Eee…, barangkali kedua penyamun itu sedang butuh biaya pengobatan keluarganya (meski hati saya berprasangka juga, jangan-jangan malah buat bok-mabbok dan ler-teller….). Kini tinggal tugas saya dan istri untuk memulihkan moral dan semangat kerja pegawai saya yang sempat shock dan jatuh mentalnya akibat mengalami peristiwa perampokan (menurut istilah kepolisian disebut curat alias pencurian dengan pemberatan) yang bagi pegawai saya bisa berakibat sangat traumatis.

Akhirnya, pelajaran yang bisa dipetik adalah bahwa saya harus bisa memetik pelajarannya. Lho? Embuh-lah….. Tapi yang saya yakini pasti adalah bahwa di dunia in tidak ada peristiwa yang kebetulan. Daun jatuh saja diurus dengan sangat cermat oleh Tuhan. Apalagi peristiwa perampokan yang melibatkan banyak pihak, pasti Tuhan punya “naskah” skenario yang sangat tebal. Mudah-mudahan saya mampu membaca dan memahaminya.

Madurejo – Sleman, 6 Januari 2009
Yusuf Iskandar

Iklan

Tag: , , , , , , , ,

9 Tanggapan to “Ada Rampok Di Tokoku”

  1. Bambang Aris Says:

    Mas Yusuf,

    Saya ikut prihatin atas kejadian yang menimpa di toko Madurejo nya mas Yusuf.
    Semoga mas Yusuf dan istri bisa segera berhasil memulihkan kembali moral dan semangat kerja semua pegawai nya.
    Beberapa waktu yang lalu, memang saya sudah sempat singgah ke toko walaupun belum jumpa dengan mas Yusuf, saya akui pegawai2 nya Madurejo Swalayan ini ramah2.., polos.., seolah tidak ada kecurigaan keamanan kepada siapapun yang datang ke toko… (ma’af mungkin ini dilema, disatu sisi harus ramah ke semua pelanggan… maupun calon pelanggan…, sementara disisi lain ada orang2 diluar sana yang mencari peluang calon korban…).
    Walaupun begitu… dengan ke ikhlasan dan ke tawakalan mas Yusuf atas kejadian ini…, saya tetap berdo’a Semoga Toko Madurejo Swalayan akan kembali semarak dan akan semakin berkembang di masa yang akan datang… Amiinn…

    Salam dari Jogya barat,
    B A

  2. madurejo Says:

    @Mas Bambang Aris,
    Banyak matur nuwun atas dukungan moril dan doa tulusnya, termasuk foto-foto “Madurejo” yang Sampeyan ambil dan telah kirimkan. Kapan-kapan monggo mampir lagi, tapi kontak-kontak dulu ya. Salam.

  3. Farida Says:

    Salam. Pa Yusuf…turut prihatin dan agak kaget juga dengan judulnya….sebagai sesama “orang bakulan” saya turut prihatin, semoga bapak sekeluarga mendapatkan hikmah dibalik kejadian ini, di ikhlas kan dan Allah pasti menganti dengan rejeki yang lebih banyak lagi (bukankah tak ada satu pun daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah???)…

    Maaf pa..apakah pa yusuf kenal dengan Pa Joko dari MKT komputer Jogja? saya salah satu customernya…

  4. madurejo Says:

    @Ida,
    Terima kasih doanya. Semoga kesuksesan juga menyertai toko dan usaha yang Ida sedang tekuni. Ya, saya juga salah satu customer-nya pak Joko MKT. Salam.

  5. honey Says:

    walau ada musibah, tp setelah membaca tulisan bpk, malah tertawa hahaha.. sy tau webnya bpk dari seorang temen.. rencananya sy kepengen buka minimarket, tp kendalanya modal sy tidak terlalu besar (+/- 30jt), sy jg kurang berpengalaman, puyeng juga sih mikirannya, apalg sekarang lagi ga pegang setir (alias nganggur, hehehe)

  6. madurejo Says:

    Honey,
    Meski kedengaran provokatif, tapi saya ingin mengatakan bahwa besarnya modal sebaiknya jangan dijadikan faktor kendala. Kenapa tidak buka minimarket yang mini? Selalu ada saat-saat kurang pengalaman, sebelum menjadi pengalaman. Jangan dibikin puyeng, konon kata iklan…. enjoy aja…. Terima kasih & salam.

  7. danang Says:

    pake cctv aja pak yusuf….

  8. Hardi Freeport Says:

    Wah, menakutkan ya Pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: