Bukan Saya

13 Mei 2008 by madurejo

Hari ini akan saya ingat sebagai hari yang agak beda dari biasanya. Ada dua peristiwa biasa tapi memberi hikmah yang tidak biasanya.

Jam delapan pagi saya sudah bergegas meluncur ke rumah seorang teman lama untuk melayat ibu mertuanya yang meninggal kemarin. Sudah agak lama saya tidak berkomunikasi dengan teman saya, yang hampir 29 tahun yll pernah sekamar kost di Yogya. Saya sempatkan untuk melayat ke rumah duka dan mengantar jenazahnya hingga ke pemakaman.

Baru saja tiba di rumah sepulang melayat, ada tilpun dari ibu mertua yang minta diantar ke rumah sakit. Segera bergegas lagi bersama istri menjemput ibu mertua dan mengantarnya ke RSUD Wirosaban, Yogyakarta. Setelah mengurus ini-itu di loket, kemudian tiba di ruang tunggu poliklinik penyakit dalam. Namanya juga ruang tunggu, jadi mestinya ya ruang untuk menunggu. Dan yang namanya menunggu dokter di rumah sakit rakyat jelata, tak terprediksi berapa lamanya. Tingkat kelamaannya akan berbanding lurus dengan tingkat kemanyunan pengantar dan penunggu seperti saya.

Sambil melamun manyun, terkadang duduk terkadang berdiri, sambil tersenyum kecut dalam hati seperti ada yang mengingatkan perjalanan saya beberapa jam sebelumnya pagi tadi. Sebenarnya tidak ada yang salah, dua pekerjaan telah dan sedang saya jalani dengan tanpa beban dan ikhlas (meski agak manyun juga kelamaan menunggu), mengantar jenazah mertua teman dan mengantar mertua sakit.

Tiba-tiba saya seperti sedang disadarkan. Harusnya saya bersyukur telah berkesempatan mengantar jenazah mertua teman ke pemakaman, bukannya saya yang diantar. Harusnya saya bersyukur telah berkesempatan mengantar mertua ke rumah sakit, bukan saya yang diantar.

Seringkali kita berlindung dan merasa nyaman berada di balik kata “bukan saya”. Bukan saya yang digusur, bukan saya yang jadi korban kecelakaan, bukan saya yang terkena bencana, bukan saya yang kesulitan beli minyak, bukan saya yang terpaksa meminta-minta, bukan saya yang di-PHK, bukan saya yang disia-sia Satpol PP, bukan saya yang gagal ujian, bukan saya yang…… , bukan saya…….

Semua berlalu tanpa makna. Begitu saja. Lalu kita pun lupa. Tapi dua pengalaman pagi tadi yang sebenarnya biasa-biasa saja, entah kenapa tiba-tiba menggetarkan hati saya. Bukan saya….., lalu apakah akan tetap begitu saja sambil menunggu tiba kesempatannya (kesempatan kok ditunggu…..), diantar seperti ibu mertua teman saya dan ibu mertua saya?

Padahal yang namanya kesempatan itu sama sekali tidak berbanding lurus atau berbanding terbalik atau berpersamaan matematika dengan waktu, melainkan adalah eksistensi diri kita sendiri. Bak quiz tapi judi di televisi yang direstui petinggi negeri, berbiaya premium tinggi dan dipandu mahluk cantik merak ati : siapa cepat dia dapat…… Begitu juga kesempatan mengantar atau diantar silih berganti tidak mengenal antri.

Yogyakarta, 13 Mei 2008
Yusuf Iskandar

”Seafood of Love” Untuk Satenya Bu Entin

13 Mei 2008 by madurejo

Labuan hanyalah kota kecamatan di kawasan pantai barat Banten. Tidak jauh ke sebelah selatan dari pantai Carita yang belakangan lebih terkenal itu. Namun kalau kebetulan pergi berlibur ke pantai Carita, sebaiknya jangan lewatkan untuk mampir ke Labuan, lalu carilah Rumah Makan Bu Entin di Jalan Raya Labuan Encle. Kalau kesulitan, tanya saja sama orang lewat di sana pasti tahu tempatnya.

Apa yang menarik dengan rumah makan Bu Entin? Wow…, jangan kaget di sana ada sate raksasa…… Ini bukan menu satenya Buto Ijo, melainkan ya disediakan bagi pemangsa daging sejenis manusia yang kelaparan. Hanya manusia yang kelaparan yang sanggup menghabiskan beberapa tusuk satenya Bu Entin.

Coba simak deskripsi berikut ini : Satu tusuk sate hati sapi terdiri dari lima potong yang kalau di tempat lain barangkali satu potongnya ini sudah ekuivalen dengan setusuk sate. Satu tusuk sate cumi-cumi terdiri dari lima ekor masing-masing berukuran sebesar batu baterei D-size gemuk sedikit. Satu tusuk sate udang terdiri dari lima ekor masing-masing berukuran sekorek api besar sedikit dan ada juga yang lebih besar. Satu tusuk sate ikan (entah ikan apa) terdiri hanya seekor ikan laut kira-kira selebar peci hitam untuk sholat (tidak usah repot-repot sholat dulu untuk membayangkan, pokoknya cukup buesar….).

Belum lagi otak-otak yang bungkus daun pisangnya gosong di sana-sini dan masih panas, dipadu dengan dua macam sambal berwarna merah dan coklat muda. Masih ada urap, lalap leuncak, mentimun dan tauge kecil mentah, dsb.

Dari tampilannya saja (sumprit…, saya berkata sejujurnya) ludah saya sudah tertelan beberapa gelombang. Sampai bingung saya harus memulai dari mana untuk memakannya, padahal nasi sudah dituang ke piring dari beboko (ceting) yang disediakan. Akhirnya yang saya ambil duluan malah tauge mentah saya campur dengan sambal cabe merah.

Sebungkus otak-otak saya buka kemudian dan saya dulitkan (cocolkan) ke sambal yang berwarna coklat muda. Komentar saya spontan pendek saja… “Hmm…., enak…, enak sekali….”. Pilihan hasil assessment saya memang hanya dua, enak dan hoenak sekale…..

Sejurus kemudian baru setusuk cumi, setusuk udang dan beberapa potong hati sapi yang saya dudut (lolos) dari tusuknya. Itupun sudah hampir menenggelamkan nasi di piring saya, yang kemudian malah belakangan baru saya makan nasinya.

Oedan tenan……., sungguh sebuah petualangan makan-makan yang ruarrr biasa…..  Setiap gigitan dan kunyahan cumi-cumi dan udangnya terasa benar sensasi seafood bakarnya. Juga potongan hati sapinya mak kress…. di gigi ketika memotong tekstur bongkahan sate hati sapi yang dibakar hingga tingkat kematangan well done (sebaiknya jangan setengah matang).

Hampir sejam kemudian, perut sudah terasa kenyang nian…… nafsu serakah seperti sulit dikendalikan, tapi apa daya kapasitas tembolok manusia memang ada batasnya.

***

Entah dimana Bu Entin pernah belajar bisnis, namun sejak awal membuka usaha (yang kata pegawainya sejak tahun 1996), Bu Entin sudah menerapkan jurus deferensiasi. Bu Entin berani tampil beda dengan ide sate hati sapi raksasa dan sate seafood yang juga berukuran tidak biasa. Ditambah dengan adonan sambalnya yang mirasa, membuat faktor pembeda itu semakin mantap pada posisinya dan bertahan hingga kini. Akhirnya terbentuklah brand image Bu Entin yang seakan menjadi jaminan kepuasan pelanggannya.

Bu Entin memang luar biasa, masakannya maksudnya……. Meski yang menyajikan masakannya sebenarnya juga bukan Bu Entin sendiri melainkan para pegawainya. Tapi nama kondangnya sudah cukup untuk memanipulasi seperti apapun kualitas kemahiran memasak pegawainya. Siapapun pengunjung yang datang untuk menikmati sate raksasa dan sate seafood Bu Entin, maka yang terbayang adalah buah karya tangan Bu Entin.

Layaknya sebuah kesuksesan, maka kemudian berduyun-duyun para pengikut meniru jejak Bu Entin membuka usaha rumah makan sejenis di seputaran kawasan Labuan. Namun tetap saja Rumah Makan Bu Entin yang paling banyak diminati sehingga bukannya pengunjungnya berkurang, malahan semakin dikenal.

Kendati tampilan warungnya terkesan sangat sederhana, namun sajian cita rasa yang ditawarkan sungguh tidak sesederhana tampilannya, melainkan membuat kangen banyak pelanggan setianya terlebih bagi pengunjung fanatik yang sudah telanjur cocok dengan masakan Bu Entin.

Seorang pengunjungnya yang datang dari mancanegara saking terkesannya dengan masakan sate seafood Bu Entin, sampai menyempatkan untuk menuliskan sebuah puisi berjudul “Seafood of Love”, yang kini dipajang di dinding Rumah Makan Bu Entin.

Begini bunyi penggalan bait terakhirnya :

My seafood of love, my dining pleasure
Finger lickin’ food, so fresh and tasty
Breezing through my mind
You leave me breathless and wanting for more….

Tiada kata-kata yang lebih indah dapat saya ucapkan setelah berucap hatur nuhun kepada pelayannya, melainkan puji Tuhan wal-hamdulillah …… Kalau ada umur panjang, bolehlah saya kepingin mampir lagi.

Yogyakarta, 12 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Menyantap Sate Padali Sebelum Masuk Sumur

12 Mei 2008 by madurejo

Warung sate itu bernama Padali. Jangan salah, bahwa Padali itu bukan suaminya Bu Dali. Awalnya saya juga mengira demikian (sebutan khas orang Sunda yang biasa menulis Pa untuk Pak). Padali adalah nama tempat atau kampung dimana warung itu berada.

Warung Sate Padali saya jumpai di rute perjalanan dari arah Labuan menuju Legon, dermaga penyeberangan ke pulau Umang, Pandeglang, Banten. Kira-kira 13 km sebelum masuk Sumur, perlu hati-hati (namanya juga mau masuk sumur……). Di sana ada perempatan jalan kecil yang cukup padat kalau siang hari karena selain jalannya relatif sempit meski beraspal, tapi lokasinya berdekatan dengan pasar dan pusat kegiatan ekonomi masyarakat kampung Padali.

Untuk menuju ke Sumur, sesampai di perempatan Padali belok ke kanan. Tapi kalau mau mengisi perut dulu, ambil jalan lurus sedikit dan berhenti di sebelah kanan jalan. Sebuah spanduk warna putih bertuliskan cukup jelas memberitahu keberadaan Warung Sate Padali. Di daerah sepanjang rute ini memang tidak banyak pilihan warung makan. Setidak-tidaknya saya sudah berusaha mencarinya sejak dari kawasan Sumur dan belum menemukan yang pas di hati, hingga akhirnya ketemu warung sate Padali. Maka warung sate Padali bisa jadi pilihan di antara yang tidak banyak itu.

Apa menu yang ditawarkan? Menu unggulannya adalah sate kambing, sate sapi dan sop kikil kambing. Masih ada asesori tambahan yaitu krecek kambing. Krecek di sini bukan seperti krecek-nya orang Jogja yang disebut koyoran yang berbahan kulit sapi dan biasanya dimasak sambal goreng pelengkap gudeg atau sayur brongkos. Krecek kambing di sini adalah potongan-potongan jerohan kambing, seperti babat, usus, limpa dan kawan-kawannya, yang digoreng dan berasa gurih. Meski tersedia juga menu lainnya bagi yang tidak suka daging-dagingan.

Menyesuaikan dengan kondisi perut yang sudah mendendangkan irama macam-macam, maka malam itu saya memesan sate kambing, sopi kikil kambing, sedikit krecek kambing karena penasaran ingin mencoba rasanya, ditambah dengan petai bakar. Tidak terlalu lama untuk menunggu disajikan. Satenya disajikan dengan bumbu ganda, ada bumbu kecap dan ada bumbu kacang. Bumbu kacangnya sungguh sedap, agak manis dan agak pedas. Lebih sedap lagi ketika setusuk sate kambing panas dioleskan pada kedua bumbu yang dicampurkan. Wuih……, sepertinya tidak sabar ingin segera menelan semuanya……

Tapi namanya juga manusia, panjang ususnya tentu saja terbatas. Belum habis seporsi sate yang terdiri dari 10 tusuk, diselingi dengan mengerokoti kulit kikil kambing yang lunak dengan bumbu sopnya pas benar, masih diselingi dengan gigitan-gigitan krecek kambing, akhirnya ibarat lomba lari belum sampai garis finish sudah klepek-klepek……., kecepatan terpaksa dikurangi. Perut kemlakaren……., kekenyangan.

Paduan rasa dan bumbunya secara keseluruhan cukup memuaskan. Hanya sayangnya agak kurang pandai memilih daging, sehingga ada beberapa potong daging kambing yang kenyal dan alot dikunyah. Tapi, it’s OK. Harganya tidak semahal di kota. Di kawasan ini harga makanan relatif murah, meski lokasinya jauh dari mana-mana.

***

Penjual sate yang saya lupa menanyakan namanya dan mengaku berasal dari Purwakarta ini rupanya sudah sekitar empat tahunan berjualan sate di Padali. Kini warung satenya semakin ramai dikunjungi para pemakan (orang yang mencari makan di luar, maksudnya). Terutama sejak di dekat sana ada aktifitas ekonomi baru, yaitu usaha pertambangan emas di wilayah kecamatan Cibaliung.

Kawasan barat wilayah kabupaten Pandeglang yang selama ini dikenal sebagai daerah yang kurang subur untuk usaha pertanian, kini kehidupan ekonomi sebagian penduduknya menjadi agak terangkat. Terutama mereka yang mempunyai keterampilan untuk dididik menjadi tenaga kerja tambang. Kawasan itu juga menjadi lebih ramai dibanding sebelumnya, dengan adanya penduduk pendatang yang bekerja di tambang.

Sepasang suami-istri penjual sate itu pun kini bisa tersenyum gembira, tiga ekor kambing siap disembelih setiap harinya guna memenuhi permintaan penggemar satenya. Kalau daging sapinya cukup dengan membelinya di pasar.

Warung sate ini dari luar masih terlihat sangat sederhana dan terkesan ndeso, meja dan bangkunya juga seadanya, dan sebaiknya tidak dibayangkan seperti warung sejenis di kota. Namun saya yakin tidak lama lagi warung sate ini akan tampil beda, baik tampilan tempat maupun pelayanannya. Racikan bumbu sate dan sopnya cukuplah menjadi modal bagi kesuksesan warung ndeso ini kalau saja mereka pandai mengelola warungnya yang ada sekarang.

Belum lagi kalau pengunjung ke obyek wisata pantai Sumur, pulau Umang dan sekitarnya semakin ramai. Bolehlah pemilik warung sate ini berharap agar dalam perjalanan wisatanya orang-orang mau mampir menyantap sate Padali dulu sebelum masuk Sumur.

Yogyakarta, 11 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Rembang Petang Di Pulau Umang

11 Mei 2008 by madurejo

Sore sudah hampir berujung ketika saya tiba di pantai Legon, tidak jauh di sebelah utaranya kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten. Pulau Umang memang menjadi tujuan saya sore itu. Di sana saya ingin menyaksikan detik-detik matahari tenggelam di horizon barat dari tempat paling barat di pulau Jawa.

Hanya ada satu dermaga yang disinggahi perahu motor yang mengantar-jemput pengunjung pulau Umang. Tidak jauh dari dermaga ada sebuah bangunan bergaya tradisional, berdiri menghadap pantai, yang dikelilingi oleh halaman parkir cukup luas. Sudah ada banyak mobil dan bis wisata parkir di sana. Rupanya bangunan ini adalah semacam kantor administrasi yang mengelola pulau Umang dan segenap aktifitas yang terkait dengan wisata pulau Umang.

Seorang petugas segera menghampiri dan menanyakan keperluan kedatangan saya dan seorang teman. Bagi petugas itu, sangatlah jarang pengunjung yang ujug-ujug sampai di situ tanpa melakukan pemberitahuan sebelumnya. Rupanya semua pengunjung pulau Umang biasanya sudah melakukan reservasi di kantor perwakilan manajemen Pulau Umang Resort & Spa di Jakarta, sedangkan saya njujug saja ke tempat itu dengan alasan hendak melakukan survey lokasi tujuan wisata.

Biaya untuk mengunjungi pulau Umang adalah Rp 100.000,- per orang, termasuk untuk menyeberang pergi-pulang dan seorang pemandu yang akan menemani selama kunjungan. Jam berkunjung bebas, asal tidak kelewat malam maka perahu motor akan siap mengantar kebali ke dermaga Legon. Perjalanan menyeberangnya sendiri sebenarnya hanya sekitar 15 menit, dengan perahu motor yang dilengkapi dengan baju pelampung.

***

Pulau Umang terletak di teluk Panaitan yang membentang di perairan antara Tanjung Lesung di sebelah utara dan Ujung Kulon di sebelah selatan. Luas pulau ini hanya sekitar 5 hektar. Di sebelah selatannya terdapat pulau Oar yang luasnya hanya sekitar 3,5 hektar dan berjarak 10 menitan berperahu motor dari pulau Umang. Karena hanya dua dumuk gundukan karang, maka kedua pulau ini tidak akan muncul di peta Indonesia.

Pulau Umang dan pulau Oar adalah properti pribadi milik seorang pengusaha dari Jakarta. Oleh karena itu wajar kalau pemiliknya berhak mengatur pengelolaan kedua pulau ini. Ibaratnya, kedatangan saya sebenarnya bukan sebagai wisatawan melainkan tamu yang masuk ke rumah orang. Perlu kulo nuwun dulu, lalu dituanrumahi oleh seorang pemandu, dan untuk semua itu harus mbayar….. Belum lagi kalau mau nunut makan dan bermalam.

Begitu mendarat di dermaga kedatangan di Pulau Umang, langsung disambut dengan ramah oleh seorang pemandu wisata. Tampak sebuah bangunan utama yang di depannya membentang sebuah kolam renang cukup luas yang salah satu batas tepinya berbatasan dengan bibir pantai. Bagus sekali. Sebelum jalan-jalan mengelilingi pulau Umang, sempat ngobrol-ngobrol dulu dengan sang pemandu sambil disuguhi jus kiwi, di lobby yang interior dalamnya terkesan antik. Tahulah saya, untuk menginap semalam di pulau Umang pada saat weekend perlu biaya hingga 1,5 juta rupiah per kamar yang berupa setengah villa, yaitu sebuah villa yang terbagi dua, masing-masing cukup untuk ditinggali sebuah keluarga. Sedangkan untuk makan telah disediakan paket bernilai dua-tiga ratusan ribu rupiah per orang per hari. 

Sambil berjalan mengelilingi pulau Umang, sambil melihat-lihat bagian dalam bangunan villa yang berarsitektur minimalis, berkonstruksi kayu, tapi artistik. Bagian bawahnya ruang tamu dan kamar mandi bergaya ndeso, sedang mezanine atasnya untuk kamar tidur berukuran cukup luas. Ada 30 buah villa (yang berarti 60 kamar) yang setengah jumlahnya berkonsep sunrise karena menghadap ke arah matahari terbit di pagi hari dan setengah sisanya berkonsep sunset karena menghadap matahari tenggelam di senja hari. Di depan bangunan villa, tepat di bibir pantai dibangun banyak gazebo tempat para tamu dapat bersantai lesehan atau klekaran, beristirahat menikmati pemandangan pantai dan laut.

Berwisata ke pulau Umang agaknya menjadi kurang pas bagi wisatawan berkantong pas-pasan. Memang kebanyakan tamunya adalah warga Jakarta dan sekitarnya yang berniat membelanjakan simpanan anggarannya untuk agenda rekreatif yang berbeda. Dan jangan heran kalau setiap akhir pekan selalu ramai dikunjungi tamu. Ingin lebih puas tinggal di pulau Umang? Jangan khawatir, beli saja sebuah villa-nya yang berharga 1,5 milyar rupiah. Nyatanya memang ada juga yang membeli untuk dimiliki.

Berjalan mengelilingi pulau Umang tidak perlu waktu lama. Pemandangan alam pantainya sungguh mempesona. Terlebih di saat rembang petang di kala langit sedang terang benderang. Matahari nampak indah sekali sedikit demi sedikit menyembunyikan prejengan wajahnya, meninggalkan berkas dan pantulan cahaya di langit biru semburat merah, memantul pada bongkah-bongkah awan di angkasa (Ugh…., susah sekali merangkai kata-kata seperti ini……). Romantisme menikmati fenomena alam keseharian seperti itulah agaknya yang ingin dibeli wisatawan ber-budget tebal di pulau Umang. Padahal tidak usah menyeberang ke pulau Umang, melainkan nongkrong saja di pantai menghadap ke arah barat juga akan sama kenampakannya. Entah apa bedanya…..

Pasir pantainya berwarna putih bersih, tapi setelah terhempas oleh ombak ke daratan di beberapa tempat terlihat menjadi tidak bersih lagi, sebab onggokan sampah, kayu, plastik, sandal jepit, ikut terhempas di garis pantai. Onggokan batu-batu karang dan pepohonan yang tumbuh di antaranya, di bagian agak ke tengah laut, menambah pesona pemandangan alamnya yang begitu indah.

Di pulau Umang banyak ditanami pohon ketapang dan waru sehingga terkesan teduh dan berangin semilir. Cocok untuk digunakan sebagai arena bebas beraktifitas alam terbuka. Bagi penggemar olahraga air juga tersedia jetski atau speedboat. Bagi mereka yang hobi memancing malam hari tentu akan menyukai tempat ini. Bagi pengunjung yang menggemari wisata laut, perlu menyempatkan untuk menyeberang ke pulau Oar yang tidak berpenghuni. Alam daratan dan lautnya masih asli sehingga sangat cocok untuk berolahraga menyelam atau snorkling, di antara terumbu karang yang mengitari pulau Oar. 

***

Sayangnya belum ada jalan tembus yang layak dilalui kendaraan yang menghubungkan dari Tanjung Lesung ke Legon, sehingga untuk mencapai dermaga penyeberangan di Legon harus menempuh jalan agak memutar melalui kecamatan Cibaliung dan Sumur. Kalau tidak, mestinya pulau Umang akan lebih enak dicapai dari pantai Carita terus ke selatan melalui Labuan dan menyusuri pantai barat Pandeglang. Pemandangan alam pada jalur ini tentunya akan lebih menarik ketimbang jalur yang harus dilalui sekarang.

Rute jalan untuk mencapai Legon cukup mudah dan aman. Mudah, karena banyak dilalui kendaraan umum dari Jakarta, Serang, Pandeglang atau Labuan. Juga tidak sulit kalau hendak dicapai dengan kendaraan pribadi. Dari Jakarta menuju Sumur jaraknya sekitar 215 km atau sekitar 4-5 jam perjalanan darat. Aman, karena melintasi kawasan yang mulai ramai lalulintasnya maupun dekat dengan pemukiman penduduk. Kalau dibilang kurang aman, itu karena setelah keluar dari Labuan, kondisi jalannya belak-belok melintasi pegunungan dan di beberapa lokasi kondisi jalannya agak sempit dan rusak.

Sebelum meninggalkan pulau Umang, selewat matahari terbenam hari mulai malam tapi tidak terdengar burung hantu, beruntung saya sempat bertemu dengan Pak Christian, sang pemilik properti. Ceritanya pulau itu dibeli pada tahun 1980, lalu tahun 1998 mulai dibangun dan dikembangkan untuk tujuan komersial, dan baru pada akhir 2004 mulai dibuka untuk umum. Dalam upayanya turut mengembangkan wilayah di pantai barat Pandeglang, kini Pak Christian sedang ancang-ancang memasuki industri agrowisata. Beberapa klaster lahan pertanian disiapkan yang nantinya akan ditawarkan kepada investor dengan melibatkan masyarakat sebagai petani penggarap. Ada yang berminat? 

Yogyakarta, 10 Mei 2008
Yusuf Iskandar

 

Pengalaman Pertama

2 Mei 2008 by madurejo

Selalu ada yang menarik dengan yang namanya pengalaman pertama. Misalnya bekerja dan gaji pertama, mengemudi dengan SIM pertama, mendaki gunung pertama kali, termasuk malam pertama (di tempat baru, misalnya). Begitu juga pengalaman pertama saya naik pesawat Sriwijaya Air yang lagi narik trayek Surabaya - Semarang, beberapa hari yll.

Ketika maskapai murah-meriah-resah yang lain sudah ogah repot-repot ngurusi konsumsi penumpang pesawat, alias cukup air putih saja, Sriwijaya Air masih berbaik hati membagi konsumsi. Cuma konsumsinya tidak disajikan ketika di atas pesawat, melainkan dibagikan satu-satu ketika penumpang sedang boarding siap menuju ke pesawat.

Sebungkus kue plus akua gelas (apapaun merek air putihnya, sebut saja akua) sudah disiapkan di dalam kantong plastik berkualitas lumayan bagus (setidaknya bukan tas kresek hitam-tipis). Maka ketika tiba waktunya penumpang menaiki tangga pesawat, terlihat serombongan orang-orang yang masing-masing menenteng kantong ransum konsumsi cap Sriwijaya Air. Ada yang tampak santai menentengnya, tapi ada juga yang terlihat kerepotan karena bawaan tas kabinnya sudah cukup banyak.

Rupanya pesawat Boeing 737 seri 200 yang sore itu saya tumpangi, memiliki ukuran tempat bagasi kabin yang tidak terlalu besar. Terpaksa sebagian tas kabin penumpang ada yang harus diminta keikhlasannya untuk dibagasikan alias dipindah ke bagasi di luar kabin. Tentu saja ada yang ikhlas dan ada pula yang tidak.

Seorang bule yang fasih berbahaa Indonesia rupanya keberatan dan bertahan salah satu tasnya yang berukuran agak besar tidak mau dipindah untuk dibagasikan. Setelah adu argumentasi dengan seorang awak kabin yang jamaknya berparas ayu (ya ada juga yang tidak jamak…), si bule tampak kesal. Lalu tangan kirinya menyampakkan tentengan ransum kantong kue begitu saja sekenanya, sambil tangan kanan mendorongkan salah satu tas kabinnya untuk dibagasikan. Kok ya kebetulan ransum kue itu mengenai dua awak kabin lainnya yang sedang sibuk dengan daftar manifest. Kedua awak itu pun melongo terkejut dengan apa yang barusan menimpanya.

Melihat perilaku si bule yang kurang sopan itu, sempat juga hati ini ikut meradang. Dalam hati saya mendukung kebijakan mbak pramugari yang sepertinya adalah pimpinan awak kabin, mengingat keterbatasa tempat bagasi di dalam kabin. Perihal pindah-memindah barang bawaan kabin penumpang semacam ini sebenarnya sudah lumrah terjadi dan umumnya berlangsung tanpa masalah, nyaris bisa saling memahami.

Namun ketika saya sudah duduk di bangku pesawat, tiba-tiba saya dikejutkan dengan adu argumentasi antara mbak pramugari yang tadi dengan seorang penumpang di depan saya. Pokok soalnya hal yang sama yaitu masalah pembagasian. Saat itu juga saya cabut dan batalkan dukungan saya tadi kepada mbak pramugari, demi melihat cara mbak pramugari berdialog dengan penumpang di depan saya untuk menyelesaikan masalah bagasi-membagasi.

Cara bicara mbak pimpinan awak kabin itu sama sekali tidak mencerminkan seorang yang seharusnya menjaga citra merek dagang maskapai yang sedang diembannya. Bukannya berdialog dengan ramah dan menyejukkan, melainkan malah ngelok-ke (mencela) penumpang di depan saya sambil memamerkan paras ketus dan bersungut-sungut (ekspresi wajah yang sulit saya lukiskan). Kata-kata dan nada suaranya sama sekali tidak seindah dan semesra ketika dia mendesah : “have a nice flight….”.

Untungnya penumpang yang menjadi korban perilaku tidak simpatik dari mbak pimpinan awak kabin itu tergolong jenis mahluk yang sabar, sehingga tidak memilih untuk membalas dengan cara pethenthengan (marah), melainkan tenang dan santai saja. Padahal saya sendiri dalam hati justru gethem-gethem….., berempati turut merasa jengkel.

Saya yakin penumpang itu adalah seorang yang suka menjaga hati ala Aa’ Gym. Ee…, barangkali saja mbak pramugari yang mengenakan blazer merah hati cerah tadi barusan diputus sama pacarnya. Atau, waktu berangkat kerja tadi sepatunya menginjak tembelek lencung (tahi ayam kental berwarna kuning kecoklatan yang aromanya tidak satu pun parfum Perancis mampu menyamainya). Atau, sakit giginya kambuh lalu kesenggol pintu.

Apapun alasannya, apa yang saya saksikan itu sama sekali tidak pantas dilakukan oleh seorang pramugari terhadap penumpangnya. Pengalaman pertama saya naik pesawat berlambang benang ruwet dan berwarna body putih-merah-biru-putih telah memberikan pelajaran berharga tentang artinya pelayanan kepada pelanggan, yang oleh oknum awak Sriwijaya Air berhasil didemonstrasikan dengan sangat mengecewakan.

Entah mata pelajaran tentang pelayanan seperti apa yang pernah diajarkan kepada mbak pimpinan awak kabin itu sehingga tidak bisa membedakan antara pelanggan adalah raja dan pelanggan adalah obyek penderita (meskipun ada juga raja yang menderita…..).

Semarang, 30 April 2008
Yusuf Iskandar

Nasi Tumpang, Bosok Tapi Nendang

18 April 2008 by madurejo

Kepingin makan nasi pecel? Tidak sulit untuk menemukan tempatnya. Campuran sayur-mayur yang diguyur dengan sambal kacang lalu ditambah kerupuk atau peyek, tahu atau tempe, sebagai asesori tambahannya, banyak dijual dan menyebar hampir di setiap kota. Cari saja warung nasi pecel.

Lain halnya kalau mau mencoba makan nasi sambal tumpang atau biasa disebut nasi tumpang saja. Ke kota Kedirilah tempatnya. Bahan dasarnya nyaris sama, yaitu sayur-mayur. Akan tetapi di kota Kediri tempat asal nasi tumpang, varian sayurnya biasanya tertentu, yaitu daun pepaya, buah pepaya muda yang diiris kecil-kecil, kecambah dan terkadang ada tambahan mentimun. Yang beda adalah sambalnya, yang disebut dengan sambal tumpang.

Sepintas sambal tumpang ini mirip sambal pecel, tapi sebenarnya beda. Tidak menggunakan tumbukan kacang melainkan tempe bosok (busuk) yang rasa dan aromanya agak semangit (sangit). Hanya saja busuknya tempe ini bukan sebab tempe basi atau sisa yang sudah beberapa hari tidak laku dijual, melainkan memang sengaja dibusukkan (seperti kurang kerjaan saja…., bukannya makan tempe segar malah ditunggu setelah busuk baru dimasak). Inilah salah satu kekayaan budaya permakanan Indonesia. Anehnya, justru cita rasa semangit yang diramu dengan kencur, serai, daun salam, daun jeruk, bawang merah-putih dan santan, itulah yang diharapkan mak nyusss….

Bagi kebanyakan masyarakat Kediri dan sekitarnya, menu nasi tumpang ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai bekal sarapan pagi yang murah, meriah, bergizi dan hoenak tenan…. Warung nasi tumpang dapat dengan mudah dijumpai di banyak tempat di kampung-kampung atau di pinggir-pinggir jalan. Mirip warung-warung gudeg saat pagi hari di Jogja. Harga sepincuk nasi tumpang cukup murah wal-meriah, sekitaran Rp 2.000,- per porsi kecil.

***

Sarapan nasi tumpang….. membangkitkan kembali ingatan masa kecil hingga muda saya, sewaktu saya masih sering mengunjungi rumah nenek di Kediri. Mbah saya yang tinggal di kampung Banjaran ini setiap pagi buta beliau sudah kluthikan (bersibuk-sibuk) di dapur saat yang lain masih terlelap, untuk persiapan jualan nasi tumpang di depan rumah kecilnya saat matahari menjelang terbit.

Pelanggannya ya para tetangga sendiri, terutama para pegawai dan buruh yang hendak berangkat ke tempat kerja atau pelajar yang mau berangkat ke sekolah. Orang-orang tua, muda, anak-anak, silih berganti dan rela ngantri membeli nasi tumpang barang sepincuk dua pincuk (wadah daun yang berbentuk corongan lebar). “Ritual” pagi ini berlangsung dalam suasana semanak (penuh kekeluargaan), sambil becanda dan saling berbagi cerita ringan keseharian tentang apa saja. Ah, indah sekali….! Khas kehidupan keseharian para akar rumput dalam suasana penuh guyub, guyon, gayeng…..

Simbah memang sudah meninggal enam tahun yll. Namun saat-saat indah bersama simbah itu sepertinya masih lekat di ingatan, setiap kali saya berkunjung ke Kediri. Sebuah kenangan sederhana yang begitu terasa mengesankan…..

Masih terbayang bagaimana simbah meladeni saya dan cucu-cucunya yang lain dengan sabar dan telaten. Menyiapkan nasi tumpang yang disajikan dalam pincuk daun pisang made-in mbah saya sendiri. Lebih khas lagi, masih ada asesori peyek kacang atau ikan teri yang digoreng sendiri, berukuran kecil-kecil dan bentuknya tidak beraturan tapi berasa gurih dan kemripik. Hingga enam tahun yang lalu ketika simbah masih sugeng (hidup), beliau masih suka mengirimi anak dan cucunya sekaleng biskuit kong guan merah berisi peyek kacang dan teri.    

***

Kini, setiap kali saya ke Kediri, menu nasi tumang nyaris tidak pernah saya lewatkan. Rasanya yang khas dengan sambal tempe bosok yang sama sekali tidak terkesan sebagai makanan busuk, bahkan nendang tenan sensasi semangit-nya…..

Seperti seminggu yang lalu saya berkunjung ke Kediri. Meski bukan saat pagi hari, tapi tetap saja yang pertama saya cari adalah nasi tumpang. Salah satu warung nasi tumpang yang cukup dikenal adalah nasi tumpang Bu Wandi yang berada di bilangan jalan Panglima Polim. Warung ini adalah cabang dari warungnya yang sejak lama ada di kawasan Pasar Paing.

Porsi sepiring nasi tumpang Bu Wandi cukup banyak. Tambahan berupa beberapa lembar peyek yang berukuran setelapak tangan orang dewasa semakin melengkapi kekhasan menu ini. Jika kurang lengkap, bisa ditambah dengan gorengan tahu kuning yang diceplus dengan cabe rawit. Sedangkan sambal tumpangnya sendiri biasanya memang sudah cukup pedas.

Tidak puas dengan satu porsi, saya pun masih nambah dengan seporsi lagi sayur dan sambal tumpangnya thok, tanpa nasi. Pokoknya benar-benar puas, puas, puas….. setelah sekian lama tidak menikmati menu ini. Bahkan anak saya yang sebenarnya kurang suka makan pecel saja bisa menghabiskan seporsi nasi tumpang Bu Wandi dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya. Enak, katanya.

Sesekali di Jogja saya meminta ibunya anak-anak untuk membuatkan sambal tumpang. Tapi ternyata memang semangitnya tempe Jogja yang dibusukkan sendiri, berbeda dengan yang saya rasakan di Kediri.

Ke Kediri aku kan kembali, menikmati nasi tumpang yang benar-benar membuat kenyang dan nendang sensasi semangit tempe bosok-nya…..

Yogyakarta, 18 April 2008
Yusuf Iskandar

Stock Inventory Dan Peluang Bisnis Online

15 April 2008 by madurejo

Pengantar :

Pertemuan kedua kelompok Master Mind 4 TDA Joglo (komunitas Tangan Di Atas wilayah Jogja, Solo dan sekitarnya) diadakan kembali di rumah saya di Umbulharjo, Yogyakarta, pada tanggal 9 April 2008 yll. Pertemuan kali ini dihadiri oleh lima orang anggota (seorang berhalangan hadir), yaitu mas Memetz (praktisi bisnis ritel), mas Djoko Mukti (pemilik bisnis handycraft tas berbahan natural), mas Ichsan Santoso (pemilik bisnis ritel dan pakaian), mas Pipin (pewaralaba bengkel sepeda motor di Klaten) dan saya sendiri.

Setelah didahului dengan saling memberi update atas pencapaian dan kendala usaha yang sedang dijalani, diskusi selanjutnya difokuskan pada beberapa pokok bahasan, antara lain : masalah stock inventory dan peluang bisnis online untuk reseller.

——-

Stock Inventory Itu Perlu

Awalnya adalah keluhan saya dalam mengelola toko “Madurejo Swalayan” tentang repotnya melakukan stock inventory atau pendataan jumlah stok seluruh item barang yang ada di toko. Kelihatannya mudah saja, tinggal menghitung dan mencatat berapa jumlah setiap item barang yang ada. Tapi pelaksanaannya bisa sangat-sangat menyita waktu dan tenaga. Sementara toko harus tetap buka dan melayani konsumen. Hal ini disebabkan karena “Madurejo Swalayan” belum memiliki sistem yang baku tentang bagaimana melakukan stock inventory yang benar dan efektif. Berbeda halnya dengan toko-toko besar yang sudah memiliki sistem inventory sendiri.

Rupanya hal yang sama juga dihadapi oleh rekan-rekan lain yang tergabung dalam kelompok diskusi Master Mind TDA (Tangan Di Atas) Jogja. Sebagai sesama pemula dalam dunia bisnis, seorang teman juga mengalami kesulitan melakukan stock inventory untuk barang-barang di toko ritelnya. Seorang rekan lain judeg (kebingungan) mengelola stok suku cadang dari usaha bengkel sepeda motor terutama terkait dengan bengkel-bengkel cabangnya yang tersebar. Sedangkan bagi seorang rekan lainnya yang menerapkan kemitraan dengan pengrajin dalam usaha handycraft produk tas berbahan natural, masalah stock inventory akan lebih sederhana dan kelihatannya belum mendesak, meski tidak berarti boleh diabaikan.

Ada beberapa hal penting yang muncul dalam diskusi yang kemudian saya catat. Beberapa hal yang kiranya perlu untuk ditindaklanjuti sesuai kondisi masing-masing.

  • - Sebagai bagian dari rumusan “Retail is Detail”, stock inventory memang perlu dilakukan secara periodik yang waktunya disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Data-data stock inventory ini sangat diperlukan dalam membuat laporan neraca keuangan (financial balance sheet).
  • - Perlu dicari cara yang praktis untuk melakukan stock inventory bagi tiap-tiap jenis bisnis yang berbeda. Khusus untuk bisnis ritel memang lebih njlimet (rumit) karena menyangkut sejumlah item barang dagangan yang sangat banyak jenis dan jumlahnya.
  • - Salah satu cara yang (kelihatannya) relatif mudah diterapkan adalah dengan pengaturan rak (grondola) dan lemari untuk sekelompok jenis item barang tertentu (jika perlu setiap rak atau grondola dan lemari memiliki daftar barang masing-masing yang ada di atasnya).
  • - Menugaskan setiap pelayan toko atau pegawai untuk bertanggungjawab terhadap sekelompok item barang yang ada pada rak-rak atau lemari etalase tertentu, sehingga memudahkan dalam pengawasan dan pengontrolannya.
  • - Hal yang akan menjadi masalah adalah bagaimana agar pelaksanaan inventory dapat diselesaikan dengan cara seksama dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya.
  • - Stock inventory perlu dilakukan secara periodik. 

Peluang Bisnis Online Untuk Reseller

Salah satu trend bisnis saat ini adalah membuka toko di dunia maya alias online store dengan memanfaatkan fasilitas internet. Beberapa teman telah mulai mengembangkan usahanya justru melalui toko online. Nyaris bidang garapannya tak terbatas. Ada yang telah menjalankan toko pakaian (fashion) secara online dan nampaknya cukup berkembang. Juga menjual tas tangan berbahan natural, sebagai produk handycraft, juga memulainya secara online.

Sistem bisnis online ini telah diakui oleh banyak kalangan kini semakin berkembang pesat. Maka, ini adalah “dunia baru” dan sekaligus peluang yang perlu dicermati untuk jangan sampai ketinggalan jaman, terutama bagi para pelaku bisnis.

Salah satu cara memulai bisnis yang cukup mudah adalah menjadi reseller. Intinya, menjualkan produk orang lain. Dengan memanfaatkan sarana toko online yang kini dapat dilakukan dengan gratis melalui blog, tanpa perlu repot-repot mempunyai situs sendiri (meski yang terakhir itu pada saatnya akan diperlukan sebagai simbol bonafiditas), bisnis reseller ini menjadi demikian mudah dilakukan. Melalui bisnis reseller (dalam beberapa kasus) juga terbuka kemungkinan untuk dilakukan dengan tanpa modal awal (kecuali biaya sewa internet)

Salah satu keuntungan menjadi anggota suatu kelompok bisnis atau katakanlah komunitas yang anggotanya memiliki visi bisnis dan “frekuensi” yang sama, adalah adanya lalulintas informasi yang cepat dan nyaris tanpa batas. Dari hasil pertukaran informasi maka akan mudah diketahui dan dikomunikasikan siapa mempunyai bisnis apa. Kemudian dipilih yang mana yang disuka, lalu dibangunlah kerjasama dalam bentuk reseller. Mudahnya, ikut memasarkan dan menjualkan suatu produk yang dipilih dan disuka itu. Selanjutnya tinggal membuat blog gratisan untuk membuka toko.

Peluang semacam ini cukup menarik dan relatif mudah dan murah untuk digarap sebagai langkah awal memulai sebuah bisnis. Kata kuncinya hanya satu, yaitu suka ngublek-ublek dan main-main dengan internet.

Yogyakarta, 15 April 2008
Yusuf Iskandar

Sopir Taksi Itu Bernama Ibrahim

10 April 2008 by madurejo

Kalau memperhatikan cara bicaranya, susunan kalimat dan pilihan kata yang digunakannya, saya yakin sopir taksi yang sore itu mengantar saya ke Cengkareng, pasti bukan sopir biasa. Mengesankan sebagai seorang yang terpelajar. Hal seperti ini seringkali merangsang rasa keingintahuan saya.

Mulailah saya membuka pembicaraan sebagai penjajakan bahwa dugaan saya benar. Percakapan tentang lalulintas Jakarta yang padat dan tersendat, tentang rute yang dipilih menuju bandara dan tentang taksi berwarna biru muda yang dikemudikannya. Semuanya dijawab dan dijelaskan dengan susunan kalimat dan tutur kata yang enak dan runtut.

Rupanya pak sopir taksi itu pernah kuliah di universitas negeri ternama di Jakarta, karena tidak lulus lalu pindah ke sebuah universitas swasta dan akhirnya berhasil meraih gelar sarjana ekonomi. Karir pekerjaannya dijalani dengan mulus dan lancar. Pernah bekerja di beberapa perusahaan, sampai yang terakhir berwiraswasta menjalankan usahanya di bidang kontraktor sipil dan konstruksi. Pendeknya, dari sisi materi untuk ukuran hidup bersama keluarganya di Jakarta nyaris tidak kurang suatu apapun, bahkan lebih dari cukup.

Hingga akhirnya musibah menimpa usahanya, seorang rekanannya membawa kabur uang proyek. Jadilah dia menjadi satu-satunya pihak yang harus bertanggungjawab. Semua asetnya terpaksa dijual dan hidup harus dimulai dari awal lagi. Cerita yang sebenarnya klasik, tapi tetap saja membangkitkan empati.

Sejak itu hidupnya tidak menentu. Jiwanya stress berat harus menanggung beban hidup yang tak pernah terbayangkan selama lebih 20 tahun karir pekerjaannya. Sejak musibah di-kemplang rekan sendiri menimpanya, kegiatan sehari-harinya tidak karuan. Seringkali ia terbengong-bengong di masjid Istiqlal saat orang-orang lain sibuk bekerja di siang hari. Keluarganya yang tinggal di Bekasi tentu saja menjadi kalang kabut dibuatnya.

Lelakon seperti ini sempat dijalaninya selama tiga bulan, hingga akhirnya ada seorang sahabatnya menyarankan untuk bekerja menjadi sopir taksi di salah satu kelompok perusahaan taksi paling terkenal berlambang burung biru.

Hal yang kemudian menarik perhatian saya adalah bahwa kini pak sopir itu sangat menikmati pekerjaannya sebagai sopir taksi, lebih dari yang pernah dia jalani selama karir pekerjaannya. Demikian pengakuannya di balik wajah cerianya. Cara bercerita, ekspresi yang ditunjukkan, alasan-alasan yang dikemukakan dan semua latar belakang yang diceritakannya, meyakinkan saya bahwa pengakuannya jujur.

***

Lama-lama mengasyikkan juga ngobrol dengan sopir taksi itu. Hingga tak terasa waktu satu jam terlewati hingga saya tiba di Terminal B Cengkareng. Pak sopir taksi yang rupanya doyan ngobrol ini akhirnya justru yang memberi saya banyak pelajaran tentang hidup dan kehidupan. Setidak-tidaknya dari pengalamannya bagaimana ia terpuruk dari usahanya yang pernah membawanya membumbung ke angkasa dan bagaimana ia kini harus bangkit dari awal lagi.

Apa yang menarik dari pilihannya bekerja menjadi sopir taksi? Ada beberapa hal yang sempat saya ingat yang barangkali tak pernah terpikir di benak orang “normal” yang selama ini ketawa-ketiwi menaiki taksinya.

Pertama, menjadi sopir taksi burung biru ternyata membuatnya mempunyai kebebasan finansial (maksudnya bukan bebas secara finansial, melainkan bebas menentukan perfinansialannya). Meski dengan sistem kerja 2-1 (dua hari “on”, sehari “off”), tapi dia bebas menentukan mau bekerja berapa jam sehari dan berapa penghasilan perhari yang dianggapnya cukup. Semakin dia rajin dan tekun, semakin tinggi komisi dan bonus yang boleh diharapkannya. Ketekunannya dalam lima bulan ini telah membuatnya dipercaya oleh perusahaannya. Begitu pengakuannya.

Kedua, di group taksi burung biru ini dia menemukan banyak teman-teman senasib (maksudnya banyak sesama sopir yang juga bergelar sarjana dan banyak sesama sopir yang sebelumnya adalah pengusaha yang kemudian bangkrut karena menjadi korban tipu-tipu dan bukan sebab lain –  kalau tidak salah dulu juga ada mantan Direktur Bank Duta yang akhirnya memilih profesi ini). Sehingga pak sopir taksi ini merasa berada di “frekuensi” yang sama dengan banyak rekannya sesama sopir taksi.

Ketiga, pak sopir taksi yang grapyak-semanak (cepat akrab bagai saudara) dan pandai bicara ini akhirnya banyak berinteraksi dengan masyarakat yang menjadi penumpangnya, dari beragam pekerjaan, latar belakang, dan permasalahannya masing-masing. Ini yang kemudian membuatnya merasa tidak sendiri dan lebih bisa menikmati pekerjaannya sebagai sopir taksi. Belum lagi seringkali ada juga penumpang yang memberi wejangan-wejangan keagamaan tentang kehidupan. Hal yang selama ini tidak pernah didengarnya.

Keempat, dan ini yang paling membuatnya merasa bersyukur, ikhlas dan lebih arif menyikapi lelakon hidupnya, yaitu bahwa rejeki itu memang sudah ada yang mendistribusikannya dari langit bagi setiap mahluk, dan ada hak orang lain yang menempel dalam rejeki itu. Selama ini dia merasa banyak berbuat salah dalam cara memperoleh kupon antrian pembagian rejeki dan cara mengelola rejeki yang diperolehnya.

Pak sopir taksi yang lancar mengutip ayat-ayat Qur’an ini merasa sangat beruntung. Ya, beruntung karena dia merasa memperoleh hidayah (petunjuk) untuk menyadari kesalahannya selama ini, dibandingkan dengan banyak orang lain yang kekeuh tidak mau menyadari kekeliruannya dalam menjalani sisa kehidupan.

Dari tanda pengenal di taksinya, akhirnya saya tahu bahwa pak sopir taksi yang arif itu bernama Ibrahim. Pak Ibrahim ini rupanya berasal dari Solo (Solowesi maksudnya…., tepatnya Makassar) dan sudah menikmai manis, asam, asin, pahit dan getirnya Jakarta sejak 27 tahun yang lalu saat lulus dari SMA di Makassar.

“Terima kasih pak Ibrahim, Sampeyan telah bersedia berbagi sehingga saya juga bisa ikut belajar dari pengalaman hidup yang Sampeyan jalani…”.

Yogyakarta, 10 April 2008           
Yusuf Iskandar

Bebeknya Bu Suwarni Prambanan, Enak Dibacem Dan Perlu

6 April 2008 by madurejo

Bu SuwarniSekali waktu berkunjunglah ke Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Sekitar satu kilometer sebelum mencapai Prambanan dari arah Solo atau kalau dari arah Jogja sekitar satu kilometer setelah candi Prambanan, membelok ke selatan menuju ke stasiun Prambanan. Di jalan depan stasiun ke arah barat, sebelum belok melintas persimpangan rel kereta api, di pojok kanan ada sebuah warung makan yang cukup terkenal. Namanya Rumah Makan Bu Suwarni.

Menu utama warungnya Bu Suwarni ini adalah menu bebek-bebekan, terutama bebek goreng dan soto bebek. Bagi penggemar rasa khas daging bebek, warung ini layak dipertimbangakan untuk menjadi pilihan. Bebek gorengnya yang dibumbu bacem, terasa benar bacemannya. Baceman khas Jogja dengan rasa manis yang agak kuat. Bumbu bacemnya merasuk hingga menyentuh bagian paling dalam dari daging bebek yang tekstur seratnya lebih kentara dibanding daging ayam.

Kalau kurang suka dengan bebek goreng bumbu bacem khas Jogja, masih ada pilihan soto bebek. Soto bebeknya Bu Suwarni memang beda. Kalau umumnya daging bebek digoreng, dibakar, atau dipanggang, maka soto bebeknya miraos tenan…. Dari sruputan kuahnya sudah terasa kaldu daging bebeknya. Sotonya sendiri tidak jauh beda dengan ramuan soto ayam. Ada campuran tauge kecil (untuk membedakan dengan umumnya tauge yang ukurannya besar), irisan kol dan loncang (daun bawang), ditambah irisan ampela bebek, lalu diguyur kuah soto berkaldu bebek. Khas sekali rasanya.  

Warung makan Bu Suwarni ini memang tipikal bisnis keluarga. Sejak berdiri lebih 25 tahun yang lalu, manajemen warung ini tidak jauh-jauh dari sentuhan keluarga besarnya. Bahkan semua pelayannya adalah juga masih ada hubungan kekeluargaan. Hingga kini warung bebek-bebekan ini sepertinya tak goyah oleh aneka badai ekonomi. Tetap beroperasi dan bahkan semakin berkibar.

Dulu-dulunya, warung Bu Suwarni hanya menempati petak kecil di pinggiran jalan raya Prambanan. Sejak tahun 1987, bu Suwarni yang berasal dari dukuh Pereng, Prambanan, pindah ke dalam. Ya, di jalan stasiun barat itu hingga sekarang. Tahun 2006 sewaktu terjadi gempa Yogya, dimana sebagian Prambanan termasuk wilayah yang cukup parah terkena gempa, Rumah Makan Bu Suwarni pun roboh. Kini bangunan warungnya nampak jauh lebih representatif, seiring dengan perkembangan usahanya.

Melihat keberhasilan warungnya bu Suwarni berbisnis menu bebek pada saat ini hingga rata-rata menghabiskan 50 ekor bebek per harinya, terbayang bagaimana gigihnya sosok bu Suwarni muda ketika memulai membuka warung makan bebek goreng. Tentu dengan kondisi yang sangat sederhana pada masa itu. Kalau kini usia bu Suwarni sekitar 47 tahunan, berarti bu Suwarni masih berusia sekitar 21 tahun ketika memulai bisnis ini pada tahun 1982.    

Kita sering “terjebak” hanya melihat ujung dari perjalanan hidup seseorang ketika kesuksesan sudah diraih. Tapi kita sering alpa melihat dan mempelajari bagaimana jatuh-bangunnya sesorang dalam merintis, mengembangkan, mempertahankan dan akhirnya menjaga prestasi usahanya. Bu Suwarni layak menjadi sebuah cermin bagi semangat enterpreneurship di jaman kini. Istilah kewirausahaan yang pada masa itu belum dikenal orang, kecuali sekedar bagaimana bertahan hidup dengan cara yang halal dan barokah. Tipikal cara berpikir orang-orang desa yang lugu dan tidak neko-neko. Kalau akhirnya semangat bertahan hidup itu mampu memberikan hasil yang lebih dari cukup, maka itu adalah berkah dari kerja kerasnya selama meniti masa-masa sulit sekian tahun yang lalu.

***

Sebelum meninggalkan warungnya bu Suwarni, saya sempatkan untuk melongok dapurnya dan memesan seekor bebek utuh tanpa kepala untuk di bawa pulang. Saya baru tahu kalau beli bebek utuh rupanya tidak termasuk kepalanya seperti halnya kalau beli seekor ayam utuh. Tapi, apalah artinya sepenggal kepala bebek (sedang kepala-kepala yang lain saja kita sering tidak perduli) jika dibandingkan dengan kepuasan menyantap sepotong bebek goreng dan semangkuk soto bebek yang rasanya khas dan miraos (enak) dengan ganti harga yang wajar.

Bebeknya bu Suwarni, memang enak dibacem dan perlu (perlu dicoba maksudnya).  

Yogyakarta, 6 April 2008 
Yusuf Iskandar

Jumatan Di Tengah Jalan Kehujanan

5 April 2008 by madurejo

Wong ndeso seperti saya ini rada keder juga ternyata menghadapi kepadatan lalu lintas Jakarta. Seperti pengalaman mau menyeberang jalan Mampang Prapatan Raya di teriknya siang Jumat kemarin, susahnya minta ampun. Lalulintas seperti tidak ada selanya. Akhirnya cari barengan. Kalau berjamaah rupanya menjadi lebih diperhatikan orang, termasuk berjamaah untuk menyeberang jalan. Setidak-tidaknya pengendara kendaraan lain menjadi tidak nekat. Tujuan saya memang mau sholat jumatan berjamaah di seberang jalan.

Masjid yang letaknya tepat di pinggir jalan itu rupanya penuh. Setengah jamaah sudah berada di dalam bangunan masjid, setengah lainnya menyebar di trotoar dan di jalan. Padahal, sebagian teras masjidnya sudah dibangun dengan “memakan” trotoar jalan. Maka sebagian Jl. Mampang Prapatan pun digelari tikar dan karpet untuk menampung peserta jumatan yang membludak. Bukan hanya sebagian, setengah lebar jalan malah. Akibatnya lalulintas jadi tersendat karena ada penyempitan jalan.

Hal yang tampaknya sudah lumrah di Jakarta. Saya memang baru pertama kali mengalami yang seperti ini. Selama ini kalau kebetulan jumatan di Jakarta, biasanya di dalam gedung atau kompleks perkantoran, atau di masjid yang lokasinya tidak persis di jalan besar.

Sambil duduk sila di atas gelaran karpet di tengah jalan, saya membayangkan bagaimana kalau jumatan pas hujan deras dan air di jalan mengalir deras pula. Kemana mau pindah?

Ee… lha kok tenan. Belum selesai khotbah, sholat belum dimulai, gerimis tiba-tiba turun. Semakin deras dan titik airnya semakin besar-besar. Jamaah nampak mulai gelisah, sebagian sudah pada berdiri dan bubar menyelamatkan diri mencari tempat aman dari hujan. Ya susah juga, wong di dalam masjidnya sudah penuh.

Untungnya sewaktu sholat dimulai, gerimis hanya berupa titik air kecil-kecil saja, belum berubah menjadi hujan. Untungnya lagi sang khatib yang menyampaikan pesan-pesan khotbah agak pengertian, sehingga khotbahnya tidak berpanjang-panjang. Demikian halnya sang imam pemimpin sholat juga “tahu diri” kalau setengah jamaahnya yang di belakang sedang gelisah bakal kehujanan. Irama gerak sholat pun agak digas lebih cepat dan dengan memilih bacaan surat Qur’an yang tidak terlalu panjang.

Tepat ketika sholat selesai, hujan turun, mak bress….., semakin lebat. Untung sholat sudah selesai. Serta-merta jamaah lari sipat kuping bubar jalan berhamburan bagai anak ayam tidak memperdulikan induknya. Lalulintas terhenti beberapa saat, memberi kesempatan kepada orang-orang yang hendak menyeberang jalan menyelamatkan diri dari hujan. Tak terelakkan kalau kemudian pakaian jadi basah.

***

Agaknya jumatan di tengah jalan sudah menjadi hal biasa di kota besar seperti Jakarta, yang kebetulan letak masjidnya tepat di pinggir jalan besar. Sehingga seminggu sekali jalan raya yang padat lalulintasnya terpaksa dikorbankan, menjadi “three-in-one” (maksudnya berubah dari 3 lajur menjadi tinggal 1 lajur jalan). Apa hendak dikata kalau kemudian jalan yang sudah padat itu menjadi agak macet dan tersendat lalulintasnya. Peristiwa mingguan yang tak terbayangkan sebelumnya oleh orang desa seperti saya yang biasanya jumatan di kampung dalam suasana santai dan tidak kemrungsung.

Kedua belah pihak nampaknya harus saling maklum. Pihak yang jumatan ya mesti hati-hati sholat di pinggir bahkan di tengah jalan. Pihak pengguna jalan juga mesti agak mengalah akibat penyempitan jalan.

Apa ada solusinya yang praktis dan mudah? Rasanya tidak ada. Sebab di satu pihak, sampai kapanpun masjid dan jamaahnya ya tetap ada di situ, bahkan peserta jumatan cenderung semakin banyak seiring semakin padatnya penduduk kota. Di pihak lain, lalulintas ya akan tetap padat seperti itu dan juga kecenderungannya semakin padat.

Peristiwa jumatan di tengah jalan dan sesekali kehujanan, mau diapa-apakan ya tetap terjadi seperti itu. Sampai kapanpun, kecuali kalau kotanya pindah. Maka satu-satunya solusi adalah menghidupkan dan membumikan semangat dan budaya tenggang rasa yang akhir-akhir ini terasa semakin pudar.

Tenggang rasa, kata yang enak diucapkan, manis dijadikan bahan pidato, indah dituliskan, tapi ngudubilah tidak mudah untuk diamalkan. Boro-boro menenggang rasa, menenggang kebutuhan hidup saja seperti diuber setan…. Kalau sudah demikian, tinggal kita ini memilih mau berada di sisi sebelah “mananya” tenggang rasa. It’s your call……

Yogyakarta, 5 April 2008
Yusuf Iskandar